Tuesday, February 5, 2013

Jangan Riya' dalam Beramal

PADA hari Selasa sore, 19 Syawal, 545 H., di Madrasah, Syaikh rah.a. berkata:

Orang yang pamer itu pakaiannya bersih tetapi hatinya najis. Dia pura-pura membenci sesuatu yang diperbolehkan. Dia malas bekerja dan makan dengan menjual agama. Dia tidak punya wara' sama sekali. Bahkan dia terang-terangan makan yang haram. Keadaannya samar bagi orang awam, tetapi jelas bagi orang khawash. Kezuhudan dan kekuatannya hanya pada lahirnya saja. Lahirnya baik tetapi batinnya rusak. Celaka kamu. Taat kepada Allah itu dengan hati, bukan dengan badan. Semua itu berkaitan dengan hati nurani. Lepaskanlah apa yang kamu pakai itu. Aku akan mengambilkan pakaian dari Al-Haq Azza wa Jalla yang tidak pernah rusak. Lepaskan, sehingga Allah swt. memberimu pakaian. Lepaskan pakaian menunda-nunda hak Allah swt.. Lepaskan pakaian berdirimu bersama makhluk dan persekutuanmu dengan mereka. Lepaskan pakaian syahwat, pamer, ujub, dan nifak serta kesukaanmu untuk diterima makhluk dan pemberian mereka kepadamu. Lepaskanlah pakaian dunia dan pakailah pakaian akhirat. Lepaskanlah dari upaya, kekuatan, dan wujudmu. Bersimpuhlah di hadapan Al- Haq Azza wa Jalla tanpa upaya, tanpa kekuatan, dan tanpa berdiri bersama makhluk, tanpa bersekutu dengan makhluk. Jika engkau berbuat demikian, engkau akan melihat kasih sayang Allah swt. di sekitarmu, mendatangimu. Rahmat Allah, pemberian, dan kenikmatan-Nya datang memelukmu. Larilah kepada Allah swt., rajinlah beribadah kepada-Nya dengan telanjang tanpa kamu dan selainmu. Berjalanlah kepada-Nya dengan berpisah dari selain Dia. Berjalanlah kepada-Nya sambil berpisah dengan segala sesuatu sehingga Dia akan mengumpulkan dan menyampaikanmu dengan kekuatan lahir dan batinmu. Sehingga kalau seluruh pintu alam tertutup sedang seluruh badan terpikulkan pun tidak akan membahayakanmu. Bahkan Dia akan menjagamu. Barangsiapa telah memfanakan makhluk dengan tangan tauhidnya, memfanakan dunia dengan tangan zuhudnya, dan memfanakan selain Allah swt. dengan tangan cintanya, sesungguhnya ia telah sempurna dan sukses, mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Engkau harus menundukkan nafsumu, syaitan mu, dan keinginanmu, sebelum engkau mengalami mati khusus sebelum mati umum.

Wahai ghulam, dengarkanlah. Sesungguhnya akulah da'i Allah, yang mengajakmu ke pintu-Nya dan menaati-Nya, bukan menaatiku. Orang munafik tidak mengajak kepada Allah swt., tetapi supaya menaati dirinya. Dia mencari bagian dunia. Wahai orang bodoh, tinggalkanlah mendengar ucapan ini, "Duduklah di rumah dengan nafsu dan keinginanmu. Sesungguhnya pertama-tama kamu perlu bershuhbah dengan para guru dan membunuh nafsu, watak, dan segala sesuatu selain Al-Haq Azza wa Jalla. Engkau harus tetap bersama guru. Setelah itu engkau menyendiri dari mereka, duduk di tempat ibadahmu bersama Al-Haq Azza wa Jalla. Jika telah sempurna yang demikian itu, maka engkau akan menjadi obat bagi makhluk dan memberi petunjuk bagi manusia dengan izin Allah swt.. Lidahmu wara' tetapi hatimu lancung. Lidahmu memuji Allah tetapi hatimu menentang-Nya. Lahirmu muslim, tetapi hatimu kafir. Lahirmu bertauhid, tetapi batinmu musyrik. Zuhudmu hanya dari sisi lahir saja. Agamamu hanya ada di kulit saja. Batinmu hancur seperti WC. Jika engkau demikian, syaitan akan bersarang dalam hatimu. Seorang mukmin itu mulai membangun hatinya, kemudian membangun lahirnya seperti orang yang membangun rumah. Rumah itu ditata sedemikian rupa dengan perbelanjaan besar meski pintunya belum jadi. Setelah di dalamnya bagus, baru memperbaiki pintunya. Demikianlah memulai bersama Allah swt. untuk mencari ridha-Nya baru kemudian memperoleh sesuatu dari makhluk dengan izin-Nya. Pada mulanya mencari akhirat, baru kemudian mengambil bagian dari dunianya.

Dikutip dari Kitab Fat-hur Rabbani Wa Faidhur-Rahmaan : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
******