Thursday, February 7, 2013

Jangan Merisaukan rezeki

PADA hari Jum'at pagi, 14 Dzulqa'dah, 545 H. di Madrasah, Syaikh Abdul-Qadir rah.a. berkata :

Janganlah kamu risaukan rezekimu. Pencarian rezeki terhadapmu lebih hebat daripada pencarianmu terhadap rezeki. Jika kamu telah mendapatkan rezekimu hari ini, janganlah kamu risaukan rezekimu hari esok. Sebagaimana kamu telah meninggalkan hari kemarin, maka kamu tidak akan tahu apakah hari esok akan sampai kepadamu atau tidak. Bersibuklah dengan harimu. Jika kamu mengenal Al-Haq Azza wa Jalla, tentu kamu akan sibuk dengan-Nya daripada mencari rezeki, karena pemberian-Nya menghalangimu dari meminta-Nya. Barangsiapa mengenal Allah, terkuncilah lidahnya. Seorang arif lidahnya selalu terkunci di hadapan Al-Haq Azza wa Jalla, sehingga Dia mengembalikannya untuk kemaslahatan makhluk. Manakala Dia telah mngembalikannya kepada mereka, hilanglah kebisuan dari lidahnya dan keterasingannya. Ketika masih menggembala kambing, lidah Musa a.s. gagap, namun ketika Allah hendak mengembalikannya, maka diberi-Nya ilham sehingga ia berkata :

"Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (Q.s. Thaha: 27-28).

Seolah-olah ia mengatakan bahwa ketika menggembala kambing, ia tidak memerlukan kelancaran berbicara. Namun ketika datang tugas berbicara kepada manusia, maka hilanglah kekakuan dari lidahnya. Seketika itu juga kekakuan dan kegagapan hilang dari lidahnya. Sesungguhnya Musa a.s. telah fasih berbicara sejak kecil, tetapi karena belum saatnya ia berbicara dengan Fir'aun dan Asiyah, sehingga Allah swt. menyuapkan bara api ke mulutnya.

Wahai ghulam, aku melihat kamu sedikit sekali ma'rifat kepada Allah swt. dan rasul-Nya, juga para nabi dan wali-Nya. Kamu benar-benar kosong dari makna. Seperti sangkar tanpa burung, seperti rumah kosong yang roboh, dan seperti pohon tanpa daun dan bunga. Kemakmuran hati seseorang itu dengan iman, kemudian dibuktikan dengan Islam. Serahkanlah dirimu dan selain dirimu kepada-Nya. Keluarkanlah dirimu dan semua makhluk dari hatimu, kemudian berdirilah kamu di hadapan Allah swt.. Jika Allah swt. berkehendak akan memberimu pakaian dan mengembalikan kamu kepada makhluk, maka kamu menjalankan perintah-Nya dengan penuh kerelaan. Selanjutnya kamu berdiri menanti perintah-Nya dan menyetujui hukum-Nya. Barangsiapa menyendiri dari makhluk dan berdiri di hadapan Allah swt. dengan hati dan nurani-Nya, berarti ia telah berkata dengan lisanul-haq sebagaimana kata Musa a.s.,


"Dan aku bersegera kepada-Mu ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku). "(Q.s. Thaha: 84).

Aku mengasingkan diri dari dunia dan akhirat serta seluruh makhluk. Aku putuskan segala ashab dan aku tinggalkan semua tuhan. Kini aku segera datang kepada-Mu, supaya Engkau ridha kepadaku dan aku mengampuniku atas keadaanku bersama mereka sebelumnya.

Wahai orang bodoh, kamu adalah hamba nafsu, dunia, dan keinginanmu. Kamu adalah hamba manusia dan kamu adalah orang yang musyrik karena kamu melihat mereka bisa mendatangkan manfaat dan mendatangkan bahaya. Kamu hanya berada di sisi surga, tempat yang kamu ingin memasukinya. Kamu hanya di sisi neraka di mana kamu takut terhadapnya. Di manakah maqammu di sisi Dzat Yang membolak-balikkan hati dan pandangan, yang mengatakan kepada sesuatu "Jadilah kamu," lalu terjadilah. Wahai ghulam, janganlah kamu tertipu dengan ketaatanmu sehingga kamu menjadi sombong. Mohonlah kepada Allah swt. supaya amalanmu diterima. Takutlah jika amalanmu itu mengubahmu menjadi manusia durhaka. Apalah jadinya jika dikatakan, "Kamu durhaka, kamu kotor." Orang yang mengenal Allah swt. tidak akan berdiri bersama sesuatu dan tidak akan tertipu oleh sesuatu. Dia tidak merasa aman sebelum meninggalkan dunia dengan membawa agama dan memelihara sesuatu antara dia dengan T\ihannya.

Wahai ghulam, kamu harus menjaga amalan hati dan menjadi ikhlas. Keikhlasan yang sempurna adalah bersih dari selain Allah swt.. Ma'rifat kepada Allah swt. itu sesuatu yang asali. Aku melihat kebanyakan di antara kamu berdusta dalam ucapan dan perbuatan, dalam sepi dan ramai. Apa untungnya kamu berbicara tanpa amal, dan apa gunanya amal tanpa ikhlas dan tauhid. Jika Allah swt. memandangnya buruk, apa gunanya semua itu bagimu? Kamu harus berupaya agar Dia menerima dan ridha kepadamu. Ini memang sedikit gelap, penuh misteri. Pada Hari Kiamat, semuanya akan dikeluarkan, lalu dikatakan kepada semua amal di mana kamu telah munafik di dalam amalan itu. Semua amal yang dilakukan untuk selain Allah swt. adalah batil. Beramallah dan carilah Drzat Yang tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Nafikanlah semua makhluk dan itsbatkan Allah swt.. Nafikan sesuatu yang tidak patut bagi-Nya dan itsbatkan sesuatu yang wajib bagi-Nya, yang dibenarkan oleh-Nya dan oleh rasul-Nya. Jika kamu berbuat demikian, hilanglah kekosongan dari hatimu. Temanilah Allah, rasul, dan orang-orang shalih dengan penuh adab. Jika kamu ingin sukses, janganlah datang kepadaku kecuali dengan adab. Jika tidak bisa beradab dengan baik, jangan sekali-kali datang. Kamu selalu berbuat sia-sia. Tinggalkan kesia-siaan sekarang juga agar kamu diberi kepahaman. Orang yang memasak pasti mengetahui apa yang dimasaknya. Pembuat roti pasti mengetahui roti apa yang dibuatnya. Seorang pembuat pasti mengetahui apa yang dibuatnya. Dan orang yang berdakwah juga mengenal sesuatu yang didakwahi yang ada di medan dakwah. Duniamu telah mambuat hatimu buta, sehingga kamu tidak bisa melihat dengannya. Hati-hatilah terhadap dunia, ia bisa menaikkan i dan menjatuhkan derajatmu. Ia bisa membelenggu tangan dan kakimu serta membuat matamu silau. Jika simpanan telah habis dan kefakiran datang, akan kamu lihat apa yang dilakukannya terhadap dirimu. Inilah akibat cinta dunia, rakus, dan selalu ingin menumpuknya. Maka ia menjadi musuh di balik itu. Inilah ulah dunia, waspadalah terhadapnya.

Wahai ghulam, tidak ada kejayaan bagimu meski kamu merindukannya. Kamu hanya mengaku cinta kepada Allah sedangkan sesungguhnya kamu cinta akhirat atau selain Dia Seorang arif lagi muhib tidak mencintai ini dan itu, selain Al- Haq Azza wa Jalla. Jika dia hanya cinta kepada-Nya, maka duni.i akan datang kepadanya sehingga ia menjadi tenang. Demikian pula ia akan sampai ke akhirat. Apa-apa yang tertinggal akan mengikuti di belakangnya, dan ia melihat segala sesuatu demi Allah swt.. Para wali itu pasti akan mendapatkan bagiannya meski mereka menyendiri darinya. Bagian hati tidak tampak, dan yang tampak adalah bagian nafsu. Bagian hati tidak datang kecuali setelah bagian nafsu. Jika nafsu telah ditahan, bagian hati akan terbuka. Jika hati telah mendapatkan bagian dari Allah swt., maka datanglah ketenangan pada nafsu. Dikatakan kepada orang itu, janganlah kamu membunuh nafsumu. Ketika datang bagian nafsu kepadanya, ia dalam keadaan tenang. Tinggalkan mejelis yang membuatmu cinta dunia dan carilah majelis yang membuatmu zuhud terhadap dunia. Sesuatu itu akan condong kepada sejenisnya. Sebagian akan mengelilingi sebagian yang lain. Para pecinta akan bergabung dengan kelompoknya. Orang yang mencintai Allah swt. akan bergabung dengan orang yang mencintai Allah swt. Mereka saling mencintai dan menguatkan. Mereka saling menolong dalam mengajak manusia kepada iman, tauhid, ikhlas dalam beramal, dan menuntun manusia ke jalan Allah swt.. Barangsiapa melayani akan dilayani. Barangsiapa berbuat baik akan dibalas pula dengan kebaikan, barangsiapa suka memberi akan diberi. Jika kamu beramal karena neraka, maka kelak neraka juga untukmu. Sebagaimana kamu meminjami, maka kamu akan dipinjami dan bagaimana keberadaan kamu, begitu pulalah kamu akan dikuasai.

Amal adalah pelayan kamu. Kamu berbuat seperti perbuatan ahli neraka, tetapi kamu mengharapkan surga. Bagaimana mungkin kamu mengharapkan surga tanpa melakukan perbuatan ahli surga. Ruhaniwan di dunia adalah orang-orang yang beramal dengan hati mereka, bukan dengan anggota badan semata. Amal tanpa dibarengi sifat hati adalah perbuatan sia-sia. Orang yang riya' beramal dengan badannya, dan orang yang ikhlas beramal dengan hati dan badannya. Ia beramal dengan hati sebelum beramal dengan anggota badannya. Seorang mukmin itu hidup, sedangkan orang munafik itu mati. Orang mukmin beramal karena Allah, orang munafik beramal karena makhluk, ia hanya mengharapkan pemberian dan pujiannya. Amal seorang mukmin di lahir dan batinnya, pada waktu sepi dan ramai, pada waktu senang dan susah. Sedangkan amal seorang munafik hanya pada waktu ramai atau senang. Jika datang kesulitan ia tidak beramal. Ia tidak bershuhbah kepada Allah, rasul-Nya, dan kitab-Nya. Ia tidak ingat Hari Kebangkitan, Hari Mahsyar, dan Hari Hisab. Islamnya hanya untuk menyelamatkan diri dan hartanya di dunia, bukan untuk keselamatan dari neraka di akhirat. Ia berpuasa, shalat, dan membaca Al-Qur'an di depan manusia. Jika tidak ada mereka, ia kembali kepada kesibukan dan kekufurannya. Ya Allah, lindungilah kami dari keadaan yang demikian. Untuk-Mu keikhlasanku di dunia dan keselamatan di akhirat.

Wahai ghulam, kamu harus ikhlas dalam beramal. Janganlah kamu ingat-ingat lagi amalanmu, apalagi mencari upah dari makhluk. Beramallah karena mengharap ridha dari Allah swt. bukan mengharap kenikmatan-Nya. Jadilah kamu termasuk orang yang beramal karena megharap ridha Allah swt.. Carilah ridha-Nya, sehingga Dia memberimu. Jika Dia telah memberikan ridha-Nya kepadamu, maka kamu akan mendapatkan surga di dunia dan akhirat. Di dunia kamu dekat kepada-Nya, dan di akhirat dapat memandang-Nya serta mendapatkan balasan yang dijanjikan oleh-Nya. Wahai ghulam, serahkan dirimu dan hartamu ke tangan kekuasaan, hukum, dan ketentuan-Nya. Serahkan barang yang dibeli kepada yang membelinya, kelak kamu akan menerima bayarannya. Wahai hamba Allah, serahkan dirimu kepada-Nya, katakanlah, "Diri, harta, dan surga adalah untuk-Mu, dan segala sesuatu selain-Mu hanyalah untuk-Mu. Aku tidak menginginkan sesuatu selain-Mu. Aku menginginkan tetangga sebelum rumah, dan aku menginginkan teman sebelum melakukan perjalanan. Wahai orang yang menginginkan surga, untuk membeli dan menebusnya adalah sekarang, bukan esok. Perbanyaklah sungai-sungaimu, alirkan airnya sekarang, bukan esok. Wahai ghulam, besok pada Hari Kiamat, hati dan mata akan berbalik. Yakni pada hari ketika kaki tergelincir, setiap orang akan tegak di atas telapak kaki keimanan dan ketakwaannya. Ketegaran kaki sesuai dengan keteguhan iman. Pada hari itu, "Orangyang dzalim menggigit dua tangannya." (Q.S. Al-Furqan: 27) Mengapa ia menganiaya? Orang jahat juga akan menggigit tangannya, mengapa ia berbuat jahat ? Dan mengapa ia tidak berbuat baik ? Mengapa ia lari dari Tuhan-Nya ?

Wahai ghulam, janganlah kamu tertipu dengan amal, sesungguhnya amal itu ditentukan pada akhir hayatnya. Kamu harus memohon kepada Allah swt. agar diberi kebaikan pada akhir hayatmu, bahkan nyawamu dicabut dalam keadaan beramal yang paling disukai oleh-Nya. Janganlah kamu berbuat taat lalu kembali bermaksiat. Janganlah kamu ikuti nafsu, keinginan, dan watakmu, lalu mendurhakai Tuhanmu. Jika kamu bermaksiat kepada Allah, Dia tidak akan menolongmu, bahkan akan meninggalkanmu. "Ya Allah, tolonglah kami untuk menaati-Mu, jangan hinakan kami dengan mendurhakai-Mu. Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka."

Dikutip dari Kitab Fat-hur Rabbani Wa Faidhur-Rahmaan : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
******