Wednesday, February 6, 2013

Jangan Mencintai Selain Allah

PADA hari Ahad pagi, 2 Dzulqa'dah, 545 H., Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rah. di pondok mengatakan:

Wahai ghulam, tidak benar kehendakmu kepada Al-Haq Azza wa Jalla. Memang engkau tidak menghendaki-Nya. Setiap orang yang mengaku menghendaki Al-Haq Azza wa Jalla, tetapi ia mencari selain Dia, maka batallah pengakuannya. Orang yang menghendaki dunia itu banyak, dan orang yang menghendaki akhirat itu sedikit. Orang yang menghendaki Al-Haq Azza wa Jalla lebih sedikit lagi. Mereka amat sedikit di antara yang sedikit. Mereka merupakan orang-orang pilihan di antara orang-orang yang langka. Mereka adalah satu di antara jutaan manusia. Pada hakikatnya, mereka adalah raja di muka bumi. Mereka adalah tiang negeri, sebab merekalah sehingga bala' dihindarkan, hujan diturunkan, dan dari bumi ditumbuhkan tanaman. Semula mereka lari dari satu kampung ke kampung lain, dari satu negeri ke negeri yang lain, dari satu reruntuhan ke reruntuhan yang lain. Setiap kali mereka dikenal di suatu tempat, mereka akan berpindah dari tempat itu. Mereka membuang segalanya di belakang mereka. Mereka menyerahkan kunci-kunci dunia kepada pemiliknya. Mereka senantiasa dalam keadaan seperti itu sehingga kepada mereka dibangunkan benteng di kiri kanannya, lalu mengalirlah sungai ke dalam hatinya, dan mereka dijaga oleh tentara Allah swt.. Setiap orang di antara mereka akan dijaga, dilindungi, dimuliakan, dan mereka menguasai makhluk. Semua itu berada di luar pikiran mereka. Ketika terjadi yang demikian itu, mereka harus menghadapi manusia. Mereka ibarat seorang dokter, sedangkan manusia bagaikan orang-orang yang sakit.

Celaka kamu, kamu mengaku termasuk dari kalangan mereka, lalu apa tandanya? Apakah tandanya bahwa kamu dekat dengan Al-Haq Azza wa Jalla? Apakah namamu dan julukanmu di kerajaan langit? Dengan apakah pintumu di tutup setiap malam? Makan dan minummu syubhat atau halal mutlak? Kamu berbaring di dunia, akhirat, atau di dekat Al-Haq Azza wa Jalla? Siapakah penghiburmu pada waktu seorang diri? Siapakah temanmu pada waktu sepi ? Wahai pendusta, kawanmu pada waktu sendiri adalah nafsumu, syaitan, keinginan, dan pikiran- pikiran keduniaanmu. Temanmu pada waktu sepi adalah syaitan manusia yang menjadi teman jahat dan teman ngobrolmu. Pendeknya, ini bukan merupakan sesuatu untuk bermain-main atau sekadar mengaku-aku. Ucapanmu dalam hal ini seperti orang gila, orang yang samasekali tidak berguna bagimu. Mestinya kamu diam, tidak bergerak di hadapan Al-Haq Azza wa Jalla serta meninggalkan adab buruk. Jika kamu harus berbicara, berbicaralah untuk sekadar memperoleh peningkatan dan berdzikir. Kamu tidak perlu mengaku-aku sedangkan hatimu kosong. Setiap yang lahir yang tidak diiringi dengan yang batin adalah kebohongan. Tidakkah kamu mendengar sabda Nabi saw.:

"Tidaklah berpuasa orang yang selalu memakan daging manusia."

Nabi saw. telah menjelaskan bahwa puasa itu bukan sekadar meninggalkan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa saja, tetapi juga harus meninggalkan dosa. Takutlah akan ghibah. Ia bisa memakan kebaikan seperti api memakan kayu. Orang yang bahagia tidak pernah membiasakannya. Barangsiapa diketahui berghibah, jelaslah bahwa harga dirinya rendah. Jakutlah memandang dengan syahwat, karena ia menanamkan kemaksiatan di hatimu, dan akibatnya tidak terpuji di dunia dan di akhirat. Takutlah akan sumpah dusta karena ia membawa kepada kerusakan, menghilangkan keberkatan harta dan agama. Celaka kamu, kamu menggunakan hartamu dengan sumpah dusta dan merugikan agamamu. Jika kamu mempunyai akal, kamu tentu tahu bahwa perbuatan itu sangat merugikan. Kamu berkata "Demi Allah, di negeri ini tidak ada barang seperti ini, tidak ada seorang pun yang memilikinya. Demi Allah, itu barangnya sama dengan ini dan itu. Sesungguhnya barang itu dariku, hanya saja dengan harga sekian dan sekian." Padahal, kamu telah berdusta dalam perkataanmu. Belum lagi kamu tambah dengan sumpah palsu seraya berkata, "Demi Allah, aku berkata benar." Sebentar lagi kamu akan buta dan lumpuh. Gunakanlah adab di hadapan Al-Haq Azza wa Jalla. Barangsiapa tidak belajar dengan adab agama, maka ia akan dihajar oleh neraka pada Hari Kiamat. Seseorang berkata bahwa barangsiapa melakukan lima hal atau sebagian di antaranya, maka batallah puasa dan wudhunya. Selanjutnya ia mengatakan bahwa puasa dan wudhunya tidak batal. Tetapi ini hanya untuk memberikan nasihat, peringatan, dan menakut-nakuti.

Wahai ghulam, mungkin besok pagi atau pada waktu yang lain kamu akan lenyap dari muka bumi. Mengapa kamu masih lalai, alangkah kerasnya hatimu. Apakah kamu ini batu? Aku telah berkata kepadamu, juga kepada selain kamu, tetapi keadaanmu sama saja. Al-Qur'an telah dibacakan kepadamu. Hadits-hadits Nabi juga telah dibacakan kepadamu, demikian pula perilaku orang-orang terdahulu. Tetapi kamu tidak mau mengambil pelajaran. Perbuatanmu tidak berubah, kamu tidak mau mencotoh. Setiap orang yang datang ke sebuah tempat, tetapi ia tidak bisa mengambil pelajaran, maka ia termasuk orang yang bodoh. Wahai ghulam, penghinaanmu terhadap wali-wali Allah swt. menandakan sedikitnya ma'rifatmu kepada Allah swt.. Kamu berkata bahwa mereka itu hanya dianggap saja, mengapa mereka tidak hidup bersama kami dan tidak duduk bersama kami ? Sesungguhnya ucapanmu ini menunjukan kebodohanmu terhadap dirimu. Jika sedikit ma'rifatmu terhadap dirimu, sedikit pula ma'rifatmu terhadap kemampuan orang. Ma'rifatmu yang sedikit terhadap dunia dan akibatnya, dan ma'rifatmu yang sedikit terhadap akhirat, maka sejauh itu pulalah kejahilanmu terhadap keagungan Al-Haq Azza wa Jalla. Wahai orang yang sibuk dengan dunia, sebentar lagi kamu akan rugi dan menyesal di dunia dan akhirat. Penyesalan itu terlihat pada Hari Kiamat nanti. Hisablah dirimu sebelum datangnya akhirat. Janganlah kamu menipu hukum Allah swt. dan kemurahan-Nya kepadamu. Kamu berdiri pada kemaksiatan, kesalahan, dan kezhaliman yang paling buruk. Orang yang bermaksiat itu ingin kufur sebagaimana orang yang panas itu ingin mati. Kamu harus bertaubat sebelum mati, sebelum datang malaikat pencabut nyawa.

Wahai anak muda, bertaubatlah. Tidakkah kamu melihat Allah swt. mengujimu dengan bala' supaya kamu bertaubat. Tetapi kamu tidak sadar, bahkan kamu terus mendurhakai- Nya. Pada zaman ini tidak ada yang selamat dari ujian kecuali sedikit. Dusta adalah bencana, bukan nikmat. Siksa karena dosa tidak menambah derajat dan kemuliaan. Kaum sufi itu diuji untuk meningkatkan derajat mereka di sisi Tuhannya. Mereka bersabar bersama-Nya, karena mengharapkan ridha-Nya. Jika telah sempurna yang demikian itu, sempurnalah kerajaan bagi mereka. Namun jika mereka tidak bisa menyempurnakannya, mereka menganggap diri mereka dalam kebinasaan. Ya Allah, Engkau membinasakan kami. Kami memohon kepada Engkau, di dunia dan akhirat. Di dunia memandang dengan hati kami, dan di akhirat memandang dengan mata kami.

Wahai ghulam, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah swt. dan pertolongan-Nya. Sesungguhnya Yang membuat itu adalah Allah.

"Kamu tidak tahu barangkali Allah mengadakan sesudah itu suatu hal yang baru." ( Q.s. Ath-Thalaq :1).

Janganlah kamu lari dari ujian, sesungguhnya ujian itu bila disertai kesabaran menjadi asas bagi setiap kebaikan, asas nubuwwah, dan risalah. Wilayah ma'rifat adalah ujian (bala'). Jika kamu tidak sabar atas bala' berarti kamu belum memiliki harapan. Tidak mungkin bangunan berdiri tanpa fondasi. Pernahkah kamu melihat bangunan di atas lumpur? Larimu dari bala' hanyalah karena kamu tidak menginginkan wilayah (kewalian), ma'rifat, dan dekat kepada Allah swt.. Bersabarlah dan beramallah sehingga kamu berjalan dengan hatimu, nuranimu, dan ruhmu ke pintu "sekat" kepada Tuhanmu Azza Wa Jalla. Para ulama dan wali Abdal adalah pewaris para nabi a.s.. Nabi-nabi itu adalah para perantara, dan mereka dipanggil ke hadapan manusia. Orang mukmin tidak pernah takut kepada selain Allah swt., juga tidak berharap kepada selain Dia. Sungguh, hati dan nuraninya telah diberi kekuatan. Bagaimana mungkin hati orang-orang mukmin itu tidak memiliki kekuatan bersama Allah swt., sedangkan kekuatan itu telah memboyong mereka kepada-Nya ? Hati mereka selalu berada di sisi-Nya. Hanya jasad mereka saja yang ada di bumi. Allah swt. berfirman :

"Dan sesungguhnya di sisi kami, mereka benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik." (Q.s. Shaad: 47).

Mereka dipilih di antara keluarga dan ahli zamannya. Mereka mempunyai keistimewaan makna dan bentuk. Karena itulah mereka meninggalkan makhluk dan zuhud kepadanya. Ketika mereka berjalan ke depan, tumbuhlah rumput di belakangnya. Mereka tak ingin kembali. Mereka tenang menyendiri, memilih di rerutuhan, pantai-pantai, semak-semak dan hutan, bukan keramaian. Mereka makan sayuran yang tumbuh di bebatuan dan minum dari sumber mata airnya. Mereka seperti orang liar. Di sanalah hati mereka mendekat dan tenang bersama-Nya. Mereka menyamakan bentuk dengan para rasul, shiddiqin, dan syuhada', serta menyamakan makna mereka bersama-Nya. Mereka selalu datang berkhidmat siang dan malam dalam kesepian dan keheningan. Mereka merasa syahdu dan damai bersama Allah swt.. Wahai ghulam, ada manis pasti ada pahit, ada baik pasti ada buruk, dan ada jernih pasti ada keruh. Jika kamu ingin benar-benar bersih, tinggalkanlah makhluk dengan hatimu, dan bergabunglah dengan Al-Haq Azza wa Jalla. Tinggalkanlah dunia, tinggalkanlah keluarga, dan serahkanlah mereka kepada Allah swt.. Keluarkanlah hatimu dengan telanjang dari segala sesuatu. Mendekatlah ke pintu akhirat dan masuklah ke dalamnya. Jika engkau tidak menemukan Tuhanmu di sana, keluarlah darinya dengan berlari dan carilah kedekatan dengan-Nya. Jika engkau menemukan Dia, engkau akan menemukan kebersihan di sisi-Nya. Seorang pecinta Allah swt. tidak akan berbuat sesuatu kepada selain Dia. Surga itu rumah orang yang mencari derajat, rumah pedagang yang menjual dunia dengannya. Allah swt. berfirman :
"Dan di dalam surga itu terdapat segala sesuatu yang diingini oleh hatimu dan sedap (dipandang) mata." (Q.s. Az- Zukhruf :71).

Tidak disebutkan tentang hati, nurani, dan makna. Surga adalah bagi orang-orang yang berpuasa, bangun malam, meninggalkan dunia, dan zuhud dari kelezatan dan kesenangan. Mereka menjual puasa dengan puasa, kebun dengan kebun, dan rumah dengan rumah. Aku ingin kamu beramal, bukan berbicara. Orang yang mengetahui dan beramal itu seperti besi ganjal tukang. Meski dipukul, besi tidak akan berkata apa pun. Atau seperti bumi, meski diinjak dan dicangkul, ia tetap diam. Para wali itu tidak melihat apa pun, kecuali Allah swt.. Mereka tidak mendengar apa pun, kecuali kepada-Nya. Mereka mempunyai hati tanpa lidah. Mereka menjadi pedoman bagi orang lain dan selalu dalam keadaan demikian. Dan jika Allah akan mengambil mereka kepada-Nya dengan tangan kasih dan rahmat-Nya, Allah swt. akan menjadikan mereka untuk-Nya, sebagaimana terhadap Musa a.s. di mana Dia berfirman,"Dan Aku memilih dirimu untuk diri-Ku." (Q.s. Thaha :41). "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Q.s. Asy-Syura :11). Allah swt. menjadikan kelapangan tanpa kepayahan, kedamaian tanpa kesusahan, nikmat tanpa siksa, suka tanpa benci, manis tanpa pahit, dan kerajaan yang tidak binasa. Kepada mereka Allah swt. berfirman :

"Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang haq." (Q.s. Al- Kahfi: 44)

Barangsiapa yang sampai kepada keadaan ini, ia akan segera mendapatkan kedamaian. Adapun dalam keadaanmu yang sekarang ini tidak ditemukan kedamaian dunia, karena dunia memang kampung yang keruh dan penuh bencana. Maka engkau harus keluar dari keadaan itu. Engkau harus mengeluarkan keadaan itu dari hatimu dan dari tanganmu. Jika tidak mampu, tinggalkan ia di tanganmu dan keluarkan ia dari hatimu. Keluarkan ia dari tanganmu dan berikanlah kepada fakir miskin. Mereka adalah keluarga Allah swt.. Engkau tidak akan luput dari apa yang pasti datang kepadamu, baik engkau kaya atau miskin, zuhud atau senang. Daerah itu mementingkan kesehatan dan kebersihan hati dan nuranimu. Keduanya akan menjadi bersih dengan mempelajari ilmu dan mengamalkannya dengan ikhlas dan dengan penuh kesungguhan dalam mencari Al- Haq Azza wa Jalla. Wahai ghulam, tidakkah engkau mendengar, "Belajarlah lalu menyendirilah." Pelajarilah fiqih lahir, setelah itu menyendirilah untuk mempelajari fiqih batin. Beramallah dengan fiqih lahir sehingga amal itu mendekatkanmu pada ilmu yang belum engkau amalkan. Ilmu lahir adalah cahaya lahir, dan ilmu batin adalah cahaya batin. Ilmu batin merupakan penghubung antara dirimu dengan Allah swt.. Setiap engkau amalkan ilmumu, ia akan mendekatkan jalan kepada Al-Haq Azza wa Jalla, kemudian terbukalah pintu antara dirimu dengan Dia, dan terangkatlah tirai-tirai pintu khusus untukmu.

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.

Dikutip dari Kitab Fat-hur Rabbani Wa Faidhur-Rahmaan : Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
******