Sunday, February 10, 2013

Al-Ghazali dan Perampok

Al-Ghazali, cendekiawan Muslim termasyhur, berasal dari Thus sebuah kota dekat  Mashhad. Pada masa itu, yakni sekitar abad ke-5  Hijriyah, Nishabur merupakan pusat pemerintahan sekaligus ibukota provinsi  dan  pusat  studi  akademis terpandang. Para siswa di provinsi  tersebut yang  berminat mendalami pengetahuan pergi  ke Nishabur. Demikian   juga  AI-Ghazali,  datang ke  Nishabur dan  Gurgan.

Dengan antusias ia mengikuti pendidikan lanjutannya dan  menimba pengetahuan dari banyak profesor dan cendekiawan selama bertahun-tahun. Agar  tak  lupa  dengan  hal-hal yang  telah  dipelajari, juga  agar  tak  kehilangan buah pengetahuan yang telah  dipetiknya sendiri, ia selalu  mencatat materi   kuliah  dan  membuat diktat.  Ia begitu menyayangi catatan-catatannya yang merupakan hasil usahanya sekian tahun, bagaimana kehidupannya.

Beberapa tahun kemudian, seusai  menyelesaikan  studinya, ia memutuskan untuk  kembali ke   daerah asalnya. Dia mengemas semua  catatannya  dan  membungkusnya dengan rapi,  lalu berangkat bersama rombongan kafilah  yang menuju  kampung halamannya. Tiba-tiba  kafilah dlhadang segerombolan  perampok.  Mereka menghadang rombongan dan  merampas semua barang yang  mereka temukan. Tibalah giliran Al- Ghazali dan  barang bawaannya .

Begitu mereka  menyentuh bungkusan  berisi catatannya.  AI-Ghazali mulai   meratap dan memohon, ''Ambillah  semua  barang yang  saya miliki, tapi  mohon tinggalkan bungkusan itu." Si  perampok berpikir, tentunya ada  barang berharga dan  bernilai  tinggi di dalam  bungkusan tersebut. Mereka pun membuka ikatannya, namun tak menemukan apa-apa kecuali setumpuk kertas berisi tulisan tangan.

"Apa  ini dan  apa  pula  kegunaannya?" tanya perampok.
"Apa pun benda ini, tak akan ada gunanya bagimu,  namun  sangat  berharga  bagiku,"  jawab AI-Ghazali.
Para perampok  bertanya lagi, "Tapi  apa  sebenarnya  kegunaan kertas-kertas ini bagimu?"
"lni  adalah  buah   kerja  kerasku   bertahuntahun  belajar. Jika kalian mengambilnya dariku, pengetahuanku akan  lenyap dan  tahun-tahun usahaku   meniti   jalan   keilmuan  akan   sia-sia," jawab  Ghazali.
"Hmm, jadi  pengetahuanmu terletak pada kertas-kertas ini, begitu?"  tanya  perampok.
"Ya," jawab  Ghazali.

"Pengetahuan yang hanya ada  dalam setumpukan kertas dan rawan dicuri, bukanlah pengetahuan. Pergi dan  pikirkanlah diri sendiri".

Komentar sederhana dan wajar  ini menyentakkan  jiwa Ghazali.  Ia sadar  bahwa  hingga hari itu, ia bagaikan  seekor  beo  yang  menuliskan  ke kertas segala  yang  ia dengar dari  para  pengajarnya.

Sejak saat itu ia bertekad untuk berusaha sekuatnya melatih  pikirannya melalui refleksi, perenungan mendalam, riset, dan mengumpulkan segala  informasi  bermanfaat dalam  benaknya.

"Nasihat terbaik yang mengarahkan kehidupan intelektualku ternyata kuperoleh dari seorang perampok jalanan," gumam  Ghazali.