Monday, February 4, 2013

Ada Hikmah di Balik Kesulitan

Seorang murid (orang yang menghendaki) berdiri di bawah naungan taubatnya, sedangkan seorang murad (orang yang dikehendaki) berdiri di bawah naungan bantuan Tuhannya. Murid adalah orang yang berjalan menuju Allah Swt., sedangkan murad ialah orang yang terbang menuju kepada-Nya. Murid itu berada di depan pintu, sedangkan murad berada di balik pintu dalam ilusi kedekatan.

Tatkala seorang murid berusaha keras dalam beramal, maka ia akan menjadi murad. Orang yang ingin dekat kepada Allah Swt. tanpa mengerjakan apa pun, maka itu merupakan omong kosong. Kami menjelaskan perkara ini berdasarkan kejadian yang lumrah, bukan peristiwa yang jarang terjadi. Ingatkah ketika Nabi Musa As. didekatkan kepada-Nya? Ia didekatkan setelah berhadapan dengan berbagai musibah dan kerja keras.

Setelah berhasil melarikan diri dari rumah Fir'aun, Nabi Musa As. menghadapi kerasnya kehidupan dan menggembalakan domba selama beberapa tahun. Kemudian, ia melihat hal-hal yang seharusnya dilihat. Pada saat itu, ia menghadapi kelaparan, rasa haus, dan kesendirian. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, ia bertemu dengan anak-anak perempuan Nabi Syu'aib As. yang sedang membutuhkan bantuan. Maka, bagaimana ia bisa membantu, sementara ia dalam keadaan lapar yang luar biasa.

Ketika hendak memberikan minum kepada domba-domba milik kedua putri Nabi Syuaib As. tersebut, Nabi Musa As. merasa malu dan pergi ke bawah pohon. Ia segan meminta upah atas pekerjaannya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya telah membuat ia menempuh jalan yang lurus, penjagaan dirinya membuatnya sadar, pandangan Al-Haq 'Azza wa Jalla menenangkannya dan membuatnya meminta kepada-Nya seraya berkata sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut:

"...Ya Tuhanku, sesungguhnya, aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. al-Qashash [28]: 24).

Ketika Nabi Musa As. berada dalam keadaan seperti itu, kedua putri Nabi Syu'aib As. menghampirinya dan mengajaknya bertandang ke rumah. Kemudian, Nabi Syu'aib As. menanyakan keadaannya, dan ia pun menceritakan semua kisah yang dialaminya. Lalu, Nabi Syu'aib As. berkata kepadanya sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

".. .Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu." (QS. al-Qashash [28]: 25).

Kemudian, Nabi Syu'aib As. menikahkan Nabi Musa As. dengan salah seorang putrinya dan memberi domba untuk dipelihara. Nabi Musa As. pun lupa dengan kerajaan Fir'aun. Ia memakai pakaian sebagaimana para penggembala; siang dan malam selalu bersama domba-dombanya. Ia tinggal bersama istrinya di padang sahara yang membisu, mempelajari kezuhudan dan khalwat (menyendiri) dari para makhluk, serta menyucikan hati dari mereka. Begitulah keadaannya selama beberapa tahun. Kerajaan Fir'aun telah hilang dari hatinya, serta dunia dan segala isinya raib dari relung jiwanya. Ketika masa perjanjian antara dirinya dengan Nabi Syu'aib As. telah usai, ia dibebaskan dari perjanjian itu. Dan, yang tersisa hanyalah perjanjiannya dengan Allah Swt., serta hak-Nya yang berada di dalam hati dan relung jiwanya.

Pada saat meninggalkan Nabi Syu'aib As., Nabi Musa As. membawa istrinya dan melakukan perjalanan sepanjang tiga farsakh dari Madyan, ia pun diselimuti malam di tengah perjalanan. Kala itu, istrinya sedang hamil. Sang istri merasakan keheningan dan meminta kepada Nabi Musa As. untuk mencari api sebagai penerangan. Lalu, ia mengambil korek api dan berusaha menyalakannya. Akan tetapi, korek tersebut tidak bisa mengeluarkan api sedikit pun. Malam semakin menyelimuti, kegelapan semakin pekat, dan kebingungan menghampirinya dari segala penjuru. Dunia dengan segala kelapangannya terasa sempit baginya.

Nabi Musa As. bersama istrinya berada di jalan yang tidak dikenalnya sama sekali. Dalam keadaan galau seperti itu, ia berdiri di tempat yang tinggi, kemudian melihat ke kanan dan kiri, serta ke depan dan ke belakang, agar bisa mendengarkan suara atau mendapatkan cahaya di sisi lembah. Ia berkata kepada istrinya, "Tinggallah di sini sebentar, aku melihat ada percikan api. Barangkali, aku bisa membawanya kepadamu dengan sebatang obor dan mengetahui jalan terbaik." Tatkala mendekati api itu, tiba-tiba nyala api itu berubah. Sesuatu yang normal (biasa) pun bisa hilang, dan tampaklah hakikat yang sebenarnya.

Tampaknya, Nabi Musa As. lupa dengan para anggota keluarganya dan kebaikan-kebaikan yang pernah mereka berikan. Sementara itu, tiba-tiba muncul sosok yang memuliakan istri Nabi Musa As., ia menghampirinya dan mempersiapkan segala kebutuhannya, serta membawakan semua kebaikan yang diinginkannya. Kemudian, Nabi Musa As. diseru oleh sebuah seruan, dipanggil dan diajak bicara, dan itulah Al-Haq 'Azza wa Jalla. Semua itu terjadi tanpa perantara di pohon yang terletak di pinggiran bagian kanan yang diberkahi dari lembah itu. Pohonnya tepat berada di hadapannya. Lalu, Nabi Musa As. mendengar Dia berfirman:

"...Ya Musa, sesungguhnya, Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam." S. al-Qashash [28]: 30).

Maksud ayat tersebut adalah Aku (Allah) bukanlah sekadar raja jin dan manusia, akan tetapi Tuhan sekalian alam.

Nabi Musa As. telah mendustakan Fir'aun yang berkata sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:

"...Akulah Tuhanmu yang paling tinggi." (QS. an-Naazi'aat [79]: 24).

Celakalah dirimu, wahai pelaku bid'ah yang tidak mampu berkata, "Sesungguhnya, tiada Tuhan, selain Allah. Tuhan kami Maha Berbicara, bukan bisu." Dia telah menegaskan masalah ini dalam firman-Nya kepada Nabi Musa As. sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut:

"...Dan, Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS. an-Nisaa' [4]: 164).

Firman Allah Swt. dapat didengar dan dipahami. Tatkala Nabi Musa As. mendengar firman-Nya, maka jiwanya seakan-akan ingin keluar dan sujud tersungkur karena keagungan-Nya. Ia mendengarkan perkataan yang belum pernah didengar sebelumnya. Ia datang dengan kelemahan manusiawinya, kemudian Dia menguatkannya. Dia mengutus malaikat kepadanya untuk menopangnya. Lalu, ia meletakkan salah satu tangannya di dadanya dan tangan yang satunya di belakang punggungnya, agar ia bisa berdiri, hatinya kuat, serta akalnya sadar. Tujuannya adalah agar ia bisa mengerti dan memahami firman-Nya.

Setelah Nabi Musa As. berdiri dan merasa dunia ini sempit dengan kelapangannya, maka Dia memerintahkannya untuk mendatangi Fir'aun dan kaumnya, serta menjadi utusan-Nya kepada mereka. Ia berkata, "Wahai Tuhanku, leraikanlah ikatan lidahku, agar mereka paham perkataanku. Kuatkanlah punggungku dengan saudaraku." Sebagaimana yang telah diketahui, lidah Nabi Musa As. itu cedal, sehingga menyebabkan ia tidak mampu berbicara dengan fasih/ lancar. Hal ini dikarenakan oleh suatu perkara yang terjadi antara dirinya dengan Fir'aun pada saat ia masih kecil. Biasanya, jika ia ingin membicarakansesuatu, maka ia diam dan berusaha menyusun kata-katanya dengan kadarwaktu orang lain dapat berbicara tujuh puluh kata.

Dulu, tatkala Nabi Musa As. di istana Fir'aun, yakni pada masa kecil-nya, istri Fir'aun yang bernama Asiyah membawanya ke hadapan suaminya dan berkata, "Ini akan menjadi penyejuk jiwaku dan jiwamu, maka janganlah kamu membunuhnya." Kemudian, Fir'aun memeluk dan menciumnya. Pada saat itu, ia memegang dan menarik jenggot Fir'aun. Lalu, Fir'aun menjadi marah, "Inilah anak yang akan menyebabkan hilangnya kekuasaanku yang sekarang berada di tanganku. Oleh karena itu, ia harus dibunuh." Mendengar ucapan itu, Asiyah menjawab, "Ini adalah anak kecil yang tidak tahu apa yang dilakukannya." Kemudian, Fir'aun bertitah agar dihadirkan di hadapannya sebuah bejana yang berisi bara api dan satu bejana lagi yang berisi permata. Asiyah berkata, "Kita biarkan kedua bejana itu. Jika ia mengetahui perbedaan di antara keduanya dan mengarahkan tangannya ke permata daripada bara api, maka bunuhlah ia. Akan tetapi, bila ia tidak bisa membedakan di antara keduanya dan mengarahkan tangannya ke bara api, maka janganlah membunuhnya."

Fir'aun setuju dengan syarat itu dan membiarkan bejana-bejana itu berada di hadapannya. Lantas apa yang terjadi? Nabi Musa As. mengarahkan tangannya ke bara api, lalu mengambil sebuah bara dan memasukkannya ke dalam mulutnya, lalu ia pun menangis. Setelah itu, Asiyah berkata, "Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa apa yang dilakukannya tidak ada maksud sama sekali." Kemudian, Fir'aun membiarkannya hidup dan tidak jadi membunuhnya. Allah Swt. mendidiknya di istana Fir'aun. Maha Suci Allah yang mempersiapkan lisannya, serta menjadikan kegembiraan dan jalan keluar dari setiap keresahan, kegelisahan, serta kesempitan. Dia berfirman:

"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan, barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...." (QS. ath-Thalaaq [65]: 2-3).

Jika hati jernih dan sehat, maka hati tersebut akan bisa mendengarkan seruan Al-Haq 'Azza wa Jalla dari enam sisi. Ia akan mampu mendengarkan seruan para nabi, rasul, wali, dan shiddiqin. Ketika itu, ia akan didekatkan kepada-Nya, sehingga kehidupannya dekat dan kematiannya jauh. Kemudian, ia ridha dalam munajat kepada-Nya. Ia merasa cukup dengan hal itu. Ia tidak peduli dengan hilangnya dunia, rasa lapar, haus, celaan, dan keberpalingan.

Bersabarlah menghadapi hukum-hukum Dzat Yang Maha Bijaksana. Tutup ilmu sudah dibukakan untuk kalian. Al-Haq 'Azza waJalla telah memerintahkan kalian untuk bersabar, maka bersabarlah. Dia memerintahkan khususnya kepada para nabi-Nya, dan secara umum kepada kalian. Allah Swt berfirman:
"Maka, bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar...." (QS. al- Ahqaaf [46]: 35).

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menyeru, "Bersabarlah wahai Muhammad Saw., sebagaimana para rasul bersabar menghadapi segala qadha dan qadar-Ku terhadap keluarga, anak-anak, harta, dan siksaan mereka dari para makhluk. Mereka menerima semua itu dengan penuh beban."

Alangkah sedikitnya beban kalian. Salah seorang di antara kalian tidak mau menanggung satu kata saja dari sahabatnya dan tidak menerima uzurnya. Pelajarilah akhlak dan perbuatan Rasulullah Saw. Teladanilah dan ikutilah jejak langkah beliau. Bersabarlah memikul beban-beban berat yang dihadapi pada awal perjalanan, sampai kalian bisa menikmati ketenteraman pada akhirnya. Awal sesuatu adalah keletihan, dan akhirnya ialah ketenangan. Pada awal perjalanan hidupnya, Rasulullah Saw. suka ber-khalwat menjauhi orang lain. Selama beberapa hari, beliau mendengar orang yang berkata, "Wahai Muhammad." Lantas, beliau lari meninggalkan suara itu, tanpa mengetahui sama sekali orang yang mengatakannya. Keadaan itu berlangsung selama beberapa lama, kemudian beliau mengetahui hakikat yang sebenarnya dan tidak lari lagi. Setelah itu, suara tersebut terputus, sehingga beliau merasa sesak dan gelisah di bukit, dan hampir saja berusaha mencarinya untuk mendapatkannya. Pada awalnya, beliau lari, dan berikutnya beliau justru mencarinya. Pada awalnya, berupa keresahan, dan berikutnya adalah ketenangan.

Murid adalah pencari, sedangkan murad ialah yang dicari. Nabi Musa As. adalah seorang murid, sedangkan Rasulullah Saw. ialah seorang murad. Nabi Musa As. tetap berada dalam naungan wujud dan pencariannya, karena ia meminta dapat melihat (rukyah) Allah Swt. di bukit Tursina. Dan, tatkala Rasulullah Saw. menjadi murad, maka beliau diberikan rukyah tanpa harus meminta. Beliau juga diperlihatkan sesuatu yang dihijab. Nabi Musa As. meminta rukyah, namun tidak diizinkan, dan ia menjalani keadaan yang penuh dengan cobaan sebagai hukuman karena telah meminta sesuatu yang tidak diberikan kepadanya di dunia. Sedangkan, Rasulullah Saw. memperindah adab beliau, menyadari kemampuan beliau, berusaha keras, tawadhu', dan tidak asal bicara, sehingga diberikan sesuatu yang tidak diberikan kepada selain beliau, karena beliau melupakan selain Al-Haq 'Azza wa Jalla, hanya mengingat kepada-Nya, dan mendapatkan taufiq-Nya.

Tamak dan loba merupakan sifat tercela. Merasa cukuplah dan ridha dengan bagian yang telah dibagikan oleh-Nya kepada kalian. Barang siapa yang bersabar, maka ia akan sampai. Barang siapa yang bersabar, maka hatinya akan merasa cukup dan kefakirannya akan hilang. Jika kamu ber-khalwat menjauhi makhluk, maka kamu akan mampu beribadah dan ikhlas mengerjakannya. Sendirian lebih baik dari bersahabat dengan teman-teman yang jahat. Beberapa orang shalih memiliki anjing yang ada di sisinya, maka ditanyakan kepada mereka, "Mengapa kalian membiarkan anjing itu bersama kalian?" Lantas, mereka menjawab, "Anjing ini lebih baik dari teman yang jahat." Bagaimana mungkin orang-orang yang shalih tidak menyukai khalwat, sementara hati mereka sudah dipenuhi dengan kedekatan kepada Tuhan mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak lari meninggalkan makhluk, sementara hati mereka sudah tidak peduli lagi dengan manfaat dan mudharat yang diterima oleh mereka. Hati mereka hanya melihat mudharat dan manfaat yang datang dari-Nya. Kedekatan dengan-Nya adalah kekayaan mereka, kelembutan menjadi tidur mereka, berbicara kepada hati dan mengkaji rahasia-rahasia-Nya merupakan surga bagi mereka. Para makhluk memandang mereka gila, namun bagi- Nya merekalah orang-orang yang berakal, bijaksana, dan alim Barang siapa yang ingin zuhud, maka jadilah seperti itu. Jika tidak, maka janganlah melelahkan diri sendiri.

Wahai orang yang suka membebani diri sendiri dan suka melakukan sesuatu yang tidak penting, apakah itu keadaan yang kamu jalani saat ini? Masalah tidak akan selesai dengan berpuasa pada siang hari, qiyam al-lail, serta memakan makanan dan memakai pakaian yang kasar, sementara kamu masih diselimuti nafsu, hawa, tabiat, kejahilan, dan akhlak yang buruk.

Celakalah kamu, ikhlas dan berusahalah membebaskan dirimu. Jujurlah, kamu sudah sampai dan dekat dari cita-citamu. Kamu sudah ditunggu. Selamatlah, karena kamu sudah selamat. Ridhalah, karena Al-Haq 'Azza wa Jalla telah ridha kepadamu.

Ya Allah, kuasakanlah segala urusan kami di dunia dan akhirat. Janganlah menyerahkan kami kepada diri kami sendiri dan jangan pula kepada salah seorang makhluk-Mu. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani