Thursday, February 28, 2013

Prestasi Keilmuan Syekh Abdul Qadir Al Jailani #3

Syekh Abdul Qadir berkata, "Aku telah mengerjakan semua amal kebajikan. Namun tidak aku dapatkan amal yang lebih baik daripada memberi makan orang lapar. Andaikan kemewahan dunia ditawarkan padaku, niscaya aku lebih memilih untuk beramal dengan memberi makan orang-orang kelaparan." Syekh Abdul Qadir menyuruh pelayannya, Muzhaffar, untuk mengambil pinggan tempat roti dan menyuguhkannya kepada orang yang ingin mengerjakan shalat Isya'. Syekh Abui Qadir berkata, "Aku ingin sekali kembali merantau di padang-padang dan gurun-gurun, sehingga aku tidak melihat seorang pun dan tidak ada seorangpun yang melihatku. Akan tetapi, keadaanku yang sekarang ini adalah kehendak Allah yang mana telah banyak orang mengambil manfaat dariku. Lebih lima ratus orang Yahudi dan Nasrani bertaubat di hadapanku. Dan lebih dari seratus ribu orang penghasut dan pembuat kerusakan juga bertaubat di hadapanku. Ini merupakan kebaikan yang luar biasa."

Syekh Abdul Qadir, apabila istrinya melahirkan seorang bayi, maka beliau menggendongnya dan berkata, "Ini adalah mayat." Beliau menghilangkan rasa cinta pada anak dari dalam hatinya. Tatkala sang buah hati meninggal dunia, beliau tidak terpengaruh oleh kematian tersebut. Karena itulah, pada saat putranya meninggal dunia dan beliau sedang berceramah di majelis taklimnya, maka beliau hanya memerintahkan agar jenazah putranya itu diurus tanpa harus menghentikan ceramah agamanya. Setelah jenazah selesai dimandikan dan beliau selesai memberikan ceramah, jenazah didatangkan. Beliau turun dari kursinya dan menyalati jenazah tersebut. Setelah shalat rampung, beliau kembali ke tempat mengajarnya yang semula.

Umar Al-Kahmani berkata, "Majelis-majelis taklim Syekh Abdul Qadir tidak pernah sepi dari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memeluk Islam, juga dari para perampok dan pembunuh yang bertaubat di hadapan beliau." Al-Kahkami melanjutkan kata-katanya, "Pada suatu hari datang seorang rahib untuk memeluk agama Islam di hadapan Syekh Abdul Qadir. Kemudian rahib itu bercerita kepada orang-orang banyak. 'Pada suatu hari datang seorang laki-laki dari Yaman. Kata orang itu, Islam telah merasuk dalam jiwaku, dan aku mantap untuk tidak memeluk agama Islam kecuali di hadapan orang Yaman yang paling baik menurut pandanganku. Aku duduk merenung sampai aku tertidur. Di dalam mimpi aku melihat Al-Masih Isa ibnu Maryam alaihis salam datang dan berkata kepadaku: Wahai Sanan, pergilah engkau ke Baghdad, [masuklah Islam di hadapan Syekh Abdul Qadir. Karena dia adalah manusia paling baik di muka bumi sekarang ini.'" Menurut Al-Kahmani, "Datanglah tiga belas orang laki-laki Nasrani menghadap Syekh Abdul Qadir. Mereka memeluk Islam di hadapan beliau di majelis taklimnya. Mereka berkata, 'Kami adalah penduduk Arab beragama Nasrani. Kami ingin memeluk Islam. Namun kami bimbang kepada siapa kami harus menghadap untuk memeluk Islam. Tiba-tiba ada suara yang kami dengar kata-katanya namun tidak kami lihat wujudnya. Suara itu berkata, 'Wahai orang-orang yang beruntung, pergilah ke Baghdad. Masuklah agama Islam di hadapan ('ala yadaihi) Syekh Abdul Qadir. Disebabkan oleh barokahnya maka kalian akan memperoleh keimanan darinya. Karena saat ini tidak ada seorang pun yang memiliki keimanan seperti keimanannya.""

Abul Faraj Al-Hamami berkata, "Aku banyak mendengar kata-kata dari Syekh Abdul Qadir radhiyalldhu anhu yang tidak aku sukai dan selalu aku bantah. Karena itulah aku ingin berjumpa dengan beliau. Pada suatu hari ada kesempatan untuk melaksakan niatanku itu. Ketika aku berjalan melintasi madrasah Syekh Abdul Qadir, muadzin mengumandangkan iqamah shalat. Dalam benakku terbersit untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu. Dalam hati aku berkata, 'Aku akan mengerjakan shalat Ashar lebih dahulu, lalu akan menemui Syekh Abdul Qadir/ Namun ingatanku hilang, aku lupa tidak punya wudhu', dan kami mengerjakan shalat Ashar berjemaah. Setelah selesai mengerjakan shalat Ashar, Syekh Abdul Qadir berpaling kepadaku dan berkata, 'Persoalan apa pun, jika engkau datang padaku untuk tujuanmu itu, maka aku akan penuhi semua keinginanmu. Akan tetapi, dirimu telah lebih dulu diliputi oleh sifat lupa. Engkau telah mengerjakan shalat tanpa wudhu'. Engkau lupa itu.'" Abul Faraj lalu berkata, "Aku betul-betul kagum kepada beliau; sebuah kekaguman yang mampu menghilangkan pikiran dan akalku. Beliau tahu benar keadaanku dan kebingunganku yang paling rahasia sekalipun. Sejak saat itulah aku terus bersama beliau, penuh rasa cinta yang mendalam, dan aku mengakui barokah yang dimilikinya."

Prestasi Keilmuan Syekh Abdul Qadir Al Jailani #2

Abdul Wahhab, putra Syekh Abdul Qadir, berkata, "Ayahku menyampaikan nasihatnya tiga kali dalam satu minggu; Jum'at pagi, Selasa malam sehabis Isya', keduanya ini dilakukan di madrasah, dan Ahad pagi di Rubath. Orang-
orang yang hadir dalam majelis taklimnya adalah golongan ulama dan Syekh-syekh besar. Pertama kali ayah mengajar sejak tahun 521, dan berlangsung selama 40 tahun lamanya. Pertama kali ayah menerima murid pada hari Selasa dan Senin. Fatwa hukum disampaikan setelah selesai memberi nasihat- nasihat. Majelis taklim ayah juga dihadiri oleh 400 orang juru tulis, yang semuanya mencatat apa yang disampaikan ayah. Di majelis taklimnya terdapat dua orang yang membaca al-Qur'an secara tartil namun tidak dilagukan. Ada beberapa orang yang meninggal dunia di majelis taklimnya itu. Ayah berjalan di atas kepala orang-orang, lalu kembali ke kursinya."

Abdul Wahhab juga berkata begini, "Aku merantau mencari ilmu, dan aku menguasainya. Setelah kembali ke kota Baghdad, aku bilang pada ayah, 'Saya ingin menyampaikan pidato di depan orang-orang seraya disaksikan Anda.' Ayah mengizinkanku. Aku pun naik ke atas kursi dan menyampaikan nasihat-nasihat dan beragam macam ilmu pengetahuan. Namun tidak ada hati yang merasa damai dan tidak ada air mata yang mengalir. Mereka pun gaduh dan ingin agar ayahku saja yang berpidato. Aku turun dan ayah naik. Beliau berkata, 'Hari kemarin aku berpuasa, dan Ummu Yahya menggoreng beberapa butir telur kecil. Dia meletakkannya di Sakarjah. Ketika gelap datang dia menyenggol Sakarjah itu, dan pecah.' Orang-orang yang hadir di majelis itu gaduh dan berteriak-teriak menangis. Ketika ayah turun aku menceritakan semua itu, dan beliau menjawab, 'Wahai anakku, engkau menceritakan perjalananmu. Apakah engkau telah sampai di sana?' Ayah menunjuk dengan jarinya ke arah langit, lalu berkata, 'Wahai anakku, ketika aku sudah naik ke atas kursi, Tuhan menampakkan diri ke dalam hatiku. Aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar. Maka terjadilah seperti yang kau lihat sendiri.'"

Abdul Wahhab berkata, "Hari berikutnya aku kembali naik ke atas kursi, membicarakan beragam macam ilmu, dan ayahku juga mendengarkannya. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang berkesan. Aku pun turun dan ayah yang naik. Beliau berkata, 'Wahai keluarga pemberani, bersabarlah sebentar.' Mendengar nasihat itu, semua yang hadir menjadi gaduh menangis. Aku bertanya kepada beliau tentang semua kejadian ini. Beliau menjawab, 'Engkau berbicara tentang dirimu sendiri. Dan aku berbicara tentang orang lain.' Ketika ayah ditanyai tentang suatu permasalahan, terkadang beliau menjawabnya dengan cara meminta izin terlebih dulu, lalu berjalan keluar, dan tiba-tiba ada kehebatan terjadi pada dirinya, ia tampak lebih terhormat, baru kemudian beliau menjawab pertanyaan itu sesuai dengan apa yang didengarnya. Beliau berkata, 'Demi kemuliaan Allah, aku tidak berbicara kecuali aku telah mendengar suara, 'Wahai Abdul Qadir, sampaikanlah. Kami bersamamu. Wahai Abdul Qadir, berbicaralah. Kami mendengarkanmu!"'
Abu Umar As-Shariqi dan Abdul Haq Al-Kharimi berkata, "Guru kami (Syekh Abdul Qadir) menangis, beliau mengeluh, 'Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa mempersembahkan jiwaku ini pada-Mu, sementara jiwa ragaku ini sudah jelas adalah milik-Mu.'" Terkadang Syekh Abdul Qadir membaca sebuah syair: 'Tidak ada gunanya berbangsa Arab jika tidak bertakwa. Dan bahasa Ajam tidak akan memberi mudharat bagi orang yang bertakwa.'

As-Syanthufi dari jalur Abu Abdullahbin Abui Fatah berkata, "Aku mengabdi kepada Syekh Abdul Qadir selama empat puluh tahun. Beliau mengerjakan shalat Subuh dengan wudhu' shalat Isya'. Beliau masuk ke tempat khalwatnya sesudah shalat Isya'. Beliau tidak mau keluar kecuali setelah terbitnya fajar." As-Syanthufi melanjutkan riwayatnya, "Aku sempat bermalam di tempat Syekh Abdul Qadir. Beliau mengerjakan ibadah singkat pada awal malam. Kemudian dilanjutkan dengan dzikir sampai sepertiga malam yang pertama. Dan terbang tinggi ke langit sampai hilang dari pandanganku. Baru kemudian mengerjakan shalat dengan berdiri, dan sujudnya sangat lama sekali. Lalu duduk menghadap kiblat sambil mendekatkan diri kepada Allah. Beliau diliputi oleh cahaya yang menyilaukan mata."

Prestasi Keilmuan Syekh Abdul Qadir Al Jailani #1

Dalam kitab Mir'at az-Zaman, Ibnu Al-Jauzi menyebutkan, banyak fatwa berdatangan kepada Syekh Abdul Qadir dari seluruh penjuru Irak dan negara-negara lainnya. Setiap ada fatwa yang didengarnya, beliau segera mencatatnya, setelah terlebih dahulu membacanya tanpa harus memikirkan kebenarannya. Syekh Abdul Qadir mengeluarkan fatwa berdasarkan madzhab Imam as-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal. Setiap jawaban atas permasalahan tersebut ditunjukkan kepada para ulama, dan mereka takjub atas kecepatan pikiran Syekh Abdul Qadir dalam menjawabnya. Setiap bidang ilmu pengetahuan yang didalami oleh sahabat-sahabatnya, Syekh Abdul Qadir lebih menguasai dibanding mereka, sehingga beliau jauh lebih pandai dibanding seluruh sahabatnya, dan mereka senantiasa butuh kepadanya. Ada sebuah riwayat yang datang dari para pemuka agama, bahwa Syekh Abdul Qadir menguasai tiga belas macam ilmu pengetahuan. Di madrasahnya, Syekh Abdul Qadir mengajar tafsir, hadis, fikih, dan perbedaan madzhab. Di samping itu, banyak muridnya yang belajar membaca al-Qur'an dengan beragam versi bacaan, yang dilaksanakan selepas shalat zhuhur.

Abdur Razzaq, putra Syekh Abdul Qadir, berkata, "Pada suatu hari ada sebuah pertanyaan hukum yang datang dari negeri lain. Pertanyaan itu disampaikan kepada seluruh ulama Irak, namun tidak ada seorang pun yang mampu memberikan jawaban. Permasalahannya adalah, seorang laki-laki bersumpah dengan sumpah talak tiga bahwa dirinya akan beribadah kepada Allah dengan satu jenis ibadah khusus, yang tidak pernah dilakukan orang lain saat berhubungan dengan istrinya. Permasalahan itu kemudian diceritakan kepada ayahku, dan beliau segera mencatatnya. Kemudian beliau mengerjakan thawaf sendirian selama satu minggu. Tetapi tiba-tiba tangan kanannya terbuka, dan orang yang meminta fatwa itu tidak lagi kelihatan di Baghdad."

Dari Hidhir bin Abui Abbas, dari ayahnya, ia berkata, "Pada suatu malam, tahun 550, aku bermimpi berada di madrasah asuhan Syekh Abdul Qadir radhiyallahu anhu. Di sana tampak sebuah tempat yang sangat luas. Di kanan dan kiri tempat itu adalah samudera. Syekh Abdul Qadir sendiri berada di tengah-tengah, dan orang-orang mengelilinginya. Sebagian dari mereka ada yang mengenakan surban biasa, surban dengan satu ujung yang menjuntai, dua juntaian, dan ada pula yang mengenakan surban dengan tiga ujung juntaian." Syekh Ali mengatakan, "Aku berziarah ke makam Imam Ahmad radhiyallahu anhu. Beliau keluar dari dalam kubur dan merangkul Syekh Abdul Qadir, dan memberinya pakaian. Imam Ahmad berkata kepadanya, 'Orang-orang membutuhkanmu untuk belajar ilmu syariat juga ilmu hakikat."'

Syekh Umar berkata, "Suatu malam aku memanggil Jin untuk datang dengan membacakan mantra-mantra. Namun mereka terlambat datang. Beberapa waktu kemudian jin-jin datang dan berkata, “Jangan kauulangi lagi memanggil kami pada saat kami berada di majelis taklimnya Syekh Abdul Qadir.” Aku bertanya kepada jin-jin itu, 'Apakah kalian juga ikut hadir di majelis taklimnya Syekh Abdul Qadir?' Jin-jin itu menjawab, 'Ya. Demi Allah, sebagian dari golongan kami ada yang masuk Islam di hadapannya, dan sebagian lagi ada yang meninggal.'" 

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jailani #4

Thalhah bin Muzhaffar mengatakan, "Syekh Abdul Qadir berkata, “Aku duduk di suatu tempat di padang Sahara, sembari mengulang-ulangi pelajaran fikihku. Ketika itu aku sangat lapar. Tiba-tiba ada orang yang berkata padaku, “Belum pernah aku lihat orang meminjam sesuatu hanya agar bisa belajar fikih dan ilmu-ilmu lain.” Aku jawab, 'Bagaimana mungkin aku meminjam sesuatu sementara aku sendiri miskin dan tidak punya apa pun?!' Orang itu berkata lagi, 'Pinjamlah. Dan aku yang akan melunasinya.' Aku pun pergi menemui seorang penjual sayuran dan berkata padanya, 'Pekerjakanlah aku dengan menetapkan syarat-syarat tertentu. Jika Allah sudah memberiku kelapangan rezeki, maka aku akan memberikannya padamu. Jika aku mati, maka aku berharap engkau menghalalkannya untukku'."

Abdul Qadir melanjutkan, "Penjual sayuran itu menangis. Dia berkata, 'Wahai Tuan, aku akan mempekerjakanmu. Ambil saja apa yang kaubutuhkan.' Aku pun mengambil bayaran berupa sepotong roti setiap hari dan sedikit bimbingan. Beberapa hari lamanya aku bekerja. Lalu dadaku terasa sesak, bagaimana tidak, sementara aku tidak punya apa pun untuk kuberikan padanya. Tiba-tiba ada suara yang muncul dan berkata padaku, 'Pergilah ke tempat si fulan. Ketika engkau lihat ia dalam keadaan roboh, maka ambil dan serahkan kepada si penjual sayur, bayarlah hutangmu.' Setelah aku sampai di tempat tersebut, aku lihat ia roboh. Aku temukan sepotong emas besar sekali. Aku ambil dan kuserahkan pada si penjual sayur."

Sunday, February 24, 2013

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jaylany. #3

Syekh Abdul Qadir berkisah, "Beberapa hari kemudian, datang seseorang bernama Yusuf dari kota Hamadan. Beliau disebut wali Quthb. Beliau berkunjung ke Rubath. Ketika aku mendengar beliau ada di Rubath, aku segera menuju ke sana. Aku bertanya tentang wali Quthb. Dia menjawab bahwa wali Quthb ada di As-Sardab. Aku pergi menuju As-Sardab itu. Ketika sang wali melihatku, beliau berdiri dan mempersilakanku duduk. Lalu menjelaskan semua kemusykilan yang aku hadapi. Kemudian beliau berkata padaku, 'Wahai Abdul Qadir, sampaikanlah kepada orang-orang yang mau engkau sampaikan.' Aku menjawabnya, 'Wahai tuanku, aku seorang lelaki dari bangsa 'ajami (non-Arab). Bagaimana mungkin aku berbicara di hadapan cendekiawan-cendekiawan Baghdad?' Beliau menjawab pertanyaanku, 'Engkau telah hafal fikih, ushul fikih, perbedaan madzhab, ilmu nahwu, ilmu bahasa, dan tafsir. Tidak ada yang pantas berbicara di hadapan orang banyak kecuali dirimu/ Beliau kembali berkata, 'Cepat duduk di kursiku, dan sampaikan apa yang ingin engkau sampaikan.'" Syekh Abdul Qadir berkata, "Aku diperintah dan dilarang begini dalam keadaan jaga maupun ketika tidur."

Abu as-Sa'ud al-Harr berkata, "Aku mendengar Syekh Abdul Qadir bertutur, 'Aku tinggal di kalangan orang-orang Irak sendirian dan selalu mengelana. Aku tidak mengenal seorang pun dan mereka juga tidak mengenalku. Banyak sekali golongan Rijal al-Ghaib (manusia dari alam gaib) maupun bangsa Jin yang datang kepadaku. Aku mengajari mereka semua cara mendekat kepada Allah swt. Kemewahan duniawi datang merayuku dalam rupa yang bermacam-macam, tetapi Allah telah menyelamatkanku dari ketertarikan padanya. Setan-setan datang padaku dalam rupa yang bermacam- macam, mereka memerangiku, tetapi Allah membantuku untuk
melawannya. Nafsuku sendiri tampak padaku dalam rupa yang bermacam-macam pula. Akan tetapi, sejak semula sampai sekarang aku melatihnya dengan banyak mujahadah yang keras. Aku menolong jiwaku dengan kedua tanganku ini. Selama satu tahun lamanya aku hanya makan dari makanan-makanan yang dibuang, dan tidak minum air. Satu tahun berikutnya aku hanya minum air, dan tidak makan. Satu tahun lagi aku tidak makan, tidak minum, dan juga tidak tidur. Pada suatu malam, aku tidur di istana raja. Aku bermimpi, makanya aku segera bangun dan pergi ke tepi pantai. Aku mandi, dan melakukan itu berkali-kali."

Thalhah bin Muzhaffar Al-Alani berkata, "Syekh Abdul Qadir mengisahkan, 'pertama kali tiba di Baghdad, aku tidak memiliki sesuatu untuk dimakan dan tidak ada pula barang halal lainnya. Aku pergi ke istana raja untuk mencari sesuatu yang halal. Namun di sana aku temukan tujuh puluh orang saleh yang semuanya sedang mencari apa yang aku cari. Aku berpikir, alangkah tidak terhormat jika aku harus ikut berdesak-desakan dengan mereka. Aku kembali pulang. Tiba-tiba ada seseorang yang menjumpaiku, dia kenal diriku, karena dia juga berasal dari kampung yang sama denganku. Dia memberiku barang titipan. Orang itu berkata, 'Ini dari ibumu untukmu yang dititipkan padaku.' Aku ambil sebagian saja untuk diriku sendiri, dan sebagian lainnya lagi aku bawa lari menuju istana raja untuk kubagi-bagikan kepada tujuh puluh orang saleh itu. Mereka bertanya, 'Apa ini?' Aku jawab, 'Ini aku dapatkan dari ibuku. Aku merasa tidak baik jika aku harus memilikinya sendirian tanpa memberikannya pada kalian.' Aku pun kembali ke Baghdad dan dengan bagianku itu aku membeli makanan secukupnya. Aku panggil semua orang muslim yang fakir. Kami makan bersama-sama, sehingga aku tak menyisakan sedikit pun barang titipan itu."
"Ibuku sangat merindukanku. Dia menuliskan surat untukku dan menceritakan kerinduannya itu. Ibuku memotong sebagian rambutnya lalu menyelipkannya pada surat itu dan dikirimkan kepadaku. Aku menulis surat balasan untuknya: 'Ibu, jika engkau kehendaki, aku akan tinggalkan semuanya, dan aku akan kembali ke sisimu/ Lalu ibuku mengirim surat balasan: 'Janganlah engkau pulang, tetaplah menuntut ilmu.' Aku pun menyibukkan diri dengan belajar ilmu fikih ke banyak guru. Kemudian pergi ke padang Sahara sehingga aku tidak diketahui oleh siapa pun. Di waktu siang aku tinggal di sebuah bangunan yang roboh. Aku mengenakan jubah dari kain wol. Kepalaku ditutupi secarik kain. Aku berjalan dengan kaki telanjang. Aku berjalan di jalan-jalan penuh duri atau tidak. Tidak ada satu pun yang membuatku merasa takut. Sungguh, terkadang nafsuku membujukku untuk mencicipi lezatnya masakan yang dijual di pasar. Tapi aku buang jauh-jauh rayuan nafsu itu, dan aku terus menyusuri lorong demi lorong yang menuju ke padang Sahara."

"Pada suatu hari, aku berjalan dan tiba-tiba ada secarik kertas melayang jatuh di jalan. Aku mengambil dan membacanya: 'Makanan dan syahwat hanya diciptakan untuk orang-orang lemah agar mereka bisa kuat mengerjakan ketaatan pada Tuhan mereka. “Setelah membaca tulisan di kertas itu, hawa nafsu tersebut hilang seketika dari hatiku.”
Syekh Abdul Qadir berkata, "Aku makan buah-buahan berduri, sampah sayur-sayuran, dan daun-daun busuk yang terhempas ke tepi pantai. Aku tercekik oleh kelaparan di sebuah negeri yang dibilang makmur, ketika itu bernama Baghdad. Sehingga beberapa hari aku tidak menyentuh makanan, dan yang aku makan hanyalah sisa-sisa yang dibuang. Pada suatu hari saat aku sangat kelaparan, aku pergi ke tepi pantai untuk mencari sekadar daun-daun busuk atau semacamnya. Tetapi, ke mana saja aku pergi selalu saja kutemukan orang-orang miskin yang kondisinya sama denganku. Aku tidak mau ikut berebut dengan mereka. Aku memilih pulang dengan tangan hampa. Aku masuk ke dalam sebuah masjid, dan rasa lapar telah benar- benar mencengkeramku. Aku bahkan sudah tidaK kuat lagi berpegangan. Aku duduk di emperan masjid. Kematian serasa sangat dekat denganku. Tiba-tiba seorang pemuda juga datang ke masjid. Dia membawa roti dan makanan bakaran. Dia duduk sambil makan. Saat dia mengunyah sesuap makanan, hampir saja mulutku ikut menganga karena terlalu lapar. Tapi aku segera menahannya."

Aku berkata, "Semua yang terjadi sekarang adalah apa yang sudah ditakdirkan Allah.' Tiba-tiba pemuda 'ajami itu melirik dan menatapku. Dia berkata, 'Bismillah, wahai saudaraku.' Aku menolak tapi dia memaksaku. Aku pun memenuhinya dan makan secukupnya saja. Dia bertanya padaku, 'Apa kesibukanmu? Dari mana engkau? Apa yang engkau tahu?' Aku jawab, 'Pekerjaanku sebagai pelajar ilmu fikih. Aku berasal dari daerah Kailan.' Pemuda itu pun segera memotong dan berkata,'Aku juga dari Kailan. Apakah engkau kenal orang yang bernama Abdul Qadir al-Kailani, dia adalah cucu dari az-Zahid Abu Abdillah bin Al-Shauma'i?' Aku jawab, 'Orang itu adalah aku.' Pemuda itu terkejut mendengarnya, wajahnya memerah, seraya berkata, 'Demi Allah, wahai saudaraku, aku sudah tiba di Baghdad dan membawa barang titipan. Aku bertanya tentang dirimu, namun tak seorang pun yang mengetahui keberadaanmu. Sampai suatu saat uang sakuku habis. Dan selama tiga hari aku tidak punya apa pun untuk membeli makanan kecuali mengambil milikmu yang ada padaku. Dan sekarang adalah hari keempat. Aku berkata pada diri sendiri: 'Sudah tiga hari aku tidak makan, dan agama menghalalkan memakan daging bangkai. Aku pun mengambil hak milikmu seharga roti dan makanan bakaran ini. Maka, makanlah dengan senang hati. Karena ini adalah milikmu sendiri. Akulah yang menjadi tamumu sekarang, sekalipun secara lahiriah ini milikku dan engkau adalah tamuku'."

"Aku pun bertanya tentang arti ucapan pemuda itu. Dia pun menjelaskannya, 'Ibumu mengirimkan uang sebanyak delapan dinar untukmu. Demi Allah, aku tidak berbohong. Hanya saja hari ini aku membeli makanan ini dari uangmu. Aku minta maaf padamu karena tidak bisa menjaga amanat'." Abdul Qadir berkata, "Pada waktu itu aku menenangkannya, membuatnya merasa nyaman, dan aku memberinya sepotong emas, sehingga ia menjadi hak miliknya yang halal. Pemuda itu pun mengambilnya dan pergi."

Saturday, February 23, 2013

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jaylany #2

Abdullah as-Sulami berkata, "Aku mendengar Syekh Abdul Qadir berkata, 'Aku pernah tidak menyentuh makanan sama sekali selama beberapa hari. Ketika aku tiba di suatu tempat di daerah timur, tiba-tiba datang seseorang menyerahkan kertas yang terlipat keras. Dia lalu pergi meninggalkanku. Aku terus melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan seorang penjual sayuran. Aku membeli sepotong roti kering dan makanan bercampur roti. Lalu aku berjalan menuju sebuah masjid terpencil. Aku duduk menyendiri di masjid itu untuk mengulangi mata pelajaran yang aku dapatkan. Aku meletakkan makanan itu di depanku sambil menghadap kiblat. Aku berpikir apakah aku akan makan atau tidak? Lalu aku membuka secarik kertas yang terselip di dinding masjid. Aku mengambil dan membaca tulisan yang ada di dalamnya: Allah berfirman dalam sebagian kitabnya yang diturunkan pada zaman lampau bahwa makanan dan hawa nafsu hanya diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang imannya lemah, supaya mereka menjadikan makanan tersebut sebagai alat untuk beribadah dan mengerjakan ketaatan. Setelah membaca isi kertas tersebut aku segera mengambil sapu tangan dan membiarkan makanan itu tetap menghadap kiblat. Aku segera shalat dua rakaat dan pergi'."

Thalhah bercerita, "Syekh Abdul Qadir berkata padaku, 'Ada sebuah kelompok di Baghdad yang sedang belajar fikih. Ketika tiba masa panen mereka keluar menuju Rustacj untuk mencari biji-bijian. Pada suatu hari mereka mengajakku, 'Ayolah pergi bersama kami, kita menuju Ya'qub untuk mendapatkan sesuatu.' Aku pun terpaksa dan pergi bersama mereka. Di daerah Ya'qub tersebut ada seseorang yang sangat saleh, yang akrab dipanggil Syarif Ya'qubi. Aku melangkah untuk menemui Syarif Ya'qubi itu. Dia berkata padaku, 'Para pencari Tuhan dan orang-orang saleh tidak akan meminta-minta/ Aku pun gagal pergi untuk tujuan meminta biji-bijian hasil panen."

Syekh Abdul Qadir bertutur, "Aku menyibukkan diri dengan belajar fikih dan berkunjung ke tempat-tempat orang saleh. Aku menguji jiwaku ini dengan mujahadah sampai ada sesuatu yang selalu menghantuiku. Siang dan malam ia tetap menghantuiku, dan di padang sahara pun tetap begitu. Aku pergi dan tiba-tiba wajahku bercahaya terang. Pada suatu malam ada sesuatu yang datang padaku. Aku berteriak keras sehingga orang-orang yang suka mencela mendengar teriakanku. Mereka terkejut, kemudian datang mengelilingiku, sedangkan aku sendiri tersungkur di atas tanah. Mereka mengenaliku dan berkata, 'Wahai Abdul Qadir yang gila. Engkau telah membuat kami kaget. Semoga Tuhan tidak memberimu kebaikan.' Mereka berkeliling di kota Baghdad pada malam hari dengan tujuan bertemu seseorang kemudian merampas barangnya."

Thalhah menceritakan, bahwa Syekh Abdul Qadir berkata, "Aku berjumpa dengan orang gila. Pada saat itu aku sedang menuju Al-Maristan. Aku mengalami suatu pengalaman, sepertinya aku mati, maka didatangkanlah kain kafan dan seseorang yang siap memandikan jenazahku. Mereka meletakkan jenazahku di atas pemandian. Kemudian orang yang memandikanku itu pergi, dan aku pun terbangun.' Syekh Abdul Qadir melanjutkan, 'Terbersit dalam benakku untuk segera meninggalkan kota Baghdad karena terlalu banyak fitnah dan cobaan di sana. Aku segera mengambil mushaf al-Qur'an, menggantungkannya di bahu, lalu berjalan menuju pintu gerbang yang mengarah ke padang Sahara. Tiba-tiba ada suara yang berkata padaku, 'Hendak pergi ke mana?' Dengan adanya suara itu, tubuhku merasakan panas. Aku mengira suara itu datang dari belakangku. Suara itu berkata lagi, 'Kembalilah! Karena orang-orang banyak membutuhkanmu.' Aku menjawab, 'Sungguh, aku takb utuh orang-orang. Aku ingin menyelamatkan agamaku/ Suara itu berkata lagi, 'Kembalilah ke tempatmu. Karena keselamatan agamamu ada di sana!' Aku tidak melihat wujud orang yang berkata itu. Selanjutnya aku mengalami pengalaman-pengalaman gaib lainnya yang sulit diceritakan. Aku berharap Allah memudahkanku dengan adanya orang yang bisa menghilangkan segala permasalahanku. Keesokan harinya aku melewati daerah Madzfariyah. Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu jendela rumahnya. Dia memanggilku, 'Wahai Abdul Qadir.' Aku datang dan diam di hadapannya. Orang itu berkata lagi, 'Sepertinya aku memintamu tadi malam atau kemarin?' Aku diam, tidak tahu apa yang mesti kujawab atas pertanyaan tersebut. Orang itu tampak sangat marah padaku, dan menutup daun pintu jendelanya dengan keras sekali, sehingga debu-debunya beterbangan ke wajahku. Setelah aku berjalan sebentar, aku teringat pada kata-katanya dan aku yakin dia adalah orang saleh. Aku berputar dan segera mencari ke rumah-rumah yang kujumpai, tapi aku tidak mendapatkannya.
Dadaku terasa sempit karena menyesal. Orang itu adalah orang yang saleh, dia bernama Hammad ad-Dabasi. Aku baru tahu kemudian dan menyadari hal itu, dan dia telah menghilangkan segala kemusykilan yang sedang kualami."

Syekh Abdul Qadir melanjutkan, 'Ketika aku tidak bersama Syekh Hammad ad-Dabasi, aku pergi mencari ilmu tapi kemudian aku segera kembali padanya. Beliau sering berkata padaku, 'Oh, engkau datang lagi padaku. Engkau itu adalah seorang ulama fikih, maka pergi dan belajarlah kepada para ulama fikih.' Aku diam saja. Suatu hari, tepatnya hari Jum'at, beliau keluar dari kota Baghdad bersama satu rombongan sahabat-sahabatnya untuk tujuan mengerjakan shalat Jum'at di masjid Ar-Rashafah. Cuaca pada waktu itu sangat dingin. Ketika aku sampai di tepian sungai, beliau melemparku ke dalam air. Aku segera membaca: Bismillah ghuslal jum'at (dengan menyebut nama Allah, aku mandi sunnah untuk shalat Jum'at). Aku mengenakan jubah dari wol, dan di lengan bajuku beberapa carik kain wol. Aku mengangkat tanganku tapi tidak ada pegangan. Mereka pergi meninggalkanku sendirian. Aku berusaha sendiri untuk keluar dari air, memeras air pada jubahku, dan segera mengejar mereka. Rasa dingin sangat menyiksaku. Syekh Hammad ad-Dabasi berkali-kali menyakitiku. Dan ketika aku tidak bersamanya, aku pergi belajar ilmu tapi kemudian aku segera kembali padanya. Beliau berkata, 'Hari ini kami memiliki banyak sekali roti, tapi sayang, kami makan semuanya sampai habis dan tidak ada sisa untukmu.' Sahabat-sahabat Hammad ad-Dabasi itu ingin berbuat sesuatu yang tidak baik padaku, karena mereka seringkali melihat Syekh Hammad ad-Dabasi sendiri menganiayaku. Mereka berkata, 'Engkau ahli fikih. Oh, apakah engkau mau hidup seperti kami, sedangkan engkau selalu datang pada kami?!' Ketika Syekh Hammad ad-Dabasi melihat perbuatan tidak baik mereka padaku, beliau berkata, 'Mengapa kalian menyakitinya?! Demi Allah, di antara kalian tidak ada seorang pun yang seperti dia. Aku hanya ingin menguji kemauannya, tetapi hatinya bagai gunung yang kokoh."

Friday, February 22, 2013

Perjalanan Hidup Syekh Abdul Qadir al Jaylany #1

Masa-masa Pahit selama Menuntut Ilmu
Dengan sanad di muka Ibnu An-Najjar berkata, Abu Muhammad Abdullah bin Abui Husain al-Hayyani menulis sebuah surat untukku, dan aku menyalinnya dari tulisan tangannya. Ia berkata, "Syekh Abdul Qadir bercerita padaku, beliau mengatakan, 'Ibuku berpesan padaku, pergilah engkau ke Baghdad dan belajarlah ilmu di sana.' Beliau melanjutkan kisahnya, 'Aku pun pergi melintasi satu negara ke negara lainnya. Waktu itu usiaku enam belas tahun (riwayat lain mengatakan delapan belas tahun), dan aku pun sibuk mendalami ilmu'." Muhammad bin Qayid bertutur, "Aku sempat bertanya pada Syekh Abdul Qadir, apa pijakan utama hidupmu?' Syekh Abdul Qadir menjawab, 'Kejujuran! Aku tidak pernah berbohong. Sampai aku berada di Kuttab sekalipun'."

"Syekh Abdul Qadir melanjutkan kata-katanya," ucap Muhammad bin Qayid, "Pada waktu itu aku masih muda di negeriku. Aku pergi ke ladang pada hari Arafah. Aku mengikuti sapi-sapi pembajak ladang.

Kemudian ada seekor sapi menoleh ke arahku dan mengeluarkan suara: 'Wahai Abdul Qadir, engkau tidak diciptakan untuk ini, dan engkau tidak diperintahkan untuk pekerjaan ini. Aku pun pulang ke rumah dengan perasaan takut. Aku menatap atap dan kulihat orang-orang sedang wuquf di padang Arafah. Aku segera beranjak menemui ibuku dan kuceritakan semua kejadian itu. 'Wahai ibu, persembahkanlah diriku ini kepada Allah. Karena aku melihat diriku pergi merantau ke Baghdad untuk belajar ilmu dan berkunjung ke orang-orang saleh.' Ibuku bertanya dan aku terangkan apa adanya. Ibuku menangis dan berkata padaku, 'Aku memiliki delapan puluh dinar. Aku mewarisinya dari ayahku/ Empat puluh dinar untuk saudara laki-lakiku, dan empat puluh dinar lagi disimpan dalam jahitan baju di bawah ketiakku. Ibuku mengizinkanku pergi dan memintaku untuk berjanji agar berkata jujur kapan pun dan di mana pun. Ibuku keluar dengan menitip barang padaku, 'Wahai anakku, pergilah. Aku melepasmu bersamanya.' Inilah wajah terakhir yang tak pernah aku lihat lagi sampai hari kiamat."

"Aku pun pergi bersama rombongan kafilah kecil menuju Baghdad. Setelah kami melewati daerah Hamdan, kami tiba di suatu padang luas. Tiba-tiba muncul enam puluh orang Persia dan menghentikan rombongan. Namun tak seorang pun yang melirik padaku. Kemudian ada salah seorang yang berjalan menuju diriku dan bertanya, 'Wahai anak miskin, apa yang engkau miliki?' Aku jawab, 'Empat puluh dinar.' Dia bertanya lagi, 'Tunjukkan di mana?' Aku jawab, 'Tersimpan di balik bajuku di bawah ketiak.' Orang itu mengira aku mengejeknya sehingga dia pun pergi meninggalkanku. Lalu datang seorang lagi dan bertanya seperti pertanyaan orang pertama. Aku jawab seperti jawaban yang pertama pula. Namun dia segera meninggalkanku, dan mereka berdua berkumpul di hadapan ketuanya. Mereka menyampaikan apa yang mereka dengar dariku. Ketua perampok itu berkata, 'Bawa padaku!' Merekapun membawa semua hasil rampasan ke bukit yang tinggi dan membagi-baginya. Lalu ada yang bertanya padaku, 'Apa yang engkau miliki?' aku jawab, 'Empat puluh dinar.' la bertanya lagi, 'Tunjukkan di mana!' aku jawab, 'Tersimpan di balik bajuku di bawah ketiak.' Dia menyuruh orang untuk menyobek bajuku, dan benar saja, dia menemukan apa yang dicarinya. Orang itu bertanya, 'Mengapa kamu lakukan ini?' aku jawab, 'Ibuku memintaku untuk selalu berkata jujur. Dan aku tidak mau menyalahi janji.' Ketua perampok itu menangis sejadi- jadinya. la berkata, 'Engkau tidak mau menyalahi janji ibumu. Dan aku sampai detik ini telah banyak melakukan ini dan itu, dan menyalahi janji dan perintah Tuhanku/ Ketua perampok itu bertaubat di depanku. Dan semua anak buahnya berkata, 'Engkau adalah pimpinan kami di kala merampok, dan kini engkau juga pimpinan kami dalam bertaubat.' Mereka semua tanpa kecuali bertaubat di depanku, di tanganku. Mereka mengembalikan semua barang milik kafilah. Mereka adalah orang-orang pertama yang bertaubat di depanku, di tanganku."

Kelahiran dan Silsilah Syeikh Abdul Qadir al-Jailani

SYEKH Nuruddin, penulis kitab Balijat al-Asrar, mengatakan, Abui Ma'ali Ahmad dan Muhammad, ayahku, Ali bin Muhammad bin Abdur Razzaq bin Isa al-Hilali al-Baghdadi bercerita pada saya. Beliau berkata, Al-Qadhi Abu Saleh Nashr bin Abdur Razzaq bin Sayyid Syekh Abdul Qadir al-Jaylany bin Shalih Junki Dausat bin Abdullah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin al- Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu. menyampaikan kabar, "Aku berkata, Abdur Razzaq, putra Syekh Abdul Qadir, termasuk orang yang dapat dipercaya (tsiqah). Putra 'Abdur Razzaq, Abu Saleh Nashr, juga termasuk orang yang tsiqah dan sanad riwayatnya dapat diterima."

Kita memiliki banyak riwayat yang menceritakan keagungan peristiwa kelahiran Syekh Abdul Qadir. Ibnu An-Najjar berkata, Syekh Abdul Qadir lahir pada tahun 471 H. Sementara para sejarawan lainnya mengatakan, bahwa Syekh Abdul Qadir lahir pada tahun 470-an. Syekh Abdul Qadir sendiri sempat ditanya tentang masa kelahirannya, beliau menjawab, "Saya tidak tahu tahun berapa tepatnya saya dilahirkan. Akan tetapi saya datang ke Baghdad pada usia delapan belas tahun. Pada tahun itu An-Namimi meninggal dunia (seorang ulama madzhab Hanbali yang memiliki nama lengkap Rizqullah bin Abdul Wahhab)."

Syekh An-Namimi wafat pada bulan Jumadil Awwal tahun 488 H. Ibu Syekh Abdul Qadir bernama Fathimah, yang akrab dipanggil Ummu al-Jabbar, dan bergelar Ummu al-Khair. Al- Yunaiti berkata, "Ummul Khair adalah orang yang sangat baik dan salehah." Abu Sa'id Al-Hasyimi berkata, "Ummu al-Khair adalah pemuka orang-orang salehah. Ummu al- Khair adalah putri seorang Syekh yang zuhud, Abu Abdullah ash-Shauma'i, dan seorang putri yang baik dan salehah." As- Syanthufi menyampaikan sebuah riwayat dari jalur Syekh Al- Arif Muhammad ar-Rabbani al-Qazwini bahwa Ash-Shauma'i adalah salah satu guru paling agung yang pernah dijumpainya, doa-doanya cepat terkabulkan, salah satu Syekh dan pemuka agama dari kawasan Kailan. Jika ada seseorang yang membuat Syekh ash-Shauma'i ini marah besar, maka orang tersebut segera ditimpa musibah. Beliau adalah seorang yang memiliki banyak karamali.

Musa al-Yunaiti juga menuturkan jalur nasab di atas dengan sanad dari Syekh Mufarraj bin Syihab, as-Syanthufi menuturkan bahwa pada suatu hari ia berada di majlis taklim Syekh Abdul Q3dir radhiyallahu 'anhu. Pada saat itu beliau sedang berpidato, namun tiba-tiba berhenti bicara dan kelopak matanya mengucurkan air mata. Beliau berkata, "Ibuku telah meninggal dunia". Mufarraj bin Syihab pun berkata, "Kami pun segera mencatat peristiwa itu. Dan beberapa waktu kemudian ada berita yang sampai pada kami bahwa ibu Syekh Abdul Qadir memang meninggal pada hari itu. Sedangkan saudara laki-laki Syekh meninggal dunia pada usia remaja, ayahnya meninggal dunia ketika beliau masih kecil, sehingga hanya ibunya sendiri yang menanggung hidupnya. As-Syanthufi menyampaikan riwayat dengan sanad dari Nashr bin Abdur Razzaq, ia berkata, "Aku mendengar para pemuka agama 'ajami (non-Arab) menerima kabar dari ayah-ayah mereka, bahwa Syekh Abdul Qadir radhiyallahu 'anhu tidak menetek pada susu ibunya di bulan Ramadan." Dalam riwayat lain, terdapat tambahan informasi bahwa pada waktu itu Hilal sedang tertutup awan. Orang-orang bertanya pada ibunya Syekh Abdul Qadir, lalu sang ibu berkata bahwa pada hari itu Abdul Q3dir kecil tidak menetek pada susunya. Dari sanalah orang-orang tahu bahwa hari itu sudah memasuki bulan Ramadan. Asy- Syanthufi menambahkan, bahwa sejak saat itulah Abdul Q3dir dikenal sebagai bayi yang memiliki keutamaan, bayi yang tidak menetek pada bulan Ramadan. Beliau memiliki seorang bibi bernama Aisyah Salehah.

Sifat dan Akhlak Syekh Abdul Qadir radhiyallahu 'anhu
Syekh Al-Muwaffiq berkata, "Syekh Abdul QSdir bertubuh kurus, tinggi semampai, dada lebar, jenggot panjang, alis mata yang hitam, suaranya tegas." Ibrahim bin Sa'id ad-Dari berkata, "Abdul Qadir mengenakan pakaian seorang ulama besar, dan mengendarai keledai."

Tuesday, February 12, 2013

It is The One Teaching Its Child

A cow calf takes grass that belongs to Nashruddin and takes it away. After seeing this event Nashruddin is angry and hurriedly sees the mother of the calf, and then he beats it up with a stick. Seeing Nashruddin beating a cow up, a neighbor asks him, "Hei Nashruddin, why are you beating it up? Is it guilty?" Nashruddin replies, "Yes, it is guilty for it is the one teaching the calf to do that."

The Honorable Judge Has the Obligation to clean it

A dog defecated on the street right in the middle of two houses, so the owners of the houses have an argument to decide who should clean that mess. Because none of them wants to give up, so they go to a judge to resolve the dispute and Nashruddin happens to be there. After both persons tell the problem, the judge asks Nashruddin jokingly, "Hei Nashruddin, can you resolve this problem?" Nashruddin looks at the two persons and says firmly, "Because the excrement falls in the public road, so no one is obligated to clean that mess, in my opinion, the one obligated to clean it is the honorable judge."

An Argument Occurs Between Me and Him

A judge in the city where Nashruddin lives dies, and there is an argument between them. In the funeral, people ask Nashruddin to read the talqin (teaching the deceased to answer the questions from the angels of grave when they asked about God, Prophet, The holy book and many others), so Nashruddin says to them, "I don't want to do it, go find someone else, for he will not listen to my words. Don't you know that there has been an argument between me and him?"

Sunday, February 10, 2013

Saran dari Seorang Zahid

Musim panas   memasuki puncaknya. Panas  mentari  menyengat  kota madinah,  termasuk taman  dan Ladang yang   mengelilinginya . Dalam kondisi cuaca  yang  demikian, seorang lelaki  bernama Muhammad  ibn   Munkadar yang  mengaku sebagai   orang yang  zuhud dan   saleh tiba  di Madinah. Matanya  menangkap sesosok lelaki gemuk  yang  jelas   sekali baru   saja   selesai mengunjungi dan  mengawasi  ladangnya. Karena kegemukan serta lelah, ia dipapah oleh beberapa orang, tentunya sahabat dan  kerabatnya.

"Siapakah  orang yang  pada  cuaca  sebegini panas  masih menyibukkan diri dengan kehidupan  duniawi?" pikir Ibn Munkadar. Ia lalu  mendekati orang tersebut. Alangkah terkejutnya, ternyata ia adalah Muhammad ibn Ali ibn Al Husein (Imam Baqir)! Dalam  hati ia bertanya, "Mengapa manusia  mulia ini memperturutkan dunia?  Aku harus  menasihatinya agar  menjauhi sikap  semacam ini!"  Ia  pun  menghampiri dan memberi salam  kepada Imam.

Dengan  napas  tersengal dan   keringat   bercucuran,  Imam  Baqir menjawab salamnya. "Apakah   pantas, tokoh  terhormat seperti Anda   keluar rumah dan  menyibukkan diri dengan  kegiatan duniawi  dalam cuaca   panas seperti   ini?  Terutama karena tubuhmu yang gemuk,  tentunya membuat Anda  kepayahan," tanya orang itu .

Tanpa  menunggu jawaban, ia melanjutkan, "Siapakah  yang   memberitahukan  kematian?
Siapa yang  tahu  kapan  ia akan  mati? Ajal dapat saja menghampirimu saat ini juga, semoga  Allah melindungimu! Jikalau maut menjemputmu dalam kondisi seperti  ini, apa yang akan  menjadi takdirmu?  Tak pantas   bagimu   mengejar dunia ini,  bersusah payah   di  bawah terik   matahari dengan  tubuh gemuk  seperti ini! Tidak! Tidak! ini  tak  layak  bagimu!"

Imam  Baqir menarik  tangannya dari teman teman yang memapahnya, bersandar ke dinding, dan  menjawab, "Jika  maut   menjemputku saat ini,  dan aku  wafat, maka  aku   meninggalkan dunia ini selagi berusaha dan  beribadah kepada Allah.   Mengenai  pekerjaan  yang kulakukan , selayaknyalah ini merupakan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah. Engkau membayangkan  bahwa   ibadah   adalah sebatas  permintaan, doa, dan  permohonan. Aku harus  menghidupi dan   menjaga   keluargaku. Jika  aku  tak  bekerja atau  tak memikul  beban  derita, maka aku  harus menadahkan tangan kepadamu atau orang sepertimu untuk membantuku. Aku bekerja demi  memenuhi kebutuhan hidup  sehingga  aku tak  memiliki   kebutuhan  atas  orang lain.  Aku haruslah takut akan ajalku. jika dalam kondisi melakukan dosa, melanggar, dan tidak mematuhi  firman-firman-Nya. Bukan dalam keadaan tunduk terhadap perintah- perintah Allah Yang Mahakuasa, Yang telah  memerintahkanku agar tak  menjadi beban   bagi  orang lain,  melainkan dapat memenuhi kebutuhanku sehari-hari."

Si  zahid  akhirnya  berkata, "Kalau  begitu aku  telah   melakukan  kesalahan   besar!  Kupikir, aku bisa memberi bimbingan bagi orang lain, namun  sekarang aku sadar  bahwa aku keliru dan salah jalan, sesungguhnya aku sendirilah  yang membutuhkan nasihat

Ibn Sina dan Ibn Miskawaih

Ali ibn  Sina belumlah  genap berusia  20  tahun  ketika  mengenal sejumlah cabang  ilmu pengetahuan pada masanya. Ia berada di urutan teratas dalam penguasaan teologi, ilmu alam, matematika, dan ilmu-ilmu agama. Suatu saat, ia menghadiri kuliah Miskawaih, seorang sarjana masyhur pada zaman tersebut.

Dengan penuh keangkuhan, ia melemparkan sejenis kenari ke Ibn Miskawaih dan berkata, "Tentukanlah permukaannya."
Ibn Miskawaih pun  meletakkan  beberapa lembar kertas tentang akhlak dan pendidikan dari buku Taharah AI-A'raq ke hadapan  Ibn Sina dan berkata, "Pertama-tama, perbaikilah tingkah laku dan  tindakanmu  hingga   aku  menentukan permukaan  kenari ini. Lebih penting  bagimu untuk mengubah akhlak ketimbang niengetahui permukaan kenari itu."

Mendengar  'sentilan'  ini, Ibn Sina merasa malu. Ucapan tersebut memberi manfaat besar sepanjang hidupnya.

Al-Ghazali dan Perampok

Al-Ghazali, cendekiawan Muslim termasyhur, berasal dari Thus sebuah kota dekat  Mashhad. Pada masa itu, yakni sekitar abad ke-5  Hijriyah, Nishabur merupakan pusat pemerintahan sekaligus ibukota provinsi  dan  pusat  studi  akademis terpandang. Para siswa di provinsi  tersebut yang  berminat mendalami pengetahuan pergi  ke Nishabur. Demikian   juga  AI-Ghazali,  datang ke  Nishabur dan  Gurgan.

Dengan antusias ia mengikuti pendidikan lanjutannya dan  menimba pengetahuan dari banyak profesor dan cendekiawan selama bertahun-tahun. Agar  tak  lupa  dengan  hal-hal yang  telah  dipelajari, juga  agar  tak  kehilangan buah pengetahuan yang telah  dipetiknya sendiri, ia selalu  mencatat materi   kuliah  dan  membuat diktat.  Ia begitu menyayangi catatan-catatannya yang merupakan hasil usahanya sekian tahun, bagaimana kehidupannya.

Beberapa tahun kemudian, seusai  menyelesaikan  studinya, ia memutuskan untuk  kembali ke   daerah asalnya. Dia mengemas semua  catatannya  dan  membungkusnya dengan rapi,  lalu berangkat bersama rombongan kafilah  yang menuju  kampung halamannya. Tiba-tiba  kafilah dlhadang segerombolan  perampok.  Mereka menghadang rombongan dan  merampas semua barang yang  mereka temukan. Tibalah giliran Al- Ghazali dan  barang bawaannya .

Begitu mereka  menyentuh bungkusan  berisi catatannya.  AI-Ghazali mulai   meratap dan memohon, ''Ambillah  semua  barang yang  saya miliki, tapi  mohon tinggalkan bungkusan itu." Si  perampok berpikir, tentunya ada  barang berharga dan  bernilai  tinggi di dalam  bungkusan tersebut. Mereka pun membuka ikatannya, namun tak menemukan apa-apa kecuali setumpuk kertas berisi tulisan tangan.

"Apa  ini dan  apa  pula  kegunaannya?" tanya perampok.
"Apa pun benda ini, tak akan ada gunanya bagimu,  namun  sangat  berharga  bagiku,"  jawab AI-Ghazali.
Para perampok  bertanya lagi, "Tapi  apa  sebenarnya  kegunaan kertas-kertas ini bagimu?"
"lni  adalah  buah   kerja  kerasku   bertahuntahun  belajar. Jika kalian mengambilnya dariku, pengetahuanku akan  lenyap dan  tahun-tahun usahaku   meniti   jalan   keilmuan  akan   sia-sia," jawab  Ghazali.
"Hmm, jadi  pengetahuanmu terletak pada kertas-kertas ini, begitu?"  tanya  perampok.
"Ya," jawab  Ghazali.

"Pengetahuan yang hanya ada  dalam setumpukan kertas dan rawan dicuri, bukanlah pengetahuan. Pergi dan  pikirkanlah diri sendiri".

Komentar sederhana dan wajar  ini menyentakkan  jiwa Ghazali.  Ia sadar  bahwa  hingga hari itu, ia bagaikan  seekor  beo  yang  menuliskan  ke kertas segala  yang  ia dengar dari  para  pengajarnya.

Sejak saat itu ia bertekad untuk berusaha sekuatnya melatih  pikirannya melalui refleksi, perenungan mendalam, riset, dan mengumpulkan segala  informasi  bermanfaat dalam  benaknya.

"Nasihat terbaik yang mengarahkan kehidupan intelektualku ternyata kuperoleh dari seorang perampok jalanan," gumam  Ghazali.

Saturday, February 9, 2013

TAUBATNYA MALIK BIN DINAR

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia pernah ditanya tentang sebab-sebab dia bertaubat, maka dia berkata : "Aku adalah seorang polisi dan aku sedang asyik menikmati khamr, kemudia aku beli seorang budak perempuan dengan harga mahal, maka dia melahirkan seorang anak perempuan, aku pun menyayanginya. 

Ketika dia mulai bisa berjalan, maka cintaku bertambah padanya. Setiap kali aku meletakkan minuman keras dihadapanku anak itu datang padaku dan mengambilnya dan menuangkannya di bajuku, ketika umurnya menginjak dua tahun dia meninggal dunia, maka aku pun sangat sedih atas musibah ini.
Ketika malam dipertengahan bulan Sya'ban dan itu di malam Jum'at, aku meneguk khamr lalu tidur dan belum shalat isya'. Maka akau bermimpi seakan-akan qiyamat itu terjadi, dan terompet sangkakala ditiup, orang mati dibangkitkan, seluruh makhluk dikumpulkan dan aku berada bersama mereka, kemudian aku mendengar sesuatu yang bergerak dibelakangku.
Ketika aku menoleh ke arahnya kulihat ular yang sangat besar berwarna hitam kebiru-biruan membuka mulutnya menuju kearahku, maka aku lari tunggang langgang karena ketakutan,
Ditengah jalan kutemui seorang syaikh yang berpakaian putih dengan wangi yang semerbak, maka aku ucapkan salam atasnya, dia pun menjawabnya, maka aku berkata :
"Wahai syaikh ! Tolong lindungilah aku dari ular ini semoga Allah melindungimu". Maka syaikh itu menangis dan berkata padaku :
"Aku orang yang lemah dan ular itu lebih kuat dariku dan aku tak mampu mengatasinya, akan tetapi bergegaslah engkau mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu",
Maka aku bergegas lari dan memanjat sebuah tebing Neraka hingga sampai pada ujung tebing itu, aku lihat kobaran api Neraka yang sangat dahsyat, hampir saja aku terjatuh kedalamnya karena rasa takutku pada ular itu. Namun pada waktu itu seorang menjerit memanggilku,
"Kembalilah engkau karena engkau bukan penghuni Neraka itu!", aku pun tenang mendengarnya, maka turunlah aku dari tebing itu dan pulang. Sedang ular yang mengejarku itu juga kembali. Aku datangi syaikh dan aku katakan,
"Wahai syaikh, aku mohon kepadamu agar melindungiku dari ular itu namun engkau tak mampu berbuat apa-apa". Menangislah syaikh itu seraya berkata, "Aku seorang yang lemah tetapi pergilah ke gunung itu karena di sana terdapat banyak simpanan kaum muslimin, kalau engkau punya barang simpanan di sana maka barang itu akan menolongmu"
Aku melihat ke gunung yang bulat itu yang terbuat dari perak. Di sana ada setrika yang telah retak dan tirai-tirai yang tergantung yang setiap lubang cahaya mempunyai daun-daun pintu dari emas dan di setiap daun pintu itu mempunyai tirai sutera.
Ketika aku lihat gunung itu, aku langsung lari karena kutemui ular besar lagi. Maka tatkala ular itu mendekatiku, para malaikat berteriak : "Angkatlah tirai-tirai itu dan bukalah pintu-pintunya dan mendakilah kesana!" Mudah-mudahan dia punya barang titipan di sana yang dapat melindunginya dari musuhnya (ular).
Ketika tirai-tirai itu diangkat dan pintu-pintu telah dibuka, ada beberapa anak dengan wajah berseri mengawasiku dari atas. Ular itu semakin mendekat padaku, maka aku kebingungan, berteriaklah anak-anak itu :
"Celakalah kamu sekalian!, Cepatlah naik semuanya karena ular besar itu telah mendekatinya". Maka naiklah mereka dengan serentak, aku lihat anak perempuanku yang telah meninggal ikut mengawasiku bersama mereka. Ketika dia melihatku, dia menangis dan berkata :
"Ayahku, demi Allah!" Kemudian dia melompat bak anak panah menuju padaku, kemudian dia ulurkan tangan kirinya pada tangan kananku dan menariknya, kemudian dia ulurkan tangan kanannya ke ular itu, namun binatang tersebut lari.
Kemudian dia mendudukkanku dan dia duduk di pangkuanku, maka aku pegang tangan kanannya untuk menghelai jenggotku dan berkata : "Wahai ayahku! Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah". (QS. Al-Hadid : 16).
Maka aku menangis dan berkata : "Wahai anakku!, Kalian semua faham tentang Al-Qur'an", maka dia berkata :
"Wahai ayahku, kami lebih tahu tentang Al-Qur'an darimu", aku berkata : "Ceritakanlah padaku tentang ular yang ingin membunuhku", dia menjawab :
"Itulah pekerjaanmu yang buruk yang selama ini engkau kerjakan, maka itu akan memasukkanmu ke dalam api Neraka", akau berkata :
"Ceritakanlah tentang Syaikh yang berjalan di jalanku itu", dia menjawab : "Wahai ayahku, itulah amal shaleh yang sedikit hingga tak mampu menolongmu", aku berkata :
"Wahai anakku, apa yang kalian perbuat di gunung itu?", dia menjawab : "Kami adalah anak- anak orang muslimin yang di sini hingga terjadinya kiamat, kami menunggu kalian hingga datang pada kami kemudian kami memberi syafa'at pada kalian". (HR. Muslim dalam shahihnya No. 2635).
Berkata Malik : "Maka akupun takut dan aku tuangkan seluruh minuman keras itu dan kupecahkan seluruh botol-botol minuman kemudian aku bertaubat pada Allah, dan inilah cerita tentang taubatku pada Allah". 

Al-Baqarah : ayat 97

Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah : "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab)yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS. Al Baqarah: 97)

Imam Ahmad berkata (1/274): "Abu Ahmad (Muhammad bin Abdillah az Zubairi) telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Walid al 'Ijli telah menceritakan kepada kami, ia memiliki bentuk yang telah kami kenali di sisi Hasan, dari Bukair bin Syihab dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata : "Orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah saw, mereka mengatakan: "Wahai Abal Qasim !, kami akan menanyakan kepadamu tentang lima perkara, jika kamu memberitahu kami jawabannya, kami mengakui bahwasanya engkau seorang Nabi dan kami akan mengikutimu. Lalu beliau mengambil sumpah mereka sebagaimana Israil mengambil sumpah atas keturunannya ketika mereka mengatakan "Allah menjadi saksi atas apa yang kami ucapkan." Beliau berkata : "Berikan pertanyaannya!" Mereka mengatakan: "Beritahu kami tentang tanda ke Nabian". Beliau menjawab: "Kedua matanya tertidur namun hatinya tidak". Mereka berkata: "Beritahu kami bagaimana mengetahui janin itu akan terlahir wanita atau laki-laki?". Beliau menjawab : "Dua air itu bertemu, maka apabila sperma laki-laki lebih unggul dari sperma wanita, ia laki-laki. Dan apabila sperma wanita lebih ungul dari sperma laki-laki, ia perempuan". Mereka berkata: "Beritahu kami apa yang diharamkan Israil terhadap dirinya?". Beliau menjawab : "Dahulu ia mengadu tentang penyakit encoknya, ia tidak mendapatkan sesuatu (makanan) yang sesuai dengannya melainkan susu ini dan itu". Abdullah berkata: "Bapakku berkata: "sebagian mereka mengatakan : "Maksudnya adalah unta, ia lalu mengharamkan dagingnya". Mereka berkata : "Engkau benar. Beritahu kami apa suara petir itu ?" Beliau menjawab: "Malaikat dari malaikat-malaikat Allah IAzza wajalla yang ditugasi mengurus awan, dengan tangannya atau pada tangannya ada kilatan api menggiring awan dengannya menuju arah sesuai perintah Allah". Mereka mengatakan: "Lalu apa suara yang kami dengar itu?" Beliau menjawab: "Suaranya". Mereka berkata : "Engkau benar. Dan sekarang tinggal satu pertanyaan, pertanyaan inilah yang akan menjadikan kami membai'at engkau seandainya engkau memberikan jawabnya. Tidak ada seorang Nabi pun melainkan baginya ada malaikat yang mendatanginya membawa berita, beritahu kami siapa malaikat yang menemanimu?" Beliau menjawab : "Jibril as”. Mereka berkata : "Jibril yang datang menurunkan perintah perang dan membawa siksa adalah musuh kami. Seandainya engkau mengatakan Mikail yang turun membawa rahmat, tumbuh-tumbuhan serta hujan tentu kami akan mengikutimu".

Maka Allah 'Azza wajalla kemudian menurunkan ayat: "Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril . . . " hingga akhir ayat.
Al Haitsami berkata dalam Majma' az Zawaid (8/242): "Ahmad dan Thabrani meriwayatkannya dan para perawinya tsiqat (terpercaya). Abu Nu'aim juga meriwayatkannya dalam "al-Hilyah" (4/305). Dan hadits ini dalam sanadnya ada Bukair bin Syihab. Al- Hafizh berkata dalam "at Taqrib": "Ia maqbul, yaitu apabila ada muttabi', jika tidak maka ia lemah, sebagaimana telah diperingatkan dalam muqaddimah. Namun hadits ini mempunyai jalan-jalan lain kepada Ibnu Abbas sebagaimana terdapat dalam Tafsir Ibnu Jarir di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad".

Imam Ahmad ra berkata (1/278) : "Hasyim bin al Qasim telah menceritakan kepada kami, Abdul Hamid telah menceritakan kepada kami, Syahr telah menceritakan kepada kami, Ibnu Abbas berkata : Pada suatu hari sekelompok orang Yahudi mendatangi Nabi saw, mereka berkata:

"Wahai Abal Qasim!, beritahu kami tentang perkara-perkara, akan kami tanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepadamu, tidak ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi".

Beliau berkata: "Tanyakanlah kepadaku sesuka kalian, namun kalian harus menjadikan perjanjian dengan Allah sebagai jaminan buatku serta apa yang Ya'kub as telah mengambil janji terhadap keturunannya. Apabila aku memberitahu kalian sesuatu dan kalian mengenalinya, kalian harus mengikutiku masuk Islam".

Mereka menjawab: "Itu terserah kamu". Beliau berkata : "Tanyakanlah kepadaku apa yang kalian suka!". Mereka berkata :
"Beritahu kami empat perkara yang akan kami tanyakan kepadamu : "Beritahu kami makanan yang diharamkan Israil kepada dirinya sebelum diturunkan Taurat?. Beritahu kami bagaimana mani wanita dan mani laki-laki ?. Dan bagaimana terjadi bayi laki-laki dari sperma itu? Beritahu kami bagaimana keadaan Nabi yang ummi saat tidur dan beritahu kami siapakah malaikat yang menjadi temannya ?". Beliau berkata: "Kalian harus berjanji dan bersumpah kepada Allah, apakah sekiranya jika aku memberitahu kalian jawabannya, kalian akan mengikuti aku ?"

Ia (Ibnu Abbas) berkata : "Maka mereka memberikan janji dan sumpah kepada beliau seperti yang dikehendakinya."

Beliau berkata: "Aku mengambil sumpah atas kalian dengan dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Musa as, apakah kalian mengetahui kalau Israil (yaitu) Ya'qub sakit keras dan amat lama sakitnya, lalu ia bernadzar kepada Allah sekiranya Allah Ta'ala menyembuhkannya dari sakitnya ia akan mengharamkan minuman kesayangannya dan makanan kegemarannya. Adapun makanan kegemarannya adalah daging unta dan minuman yang disenanginya adalah air susu unta."

Mereka berkata : "Ya, benar."
Beliau berkata : "Ya Allah saksikanlah mereka. Aku mengambil sumpah atas kalian dengan nama Allah yang tidak ada ilah melainkan Dia yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah kalian mengetahui bahwasanya sperma laki-laki itu warnanya putih kental sedangkan mani wanita kuning encer, maka yang mana saja dari keduanya yang unggul, dengan izin Allah- itulah yang akan menjadi anak dan menyerupai. Apabila sperma laki-laki mengungguli sperma wanita, anak yang terlahir adalah laki-laki dengan izin Allah-. Dan apabila sperma wanita mengungguli sperma laki-laki, maka dengan izin Allah anak yang terlahir adalah perempuan." Mereka berkata : "Ya benar."

Beliau berkata : "Ya Allah saksikanlah mereka. Aku mengambil sumpah atas kalian dengan dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah kalian mengetahui bahwasanya Nabi yang ummi ini kedua matanya tertidur namun hatinya tidak?" Mereka berkata : "Ya benar."

Beliau berkata : "Ya Allah saksikanlah."
Mereka berkata : "Dan sekarang, beritahu kami siapa malaikat yang menemanimu, pertanyaan ini menjadi penentu apakah kami bergabung denganmu atau berpisah denganmu." Beliau berkata : "Temanku adalah malaikat Jibril as, dan tidak ada seorang Nabi pun yang diutus melainkan ia sebagai temannya."

Mereka berkata : "Di sini kita berpisah, jika sekiranya teman malaikatmu itu selain dia, kami pasti akan mengikutimu dan akan membenarkanmu."
Beliau berkata : "Lalu apa gerangan yang menghalangi kalian untuk membenarkannya ?"
Mereka berkata: "Jibril itu musuh kami."
Ia (Ibnu Abbas) berkata: "Maka ketika itu Allah menurunkan firman-Nya:

"Katakanlah : "Darangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah." (QS. Al Baqarah : 97)
sampai firman-Nya :

“....kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah)." (QS. Al Baqarah : 101)

Dan ketika itu mereka kembali dengan membawa kemarahan di atas kemarahan.

Hadits ini pada sanadnya ada Syahr bin Hausyab dan ia diperdebatkan. Yang rajih adalah dha'if disebabkan hafalannya yang lemah. Namun haditsnya layak dalam jajaran syawahid dan mutaba'aat.

Dan hadits ini dikeluarkan oleh Thayalisi (2/11) serta Ibnu Jarir (1/431) dan Ibnu Sa'ad (1/1/116) dari jalan Syahr bin Hausyab dari Ibnu Abbas sepertinya. Dan Ibnu Jarir telah menceritakan hasil ijma' bahwasanya ayat ini turun sebagai jawaban kepada Yahudi dari Bani Israil, ketika mereka menganggap Jibril sebagai musuh mereka dan Mikail teman mereka. Selesai.

Ijma' tersebut menguatkan dua jalan ini yang ada kelemahan pada keduanya. Adapun yang pertama: "Karena Bukair bin Syihab sebagaimana dalam Tarikh al Kabir karya Bukhari (2/114 dan 115) telah diselisihi. Maka Sufyan telah meriwayatkannya dari Hubaib dari Sa'id -dari Ibnu Abbas-. Yang kedua : Karena adanya komentar pada Syahr bin Hausyab.

Dikutip dari Kitab Shahih Asbabun Nuzul – Syaik Muqbil bin Hadi al-Wadi’i
**********

Al-Baqarah : ayat 89

Allah Ta’ala berfirman :

"Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allahlah atas orang-orang yang ingkar itu". (QS. Al Baqarah : 89).

Ibnu Ishaq berkata : "Dan Ashim bin Umar bin Qatadah telah menceritakan kepadaku dari orang-orang di kaumnya, mereka mengatakan : "Sesungguhnya di antara penyebab yang mendorong kami masuk Islam di samping adanya rahmat dari Allah Ta'ala serta hidayah-Nya bagi kami, adalah pada saat kami mendengar dari orang-orang Yahudi, sedangkan kami waktu itu masih musyrik sebagai penyembah berhala. Adapun mereka Ahli Kitab memiliki pengetahuan yang tidak kami punya. Dan di antara kami dan mereka saat itu masih ada permusuhan. Apabila kami mendapatkan sesuatu yang mereka benci, mereka mengatakan : "Sesungguhnya sekarang telah dekat waktunya seorang Nabi yang akan diutus. Kami bersamanya akan memerangi kalian seperti memerangi kaum Aad dan Iram".Begitu seringnya kami mendengar hal itu dari mereka. Lalu ketika Allah Ta'ala mengutus Rasulnya kami memenuhi panggilannya saat beliau menyeru kami kepada Allah, dan kami telah mengetahui apa yang sering mereka ancamkan kepada kami. Karena itu kami mendahului mereka mendekatinya, kami lalu mengimaninya sedangkan mereka mengingkarinya. Maka ditujukkan kepada kami dan merekalah, ayat- ayat dari surat al Baqarah ini diturunkan:

"Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Aliahlah atas orang-orang yang ingkar itu". (QS. Al Baqarah : 89).

Selesai (Dari "Sirah Ibnu Hisyam" (1/213). Haditsnya hasan karena Ibnu Ishaq apabila ia mensharihkan (menyebut secara jelas) periwayatan, maka haditsnya hasan sebagaimana disebutkan oleh al Hafizh adz Dzahabi dalam "al Mizan".

Dikutip dari Kitab Shahih Asbabun Nuzul – Syaik Muqbil bin Hadi al-Wadi’i
**********

Al-Baqarah : ayat 79

Allah Ta'ala berfirman :

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya : "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Baqarah: 79)

Imam Bukhari RA mengatakan dalam kitabnya "Khalqu af'ali al 'ibad" hal. 54 : "Yahya telah menceritakan kepada kami, Waki' telah menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Abdurrahman bin Alqamah dari Ibnu Abbas :

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri". Ia berkata: "Ayat ini turun ditujukan bagi Ahli Kitab".

Hadits ini para perawinya shahih, kecuali Abdurrahman bin Alqamah. Nasa'i dan Ibnu Hibban serta al 'Ijli telah mentsiqahkannya. Dan Ibnu Syahin berkata: "Ibnu Mahdi mengatakan: "Ia termasuk al Atsbat dan tsiqat (orang yang terpercaya)". Selesai (Tahdzib attahdzib).

Dikutip dari Kitab Shahih Asbabun Nuzul – Syaik Muqbil bin Hadi al-Wadi’i
**********

Nabi Tidak Ridha Umatnya di Neraka 

Ketika surga dan neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya dan mereka telah menikmati ganjaran atau merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama, Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Mahatahu, “Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?”



Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam. 
Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselib di neraka Jahanam.
Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, “Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau.”



Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.
Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT. 

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau. “Ya Allah, izinkan aku memberi syafa’at kepada mereka itu walau mereka punya hanya punya iman sebesar zarrah.”

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu.
Penduduk Jahanam pun berucap, “Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?” 

Rasulullah SAW menjawab, “Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya.”

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu?

Malu Sebagian dari Iman


Rasulullah Saw. bersabda, "Malu itu sebagian dari iman. Wahai para hamba Allah Swt., alangkah buruknya kalian dan alangkah beraninya kalian terhadap Tuhan kalian. Malu terhadap manusia dan bersikap buruk terhadap Al-Khaliq 'Azza ivaJalla merupakan omong kosong. Hakikat malu adalah malu kepada- Nya, baik ketika sedang bersama orang banyak maupun sedang sendirian. Malu terhadap makhluk adalah cabangnya, bukan yang pokok. Seorang mukmin akan senantiasa malu kepada- Nya, sedangkan orang munafik merasa malu kepada makhluk. Semoga Allah Swt. tidak memberkahi kalian wahai para munafik, alangkah banyaknya jumlah kalian. Semua kesibukan kalian hanyalah membangun citra diri yang ada di antara kalian dengan para makhluk. Jika kalian memerangiku maka kalian telah memerangi Allah Swt. dan rasul-Nya. Janganlah melelahkan diri, karena Dia selalu memenangkan urusan-Nya.

Saudara-saudara Nabi Yusuf As. merasa telah berusaha membunuhnya, namun mereka tidak mampu melakukannya. Bagaimana mereka mampu membunuhnya, sementara ia adalah raja di sisi Allah Swt., menjadi salah seorang nabi-Nya, dan termasuk orang yang shiddiq. Ilmu-Nya sudah menetapkan bahwa kemaslahatan semua makhluk berada di tangan-Nya. Begitu juga dengan orang-orang Yahudi, mereka bertujuan membunuh Nabi Isa bin Maryam, karena dengki kepadanya tatkala menyaksikan berbagai tanda dan mukjizat yang ada pada dirinya. Kemudian, Dia mewahyukan kepadanya untuk keluar meninggalkan Mesir. Pada waktu itu, ia berumur tiga belas tahun. Ia membawa para kerabatnya untuk melarikan diri. Urusan yang dipikulnya semakin kuat dan namanya semakin tersebar di beberapa negeri. Lalu, orang-orang Yahudi berkumpul untuk menghancurkannya, namun mereka tidak mampu.

Begitulah wahai orang-orang munafik pada zaman ini, kalian ingin menghancurkanku, namun kalian tidak memiliki karamah. Tangan kalian terlalu pendek untuk mendapatkannya. Kalian berusaha membebani diri sendiri untuk melakukan berbagai ketaatan, serta meninggalkan segala maksiat dan kemungkaran, sehingga sikap berlebih-lebihan menjadi tabiat kalian. Pahamilah perkataan Tuhan kalian, serta amalkanlah dan ikhlaslah dalam menjalankannya. Tuhan kami berbicara dengan perkataan yang bisa didengar dan dipahami. Nabi Musa As. mendengarkan perkataan-Nya di dunia, begitu juga dengan Rasulullah Saw. yang dapat mendengarkan firman-Nya. Dan, di akhirat kelak, orang-orang mukmin juga akan mendengarkan firma-Nya.
Tuhan kami bisa dilihat. Kami akan melihat-Nya kelak pada hari kiamat,
sebagaimana kami melihat matahari dan bulan pada hari ini. Dan, kami tidak ragu sedikit pun tentang kejadian itu pada esok hari.

Allah Swt. memiliki para hamba yang menjual surga beserta semua isinya untuk bisa melihat-Nya. Tatkala Dia mengetahui kebenaran niat mereka, bahwasanya mereka menjual surga untuk satu pandangan saja, maka Dia mengekalkan bagi mereka berbagai pandangan, kedekatan kepada-Nya, serta mengganti kenikmatan surga dengan dekat kepada-Nya.

Wahai anakku, kamu selalu diselimuti oleh nafsu, tabiat, dan hawa. Kamu duduk bersama para wanita yang bukan mahrammu, kemudian kamu berkata, "Aku tidak peduli dengan mereka." Kamu telah berdusta, karena syariat tidak sesuai dengan dirimu, begitu juga dengan logika. Kamu menambahkan kayu bakar ke dalam neraka. Ingatlah, keimanan dan makrifat mengenal Allah Swt. akan menghasilkan kekuatan dan kedekatan dengan-Nya. Jadilah seorang "dokter" bagi para makhluk dan jadilah wakil dari Al-Haq 'Azza wa Jalla.

Celakalah dirimu, bagaimana kamu bisa menangkap ular dan membolak-baliknya, sementara kamu tidak mengenal ilmu pawang dan tidak pula memakan penawarnya. Kamu buta, lantas bagaimana kamu dapat mengobati mata orang lain? Kamu bisu, maka bagaimana kamu mampu mengajarkan orang lain? Kamu bodoh, lalu bagaimana kamu akan menegakkan agama?! Kamu bukanlah seorang penjaga, maka bagaimana kamu dapat mengantarkan orang lain menuju pintu raja?! Tidak ada yang perlu diucapkan hingga datang hari kiamat dan kamu bisa melihat berbagai keajaiban. Ikhlaslah dalam semua amalanmu. Jika tidak, maka janganlah melelahkan diri sendiri. Bila semua ikatan diputus, serta semua pintu dan arah ditutup, maka terbukalah bagimu arah menuju Al-Haq 'Azza wa Jalla dan kedekatan dengan-Nya, jalan menuju-Nya dipersiapkan untukmu. Setelah itu, sesuatu yang paling mulia, tinggi, dan baik akan menghampirimu.

Dunia ini akan fana, hilang, dan lenyap. Dunia adalah negeri segala bahaya, ujian, serta kegelisahan. Tidak ada seorang pun yang tenang kehidupannya di dunia ini, apalagi jika ia adalah orang yang bijaksana. Disebutkan dalam sebuah pepatah, "Jiwa orang yang bijaksana tidak akan tenang di dunia, begitu juga orang yang mengingat kematian." Barang siapa yang binatang buas berada di hadapannya membuka mulutnya dan mendekatinya, maka bagaimana ia bisa tetap di tempatnya dan kedua matanya bisa dipejamkan.

Wahai orang-orang yang lalai, kuburan telah membuka "mulutnya". "Binatang buas kematian" telah membuka mulutnya. Di antara ribuan orang, hanya ada satu orang yang berada dalam keadaan sadar dan tidak lalai. Orang yang sadar itu zuhud dalam segala hal seraya berkata, "Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui segala sesuatu yang aku inginkan, 'piring- piring' ini telah aku berikan kepada para makhluk-Mu. Aku menginginkan sesuap saja dari 'piring' kedekatan-Mu. Aku menginginkan sesuatu yang khusus dari-Mu." Wahai orang yang mempersekutukan-Nya dengan berbagai sarana, jika kamu mencicipi makanan dengan tawakkal, maka kamu tidak akan menyekutukan-Nya dengan sarana. Kamu akan duduk di pintu-Nya seraya bertawakkal kepada-Nya dan mempercayai- Nya.

Celakalah dirimu, apakah kamu tidak malu kepada-Nya? kamu meninggalkan usaha dan meminta-minta kepada orang lain. Usaha merupakan awal dan tawakkal menjadi akhirnya. Aku tidak melihat yang awal dan akhir pada dirimu. Aku mengatakan kebenaran kepadamu dan aku tidak malu. Dengarlah dan terimalah, janganlah menentangku, karena menentangku sama saja dengan menentang Al-Haq 'Azza waJalla.

Jagalah shalat secara keseluruhan, karena shalat merupakan hubungan antara kamu dengan Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda:

"Jika seorang mukmin masuk dalam shalatnya dan menghadirkan hatinya di hadapan Tuhannya, maka kilauan cahaya dipancangkan di sekelilingnya, para malaikat berdiri di sekelilingnya, orang-orang yang baik turun baginya dari langit, dan Al-Haq 'Azza waJalla bangga dengannya”
Di antara orang-orang yang shalat, ada orang yang hatinya keluar menuju Al-Haq 'Azza wa Jalla\ sebagaimana keluarnya burung dari sarangnya. Ia laksana anak kecil yang lepas dari tangan ibunya. Ia diangkat dari pangkuan, yaitu dari pengetahuan dan ketenangan yang dijauhkan darinya. Sehingga, seandainya kepalanya dipenggal dan kulitnya dicabik, ia tidak akan merasakannya. Disebutkan dalam sebuah kisah tentang seorang pemimpin yang juga termasuk sahabat Rasulullah Saw., yaitu Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, anak laki-laki saudara perempuan Aisyah, bahwasanya pada suatu ketika, kaki Urwah terluka dan bernanah. Maka, dikatakan kepadanya, "Kaki ini harus diamputasi. Jika tidak, maka seluruh badanmu akan rusak." Lalu, Urwah berkata kepada dokter, "Amputasilah kakiku ketika aku sedang shalat." Kemudian, dokter itu mengamputasi dan membalut kaki Urwah ketika ia berada dalam posisi sujud. Dan, ia pun tidak merasakan sakit sama sekali”

Kalian itu omong-kosong jika dikaitkan dengan orang- orang terdahulu. Kalian hanya bisa berbicara tanpa berbuat, memiliki bentuk tanpa arti, dan ditunggu tanpa kabar. Celakalah dirimu, janganlah kamu tertipu dengan kata-kata orang lain. Kamu harus mengenal keadaan baik dan buruk yang akan kamu jalani. Allah Swt. berfirman:

"Bahkan, manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri." (QS. al-Qiyaamah [75]: 14).

Alangkah baiknya kamu di tengah-tengah orang awam dan orang khusus. Sebagian syekh berkata kepada para sahabatnya, "Jika kalian dizhalimi maka janganlah menzhalimi. Bila dipuji maka janganlah senang. Apabila dicela maka janganlah bersedih. Jika didustai maka janganlah murka. Dan, bila dikhianati maka janganlah mengkhianati." Alangkah indahnya kata-kata ini. Syekh tersebut memerintahkan sahabatnya untuk menyembelih hawa nafsu. Sebenarnya, perkataan itu diambil dari sabda Rasulullah Saw. sebagaimana berikut:

"Malaikat Jibril As. menghampiriku dan berkata, 'Al-Haq 'Azza wa Jalla berfirman kepadamu, 'Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah silaturahmi terhadap orang yang memutuskanmu, berilah sesuatu kepada orang yang tidak memberimu, serta pikirkanlah nikmat-nikmat Allah S w t., ciptaan-Nya, dan semua perbuatan-Nya terhadap para hamba- Nya.”

Jika kamu zuhud di dunia dan kezuhudanmu itu benar-benar nyata, maka dunia akan mendatangimu dalam tidurmu dalam bentuk seorang perempuan yang tunduk kepadamu seraya berkata, "Aku adalah pelayanmu dan kamu memiliki banyak tabungan yang tersimpan padaku, maka ambillah dariku." Lalu, kamu menghitung semua bagianmu, baik kecil maupun besar. Bila makrifatmu kuat maka dunia akan menghampirimu, sedangkan kamu sudah dalam keadaan sadar. Awal keadaan para nabi adalah ilham dan keadaan mereka yang kedua ialah tidur. Bila keadaan mereka kuat, maka malaikat mendatangi mereka dengan bentuk nyata seraya berkata, ' Al-Haq 'Azza wa Jalla mengatakan ini dan itu kepada kalian."

Jadilah orangyang berakal, tinggalkanlah kepemimpinanmu, marilah duduk di sini layaknya anggota jamaah yang lain, agar perkataanku bisa tumbuh di dalam hatimu. Jika kamu memiliki akal maka kamu akan duduk bersahabat denganku, kamu akan merasa cukup dengan satu suapan yang aku berikan setiap hari dan akan sabar menghadapi kasarnya perkataanku. Setiap orang yang memiliki keimanan, maka ia akan kokoh dan tumbuh. Dan, barang siapa yang tidak memiliki keimanan, maka ia akan lari dariku. Celakalah dirimu wahai orang yang mengklaim melihat keadaan selain Allah Swt., bagaimana kami akan membenarkanmu, sementara kamu sendiri tidak memperhatikan keadaanmu?! Semua yang ada di dalam dirimu adalah kedustaan, maka bertaubatlah.

Ya Allah, karuniakanlah kami kebenaran dalam segala keadaan. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Friday, February 8, 2013

Mengendalikan Nafsu

Wahai anakku, berikanlah nafsumu untuk dunia, hatimu untuk akhirat, dan relung jiwamu untuk Allah Swt. Janganlah merasa tenang terhadap dunia, karena dunia adalah ular yang dihiasi dan menyeru kepada para manusia dengan perhiasannya, kemudian menghancurkan mereka. Berpalinglah dari dunia dengan sebenar-benarnya. Ikhlaslah dalam menaati-Nya, membantu orang-orang yang shalih, berpaling dari segala syahwat, dan mengesakan-Nya, hingga di dalam hatimu tidak tersisa dunia sekecil atom sekalipun.

Tauhid itu dapat melenyapkan segalanya. Semua obat ada dalam mengesakan Al-Haq 'Azza wa Jalla dan berpaling dari mencintai dunia. Tidak ada kebaikan di dalam dirimu, sampai kamu mengenal nafsumu sendiri, tidak memberikan bagian buruknya dan memenuhi haknya yang sebenarnya. Jika sudah demikian, kamu akan merasa tenang dengan hatimu, dan hatimu akan merasa tenang dengan relung jiwamu, serta relung jiwamu akan merasa tenang dengan-Nya. Janganlah mengangkat "tongkat mujahadah" nafsumu, janganlah tertipu dengan rayuan-rayuannya, dan janganlah pula tertipu dengan nina bobok-nya. Janganlah tertipu dengan tidurnya binatang buas yang ada di hadapanmu, karena binatang itu menampakkan dirinya seolah-olah tidur, padahal ia sedang menunggu mangsanya untuk dicengkeram. Hati-hatilah dengannya ketika ia sedang tidur; sebagaimana kamu berhati-hati dengannya ketika ia dalam keadaan sadar.

Berhati-hatilah dengan nafsumu. Janganlah meletakkan senjata pada pundak hatimu. Nafsu akan menampakkan ketenangan, kerendahan, taioadhudan muwafaqah dalam kebaikan jika ia kenyang dengan hal-hal yang bertentangan dengannya. Hati-hatilah dengan hal-hal yang terjadi setelah itu. Banyaklah bersedih dan minimalisirlah kegembiraan. Itulah yang dialami oleh para nabi, rasul, dan orang-orang shalih terdahulu. Rasulullah Saw. merupakan sosok yang lama bersedih, selalu berpikir, tidak tertawa (kecuali senyuman), dan tidak bersantai ria.

Orang yang berakal tidak akan bahagia dengan dunia, tidak juga dengan anak-anak, keluarga, harta,
makanan, pakaian, kendaraan, dan pernikahan. Semua itu merupakan omong-kosong. Bukalah mata nafsumu dan katakan kepadanya, "Lihatlah kepada Tuhanku, bagaimana Dia melihat kepadamu. Lihatlah, bagaimana hancurnya orang-orang kaya dan para raja sebelum kamu."

Perhatikanlah pertarungan-pertarungan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kamu, yaitu orang- orang yang memiliki dan menikmati dunia ini. Sekarang, mereka ditawan di dalam "penjara azab". Istana mereka kosong, rumah mereka hancur, harta mereka sirna, semua syahwat lenyap, dan yang tersisa hanyalah kelelahan. Janganlah merasa bahagia ketika kamu berada pada waktu bahagia. Janganlah takjub dengan kecantikan wajah istrimu, ketampanan anakmu, keindahan rumahmu, serta banyaknya hartamu. Janganlah bahagia dengan sesuatu yang tidak membuat bahagia orang- orang terdahulu, yakni para nabi, rasul, dan orang-orang yang shalih. Allah Swt. berfirman:

"...Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang bahagia." (QS. aI-Qashash [28]: 76).

Maksud "orang-orang yang bahagia" dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang bahagia dengan dunia dan penduduknya, serta bahagia dengan selain-Nya.

Hendaklah tabiat suatu kaum dan pemikiran yang mereka inginkan berkaitan dengan perkara-perkara akhirat, bukan dengan syahwat, kenikmatan, dan kehinaan. Wahai orang yang tidak ada artinya, kamu tidak memiliki kebaikan yang bisa diharapkan darimu. Wahai orang yang lalai, di akhirat kelak, ada azab yang pedih bagi orang yang tidak menaati Allah Swt. Jika hati seorang hamba bisa istiqamah serta mampu meninggalkan segala sesuatu dan menempatkannya di belakang hatinya, maka mudah saja baginya menghancurkan dunia untuk kekuasaan akhirat, mudah saja baginya dihadapkan ke neraka dan binatang buas, mudah saja baginya digabungkan dengan binatang-binatang ganas dan dijauhkan dari makhluk, mudah saja baginya ditempatkan pada hausnya padang pasir, begitu juga dengan kelaparannya dan kematiannya seraya berkata, "Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk orang-orang yang bingung, tunjukkanlah diriku jalan menuju kepada-Mu."

Jadikanlah keresahanmu satu keresahan saja. Ini tidak akan terwujud, kecuali setelah bersikap zuhud dalam hal-hal yang diharamkan, kemudian zuhud dalam hal-hal yang mubah, kemudian zuhud dalam hal-hal yang halal secara mutlak. Berusahalah agar kamu berada pada sore dan pagi hari dalam keadaan tidak ada makhluk sebiji atom pun di dalam hatimu. Aku melihatmu dipenuhi dengan syahwat dan kenikmatan, makhluk dan dunia, serta bergantung dengan berbagai perantara, maka kenapa pula kamu berbicara tentang keadaan orang-orang yang shalihdan mengakuinya sebagai keadaanmu?! Kamu memberi tahu aku tentang keadaan selainmu, dan memberikan infaq kepadaku dari kantong selainmu. Kamu mengkaji berbagai buku, mengeluarkan darinya kata-kata para penulisnya, kemudian berbicara dengannya seolah-olah menunjukkan kepada para pendengar bahwa tema pembicaraan tersebut berasal dari pikiran, kekuatan, dan ucapan hatimu.

Celakalah dirimu. Lakukanlah apa yang orang-orang shalih ucapkan, kemudian bicarakanlah, sehingga perkataanmu itu merupakan kokokan (suara ayam) amalanmu, dan buah pohon amalanmu. Masalah ini tidak akan pernah tuntas hanya dengan melihat dan menghafal kata-kata mereka, namun dengan mengamalkan sesuatu yang mereka katakan, beradab baik, berbaik sangka, dan menjalaninya dalam segala keadaan. Orang yang awam diberikan pahala sesuai dengan kadar langkahnya dengan kedua kakinya, sedangkan orang khusus (khas) diberikan pahala sesuai dengan kadar cita-citanya. Barang siapa yang cita- citanya satu cita-cita saja, maka Al-Haq 'Azza wa Jalla baginya juga Esa. Bila ia berpaling dengan hatinya kepada selain-Nya, maka Dia juga berpaling darinya. Disebutkan di dalam al- Quran:

"Sesungguhnya, pelindungku adalah yang telah menurunkan al-Kitab (al-Qur'an), dan Dia melindungi orang-orang yang shalih." (QS. al-A'raaf [7]: 196).

Jika hati hamba bersambung dengan Tuhannya, maka Dia akan menjadi tabibnya. Tidak ada tabib selain-Nya, dan tidak ada pula kedekatan selain-Nya. Nabi Daud As. berkata, "Wahai Tuhanku, aku telah mendatangi seluruh tabib dari kalangan hamba-Mu, akan tetapi semuanya menunjukkanku kepada- Mu. Wahai Dzat yang memberi petunjuk orang-orang yang bingung, tunjukkanlah diriku." Barang siapa yang dicintai- Nya, maka hatinya akan dipenuhi kerinduan yang universal, keberpalingan yang universal, dan fana yang universal.

Hakikat kasyf (terbukanya hijab) tidak akan sempurna, kecuali setelah keluar dari hijab. Jika kamu ingin sampai kepada Allah Swt., maka tinggalkanlah dunia dan akhirat, serta segala sesuatu yang ada di bawah 'Arsy sampai ke bumi. Semua makhluk adalah hijab 'Arsy, selain Rasulullah Saw., karena beliau adalah pintu. Allah Swt. berfirman:

"...Dan, apa yang diberikan oleh rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan, apa yang dilarangnya kepada kalian, maka tinggalkanlah...." (QS. al-Hasyr [59]: 7).

Wahai anakku, kapan hatimu akan menjadi paham dan relung jiwamu akan jernih, sedangkan kamu masih suka mempersekutukan Allah Swt. dengan makhluk? Bagaimana kamu akan menang, sementara hatimu kosong dari ketakwaan? Bagaimana hatimu akan jernih, jika hatimu kosong dari tauhid? Tauhid adalah cahaya, sedangkan mempersekutukan-Nya dengan makhluk merupakan kezhaliman. Kamu dihijab dari-Nya dengan makhluk dan dihijab dari Musabbib (Allah Swt.) dengan segala sebab. Kamu hanyalah pengakuan kosong. Apa yang kamu berikan tidak diterima dengan sekadar klaim, tanpa bukti. Perkara ini hanya akan menjadi baik dengan dua perkara. Pertama, mujahadah dan mukabadah, memikul perkara yang paling sulit dan melelahkan, yaitu sesuatu yang biasanya dikenal di kalangan orang-orang yang shalih. Kedua, mauhibah (pemberian) tanpa kelelahan, dan ini jarang dimiliki oleh para makhluk.

Wahai anakku, kamu harus berpegang dengan dirimu sendiri ketika imanmu lemah. Kamu tidak bisa berpegang dengan keluargamu, tetanggamu, penduduk negerimu, dan wilayahmu. Jika imanmu kuat, maka tampakkanlah kepada keluarga dan anakmu, kemudian kepada sekalian makhluk.

Janganlah menampakkan diri kepada mereka, kecuali kamu bertameng dengan ketakwaan, meletakkan keimanan di kepala hatimu, di tanganmu ada pedang tauhid, di jubahmu ada anak-anak panah pengabulan doa, mengendarai kuda taufiq, mempelajari, menangkis, lari, memukul dan mengusir, kemudian memikulnya untuk menghampiri para musuh Al-Khaliq 'Azza waJalla. Ketika itu, kemenangan dan pertolongan akan menghampirimu dari enam sisi: kanan, kiri, atas, bawah, depan, dan belakang, untuk menyelamatkan sekalian makhluk dari tangan-tangan setan dan membawa mereka menuju pintu-Nya.

Barang siapa yang berhasil sampai ke maqam itu, maka hijab dibukakan dari mata hatinya. Bagaimana ia akan berpaling dari enam arah, sementara pandangan-Nya telah membakar hijab dan tidak menghijabnya lagi, kemudian mengangkat kepala hatinya, sehingga ia bisa melihat 'Arsy dan semua langit. Jika ia mengetuk maka ia akan melihat lapisan-lapisan bumi beserta para penghuninya. Bila kamu sudah sampai pada maqam ini maka tinggalkanlah semua makhluk untuk menuju pintu-Nya. Jika kamu menyeru sekalian makhluk, sedangkan kamu tidak berada di pintu- Nya, maka doamu untuk kebaikan mereka akan menjadi bumerang keburukan untuk dirimu; sebagaimana kamu bergerak, maka seperti itu kamu akan turun. Setiap kali kamu menginginkan ketinggian, kamu akan jatuh. Kamu tidak memiliki berita sedikit pun mengenai orang-orang yang shalih. Coba kamu perhatikan baik-baik; kamu adalah lisan tanpa akal, zhahir tanpa batin, kebersamaan tanpa khalwat, dan berjalan tanpa tujuan, serta pedangmu terbuat dari kayu dan anak panahmu dari aluminium. Kamu adalah orang pengecut yang tidak memiliki keberanian sedikit pun. Anak panah paling kecil sekalipun bisa membunuhmu. Sekuntum bunga juga dapat menyebabkan kiamatmu (kematianmu).

Ya Allah, kuatkanlah agama kami, keimanan kami, dan badan kami dengan kedekatan-Mu. Berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta jagalah kami dari azab neraka.

(Dikutip dari Kitab : Jala’ Al-Khathir – Syekh Abdul Qadir Al-Jailani)

Si Gila Sa’Dun

Abu `Athaa Sa'id yang terkenal dengan julukan Si Gila Sa'dun adalah termasuk salah seorang 'Uqalaa-ul Majaaniin, orang-orang gila yang berpikiran waras.

Suatu hari Malik bin Dinar, seorang alim sufi, menjumpainya sedang duduk termenung di perkuburan Basrah. ''Apa kabar, Sa'dun?'' tegur Malik, ''bagaimana keadaanmu?''

''O, Malik,'' jawab Sa'dun, ''bagaimana pula keadaan orang yang sehari-hari, pagi dan petang, menanti keberangkatan untuk pergi jauh menuju Tuhannya yang Maha Adil tanpa persiapan dan bekal yang cukup?'' Dan Sa'dun pun menangis sejadi-jadinya.

''Sa'dun, apa yang membuatmu menangis begitu?'' tanya Malik.

''Aku bukan menangisi dunia,'' jawab Sa'dun, ''bukan pula karena takut mati. Tapi aku menangisi hari-hari umurku yang berlalu begitu saja tanpa kuisi amal-amal yang baik.  Aku menangis mengingat jauh dan gawatnya perjalanan, sementara bekalku cuma sedikit sekali. Aku pun tak tahu akan kemanakah aku kemudian: ke sorgakah atau ke neraka?''



Orang-orang menganggap Sa'dun gila. Dan ini bisa dimengerti, karena gila memang mempunyai banyak pengertian. Gila bisa berarti 'sakit ingatan' (kurang beres ingatannya); tapi juga bisa berarti 'tidak biasa, tidak sebagaimana mestinya, berbuat yang bukan-bukan' (tidak masuk akal). Tanpa perlu menanyakan kepada ahli jiwa apakah Sa'dun sakit ingatan, rupanya orang hanya melihat perilaku Sa'dun yang tidak biasa, tidak sebagaimana mestinya, dan suka berbuat yang bukan-bukan, maka mereka pun menganggapnya gila.

Apabila yang menjadi ukuran kegilaan adalah ketidakbiasaan, maka di dunia di mana masyarakatnya semua konyol, orang yang tidak konyol pun bisa disebut gila. Di dalam masyarakat di mana ketidakjujuran sudah menjadi biasa, maka orang jujur pun bisa dianggap gila. Di masyarakat di mana takut merupakan ciri umumnya, maka seorang yang berani pun terbilang gila. Demikian seterusnya.

Seperti juga kisah Sa'dun di atas membuktikan 'kegilaan'nya. Bagaimana tidak? Umumnya orang tidak memikirkan, atau tidak terlalu memikirkan -- apalagi sampai menangis -- 'masa depan' yang sesungguhnya, yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan hakiki yang abadi: di akhirat. Kalaupun memikirkan, tidak sampai sejauh memikirkan 'masa depan' yang dekat: di dunia ini. Ini bisa dilihat dari persiapan mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari: perbandingan yang jomplang antara penyiapan bekal perjalanan dekat dan jauh mereka. Begitulah, ketika umumnya orang hanya mengartikan firman Allah ''Waltandhur nafsun maa qaddamat lighadd!'' sebagai pesan untuk memikirkan masa depan di dunia, Sa'dun justru menghayati firman itu sebagai pesan untuk memikirkan masa depan yang sebenarnya: kehidupan akhirat.

Apabila Sa'dun masih hidup sekarang ini, boleh jadi kita pun akan menyebutnya Si Gila atau malahan menganggapnya sudah keterlaluan gilanya. Wallahu A'lam

Bersembunyi

Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin melihatnya. Karena ia sedang sendirian saja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah.

Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Hingga akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang bersembunyi. "Aha!" kata si pencuri, "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini."

Mimpi religius


Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan seorang pastur dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka habis dan tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling relijius. Maka tidurlah mereka.

Pagi harinya, saat bangun, pastur bercerita: "Aku bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang istimewa sekali."

Yogi menukas, "Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling damai."

Kemudian Nasrudin berkata, "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun, dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar, makanlah roti itu.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga."


Mungkinkah Manusia Menipu Tuhan

Abu Nawas sebenarnya adalah seorang ulama yang alim. Tak begitu mengherankan jika Abu Nawas mempunyai murid yang tidak sedikit.

Diantara sekian banyak muridnya, ada satu orang yang hampir selalu menanyakan mengapa Abu Nawas mengatakan begini dan begitu. Suatu ketika ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Orang pertama mulai bertanya,

"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?"
"Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil." jawab Abu Nawas.

"Mengapa?" kata orang pertama.

"Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan." kata Abu Nawas.

Orang pertama puas karena ia memang yakin begitu.

Orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?"

"Orang yang tidak mengerjakan keduanya." jawab Abu Nawas."Mengapa?" kata orang kedua.

"Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan." kata Abu Nawas. Orang kedua langsung bisa mencerna jawaban Abu Nawas.

Orang ketiga juga bertanya dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang Lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang menger jakan dosa-dosa kecil?"

"Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar." jawab Abu Nawas.

"Mengapa?" kata orang ketiga.

"Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu." jawab Abu Nawas. Orang ketiga menerima alasan Abu Nawas. Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.

Karena belum mengerti seorang murid Abu Nawas bertanya.

"Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?"

"Manusia dibagi tiga tingkatan. Tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati."

"Apakah tingkatan mata itu?" tanya murid Abu Nawas. "Anak kecil yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata." jawab Abu Nawas mengandaikan.

"Apakah tingkatan otak itu?" tanya murid Abu Nawas. "Orang pandai yang melihat bintang di langit. la mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan." jawab Abu Nawas.

"Lalu apakah tingkatan hati itu?" tanya murid Abu Nawas.

"Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. la tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang me ngerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan KeMaha-Besaran Allah."

Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa per tanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. la bertanya lagi.

"Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?"

"Mungkin." jawab Abu Nawas.

"Bagaimana caranya?" tanya murid Abu Nawas ingin tahu.

"Dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa." kata Abu Nawas

"Ajarkanlah doa itu padaku wahai guru." pinta mu rid Abu Nawas

"Doa itu adalah : llahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa'alan naril jahiimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzanbil 'adhimi.

Sedangkan arti doa itu adalah : Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surga, tetapi aku tidak akan kuat terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah tobatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.

Wallahua'lam bishshowwab

Junaid dan Pengemis

Ketika Junaid sedang berkhutbah, salah seorang pendengarnya bangkit dan mulai mengemis. “orang ini cukup sehat”, Junaid berkata dalam hati. “ia dapat mencari nafkah, tetapi mengapa ia mengemis dan menghinakan dirinya seperti ini?”

Malam itu Junaid bermimpi, di depannya tersaji makanan yang tertutup tudung.

“Makanlah!”, sebuah suara memerintah Junaid. Ketika Junaid mengangkat tudung itu, terlihat olehnya si pengemis terkapar mati di atas piring.

“aku tidak mau memakan daging manusia”, jawab Junaid menolak.

“ tetapi bukanlah yang itu telah engkau lakukan kemarin ketika berada di dalam masjid?”

Junaid segera menyadari bahwa ia bersalah karena telah melakukan fitnah di dalam hatinya dan oleh karena itu ia dihukum.

“Aku tersentak dalam keadaan takut”, Junaid mengisahkan. “aku segera bersuci dan melakukan shalat sunnat dua rakaat.” Setelah itu aku pergi keluar mencari si pengemis.. Kudapatkan ia sedang berada di tepi sungai Tignis. Ia sedang memunguti sisa-sisa makanan sayuran yang dicuci di situ dan memakannya. Si pengemis mengangkat kepala dan terlihat olehnya aku yang sedang menghampirinya. Maka bertanyalah ia kepadaku: “Junaid sudahkah engkau bertaubat karena berprasangka buruk terhadapku?” sudah, jawabku. “jika demikian pergilah dari sini. Dia-lah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya. Dan jagalah pikiranmu”