Sunday, January 6, 2013

Tuwit, Tuwit … Jo Jajan … Ojo Jajan … Ojo Jajan …


Seumur hidupnya, Mr. Rigen baru sekali naik kereta api. Pracimantoro, meski sekarang boleh berbangga karena memiliki trayek bus yang menghubungkan dengan Jakarta dan Merak, tidak pernah tersentuh oleh kereta api. Mungkin tidak pernah ditemukan alasan yang meyakinkan untuk menyambung kereta api yang pernah sampai di Wonogiri hingga sejauh Pracimantoro. Daerahnya terlalu berbukit dan ekonominya yang menyangga pun tidak terlalu kuat untuk menghadirkan lokomotif dengan asap yang mengepul itu.
Maka, bagi Mr. Rigen suara lokomotif yang berbunyi “tuwit, tuwit, jo jajan, .. ojo jajan, .. ojo jajan” itu, hanya dikenalnya lewat cerita gurunya dan dari mereka yang beruntung pernah mendapat kesempatan untuk menaikinya. Buat Mr. Rigen, kereta api merupakan obsesi tersendiri. Kapan hari-H untuk naik kereta api itu datang? Waktu hari-H itu akhirnya datang, yaitu pada waktu saya menyambat-nya untuk bantu-bantu kerja pada hari mantu anak saya.
Mr. Rigen ternyata agak kecewa dengan penampilan kereta api itu. Bukannya tidak senang merasakan kecepatan larinya. Itu merupakan kenikmatan tersendiri. Katanya ada dua hal yang mengurangi kegembiraannya.
Jebul sepur itu kok untel-untelan seperti ikan peda di kuali, to Pak.”
Lha, iya. Selamanya begitu, Mister.”
Mosok, to Pak. Menurut guru saya di SD Praci dulu sepur itu selalu digambarkan lego, omber, tempatnya. Duduknya enak, nglenyer.Lha ini, wehh, … panas, sumpek, rebutan tempat.”
“Itu duuluuuuu sekali. Pasti itu pengalaman gurumu naik sepur dari Wonogiri ke Sangkrah. Sekarang lain.”
“Iya, itu Pak. Malah saya papasan dengan sepur yang lebih untel-untelan lagi. Orang-orang pada duduk di atap, nempel di endhas sepurHiihhh … kok ya nggak takut jatuh, lho.”
Lha, menurut kamu kenapa mereka jadi senekat itu, Gen?”
“Wah, ya nggak tahu, Pak. Mungkin terlalu sumuk dan sumpek di dalam. Mungkin ya cuma mau gagah-gagahan mawon. Heran saya,sepur sekarang kok jadi terus penuh itu bagaimana, Pak?”
Lha, orangnya yang mau naik sepur mangkin banyak, tapi sepur-nya tidak terlalu banyak tambahnya. Keruan saja sepur penuh terus, Gen.”
Lha, pemerintah kok mboten nambah sepur, to Pak?”
Yo, tanya sana sama pemerintah.”
Saya jadi terkejut sendiri mendengar jawaban saya itu. Kedengarannya kok ada nada anyelAnyel karena  apa? Anyel karena tidak mungkin menjelaskan lebih tuntas. Atau anyel karena saya memang anyel sama pemerintah.
“Wah, Bapak. Mosok saya tanya sama pemerintah. Wong cilik itu mau tanya apa sama pemerintah. Jalannya saja nggak tahu. Dan kalau tahu, bagaimana kata orang-orang nanti? Brani-braninya bocah Praci itu nanya. Weeh, diguyu ayam saya nanti, Pak.”
Saya tidak member komentar apa-apa. Dalam hati saya bertekad untuk memberi penataran kilat seluruh rumah, termasuk Ms. Nansiyem dan Beni Prakosa tentang hak mereka sebagai warga negara. Semacam P4 mini begitu. Tetapi apa ya akan efektif penataran seperti itu …
“Dan sepur sekarang itu, lho Pak …”
“Kenapa lagi dengan sepur sekarang ?”
“Buntinya tidak tuwit … tuwit … jo jajan, ojo jajan … seperti dongeng Pak Guru Hadiprayitno dulu. Sekarang bunyinya ngauuung, jenggeleng, … terus amblas banter banget. Wah, agak takut saya, Pak. Kalau tabrakan ….”
Berita tabrakan kereta api di Bintaro datang bersamaan dengan kedatangan saya kembali ke Yogya. Beni Prakosa baru saja selesai memasang mainan kereta api pada rel bersama bapaknya. Mukanya bersinar melihat lokomotif itu berjalan di atas rel.
Matul nuwun, Pak Ageng, oleh-olehnya Bangkok.”
Dan, ayah anak pun pada asyik ber-tuwit, tuwit, … jo jajan … ojo jajan. Tiba-tiba di koran-koran yang baru datang, saya baca musibah Bintaro itu.
“Gen, Gen, … ini lho ada tabrakan, ngeri banget.”
“Tabrakan apa ?”
“Tabrakan sepur di Bintaro, Jakarta. Edann. Sepur lawan sepur. Ancur-ancuran ini. Wiihhh, korbannya sampai ratusan.”
Wadhuhlha kok bisa, lho Pak. Sepur tabrakan sama sepur. Jangan-jangan ada orang Praci yang ikut mati itu nanti.”
“Wah, kecil kemungkinannya. Ini sepur dari dan ke Rangkasbitung. Tabrakannya di Bintaro, pinggiran kota Jakarta. Apa kira-kira ada orang Praci yang kerja di Rangkas ?”
Mr. Rigen diam terus membaca Koran yang saya berikan. Anaknya masih terus main-main dengan sepur-nya yang bertuliskan The Blue TrainJo jajan … ojo jajan … ojo jajan … Koran itu kemudian dia letakkan. Untuk sesaat mukanya menatap entah ke mana.
“Wah, orang-orang yang menempel di endhas sepur, di atap dan di bordes itu, Pak. Mestinya mati semua, ya Pak ?”
“Ya, kemungkinannya besar sekali mereka mati semua, Gen. Kecuali yang bisa loncat.”
“Wahh, heemm. Pasti yang pating trempel mati pendeng itu wong cilik semua. Ya anak sekolahnya, ya bakul-nya, ya karyawannya.”
“Belum tentu, Gen.”
Yakk. Pasti itu, Pak. Pasti! Mereka itu duduk nempel sak enake mereka karena nggak beli karcis. Nggak mampu beli karcis. Wah, kok ya wong cilik lagi yang mesti jadi korban, Pak.”
Saya tidak menjawab. Mungkin karena memang tidak bisa menjawab. Atau karena takut menjawab. Muka Mr. Rigen tidak kosong lagi waktu dia mengatakan kalimatnya yang terakhir. Mungkin itu yang membuat saya takut. Sementara itu Beni Prakosa masih terus memutar sepur-nya mengelilingi rel yang dibentuk bundaran. Jo jajan … ojo jajan … ojo jajan …
Matul nuwun, Pak Ageng. Oleh-olehnya bagus. Baguuussss sekali. Matul nuwun, matul nuwun. Jo jajan … ojo jajan … ojo jajan ….”
Yogyakarta, 27 Oktober 1987
*) gambar dari : jasmeerah.wordpress.com