Wednesday, January 30, 2013

Tidak Semua Orang Berhari Raya

Haruskah Ramadhan kita tunjukkan dengan kesukacitaan yang berlebihan?
"Anil udah beli baju?" tanya Luqman kepada Anil, anak Bang Azwar. Anil sedang main ular tangga bareng Basri, adik iparnya.
"Belonan," jawab Anil.
"Kok belonan beli?"
"Bapak nggak punya duit. Udah lama nggak kerja," Anil menjawab dengan datar sambil terus asyik main ular tangga.
Basri nyeletuk polos, "Basri mah udah beli, tiga. Dibeliin ama Emak."

Luqman tiba-tiba merasa bersalah kenapa dia bertanya seperti itu kepada Anil.
lebaran memang tidak perlu berbaju baru, lebaran memang tidak perlu punya makanan ini dan itu. Tapi tradisi kita, di tanah air ini, sudah telanjur membudaya bahwa lebaran itu harus dihiasi dengan keceriaan, dengan sukacita. Apalagi buat anak kecil. Bahkan, sebagian orangtua ada yang berkata, "Biarin dah kita-kita nggak lebaran, yang penting anak pada lebaran." Maksudnya, biar orangtua tidak beli pakaian baru asalkan anak berpakaian baru.

Tidak ada yang salah. Semangat menyambut hari kemenanganlah yang membuat kita begitu gembira menyongsong hari raya. Tidak salah juga kita menyenangkan hati anak-anak, tapi semangat kegembiraan ini kalau bisa dibarengi juga dengan semangat berbagi. Bahwa kesukacitaan itu tidak boleh milik kita semata, bahwa kegembiraan itu tidak boleh hanya kita yang merasakan. Mari, ajak mata dan hati untuk melihat ke sekeliling kita karena Allah minta kita sudi berbagi, sebelum kehidupan disapa kematian.

Tuhanlah Pemilik semua rezeki dan Dia sudi berbagi dengan kita. Masak kita tak mau berbagi, sedang sejatinya tak ada yang kita miliki?