Tuesday, January 22, 2013

Tentang Pemogokan


Prof. DR. Lemahamba Ph.D., M.A, M.Sc., M.Ed., Drs.,  SMA, SMP, SO,  Number  2 Village School from Ngrambe, satu sore minggu lalu nongol lagi ke rumah.  Dan, of course, dengan  BMW beliau yang  kali  ini  berwarna   hijau  mentah  metallic Kena sorotan sinar matahari sore mak-keclap-keclap BMW itu semangkin berwibawa  penampilannya. Soalnya  keclap-nya sinar matahari sore, karena tidak begitu tajem, tidak membikin mobil itu jadi membikin silau tapi justru memberi  sinar mistik. Kalau kita lihat  bayangannya di beceknya  bekas air  hujan di jalan, kayaknya  mobil itu menyemburat sinar  pelangi. Edaan!

Memang prof. idola yang satu ini kesinungan  cahyaning dewa. Warna pelangi yang mengikuti  kendaraan, titihan, ya cuma disediakan  buat dewa-dewa  beserta  para putra-putrinya dewa kahyangan. Kadangkala  neel & nicht der goden, yang bisa tutup mulut rahasia kedewataan boleh juga c;:lapat privilege  semprotan  pelangi  sedikit (mak-criit). Akan  para intel kahyangan apakah   juga  mendapat  semprotan  pelangi  dari  kadewatan wah, itu saya tidak tahu. Yang jelas Kiai Garuda Yeksa versi jip terpal anno  1972, titihan  saya, sampe ini detik  belum mendapat  kanugrahan  dewa-dewa   kahyangan  Jonggring  Nggajah Mada,  untuk  diganti.  Pistonnya masih  menembakkan sinar abu, seperti  luapan  Gunung Kelud. Kalau kena sinar matahari pagi, siang  atau  sore  pancet, sama  kualitasnya. Mbluwek seperti  celana   jins anak-anak  muda.  Eh,  etung-etung  jaman posmo. Jip dinas juga mesti posmo juga, dong ... Begitulah.

"Just imagine,  Geng.  Just imagine.  Coba   to  coba,  Gen. Coba!" Itulah cara prof. idola itu melemparkan uluk-salam buat kami berdua, saya dan Mister Rigen.
"Lho, Prof:Apa  yang mesti di-imajin. Rawuh-rawuh kok ...."
"Jin, jin, jin. Terus dawuh coba to coba. Apa Prof. mau menyuruh saya coba celana jin to, Prof."
"Ooh, nggak majikan nggak krocuk sama saja begonya. Celana  jin gundulmu   itu, Gen.  Puasa juga belum  mau  hadiah. Puasa dulu penuh, baru omong tentang celana jin."

Sesudah kami  menyilakan  beliau duduk  dan Mister Rigen mengeluarkan uba-rampe-nya orang  bermasyarakat, yakni pisang goreng dan klethik-klethik  dan wedang teh nas-gi-tel, panas-legi-kentel ala Yogya, tiba-tiba  bagaikan  pensiunan Baladewa Sriwedari  beliau angkat bicara.
"Coba to coba ...."
"Lho, kok coba lagi ....
"Huuuuss, mundur  kowe! Bedinde mau ikut saja."
Mister Rigen  jadi mengkeret  kena semprotan Prabu  Baladewa. Malah saya  juga ikutan  mengkeret  sebentar.  Tapi dasar Mister Rigen. Dia memang mundur (dan tidak teratur) lantas duduk ndepis, ngglesot di ambang pintu ke dapur.
"Just imagine, Geng. Sala! Sala, kotamu  waktu kecil!" "Lho, ada apa dengan Sala,Prof."
"Kamu itu baca koran apa tidak, to?"
"Ya baca, Prof. Jelek-jelek  saya langganan   Republika  dan Herald Tribune, lho."
"Aahh. Di Herald Tribune pasti nggak ada kabar itu. Koran Amerika   kanan,   anti  Clinton,  kolumnisnya   Yahudi-Yahudi. Bau-bau  zionis. Tapi kalau Republika ha, itu mesti muat.  Pasti muat."

"Lho, lha iya. Yang dimuat itu, lho, Prof. Kabar apa?"
"Dua belas ribu buruh  batik mogok. Dua belas ribu! Hopo tumon! Kebanyakan perempuan lagi. Kebanyakan  gadis-gadis desa. Pada pake kain kebaya, slendang, payung .. . ."
"Jalannya   sempleh-sempleh seperti  macan  lapar.  Kainnya Rujak   Sente    sama   Tirto   Tejo.  Jarikee,   jarik  Tirto   Tejo. Gelungee ...."
"Huuuuss,  bedhes  'ki. Tadi sudah  baik-baik  ndepis di pintu, tahu-tahu kok sudah di sini lagi."
Dan memang benar. Tanpa kedengaran Mister Rigen sudah duduk bersila di belakang kursi saya.
"Lho, siapa tahu, Prof., mau-jog tehnya lagi." "Jog gundulmu. Minum saja belum sempat." "Pisangnya. Cripingnya."
"Huuuuss. Nanti saya ambil sendiri."

Agar dialog itu jangan berat sebelah, saya ikut nimbrung bertanya.
"Enggak, Prof. Apa waktu itu Prof. hadir di tengah-tengah para  pemogok itu? Kok bolehnya  mendetil  cara  Prof. meng gambarkan gadis-gadis jtu."
"Woo, untuk  kesekian  kali kamu  mengecewakan saya. Katanya Sastra.  Penulis. Kok tidak bisa punya imajinasi. Apalagi menghargai. Wulu cumbu-mu si bedhes Rigen kok lebih imajinatif senajan kurang ajar nimbrung-nimbrung orang  lagi ngomong."
Mister Rigen saya lihat menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya, muhun  maaf to, Prof. Saya itu mendengar cerita  Prof. itu rak sesungguhnya trenyuh to, Prof."
"Sebabnya?"                                         ·
"Dari sekian  banyak  yang mogok  itu  pasti  apesnya  10% dari daerah  saya."
''Tahumu?. Apa kamu sudah ikut diterjunkan survei apa?" "Apa itu surpe-surpe, Prof? Susur dipepe apa?"
"Kamu itu kepingin  jadi profesor  plesetan  apa?  Survei itu meneliti di masyarakat."
"Lha, mboten  usah surpe-surpe di sana  rak bisa dikira-kira to, Prof."
"Caranya?''
"Pracimantara itu gudangnya wong lapar, wong daerahnya minus, nggak  ada kerjaan. Tiap lowongan  kerja pasti dicoba.
Aplagi kalo kerjaan ini di Sala. Pasti dicoba."

Kami manggut-manggut membayangkan orang-orang sederhana yang pada protes  mogok itu. Uang Iembur yang jadi hak mereka tidak  dibayarkan   kepada   mereka  selama  tiga tahun, katanya.  Mereka juga menuntut kenaikan  upah sedikit. Orang-orang sederhana yang  pikirannya  sederhana, hidupnya sederhana,  gaya hidupnya lebih sederhana  lagi, rupanya dalam kebingungan dan keputusasaan  menghadapi  tantangan hidup sehari-hari sekarang jadi nekat. Mogok.
"Kalo menurut  kamu, Gen, P(erkumpulan) B(abu) B(abu) dan P(erkumpulan) J(ongos) J(ongos) di sini bisa juga mogok apa tidak?"
"Elho, bisa saja, Prof., bisa saja. Tergantung sikon."
"Weh, pake sikon segala. Maksudmu?"
"Lha, kalo  bapak-bapak   dan  ibu-ibu  bos itu  kecukupan memberi nafkah kita, merengkuh kita seperti sakbae nya menungsa ya mosok kita tega mogok to, Prof, Paak."
-                                                                          .                                                                            -
 
"Lha, kalo sama  majikan yang kadang-kadang  dilaporkan sadis itu, Gen?"
"Ooh, yang suka nylomoti api, ngancing di kamar, kasih makan cuma sama garem sama air itu, to? Lha, silakan saja berani di kawasan sini, kalo kita tidak bergerak. Bukan cuma mogok, Prof., Paak. Total, Prof., total."
"Total itu apa  to, Gen. Kok kedengarannya  serem. Istilah PKI itu ya?"
"Ayak Prof.! PKI! Kok Bapak terus latah sama orang-orang kuasa itu. Sithik-sithik  PKI, sithik-sithik  PKI. Total itu ya seperti ajaran Bapak. Menyeluruh."
Saya diam saja mendengar dialog dirjen saya dengan Prof Lemahamba. Si Rigen yang kira-kira dua belas fahun lalu datang sama saya turun  dari padepokan  Pracimantara,  kemudian  kawin-mawin, sekarang  bisa bicara tentang hak  total.
Total. Saya lihat sinar  matamya Jadi lain. Lebih nggentileng.
Menyinarkan sinar yang lebih mantep.  Membanggakan  ning ya mungkin lebih memrindingkan. Prof. Lemahamba  saya lihat siap-siap mau pulang.

"Geng, kamu 'kan belum coba BMW-ku yang hijau metallic ini, kan? Yuk, besok  kita ke Sala, yuk. Nonton  pemogokan. Mungkin lebih rame ...."                    -
"Wah, saya seharian konsultasi sama mahasiswa itu, Prof." "Yo,  wis. Some other  time-lah. Enak, lho. Lebih nglenyer.
Kalau kamu bisa tak traktir gule tengkleng. Nyuuss. Habis lihat pemogokan makan tengkleng."
"Sori, Prof. Mboten saged nderek."
BMW hijau muda metallic itu meluncur dengan  nyuusnya. Tiba-tiba Beni dan Tolo-Tolo masuk merengek-rengek diikuti ibunya, Ms. Nansiyem.
"Ini, lho, Pak. Anak-anakmu  mogok makan. Katanya lawuhnya tidak enak, tidak ada dagingnya."
Dengan sebat saya rogoh kantong saya. selembar uang sepuluh ribu melayang ke tangan Mister Rigen.
"Sana beli sate ayam Cak Fa'i sana. Seratus tusuk!"
Dua bedhes itu pun langsung duduk di jip butut saya. "Asyik, asyik, asyik."
Memang asyik kalau tidak ada pemogokan ....

8 Februari 1994
By : Umar Kayam