Saturday, January 12, 2013

Tafsir Surat Al Fatihan


SURAT AL-FATIHAH 
(Pembukaan) 
Makkiyyah, 7 ayat. 

Surat  ini  dinamakan  Al-Fatihah  yakni  Fatihatul  Kitab  hanya secara tulisan; dengan surat ini bacaan dalam salat dimulai. Surat ini disebut  pula  Ummul  Kitab  menurut  jumhur  ulama  seperti  yang ditu-turkan oleh Anas, Al-Hasan, dan Ibnu Sirin— karena mereka tidak suka menyebutnya dengan istilah Fatihatul Kitab. 
Al-Hasan  dan  Ibnu  Sirin  mengatakan,  "Sesungguhnya  Ummul Kitab itu adalah Lauh Mahfiiz." Al-Hasan mengatakan bahwa ayat-ayat yang muhkam adalah Ummul Kitab. Karena itu, keduanya pun tidak suka menyebut surat Al-Fatihah dengan istilah Ummul Qur'an. 
Di  dalam  sebuah  hadis  sahih  pada  Imam  Turmuzi  dan  dinilai sahih olehnya, disebutkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. pemah bersabda: 

Alhamdu  lillahi  rabbil  'alamina  adalah  Ummul  Qur'an,  Ummul Kitab, Sab'ul masani, dan Al-Qur'anul 'azim. 

Surat  Al-Fatihah  dinamakan  pula  Alhamdu,  juga  disebut  Assalat karena berdasarkan sabda Nabi Saw. dari Tuhannya yang mengatakan: 

Aku  bagikan  salat  antara  Aku  dan  hamba-Ku  menjadi  dua bagian. Apabila seorang hamba mengucapkan, "Alhamdu lillahi rabbil  'alamina"  (Segala  puji  bagi  Allah,  Tuhan  semesta  alam), maka Allah berfirman, "Hamba-Ku telah memuji-Ku." (Hadis)

Surat  Al-Fatihah  disebut  pula  Salat,  karena  ia  merupakan  syarat  di dalam salat. Surat Al-Fatihah dinamakan pula Syifa, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ad-Darimi melalui Abu Sa'id secara marfu, yaitu: 

Fatihatul kitab (surat Al-Fatihah) merupakan obat penawar bagi segala jenis racun. 

Surat  Al-Fatihah  dikenal  pula  dengan  nama  Ruqyah,  seperti  yang disebutkan  di  dalam  hadis  Abu  Sa'id  yang  sahih,  yaitu  di  saat  dia membacakannya untuk mengobati seorang lelaki sehat (yang tersengat ka-lajengking).  Sesudah  itu  Rasulullah  Saw.  bersabda  kepada  Abu Sa'id (Al-Khudri): 

Siapakah yang memberi tahu kamu bahwa surat Al-Fatihah itu adalah ruqyah

Asy-Sya-bi meriwayatkan sebuah asar melalui Ibnu Abbas, bahwa dia menamakannya (Al-Fatihah) Asasul Qur'an (fondasi Al-Qur'an). Ibnu Abbas mengatakan bahwa fondasi surat ini terletak pada bismillahir rahmanir rahim. 

Sufyan  ibnu  Uyaynah  menamakannya  Al-Waqiyah,  sedangkan Yahya ibnu Kasir menamakannya Al-Kafiyah, karena surat Al-Fatihah sudah  mencukupi  tanpa  selainnya,  tetapi  surat  selainnya  tidak  dapat mencukupi  bila  tanpa  surat  Al-Fatihah,  seperti  yang  disebutkan  di dalam salah satu hadis berpredikat mursal di bawah ini: 

Ummul Qur'an merupakan pengganti dari yang lainnya, sedang-kan selainnya tidak dapat dijadikan sebagai penggantinya. 

Surat ini dinamakan pula surat As-Salah dan Al-Kanz. Kedua nama ini disebutkan oleh Az-Zamakhsyari di dalam kitab Kasysyaf. 

Menurut Ibnu Abbas, Qatadah, dan Abul Aliyah, surat Al-Fa-tihah adalah Makkiyyah. Menurut pendapat l«in Madaniyyah, seperti yang dikatakan oleh Abu Hurairah, Mujahid, Ata ibnu Yasar, dan Az-Zuhri. 
Pendapat  lainnya  lagi  mengatakan,  surat  Al-Fatihah  diturunkan sebanyak dua kali, pertama di Mekah, dan kedua di Madinah. Tetapi pendapat  pertama  lebih  dekat  kepada  kebenaran,  karena  firman-Nya menyebutkan: 

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang. (Al-Hijr: 87) 

Abu  Lais  As-Samarqandi  meriwayatkan  bahwa  separo  dari  surat Al-Fatihah  diturunkan  di  Mekah,  sedangkan  separo  yang  lain diturunkan di Madinah. Akan tetapi, pendapat ini sangat aneh, dinukil oleh Al-Qurtubi darinya. 

Surat  Al-Fatihah  terdiri  atas  tujuh  ayat  tanpa  ada  perselisihan, tetapi  Amr  ibnu  Ubaid  mengatakannya  delapan  ayat,  dan  Husain Al-Ju-fi  mengatakannya  enam  ayat;  kedua  pendapat  ini  syaz (menyendiri). 

Mereka  berselisih  pendapat  mengenai  basmalah-nya,  apakah merupakan ayat tersendiri sebagai permulaan Al-Fatihah seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama qurra Kufah dan segolongan orang dari kalangan  para  sahabat  dan  para  tabi'in  serta  ulama  Khalaf,  ataukah merupakan sebagian dari ayat atau tidak terhitung sama sekali sebagai permulaan  Al-Fatihah,  seperti  yang  dikatakan  oleh  ulama  penduduk Madinah  dari  kalangan  ahli  qurra  dan  ahli  fiqihnya.  Kesimpulan pendapat  mereka  terbagi  menjadi  tiga  pendapat,  seperti  yang  akan disebutkan nanti pada tempatnya insya Allah, dan hanya kepada-Nya kita percayakan. 

Para  ulama  mengatakan  bahwa  jumlah  kalimat  dalam  surat Al-Fatihah  semuanya  ada 25  kalimat,  sedangkan  hurufnya  sebanyak 113. 

Imam Bukhari dalam permulaan kitab Tafsir mengatakan bahwa surat  ini  dinamakan  Ummul  Kitab  karena  penulisan  dalam mus-hafdi-mulai dengannya dan permulaan bacaan dalam salat dimulai pula  dengannya.  Menurut  pendapat  lain,  sesungguhnya  surat  ini dinamakan  Ummul  Kitab  karena  semua  makna  yang  terkandung  di dalam Al-Qur'an merujuk kepada apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu Jarir mengatakan, orang Arab menamakan setiap himpunan suatu perkara atau  bagian  terdepan  dari  suatu  perkara  jika  mempunyai  kelanjutan yang mengikutinya sebagaimana imam dalam suatu masjid besar dengan istilah "umm". Untuk itu, mereka menyebut kulit yang melapisi otak  dengan  istilah  "ummur  ra-si".  Mereka  menamakan  panji  atau bendera suatu pasukan yang terhimpun di bawahnya dengan sebutan "umm"  pula.  Hal  ini  dapat  dibuktikan  melalui  perkataan  seorang penyair bernama Zur Rummah, yaitu: 

Pada  ujung  tombak  itu  terdapat  panji  kami  yang  merupakan lambang bagi kami dalam mengerjakan segala urusan, kami tidak akan mengkhianatinya sama sekali. 

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Mekah dinamakan Ummul Qura karena ia merupakan  kota  paling  depan,  mendahului  semua  kota  lainnya,  dan menghimpun  kesemuanya.  Pendapat  lain  mengatakan  bahwa  Mekah dinamakan  Ummul  Qura  karena  bumi  ini  dibulatkan  mulai  darinya. Adapun  surat  ini,  dinamakan  "Al-Fatihah"  karena  bacaan  Al-Qur'an dimulai dengannya, dan para sahabat memulai penulisan mushaf imam dengan surat ini. 

Penamaan  surat  Al-Fatihah  dengan  sebutan  "As-Sab'ul  masani" dinilai sah. Mereka mengatakan, dinamakan demikian karena surat ini dibaca  berulang-ulang  dalam  salat,  pada  tiap-tiap  rakaat,  sekalipun masani  ini  mempunyai  makna  yang  lain,  seperti  yang  akan diterang-kan nanti pada tempatnya insya Allah. 

Imam  Ahmad  mengatakan  bahwa  telah  menceritakan  kepada mereka  Yazid  ibnu  Harun,  telah  menceritakan  kepada  mereka  Ibnu Abu  Zi'b  dan  Hasyim  ibnu  Hasyim,  dari  Ibnu  Abu  Zi'b,  dari Al-Maqbari,  dari  Abu  Hurairah,  bahwa  Nabi  Saw.  pernah  bersabda tentang Ummul Qur'an: 

Surat Al-Fatihah adalah Ummul Qur'an, As-Sab'ul Masani, dan Al-Qur'anul' Azim. 

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Ismail ibnu Umar, dari Ibnu Abu Zi'b dengan lafaz yang sama. 

Abu  Ja'far  Muhammad  ibnu  Jarir  At-Tabari  mengatakan,  telah menceritakan  kepadaku  Yunus  ibnu  Abdul  A'la,  telah  menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Zi'b, dari Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: 

Surat  Fatihah  ini  adalah  Ummul  Qur'an,  Fatihatul  Kitab,  dan As-Sab'ul masani. 

Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Musa ibnu Murdawaih mengatakan di  dalam  tafsirnya  bahwa  telah  menceritakan  kepada  kami  Ahmad ibnu  Muhammad  ibnu  Ziad,  telah  menceritakan  kepada  kami Muham-mad ibnu Galib ibnu Haris', telah menceritakan kepada kami Ishaq ib-nu Abdul Wahid Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Al-Mu'afa ibnu Imran, dari Abdul Hamid ibnu Ja'far, dari Nuh ibnu Abu  Bilal,  dari  Al-Maqbari,  dari  Abu  Hurairah  yang  menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: 

Alhamdu  lillahi  rabbil  'alamin  (surat  Al-Fatihah)  adalah  tujuh ayat,  sedangkan  bismillahir  rahmanir  rahim  adalah  salah satu-nya. Surat Al-Fatihah adalah As-sab'ul mas'ani, Al-Qur'anul 'azim, Ummul Kitab, dan Fatihatul Kitab. 

Ad-Daruqutni meriwayatkannya melalui Abu Hurairah secara marfu' dengan lafaz yang sama atau semisal dengannya. Ad-Daruqutni mengatakan  bahwa  semua  rawinya  siqah  (dipercaya).  

Imam  Baihaqi meriwayatkan sebuah asar dari Ali, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah, bahwa mereka menafsirkan firman Allah Swt., "sab'an minal masani (tujuh  ayat  yang  dibaca  berulang-ulang),"  dengan  makna  surat Al-Fatihah, dan basmalah termasuk salah satu ayatnya yang tujuh. Hal ini akan dibahas lebih lanjut lagi dalam pembahasan basmalah. 

Al-A'masy meriwayatkan dari Ibrahim yang pernah menceritakan bahwa pernah ditanyakan kepada Ibnu Mas'ud, "Mengapa engkau tidak menulis  Al-Fatihah  dalam  mus-haf-mxxT,  Ibnu  Mas'ud  menjawab, "Seandainya  aku  menulisnya,  niscaya  aku  akan  menulisnya  pada permulaan  setiap  surat."  Abu  Bakar  ibnu  Abu  Dawud  mengatakan, yang dimaksud ialah mengingat surat Al-Fatihah dibaca dalam salat, hingga cukup tidak diperlukan lagi penulisannya, sebab semua kaum muslim telah menghafalnya. 

Suatu  pendapat  mengatakan  bahwa  surat  Al-Fatihah  merupakan bagian dari Al-Qur'an yang mula-mula diturunkan, seperti yang telah disebutkan  di  dalam  sebuah  hadis  yang  diriwayatkan  oleh  Imam Bai-haqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah, dinukil oleh Al-Baqilani sebagai  salah  satu  dari  tiga  pendapat.  Menurut  pendapat  lain,  yang mula-mula diturunkan adalah firman Allah Swt. berikut ini: 

Hai orang yang berselimut. (Al-Muddassir: 1) 

Seperti  yang  disebutkan  di  dalam  hadis  Jabir  yang  sahih.  Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah firman-Nya: 

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah mencipta-kan. (Al-Alaq: 1) 

Pendapat  terakhir  inilah  yang  paling  sahih,  seperti  yang  akan diterangkan nanti pada pembahasan tersendiri.