Tuesday, January 29, 2013

Pejabat Bermasalah


Tampaknya, hanya Islam yang telah memberi petun­juk dan bukti kongkret kesuksesannya memberes­kan pejabat bermasalah. Jangankan terhadap peja­bat penggelap dana sosial, bagi pejabat yang mencoba mengkorupsi sepotong jarum pun akan ditindak. Dalam beberapa hadits yang disahihkan Imam Abu Dawud di­sampaikan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, "Barangsiapa yang bekerja dengan kami, dan telah digaji dan diberi fasilitas dinas, lalu menggelapkan harta, walau cuma sepotong jarum, maka dia dinilai berkhianat."
Ketatnya definisi Islam soal harta haram bagi pejabat, serta kuatnya kontrol kepala negara membuat banyak orang mengundurkan diri begitu mendengar aturan kene­garaan, sebagaimana hadits tersebut. Misalnya, seorang sahabat Anshar memilih mundur, padahal dia tidak me­lakukan korupsi apa pun.

Bukti lain datang dari Khalifah Umar bin Khattab. Hanya karena panglima perang Khalid bin Walid tidak me­matuhi perintah soal pembagian ghanimah 'harta ram­pasan perang', maka jenderal hebat itu dipecat. Umar me­merintahkan agar harta jangan dibagikan kepada orang-orang yang telah kaya, melainkan khusus bagi fakir miskin (riwayat Ali bin Rabbah).

Meski kesalahan Khalid tampak sepele, apalagi bila di­banding jasa-jasanya, memenangkan perang atas Impe­rium Romawi di Muktah dan Yarmuk, tetapi wajib bagi Umar menindaknya dengan keras. Bila tidak, kepercayaan rakyat kepada sistem dan pengelola negara merosot.

Perselisihan dan konflik horizontal melebar. Akhirnya, perhatian pemerintah dan rakyat tersedot pada pejabat bermasalah itu, dan bukannya menyelesaikan masalah- masalah nyata, seperti kemiskinan dan ancaman negara lain.

Ini juga untuk mencegah timbulnya sikap meremehkan harta negara dan rakyat. Zaid bin Aslam meriwayatkan, Umar pernah memperingatkan anak buahnya agar tidak meremehkan aset negara atau publik, dan hanya takut mencuri harta pribadi orang lain. Sebab, sekali sikap ini muncul, maka harta yang seharusnya dibagi kepada fakir miskin pun akan disikat. Padahal, ini jelas dosa besar.

Terlihat dari surah Almaauun:7, hanya karena sese­orang tidak mengajak memberi makan orang miskin, Allah sudah menyebutnya sebagai pendusta agama. Lalu, bagai­mana dengan orang yang mengkorupsi jatah makan orang miskin puluhan miliar rupiah?