Sunday, January 13, 2013

Pak Ngalmus Alias Mister Almost

topi mralmost (zazzle.com)WAKTU saya baru pulang dari Jakarta belum lama ini, Mr. Rigen lapor bahwa selain dari kawan-kawan rutin yang mampir untuk mengecek kehadiran saya, datang juga “Pak Ngalmus”. Sejenak saya tertegun membayangkan sosok Pak Ngalmus itu. Orangnya tinggi besar, ngganteng, rambut nyambel wijen, berombak seperti lautan berwarna putih kekelabuan, aktivis Golkar, dosen. Saya tertegun karena disadarkan waktu kok sudah hampir pembentukan kabinet lagi.
Pak Ngalmus adalah versi Mr. Rigen untuk Mister Almost yang sesungguhnya bernama asli Drs. Ngalimin M.Ed, Neb. Adapun Neb itu berasal dari Nebraska, salah satu Negara bagian di pedalaman Amerika Serikat sana. Mudah diduga Neb itu pastilah almamater beliau, seperti juga mereka yang diduga dari Oxford University suka mencantumkan kata Oxon di belakang deretan titel akademis mereka yang mentereng itu. Yah, waktu kok berlari amat kencangnya. Sudah hampir pembentukan kabinet lagi …
“Pak Ngalmus kok kalo muncul empat atau lima tahun sekali to, Pak ? Tur kalo sudah muncul sampai berhari-hari ngobrol terus sama Bapak.”
“Lho, apa tidak boleh to, Gen. Di negara Pancasila ini boleh saja orang bertemu cuma sekali dalam empat atau lima tahun.”
Yak, Bapak ki. Kok pake nyandhak Pancasila segala. Ya, aneh to, Pak Ngalmus itu. Wong priyayi Yukjo, satu kota sama Bapak, eh, kalau dolan ke sini cuma empat atau lima tahun sekali. Gek pertimbangannya itu apa ?”
“Ya ada. Pak Ngalmus itu tokoh politik penting lho, Gen. Bukan kayak Bapakmu ini, yang cuma dosen thok.”
“Terus kalau tokoh politik itu kalau merdayuh, anjangsana cuma sekian tahun sekali to, Pak ?”
Hush, ya tidak. Pak Ngalmus itu kalau ke sini kan ingin ngobrol soal kabinet. Bukan kabinet seperti kitchen cabinet-mu itu, Mister. Ini kabinet betulan. Kabinet yang terdiri dari menteri-menteri yang hebat-hebat. Yang ngurus wong sak negara.”
“Wih … wih … wih … Lha, terus Pak Ngalmus itu kalau ngobrol empat tahun sekali soal kabinet itu, njur mau apa to, Pak.”
“Aahh … kamu wong cilik ngertimu apa, Gen, Gen. Sana ngurus anak istrimu, sana. Dak terangke kamu juga nggak bakalan tahu. Pokoknya wong cilik tahu beres sajalah !”
Estu lho, Pak. Wong cilik tahu beresnya saja nggih, Pak.”
Wah, saya jadi merinding dan miris sebentar mendengar peringatan Mr. Rigen itu. Peringatan wong cilikje. Padahal saya juga tidak pasti dapat menjelaskan pola kedatangan Pak Ngalmus itu.
Bahwa tokoh itu bernama Mister Almost dan aslinya bernama Ngalimin, itu Mr. Rigen sudah tahu. Maka dari itu dia memanggilnya Pak Ngalmus, singkatan dari Ngalimin dan Almost. Tetapi, bahwa dia disebut Mr. Almost, karena pada setiap pembentukan kabinet dia selalu merasa menjadi calon serius tetapi akhirnya tidak jadi diangkat, tentulah tidak dapat saya ceritakan kepada Mr. Rigen. Itu agak merikuhkan. Dan kalau ini tidak dapat dijelaskan, tentulah akan lebih sulit lagi menerangkan pola kedatangannya yang setiap menjelang pembentukan kabinet itu.
Akhirnya, pada satu sore Pak Ngalmus muncul. Waktu membawakan teh buat tamu itu, kok saya lihat Mr. Rigen agak lebih lama mengamati wajah Pak Ngalmus. Dan Beni Prakosa yang biasanya salam ‘halo’ kepada setiap tamu, kali ini nampak mengkeret memegang tangan bapaknya kenceng-kenceng.
“How are you, kid ?”
Pak Ngalmus mengulurkan tangannya kepada Beni. Tetapi Beni malah lari ke belakang menuju ibunya.
“Lho, anakmu tambah besar kok mangkin pemalu gitu, Mr. Rigen ?”
“Habis, Bapak kalau rawuh ke sini tiap tahun Dal.”
Yak, ngenyek kamu. Aku itu kalau ke sini kalau ada urusan-urusan gawat saja to, Mister. Lagi pula Bapakmu juga jarang di Yogya.”
Lha, sak niki ada urusan gawat apa to, Pak ? Soal kabinet, nggih ?
Saya mengerdipkan mata ke arah Mr. Rigen, memberi kode agar dia masuk. Mungkin menyadari bahwa pembicaraan gawat tentang kabinet akan segera dimulai, ia pun segera masuk ke belakang.
“Wah … kamu itu. Soal gawat kok kamu bocorkan sama baturmu, lho !”
“Soal gawat apa ?”
“Lho, soal kabinet, to !”
“Wah … iya, ya. Sorry, sorry, sorry. Maafkan saya. Saya kadang-kadang lupa, lho, kalau soal kabinet itu soal gawat. Sorry, sorry, sorry.”
“Begini, namaku masuk lagi, nih.”
Oh My God. Ya Allah. Namanya masuk lagi. Pasti aku dapat tugas lagi.
“Calon menteri apa kali ini, Mas Ngalimin ?”
“Ada tiga kemungkinan.”
Kemudian ditempelkan mulutnya di telingaku. Disebutnya tiga kementerian yang top bin gawat. Saya mengangguk-angguk. Waktu dia habis membisiki saya, matanya dengan penuh waspada melirik ke kanan dan kiri.
“Tapi ini masih sikret bin rahasia, lho. Jangan bocorkan sama batur-baturmu. Kamu tahu sendiri mulut batur-batur.”
“Oh, pasti saya rahasiakan betul, Mas. Lantas saya mesti apa kali ini ?”
“Nah begini. Seperti yang sudah-sudah, sampeyan tolong lobi di Jakarta. Koneksimu di kalangan bekas orang partai, bekas ABRI dan bekas menteri kan banyak.”
“Ya, cuma bekas-bekas, Mas.”
“Eh, … jangan remehkan para bekas-bekas itu. Yang mencalonkan saya ini juga seorang bekas, kok.”
Kemudian ditempelkannya lagi mulutnya di telinga saya menyebutkan seorang nama tokoh yang gueedhiii banget. Mata Pak Ngalmus masih melirik ke kanan dan kiri. Tetapi, kali ini memancarkan sinar bangga dan gembira.
“Wah … hebat dong, kalau beliau yang mencalonkan.”
“Naa … saya bilang apa. Jangan meremehkan para bekas itu. Masih bisa ampuh mereka itu. Yang belum bekas, yang masih aktif, biar saya sama teman-teman lobi sendiri. Tugasmu yang bekas-bekas. Oke !?”
“Oke.”
Dalam hati saya agak kecut juga. Wong jatah kok cuma yang bekas-bekas.
“Kali ini saya lebih besar kemungkinannya untuk masuk.”
“Bagaimana Mas Ngalimin tahu ?”
“Saya dengar kabinet akan datang fresh semua. Segar semua. Itu mafia-mafia berkelei, ngroterdam, ngamsterdam, denhaah, kornelakan habis semua. Diganti dengan tamatan luar negeri juga tapi yang masih segar dan orisinil. Seperti Nebraska, Alaska, Jamaika, dll. Jadi kewajibanmu nglobi tentang keampuhan tamatan universitas yang kecil-kecil tapi yang belum dikenal ini.”
Dan Pak Ngalmus pamit dengan menjanjikan bahwa ‘untuk sesuatu pasti ada sesuatu’. Saya manggut-manggut sambil membayangkan koneksi saya para bekas-bekas itu. Minggu depan saya akan menemui mereka. Ikut berkampanye agar Pak Ngalmus jangan jadi Mr. Almostlagi kali ini.
“Pak, apa bekas-bekas unjukan teh dan bekas-bekas dhaharan kuweh bisa dibuang ke keranjang sampah bekas. Dan apa baju-baju bekas serta bekas-bekas mebel yang di belakang boleh saya jual ke pasar barang bekas …”
Kurang ajar ! Mr. Rigen pasti nguping terus sepanjang percakapan kami.
“Apa bekas-bekas …..”
“Hushh … gundhulmu amoh !”
 Yogyakarta, 12 Januari 1988
*) gambar dari zazzle.com