Monday, January 14, 2013

Pak Joyoboyo Bimbang

mau bunuh diri (antarafoto.com)Pak Joyoboyo yang sudah lebih dari satu bulan tidak singgah di rumah, pagi hari itu kelihatan murung betul. Kecekatannya menyaut dada menthok dan tepong panggang tidak menceminkan seorang virtuoso seni saut-menyaut dan bungkus-membungkus makanan. Padahal dalam mood yang lebih gembira kecekatannyamenyaut dan membungkus makanannya itu pakai ritme sendiri yang sangat musical. Asyik deh melihatnya. Tetapi, kali ini kecekatan itu secukupnya saja tampil.
Sampeyan kok sajake kelihatan lesu darah. Habis dimarahi nyonyahe juragan apa ?”
Nggih mboten, Pak. Wong nyonyahe juragan saya itu sabare tidak jamak, kok. Saya tidak apa-apa kok, Pak.”
Ayakkwong muka mendungnya tebal anggendanu kayak topan Nina mau ngamuk begitu, kok nggak ada apa-apa.”
Wee, Bapak. Saestu, tidak ada apa-apa, Pak. Cuma itu lho, Pak.”
Lha, rak cuma, to. Apa, enten napa ?
“Anak perempuan yang nekat naik jembatan di Prambanan itu lho, Pak.”
“Lho, masih sanak sampeyan, apa ?”
Nggih mboten, Pak. Ning bocah itu bolehnya bisa kamitenggengen saya sampai sekarang lho, Pak.”
Lha, kamitenggengen saja kok sampai sekarang to, Mas ?”
Maka Prabu Joyoboyo, yang sekarang nitis jadi penjaja panggang ayam Klaten itu pun berkisah. Anak perempuan itu telah menakjubkan Pak Joyoboyo karena memilih jembatan sebagai sarana protesnya. Jembatan itu tinggi dan berbahaya. Kalau tergelincir dan jatuh, bagaimana. Saya tidak memotong ceritanya dengan mengatakan kepadanya bahwa di New York nyaris setiap hari ada peristiwa seperti itu. Dan tidak cuma di jembatan yang hanya beberapa meter tingginya. Tetapi dari jendela flat pencakar langit yang tingginya menyapu awan. Keinginannya untuk memotong saya urungkan karena memang saya ingin mendengar tafsirannya tentang peristiwa itu.
“Anak itu pasti sudah mata gelap, nggih Pak ? Nekat banget. Mana katanya dari Sragen. Mau begitu saja kok nglurug jauh dari sono, lho.”
“Mau begitu saja bagaimana to, Sang prabu ?”
“Anak itu sesungguhnya kan cuma mau ngambek saja to, Pak ? Tidak keturutan karep-nya terus mau narik perhatian.”
Wee, lha mboten, Mas. Menurut koran anak perempuan itu bingung karena habis dinodai temannya.”
“Ya, itu menurut koran. Koran senengnya kan bikin kabar rame to, Pak.”
“Ya sudah. Taruhlah begitu. Kalau menurut sampeyan anak itu kenapa ?”
Menurut Pak Joyoboyo, anak itu pasti cuma mau manja saja. Dia kepingin dilihat orang banyak. Cari perhatian. Cerita mau diperkosa apa itu, pasti cuma ceritanya saja supaya menarik. Saya jadi takjub mendengar kesimpulannya yang tegas itu. Liputan koran yang say abaca diKedaulatan Rakyat tidak dia percaya, lho. Terus bolehnya dia mengambil kesimpulannya sendiri itu bagaimana ?
“Saya itu kan sudah pengalaman dengan soal-soal begitu to, Pak.”
“Soal-soal begitu yang bagaimana ?”
“Ya, yang begitu itu, Pak. Ponakan saya laki-laki, anak kakak ipar istri saya dulu juga begitu.”
“Naik jembatan sepeti itu juga ?”
Nggih mboten. Dia manjat pohon kelapa di tegalan tetangga. Sebabnya dia ngambek begitu karena minta dibelikan sepeda motor tidak keturutan. Dia teriak-teriak dari atas pohon itu tidak mau turun kalau belum lima belas hari di pohon. Kecuali kalau dibelikan sepeda motor. Langsung mau turun …”
“Terus, betul lima belas hari dia di atas pohon itu ?”
“Wah, ya tidak. Simbok-nya nangis kontrang-kontrang minta bapaknya agar mau nuruti anaknya.”
“Terus dituruti ? Terus anaknya mau turun ?”
“Ya dituruti. Cuma waktu turun dia itu singunen, gamang, mau turun tidak berani. Lha, malah terus nangis teriak-teriak.”
Lha, terus yang membuat sampeyan murung pagi ini apa ?”
“Anak itu anak perempuan, Pak. Sudah dewasa lagi. Dari jauh lagi. Terus yang mau dia ngembeki itu apa ? Kalau betul dia dinodai kawannya, kok tidak lapor polisi atau apa begitu. Wee, kok terus naik jembatan, lho. Jembatannya tinggi lho, Pak.”
Lha, ya itu namanya bingung. Bingung itu tidak kenal laki atau perempuan, Mas Joyo.”
Mas Joyo diam termangu. Tenong-nya pelan-pelan dia tutup.
“Sekarang kelihatannya banyak orang bingung ya, Pak ?”
“Ya, hidup mangkin rumit dan tidak sederhana. Mangkin banyak orang yang tidak mudheng, Mas.”
Lha, hidup saja kok dibikin rumit to, Pak. Mbok yang prasojo saja hidup itu. Ditakdirkan jualan panggang ayam, yaa diterima saja. Ditakdirkan jadi dosen kados panjenenganyaa syokur … “
Lha, kalau semua orang bisa seperti sampeyan, nah itu yang paling baik dan bener, Mas Joyo.”
Mas Joyoboyo termangu lagi. Aneh juga sehabis menyatakan kepasrahannya itu untuk kesekian kali selama menjadi langganan saya, dia kok tampak masih ngganjel.
Wahh, ning nek mikir anak perempuan saya sudah mulai dewasa jadi pikiran juga, Pak.”
“Lho, pripun. Sudah baik-baik pasrah kok terus begitu ?”
Wong ya anak sekarang, Pak. Permintaannya itu mulai aneh-aneh. Ibunya sudah mulai kewalahan nuruti. Kalau nanti satu ketika ngambek seperti anak perempuan di jembatan itu, terus bagaimana, Pak ? Saya ini kan cuma penjaja panggan ayam to, Pak.”
Sekarang ganti saya yang termangu. Ketegaran Prabu Joyoboyo dalam hal pasrah kepada skenario Yang Maha Kuasa terguncang karena melihat anak perempuannya tumbuh dewasa. Kenyataan itu rupanya telah mengingatkan keterbatasannya dan kekhawatirannya.
Pun, Mas Joyo. Ampun dipikir panjang-panjang. Wong barang belum karuan terjadi kok diresahkan. Sampeyan sudah benar. Pasrah kersaning AllahNggelinding saja to, Mas Joyo …”
Prabu Joyoboyo pun terus menggelinding ke jalan menjajakan panggang ayamnya. Cuma “penggeng eyem, penggeng eyem” yang biasanya terdengar melodius itu kok pagi itu jadi cempreng rodo mblero dan loyo. Dan saya duduk termangu lagi. Saya tidak tahu pasti lagi siapa yang harus menghibur siapa. Biasanya Mas Joyoboyo yang menghiburku dengan ilmu kepasrahannya. Kok pagi itu saya jadi berani-beraninya ikut menghiburnya dengan ngelmu pasrah ?