Monday, January 7, 2013

Oleh Oleh


Barangkali tidak ada terjemahan yang tepat buat oleh-oleh. Kata Inggris present itu yang sering dipakai orang untuk menerjemahkan oleh-oleh, terasa kurang sregOleh-oleh bukan hanya hadiah. Ia memang bangsanya hadiah, tetapi oleh-oleh bukan hanya hadiah. Lha, apa dong? Ya itu repotnya dengan oleh-oleh. Kalau Mr. Rigen pulang dari Pasar Kranggan membawa klepon dan gatot – tiwul, maka Beni Prakosa akan teriak kegirangan,
“Holee, Bapak bawa oleh-oleh !”
Tetapi, kalau Mr. Rigen membawa klepon dan gatot – tiwul dari pasar buat saya, maka itu bukan oleh-oleh. Saya, meskipun kegirangan, tidak akan bilang,
“Horee, Mr. Rigen bawa oleh-oleh !”
Tetapi mungkin akan bilang,
“Wah, kreatif penuh inisiatif kowe, Gen.”
Mr. Rigen akan sama-sama meringis senang waktu membawa klepon baik buat anaknya maupun buat saya. Tetapi meringisnya itu toh tidak sama. Sekrup mulutnya waktu meringis buat anaknya akan lebih kendor, menandakan adanya hubungan batin yang lebih hangat antara keduanya. Sedang dengan saya, jelas sekrup itu akan lebih kenceng menjepit mulutnya, menandakan pringisan-nya itu pringisanprofesional, bahkan pringisan kelas “yang tidak menguasai alat produksi”.
Fungsi klepon buat Beni adalah untuk melestarikan ikatan kasih sayang. Sedangkan fungsi klepon buat saya adalah untuk melestarikan jabatan. Jadi, kreatifitas serta inisiatif untuk pada satu pagi memborong klepon dan gatot – tiwul sampai berbungkus-bungkus itu bagi Mr. Rigen adalah semacam investment kum begitu.
Tetapi apakah oleh-oleh sudah jadi jelas maknanya? Belum tentu! Klepon dari Mr. Rigen buat anaknya, oleh-oleh. Berlian sebesar kenonggamelan Sekaten dari Adnan Kassogi buat pacarnya juga oleh-oleh …
Seorang pengamat ekonomi, yang saya lupa namanya, melihat hubungan yang jelas antara budaya oleh-oleh dengan korupsi di negeri kita. Katanya korupsi di negeri kita baru akan berhenti betul, tuntas sampai ke akarnya, bila budaya oleh-oleh sudah lenyap dari muka bumi negeri kita. Bila pejabat yang bepergian ke luar kota tidak merasa berkewajiban lagi membawa oleh-oleh hem batik tulis halus buat sang atasan dan kain batik sutera plus selendangnya yang klengsreh tanah kepada ibu atasan. Bila pejabat yang bertugas ke luar negeri untuk mengharumkan nama bangsa dan Negara tidak merasa ada beban kultural lagi untuk membawa oleh-oleh jam Pathek Phillips dan kalung amber ekspor asli Rusia buat bapak dan ibu menteri. Bila pengusaha tidak perlu merasa harus membawa oleh-oleh angpo dalam amplop kepada seorang pejabat pada satu sore hari sebelum amplop tender dibuka. Ya, bahkan sebelum oleh-oleh buat seluruh jaringan keluarga sendiri dihentikan, tidak bakalan korupsi di negeri kita akan berhenti.
Wadhuh! Elok dan dahsyat tenan pengamat itu. Pengamat tersebut sudah tidak lagi melihat batasan antara oleh-oleh dan upeti. Meskipun harus diakui juga bahwa semua yang datang membawa barang bawaannya itu sebagai oleh-oleh. Itu berarti istilah oleh-oleh dianggap sebagai istilah yang netral dan tidak mengundang tusukan perasaan. Upeti jelas membawa pesan : untuk sesuatu ada sesuatu. Sang Bupati taklukan membawa upeti kepada sang raja agar tidak diserang wilayahnya. Sang Bupati sekarang membawa oleh-oleh buat bapak Gubernur? Ya, supaya lancar pembangunan wilayahnya …
Untunglah istri dan anak saya tidak pernah mendengar ocehan dan tulisan intelektual yang sok cemerlang itu. Waktu baru-baru ini kami bertiga kejatuhan pulung dapat kya-kya alias jalan-jalan ke luar negeri, tidak sesaat pun analisis sang pengamat ekonomi tentang oleh-olehtersebut terlintas di pikiran istri dan anak saya. Lha, wong mereka tidak tahu kalau ada analisis yang begitu disturbing. Saya pun, yang tahu ada analisis begitu, juga tidak mau diganggu dengan semacam itu. Saya senang mereka ribut, tegang tapi gembira, keluar masuk toko mengecek daftar oleh-oleh yang kudu dibeli. Sebentar-sebentar mereka mengecek dompet mereka juga. Semua anggota jaringan keluarga masuk dalam hitungan. Bahkan juga jaringan keluarga saya yang menyangkut Mr. Rigen dan family. Bahkan kemudian banyak juga yang digugurkan dari daftar, itu tidak mengurangi keseriusan mereka berburu oleh-olehSangu boleh terbatas, tetapi oleh-oleh mesti, dong. Wong, namanya sedulur, je. Lagi pula mereka kan tidak seberuntung kita ketiban rezeki seperti ini? Dan seterusnya, dan seterusnya …
Waktu pulang akhirnya tiba dan kopor terakhir sudah ditutup dan dikunci, saya tercenung sebentar melihat kopor-kopor dan wajah istri dan anakku yang mulai kelelahan. Sebagian besar isi kopor dan isi benak keluargaku adalah jembatan buat korupsi. Astaga!
“Wah, alangkah senangnya si Beni dengan mainan itu nanti, Pak.”
Saya membayangkan jenius Pracimantoro itu mulai membanting-banting mainan oleh-oleh yang kami beli. Saya terus membayangkan wajah-wajah gembira sanak saudara saya yang bakalan menerima oleh-oleh, mendaftar bayangan calon penerima oleh-oleh tersebut. Jaringan keluarga! Alangkah aneh dan hangatnya kamu, oleh-oleh! Alangkah manis, hangat dan berbahayanya kamu. Korupsi! Wah, alangkah …