Wednesday, January 23, 2013

Mikul Dhuwur, Mendhem Jero


Ayah kenalan lama saya belum lama ini meninggal dunia. Saya memutuskan untuk datang melayat. Kawan saya itu dulu teman sekuliah kemudian entah bagaimana dia sukses menaiki jenjang karier, berhasil menjadi seorang direktur di satu departemen yang renes bin basah. Sumpah, bukan karena dia direktur dan priyagungyang begitu penting maka saya memutuskan untuk melayat. Saya melayat karena dia adalah seorang kawan yang kesusahan. Juga karena, dulu semasa kuliah, hubungan kami lumayan akrabnya. Bahkan sekali dua kali saya pernah diajak menginap di rumah orang tuanya di satu desa  di lereng Gunung Merapi yang subur. Sering kali saya mengenang hari-hari yang menyenangkan menginap di rumah orang tuanya yang ramah dan sederhana itu. Rumahnya tidak berapa besar, dari kayu, berpotongan limasan sederhana. Pekarangan rumahnya juga tidak seberapa besar, ditumbuhi pohon buah-buahan. Jambu kaget, mangga arum manis dan duwet hitamnya tidak pernah saya lupakan hingga sekarang. Juga suasana yang adem dan teduh dari rumah itu serta sayur lodeh dan sambal terasi yang dihidangkan di meja makan mereka masih sering dengan jelasnya menyusup dalam kenangan saya. Orang tua itu, sungguh pensiunan guru yang menghabiskan masa tuanya dengan bahagianya.
Pilihan pekerjaan yang berbeda serta tempat bertugas yang berjauhan, dia di ibukota saya di pedalaman, telah memisahkan saya dan kenalan itu hingga bertahun-tahun lamanya. Dan dengan itu juga hubungan saya dengan orang tuanya di desa yang indah itu. Tentu sekali-sekali saya membaca berita-berita tentang dia di surat kabar dan melihat wajahnya di layar TV. Juga satu dua kali pernah bertemu di resepsi ini dan itu di Jakarta atau pesta perkawinan di Yogya. Setiap bertemu yang sebentar-sebentar begitu tentu kami bertukar salam akarab, saling berjanji untuk saling mengunjungi dengan keluarga kami, bahkan juga untuk naik gunung ke rumah orang tuanya. Tetapi, kerja dan karier memang bisa kejam sekali. Mesin tempat kami bekerja tidak pernah mengizinkan kemewahan-kemewahan kecil, seperti berkunjung ke rumah kawan berjalan sangat mulus. Sayur lodeh,sambal terasi, jambu kaget, duwet hitam adalah ornamen-ornamen kecil yang agaknya tidak relevan dengan efisiensi mesin. Maka, begitu saya mendengar bahwa orang tua itu meninggal, saya putuskan untuk melayat ke desa bagaimanapun susah dan rumpil-nya jalan ke sana.
Jip tua, reyot dan knalpotnya yang gemuruh suaranya itu, dengan terengah-engah mendaki tanjakan terakhir menuju desa tersebut. Mr. Rigen yang sebentar-sebentar mendesah dan melenguh karena kondisi mesin dan knalpot jip yang rawan itu, harus saya akui, adalah seorang sopir amatir (karena menurut dia belum “propesi”) yang cekaran dan tangkas. Tikungan-tikungan jalan yang mendaki dia lalap bagai sopir taksi di Beirut. Tiba-tiba pada jarak satu kilometer dari desa tujuan kami, jalan itu berubah menjadi jalan yang beraspal mulus sekali. Ini bukan kondisi jalan yang dulu beberapa kali saya lewati. Kemudian kira-kira lima ratus meter dari batas desa, kami melihat mobil-mobil berplat AB, B, H, AD, L dan entah apa lagi, berderet di pinggir jalan. Mercedes, Volvo dan segala merk mobil Jepang terwakili pada deretan itu. Juga selain mobil jenazah yang super de lux, saya melihat tiga bus Hino berderet dengan megahnya.
Waktu saya turun memasuki halaman rumah mulut saya nyaris otomatis ternganga lebar. Betapa tidak. Halaman rumah yang dulu penuh dengan pohon jambu kaget, mangga arum manis dan duwet hitam itu sudah berubah. Di halaman itu, sekarang tumbuh pohon-pohon sawo kecik yang megah, yang mengingatkan saya pada rumah-rumah bangsawan di jeron beteng di kota. Dan, rumah itu! Astaga! Lenyap sudah rumah kecil sederhana berpotongan limasan itu. Sekarang, di hadapan saya berdiri satu rumah besar, megah, beratap sirap denganpendopo joglo. Tiang-tiangnya berukit Jepara di pinggir diplipit prada yang kemilau. Kemudian saya baru menyadari keadaan di pendopo itu.
Jenazah itu tergeletak di tengah, di kepung oleh karangan-karangan bunga. Kemudian saya lihat teman saya itu berbaju surjan sutera hitam lengkap dengan kain dan blangkon gaya Mataraman. Begitu juga saya lihat kaim kerabatnya. Baik yang lelaki maupun yang perempuan semua berpakaian daerah lengkap berwarna hitam. Lalu saya mendengar suara kaset gamelan mengalunkan lagu “Tlutur” yang menyayat hati. Kawan saya dan istrinya dengan tergopoh menyambut kedatangan saya. Kami berangkulan. Sejenak, untuk beberapa detik, saya tercekam keharuan. Berapa tahun sudah sang waktu dan sang mesin birokrasi telah mengasingkan kami. Tetapi, aneh sekali waktu saya lihat matanya yang basah karena air mata itu, kok saya tidak menangkap sinar kesedihan melainkan justru sinar kebanggaan. Dan seakan dia bisa membaca rasa ngungun saya, dia pun berkata,
“Yahh, … cuma beginilah, Mas, yang bisa saya lakukan memuliakan orang tua saya.”
Saya manggut-manggut sembari berjalan digandeng masuk di deretan kursi kehormatan dekat pringgitan.
“Orang Jawa bilang anak laki-laki itu harus bisa mikul dhuwur, mendhem jero, memikul tinggi-tinggi, menanam dalam-dalam. Sebisa-bisa saya, itu sudah saya laksanakan. Kau lihat rumah ini sudah saya sulap menjadi rumah begini.”
“Wahh, … ini rumah bupati zaman dahulu, Dik.”
Yakk, ya belum, Mas. Baru mencoba mendekati. Upacara pemakaman ini sengaja saya bikin megah. Supaya Bapak marem. Semua rekan-rekan di kantor kanwil di tiga propinsi saya datangkan untuk membuat suasana khidmat tapi regeng. Ya, lumayan to, Mas, kalau dilihat dari banyaknya tamu dan banyaknya mobil yang datang. Yah, biar Bapak lega dan marem di hari akhirnya. Kau masih ingat ‘kan bagaimana sederhananya Bapak saya itu. Terus nenuwun, puasa Senin-Kemis, ngrowot dan entah apa lagi. Semuanya agar anak-anaknya bisa hidup mulyoYah, berkat tirakat itu kau lihat sendiri to, Mas. Saya dan adik-adik selamat meniti karier.”
Huwihh, lumayan? Kalau ini lumayan terus yang telah saya capai selama ini, apa dong? Saya ngunandika dalam hati.
Waktu jenazah diberangkatkan, lagu “Tlutur” yang sedih itu justru berhenti, diganti dengan kagu “Gleyong”. Saya terpana, lagu Gleyong?Bukankah lagu itu lagu yang biasa dimainkan ki dalang untuk mengiringi Prabu Suyudono kalau jengkar kedaton? Iring-iringan mobil yang mengiringi mobil jenazah ke arah selatan kota itu telah menggegerkan desa-desa yang kami lalui. Sungguh satu peristiwa dahsyat dan mengagumkan bagi penduduk. Suara sirene mobil meraung-raung di jalanan pedesaan yang sepi itu. Mobil berpuluh beriringan. Bus-bus. Dan bunga-bunga yang disebarkan dengan uang recehan lima puluh sen yang entah berapa jumlahnya.
Jip kami tertatih-tatih ingin mencoba mengikuti laju iringan mobil-mobil itu. Suara mesinnya kemrosak, suara knalpotnya gemuruh, tetapi larinya kok terpincang-pincang. Waktu masuk kota di jalan Magelang, tiba-tiba terdengar “grobyak!” Knalpot itu patah dan jatuh terguling. Mr. Rigen menghentikan mobil dan memarkirnya di pinggir jalan. Knalpot yang terkapar di jalan dipungutnya dan ditunjukkan kepada saya. Saya tersenyum karena knalpot itu mengingatkan saya pada patung seni rupa baru.
“Mr. Rigen, enaknya kita istirahat di warung soto depan situ. Nututi iringan mobil itu juga percuma, Setuju?”
“Siippp, Bos.”
Dapurmu!”
Sambil menyruput kaldu soto yang cuwernya seperti air Kali Code itu, saya jadi minder ingat kemegahan upacara pemakaman hari itu. Memang kawan saya itu priyagung yang hebat. Punya roso darma yang canggih. Dibanding dengan itu, pemakaman ayah saya tempo hari, wah, kok sederhana dan polos-polos saja. Masih terngiang di telingaku dan terbayang mukanya yang penuh khidmat waktu bilang : mikul dhuwur, mendhem jero …..