Wednesday, January 9, 2013

Merdeka, Mr. Rigen


TUJUH BELAS Agustusan selalu dirayakan Mr. Rigen & family di Kampung Blunyah. Kampung itu tempat dulu mereka mengontrak rumah. Agaknya mereka senang dan kerasan juga tinggal di kampung itu. Buktinya, setiap ada ritual kampung, selalu saja mereka diundang untuk datang. Selain itu, Blunyah adalah juga kampung legendaris. Setidaknya bagi penduduknya yang mengalami zaman revolusi dulu. Dengan bangga mereka akan selalu mengisahkan pengalaman mereka sebagai salah satu kampung yang menjadi persinggahan sebagian pasukan janur kuning yang ikut penyerbuan SO 1 Maret. Bisa dimengerti jadi, kalau kampung itu merasa mendapat beban historis untuk merayakan tujuh-belasan itu dengan sehebat mungkin. Daerah lewat SO, je!
“Kali ini kalian mau Agustusan di Blunyah lagi ?”
Inggih, Pak. Wong saya sudah didapuk jadi seksi hiburan, lha ibunya Beni jadi seksi konsumsi.”
Weh, seksi hiburan, tho ? Apa saja acara hiburannya ?”
“Ndangdut, ketoprak dan kalau si Sis dalang yang sekarang kerjo di Semarang itu pulang, ya wayangan apa, Pak.”
“Wah, kok hebat lho, bekas kampungmu itu, MisterLha, kalau desamu di Praci sana apa ya hebat Agustusannya ?”
“Wah, pancen kampung itu hebat kok persatuannya, Pak. Rukun. Lha, kalau desa saya di Praci itu ramenya baris-baris, sedekah, rebutan menek pokok jambe yang dilumuri gajih, slametan dan wayangan di kelurahan.”
“Terus kamu mau berangkat kapan ?”
“Ya, kalau pareng kami semua berangkat sore ini sehabis makan siang.”
Wee, lha, cotho aku. Mangka, Boy sak anak istrinya mau singgah di sini malam ini. Kalau mau nyuguh-nyuguh mereka, aku mesti bikinwedang sendiri, nih.”
“Lho, mas Boy mau rawuh, to? Wah, kasian Bapak kalau mesti repot sendiri. Lagi mas Boy sudah hampir lima tahun tidak mampir sini, nggih Pak ? Bapak mesti nyuguh mereka, gitu. Apa Nansiyem dan Beni biar di rumah saja, Pak ?”
Saya tersenyum. Untuk kesekian kalinya kagum akan kelihaian yang dilapis tata krama dari kepala staf saya itu. Hanya orang yang sudah berkultur tinggi yang bisa menerapkan teknik begitu. Tentu saja saya akan tidak tega membiarkan Nansiyem dan Beni bersedih di rumah membayangkan keramaian Agustusan di Blunyah. Edan apa ?!
“Huss, yang benar saja. Nggak. Kalian berangkat saja semua sore ini. Gampang, nanti mas Boy, biar dak ajak makan di luar saja.”
Beni Prakosa yang baru hampir tiga tahun umurnya tetapi punya daya tangkap konversi sama dengan orang dewasa, tiba-tiba berjingkrak ke luar dari balik pintu.
“Hole, hole. Kita naik jip ke Blunyah sama Bapak, sama Ibuk.”
“Huss, ora-ora. Jip mau dipakai Pak Ageng sendiri ..”
Sontoloyo !. Cilik-cilik sudah pinter pake kesempatan dalam kesempitan, lho …
Yang namanya Boy itu anak teman seperjuangan zaman ikut-ikut jadi TP (Tentara Pelajar) dulu. Mas Koen, demikian nama sahabatku itu, adalah pahlawan pasukan kami. Beraninya nggak ketulungan. Mosok siang hari bolong dia berani masuk sendirian ke Pasar Ngasem danngedrel satu jip Belanda yang lewat, lho. Lha, kalau saya ini TP bagian tempe. Belum-belum sudah dipanggil orang tua untuk masuk kota membantu jualan di Malioboro. Tetapi waktu perang selesai, Yogya sudah kembali, saya ketemu Mas Koen lagi di sekolah. Kami bersahabat. Dan Mas Koen tetap Mas Koen. Tidak sombong, tidak pernah membusungkan dada sebagai hero. Dan yang lebih penting bagi saya, tidak pernah ngenyek saya sebagai tepe tempe. Wajar saja. Juga di sekolah dan kemudian di universitas, Mas Koen adalah tetap seorang hero. Cemerlang dalam studi, cemerlang dalam organisasi. Tidak mengherankan bukan kalau dia kemudian meniti kariernya dengan sukses sekali. Kami masih berhubungan terus. Juga sesudah kawin-mawin. Tetapi yang namanya pekerjaan dan tempat tinggal tidak pernah terlalu ramah dengan pekerjaan kami. Kami semangkin jarang ketemu. Dari jauh saya memantau kesuksesannya dengan penuh kekaguman. Tahu-tahu saya mendapat kabar kalau Boy, anaknya yang dulu sering dak gendong-gendong, sudah punya keluarga, sudah menjadi kontraktor yang sukses. Wah, anak mosok ninggal lanjaran bapaknya …
Tiba-tiba saya melihat jip masuk rumah. Lho, jip kok suaranya angler sekali. Eh, Boy and family masuk dengan jip Mercedes. Kamireriungan. Boy tampak gagah, gede dhuwurhensem, bercambang lagi. Lha, istrinya, edaann, ayuu tenan. Mungkin gabungan Andi Meriem Matalatta dan Widyawati. Ayu lagi anggun. Dan anaknya yang baru satu itu, wahh, matanya bunder dan rambutnya kluwer-kluwer.
“Om, usul ini, Om. Soalnya waktu kami sedikit, mau  lanjut ke Malang malam ini juga. Mau ke rumah mertua.”
“Bagaimana sih, kamu itu. Baru ketemu lima menit sudah bilang mau berangkat lagi. Ya sudah. Mau usul apa ?”
“Kita puter-puter sekarang lihat Malioboro, lihat suasana Agustusan. Terus kita makan malam di restoran Siauw Ang. Itu kan restorannya Papi sama Om zaman dulu mahasiswa, to? Kata Papi yang istimewa nasi goreng dan pangsit gorengnya. Iya, to, Om ?”
“Lho, lha zaman kecilmu sering dibawa Papimu ke situ kok lupa. Ya masih enak. Lantas ?”
Lantas ya puter-puter aja sampai capek. Di restoran baru saya melihat jelas kalau pasangan muda itu tidak hanya kelihatan hensem dan ayu, tetapi juga mahal. Bajunya, sepatunya, jam tangannya bahkan baunya pun jelas mahal-mahal semua.
“Dengan anggaran lesu begini apa bisnismu bisa jalan terus, Boy ?”
“Seharusnya tidak. Tapi ya untungnya jadi anak pejabat, Om. Boy selalu ditolong Papi lolos tender dan pembayarannya juga berjalan mulus. Tapi, kami selalu saklek, business like, Om. Papi selalu dapat komisi dari kantor kami.”
“Ah, masa Boy. Papimu terima komisi ? Dari kamu ?”
Lha, iya. Ini wajar-wajar saja dalam bisnis, to, Om. Untuk sesuatu ada sesuatu …”
Saya tidak terlalu jelas lagi mendengar sambungannya. Yang terbayang adalah Mas Koen yang gagah, cemerlang dan bersih dulu. Bagaimana bisa? Saya baru sadar kembali waktu saya mendengar Boy menggerutu kepada pemilik restoran.
“Yaa, bagaimana restoran Yogya bisa maju. Masak restoran beken begini tidak mau terima credit card ..”
Di tangannya berenteng tiga atau empat credit card. Si Ong cuma terbengong-bengong mendengar gerutuan orang muda itu. Dengan jengkel Boy membongkar tas istrinya mengeluarkan tumpukan uang puluhan ribu. Dengan sekali sebat dihitungnya beberapa puluhan ribu kemudian dibayarkannya kepada engkoh yang masih agak panik itu. Kepanikan itu bertambah lagi waktu Boy membayar lagi sepuluh ribu rupiah sebagai uang tip kepada pemilik restoran yang malan itu. Dengan gagah Boy berkata di mobil.
“Sekali-kali kita bayar tip buat Cina, Om.”
Edann ! Boy, Boy …
Di rumah, waktu jip Mercedes itu pergi, aku masih ngungun. Di meja, jam Seiko diplipit emas hadiah Agustusan dari Boy saya biarkan terus tergeletak. Setidaknya untuk sementara.
Keesokan harinya, pukul 8 pagi saya dibangunkan oleh Beni Prakosa dari jendela,
“Meldeka, Pak Ageng, Meldeka …”
Tangan anak kecil itu dilambai-lambaikan, mukanya memancarkan kegembiraan anak yang sehat. Dari jendela juga saya melihat Mt. Rigen dan Mrs. Mansiyem Rigen mengerek bendera Merah Putih. Heran aku melihat mereka. Begitulah kelihatan segar, gembira. Tidak capek. Padahal semalam suntuk entah apa saja yang mereka lakukan di kampung Blunyah.
“Meldeka, Pak Ageng. Meldelaaa ….. “
Merdeka, Le. Merdeka Mr.Rigen, Merdeka Mrs Nansiyem.