Sunday, January 27, 2013

Memotret Tubuh Transparan

Kenapa tubuh kita tidak transparan saja, supaya otot, daging, pembuluh darah, tulang belulang, otak, dan segala macam 'jeroan' yang lain terlihat seterang- terangnya? Kita harus bersyukur. Kalau transparan, kita mungkin jadi sejenis monster yang mengerikan, menjijikkan, tak elok dipandang, bikin muak sekaligus mual, mematikan nafsu makan serta membunuh rangsangan yang lain-lain. Ketidaktransparanan ini mungkin jarang kita sadari, dan kita pikirkan. Apalagi kita syukuri. Kita menganggapnya biasa saja, karena sudah seperti itulah dari 'sono-nya'.
Beruntunglah bahwa foto sinar rontgen, kendati mampu 'menembus' kulit, hasilnya tidak sejelas foto berwarna yang diambil lewat kamera biasa atau ponsel. Kamera supermini yang bisa dimasukkan ke dalam usus pun juga belum mampu menghasilkan foto seindah aslinya. Juga banyak peralatan kedoteran yang canggih seperti CT-Scan terbatas kemampuannya. Berbagai kendala tersebut, sesungguhnya, menjadi semacam berkah karena piranti itu tidak sanggup 'memotret' seluruh bagian tubuh yang sejak semula harus tersembunyi.

Ketersembunyian yang ada dalam tubuh kita malah jadi hal yang menguntungkan. Lapisan kulit yang tipis itu menjadi tabir untuk menyembunyikan segala sesuatu di baliknya. Coba pikir. Seandainya lawan bicara kita tahu maksud tersembunyi yang ada di otak kita, apa yang akan terjadi? Kacau balau. Segala rencana, dan tipu muslihat jadi berantakan, gagal total. Kita batal mendapatkan untung besar. Maksud apa pun yang ada dalam pikiran atau hati kita jadi ketahuan semua. Tak ada lagi rahasia.

Mungkin itu sebabnya mengapa para pajabat, dan petugas tidak suka dengan transparansi. Hal-hal yang seharusnya terbuka malah mereka sembunyikan. Contoh. Pemerintah tidak transparan tentang langkah konkret yang akan dilakukan, untuk memaksa konglomerat hitam membayar utang dana BLBI ratusan triliun rupiah. Bank Indonesia terkesan tidak terbuka soal aliran dana ke DPR sebanyak Rp 31,5 miliar. Juga kucuran Rp 68,5 miliar untuk membantu menyelesaikan masalah hukum mantan pejabat BI. Aslim Ta djuddin, Deputi Gubernur BI, mengaku tidak tahu-menahu soal aliran dana itu. "Saya tidak tahu itu," tuturnya.

KETERSEMBUNYIAN ADALAH BERKAH BESAR MEMORI KITA MENYIMPAN SEKALIGUS MENYEMBUNYIKAN
Para ulama mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, "Apabila seseorang melakukan suatu dosa, maka dalam hatinya terpatri bintik hitam." Jika kita berumur 45 tahun, dihitung sejak akil balik, sudah berapa banyak jumlah noda hitam yang menempel? Sampai seberapa hitam pekat warna hati kita? Betapa sulit membersihkannya supaya hati kembali bersih, dan bersinar. Untunglah tubuh tidak transparan sehingga orang lain tidak tahu seberapa hitam warna hati kita.
Jika setiap maksiat memunculkan satu benjolan bernanah sebesar kelereng di permukaan kulit, alangkah mengerikan, dan menjijikkannya tubuh kita. Di mana-mana benjolan. Nyaris tak ada tersisa sedikit pun kulit yang mulus. Kita tidak tahu harus bagaimana lagi. Urat malu kita mungkin sudah putus. Benjolan itu tak bisa disembunyikan. Apa seluruh tubuh harus dibalut terpal tebal? Apa jadinya kalau 95% birokrat malu masuk kantor, 95°/o penegak hukum malu ke pengadilan, 95% polantas malu ke jalan, 95% dokter malu ke rumah sakit, 95% dosen malu ke kampus, 95% bankir malu ke bank, 95% petugas bea cukai malu periksa barang, 95% eksportir, dan importir malu ke pelabuhan, 95% pedagang malu ke pasar, 95% petugas pajak malu periksa faktur, 95% wartawan malu meliput? Ruwet, seperti benang kusut banget.

Ketersembunyian adalah berkah besar. Memori kita menyimpan sekaligus menyembunyikan. Pengalaman masa kecil, remaja, dan dewasa tersimpan rapat-rapat, yang baik maupun yang memuakkan. Kita hanya bisa memunculkannya di pikiran yang tak terlihat. Andaikata memori tersembunyi itu terlihat, bagaimana kita harus mencari-cari alasan? Bagaimana cara kita menerangkan hal-hal yang memalukan? Apa orang lain mau percaya? Apa anak buah masih mau menghormati kita? Apa pantas kita jadi teman yang baik?

Kita kalut. Kita pun diberi kemampuan untuk berbohong, berdusta, untuk menyembunyikan sesuatu. Bila diungkap, masalah itu mungkin membuat kita malu, ngeri bukan kepalang. Ketika ditanyai hakim di pengadilan, atau diinterogasi polisi, kita berusaha keras menyembunyikannya. Ketika fakta-fakta mulai diungkap, bukti-bukti diperlihatkan, kita juga masih ngotot mengingkarinya. Kita membantah dialog telepon yang direkam. "Itu bukan suara saya. Itu suara orang lain yang mirip," kita berkilah. "Itu bukan tandatangan saya." Yang lain lagi, "Saya tidak meracuni dia.", dan seterusnya. Yang benar adalah, "Itu suara saya. Itu tandatangan saya. Saya memang meracuni dia."

Kita tahu, semua ketersembunyian itu hanya sementara. Itu hanya di dunia yang fana ini. Para ulama mengatakan bahwa setelah Hari Kiamat tiba, maka seluruh umat manusia dari mulai zaman Nabi Adam hingga yang terakhir dikumpulkan bersama-sama. Mereka satu persatu akan ditanya tentang amal mereka selama di dunia. Tidak satu orang pun yang bisa berbohong, menyembunyikan apa pun, sekecil apa pun. Semua transparan. Apa saja, termasuk tubuh, dan pan- ca indra, bersaksi jujur. Mereka akan mengungkapkan apa adanya segala tingkah laku kita. Tidak ada suap menyuap. Kepada kita akan ditunjukkan daftar panjang amal-amal, yang baik maupun yang buruk, lengkap, dan terinci sekali. Kita tidak bisa menyangkal. Itulah potret utuh seutuh-utuh- nya seluruh tindakan kita.

Potret jepretan Direktur Utama BNI, Sigit Pramono, yang hobi-berat motret itu, memang bagus, artistik, dan mengundang decak. Beberapa kali dia berpameran tunggal. Tak jelas apa dia memotretnya pakai kamera saku, single lens reflect (SLR) yang lebih mahal seperti Canon, dan Nikon atau merk Mamiya, dan Hassellblad. Dia mahir mengatur komposisi, membidikkan kamera pada angle yang tepat, mencermati shutter speed, menyetel pencahayaan yang pas, lalu menjepret pada momen yang persis sehingga diperoleh foto yang luar biasa bagus. Mudah-mudahan foto kondisi hati kita sama indahnya seperti fotonya pak Dirut. Namun, untuk itu, kita harus memiliki 'kamera yang cocok', dan 'keterampilan teknis' sebagus dia sebagai prasyarat. Mampukah kita?

Dua kampiun fotografi, Troth Wells, dan Caspar Henderson, belum lama menerbitkan buku kumpulan foto mereka berjudul Our Fragile World: The beauty of a planet under pressure. Foto-foto mereka menyuguhkan lukisan gamblang tentang berbagai keindahan sekaligus kerusakan di muka bumi. Hasil pemotretan itu bagus sekali, tapi mengerikan. Yang terakhir ini agaknya cocok dengan potret kondisi jiwa, dan pikiran kita. Mengerikan. *