Sunday, January 27, 2013

Memantau Indeks Iman

Kegembiraan melingkupi bursa efek Jakarta. Segenap pialang, dan investor bersuka cita. Wajah mereka cerah, senyum mekar di mana-mana. Di lantai bursa, floor trader berdiri tegak bertepuk tangan panjang, seperti sedang melakukan standing ovation untuk menghormat para pemain yang baru saja mengakhiri konser musik klasik yang anggun di concert hall. Hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 2003,47, menembus 'batas psikologis' 2000 yang sudah lama ditunggu. "Bagus sekali," ujar pialang.
Sejumlah analis mengungkapkan bahwa indeks setinggi itu tercapai karena berbagi indikasi yang menggembirakan. Kinerja para emiten sangat bagus, ditandai dengan laporan keuangan mereka yang memamerkan keuntungan berlimpah. Fundamental perekonomian juga sangat baik. Indikator makro ekonomi tak kalah menyenangkan. Inflasi masih satu digit, angka pengangguran menurun, dan nilai tukar rupiah stabil. Dana dari luar negeri [hot money] membanjiri pasar modal. Pendek kata, orang-orang bursa optimis terhadap masa depan perekonomian yang membaik. "Kita tidak usah waswas," tutur analis meyakinkan.

Para investor selalu memerhatikan dengan saksama IHSG untuk memonitor pergerakan harga saham. Dengan begitu, mereka secara lebih cermat bisa memutuskan kapan mereka harus cepat melepas saham tertentu atau membeli saham lain dalam jumlah banyak. Mereka bisa memantaunya lewat monitor, melihat di berbagai situs Internet atau menelepon pialang mereka untuk mencermati naik turunnya IHSG. Me- leng sedikit saja, bisa-bisa, potensi keuntungan yang sudah mendekat di pelupuk mata akan lenyap seketika.

Begitulah enaknya kalau ada indeks. Memudahkan siapa saja untuk memantau. Turun naiknya amat jelas. Sayang seribu kali sayang, sampai detik ini, tidak ada indeks yang bisa memantau pergerakan iman kita. Dengan begitu, kita tidak bisa meneliti kondisi iman kita. Apa sedang bagus, tengah menuju puncak atau malah jeblok ke titik terendah. Kita menduga-duga tingkat keimanan kita sedang bagus-bagusnya. Padahal tanpa disadari sedang berada pada titik kritis.

"sesungguhnya hati itu berada di antara dua Jari-jari allah swt.. dia akan membolak- balikkan sekehendak-nya."

Kadar keimanan memang dapat naik turun seperti yoyo, yang dulu sering kita mainkan semasih anak-anak di kampung bersama kawan-kawan. Untuk memperjelas naik turunnya kondisi iman, para mubaligh menyalin Hadis bahwa Anas r.a. memberitahukan bahwa Nabi Muhammad Saw. senantiasa memperbanyak ucapan, "Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu." Lalu Anas r.a. bertanya, "Wahai Rasulullah aku beriman kepadamu, dan apa yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami (menjadi tidak beriman kembali)." Beliau menjawab, "Benar, sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari-jari Allah Swt.. Dia akan membolak-balikkan sekehendak-Nya."

Betapa mudahnya. Sedihnya lagi, kata ulama, meningkatkan kadar iman yang sungguh penting itu tidak cukup hanya dengan imbauan, nasehat, saran atau mendengarkan ceramah di televisi, dan di majelis taklim. Atau seruan, "Adik-adik mari kita tingkatkan iman, dan takwa kita." Kadar keimanan tersebut, lanjutnya, harus ditingkatkan dengan ibadah yang benar, dan tekun, dengan amalan-amalan yang nyata, dan perbuatan terpuji yang dikerjakan secara konsisten. Para ulama sering mengutip firman Allah Ta'ala dalam Kitab Suci, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?, dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Alkisah, seorang sufi, Abd Al-Aziz bin Abu Dawud, kapan saja dia berbaring nyaman di kasur, selalu berujar, "Betapa empuknya engkau. Namun kasur surga lebih empuk daripada kamu." Dia segera bangkit, dan shalat malam hingga terbit fajar. Hasan Al-Bashri, yang selalu shalat malam, berkata, "Hendaklah seseorang jangan meninggalkan ibadah malam karena dosa yang telah dia perbuat di waktu siang. Bertobatlah kepada Allah dengan ibadah malam." Mereka adalah contoh dari orang-orang beriman yang selalu beribadah dengan istiqamah. Situasi atau kondisi apa pun yang berpotensi menjadi kendala tidak mereka hiraukan. Mereka tekun.

Bagaimana kita? Betapa berat sembahyang malam. Itu adalah waktu yang paling enak buat tidur. Lebih-lebih bila siangnya kita lembur di kantor sampai menjelang isya, lelah tak terkira. Jika tadinya berniat shalat malam, dan sudah menyetel weker atau ponsel pada jam yang tepat, kita malas bangun kendati bel sudah meraung-raung. Kita matikan weker, kembali menarik selimut, lalu tertidur pulas. Bunyi adzan tak terdengar, kita terlambat shalat subuh. Suatu saat kita rajin berpuasa sunah Senin-Kamis. Beberapa bulan kita melakukannya dengan rajin, karena kita punya sejumlah keinginan, dan hasrat. Orang-orang di sekitar kita heran. "Tidak biasanya dia seperti itu," celetuk seorang teman. Tak lama, puasa sunah itu pun kita tinggalkan dengan sangat mudah. Kita malas melakukannya lagi. Kita menjalani rutinitas hidup seperti sedia kala, berbekal segala alasan yang memberatkan. Menjelang bulan puasa Ramadhan datang, kita merasa berat berpuasa karena banyak larangannya. Kita mengeluh.

Barangkali, dengan mengamati kelakuan kita dalam beribadah selama ini, secara kasar kita bisa menakar seberapa rendah kadar keimanan kita, dan naik turunnya. Mungkin saja kita tersadar, dan malu dengan anak kita. Kepada pe- minta-minta yang keriput, kita memberi uang receh yang paling kecil. "Itulah kadar keimanan kita," ujar seorang ulama. Kita beruntung karena tidak ada indeks iman. Kalau ada, kita tidak berani memantaunya. *