Sunday, January 27, 2013

Marah Marah Melulu

Marah itu mudah, saudaraku. Adakah manusia yang seumur hidupnya tidak pernah sekali pun memarahi? Namun, kata orang bijak, "marah yang terukur, yang tepat kadarnya, yang pas porsinya, yang dicetuskan pada saat yang tepat, dengan cara yang tepat, di tempat yang tepat," bukan perkara gampang. Itu adalah soal pelik bagaimana mengelola kemarahan. Agaknya sedikit saja jumlah orang yang sanggup mempraktikkan marah yang 'terpuji', marah yang 'benar'. Nyaris mustahil menemukan lembaga pendidikan yang mengajarkan kursus manajemen kemarahan.

Marah itu wajar. Oh ya? Teolog Islam terkemuka, yang juga sufi, Imam Al-Ghazali menyatakan, "Sifat marah itu wajar." Orang yang tidak mempunyai sifat marah, tuturnya, laksana keledai Dungu

"JIKA AMARAH MELAMPAUI BATAS WAJAR. MAKA AKAN LAHIR WATAK JAHAT, ANGKUH, KEBENCIAN, SIFAT PEMBERANG. TIDAK TOLERAN, KEJAM, TIDAK STABIL, KEPALSUAN, SOMBONG, DAN EGOIS."
Koran kecil di Denmark, yang memuat karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad Saw. pertengahan tahun 2006, menyulut kemarahan kaum muslimin di berbagai pelosok dunia. Mereka wajar marah, lantaran karikatur itu betul-betul merendahkan nabi junjungan mereka, suri teladan mereka.

Marah itu murah. Di kampus, di kantor, di pasar, tidak sulit menemukan orang-orang yang kerap kali mengobral kemarahannya. Hanya karena gelar doktornya tidak ditulis di undangan rapat, seseorang cepat naik pitam. "Nyari gelar itu susah. Sekolahnya mahal, goblok!" Cuma lantaran meja kerjanya ada secercah debu, orang sekantor kena semprot sang bos. Rentetan kata-kata keji, dan kasar meluncur cepat. Senggolan sekejap tanpa sengaja di sebuah mal saja sudah dapat membuat dua orang muda itu bergumul, baku pukul hingga babak belur.

Marah itu cinta. Inilah marah yang bijaksana dari sang ibu kepada anak-anak yang amat dicintainya. Marah yang tidak membuat tubuh anaknya tersakiti, yang hatinya tidak terluka, yang jiwanya tidak teraniaya. Yang menjadikan anaknya menerima, memahami, dan menyadari apa arti marah itu. Yang membebaskan anaknya dari dendam, rasa ingin membalas, dan bertindak bodoh. Anaknya lalu menjadi pribadi yang terpuji.
Marah itu mencerdaskan. Inilah keuntungan bagi korban yang mampu mengambil hikmah pemberi marah, la sanggup mencermati segi-segi positif substansi kemarahan, la mampu menepis hal-hal yang benar dari yang salah, yang baik dari yang buruk, yang membangun dari yang merusak, yang bermanfaat dari yang merugikan, yang utama dari remeh- temeh. Kemudian, ia mencernanya untuk kebaikan dirinya ke depan.

Marah itu perlu. Inilah marah yang proporsional. Marah untuk mencegah keburukan berlanjut. Marah kepada diri sendiri yang lalai, yang ceroboh, yang kelewat batas. Lalai dalam melaksanakan amanah. Ceroboh dalam beramal. Kelewat batas dalam banyak hal. Ini hasil introspeksi. Berkaca ke dalam diri, untuk mencari banyak ketidakpatutan yang masih saja melekat berkarat. Lantas, berniat kuat, dan berbuat keras untuk koreksi diri. Tahap demi tahap, kualitas dirinya bakal meningkat.

Marah itu nyaman. Barangkali, inilah kenikmatan pemarah. Dirinya merasa sangat lega, kalau seluruh gumpalan
beban yang menghimpit dada sudah 'ditembakkan' beruntun ke luar, ke siapa saja yang dekat. Boleh jadi, rasa nyamanlah yang secara terselubung menjadi alasan yang 'logis' orang tertentu untuk lekas 'meledak'. Psikolog yang baru buka praktik mungkin akan memberi rekomendasi kepada kliennya, "Silakan marah, kalau hal itu melegakan Anda." Kenyamanan yang mahal.

Marah itu api. la berkobar membakar hawa nafsu. Hati panas membara, wajah jadi merah padam. Ingatlah, sabda Rasulullah Saw., sesungguhnya "kemarahan adalah bara api dalam hati anak Adam." Nabi yang juga pernah marah itu menganjurkan, "Jika seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah dia berwudhu." Dengan siraman air yang sejuk, dan bening, niscaya api yang membara itu akan meredup.

Marah itu merusak. Dia mencederai hati, dan perasaan korbannya. Dia mengoyak persahabatan. Dia menumbuhkan dendam berkepanjangan. Dia memecah kerukunan. Di satu dusun yang sunyi di Tegal, belasan rumah porak-poranda, dibakar, dan dihancurkan dua kelompok pemuda berseteru yang diliputi kemarahan. Api membakar hangus tempat tinggal itu, membakar dada para pemuda dengan gemuruh yang menyesakkan.

Marah itu kontra-produktif. Tidak ada solusi terbaik yang dirumuskan dengan marah-marah. Kemarahan hanya menambah kisruh. Apakah perintah George W. Bush yang sedang marah untuk menghancurkan Afghshistan adalah solusi tepat untuk melawan terorisme? Perang Vietnam, yang penuh dengan kemarahan, terbukti bukan jalan keluar yang produktif, dan efektif uituk membendung meluasnya pengaruh komunisme.

Marah itu barometer ia menjadi tolok ukur yang sahih, sejauh mana orang mencapai tahapan akhlak tertentu. Dia menjadi pembeda antara orang yang berakhlak mulia, dan rendah, antara si pemberang dengan sang penyabar, antara yang mudah mengumbar, dayang mampu mengekang. Dia ikut berperan menentukan kualitas pribadi seseorang. Intensitasnya bagaikan peluit wasit di lapangan sepak bola yang riuh.

Seorang guru sufi, Najm Al-Din, mengingatkan kita, "Jika amarah melampaui batas wajar, maka akan lahir watak jahat, angkuh, kebencian, sifat pemberang, tidak toleran, kejam, tidak stabil, kepalsuan, sombong, dan egois."

Bagaimana bentuk marah yang sungguh 'benar' agaknya menjadi persoalan yang sedikit rumit. Sejak masa kanak- kanak, seseorang jarang diajari bagaimana marah secara 'benar'. Yang umum didengar adalah nasihat klise, "Jangan gampang marah." Seperti apa gerangan marah yang produktif, yang berkualitas, yang konstruktif, yang efektif, yang mencerahkan? Tak usah marah-marah kalau kita belum menemukannya. *