Wednesday, January 30, 2013

Majelis Zikir


Shalat Ashar berjamaah baru saja berlangsung di Masjid Nabawi. Biasanya, setelah itu Rasulullah saw dan para sahabat akan lama berzikir dan berdoa. Namun, di hari itu, begitu mengucapkan salam, Nabi lang­sung berdiri lalu, dengan tergesa-gesa, melangkahi pundak jamaah untuk menuju rumah beliau yang menyatu dengan masjid.

Beberapa saat berlalu, Nabi kembali. Melihat ke­heranan jamaah di depannya, Rasulullah bersabda, "Aku teringat ada beberapa batang emas di tangan kami. Aku tak suka terus memikirkannya, sehingga kusuruh segera dibagikan saja kepada yang berhak." (HR Bukhari).

Kisah ini memberi dua hikmah. Pertama, Nabi selalu membagikan titipan kepadanya, yakni zakat, sesegera mungkin. Beliau enggan menundanya meski semalam, atau membiarkan hak rakyat menumpuk di kas negara, semen­tara masih banyak fakir miskin di sekelilingnya. Kedua, setinggi apa pun pahala berzikir, itu tetaplah amalan sun- nat. Kewajiban harus didahulukan dan mustahil diganti dengan amalan sunnat sebanyak apa pun. Sebagai misal, dalam shalat subuh, bila seseorang terlambat bangun, dia harus tetap mengerjakannya saat terjaga. Shalat dhuha tidak bisa menggantikannya.

Sayangnya, banyak manusia tidak meneladani secara kaffah 'total' perjalanan hidup Nabi. Mereka memang giat berzikir, sesuatu yang sangat dianjurkan, bahkan tahan berjam-jam dalam majelis yang khusus dibuat untuk itu. Namun, mereka melalaikan begitu banyak kewajiban.

Padahal, makin banyak umat Islam yang gagal me­menuhi kebutuhan hidup.Yang lemah iman menjadi tergo­da gerakan misionaris hingga berpindah agama. Sayang­nya pula, dana badan amil zakat menumpuk hingga bermiliar rupiah. Pertanggungjawaban penyaluran minim, bahkan sangat mungkin diselewengkan justru oleh orang- orang yang sanggup berjam-jam berzikir dan berdoa seusai shalat.

Ada kesan mereka tertimpa wahn 'cinta dunia dan takut mati', sehingga memilih aktivitas yang tidak dimusuhi kaum kafir. Padahal, hanya menambah kemakmuran rak­yat lewat penyegeraan pembagian zakat, Nabi saja lang­sung meninggalkan zikir, doa, dan shalat rawatib.

Apalagi, untuk menyelamatkan nyawa dan aqidah ra­tusan jutaumat Islam, tentu lebih besar dan mendesak lagi pelaksanaan kewajiban itu.