Wednesday, January 30, 2013

Lebih Hina dari Bangkai


Suatu hari Nabi Muhammad saw berjalan-jalan di pasar, diikuti banyak orang. Di tengah jalan, ia meli­hat bangkai seekor anak kambing yang daun teli­nganya kecil. Nabi menghampiri lalu mengangkatnya ser­aya bertanya, "Siapa yang mau membelinya?" Massa men­jawab, "Kami tidak mau, tidak ada manfaatnya bagi kami."

"Kalau diberi gratis, apakah kalian mau?"
"Bahkan, bila kambing itu masih hidup, kami juga me­nolaknya karena telinganya cacat. Apalagi sekarang anak kambing itu sudah jadi bangkai." Mendengar itu Nabi ber­sabda, "Demi Allah, sesungguhnya dalam pandangan Allah, dunia lebih hina daripada bangkai ini menurut anggapan kalian." (HR Muslim)

Ini wajar karena bangkai tak lagi berbahaya. Bangkai pun tak kuasa menggoda dan menyesatkan orang hingga saling menganiaya. Bangkai siapa pun atau hewan apa pun takkan bisa menggunjing dan memfitnah. Sebaliknya, isi dunia bisa mengawali penghancuran manusia oleh per­adaban imperialisme beberapa negara. Karena muatan pe­rut bumi, seperti tambang minyak atau emas, penganiayaan hingga pembantaian ribuan orang masih terjadi hingga kini.

Selain itu, kemampuan meraih nikmat dunia dijadikan kriteria kesuksesan sehingga ditirulah peradaban negara atau orang yang paling mampu meraih nikmat fisik dunia. Ukuran sejati kemanusiaan, yakni ketakwaan dan kelu­huran akhlak, tersingkirkan. Padahal, itulah standar pe­nilaian Allah.

"Jangan sekalipun kamu teperdaya akan kebebasan orang-orang kafir bergerak (karena kekayaan dan kema­juan ekonominya) di dalam negeri. Itu hanyalah kesenan­gan sementara, selanjutnya tempat tinggal mereka ialah neraka Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk- buruknya tempat tinggal." (QS 3:196-197).

Sabda Nabi di awal tulisan ini hendaknya menyadark­an mereka yang selama ini terlalu memuliakan dunia. Tak jarang harta atau jabatan seseorang dijadikan standar ke­muliaan. Akibatnya, bukan cuma saat berbisnis atau mua­malah lain, bahkan dalam dakwah sekalipun, kerap muncul keengganan mengakui kebenaran dakwah orang- orang yang lebih miskin daripada yang didakwahi. Jadi, tinggalkanlah penilaian kemuliaan atau kebenaran pada diri seseorang yang didasari ukuran keduniaan.