Tuesday, January 22, 2013

Kredit PBB


PERKAWINAN  yang  harmonis itu  konon   tidak usah   berarti   mesti  nir-cekcok,   nir- besungutan, nir-bekot-bekotan,  bahkan   nir-jothakan. Tidak, Justru yang saya deretkan dengan  nir-nir tadi itu unsur  penting  dalam  harmoni! perkawinan, kata para   resi  dan   begawan.  Memang   paradoksal   kelihatannya. Wong harmoni  kok tidak boleh tidak mengandung anasir perpecahan. Bahkan katanya  yang dikira  unsur  perpecahan itu suatu syarat  mutlak.  Mutlak. Tanpa yang waton sulaya itu katanya  perkawinan akan  semangkin  hambar,  semangkin datar. Ora lucu.. Oranges. Kata sang resi lagi, sehabis cekcok atau purik perkawinan itu jadi semangkin  rukun, seimbang. Karena sesudah  damai  turun  di bumi, ibarat  bumi sehabis diguyur air hujan, suasana jadi adem dan tenteram. Sang suami dan sang istri senyumnya akan  semangkin  renyah.  We-eh. Kalau saya lihat perkawinan Mister Rigen dan Ms. Nansiyem itu boleh dikatakan  harmonis juga. Memang  tidak  terlalu banyak  mengandung unsur-unsur sulaya itu, tapi toh  betul  juga sehabis gesrekan  itu eh jadi semangkin rukun.
Misalnya, peristiwa  Ms. Nansiyem  setiap pagi menghilang karena ikut senam pagi, kemudian  waktu  uang Ms. Nansiyem  katut  kas PBB dan  PJJ tempo  hari. Ning sesudah  itu teratasi  eh rukunnya  dua suami­istri itu seperti  Kamajaya dan Ratih tenan. Bolehnya  ngendon di  kamar   belakang   semangkin  lama.  Bolehnya   menyuruh anak-anaknya main-main di luar diperlama ....
"Gen, Aku  kok  sudah   lama  nggak  lihat  istrimu  ikut  reriungan di sini. Lagi sakit apa?"
"Ah,.tidak kok, Pak. Ya lagi wegah saja."
"Wegah? Ngobrol sama  kita itu wegah? Nonton  ketoprak  di tivi juga wegah?'
"Ya tidak to, Pak. Mosok ngobrol sama Bapak  wegah Mister  Rigen  kelihatan   alot  mau  menjawab   pertanyaan saya.
"Ada apa  sih antara kalian berdua?  Pasti baru  besungutan ya kalian?"
"Ah, mboten kok, Pak."
"Mbel, bohong. Wong buktinya masakan  kalian pada anyep semua  akhir-akhir ini. Cucian kalian  juga tidak  bersih  dan harum. Hayo!"
Mister Rigen meringis. Meringisnya orang kena touche!
''Ayo! Binimu panggil masuk sini. Aku tidak mau stafku pada bentrok.  Itu mengganggu kestabilan. Kalau mendadra bisa disusupi agen subversi. Bisa ditunggangi  pihak ketiga atau keempat kelima dan embuh. Ayo panggil"
Saya kaget dan kagum sendiri mendengar suara saya yang penuh  dengan  wibawa. Dalam keadaan  kritis memang  state manship, kenegarawanan, saya otomatis akan  muncul ke permukaan. Maka, beware ....
Ms.  Nansiyem   pun  masuk   diikuti  precil-precilnya  yang nampak   sudah   siap  mau   tidur.  Seperti   biasa,  wanita  dari Jatisrono itu, duduk tunduk  kemalu-maluan seliap kali harus duduk di hadapan saya.
"Duduk Yem. Ada apa, ada apa antara  kalian berdua? Mbok orang  ber-bojo-an  yang  rukun.  Suamimu   main  setongkling apa? Wis, matura yang bares. Jangan takut, yang terus terang saja, ya?':
Ms. Nansiyem setengah mendongakkan kepalanya. Mulutnya kecemat-kecemut mencoba  menyunggingkan senyum. Mungkin  senyum   begitu  yang  bertahun-tahun lalu pernah menggugurkan pertahanan  Mister Rigen. Mungkin  itu yang oleh anak  muda sekarang yang disebut senyum  imut-imut.
"Begini lho, Pak . . .."
"Wis matur saja, Bu. Bilang terus terang sama Bapak." Kemudian saya melihat  Ms. Nansiyem mengumpulkan kekuatannya.
"Begini lho, pak..."
"Lho, kok begini·melulu! Matur, matur, Bu ...."
"Iyo, iyo. Begini lho, Pak. Saya itu rak anyel, jengkel sama bapaknya thole-thole itu. Uang tabungan saya itu diobral sama teman-temannya. Terutama·sama   babu-babu  yang  peduk­peduk dan menor-menor itu."
"Lho, lho, Bu. Jangan  belum-belum  prikik dan  propakasi lho, Bu."
"Ya biarin. Wis ben, to. Nyatanya begitu."
"Ora, Yem. Uangmu diobral itu artinya apa? Lakimu nyebar duit sama kolega-kolegamu pembantu atau bagaimana?"
"Ya, bukan nyebar begitu, Pak. Itu paribasan-nya. Mulanya si Ginah pembantu  Prop. Lemahamba itu datang, sambat sama Mas Rigen butuh uang buat nyicilkan Dagangan kain ke Praci.
Terus begitu saja dia kasih dari tabungan kita. Padahal kita kan butuh uang sendiri buat jaga-jaga kalau kas kita inplasi."
"lnplasi. Wong  begini lho,- Pak. Saya itu  rak kedatangan Ginah itu membawa surat dari Prop. Lemahamba yang isinya supaya  saya  bisa nulung, Ginah  itu  membawa  koleha  dari Praci. Lha, Prop. Lemahamba itu rak bukan orang lain to, Pak. Sahabat Bapak, Prop., penting, kondang  kaloka sak indenging bawana. Apa saya uwong cilik terima surat dari beliau itu tidak gemetar  dan  nggregeli to, Pak. Langsung saja saya perintah ibune anak anak itu. Wis, bune, keluarkan uang itu."
"Dan itu tidak berhenti  di situ saja. Mbakyu-mbakyu lain, semua  peduk  dan  kemayu, habis  itu  gantian  berdatangan. Semua pakai surat dari bos-bosnya sendiri-sendiri. Dan semua dituruti Mas Rigen. Kayak uangnya itu uangnya sendiri. Uang itu rak uang kita to, Pak. Tabungan bersama. Bahkan sesungguhnya  juga uang anak-anak. Wong itu juga untuk jaga-jaga keperluan mereka."
"Lha, pripun,. Pak. Semua  mbakyu-mbakyu  itu, tidak semuanya peduk dan menor lho, Paak ...."
"Ning Yu Ginah dan Yu Dadap itu rak menor dan  peduk dan ndengguk, susunya ...."
Saya  kaget  bukan  kepalang  mendengar   terkaman   Ms. Nansiyem. Perempuan  tan kena dikira ....
"Heisy, heisy, setop dulu. Setop!"
Dua orang itu lantas diam. Kelihatan malu.
"Enggak, Yem, Gen. Surat-surat sakti yang kalian terima itu dari siapa saja."
"Ya semuanya  dari koleha-koleha Bapak itu. Prop-prop semua itu ...."
Mati aku, pikirku. Mosok prop-prop itu tega bikin kucemnya, bikin redupnya, cahaya, wibawa dan aura  kadewatan Jonggring  Nggajah Mada dengan berlomba kirim surat sakti? Dan itu kredit buat apa? Buat kutang, buat baju bayi, buat kain Pekalongan, buat kebaya, hem Korpri, buat kosmetik Viva. Mati aku.
Ms. Nansiyem kemudian menunjukkan daftar kredit macet koleha-kolehanya  yang peduk dan menor itu. Wah, ada kalau tujuh saja. Dan semuanya  pakai surat sakti. Yang saya tidak habis pikir, idola saya Prof. Dr. Lemahamba Ph.D., M.A., M.sC., Drs., SMA, SMP, SD cijfer twee van Ngrambe, yang mobilnya BMW hijau  muda  metallic,  itu  kok  ya sempat-sempatnya, tega-teganya,  tulis surat sakti kepada bank batur-batur saya. Apa dunia sudah mulai menjomplang?
"Wis, sana. Saya sudah tahu persoalannya. Saya yang akan bantu  atasi.  Ning  kamu  berdua  harus  rukun  kembali. Dan Rigen kainu harus tidak takut lagi sama surat sakti dari mana itu datang. Janji?"
Dua staf  itu dengan  diiringi precil-precil yang  tidak  juga ngeh persolan bapak-ibunya” pada bergerak ke dalam.
"Janji ya, Gen. Tidak takut lagi?"
"Ing-ing-inggih janji ...." ·
Saya ngunandika : apa ya berani betul dia nolak surat sakti. Apa ya berani betul saya menolak surat sakti kalau satu waktu saya menerima. 
Radio tetangga  mengeluarkan suara : tanah airku Indonesia, negeri elok amat  kucinta .... Eh, RRI sudah selesai.

15 Februari 1994