Sunday, January 13, 2013

Korpri Sugih Tanpa Banda


Sejak saya pulang dari pertapaan sebulan lamanya di jakarta, saya melihat Mister Rigen kelihatan Iebih alon alon, sopan, dan penuh  pengertian bolehnya  meladeni saya. Service-nya agak  kelihatan   extra-courteous dan extra-elegant,  dan bahkan  extra-precarious. Saya jadiagak risih dibikinnya. Merasa seperti diperlakukan bagai porselen  jaman Dinasti Ming yang muahal dan gampangpecah  itu. Orang je, disamakno dengan barang pecah-belah.  Meskipun  pecah-belahnya Dinasti Ming. Dengan sigap dan tangkas  dan efisien dia laksanakan instruksi Bu Ageng tentang  bagaimana mulai sekarang mesti mengatur  dan memasak  diet ketat. Kemudian, dengan efisiensi yang penuh gaya, stylish, dia akan menyiapkan makan saya bagai pelayan di sebuah restoran yang. canggih "Begitu

1
 
sedikiit begitu nak-nik, jumlah makanan  yang ditaruh dalam piring-piring  kecil di meja makan saya. Seperti  restoran-restoran tradisional  yang  mahal  di Kyoto  yang menyajikan lauk-pauk  itu begitu  mengerikan  indahnya,  tapi  juga begitu sedikitnya. Dan cara  Mister Rigen menyajikannya pun sekarang kehilangan  touch-nya  yang kerakyatan. Yang brak brek sak sukanya. Pokoknya  efektif. Betul-betul filsafat wong cilik yang  pokoknya itu. Sekarang, tiba-tiba dia  menjadi  priyayi yang sangat mementingkan elegance,  yang canggih,  yang apik Edaan ......

"Gen, Gen. Kamu tahu enggak?"
"Mboten."Lha, punapa, to?"
"Kamu itu sekarang kok bolehnya sadis sama saya!"
"Elho, sadis bagaimana to, Pak!!"

"Lha, orang   meger-meger, ceta  wela-wela, jelas bagaikan tugu  nasional  begini  kok  kamu  perlakukan sebagai  piring sama mangkok Dinasti Ming itu, priye?"

Mister Rigen tertawa ngakak hilang sudah  pulasan dan sentuhan  aristokrasinya. Kembalilah  dia  ke  asal-usulnya di Pracimantara. Dan itu membuat saya lega. Mungkin dengan begitu  roso minder  saya  jadi hilang, Takut  tersaing  dengan perkembangan kehalusannya.

"Panjenengan itu risih dan anyel to, Pak?"
"Ha iya, dong. Wong aku itu sudah  prihatin harus makan cimik-cimik  kayak  kucing,  mana   hambar   lagi, kamu main ketoprakan di depan saya. Siapa-yang tidak anyel ?" "Lha, saya  mohon seribu ampun  kalau begitu, Pak. Maks.ud saya  itu  menghibur   Bapak; Meringankan beban   roso diet Bapak ..... "

Saya  kemudian   tidak  meneruskan  lagi  grundelan saya. Saya lantas pindah ke tikar, membalikkan badan saya, mengambil posisi siap untuk  dipijit dirjen saya itu. Sang dirjen pun tanggap dengan perubahan posisi saya itu. Dia pun  dengan sentuhan profesionalnya  yang sudah  begitu saya kenal mulai meng-enyet-enyet  tubuh  saya yang selalu siap Ielah. Teve hidup,  tapi   volume  direndahkan,  karena  acaranya   di  mana­ mana  pidato melulu. Mending kalau tampang  pejabatnya  cakep.
lni ... Sunyi pun semangkin terasa.

"Pak, Pak."
"Huh?"
"Gaji panjenengan  kok  tidak  dinaikkan – itu pripun to, Pak?"
"Ha, embuh, Gen.”
"Lho, kok embuh. Propesor kok embuh."
"Lha, memang  propesor embuh kok  Sudah,  lanjutkan pijetanmu!"

Saya dengar  senyumnya  yang  nggleges, yang meskipun tidak berbunyi tapi bisa jelas saya bayangkan.
"Saya  juga  tidak  mudeng·  katanya menteri yang bilang pegawai negeri senajan tidak naik gajinya tidak boleh nyambi cari makan di tempat lain itu, Pak."

Saya yang sesungguhnya  sudan  anyel,  kemropok lebih dahulu dari dirjen saya itu  semangkin  jengkel diingatkan  dirjen saya itu.

"Saya juga tidak mudeng kok, Gen. Awas kowe, kalau kamu lantas bilang propesor  kok tidak mudeng tak  kick dua belas pas kowe!"

“hi-hiik. Bos anyel tenan ini.”
Saya tidak menanggapi hi-hi-hiik.,nya yang khas Praci itu. Soalnya, saya lantas ingat gaya  Mister Rigen yang beberapa hari terakhir ini ber elegan-ria  gaya  priyayi. untuk apa semanya itu sesungguhnya ? Apa betul seperti yang dia bilang, semua itu untuk menghibur saya, untuk meringankan penderitaan beban. diet saya? Ah, mungkin tidak! Meskipun fungsi Rigen itu  kadang-kadang seperti Petruk dalam pewayangan;
 kadang-kadang·dia  berfungsi  juga seperti  Semar. Yang me·-nunjukkan  jalan secara tersamar. Weh, lha - dalah.

Gaya kenes elegan yang dibuat buat Mister Rigen itu ternyata sasmita kepada kita kaum Korpri untuk tidak segan-segan mencari jalan yang krea.tif  untuk mencari jalan keluar dari keprihatinan  gaji yang bakal tidak naik. Sing nrimo ing pandum!.  Berbahagialah dalam menerima pembagian!

Listrik ·akan naik. Ledeng akan naik. Karcis kereta api dan bis akan naik  Minyak akan naik. Yo wis ben! Biarin!. Yang penting kreatif, sekali lagi kreatif.·

Gaji pegawai negeri sipil tidak naik? Tidak apa! Kita· kaum Korpri adalah kaum yang selalu sugih tanpa banda. Kaya tanpa harta. Kaya ning ora nduwe harta. Gaji tidak naik? Hora apa apa! Gaji tidak .. .'..

11 Januari 1994