Sunday, January 27, 2013

KLELAR, KLELER NING EFEKTIF

SORE itu sehabis buka Mister Rigen, seperti biasa, duduk nglaras di tikar di depan teve. Memakai sarung kotak-kotak dan entah kenapa, selama bulan puasa ini beliau sering memakai surjan lurik. Mungkin karena akhir-akhir ini pada musim hujan yang begini meng-anyel-kan, hawa itu agak adem juga buat beliau. Yang agak mengherankan, orang yang begitu fanatik Pracimantara dan Sala kok enak juga memakai surjan Ngayogya yang menjadi keindahan jagad. Saya selalu mengira yang hadi dan adi sak rat atau jagad semesta itu cuma Surakarta buat dirjen saya itu. Eh, ternyata jas yang aneh itu dia senangi juga.
"Gen, kamu kok akhir-akhir ini suka banget pake surjan. Biasanya apa-apa yang bau Yogya itu kamu enyek. Kok sekarang bolehnya katrem marem enak pake surjan."
"Yak, ya tidak to Pak kalau saya selalu ngenyek apa-apa yang mambu Yoja. Wong sama-sama trah Mentaram lho, Pak."
"Yak, siapa yang tempo hari itu bilang jas Yoja itu kegagahan kalo disebut surjan. Pantesnya jas sogok-upil. Ujung jas yang runcing itu rak menurut kamu fungsinya buat nyogok upil, to? Hayo!" Mister Rigen tertawa nggleges.
"Oh, Allah, Paak. Wong cuma buat bergurau saja, lho. Wong Sala sama wong Yoja itu kalau tidak enyek-mengenyek tidak marem. Tak puas. Niku rak tandanya tresna to, Pak. Seperti orang bersaudara. Wong sama-sama turunan Mentaram. Kalo tidak saling mengece malah tidak raket, supaket, hangat gitu. Makanya bal-balan ya enyek-enyekan. Mondolan blangkon ya kita pakai enyek-enyekan. Iket Wong Yoja diseseli endog-asin.
Lihat iket wong Sala keplenet sepur makanya tidak benjol. Orang Sala bilang: antri tuku, beli, minyak tanah. Wong Yoja bilang: urut lenga mambu. Oh, wong Yoja, wong Yoja, mau urut badan saja kok pake minyak yang bau"
"Lha, lha, lha. Begitu itu tidak ngenyek wong Yoja to kamu?"
"Mboten, Pak. Ini guyon persaudaraan. Tidak ada yang marah, apalagi gontokan. Paling cuma saling senyum kecut. Ning terus rukun. Lho, sae to, Pak."
Saya lantas membayangkan jaman kecil saya di tahun-tahun tiga puluh dan empat puluhan. Yang disebut sebagai ejek- mengejek persaudaraan Sala-Yogya itu selalu berakhir dengan perkelahian betul. Ejek-mengejek atau nyek-nyekan itu selalu ditutup dengan jotosan. Ning ya tidak seperti gontokannya anak-anak sekolah sekarang. Kroyokan, pake senjata rante, blati, dan entah apa lagi. Jaman dulu berkelahi mesti satu lawan satu. Meskipun kadang-kadang juga jadi berkelahi kroyokan juga. Tapi, jarang pakai senjata yang aneh-aneh. Jaman dulu mungkin dunia pewayangan masih dekat betul dengan kehidupan kita. Kalau mau berkelahi mesti saling tantang-tantangan. Mungkin mirip adegan wayang wong atau wayang kulit. Kadang mirip adegan perang gagal, mungkin juga adegan perang bambangan Abimanyu versus Mister Cakil.

Saya tidak tahu tema perkelahian jaman sekarang. Barangkali cuma srempetan Honda Bebek atau saling mentheleng begitu mungkin mereka membayangkan jadi jagoan kungfu ketemu jagoan shaolin lain. Atau Clint Eastwood ketemu Ro- bert Redford begitu. Adu ngganteng. Kakinya lantas dipeng- korkan, jalannya jadi renggunuk-renggunuk. Terus sesudah dekat plak, plak! Lho konconya terus suiit(!), mak-brubul pada grudugan sembari meng-obert-abit-kan rante. Mungkin fantasinya membayangkan jadi wadyabala-nya Arnold Schwarze- negger. Ning, temanya itu, lho. Tema anak sekarang itu, lho. Kayaknya tidak jelas. Pokoknya tawur. Wong tawur kok mikir tema. Saya lupa kalau jaman sekarang adalah jaman pokoke. Tawur ya tawur, Om. Lha, dulu itu tema itu penting, Le. Tema itu yang kemudian menjalin, merajut ceritera perkelahian.
Tema mondolan endog versus keplenet kellndes sepur Lempu- yangan baru langsir itu penting untuk membangun kerangka ceritera. Dan tantang-tantangannya orang Sala lawan orang Yogya itu kadang dilaksanakan dengan basa Jawa krama madya. Apa tidak elok? Kira-kira dialog itu akan begini.
"Lha, ketimbang sampeyan! Mondolan sampeyan keseselan endog asin mambu. Pripun?'
"Elho, ngenyek nggih sampeyan? Lha, ketimbang mondolan sampeyan cemet, gepeng, keplenet sepur Lempuyangan langsir. Wih, pripun7'
Dan tantang-tantangan itu bisa berlangsung sampai setengah jam bahkan kadang lebih lama. Baru mereka panas trus berkelahi. Berkelahinya pun elegan: Tidak bat-bet sadis seperti sekarang. Jaman itu belum ada kungfu, shaolin, tai-chi, merpati putih, gagak-item, emprit-soklat, prenjak-kuning, pencak setrum, dan lain-lain aneh-anehan seperti itu. Memang ada pencak. Dan semuanya belajar pencak. Tapi, pencak jaman dulu pake irama. Irama kroncong. Karena, kalau latihan atau show jurus-jurus pencak tidak mantep kalau tidak diiringi kroncong. Kencrung, kencrung, kencrung. Maka waktu berkelahi beneran, irama sudah mendarah-mendaging dalam benak para jagoan itu. Di otak dan telinganya selalu kedengaran lagu Stambul Dua dengan piul yang meliyuk-liyuk itu. Ngik, ngik, ngik, ngik, ngiiik, i-iiik ... Tapi, sesungguhnya jiwa perkelahian itu jiwa perang tanding bambangan dalam wayang wong. Ma- kanya Cakil itu selalu pencak. Dan Abimanyu geraknya halus, tapi kalau menempeleng mak-cleng karena saya kira pakai tenaga dalam. Alon, klelar-kleler tapi jus(!) efektif! Ya, itulah ideal model efektivitas wong Jawa. Klelar, kleler, ning efektif. Cuma sekarang jadi: klelar, kleler ning hora efektif. Soalnya mungkin, wdng Jawa sekarang klelar, kleler tidak pakai tenaga dalam. Ha kacau. "Ngerti enggak kamu, Gen. Filsafat perkelahian jaman dulu."
Mister Rigen melipat koran yang dibacanya menunjuk gambar tokoh Bapindo. "Ning, kalau beliau ini kayaknya klelar, kleler kok efektif, Pak. Masih tau tenaga dalam, nggih?'
Saya diam kalau Mister Rigen mulai sengak begitu. Soalnya, itu wong cilik yang mulai mau unjuk tenaga dalam. Klelar, keleler ning

8 Maret 1994