Friday, January 25, 2013

Khaulah binti tsa’labah


Ia adalah wanita yang fasih lisannya, indah tutur katanya. Di kalangan wanita, ia termasuk orang yang disegani  karena ketegasannya. Khaulah juga termasuk wanita berkecukupan ekonomi. Ia bahkan sering berinfak kepada suaminya yang relatif miskin. Semua itu ia jalani karena mengharap ridha Allah semata.

Suaminya adalah Aus bin Shamit, saudara Ubadah bin Shamit. Suaminya adalah pahlawan dua perang pertama, Badar dan Uhud serta peperangan lainnya bersama Rasulullah Ia termasuk tokoh atau setidaknya sahabat senior. Loyalitasnya terhadap Allah dan Rasulnya tidak diragukan lagi. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai seorang putra, Ar-Rabi'.

Laiknya bahtera rumah tangga kebanyakan, kerikil senantiasa ada. Terkadang tidak hanya berupa kerikil-kerikil kecil yang mengganggu suasana rumah tangga, bahkan batu besar sekalipun biasa pula terjadi. Barangkali logika kedua lebih tepat kita sandarkan kepada kasus yang dialami keluarga Khaulah.

Suatu ketika, perselisihan Khaulah dengan suaminya memuncak. Entah apa sebabnya hingga sedemikian benci Aus kepada istrinya ini. Meski Aus bin Shamit termasuk salah satu Syuyukh Badar, namun tidak berarti orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah maksum. Tidak, yang namanya manusia, ada saja celah kelemahannya. Aus marah. Dalam kemarahannya, ia men-zhihar istrinya. "Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku."

Setelah mengucapkan kalimat mungkar ini, Aus pergi menuju perkumpulan sahabat-sahabatnya, la ikut terlibat perbincangan dengan para sahabat dalam majelis itu. Tak lama berselang, rasa ingin mengumpuli istri mengusiknya. Ia pulang untuk menunaikan hajat khususnya ini.

Sesampainya di rumah, ia menyampaikan hasratnya kepada Khaulah dengan nada lembut. Seakan tak pernah terjadi insiden beberapa menit ke belakang. Ternyata rayuan Aus yang biasanya langsung membangkitkan kewanitaan Khaulah, kali ini tidak mempan. Khaulah menolak. Ia enggan melayani suaminya sebelum ia mengetahui hukum Allah yang berkaitan dengan perkataan suaminya tadi.

"Tidak. Demi Dzat yang jiwa Khaulah ada dalam kekuasaannya, jangan engkau menyentuhku sampai Allah dan rasulnya menghukumi soal ini. Engkau tadi telah mengucapkan perkataan mungkar."