Monday, January 28, 2013

HALAL BIHALAL

WAKTU minggu yang lalu saya menghadiri halal bihalal kantor kami, terasa benar bagaimana absurd upacara itu. Warga yang jumlahnya ratusan itu berbaris, melingkar bagaikan ular sawah untuk saling menyalami dan menggrendengkan kalimat: minalaidin walfaizin. Pada waktu kita baru menyalami lima sampai sepuluh orang, minalaidin walfaizin itu masih jelas kedengaran. Tetapi, pada salam yang ke-13 atau ke-15 begitu, kalimat dalam bahasa Arab itu mulai meng-grontol. Yang kedengaran jelas minal- aidin-nya selebihnya hanya merupakan gumam yang mulai tidak jelas. Tetapi senyum, artinya pertunjukan gigi, tetap nampak dengan simpatiknya. Hanya suara yang keluar'dari mulut itu, lho! Sesudah cuma minalaidin-nya yang jelas, selanjutnya cuma minal-nya untuk kemudian, sesudah salaman dengan orang yang kesekian puluh, tinggal huh, huh, huh saja yang kedengaran. Weh, maaf lahir dan batin, tahun 1414 H....
"Lho, itu apa tidak absurd to, Prof.?" tanya saya kepada Prof. Dr. Lemahamba M.A., M. Sc., M. Ed., B.A., dan sak banjur- nya titel, yang sedang mampir ke rumah saya.
"Absurd? Apanya yang absurd? Wong upacara maaf-maafan kok absurd."
"Lha, minta maaf borongan tur cuma menggrendeng minal aidin huh, huh itu. Prof.? Apa tidak aneh to itu?"
Saya lihat Prof. Lemahamba, idola saya yang tidak kunjung padam aura wibawanya menyinari sekelilingnya, mulai memukul-mukulkan jari-jarinya ke dahinya. Saya jadi panik karena sebagai orang yang selalu minder berhadapan dengan beliau, gesture menjentik-jentik kepala begitu berarti beliau mau lebih meminderkan saya lagi.
"Kamu itu lho, Geng! Heran aku! Sesudah tua kok jadi sinis begitu. Kamu kok tidak mampu lagi melihat esensinya Lebaran to, Gus."
"Lha, esensinya itu apa to, Prof."
"Ya kumpul-kumpul sama sanak saudara, handai taulan, kolega-kolega, sama-sama bersyukur sudah mencapai kemenangan memerangi hawa nafsu, dong. Itu esensinya, 'kan?"
"Ya, tapi kalau sudah jadi ombyokan, melibatkan ratusan orang, mana kita tidak saling terlalu kenal, esensinya rak kle- lep, tenggelam. Maaf-maafan, bagi-bagi roso seneng sudah menang puasa, rak mesti disampaikan lewat tulusing ati to, Prof. Mboten minal aidin huh, huh, huh saja. Malah banyak yang cuma meringis, cuma huh, huh, huh saja itu, Prof."
"My God! Kamu itu wong Jawa sudah mau ilang Jawane, Geng. Kamu jadi too rational, too analytical. Wis, kamu renungkan itu, Geng. Kalau kamu tidak ketemu jawabannya tanyalah Mister Rigen."
Mak klepat! Prof. Dr. Lemahamba etc., etc., langsung masuk BMW-nya yang dahsyat itu. Beup, pintunya ditutup. Kemudian jendelanya dibuka lagi. Kepalanya dijulurkan lagi.
"Eh, aku besok mau ke Jenewa terus ke Frankfurt."
"Mau halal bihalal di sana to, Prof.?'
"Hus, aja ngece kamu ya! Mau tak oleh-olehi apa nggak? Hem-mu sudah tua!"
"Mau, mau, Prof. Hem ukuran XL, celana pinggang 42,jas ...."
"Wis, u wis! Ditawari hem merogoh apa kamu ya!"
BMW metallic kelabu itu distarter mak-sriwing-sriwing saking halusnya. Sepeninggal beliau, tahu-tahu begitu saja mak-jleg penggeng eyem, penggeng eyem sudah menjajakan dengan suara cemprengnya di depan pintu.
"We, Pak Joyo bikin kaget saja, lho. Kok tumben mau mampir, Pak."
"lyak, Pak Ageng. Tiap Kemis dan Minggu sampai serak saya teriak, Bapak pura-pura tidak mireng saja, kok."
"Ya, maaf saja, nggih. Diabetes, Pak, diabetes. Itu yang bikin saya jarang panggil sampeyan."
"Iya, iya, saya mengerti kok, Pak Ageng. Malah saya ikut mendoakan lekas sembuh. Saya cuma mampir mau halal bihalal kok, Pak. Sama Bapak, sama keluarga Mas Rigen. Eh, orang bakulan itu rak banyak dosanya. Panjenengan maafkan saja nggih, Pak?"
"Iya, Pak sami-sami saling memaafkan."
Tahu-tahu dari belakang rumah suara gedebuk-gedebuk bedhes-bedhes Beni dan "Iblo-Tblo berlari sembari berteriak "Sate usus, Pak Joyo, sate usus". Di belakang mereka Mister Rigen dan misus pada mengikuti. Begitu ketemu gapyuk mereka pada salam-salaman bermaaf-maafan.
"Enggih Pak Joyo, kula sak gotrah menghaturkan minal- aidin walfaizin semua dosa-dosa kami muhun dimaafkan. Maklum yang lebih muda lebih banyak kesalahannya."
"Iyak, sampeyan niku. Ya sama-sama to kalo perkara kesalahan. Tidak muda tidak tua ya mesti dalam setahun bikin kesalahan. Lha sampeyan waktu Lebaran pulang ke Praci apa tidak, Mas?"
"Pulang sebelum Lebaran. Ning Lebaran pertama masih sempat sembahyang Ied di desa, lho. Lha, sampeyan sembahyang Ied di mana, Pak Joyo?"
"Oh, kula mboten sembahyang Ied, je, Mas. Soalnya nyonyahe juragan ngiming-imingi kalo saya mau ider hari-hari Lebaran itu saya dapat persen banyak jee !
"Terus sampeyan diiming-imingi persen begitu ya berangkat, Pak?"
"Lho, lha enggih berangkat. Soalnya buat beli macam-macam buat anak-anak itu, Jan habis-bis persediaan di rumah, je. Saya pupus Gusti Allah tidak sare, pasti tahu semua iktikad manungsa. Pasti mau paring pangaksama kepada wong cilik. Ya dengan "bismilah" saya berangkat menjaja penggeng eyem."
Saya lega melihat muka Mister Rigen tidak tegang, apalagi bersinar superior mendengar apologia Pak Joyoboyo. Malah biasa saja penuh pangerten bin understanding. Mereka semua lantas saya traktir penggeng eyem sak puas mereka. Waktu Pak Joyo pergi, saya bertanya kepada suami-istri Rigen apakah PBB dan PJJ kawasan kita tahun ini juga mengadakan halal bihalal bersama.
"Lha, iya sudah to, Pak. Waktu Bapak kemarin dulu berangkat ke Jakarta itu, lho Pak."
"Ya gayeng, Gen? Meskipun yang hadir berpuluh-puluh sak cindil merah kalian?"
"Ya tetap gayeng, Pak. Wong setahun sekali saja ketemu yang begitu."
"Lha, kamu waktu salaman sama begitu banyak orang apa ya sampai orang penghabisan lidahmu masih fasih ngucap minalaidin walfaizin. Pasti nggrontol to habis salaman sepuluh orang. Paling kalian lantas cuma pringas-pringis sembari huh, huh, huh saja, to?'
"Elho, Bapak niku pripun? Bagaimana. Wong salaman pringas-pringis kok disoal, lho. Juga kalo kita cuma bilang huh, huh, huh. Itu tidak perlu disoal, Pak. Yang penting ati-nya, Pak. Niatnya, Pak."
"Iyak, bisa saja kamu itu."
"Lho, bagaimana to Bapak ini. Orang ngucap jelas itu rak cuma alat pengucapan to, Bapak. Alat. Yang penting itu di sini, Pak, di sini!"
Dan Mister Rigen yang mulai berkobar-kobar emosi itu menunjuk pada dadanya berkali-kali. Dalam hati saya ngunandika: weh, anggepnya dia itu Prabu Baladewa apa? Untunglah saya itu sudah bukan feodal lagi. (Setidaknya iktikadnya mau jadi demokrat). Saya malah manthuk-manthuk sembari meninggalkan dia ke kamar. Soalnya, saya lantas ingat Prof. Dr. Lemahamba. Saya cuma bisa menggrendeng: Prof., wong Jawa itu ya masih terus jadi wong Jawa. Wong Jawa itu . ....
Di kamar saya ganti pakai sarung mau tidur siang. Wong Jawa itu, Prof., wong Ja. . .
29 Maret 1994