Tuesday, January 22, 2013

Denpasar Muun, Nano, Nano Nano, Nanoooo


Waktu untuk kesekian kali video clip Denpasar Moon ditayangkan di teve, dengan Maribeth menyanyi dengan kewes-nya di srempeti  penari...penari legong  Bali, tiba­ tiba sang bedhes Beni Prakosa diikuti oleh bedhes· cilik Tolo-Tolo bekoar, "Denpasar  muun, nano, nano, nano, naa-a-noo ...." Bapaknya, dirjen saya yang selalu pales kalau menyanyi, yang sedang sulak-sulak meja dan kursi tertawa melihat anak-anaknya menyanyi_lagu modern.
"Hayo, Pak, Denpasar itu di mana? lbu kota mana?" Bapaknya tertawa sembari menyulak gundul anaknya.
"Dapurmu, Le, Le. Kayak kamu tahu saja. Di mana hayo?" "He he-he. Bapak kayak wayang Arjuna. Ditanyai membalas tanya. Hue! Denpasar itu, Pak, di Bali. lbu kota Bali juga."
 "Yo,  wis. Pinter  kamu. Tapi, matematika  harus pinter  juga lho, ya?"
Beni dan  Tolo-Tolo pada  berlari ke dalam,  mungkin  menagih janji nyamikan  ibu mereka  di dapur. Denpasar  muun, nano, nano,_ nano, nanoo .... Di kursi singgasanaku yang bergoyang-goyang  saya  tiba-tiba  menyaksikan   pemandangan waktu yang berseliweran sembari bertabrakan.  Presis seperti video clip Denpasar  Moon  itu. Dan bukan hanya  antara  legong-legong dengan Maribeth yang cantik masa...kini itu. Saya juga menyaksikan bukit-bukit tandus Pracimantara, Rigen kecil. Jadi, belum jadi mister) dada mengliga, berlari-lari mengejar kambing-kambing   gembalaannya.   Rigen  besar  yang  pada pesta tamat  sekolah menembang  panembrama  dan standen.
Rigen  yang  lebih  dewasa  ngenger  ke  sana  kemari -  untuk mengembangkan  kariernya sebagai seorang birokrat rumah­ tangga hingga akhirnya mencapai puncak kariernya sebagai seorang  dirjen, seorang  birokrat terpercaya di nDalem  Kea­ gengan. Perjalanannya. yang jauh berkelok-kelok itu ditebas di tengah  jalan oleh  jalan pintas  bedhes-bedhes-nya, Beni dan Tolo-Tolo, waktu mereka beranjak besar. Seketika  jalan-jalan itu menjadi pendek,  ruwet, kadang-kadang  juga rancu  tidak me-mudeng-kan. Generasi ketiga Pracimantara  ini tahu-tahu tidak tahu  lagi menembang  panembrama  dan  ikut  standen. Tahu-tahu mereka sekarang rengeng-rengeng Denpasar Moon. Waktu mereka datang lagi meng-glibet  di antara mebel-mebel yang sedang disulaki  bapaknya, tiba-tiba Beni menyeionong bertanya.                    
"Eh, Pak Ageng, Pak Ageng. Denpasar itu bagus, ya?"
"Ya, bagus."
"Kalo Bali? Di mana itu?"
"Lho, katanya sudah tahu. Ya bagus. Bali itu pulau di sebelah timur Jawa."
"Pulau itu apa, Pak."
Saya baru sadar menjelaskan pulau itu apa rada susah juga. Dan eh Beni itu rak sudah kelas empat kok belum tahu pulau itu apa.
"Pulau itu gundukan tanah yang besar yang dikelilingi laut."
Beni berpikir tidak yakin dapat  membayangkan gundukan tanah yang besar itu. Saya pun begitu pula, tidak yakin apakah penjelasan saya itu make sense apa tidak. Rupanya untuk mengatasi tidak mudeng-nya itu, Beni pun mulai rengeng­ rengeng. Denpasar  Moon lagi. Dan langsung diikufi adiknya. Denpasar  muun,  nano, nano, nano, nanooo .. . . Bapaknya yang sudah selesai sulak-sulak rupanya jadi keki juga mendengar potongan  lagu itu. Mungkin karena dia tidak dapat  ikut rengeng-rengeng anaknya.
"Heisy, mbok diem, to, ya. Dari tadi kok lagu Denpasar saja.
Tutug saja tidak, ngerti saja tidak."
"Bapak kok bolehnya keki. Padunya tidak dapat to ....."
Dan dua orang kecil itu mulai lagi dengan Denpasar muun, nano, nano ....
"Hayo  ora  diem! Tak pukul  sulak, lho! Sok  aksi  nyanyi Londo."
Anak-anak  pada lari ke dalam. Tapi terus juga menyanyi Denpasar muun, nano....
"Enggak, Mister! Kok kamu  bolehnya sewot  sama  anak­ anakmu. Wong mandak  rengeng-rengeng Denpasar muun saja lho!"
"Woo, Bapak  yang  tidak  punya  anak  kecil. Itu kalau dibiarkan mendadra, menjadi-jadi, Pak'
"Mendadra  bagaimana?"
"Lho, itu rak lagu asing to, Pak. Merusak, Pak, merusak." "Waduh."
"Lho, lha, enggih. Wong  mandak  lagu Londo sama  nona yang edang-edong  disrempeti  legong-legong mBali saja, lho. Bagusnya di mana.- Lagi pula merusak  cita-rasa  anak-anak Indonesia.".
"Waduh."
"Lho, kok waduh terus to, Pak. Niki srius, Pak. Sri-us! Coba anak-anak  jaman sekarang tidak bisa nembang lagunya sendiri. Lagu dolanan kalau padang bulan pada enggak bisa. Paling lagu Gethuk  asale saka tela .... Itu juga lagu edang-edong lagi."
"Sori, Gen. Waduh lagi!"
"Bapak tidak srius sama pendidikan anak Jawa. Katanya propesor. Kok ...."
"He-he ...he, Geen, Gen. Memangnya kalo padang mbulan masih kamu ajak kejar-kejaran, tembang-tembangan di latar apa?  Enggak, 'kan? Paling kamu ajak duduk-duduk  di teras nunggu  lewatnya wedang  ronde  dan  bakso.
Hayo! Ya, to?"· Mister Rigen meringis merasa saya touche!.

Tiba-tiba anak-anak  itu pada lari-lari ke dalam langsung memutar-mutar knop teve. Mereka serempak berteriak.
"Waah, Satria Baja Hitamnya sudah habis! Bapak tidak beri tahu sih. Bapaak!'
Mereka pun lari keluar lagi mengeluarkan suara sepeda motor dikebut.
"To, pripun, Pak. Satria Baja Hitam Rumangsa-nya mereka itu apa dan siapa?"
"Ya Satria  Baja Hitam, gitu."
"Lha, itu yang saya tidak cocok. Tidak kepribadian Indonesia. Di mana Pancasila? Di mana?"
"He-he-he gundulmu  Geen, Gen. Ya sudah, tivinya kita jual saja, ya?. ''
"Ampun, Pak. Jangan! Kalau malam Selasa ketopraknya bagus-bagus, jeee."
Saya lantas  mengantuk, mau menggeletak di kamar sebentar. Dari  dalam   kamar  saya  masih mendengar  Satria  Baja Hitam meraung-raungkan sepeda motornya .. ..

1 Februari 1994

By : Umar Kayam