Sunday, January 27, 2013

BASA JOWO

WAKTU Beni Prakosa menunjukkan rapornya baru-baru ini, saya sekok berat melihat angka merah buat pelajaran bahasa daerah. Saya sekok berat karena saya mengira bahasa daerah adalah bahasa yang dibawanya sejak dia mrocot dari ibunya. Dus sejak dia mulai berbicara sama ibu dan bapaknya ya dia berbicara dalam bahasa itu, ya bahasa Jawa itu. Sejak dia minta lawuh endog, protes tidak ada iwak empal, malam-malam teriak dia mengompol, merayu gombal ibunya supaya dibelikan mobil-mobilan, marah dan mbalela, ya itu semua dilaksanakan dalam bahasa Jawa. Juga dialog dengan adiknya si siblo-lolo, bahasa Jawa juga. Cuma dengan saya, bosnya bajosiia harus berbicara dalam bahasa nasional, bahasa perersatin, bahasa iptek, bahasa sastra. Tapi, selebihnya bahasa adas», bahasa Jawa, bahasa Jawa. Jadi saya sekok, tidak habis ngerti, dengan kepungan yang Jawa-Jawa itu kok pelajaran bahasa Jawa merah warnanya. Maka langsung saya panggil Mister Rigen sak anak-beranak untuk mengadakan sidang darurat yang memang sudah agak lama tidak kami adakan. Begitulah ......
"Ayo ke sini semua! Mesti lengkap, komplit, tidak ada yang boleh bolos!"
Dengan bergegas dan gugup Mister Rigen, Ms. Nansiyem, para bedhes precil pada mengambil tempat duduk di tikar di seputar meja pei. Mata mereka gelisah, bertanya-tanya, karena begitu tiba-tiba dekrit berkumpul pleno itu saya turunkan. Saya memakai bahasa Jawa lengkap, (diusahakan) baik dan benar. (Tentu untuk keperluan pembaca, saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
"Beni!"
Beni kaget bukan kepalang. Tidak sari-sarinya dia mendapat giliran panggilan pertama.
"I-iya, Pak Ageng."
"E-eit! Basa Jowo! Jowo Kromo!”
"Ing-inggih, Pak Ageng."

Waktu mengatakan dalam kegugupan itu matanya melirik ke kiri dan ke kanan ke arah bapak dan ibunya. Tolo-Tolo buru-buru ndepis, menempel ibunya.
"Priye, Ben Mosok basa Jowo dapat lima merah, he?'
"Ing-inggih, Pak Ageng."
"Inggih, inggih. Memangnya kamu ora isa cara Jowo?"
"Bisa, bisa. Pak Ageng."
"Ayo bahasa Jawa!"
"Biso, biso, Pak Ageng."
"Kalau dalam bahasa kromo?'
Beni diam. Jidatnya me-njenggureng. Berpikir keras. Kemudian lidahnya melet, kepalanya digelengkan.
"Elho, priye, Gen, Mister Rigen Anakmu tidak tahu kromo- nya biso? Kamu tahu apa?'
"Waged-waged."
Mulutnya meringis, matanya bersinar, menyinarkan cahaya kemenangan.
Ms. Nansiyem dan Tolo-Tolo yang mengikuti percakapan dengan mulut jendela terbuka, jadi nampak lega sekali.
"Waged-waged gundulmu itu! Itu kromo ndeso. Kromo Praci mungkin Saged-saged. Ayo semua bilang sa-ged !'

Semua, tanpa kecuali, manut-miturut belaka mengucapkan "sa-ged”  Karena mereka tahu belaka, kalau sudah begitu, bos mereka sedang kumat semangat fasis totaliternya. Mau tidak manut, mbalela? Edan apa! Saya kemudian melanjutkan tes saya kepada para anak buah saya yang mestinya orang Jawa yang berbahasa Jawa.
"Beni!" '
"Ya eh, kula eh dalem, Pak Ageng."
"Kromonya gajah apa, Ben?'

"Ya gajah, Pak Ageng."
"Woo, ngawur! Salah! Ayo bapaknya atau ibunya tahu nggak kromonya gajah?"
"Ha enggih gajah to, Pak."
Wah, ini Ms. Nansiyem begitu berani keluar suara tegas, tegas ngawurnya.
"Elho, gajah ki kromonya gajah? Cengklong gajimu separo."
"Woo, Pak, kado mlarat kita ini."
"Yo wis kamu, Gen. Apa kromonya gajah?"
Mister Rigen mringis tanda tidak tahu.
"Apa ada to, Pak. Kromonya gajah? Gajah itu rak sudah kata bagus to, Pak?" Saya tertawa. Sesungguhnya dia betul juga dengan bertanya begitu. Untuk apa kata yang sudah bagus "gajah" harus dikromokan? Ah, tentulah mereka tidak tahu kalau ada sosio linguistik, bahkan power-linguistik. \&itu bagian dari konsep kekuasaan yang menghendaki halus-ka- sar. Gajah itu kasar karena orang-orang desa Praci menyebutnya "gajah". Lha, untuk para darah biru, seperti pemilik nDa- lem Keagengan ini, mesti dikarangkan kata lain, yang mewakili kelas darah biru gitu. Maka lahirlah kata kromo buat "gajah". Kata kromo itu adalah liman yang agaknya diambil dari kata "lima". Karena, kaki gajah yang empat besar-besar dan panjang-panjang itu masih ditambah dengan belalai di depan yang panjang juga. Padahal belalai itu tangan annex hidung. Tapi ah, sudahlah logika wong Jawa dalam mengotak-ngatik memang selalu aneh, kompleks dan tidak me-mudeng-kan.
"Woo, liman! Enggih to, Pak. Liman?"
"Lha, iya. Orang taklukan Mataram kok nggak tahu kromonya gajah itu liman." Mereka pun berbareng menyerukan "liman". Sesudah mereka saya dismiss, Beni masih meng-g/f- bet. Tiba-tiba pelan-pelan bilang.
"Pak Ageng, kalau boleh satu hari itu sama Pak Ageng boleh basa kromo, campur ngoko, campur basa Indonesia, nggih?"
"Lha, kenapa?"
"Kromo itu susah, Pak Ageng. Susah ngapalnya. Enakan ngoko dan cara Indonesia," Saya membatin. Lha, terus priye,
situasine globalisasi pancen dangerous tenari.
22 Februari 1994