Wednesday, January 30, 2013

Bagaimana Anda Mengukur Kebahagiaan?

Bagaimana bila ukuran kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu berbagi kebahagiaan?
Alkisah, Buck, siswa kelas dua SMA di California, senang mengganggu orang lain. Ada saja yang dia lakukan, dari permen karet yang ditaruh di bangku kelas sampai papan tulis yang ia pindahkan sehingga gurunya kebingungan mencari papan tulis! Dan masih banyak lagi.
Kelakuan Buck juga terkadang menjurus pada tindakan kriminal. Pernah ia kedapatan membocorkan rem mobil kawannya hingga celaka. Padahal, kawannya itu tidak mempunyai kesalahan pada Buck. Walhasil, Buck diciduk aparat keamanan. Tapi setelah bebas, ia tidak ada kapok- kapoknya. Kelakuan nakal Buck baru berhenti setelah ada siswi rekan kelasnya yang menembak mulutnya. Sekarang Buck tidak bisa tertawa menyeringai lagi sebab sudah mati!

Kebahagiaan di mata Buck adalah ketika ia melihat orang lain tidak bahagia! Dia senang melihat orang marah ketika ia ganggu. Tandanya ia berhasil, la baru tidak bahagia kalau orang yang dia ganggu justru tersenyum kepadanya, la baru tidak senang ketika orang yang dia jahili tetap baik kepadanya.

Sekarang bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bahagia melihat orang lain tidak bahagia? Apakah Anda bahagia bila Anda tahu bahwa kebahagiaan Anda itu menari-nari di atas penderitaan orang lain? Apakah Anda masih tetap senang bila sementara itu Anda tahu bahwa ada yang menangis disebabkan oleh cara Anda meraih kesenangan? Anda sendirilah yang tahu jawabannya.

Syukur-syukur kalau Anda bisa tidak bahagia kalau ada orang di sekeliling Anda juga tidak bahagia. Lebih bersyukur lagi, bila Anda mampu membuat orang di sekeliling Anda bahagia.
Pernah ditulis kisah Effendi di salah satu buku Wisata Hati. Effendi, seorang eksekutif muda di kawasan Sudirman yang sudah memiliki segalanya, karier yang bagus, rumah mewah, mobil bagus, istri cantik, dan anak yang lucu. Namun, ia masih merasa ada yang kurang dalam kehidupannya. Kehampaan sering terjadi seperti sebuah kekosongan batin. Dikisahkan suatu hari ketika ia sedang melakukan lari pagi, ia bertemu seorang ibu yang sedang menangis.

Biasanya ia tidak mau peduli. Tapi kali itu ada kekuatan lain yang memaksanya menyapa sang ibu.
"Kenapa Ibu menangis?" tanyanya.
Rupanya, si ibu tersebut baru saja dipecat dari tempat kerjanya. Padahal, di hadapannya terbentang beragam kesusahan—anaknya yang sakit, suaminya yang juga sakit, hingga ketiadaan makanan dan uang.
Effendi tergerak membantu. Diantarnya ibu tersebuj pulang, diberinya uang secukupnya. Sementara itu, anak dan suaminya dibawa ke dokter terdekat.

Hari itu, Allah Sang Pemilik kebahagiaan rupanya senang melihat apa yang dilakukan Effendi. Hari itu, Effendi merasa - kan satu kebahagiaan yang segera melengkapi kebahagia an yang ia rasa kurang. Ternyata, selama ini kekurangannya itu adalah ia jarang membantu orang. Jarang mau berbagi kebahagiaan.

Saudara, Allah Pemilik kebahagiaan tentu senang kalau melihat kita bisa bahagia. Karena "kebahagiaan-Nya" adalah ketika melihat kita bahagia. Dan lagi kehadiran-Nya adalah agar kita mampu merasakan kebahagiaan. Tapi, Dia juga ti dak akan senang kalau kemudian kita menikmati kebahagiaan dalam kesendirian alias tidak mau berbagi. Apalagi kalau kebahagiaan itu kita dapatkan dengan merugikan orang lain.
Dan ketahuilah, Allah teramat kuasa untuk membuat kita tidak bahagia, meskipun ketika kita seharusnya menjadi

orang yang berbahagia menurui kebanyakan orang. Artinya, Dia hilangkan rasa kebahagiaan di hati kita, di kehidupan kita.
Terus, yang patut diketahui, secara "fitrah"-Nya, Dia selalu berkenan memberkahi kehidupan kita. Agar apa? Agar kita juga berkenan menjadi berkah untuk sesama. Dia i ingin kita menjadi senang dengan hanya menghadirkan kesenangan-kesenangan, agar kita juga bisa menyenangkan orang lain. Dia ingin kita berhasil, kaya, dan makmur, agar kita bisa meneteskan aliran rezeki-Nya untuk sesama. Tapi Dia akan mencabut berkah-Nya, manakala tujuan pemberian berkah dari-Nya tidak tercapai. Dia akan cabut anugerah kekayaan dan kemakmuran, manakala tujuan Dia memberikan kekayaan dan kemakmuran pada kita tidak kita laksanakan. Jangan sampai kebahagiaan kita tukar dengan penderitaan dan kesedihan.

Gawat betul ya Rabb, bila hamba tidak mampu meraba penderitaan orang yang kemudian membuat hamba tidak mampu berbagi. Suatu saat, ketika hamba berposisi sebagai orang yang membutuhkan, tiada yang peduli, bahkan mungkin Engkau juga tidak peduli sebab hamba sendiri tidak mau peduli.

Ya Rabb, ukuran kebahagiaan bila semata kebahagiaan tanpa cerminan di depan dan di belakangnya, maka patutlah hamba pertanyakan ulang. Bagaimanakah jika ternyata ada orang yang menangis lantaran kebahagiaan itu? Bagaimanakah kalau ada orang yang justru hamba buat tidak Bahagia?

Wahai Zat yang memiliki bimbingan, bimbinglah hamba menemukan arti dari kebahagiaan. Kebahagiaan ketika hamba bisa membahagiakan orang.