Sunday, January 27, 2013

Alangkah Beraninya Kita

Sedemikian dalam ketertenggelaman kita pada dunia yang melingkupi kita, sehingga nyaris tidak sadar bahwa ada dunia 'lain'. Dunia para sufi. Dunia dari orang-orang terpilih yang berakhlak tinggi. Dunia para ulama yang mewarisi akhlak mulia para nabi terdahulu. Dunia dari orang-orang taat yang selalu berpegang teguh pada Al- Qur'an, dan Hadis. Dunia dari para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad Saw., yang diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak umat manusia. Seorang mubalig muda menyitir sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya orang yang terbaik keislamannya adalah yang terbaik budi pekertinya." Satu pendapat menyebutkan, "Sufi ialah orang yang membersihkan tingkah laku, perbuatannya, dan semata-mata kemuliaannya dari Allah."

"sesungguhnya orang yang terbaik keislamannya adalah yang terbaik budi pekertinya."

Tahun 1998, di satu sore yang hitam di Makassar. Aksi bakar-bakaran sedang marak, orang berbondong-bondong menjarah. Seorang perwira berpakaian sipil mendekati seorang tukang becak yang sedang menonton. "Bapak tidak ikut ngambil barang-barang itu?" perwira itu bertanya. Tidak, jawab abang becak. "Saya takut. Itu barang haram." Perwira itu kaget. "Saya seperti ditampar," tuturnya ketika menceritakan kembali kisah itu bertahun-tahun kemudian.

Tukang becak beruban itu, apa dia tidak perlu uang? Apa sulitnya mengambil barang-barang berharga di depan mata, lalu menjualnya? Kan uangnya bisa dipakai untuk menyicil utang, atau membeli obat untuk istrinya yang sedang sakit? Kenapa pusing-pusing dengan halal haram segala? Itulah sederet pertanyaan dari sudut pandang kita. Itu mindset kita. Tak tahunya, itu memberi gambaran bagaimana akhlak kita. Pengayuh becak itu tidak memakai ukuran yang biasa kita pakai, bukan menggunakan platform kita. Dia beda. Jika begitu, akhlak siapa yang lebih unggul? Seperti perwira tadi, wajah tebal kita juga ditampar.

Dalam pengertian lain, pertanyaan "tidak ikut ngambil barang" sama maknanya bahwa perwira itu berprasangka buruk kepada abang becak tadi. Sepertinya, perwira itu dari awal punya semacam keyakinan bahwa seperti itulah pengayuh becak tersebut. Kenyataannya, prasangka buruk itu salah besar. Itu pula yang menjadi penjelasan, mengapa perwira tadi merasa kaget. Dia mengukur 'sepatu' orang lain dengan 'sepatu' yang sehari-hari dia pakai. Kita, orang- orang awam ini, adalah duplikatnya. Kita memakai 'sepatu' yang sama sebangun dengan 'sepatu' perwira tadi. Kita, sekali lagi, menemukan bukti, baru sampai segitulah 'mutu' akhlak kita.

Kita memang sering keliru 'menilai' orang. Begitu juga dengan media massa Inggris, minimal di mata Prince Harry, salah seorang calon pewaris takhta kerajaan tersebut. "Pers mencitrakan kami sesuka hati mereka," tuturnya dalam suatu wawancara televisi berdua bersama kakaknya, Prince William. Tabloid-tabloid Inggris, yang terkenal sebagai pemburu sensasi, menulis apa saja tentang dua anak muda terkenal itu. Di satu saat, tabloid itu menulis keduanya "tidak punya emosi" ketika mereka berada di belakang keranda mayat ibunya, Lady Diana, menuju pemakaman. Di balik tembok tebal yang tidak dapat diintip wartawan, mereka - baru berumur 15, dan 12 tahun - sedih bukan kepalang. Apa pun yang mereka lakukan, di mana pun, kapan pun selalu menjadi santapan pers. Para paparazzi menguber mereka dengan kamera yang siap klik. Mereka lelah ditulis sembarangan. Itu sebabnya, ketika seseorang berkata pada Harry, "Kau tak seperti yang kusangka," maka perkataan itu dinilainya sebagai "Hal yang paling menyenangkan saya."

Seorang sufi, Abui Qasim Al-Junaid, mengaku bahwa dia belajar ketulusan dari seorang pemangkas rambut. "Demi Allah, dapatkah engkau memangkas rambutku?" dia bertanya kepada tukang cukur yang sedang memotong rambut orang lain. "Saat nama Allah disebut, yang lain harus menunggu," kata tukang cukur, yang lalu tidak melanjutkan pekerjaannya terhadap orang lain tadi. Dia mencukur Abui Qasim. Setelah selesai, dia memberi beberapa koin terbungkus kertas kepada Abul Qasim. Yang terakhir ini berjanji, jika dia diberi hadiah pada kesempatan pertama, maka akan diserahkannya kepada si tukang cukur. Suatu hari, Abul Qasim membawa sekantung emas hadiah, hendak diberikan kepada tukang pangkas sesuai dengan janjinya. Tukang cukur itu menolak, karena dia mencukur Abui Qasim demi Allah. Dia berkata, "Apa engkau pernah mendengar ada seseorang melakukan sesuatu karena Allah lalu meminta bayaran?"

Anas bin Malik r.a. mengungkapkan dia melayani Rasulullah Saw. selama sepuluh tahun. Katanya, "Demi Allah, beliau sama sekali tidak pernah berkata 'hush'. Beliau juga tidak pernah menegur 'mengapa engkau berbuat begitu?' atau 'kenapa tidak berbuat demikian.?" Sahabat yang lain, Abu Hurairah, berkisah bahwa ada seorang Arab dusun kencing di masjid. Seketika para sahabat membentak dia. Lalu Nabi Muhammad Saw. bersabda, "Biarkanlah dia, dan siramlah kencingnya itu dengan seember air. Kalian semua diperintah untuk berlaku manis, dan bijak. Bukan berlaku kasar, dan menimbulkan kesulitan."

Dua kisah tadi memberi contoh sedikit dari kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Saw. Seberapa sering kita berlaku manis, dan bijak? Seberapa sering kita malah bertindak kasar, dan menimbulkan kesulitan? Jawaban pertanyaan pertama adalah "jarang sekali" Jawaban kedua, "sering sekali." Mampukah kita mengikuti keteladanan yang telah gamblang diperlihatkan oleh tukang becak? Apakah kita sanggup mencontoh perilaku tukang pangkas rambut tadi? Tidak sanggup? Tidak mampu? Begitulah kita. Dengan akhlak yang masih amburadul, alangkah beraninya kita menyebut-nyebut diri kita sebagai pengikut setia Nabi Besar Muhammad Saw. yang berakhlak mulia,