Wednesday, January 30, 2013

Bagaimana Anda Mengukur Kebahagiaan?

Bagaimana bila ukuran kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu berbagi kebahagiaan?
Alkisah, Buck, siswa kelas dua SMA di California, senang mengganggu orang lain. Ada saja yang dia lakukan, dari permen karet yang ditaruh di bangku kelas sampai papan tulis yang ia pindahkan sehingga gurunya kebingungan mencari papan tulis! Dan masih banyak lagi.
Kelakuan Buck juga terkadang menjurus pada tindakan kriminal. Pernah ia kedapatan membocorkan rem mobil kawannya hingga celaka. Padahal, kawannya itu tidak mempunyai kesalahan pada Buck. Walhasil, Buck diciduk aparat keamanan. Tapi setelah bebas, ia tidak ada kapok- kapoknya. Kelakuan nakal Buck baru berhenti setelah ada siswi rekan kelasnya yang menembak mulutnya. Sekarang Buck tidak bisa tertawa menyeringai lagi sebab sudah mati!

Kebahagiaan di mata Buck adalah ketika ia melihat orang lain tidak bahagia! Dia senang melihat orang marah ketika ia ganggu. Tandanya ia berhasil, la baru tidak bahagia kalau orang yang dia ganggu justru tersenyum kepadanya, la baru tidak senang ketika orang yang dia jahili tetap baik kepadanya.

Sekarang bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bahagia melihat orang lain tidak bahagia? Apakah Anda bahagia bila Anda tahu bahwa kebahagiaan Anda itu menari-nari di atas penderitaan orang lain? Apakah Anda masih tetap senang bila sementara itu Anda tahu bahwa ada yang menangis disebabkan oleh cara Anda meraih kesenangan? Anda sendirilah yang tahu jawabannya.

Syukur-syukur kalau Anda bisa tidak bahagia kalau ada orang di sekeliling Anda juga tidak bahagia. Lebih bersyukur lagi, bila Anda mampu membuat orang di sekeliling Anda bahagia.
Pernah ditulis kisah Effendi di salah satu buku Wisata Hati. Effendi, seorang eksekutif muda di kawasan Sudirman yang sudah memiliki segalanya, karier yang bagus, rumah mewah, mobil bagus, istri cantik, dan anak yang lucu. Namun, ia masih merasa ada yang kurang dalam kehidupannya. Kehampaan sering terjadi seperti sebuah kekosongan batin. Dikisahkan suatu hari ketika ia sedang melakukan lari pagi, ia bertemu seorang ibu yang sedang menangis.

Biasanya ia tidak mau peduli. Tapi kali itu ada kekuatan lain yang memaksanya menyapa sang ibu.
"Kenapa Ibu menangis?" tanyanya.
Rupanya, si ibu tersebut baru saja dipecat dari tempat kerjanya. Padahal, di hadapannya terbentang beragam kesusahan—anaknya yang sakit, suaminya yang juga sakit, hingga ketiadaan makanan dan uang.
Effendi tergerak membantu. Diantarnya ibu tersebuj pulang, diberinya uang secukupnya. Sementara itu, anak dan suaminya dibawa ke dokter terdekat.

Hari itu, Allah Sang Pemilik kebahagiaan rupanya senang melihat apa yang dilakukan Effendi. Hari itu, Effendi merasa - kan satu kebahagiaan yang segera melengkapi kebahagia an yang ia rasa kurang. Ternyata, selama ini kekurangannya itu adalah ia jarang membantu orang. Jarang mau berbagi kebahagiaan.

Saudara, Allah Pemilik kebahagiaan tentu senang kalau melihat kita bisa bahagia. Karena "kebahagiaan-Nya" adalah ketika melihat kita bahagia. Dan lagi kehadiran-Nya adalah agar kita mampu merasakan kebahagiaan. Tapi, Dia juga ti dak akan senang kalau kemudian kita menikmati kebahagiaan dalam kesendirian alias tidak mau berbagi. Apalagi kalau kebahagiaan itu kita dapatkan dengan merugikan orang lain.
Dan ketahuilah, Allah teramat kuasa untuk membuat kita tidak bahagia, meskipun ketika kita seharusnya menjadi

orang yang berbahagia menurui kebanyakan orang. Artinya, Dia hilangkan rasa kebahagiaan di hati kita, di kehidupan kita.
Terus, yang patut diketahui, secara "fitrah"-Nya, Dia selalu berkenan memberkahi kehidupan kita. Agar apa? Agar kita juga berkenan menjadi berkah untuk sesama. Dia i ingin kita menjadi senang dengan hanya menghadirkan kesenangan-kesenangan, agar kita juga bisa menyenangkan orang lain. Dia ingin kita berhasil, kaya, dan makmur, agar kita bisa meneteskan aliran rezeki-Nya untuk sesama. Tapi Dia akan mencabut berkah-Nya, manakala tujuan pemberian berkah dari-Nya tidak tercapai. Dia akan cabut anugerah kekayaan dan kemakmuran, manakala tujuan Dia memberikan kekayaan dan kemakmuran pada kita tidak kita laksanakan. Jangan sampai kebahagiaan kita tukar dengan penderitaan dan kesedihan.

Gawat betul ya Rabb, bila hamba tidak mampu meraba penderitaan orang yang kemudian membuat hamba tidak mampu berbagi. Suatu saat, ketika hamba berposisi sebagai orang yang membutuhkan, tiada yang peduli, bahkan mungkin Engkau juga tidak peduli sebab hamba sendiri tidak mau peduli.

Ya Rabb, ukuran kebahagiaan bila semata kebahagiaan tanpa cerminan di depan dan di belakangnya, maka patutlah hamba pertanyakan ulang. Bagaimanakah jika ternyata ada orang yang menangis lantaran kebahagiaan itu? Bagaimanakah kalau ada orang yang justru hamba buat tidak Bahagia?

Wahai Zat yang memiliki bimbingan, bimbinglah hamba menemukan arti dari kebahagiaan. Kebahagiaan ketika hamba bisa membahagiakan orang.

Munajat

Sikap berlebih-lebihan kami tampaknya sudah betul-betul kelewatan. Di hari-hari sepanjang Ramadhan dan bahkan di hari raya pun, sikap ini bahkan kadang menjadi-jadi. Kami menjadi manusia yang lupa bahwa menyambut hari raya adalah segalanya, tapi penyambutan yang "segalanya" ini lebih bersifat dunia, bukan hati. Akhirnya, yang muncul adalah kemewahan dan berlomba-lomba tampil menjadi yang terbagus. Kami lupa bahwa tidak semua orang bisa berhari raya. Kami juga lupa bahwa tidak semua orang bisa berbuka puasa dengan layak.
Ya Allah, di tengah kemegahan kepunyaan-Mu, Engkau tidak sombong, di tengah ketinggian kekuasaan-Mu Engkau tidak lupa terhadap hamba-hamba-Mu, dan di tengah kebesar- an-Mu, justru Engkau menjadi Tuhan yang mengasihi dan menyayangi hamba-hamba-Mu. Ah, sungguh manusia macam mana kami ini, kepunyaan kami teramat sedikit tapi sudah berjalan dengan kesombongan. Kekuasaan dan kekuatan kami pun, apalah artinya, dibandingkan dengan kekuasan dan kekuatan-Mu, tapi kami sudah begitu aniaya. Maafkan kami ya Allah.

Tidak Semua Orang Berhari Raya

Haruskah Ramadhan kita tunjukkan dengan kesukacitaan yang berlebihan?
"Anil udah beli baju?" tanya Luqman kepada Anil, anak Bang Azwar. Anil sedang main ular tangga bareng Basri, adik iparnya.
"Belonan," jawab Anil.
"Kok belonan beli?"
"Bapak nggak punya duit. Udah lama nggak kerja," Anil menjawab dengan datar sambil terus asyik main ular tangga.
Basri nyeletuk polos, "Basri mah udah beli, tiga. Dibeliin ama Emak."

Luqman tiba-tiba merasa bersalah kenapa dia bertanya seperti itu kepada Anil.
lebaran memang tidak perlu berbaju baru, lebaran memang tidak perlu punya makanan ini dan itu. Tapi tradisi kita, di tanah air ini, sudah telanjur membudaya bahwa lebaran itu harus dihiasi dengan keceriaan, dengan sukacita. Apalagi buat anak kecil. Bahkan, sebagian orangtua ada yang berkata, "Biarin dah kita-kita nggak lebaran, yang penting anak pada lebaran." Maksudnya, biar orangtua tidak beli pakaian baru asalkan anak berpakaian baru.

Tidak ada yang salah. Semangat menyambut hari kemenanganlah yang membuat kita begitu gembira menyongsong hari raya. Tidak salah juga kita menyenangkan hati anak-anak, tapi semangat kegembiraan ini kalau bisa dibarengi juga dengan semangat berbagi. Bahwa kesukacitaan itu tidak boleh milik kita semata, bahwa kegembiraan itu tidak boleh hanya kita yang merasakan. Mari, ajak mata dan hati untuk melihat ke sekeliling kita karena Allah minta kita sudi berbagi, sebelum kehidupan disapa kematian.

Tuhanlah Pemilik semua rezeki dan Dia sudi berbagi dengan kita. Masak kita tak mau berbagi, sedang sejatinya tak ada yang kita miliki?

Munajat

Demi melihat kelakuan hamba, hamba sendiri tidak mengasihi dan menyayangi diri hamba sendiri. Hamba masih berjalan dalam kegelapan, hamba masih membiarkan hati nan kotor yang memimpin kehidupan hamba, hamba masih membiarkan kezaliman menghias diri, dan hamba masih memudahkan lisan berbohong. Lalu, bagaimana mungkin hamba lalu ingin mengasihi dan menyayangi sesama?
Mudahkanlah ya Allah bagi hamba tuk bertobat, tetapkanlah keistiqamahan dalam diri hamba, dan biarkan pintu harapan senantiasa terbuka untuk hamba dan untuk segenap orang- orang yang berkenan menjadi hamba-Mu.

Rabb, berilah kekuatan pada diri hamba untuk bisa memerhatikan dan memedulikan sesama. Karena hamba tahu, jalan keselamatan, khususnya untuk orang-orang seperti hamba yang bermandikan dosa dan berpakaian maksiat, adalah dengan banyak-banyak menolong sesama dan banyak-banyak meringankan penderitaan sesama. Engkau Yang Mahakuat berfirman, lewat Nabiyallah Muhammad Rasul-Mu, bahwa siapa saja yang ingin diringankan penderitaannya, hendaknya ia ringankan penderitaan sesama. Siapa saja yang ingin diangkat kesusahannya, angkatlah kesusahan sesama. Dan bahwa siapa saja yang menginginkan pertolongan-Mu, hendaknya ia menolong sesama.

Majelis Zikir


Shalat Ashar berjamaah baru saja berlangsung di Masjid Nabawi. Biasanya, setelah itu Rasulullah saw dan para sahabat akan lama berzikir dan berdoa. Namun, di hari itu, begitu mengucapkan salam, Nabi lang­sung berdiri lalu, dengan tergesa-gesa, melangkahi pundak jamaah untuk menuju rumah beliau yang menyatu dengan masjid.

Beberapa saat berlalu, Nabi kembali. Melihat ke­heranan jamaah di depannya, Rasulullah bersabda, "Aku teringat ada beberapa batang emas di tangan kami. Aku tak suka terus memikirkannya, sehingga kusuruh segera dibagikan saja kepada yang berhak." (HR Bukhari).

Kisah ini memberi dua hikmah. Pertama, Nabi selalu membagikan titipan kepadanya, yakni zakat, sesegera mungkin. Beliau enggan menundanya meski semalam, atau membiarkan hak rakyat menumpuk di kas negara, semen­tara masih banyak fakir miskin di sekelilingnya. Kedua, setinggi apa pun pahala berzikir, itu tetaplah amalan sun- nat. Kewajiban harus didahulukan dan mustahil diganti dengan amalan sunnat sebanyak apa pun. Sebagai misal, dalam shalat subuh, bila seseorang terlambat bangun, dia harus tetap mengerjakannya saat terjaga. Shalat dhuha tidak bisa menggantikannya.

Sayangnya, banyak manusia tidak meneladani secara kaffah 'total' perjalanan hidup Nabi. Mereka memang giat berzikir, sesuatu yang sangat dianjurkan, bahkan tahan berjam-jam dalam majelis yang khusus dibuat untuk itu. Namun, mereka melalaikan begitu banyak kewajiban.

Padahal, makin banyak umat Islam yang gagal me­menuhi kebutuhan hidup.Yang lemah iman menjadi tergo­da gerakan misionaris hingga berpindah agama. Sayang­nya pula, dana badan amil zakat menumpuk hingga bermiliar rupiah. Pertanggungjawaban penyaluran minim, bahkan sangat mungkin diselewengkan justru oleh orang- orang yang sanggup berjam-jam berzikir dan berdoa seusai shalat.

Ada kesan mereka tertimpa wahn 'cinta dunia dan takut mati', sehingga memilih aktivitas yang tidak dimusuhi kaum kafir. Padahal, hanya menambah kemakmuran rak­yat lewat penyegeraan pembagian zakat, Nabi saja lang­sung meninggalkan zikir, doa, dan shalat rawatib.

Apalagi, untuk menyelamatkan nyawa dan aqidah ra­tusan jutaumat Islam, tentu lebih besar dan mendesak lagi pelaksanaan kewajiban itu.

Lebih Hina dari Bangkai


Suatu hari Nabi Muhammad saw berjalan-jalan di pasar, diikuti banyak orang. Di tengah jalan, ia meli­hat bangkai seekor anak kambing yang daun teli­nganya kecil. Nabi menghampiri lalu mengangkatnya ser­aya bertanya, "Siapa yang mau membelinya?" Massa men­jawab, "Kami tidak mau, tidak ada manfaatnya bagi kami."

"Kalau diberi gratis, apakah kalian mau?"
"Bahkan, bila kambing itu masih hidup, kami juga me­nolaknya karena telinganya cacat. Apalagi sekarang anak kambing itu sudah jadi bangkai." Mendengar itu Nabi ber­sabda, "Demi Allah, sesungguhnya dalam pandangan Allah, dunia lebih hina daripada bangkai ini menurut anggapan kalian." (HR Muslim)

Ini wajar karena bangkai tak lagi berbahaya. Bangkai pun tak kuasa menggoda dan menyesatkan orang hingga saling menganiaya. Bangkai siapa pun atau hewan apa pun takkan bisa menggunjing dan memfitnah. Sebaliknya, isi dunia bisa mengawali penghancuran manusia oleh per­adaban imperialisme beberapa negara. Karena muatan pe­rut bumi, seperti tambang minyak atau emas, penganiayaan hingga pembantaian ribuan orang masih terjadi hingga kini.

Selain itu, kemampuan meraih nikmat dunia dijadikan kriteria kesuksesan sehingga ditirulah peradaban negara atau orang yang paling mampu meraih nikmat fisik dunia. Ukuran sejati kemanusiaan, yakni ketakwaan dan kelu­huran akhlak, tersingkirkan. Padahal, itulah standar pe­nilaian Allah.

"Jangan sekalipun kamu teperdaya akan kebebasan orang-orang kafir bergerak (karena kekayaan dan kema­juan ekonominya) di dalam negeri. Itu hanyalah kesenan­gan sementara, selanjutnya tempat tinggal mereka ialah neraka Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk- buruknya tempat tinggal." (QS 3:196-197).

Sabda Nabi di awal tulisan ini hendaknya menyadark­an mereka yang selama ini terlalu memuliakan dunia. Tak jarang harta atau jabatan seseorang dijadikan standar ke­muliaan. Akibatnya, bukan cuma saat berbisnis atau mua­malah lain, bahkan dalam dakwah sekalipun, kerap muncul keengganan mengakui kebenaran dakwah orang- orang yang lebih miskin daripada yang didakwahi. Jadi, tinggalkanlah penilaian kemuliaan atau kebenaran pada diri seseorang yang didasari ukuran keduniaan.

Islam di Cordova


Raja Inggris pernah mengirim surat kepada Sultan Hisyam III, penguasa Andalusia (kini Spanyol).
Berikut petikannya, "Kami telah mendengar kema­juan ilmu dan industri di negara paduka. Karenanya, kami bermaksud mengirim putra-putri terbaik kami untuk me­nimba ilmu di negara paduka yang mulia agar ilmu penge­tahuan tersebar ke negeri kami yang dikelilingi kebodohan dari empat penjuru." (dikutip dari Dr Muhammad Sayyid Al Wakil dalam Lamhatun min Tarikhid Daiwati 'Wajah Dunia Islam'.

Isi surat ini membuktikan bahwa peradaban Islam yang berpusat di Cordova itu adalah sumber ilmu, teknologi, dan cara hidup masyarakat Eropa. Atas perkenan Hisyam III warga Eropa berduyun-duyun belajar di madrasah, uni­versitas, dan perpustakaan Islam Mereka terbelalak, mula­nya, ketika mendapati teori bumi itu bulat dan mengeli­lingi matahari, bukan seperti doktrin gereja saat itu.

Kebesaran rahmat Allah kepada Cordova tergambar dalam buku sejarah Al Azhar, yang dikutip Al Wakil. Ketika sang surya terbenam, kota-kota besar Eropa gelap gulita, sedangkan di Cordova terang benderang disinari lampu-lampu. Eropa sangat kotor, padahal di Cordova telah dibangun ribuan WC umum. Eropa terbenam dalam lumpur, di saat yang sama jalan-jalan di Cordova mulus dan teratur. Bahkan, ketika anak-anak Cordova mulai ma­suk sekolah, tokoh-tokoh (raja, bangsawan, dan pendeta) Eropa belum bisa menulis namanya sendiri.

Dengan kondisi itu, maka mustahil ada manfaat yang bisa diberikan Eropa. Cordova pun tidak memerlukan apa- apa dari luar Islam. Fakta ini diakui sejarawan besar Barat Gustave Lebon yang menyatakan, "Tidak ada hal-hal posi­tif dari bangsa Barat yang brutal itu yang bisa ditiru dunia Timur."

Benar, sebab mereka baru menggunakan sabun mandi setelah belajar dari umat Islam pada era perjanjian per­damaian seusai Perang Salib. Sebelumnya, orang Eropa ja­rang mandi. Cordova makmur dan mencurahkan rasa aman kepada rakyat, termasuk warga Kristen dan Yahudi, karena beriman dan menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan (lihat QS 7:96). Mereka hanya meniru Daulah Madinah, meski jelas tidak mampu menandingi keluhuran peradabannya. Kapan umat Islam di Indonesia mengembalikan kejayaan Madinah dan Cordova?

Tuesday, January 29, 2013

Pejabat Bermasalah


Tampaknya, hanya Islam yang telah memberi petun­juk dan bukti kongkret kesuksesannya memberes­kan pejabat bermasalah. Jangankan terhadap peja­bat penggelap dana sosial, bagi pejabat yang mencoba mengkorupsi sepotong jarum pun akan ditindak. Dalam beberapa hadits yang disahihkan Imam Abu Dawud di­sampaikan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, "Barangsiapa yang bekerja dengan kami, dan telah digaji dan diberi fasilitas dinas, lalu menggelapkan harta, walau cuma sepotong jarum, maka dia dinilai berkhianat."
Ketatnya definisi Islam soal harta haram bagi pejabat, serta kuatnya kontrol kepala negara membuat banyak orang mengundurkan diri begitu mendengar aturan kene­garaan, sebagaimana hadits tersebut. Misalnya, seorang sahabat Anshar memilih mundur, padahal dia tidak me­lakukan korupsi apa pun.

Bukti lain datang dari Khalifah Umar bin Khattab. Hanya karena panglima perang Khalid bin Walid tidak me­matuhi perintah soal pembagian ghanimah 'harta ram­pasan perang', maka jenderal hebat itu dipecat. Umar me­merintahkan agar harta jangan dibagikan kepada orang-orang yang telah kaya, melainkan khusus bagi fakir miskin (riwayat Ali bin Rabbah).

Meski kesalahan Khalid tampak sepele, apalagi bila di­banding jasa-jasanya, memenangkan perang atas Impe­rium Romawi di Muktah dan Yarmuk, tetapi wajib bagi Umar menindaknya dengan keras. Bila tidak, kepercayaan rakyat kepada sistem dan pengelola negara merosot.

Perselisihan dan konflik horizontal melebar. Akhirnya, perhatian pemerintah dan rakyat tersedot pada pejabat bermasalah itu, dan bukannya menyelesaikan masalah- masalah nyata, seperti kemiskinan dan ancaman negara lain.

Ini juga untuk mencegah timbulnya sikap meremehkan harta negara dan rakyat. Zaid bin Aslam meriwayatkan, Umar pernah memperingatkan anak buahnya agar tidak meremehkan aset negara atau publik, dan hanya takut mencuri harta pribadi orang lain. Sebab, sekali sikap ini muncul, maka harta yang seharusnya dibagi kepada fakir miskin pun akan disikat. Padahal, ini jelas dosa besar.

Terlihat dari surah Almaauun:7, hanya karena sese­orang tidak mengajak memberi makan orang miskin, Allah sudah menyebutnya sebagai pendusta agama. Lalu, bagai­mana dengan orang yang mengkorupsi jatah makan orang miskin puluhan miliar rupiah?

Aku Sudah Datang!

Kadang Allah menampakkan diri-Nya dalam bentuk deritanya orang-orang papa.
"Hai Musa, kami mau mengundang Tuhan untuk hadir di jamuan makan malam kami?" pinta tetua Bani Israil kepada Nabiyallah Musa.
"Ya, Musa. Bicaralah kepada Tuhan agar Dia berkenan hadir," timpal yang lain.
Nabi Musa agak sebal juga mendengar permintaan kaumnya. Di telinga beliau, permintaan itu lebih mirip dengan ejekan, penghinaan. Beliau menjawab bahwa Tuhan tidak membutuhkan makanan dan minuman. Bahkan, Dialah Yang Memberi makanan dan minuman dan segala yang menjadi kebutuhan manusia.

Dalam kondisi setengah marah dan kecewa, Nabi Musa naik ke Bukit Sinai. la bermaksud menyampaikan unek-uneknya kepada Tuhan. Sesampainya di sana, Tuhan malah berfirman, "Hai Musa, bukankah kaummu sudah mengundang Aku untuk hadir di jamuan makan malam mereka? Sampaikan salam kepada mereka, Aku bersedia hadir pada Jumat malam."

Sambil heran bercampur bingung, Nabi Musa sampaikan juga berita kebersediaan Tuhan ini kepada kaumnya.
Mulailah kaum Bani Israil mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut Tuhan. Nabi Musa sendiri ikut turun tangan agar penyambutan ini menjadi penyambutan yang spesial. Karena yang datangnya juga spesial, Allah, Tuhan Penguasa alam ini.
Hari demi hari berlalu hingga tibalah waktu yang dinanti-nantikan. Sementara itu persiapan terakhir terus dilakukan.
Ketika mereka sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam, tiba-tiba datang seorang tua dengan pakaiannya yang lusuh. Wajahnya tak dikenal oleh warga setempat. Wajahnya yang kelelahan menyiratkan bahwa ia pastilah datang dari negeri yang jauh. Penampilannya menyiratkan bahwa pastilah ia orang susah, orang miskin, la mengetuk pintu hati orang-orang yang ada di situ, di tempat jamuan makan malam, "Hai Tuan, adakah yang sudi memberikan saya makan walau sedikit dan minuman walau seteguk?"
Tak satu pun yang peduli.
"Hai Tuan, adakah yang sudi memberikan saya makan walau sedikit dan minuman walau seteguk?"
Hingga larut malam, Tuhan yang berjanji hadir tidak kunjung hadir. Kaum Bani Israil sudah mulai gelisah dan resah. Nabiyallah Musa sendiri mulai salah tingkah. Ketika malam semakin larut, wajah-wajah kaum Bani Israil pun mulai menunjukkan kelelahan dan rasa kantuk berdampingan dengan kekecewaan kepada Nabi Musa dan Tuhannya yang tidak kunjung datang.
Hingga pagi harinya, kekecewaan Kaum Bani Israil berubah menjadi kemarahan. Mereka menuduh Nabi Musa berbohong.

Musa 'alaihissalam pun tidak kalah kecewanya. Meski de mikian, tentu saja ia merasa tidak berhak marah kepada Tuhan. Hanya saja ia sedih mengapa Tuhan melalaikan janji Nya, yang akhirnya membuat ia menjadi terpojok.
Naiklah lagi Musa ke Bukit Sinai untuk menunjukkan kesedihan dan kekecewaannya.
Setibanya Musa di Bukit Sinai, dan sebelum Musa berkata-kata, Tuhan malah berfirman, "Ketahuilah, hai Musa, Aku sudah datang. Aku sudah datang!"
"Aku sudah datang, memenuhi Janji-Ku. Tapi kalian tak satu pun ada yang menyambut-Ku. Aku datang bahkan dalam keadaan lapar dan haus. Dan tak ada satu pun dari kalian yang sudi memberi-Ku makan, memberi-Ku air. Aku bahkan datang kepadamu Musa, dalam keadaan letih, tapi engkau malah menyuruhku memenuhi bak air untuk sekadar upah yang hanya bisa mengganjal perut-Ku dan untuk sekadar upah yang hanya bisa membasahi tenggorokan-Ku.

Ketahuilah, Musa, tidaklah sampai cinta-Ku kecuali engkau mencintai sesama. Tidaklah sampai pelayanan-Ku kecuali engkau sudi melayani sesama. Ketahuilah, Aku hanya mencintai mereka yang mencintai sesama. Aku bersedia membantu hanya kepada mereka yang bersedia membantu sesama. Dan ketahuilah pula, kenikmatan adalah untuk berbagi.

Lemaslah Musa. Dan sadarlah ia akan kekeliruannya dan kekeliruan umatnya. Tuhan ternyata hadir. Dan Dia hadir dalam rupa seorang tua. Sekarang, Tuhannyalah yang "kecewa" pada dirinya dan diri umatnya.
Dalam kesenangan, ada wajah Allah; dalam kesusahan, juga ada wajah Allah. Dalam kebahagiaan, ada wajah Allah; dan dalam kesedihan, juga ada wajah Allah. Di setiap keadaan, selalu ada wajah Allah.

Luqman menggubah sedikit cerita Israiliyat ini untuk disampaikan kepada banyak orang. Harapannya adalah agar tumbuh perkenan di hati, pikiran, dan gerak untuk melirik kepada mereka yang kesusahan, kepada mereka yang menderita.

Luqman sedikit mengingat sebuah firman Tuhan, kata-Nya, "Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makanan. Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum. Ketika Akiku seorang asing, kamu memberi Aku tempat tinggal. Ketikka Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian. Ketika Aku  sakit, kamu menjenguk Aku. Ketika Aku sedih, kamu menghibur Aku." Dan Tuhan melanjutkan, "Sesunggunya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari kamu, sesungguhnya kamu telah melakukannya untuk Aku."

Alangkah bahagianya anak-anak yatim yang berada di rumah bilik sederhana, yang tidak ada satu pun barang mewah kecuali tungku kosong, ketika kita datang dengan tangan menenteng makanan yang membuat kehidupan mereka "tersambung".
Alangkah bahagianya orang-orang tua nan jompo yang ketika mereka tidak bisa bangun dari tempat tidurnya lantaran sakit, sedang di samping mereka tidak tampak anak keturunannya, lalu kita datang membelai, memberinya minum, dan menyuapi mereka makanan.
Alangkah bahagianya orang-orang tua yang miskin yang menyaksikan tangis putranya lantaran esok sudah akan dikeluarkan dari sekolah sebab tidak bisa bayar SPP, lalu kita datang membayarkan SPP-nya tepat pada waktunya.
Alangkah bahagianya para ibu yang sudah kehabisan akal ketika menyaksikan bayinya menangis tiada henti lantaran minta susu sedang air susunya mengering. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali? menatap sedih bayinya dan membiarkannya hingga kita datang membawa sekaleng susu bayi.

Alangkah bahagianya para dhuafa yang jarang menemukan makanan enak, yang jarang menerima selembar ribuan, selembar sepuluh ribuan, apalagi berlembar-lembar lima puluh ribuan atau seratus ribuan, hingga kita datang membagi-bagikan derma bak membagi-bagikan permen di kantong.
Alangkah bahagianya bila kita sendiri bisa mengambil peran sebagai perpanjangan tangan Allah dalam mengasihi dan menyayangi sesama.
Allah, Tuhan Pemilik kebahagiaan, bahagia menyaksikan kita membahagiakan sesama. Allah, Tuhan Pemilik kesenangan, senang menyaksikan kita menyenangkan sesama.

Munajat

Ya Allah, Engkau ciptakan manusia atas dasar kasih dan sayang-Mu, bagaimana kemudian hamba bisa menjadi manusia yang tak mempunyai kasih sayang?

Ya Allah, Engkau pelihara hamba dengan cinta-Mu yang tulus untuk kepentingan hamba semua, lalu bagaimana mungkin hamba menjadi manusia yang hidup tanpa cinta dan memenuhi kehidupan dengan pertikaian dan permusuhan?

Ya Allah, Engkau pelihara bumi dan langit dengan pemberian yang tak terhingga, lalu bagaimana mungkin hamba bisa hidup dengan tangan terbelenggu lantaran kikir dan menebar kebencian dan permusuhan lantaran keserakahan dan kesombongan?
Itu semua mungkin karena hamba hidup di atas nafsu, bukan di atas ridha-Mu.

Bila Engkau berkehendak, tetapkan sifat kasih sayang-Mu menjadi sifat hamba juga, mengalahkan segala potensi sifat- sifat buruk, yang ada. Agar hamba bisa menjadi manusia pengasih, yang peduli terhadap nasib sesama.

Wahai Pemberi rezeki, jangan biarkan hamba memenuhi perut hamba sendiri sementara ada begitu banyak perut yang terabaikan. Jangan biarkan hamba mampu menikmati kemewahan dalam kesendirian tanpa ada keinginan berbagi. Dan jangan biarkan hamba hidup tanpa sentuhan kasih dan sayang-Mu, yang membuat hamba hanya menjadi manusia tanpa jiwa. Kering dan hampa.

Monday, January 28, 2013

Jangan Sampai Terlambat

Pada suatu malam, ada sepasang suami istri yang sedang bercengkrama di kamar bak sepasang pengantin baru.
Tiba-tiba sang suami mendengar ada yang mengetuk pintu. Tok tok tok
"Mah," kata sang suami, "pintu ada yang mengetuk tuh. Ada tamu kali?"
Sang istri menjawab dengan malas, "Saya nggak mendengar suara apa-apa, Pah," katanya sambil menarik selimut.
Tok tok tok
Suara itu terdengar lagi.
Sang suami berkata lagi, "Mah, benar tuh. Ada yang mengetuk!" Lalu ia meminta istrinya untuk melihat ke ruang tamu, memeriksa siapa tahu benar ada tamu.

Lantaran hormatnya kepada suami, sang istri berjalan ke pintu yang dimaksud. Disingkapnya tirai jendela, tapi tidak ada tamu yang terlihat. Karena penasaran, dibukanya pintu, pun tidak ada tamu yang terlihat. Keadaan ini dilaporkan kepada sang suami.
Tok tok tok

Suara itu kembali terdengar, begitu istri selesai melaporkan tidak ada tamu. Si suami bingung, mengapa suara itu hanya ia yang mendengar. Dengan kainnya yang agak-agak berantakan, suami ini pergi beringsut dari kamarnya, pergi sendiri melihat. Penasaran.
Kira-kira selangkah lagi menjelang pintu depan, si suami ini bertanya, "Siapa di luar? Malam-malam namu!"
Suara di depan menjawab dengan pelan dan datar,"... Saya... 'Izrail!"

Meski pelan dan datar, suara itu bak guntur yang mengagetkan hati suami tersebut, la tahu bahwa 'Izrail itu kalau datang, pasti untuk mencabut nyawa. Suami tersebut memutar langkah, berbalik ke belakang. Tiba-tiba saja ia mengingat bahwa ia belum shalat, belum bersedekah, belum haji sedang uang ada, belum minta maaf pada mereka yang ia kecewakan, dan belum-belum yang lainnya. Tapi terlambat. Sejurus dengan berbalik arahnya ia (kalau tadinya menghadap ke pintu depan, kini ia membelakangi pintu depan sebab kepingin lari), tiba-tiba saja ia mendapati 'Izrail sudah bergerak mencabut nyawanya! Maka terempaslah badannya yang sudah tidak bernyawa.

Pembaca, keadaan seperti ini sangat mungkin kita alami. Makanya, mumpung kita masih ada nyawa, mumpung kita masih ada sedikit harta, mumpung kita masih disehatkan Allah, segeralah kita memulai kebaikan demi kebaikan yang diseru Allah, di antaranya shalat dan mengasihi sesama; baik membantu dengan tangan, ucapan, dan membantu dengan harta. Wassalam.
"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang ke matian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan ajalku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang- orang yang saleh?" (QS Al- Munafiqun [63]: 10)

HALAL BIHALAL

WAKTU minggu yang lalu saya menghadiri halal bihalal kantor kami, terasa benar bagaimana absurd upacara itu. Warga yang jumlahnya ratusan itu berbaris, melingkar bagaikan ular sawah untuk saling menyalami dan menggrendengkan kalimat: minalaidin walfaizin. Pada waktu kita baru menyalami lima sampai sepuluh orang, minalaidin walfaizin itu masih jelas kedengaran. Tetapi, pada salam yang ke-13 atau ke-15 begitu, kalimat dalam bahasa Arab itu mulai meng-grontol. Yang kedengaran jelas minal- aidin-nya selebihnya hanya merupakan gumam yang mulai tidak jelas. Tetapi senyum, artinya pertunjukan gigi, tetap nampak dengan simpatiknya. Hanya suara yang keluar'dari mulut itu, lho! Sesudah cuma minalaidin-nya yang jelas, selanjutnya cuma minal-nya untuk kemudian, sesudah salaman dengan orang yang kesekian puluh, tinggal huh, huh, huh saja yang kedengaran. Weh, maaf lahir dan batin, tahun 1414 H....
"Lho, itu apa tidak absurd to, Prof.?" tanya saya kepada Prof. Dr. Lemahamba M.A., M. Sc., M. Ed., B.A., dan sak banjur- nya titel, yang sedang mampir ke rumah saya.
"Absurd? Apanya yang absurd? Wong upacara maaf-maafan kok absurd."
"Lha, minta maaf borongan tur cuma menggrendeng minal aidin huh, huh itu. Prof.? Apa tidak aneh to itu?"
Saya lihat Prof. Lemahamba, idola saya yang tidak kunjung padam aura wibawanya menyinari sekelilingnya, mulai memukul-mukulkan jari-jarinya ke dahinya. Saya jadi panik karena sebagai orang yang selalu minder berhadapan dengan beliau, gesture menjentik-jentik kepala begitu berarti beliau mau lebih meminderkan saya lagi.
"Kamu itu lho, Geng! Heran aku! Sesudah tua kok jadi sinis begitu. Kamu kok tidak mampu lagi melihat esensinya Lebaran to, Gus."
"Lha, esensinya itu apa to, Prof."
"Ya kumpul-kumpul sama sanak saudara, handai taulan, kolega-kolega, sama-sama bersyukur sudah mencapai kemenangan memerangi hawa nafsu, dong. Itu esensinya, 'kan?"
"Ya, tapi kalau sudah jadi ombyokan, melibatkan ratusan orang, mana kita tidak saling terlalu kenal, esensinya rak kle- lep, tenggelam. Maaf-maafan, bagi-bagi roso seneng sudah menang puasa, rak mesti disampaikan lewat tulusing ati to, Prof. Mboten minal aidin huh, huh, huh saja. Malah banyak yang cuma meringis, cuma huh, huh, huh saja itu, Prof."
"My God! Kamu itu wong Jawa sudah mau ilang Jawane, Geng. Kamu jadi too rational, too analytical. Wis, kamu renungkan itu, Geng. Kalau kamu tidak ketemu jawabannya tanyalah Mister Rigen."
Mak klepat! Prof. Dr. Lemahamba etc., etc., langsung masuk BMW-nya yang dahsyat itu. Beup, pintunya ditutup. Kemudian jendelanya dibuka lagi. Kepalanya dijulurkan lagi.
"Eh, aku besok mau ke Jenewa terus ke Frankfurt."
"Mau halal bihalal di sana to, Prof.?'
"Hus, aja ngece kamu ya! Mau tak oleh-olehi apa nggak? Hem-mu sudah tua!"
"Mau, mau, Prof. Hem ukuran XL, celana pinggang 42,jas ...."
"Wis, u wis! Ditawari hem merogoh apa kamu ya!"
BMW metallic kelabu itu distarter mak-sriwing-sriwing saking halusnya. Sepeninggal beliau, tahu-tahu begitu saja mak-jleg penggeng eyem, penggeng eyem sudah menjajakan dengan suara cemprengnya di depan pintu.
"We, Pak Joyo bikin kaget saja, lho. Kok tumben mau mampir, Pak."
"lyak, Pak Ageng. Tiap Kemis dan Minggu sampai serak saya teriak, Bapak pura-pura tidak mireng saja, kok."
"Ya, maaf saja, nggih. Diabetes, Pak, diabetes. Itu yang bikin saya jarang panggil sampeyan."
"Iya, iya, saya mengerti kok, Pak Ageng. Malah saya ikut mendoakan lekas sembuh. Saya cuma mampir mau halal bihalal kok, Pak. Sama Bapak, sama keluarga Mas Rigen. Eh, orang bakulan itu rak banyak dosanya. Panjenengan maafkan saja nggih, Pak?"
"Iya, Pak sami-sami saling memaafkan."
Tahu-tahu dari belakang rumah suara gedebuk-gedebuk bedhes-bedhes Beni dan "Iblo-Tblo berlari sembari berteriak "Sate usus, Pak Joyo, sate usus". Di belakang mereka Mister Rigen dan misus pada mengikuti. Begitu ketemu gapyuk mereka pada salam-salaman bermaaf-maafan.
"Enggih Pak Joyo, kula sak gotrah menghaturkan minal- aidin walfaizin semua dosa-dosa kami muhun dimaafkan. Maklum yang lebih muda lebih banyak kesalahannya."
"Iyak, sampeyan niku. Ya sama-sama to kalo perkara kesalahan. Tidak muda tidak tua ya mesti dalam setahun bikin kesalahan. Lha sampeyan waktu Lebaran pulang ke Praci apa tidak, Mas?"
"Pulang sebelum Lebaran. Ning Lebaran pertama masih sempat sembahyang Ied di desa, lho. Lha, sampeyan sembahyang Ied di mana, Pak Joyo?"
"Oh, kula mboten sembahyang Ied, je, Mas. Soalnya nyonyahe juragan ngiming-imingi kalo saya mau ider hari-hari Lebaran itu saya dapat persen banyak jee !
"Terus sampeyan diiming-imingi persen begitu ya berangkat, Pak?"
"Lho, lha enggih berangkat. Soalnya buat beli macam-macam buat anak-anak itu, Jan habis-bis persediaan di rumah, je. Saya pupus Gusti Allah tidak sare, pasti tahu semua iktikad manungsa. Pasti mau paring pangaksama kepada wong cilik. Ya dengan "bismilah" saya berangkat menjaja penggeng eyem."
Saya lega melihat muka Mister Rigen tidak tegang, apalagi bersinar superior mendengar apologia Pak Joyoboyo. Malah biasa saja penuh pangerten bin understanding. Mereka semua lantas saya traktir penggeng eyem sak puas mereka. Waktu Pak Joyo pergi, saya bertanya kepada suami-istri Rigen apakah PBB dan PJJ kawasan kita tahun ini juga mengadakan halal bihalal bersama.
"Lha, iya sudah to, Pak. Waktu Bapak kemarin dulu berangkat ke Jakarta itu, lho Pak."
"Ya gayeng, Gen? Meskipun yang hadir berpuluh-puluh sak cindil merah kalian?"
"Ya tetap gayeng, Pak. Wong setahun sekali saja ketemu yang begitu."
"Lha, kamu waktu salaman sama begitu banyak orang apa ya sampai orang penghabisan lidahmu masih fasih ngucap minalaidin walfaizin. Pasti nggrontol to habis salaman sepuluh orang. Paling kalian lantas cuma pringas-pringis sembari huh, huh, huh saja, to?'
"Elho, Bapak niku pripun? Bagaimana. Wong salaman pringas-pringis kok disoal, lho. Juga kalo kita cuma bilang huh, huh, huh. Itu tidak perlu disoal, Pak. Yang penting ati-nya, Pak. Niatnya, Pak."
"Iyak, bisa saja kamu itu."
"Lho, bagaimana to Bapak ini. Orang ngucap jelas itu rak cuma alat pengucapan to, Bapak. Alat. Yang penting itu di sini, Pak, di sini!"
Dan Mister Rigen yang mulai berkobar-kobar emosi itu menunjuk pada dadanya berkali-kali. Dalam hati saya ngunandika: weh, anggepnya dia itu Prabu Baladewa apa? Untunglah saya itu sudah bukan feodal lagi. (Setidaknya iktikadnya mau jadi demokrat). Saya malah manthuk-manthuk sembari meninggalkan dia ke kamar. Soalnya, saya lantas ingat Prof. Dr. Lemahamba. Saya cuma bisa menggrendeng: Prof., wong Jawa itu ya masih terus jadi wong Jawa. Wong Jawa itu . ....
Di kamar saya ganti pakai sarung mau tidur siang. Wong Jawa itu, Prof., wong Ja. . .
29 Maret 1994

TENTANG MENU LEBARAN

PADA hari Lebaran ke-2 kemarin, brayat sak-go- trah saya, saya angkut ke \bgya. Begitulah selalu aturan permainannya. Lebaran ke-I saya di Jakarta memainkan peranan sebagai anak, karena orang-orang tua atau yang saya tuakan pada bermukim di Jakarta. Sedang pada Lebaran ke-2 saya berfungsi di \bgya sebagai orang-tua. Di nDalem Keagengan cabang \bgya saya madeg penguasa kadipaten yang besar, sedang di Jakarta, karena memainkan peranan sebagai anak itu, saya cuma madeg di kadipaten yang lebih kecil. Di \bgya Kadipaten Jodipati, di Jakarta Kadipaten Ngawangga. Wau to, tadi to, pada Lebaran ke-2 itu sangat ramai dan kemruyuk para sanak-saudara yang lebih muda, juga si Mbak dan Mister Kebumen dalah precil-precil mereka yang tahun ini pada lebaran di Kebumen pada menghadap juga di Kadipaten Jodipati, Gendut, dan para keponakan sepupu dalah koleha-kole- ha yang paling muda, semua ander berdudukan, ber-pentalit- an di rumah saya. Pada kesempatan begitu di samping merasa hangat, bangga, juga roso tuwo, perasaan tua itu sekaligus agak memiriskan hati juga. Lebaran tahun ini jelas semangkirt tuwo, mana tubuh semangkirt enggrik-enggrikan lagi. Tetapi, yang menyenangkan anak-anak saya, lain daripada di Jakarta di mana semua barisan belakang pada mudik, Mister Rigen & family kali ini hadir lengkap di tengah-tengah kami. Kehadiran mereka itu menggembirakan, karena itu berarti anak-anak saya, si Mbak dan si Gendut, tidak usah ikut cancut tali wanda, menyingsingkan lengan baju ikut terjun ke dapur dan bagian korah-korah. Semua smooth ditandangi oleh keluarga Rigen.
"Menu Lebaran di sini apa, Mister?"
"Ya, maunya apa, Ndut?'
"Yang tidak umum Lebaran, dong. Di Jakarta sudah lontong, sambel goreng ati, opor ayam, ditambah rendang lagi. Di sini mesti lain, dong."
"Yang khas di sini?"
"Iya dong, yang biasa dimakan Bapak."
"Woo, kalau itu tidak ada urusannya dengan Lebaran, yang dimakan Bapak sampeyan itu."
"Misalnya?"
"Bapakmu itu, Ndut, sukaannya brongkos, sayur ndeso tempe dimasak sama lombok ijo, botok, pokoknya yang mble- kotrok-mblekotrok begitu."
"Ah, yang bener!"
"Iya, Ndut, Mbak. Itu-itu saja kok makanannya."
"Lho, di Jakarta sukaannya ngajak makan kita di tempat macem-macem itu."
"Misalnya?"
"Di restoran-restoran hotel berbintang, di Sogo, di restoran
Thai...."
Saya yang mendengar percakapan absurd dari beranda depan jadi tertawa nggleges. Sekarang Mister Rigen yang suka ndobos ala Pracimantara itu kena batunya. Gendut kalau kumat hobinya ngerjain orang bisa sadis sekali. Yang di-do- bos-kan Gendut seakan-akan kerja saya di Jakarta sepertinya setiap malam makan di hotel berbintang atau di restoran mewah jelas tidak betul. Sekali-sekali iya. Untuk menjaga imej Bapak yang generous dan tidak kunjung kekeringan dana. (Bahwa dana ini keluar dari amplop-amplop oceh-ocehan dan sebagainya itu, anak-anak saya tidak perlu tahu, to. Juga untuk unjuk muka di publik Jakarta yang sangat mejeng conscious alias sadar-mejeng itu. Untuk sekadar kasih unjuk: lho, ini orang Yukja tidak terlalu baekward untuk bisa makan dengan garpu dan pisau-belati, to? Tetapi, Mister Rigen sesungguhnya men-dobos juga tentang saya. Kalau Gendut men-dobos tentang bapaknya yang* suka tampil sebagai gastronomigue yang kayak yako-yako, Mister Rigen sesung-
guhnya mau ceritcra kalau di Yogya bosnya itu suka nglakoni, menjalani gerakan hidup sederhana. Makan cuma segala yang mblekotrok-mblekotrok dan murah-murah saja. Memberikan kesan seakan-akan saya anti-bestik, empal, dan kepiting. We, lha!
"Wah, Bapak sampeyan itu kalau di sini kalau makan luar sukaannya cuma makan gudeg dan nasi goreng Masih Sepuluh itu, Ndut. Lekotrok lagi."
"Mister, begini saja. Hari ini kau masak yang kau bilang blekotrok-blekotrok itu."
"Ah, yang betul, Non. Ini 'kan masih Lebaran Kalau banyak tamu datang bagaimana?'
"Biarin. Biar tahu cita-cita rumah ini kalau Lebaran."
"Lho, itu kan bikin jatuh nama Bapak sampeyan dan, he-he, nama saya juga."
"Saya tanggung tidak deh. Dan tambah sayur ijo-ijo yang banyak."
Begitulah. Siang itu pada hari Lebaran ke-2 di nDalem Keagengan yang prestisius itu makan siang berupa makan sehari-hari saya. Brongkos (yang konon berasal dari nama Meneer Bronkhoorst) met kikil en kacang tolo dan segala sayur ijo-ijoan yang diurap en tempe bacem. Mestinya saya makan susunan lauk yang begitu ya lahap. Wong kesenengan saya. Ning hari Lebaran itu? Mestinya kita bermewah-mewah sedikit. Met opor ayam dan sambel goreng ati begitu. Jadi, saya secara psikolohi jadi tidak enak juga makan. Lha Bu Ageng yang kalau datang ke rumahnya cabang Yogya tidak mau ambil kendali inisiatif apa-apa mengernyitkan alis juga melihat komposisi menu begitu.
"Lho, Pak, Mister Rigen, ini menu Lebaran apa ya? Brongkos!"
"He-he-he."
Yah, saya cuma bisa tertawa begitu. Wong di dapur saya sudah terjadi kudeta yang dilancarkan Gendut. Gendut sendiri tersenyum puas. Si Mbak judeg melihat pokal adiknya. Cucu-cucu saya protes minta spaghetti.
"Ha-ha-ha, all of you the Ageng family. Listen to me! Saya
mengaku deh. Ini memang pokal saya. Maunya back to basic"
Si Mbak yang masih keki langsung me-nyantlap adiknya.
"Emangnya lu Jenderal Wismoyo apa?'
"Yo wis ben! Menu Lebaran yang biasa itu. Opor ayam, sambel goreng ati, dendeng ragi, ketupat, bubuk dele, itu semua ketahuilah wahai the Ageng famfly, menu priyayi pamong praja. Menu birokrat elite. Menu Korpri bagian tinggi. Ini! Menu Lebaran ini yang bener! Ayolah bon apetit, slamat makan."
Semua pada diam Tidak sari-sarinya Gendut beragitasi begitu. Saya yang sudah lama tidak lihat dia kumat tertawa kecil juga. Semua lantas pada makan. Ajaib! Kalau sebelum disilakan Gendut secara psikolohi saya sudah nglokro melihat brongkos, kok jadinya enak juga.
"Enak to! Enak to! Mister Rigen, congratulations! Enaak!"
Tapi, waktu Mister Rigen menghidangkan buah-buahan dan mengundurkan piring-piring kosong saya tangkap juga dia menggrendeng.
"Ciloko! Di Praci Lebaran juga tidak ngopor dan nyambel goreng ati. Di sini malah membrongkos! Ciloko...."
Saya menoleh ke ambang pintu dapur. Saya memang tidak melihat gundul-gundul kecil Beni dan Tolo-Tolo. Pasti mereka sudah putus asa juga tidak bisa ikut makan Lebaran betul
22 Maret 1994

JIKA TELAH MERASAKAN MANISNYA IMAN


"Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: Mencintai Allah dan Rasul'Nya melebihkan segalagalanya. Mencintai seseorang hanya karena Allah. Enggan untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah, sebagaimana ia enggan bila dilemparkan ke dalam api neraka." (HR. Bukhari-Muslim, dari Anas).

Ketika bahagia itu sangat dipengaruhi rasa aman, tenang dan damai di hati, maka yang demikian itu pasti akan diraih oleh orang yang telah merasakan MANISNYA IMAN. Ketika kita mendapati seseorang yang tiada putus-putusnya bersyukur kepada Allah, padahal hidupnya sangat sederhana, rumahnya sederhana, makanannya sederhana, pakaiannya sederhana, tetapi ia tidak pernah berhenti sesaatpun dari bersyukur, ingat dan mendekatkan diri kepada Allah, maka itu karena manisnya iman yang telah dirasakannya.

Jika manisnya iman telah dirasakan, maka di penjara sekalipun orang tetap merasakan ketenangan. Kemiskinan tidak membuatnya menderita. Kehilangan
seseorang atau sesuatu yang sangat dicintai, tidak membuatnya terus-menerus bersedih, resah dan gelisah, tidak membuatnya putus asa dan kehilangan gairah hidup, sebab keimanannya yang benar membuat ia yakin bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik penderitaan tersimpan keberuntungan. Kesusahan itu hanyalah sesuatu yang bersifat sementara. Ia berkeyakinan bahwa itulah salah satu cara Allah memperlihatkan kasih- sayang kepada hamba-Nya. Maka di relung hati yang paling dalam ia merasakan kebahagiaan, meskipun mungkin lahirnya ia menderita.

Dr. Yusuf Qardhawi menulis, "Ketika orang beriman tidak menyesali apa yang terjadi di masa lalu yang menyusahkannya, dan tidak menggerutu dengan apa yang sedang terjadi, juga ia tidak menatap masa depan dengan penglihatan yang suram dan redup. Ini disebabkan karena ia senantiasa memiliki rasa aman dan damai di dalam hati, bagaikan orang yang hidup di alam surgawi. Demikian itu, karena pengaruh iman di dalam jiwanya."
Bagi seseorang yang telah merasakan manisnya iman, beribadah dan melakukan kebaikan-kebaikan, bukan semata-mata terasa mudah dan ringan, karena semua itu lebih dari sekedar kewajiban, akan tetapi juga beribadah dan melakukan kebaikan-kebaikan telah menjadi kebutuhannya, dan juga ia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan ketika melakukan ibadah dan kebaikan itu. Dan MANISNYA IMAN dapat diraih dengan melakukan tiga hal : (1). Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalanya. (2). Mencintai seseorang hanya karena Allah. (3). Enggan kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah.

Sunday, January 27, 2013

Legenda Kampung Tenggelam

Luqman teringat kisah salah satu legenda kampung yang tenggelam dan berubah menjadi danau, la lupa persisnya. Saat itu, ada nenek tua renta yang mengetuk hampir seluruh pintu penduduk kampung, yang saat itu sedang makmur. Nenek itu meminta dengan mengiba, agar kiranya ada setetes air yang bisa melewati tenggorokannya yang kering.
Tapi semua tak peduli bahkan menutup hidung, tanda tak sudi mencium bau Nenek yang menyengat. Tak satu pun penduduk yang sudi menawarkan bejana berisi air untuk direguk sang Nenek.

Nenek itu akhirnya putus asa dan marah, la menancapkan tongkatnya di tengah alun-alun. Semua tak memerhatikan kemarahan sang Nenek kecuali terbengong sesaat ketika sang Nenek kemudian menghilang. Dan semua awalnya tak memedulikan, hingga pada suatu hari berbulan-bulan setelah sang Nenek menghilang dan menancapkan tongkatnya, mereka dilanda kekeringan dan kemarau yang berkepanjangan. Sawah mereka mengering, gagal panen. Ternak mereka kurus dan mati kelaparan. Tidak ada lagi anak yang kuat berlari ke sana kemari. Semuanya lesu, semuanya tidak mempunyai energi.

Saat itu, tetua kampung mengingatkan kejadian beberapa bulan yang lalu, kejadian mengenai sang Nenek yang tidak dipedulikan penduduk kampung. Dan seketika mereka ingat akan tongkat tersebut. Mereka menduga, tongkat sang Nenek itu yang menyebabkan timbulnya kekeringan air. Diperintahkanlah orang terkuat mencabut tongkat tersebut. Tapi, seinci pun tidak terangkat!

Mulailah rasa sesal datang. "Kalau tahu begini, dulu aku suguhi dia sapiku yang terbaik," sahut seorang penduduk. "Iya, kalau tahu begini, dulu aku tidak meludahi dia," sahut yang lain. Sesal kemudian sering tidak berguna.

Tiba-tiba sang Nenek datang dengan tersenyum. Dengan entengnya ia mencabut tongkatnya dan seketika keluarlah air dari bekas lubang tongkat itu. Penduduk menyambut-
nya dengan sukacita. Meledak tawa di seluruh penjuru kampung.
Sayang, sorak-sorai penduduk kampung itu tidak bertahan lama. Air yang keluar tersebut semakin lama semakin bertambah besar dan bertambah besar hingga menenggelamkan separuh desa.
Ajal mendekat. Sebagian yang tersisa sujud di hadapan Sang Khaliq agar sudi kiranya menahan keluarnya air yang teramat dahsyat itu. Mereka tidak lagi memedulikan harta bendanya yang telanjur hanyut dibawa air. Mereka memohon diberikan kesempatan hidup untuk memperbaiki diri.
Air memang berhenti keluar, tapi kampung sudah menjadi danau!

Sayang Luqman lupa akan nama danau dan kampung pada legenda itu. la percaya, tidak akan ada legenda bila tidak ada kenyataan yang mendahului. Perihal besar dan kecilnya legenda itulah yang menjadi bumbunya.

Terbukti kini Luqman sendiri mengalami kejadian yang begitu aneh. Pertemuan dengan Bocah Misterius bagaikan sebuah legenda.
Luqman tidak mau penduduk negerinya terus-menerus tidak menginjak bumi dan tidak mengindahkan aturan-aturan Allah. Sehingga ketika sadar, kesadaran itu terlambat seperti kesadarannya penduduk kampung yang separuh kampungnya menjadi danau tersebut.

Luqman berniat terus menggunakan lisannya untuk bersuara dan tangannya untuk menulis agar "seribu tahun" lagi kita masih mendengar tawanya anak bangsa dalam keadaan ceria.
Ah, bocah kecil, di mana kau berada?
Di setiap tetesan nikmat yang kita rasakan, ada baiknya kita mengingat bahwa ada orang lain yang juga berhak merasakannya.

Bocah Misterius

Kami terus berpuasa meski bukan saatnya berpuasa, lantaran ketiadaan makanan, lantaran ketiadaan minuman. Kami berpuasa tanpa ujung!

"Hey kamu, mari sini!" sapa Luqman halus kepada seorang bocah yang dengan sengaja mengganggu anak kecil lain yang sedang berpuasa.

"Siapa nama kamu? Dari mana kamu asalnya?" tanya Luqman sambil memegang lengan bocah itu. Sebetulnya Luqman gemas, tapi ia tahan kegemasan itu.
Meski ditanya dengan sopan, bocah itu malah balik mendelik ke arah Luqman dan tertawa menyeringai! Tawa bocah itu membuat Luqman melepaskan pegangannya seketika.

Luqman merasa bocah ini bukanlah anak sembarangan. Sungguhpun penampilannya kayak bocah biasa. Kaus plus celana pendek. Agak lusuh, tapi bersih. Luqman melihat mata bocah itu. Mata itu bukanlah mata anak manusia pada umumnya. Ditambah lagi, sebelumnya Luqman tidak pernah melihat bocah itu di kampungnya, Kampung Ketapang,Tangerang. Luqman sudah bertanya ke sana kemari, adakah tetangga kampungnya atau orang di kampungnya yang mengenali siapa bocah itu dan siapa keluarganya. Semua orang yang ditanya Luqman menggelengkan kepala, tanda tidak tahu.

Bocah itu menjadi pembicaraan di Kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung, la menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja di atasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini, bagi orang kampung, menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan ke sana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak cokelat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat di plastik es tersebut. Pemandangan tersebut menjadi pemandangan biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa. Pemandangan tak mengenakkan ini justru terjadi di tengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih terik daripada biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang di kampungnya mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memeraga- kan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi kemudian orang itu dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu hadir. Benar, ia menari-nari sambil menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas mengundang orang lain untuk menelan ludah tanda ingin meminum es itu juga. Luqman menegurnya. Cuma ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malahan mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar menelan Luqman. Kejadiannya seperti diuraikan di mukadimah tulisan ini.

Kami lapar... sementara perut kalian kenyang. Kami sakit, tanpa ada obat, apalagi biaya berobat... sementara kalian menambah terus kesakitan kami dengan mempertontonkan kemewahan dunia di hadapan kami... di depan mata kami... yang sedang berpakaian kemiskinan. Kami menangis, kami merintih, adakah di antara kalian yang peduli?
"Bismillah Luqman kembali mencengkeram tangan bocah itu. la kuatkan mentalnya, la berpikir kalau memang bocah itu adalah bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan, apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia akan mencari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman menyentakkan tangannya, menyeret halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan mata penuh tanya orang-orang yang melihatnya.
"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukannya ini adalah kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman seakan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

"Maaf ya. Itu karena kamu melakukannya di bulan puasa," jawab Luqman dengan halus, "apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa. Lalu bukannya ikut menahan lapar dan haus, kamu malah menggoda orang dengan tingkahmu itu."

Sebenarnya Luqman masih mau mengeluarkan unek-uneknya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai, la menatap mata Luqman lebih tajam lagi.
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal itu ketimbang saya? Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup di bawah garis kemiskinan pada sebelas bulan di luar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal?
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja kalian menahan rasa lapar dan haus? Ketika beduk magrib bertalu, ketika azan magrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian?"
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi Luqman kesempatan menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata demikian tegas dan terdengar sangat "menusuk", kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah, Tuan, kami berpuasa tanpa ujung. Kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa lantaran memang tidak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah Tuan, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuanlah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan Idul Fitri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian juga menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan Idul Fitri?

Tuan, sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya.
Tuan, kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan Ramadhan ini. Apa yang saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami.
Tuan, sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu mengapakah masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan, sadarkah apa yang terjddi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?

Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan, akan adanya azab Tuhan yang menimpa?
Tuan, jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan, jangan merasa perut 'kan kenyang esok lantaran tersimpan pangan 'tuk setahun. Tuan, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi, kelak."
Wuah... entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Perkataan demi perkataan meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman bahwa bocah ini bukan bocah sembarangan.
Habis berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya Kampung Ketapang, la edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak

menemukan bocah itu. Di tengah deru napasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!

Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, kembali ke rumah, la ambil sajadah, sujud, dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irasional, tidak masuk akal, ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa betullah adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberi Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada di atas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada di pikirannya, mau dipercaya atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki keber- cahayaan hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

KLELAR, KLELER NING EFEKTIF

SORE itu sehabis buka Mister Rigen, seperti biasa, duduk nglaras di tikar di depan teve. Memakai sarung kotak-kotak dan entah kenapa, selama bulan puasa ini beliau sering memakai surjan lurik. Mungkin karena akhir-akhir ini pada musim hujan yang begini meng-anyel-kan, hawa itu agak adem juga buat beliau. Yang agak mengherankan, orang yang begitu fanatik Pracimantara dan Sala kok enak juga memakai surjan Ngayogya yang menjadi keindahan jagad. Saya selalu mengira yang hadi dan adi sak rat atau jagad semesta itu cuma Surakarta buat dirjen saya itu. Eh, ternyata jas yang aneh itu dia senangi juga.
"Gen, kamu kok akhir-akhir ini suka banget pake surjan. Biasanya apa-apa yang bau Yogya itu kamu enyek. Kok sekarang bolehnya katrem marem enak pake surjan."
"Yak, ya tidak to Pak kalau saya selalu ngenyek apa-apa yang mambu Yoja. Wong sama-sama trah Mentaram lho, Pak."
"Yak, siapa yang tempo hari itu bilang jas Yoja itu kegagahan kalo disebut surjan. Pantesnya jas sogok-upil. Ujung jas yang runcing itu rak menurut kamu fungsinya buat nyogok upil, to? Hayo!" Mister Rigen tertawa nggleges.
"Oh, Allah, Paak. Wong cuma buat bergurau saja, lho. Wong Sala sama wong Yoja itu kalau tidak enyek-mengenyek tidak marem. Tak puas. Niku rak tandanya tresna to, Pak. Seperti orang bersaudara. Wong sama-sama turunan Mentaram. Kalo tidak saling mengece malah tidak raket, supaket, hangat gitu. Makanya bal-balan ya enyek-enyekan. Mondolan blangkon ya kita pakai enyek-enyekan. Iket Wong Yoja diseseli endog-asin.
Lihat iket wong Sala keplenet sepur makanya tidak benjol. Orang Sala bilang: antri tuku, beli, minyak tanah. Wong Yoja bilang: urut lenga mambu. Oh, wong Yoja, wong Yoja, mau urut badan saja kok pake minyak yang bau"
"Lha, lha, lha. Begitu itu tidak ngenyek wong Yoja to kamu?"
"Mboten, Pak. Ini guyon persaudaraan. Tidak ada yang marah, apalagi gontokan. Paling cuma saling senyum kecut. Ning terus rukun. Lho, sae to, Pak."
Saya lantas membayangkan jaman kecil saya di tahun-tahun tiga puluh dan empat puluhan. Yang disebut sebagai ejek- mengejek persaudaraan Sala-Yogya itu selalu berakhir dengan perkelahian betul. Ejek-mengejek atau nyek-nyekan itu selalu ditutup dengan jotosan. Ning ya tidak seperti gontokannya anak-anak sekolah sekarang. Kroyokan, pake senjata rante, blati, dan entah apa lagi. Jaman dulu berkelahi mesti satu lawan satu. Meskipun kadang-kadang juga jadi berkelahi kroyokan juga. Tapi, jarang pakai senjata yang aneh-aneh. Jaman dulu mungkin dunia pewayangan masih dekat betul dengan kehidupan kita. Kalau mau berkelahi mesti saling tantang-tantangan. Mungkin mirip adegan wayang wong atau wayang kulit. Kadang mirip adegan perang gagal, mungkin juga adegan perang bambangan Abimanyu versus Mister Cakil.

Saya tidak tahu tema perkelahian jaman sekarang. Barangkali cuma srempetan Honda Bebek atau saling mentheleng begitu mungkin mereka membayangkan jadi jagoan kungfu ketemu jagoan shaolin lain. Atau Clint Eastwood ketemu Ro- bert Redford begitu. Adu ngganteng. Kakinya lantas dipeng- korkan, jalannya jadi renggunuk-renggunuk. Terus sesudah dekat plak, plak! Lho konconya terus suiit(!), mak-brubul pada grudugan sembari meng-obert-abit-kan rante. Mungkin fantasinya membayangkan jadi wadyabala-nya Arnold Schwarze- negger. Ning, temanya itu, lho. Tema anak sekarang itu, lho. Kayaknya tidak jelas. Pokoknya tawur. Wong tawur kok mikir tema. Saya lupa kalau jaman sekarang adalah jaman pokoke. Tawur ya tawur, Om. Lha, dulu itu tema itu penting, Le. Tema itu yang kemudian menjalin, merajut ceritera perkelahian.
Tema mondolan endog versus keplenet kellndes sepur Lempu- yangan baru langsir itu penting untuk membangun kerangka ceritera. Dan tantang-tantangannya orang Sala lawan orang Yogya itu kadang dilaksanakan dengan basa Jawa krama madya. Apa tidak elok? Kira-kira dialog itu akan begini.
"Lha, ketimbang sampeyan! Mondolan sampeyan keseselan endog asin mambu. Pripun?'
"Elho, ngenyek nggih sampeyan? Lha, ketimbang mondolan sampeyan cemet, gepeng, keplenet sepur Lempuyangan langsir. Wih, pripun7'
Dan tantang-tantangan itu bisa berlangsung sampai setengah jam bahkan kadang lebih lama. Baru mereka panas trus berkelahi. Berkelahinya pun elegan: Tidak bat-bet sadis seperti sekarang. Jaman itu belum ada kungfu, shaolin, tai-chi, merpati putih, gagak-item, emprit-soklat, prenjak-kuning, pencak setrum, dan lain-lain aneh-anehan seperti itu. Memang ada pencak. Dan semuanya belajar pencak. Tapi, pencak jaman dulu pake irama. Irama kroncong. Karena, kalau latihan atau show jurus-jurus pencak tidak mantep kalau tidak diiringi kroncong. Kencrung, kencrung, kencrung. Maka waktu berkelahi beneran, irama sudah mendarah-mendaging dalam benak para jagoan itu. Di otak dan telinganya selalu kedengaran lagu Stambul Dua dengan piul yang meliyuk-liyuk itu. Ngik, ngik, ngik, ngik, ngiiik, i-iiik ... Tapi, sesungguhnya jiwa perkelahian itu jiwa perang tanding bambangan dalam wayang wong. Ma- kanya Cakil itu selalu pencak. Dan Abimanyu geraknya halus, tapi kalau menempeleng mak-cleng karena saya kira pakai tenaga dalam. Alon, klelar-kleler tapi jus(!) efektif! Ya, itulah ideal model efektivitas wong Jawa. Klelar, kleler, ning efektif. Cuma sekarang jadi: klelar, kleler ning hora efektif. Soalnya mungkin, wdng Jawa sekarang klelar, kleler tidak pakai tenaga dalam. Ha kacau. "Ngerti enggak kamu, Gen. Filsafat perkelahian jaman dulu."
Mister Rigen melipat koran yang dibacanya menunjuk gambar tokoh Bapindo. "Ning, kalau beliau ini kayaknya klelar, kleler kok efektif, Pak. Masih tau tenaga dalam, nggih?'
Saya diam kalau Mister Rigen mulai sengak begitu. Soalnya, itu wong cilik yang mulai mau unjuk tenaga dalam. Klelar, keleler ning

8 Maret 1994

BASA JOWO

WAKTU Beni Prakosa menunjukkan rapornya baru-baru ini, saya sekok berat melihat angka merah buat pelajaran bahasa daerah. Saya sekok berat karena saya mengira bahasa daerah adalah bahasa yang dibawanya sejak dia mrocot dari ibunya. Dus sejak dia mulai berbicara sama ibu dan bapaknya ya dia berbicara dalam bahasa itu, ya bahasa Jawa itu. Sejak dia minta lawuh endog, protes tidak ada iwak empal, malam-malam teriak dia mengompol, merayu gombal ibunya supaya dibelikan mobil-mobilan, marah dan mbalela, ya itu semua dilaksanakan dalam bahasa Jawa. Juga dialog dengan adiknya si siblo-lolo, bahasa Jawa juga. Cuma dengan saya, bosnya bajosiia harus berbicara dalam bahasa nasional, bahasa perersatin, bahasa iptek, bahasa sastra. Tapi, selebihnya bahasa adas», bahasa Jawa, bahasa Jawa. Jadi saya sekok, tidak habis ngerti, dengan kepungan yang Jawa-Jawa itu kok pelajaran bahasa Jawa merah warnanya. Maka langsung saya panggil Mister Rigen sak anak-beranak untuk mengadakan sidang darurat yang memang sudah agak lama tidak kami adakan. Begitulah ......
"Ayo ke sini semua! Mesti lengkap, komplit, tidak ada yang boleh bolos!"
Dengan bergegas dan gugup Mister Rigen, Ms. Nansiyem, para bedhes precil pada mengambil tempat duduk di tikar di seputar meja pei. Mata mereka gelisah, bertanya-tanya, karena begitu tiba-tiba dekrit berkumpul pleno itu saya turunkan. Saya memakai bahasa Jawa lengkap, (diusahakan) baik dan benar. (Tentu untuk keperluan pembaca, saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
"Beni!"
Beni kaget bukan kepalang. Tidak sari-sarinya dia mendapat giliran panggilan pertama.
"I-iya, Pak Ageng."
"E-eit! Basa Jowo! Jowo Kromo!”
"Ing-inggih, Pak Ageng."

Waktu mengatakan dalam kegugupan itu matanya melirik ke kiri dan ke kanan ke arah bapak dan ibunya. Tolo-Tolo buru-buru ndepis, menempel ibunya.
"Priye, Ben Mosok basa Jowo dapat lima merah, he?'
"Ing-inggih, Pak Ageng."
"Inggih, inggih. Memangnya kamu ora isa cara Jowo?"
"Bisa, bisa. Pak Ageng."
"Ayo bahasa Jawa!"
"Biso, biso, Pak Ageng."
"Kalau dalam bahasa kromo?'
Beni diam. Jidatnya me-njenggureng. Berpikir keras. Kemudian lidahnya melet, kepalanya digelengkan.
"Elho, priye, Gen, Mister Rigen Anakmu tidak tahu kromo- nya biso? Kamu tahu apa?'
"Waged-waged."
Mulutnya meringis, matanya bersinar, menyinarkan cahaya kemenangan.
Ms. Nansiyem dan Tolo-Tolo yang mengikuti percakapan dengan mulut jendela terbuka, jadi nampak lega sekali.
"Waged-waged gundulmu itu! Itu kromo ndeso. Kromo Praci mungkin Saged-saged. Ayo semua bilang sa-ged !'

Semua, tanpa kecuali, manut-miturut belaka mengucapkan "sa-ged”  Karena mereka tahu belaka, kalau sudah begitu, bos mereka sedang kumat semangat fasis totaliternya. Mau tidak manut, mbalela? Edan apa! Saya kemudian melanjutkan tes saya kepada para anak buah saya yang mestinya orang Jawa yang berbahasa Jawa.
"Beni!" '
"Ya eh, kula eh dalem, Pak Ageng."
"Kromonya gajah apa, Ben?'

"Ya gajah, Pak Ageng."
"Woo, ngawur! Salah! Ayo bapaknya atau ibunya tahu nggak kromonya gajah?"
"Ha enggih gajah to, Pak."
Wah, ini Ms. Nansiyem begitu berani keluar suara tegas, tegas ngawurnya.
"Elho, gajah ki kromonya gajah? Cengklong gajimu separo."
"Woo, Pak, kado mlarat kita ini."
"Yo wis kamu, Gen. Apa kromonya gajah?"
Mister Rigen mringis tanda tidak tahu.
"Apa ada to, Pak. Kromonya gajah? Gajah itu rak sudah kata bagus to, Pak?" Saya tertawa. Sesungguhnya dia betul juga dengan bertanya begitu. Untuk apa kata yang sudah bagus "gajah" harus dikromokan? Ah, tentulah mereka tidak tahu kalau ada sosio linguistik, bahkan power-linguistik. \&itu bagian dari konsep kekuasaan yang menghendaki halus-ka- sar. Gajah itu kasar karena orang-orang desa Praci menyebutnya "gajah". Lha, untuk para darah biru, seperti pemilik nDa- lem Keagengan ini, mesti dikarangkan kata lain, yang mewakili kelas darah biru gitu. Maka lahirlah kata kromo buat "gajah". Kata kromo itu adalah liman yang agaknya diambil dari kata "lima". Karena, kaki gajah yang empat besar-besar dan panjang-panjang itu masih ditambah dengan belalai di depan yang panjang juga. Padahal belalai itu tangan annex hidung. Tapi ah, sudahlah logika wong Jawa dalam mengotak-ngatik memang selalu aneh, kompleks dan tidak me-mudeng-kan.
"Woo, liman! Enggih to, Pak. Liman?"
"Lha, iya. Orang taklukan Mataram kok nggak tahu kromonya gajah itu liman." Mereka pun berbareng menyerukan "liman". Sesudah mereka saya dismiss, Beni masih meng-g/f- bet. Tiba-tiba pelan-pelan bilang.
"Pak Ageng, kalau boleh satu hari itu sama Pak Ageng boleh basa kromo, campur ngoko, campur basa Indonesia, nggih?"
"Lha, kenapa?"
"Kromo itu susah, Pak Ageng. Susah ngapalnya. Enakan ngoko dan cara Indonesia," Saya membatin. Lha, terus priye,
situasine globalisasi pancen dangerous tenari.
22 Februari 1994

Denpasar Muun, Nano, Nano Nano, Nanoooo

Waktu untuk kesekian kali video clip Denpasar Moon ditayangkan di teve, dengan Maribeth menyanyi dengan kewes-nya di srempeti  penari...penari legong  Bali, tiba tiba sang bedhes Beni Prakosa diikuti oleh bedhes· cilik Tolo-Tolo bekoar, "Denpasar  muun, nano, nano, nano, naa-a-noo ...." Bapaknya, dirjen saya yang selalu pales kalau menyanyi, yang sedang sulak-sulak meja dan kursi tertawa melihat anak-anaknya menyanyi_lagu modern.
"Hayo, Pak, Denpasar itu di mana? lbu kota mana?" Bapaknya tertawa sembari menyulak gundul anaknya.
"Dapurmu, Le, Le. Kayak kamu tahu saja. Di mana hayo?" "He he-he. Bapak kayak wayang Arjuna. Ditanyai membalas tanya. Hue! Denpasar itu, Pak, di Bali. lbu kota Bali juga."
 "Yo,  wis. Pinter  kamu. Tapi, matematika  harus pinter  juga lho, ya?"
Beni dan  Tolo-Tolo pada  berlari ke dalam,  mungkin  menagih janji nyamikan  ibu mereka  di dapur. Denpasar  muun, nano, nano,_ nano, nanoo .... Di kursi singgasanaku yang bergoyang-goyang  saya  tiba-tiba  menyaksikan   pemandangan waktu yang berseliweran sembari bertabrakan.  Presis seperti video clip Denpasar  Moon  itu. Dan bukan hanya  antara  legong-legong dengan Maribeth yang cantik masa...kini itu. Saya juga menyaksikan bukit-bukit tandus Pracimantara, Rigen kecil. Jadi, belum jadi mister) dada mengliga, berlari-lari mengejar kambing-kambing   gembalaannya.   Rigen  besar  yang  pada pesta tamat  sekolah menembang  panembrama  dan standen.
Rigen  yang  lebih  dewasa  ngenger  ke  sana  kemari -  untuk mengembangkan  kariernya sebagai seorang birokrat rumah tangga hingga akhirnya mencapai puncak kariernya sebagai seorang  dirjen, seorang  birokrat terpercaya di nDalem  Kea gengan. Perjalanannya. yang jauh berkelok-kelok itu ditebas di tengah  jalan oleh  jalan pintas  bedhes-bedhes-nya, Beni dan Tolo-Tolo, waktu mereka beranjak besar. Seketika  jalan-jalan itu menjadi pendek,  ruwet, kadang-kadang  juga rancu  tidak me-mudeng-kan. Generasi ketiga Pracimantara  ini tahu-tahu tidak tahu  lagi menembang  panembrama  dan  ikut  standen. Tahu-tahu mereka sekarang rengeng-rengeng Denpasar Moon. Waktu mereka datang lagi meng-glibet  di antara mebel-mebel yang sedang disulaki  bapaknya, tiba-tiba Beni menyeionong bertanya.                    
"Eh, Pak Ageng, Pak Ageng. Denpasar itu bagus, ya?"
"Ya, bagus."
"Kalo Bali? Di mana itu?"
"Lho, katanya sudah tahu. Ya bagus. Bali itu pulau di sebelah timur Jawa."
"Pulau itu apa, Pak."
Saya baru sadar menjelaskan pulau itu apa rada susah juga. Dan eh Beni itu rak sudah kelas empat kok belum tahu pulau itu apa.
"Pulau itu gundukan tanah yang besar yang dikelilingi laut."
Beni berpikir tidak yakin dapat  membayangkan gundukan tanah yang besar itu. Saya pun begitu pula, tidak yakin apakah penjelasan saya itu make sense apa tidak. Rupanya untuk mengatasi tidak mudeng-nya itu, Beni pun mulai rengeng rengeng. Denpasar  Moon lagi. Dan langsung diikufi adiknya. Denpasar  muun,  nano, nano, nano, nanooo .. . . Bapaknya yang sudah selesai sulak-sulak rupanya jadi keki juga mendengar potongan  lagu itu. Mungkin karena dia tidak dapat  ikut rengeng-rengeng anaknya.
"Heisy, mbok diem, to, ya. Dari tadi kok lagu Denpasar saja.
Tutug saja tidak, ngerti saja tidak."
"Bapak kok bolehnya keki. Padunya tidak dapat to ....."
Dan dua orang kecil itu mulai lagi dengan Denpasar muun, nano, nano ....
"Hayo  ora  diem! Tak pukul  sulak, lho! Sok  aksi  nyanyi Londo."
Anak-anak  pada lari ke dalam. Tapi terus juga menyanyi Denpasar muun, nano....
"Enggak, Mister! Kok kamu  bolehnya sewot  sama  anak anakmu. Wong mandak  rengeng-rengeng Denpasar muun saja lho!"
"Woo, Bapak  yang  tidak  punya  anak  kecil. Itu kalau dibiarkan mendadra, menjadi-jadi, Pak'
"Mendadra  bagaimana?"
"Lho, itu rak lagu asing to, Pak. Merusak, Pak, merusak." "Waduh."
"Lho, lha, enggih. Wong  mandak  lagu Londo sama  nona yang edang-edong  disrempeti  legong-legong mBali saja, lho. Bagusnya di mana.- Lagi pula merusak  cita-rasa  anak-anak Indonesia.".
"Waduh."
"Lho, kok waduh terus to, Pak. Niki srius, Pak. Sri-us! Coba anak-anak  jaman sekarang tidak bisa nembang lagunya sendiri. Lagu dolanan kalau padang bulan pada enggak bisa. Paling lagu Gethuk  asale saka tela .... Itu juga lagu edang-edong lagi."
"Sori, Gen. Waduh lagi!"
"Bapak tidak srius sama pendidikan anak Jawa. Katanya propesor. Kok ...."
"He-he ...he, Geen, Gen. Memangnya kalo padang mbulan masih kamu ajak kejar-kejaran, tembang-tembangan di latar apa?  Enggak, 'kan? Paling kamu ajak duduk-duduk  di teras nunggu  lewatnya wedang  ronde  dan  bakso.
Hayo! Ya, to?"· Mister Rigen meringis merasa saya touche!.

Tiba-tiba anak-anak  itu pada lari-lari ke dalam langsung memutar-mutar knop teve. Mereka serempak berteriak.
"Waah, Satria Baja Hitamnya sudah habis! Bapak tidak beri tahu sih. Bapaak!'
Mereka pun lari keluar lagi mengeluarkan suara sepeda motor dikebut.
"To, pripun, Pak. Satria Baja Hitam Rumangsa-nya mereka itu apa dan siapa?"
"Ya Satria  Baja Hitam, gitu."
"Lha, itu yang saya tidak cocok. Tidak kepribadian Indonesia. Di mana Pancasila? Di mana?"
"He-he-he gundulmu  Geen, Gen. Ya sudah, tivinya kita jual saja, ya?. ''
"Ampun, Pak. Jangan! Kalau malam Selasa ketopraknya bagus-bagus, jeee."
Saya lantas  mengantuk, mau menggeletak di kamar sebentar. Dari  dalam   kamar  saya  masih mendengar  Satria  Baja Hitam meraung-raungkan sepeda motornya .. ..

1 Februari 1994

Goro Goro

Berita -Berita  bencana   alam  seperti   gempa, gunung   meletus,  banjir dan  sebagainya selalu dilihat  Mister  Rigen  sekeluarga   dan  teman-temannya  sebagai  tanda-tanda  jaman.  Tanda  jaman akan mengalami  perubahan dahsyat. Tanda akan  datangnya  goro-goro dimana  jagad akan  diguncang,
dikocok dilebur. Kemapanan dan kedamaian lama akan harus diganti dengan tatanan yang lebih baru lagi.
Begitulah, pagi Minggu kemarin waktu Pak Joyoboyo sang maestro  penggeng eyem, singgah  di rumah, duduk  ngglesot di teras mengobrol  dengan  koleganya Mister Rigen.
"Bosse, belum wungu-bangun, to?"
"He-he-he. Wungu-bangun itu bahasa  napa?"
"Elho itu bahasa  Indonesia krama, Mas Rigen."
"Weh, kok ada lho! Bahasa  Indonesia  kok punya  krama  to, Mas Joyo?"
"Lho, ha enggih to, Mas Rigen. Kalo saya bilang bos sampeyan niku sudah  bangun  rak saya tidak menghormati beliau namanya. Jadi  ya wungu, wungu-bangun."
"Oh begitu, to. Jadi, kalau sampeyan tidak tega mengatakan bos saya “makan  penggeng eyem” ya mesti dikatakan “makandahar atau dahar-makan penggeng  eyem”, begitu? Minum jadi ngunjuk-minum. Jalan jadi tindak-jalan. Begitu?"
"Ha enggih, Mas. Namanya  menghormati orang."
"Elho! Bahasa  Indonesia  itu rak sesungguhnya demokratis to, Mas Joyo. Tidak kenal tinggi-rendah bahasa. Kalo diimbuhi kata-kata  krama terus bagaimana,  Mas Joyo."
"Ya sesungguhnya lucu, nggih? Ning wong saya masih Jowo itu? Apa tidak boleh to saya mengarang basa lndonesia-Jawa, Mas Rigen?"                                                                                            
Kedua  orang   itu  lantas  kedengaran  pada  tertawa   cekakakan.
"Mas Joyo apa  ya mengikuti  kabar-berita tentang bencana alam di mana-mana itu, Mas Joyo?"
"Oh, ha enggih. Kan saya habis dapat  rejeki hadiah  tipi berwarna  dari anak  saya yang sekarang sudah  kerja di Jakarta. Weh, gambare   bencana  itu  kok  jadi bagus  di tipi  berwarna, nggih Mas Rigen?"  
"Elho, sampeyan itu  lho Mas Joyo! Kok ya ada-ada saja.  Tadi menciptakan basa  Indonesia  krama. Sekarang bencana alam kelihatan  bagus. Pripun, Mas."
"Lho, maksud  saya itu nampak  lebih jelas, gitu. Banjirnya jadi kelihatan airnya  mimplah-mimplah."
Saya  mendengarkan percakapan itu dari  kamar  tidur  dengan perasaan takjub. Pak Joyoboyo yang sehari-hari  mesti berjuang menghabiskan penggeng  eyem  sak tenong.  Dan  belum tentu  habis. Yang berarti bencana  kecil-kecilan  rutin  kalau tidak bisa menghabiskan dagangannya itu. lni kok bisa melihat "keindahan" bencana alam yang lebih besar?
Dan Mister Rigen? Yang sejak kecilnya di tanah-tanah tandus Pracimantara sudah digojlok dengan  berbagai  penderitaan? Bagaimana dia melihat gambar-gambar atau  berita koran tentang berbagai bencana itu?
"Yang saya heran itu lho, Mas Joyo. Bencana  kok beruntun, urut kacang datangnya. Gempa ini Los Anyles. Terus diikuti di Irian,  Halmahera. Terus  banjir  di  mana-mana,  mBandung, mBogor, Jakarta, Sumatra. Wah, rata. Niku kalau miturut saya ngalamat, Mas Joyo. Ngalamat!'
"Lha, terus ngalamat apa, Mas Rigen?"
"Ngalamat  kita  ini akan  dapat   bebendu, dapat   hukuman dari Gusti Allah."
"Wah, mbok  sampeyan  itu  jangan  serem serem  begitu  to, Mas Rigen. Wong negaranya sudah apik-apik  begini, lho."
"Apik? Sampeyan merasa sudah apik to, Mas Joyo?"
"Lha, ya belum.  Ning sedikitnya  kita wong cilik rak sudah lumayan, to !
Buktinya saya mak-jleg dapat  rejeki tipi berwarna dari anak saya. Lho, wong ing atasnya bakul penggeng  eyem kok punya anak yang bisa belikan tipi berwarna. Pripun?"
"Woo, kalau begitu cara sampeyan  melihat ya oke-oke  saja, Mas. Ning  kalo dilihat macem-macem gejala  jelek mangkin mendadra, mangkin menjadi-jadi itu bagaimana?"
"Seperti?"
"Lha,. gejala sadis di mana...mana begitu kok. Orang  nyembelih orang  ya mak  klekak-klekek. Nusuk mak-jus cuma  per kara rokok. Buruh  wedok mau minta  tambahan gaji dibunuh. Nonton  bal-balan  awut..,awutan, amuk-amukan. Bocah sekolah pada  berkelahi  pake rante  dan  pisau. Kroyokan lagi. Lha, priyagung  atas-atasan  kok  ya  pada  kumat  semua  to,  Mas Joyo?"
"Kumat pripun?'
"Ya pada seperti  maling kambuhan semua  begitu, lho. Korupsi, Mas Joyo, korupsi. Teruus saja. Ning kalo pidato seperti yak-yak-o. Bolehnya  menenteramkan wong cilik, janji muluk-muluk, menyuruh pegawai cilik tidak menggresula, mengeluh, biar gajinya  sungguhnya tidak  pernah naik  kalo dihitung dari inplasi. Malah disuruh kreatip ....."
Wah, wah! Mak-jenggirat saya terpaksa  loncat  dari tempat tidur saya. Mister Rigen, dirjen saya itu, sudah terlalu  jauh nih.
Sudah dekat  prikik bolehnya ngamuk. Sudah mau SARA atau jangan-jangan malah saraf nih. Apa saja yang mendorong dia begitu galak bin sewot!
"Coba, Mas Joyo! Tunggu saja, tunggu saja!"
"Tunggu apa to, Mas Rigeen?"
"Tunggu bebendu Pangeran. Tunggu!"
"Lha, kalo termasuk  sampeyan sama saya dan semua  wong cilik yang kena bebendu lha rak ciloko gitu."
Tiba-tiba  Mister Rigen diam. Tidak meneruskan sewotnya.
Mungkin kalimat Pak Joyoboyo  yang terakhir  itu yang membuat dia diam.
"Saya bungkuskan empat sate usus buat anak-anak sampeyan ya, Mas Rigen?"
Saya pun keluar dari kamar. Pak Joyoboyo lantas menyambut saya dengan senyum diplomatnya yang khas.
"Selamat siang, Pak? Minggu-Minggu  wayah begini baru wungu-bangun? Dada mentok berapa, pahanya berapa; usus-nya berapa, Pak? Masih komplit lho, Pak!"
Saya tersenyum. Orang ini, Pak Joyoboyo ini, sudah  tahu betul kalau saya sekarang tidak mungkin makan penggeng eyemnya. Terlalu manis dan santennya  terlalu mlekoh.  Enak memang. Ning tidak boleh sama dokter, En  toch, en  toch dia selalu tanpa  putus asa membujuk saya untuk membeli. Sungguh semangat  entrepeneur sejati. Tapi, yang penting senyum diplomatnya  itu, juga sekaligus  meluluhkan  amarah   Mister Rigen yang melihat bencana alam di mana-mana sebagai pertanda goro-goro, bahkan Armagedon sudah di ambang  pintu.
Bless you Joyoboyo. Saya optimistis masih ada wong cilik seperti kau. Tapi eh, bukankah wong cilik sudah selalu begitu ....

25 Januari 1994

Memantau Indeks Iman

Kegembiraan melingkupi bursa efek Jakarta. Segenap pialang, dan investor bersuka cita. Wajah mereka cerah, senyum mekar di mana-mana. Di lantai bursa, floor trader berdiri tegak bertepuk tangan panjang, seperti sedang melakukan standing ovation untuk menghormat para pemain yang baru saja mengakhiri konser musik klasik yang anggun di concert hall. Hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 2003,47, menembus 'batas psikologis' 2000 yang sudah lama ditunggu. "Bagus sekali," ujar pialang.
Sejumlah analis mengungkapkan bahwa indeks setinggi itu tercapai karena berbagi indikasi yang menggembirakan. Kinerja para emiten sangat bagus, ditandai dengan laporan keuangan mereka yang memamerkan keuntungan berlimpah. Fundamental perekonomian juga sangat baik. Indikator makro ekonomi tak kalah menyenangkan. Inflasi masih satu digit, angka pengangguran menurun, dan nilai tukar rupiah stabil. Dana dari luar negeri [hot money] membanjiri pasar modal. Pendek kata, orang-orang bursa optimis terhadap masa depan perekonomian yang membaik. "Kita tidak usah waswas," tutur analis meyakinkan.

Para investor selalu memerhatikan dengan saksama IHSG untuk memonitor pergerakan harga saham. Dengan begitu, mereka secara lebih cermat bisa memutuskan kapan mereka harus cepat melepas saham tertentu atau membeli saham lain dalam jumlah banyak. Mereka bisa memantaunya lewat monitor, melihat di berbagai situs Internet atau menelepon pialang mereka untuk mencermati naik turunnya IHSG. Me- leng sedikit saja, bisa-bisa, potensi keuntungan yang sudah mendekat di pelupuk mata akan lenyap seketika.

Begitulah enaknya kalau ada indeks. Memudahkan siapa saja untuk memantau. Turun naiknya amat jelas. Sayang seribu kali sayang, sampai detik ini, tidak ada indeks yang bisa memantau pergerakan iman kita. Dengan begitu, kita tidak bisa meneliti kondisi iman kita. Apa sedang bagus, tengah menuju puncak atau malah jeblok ke titik terendah. Kita menduga-duga tingkat keimanan kita sedang bagus-bagusnya. Padahal tanpa disadari sedang berada pada titik kritis.

"sesungguhnya hati itu berada di antara dua Jari-jari allah swt.. dia akan membolak- balikkan sekehendak-nya."

Kadar keimanan memang dapat naik turun seperti yoyo, yang dulu sering kita mainkan semasih anak-anak di kampung bersama kawan-kawan. Untuk memperjelas naik turunnya kondisi iman, para mubaligh menyalin Hadis bahwa Anas r.a. memberitahukan bahwa Nabi Muhammad Saw. senantiasa memperbanyak ucapan, "Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu." Lalu Anas r.a. bertanya, "Wahai Rasulullah aku beriman kepadamu, dan apa yang engkau bawa. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami (menjadi tidak beriman kembali)." Beliau menjawab, "Benar, sesungguhnya hati itu berada di antara dua jari-jari Allah Swt.. Dia akan membolak-balikkan sekehendak-Nya."

Betapa mudahnya. Sedihnya lagi, kata ulama, meningkatkan kadar iman yang sungguh penting itu tidak cukup hanya dengan imbauan, nasehat, saran atau mendengarkan ceramah di televisi, dan di majelis taklim. Atau seruan, "Adik-adik mari kita tingkatkan iman, dan takwa kita." Kadar keimanan tersebut, lanjutnya, harus ditingkatkan dengan ibadah yang benar, dan tekun, dengan amalan-amalan yang nyata, dan perbuatan terpuji yang dikerjakan secara konsisten. Para ulama sering mengutip firman Allah Ta'ala dalam Kitab Suci, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?, dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."

Alkisah, seorang sufi, Abd Al-Aziz bin Abu Dawud, kapan saja dia berbaring nyaman di kasur, selalu berujar, "Betapa empuknya engkau. Namun kasur surga lebih empuk daripada kamu." Dia segera bangkit, dan shalat malam hingga terbit fajar. Hasan Al-Bashri, yang selalu shalat malam, berkata, "Hendaklah seseorang jangan meninggalkan ibadah malam karena dosa yang telah dia perbuat di waktu siang. Bertobatlah kepada Allah dengan ibadah malam." Mereka adalah contoh dari orang-orang beriman yang selalu beribadah dengan istiqamah. Situasi atau kondisi apa pun yang berpotensi menjadi kendala tidak mereka hiraukan. Mereka tekun.

Bagaimana kita? Betapa berat sembahyang malam. Itu adalah waktu yang paling enak buat tidur. Lebih-lebih bila siangnya kita lembur di kantor sampai menjelang isya, lelah tak terkira. Jika tadinya berniat shalat malam, dan sudah menyetel weker atau ponsel pada jam yang tepat, kita malas bangun kendati bel sudah meraung-raung. Kita matikan weker, kembali menarik selimut, lalu tertidur pulas. Bunyi adzan tak terdengar, kita terlambat shalat subuh. Suatu saat kita rajin berpuasa sunah Senin-Kamis. Beberapa bulan kita melakukannya dengan rajin, karena kita punya sejumlah keinginan, dan hasrat. Orang-orang di sekitar kita heran. "Tidak biasanya dia seperti itu," celetuk seorang teman. Tak lama, puasa sunah itu pun kita tinggalkan dengan sangat mudah. Kita malas melakukannya lagi. Kita menjalani rutinitas hidup seperti sedia kala, berbekal segala alasan yang memberatkan. Menjelang bulan puasa Ramadhan datang, kita merasa berat berpuasa karena banyak larangannya. Kita mengeluh.

Barangkali, dengan mengamati kelakuan kita dalam beribadah selama ini, secara kasar kita bisa menakar seberapa rendah kadar keimanan kita, dan naik turunnya. Mungkin saja kita tersadar, dan malu dengan anak kita. Kepada pe- minta-minta yang keriput, kita memberi uang receh yang paling kecil. "Itulah kadar keimanan kita," ujar seorang ulama. Kita beruntung karena tidak ada indeks iman. Kalau ada, kita tidak berani memantaunya. *

Memotret Tubuh Transparan

Kenapa tubuh kita tidak transparan saja, supaya otot, daging, pembuluh darah, tulang belulang, otak, dan segala macam 'jeroan' yang lain terlihat seterang- terangnya? Kita harus bersyukur. Kalau transparan, kita mungkin jadi sejenis monster yang mengerikan, menjijikkan, tak elok dipandang, bikin muak sekaligus mual, mematikan nafsu makan serta membunuh rangsangan yang lain-lain. Ketidaktransparanan ini mungkin jarang kita sadari, dan kita pikirkan. Apalagi kita syukuri. Kita menganggapnya biasa saja, karena sudah seperti itulah dari 'sono-nya'.
Beruntunglah bahwa foto sinar rontgen, kendati mampu 'menembus' kulit, hasilnya tidak sejelas foto berwarna yang diambil lewat kamera biasa atau ponsel. Kamera supermini yang bisa dimasukkan ke dalam usus pun juga belum mampu menghasilkan foto seindah aslinya. Juga banyak peralatan kedoteran yang canggih seperti CT-Scan terbatas kemampuannya. Berbagai kendala tersebut, sesungguhnya, menjadi semacam berkah karena piranti itu tidak sanggup 'memotret' seluruh bagian tubuh yang sejak semula harus tersembunyi.

Ketersembunyian yang ada dalam tubuh kita malah jadi hal yang menguntungkan. Lapisan kulit yang tipis itu menjadi tabir untuk menyembunyikan segala sesuatu di baliknya. Coba pikir. Seandainya lawan bicara kita tahu maksud tersembunyi yang ada di otak kita, apa yang akan terjadi? Kacau balau. Segala rencana, dan tipu muslihat jadi berantakan, gagal total. Kita batal mendapatkan untung besar. Maksud apa pun yang ada dalam pikiran atau hati kita jadi ketahuan semua. Tak ada lagi rahasia.

Mungkin itu sebabnya mengapa para pajabat, dan petugas tidak suka dengan transparansi. Hal-hal yang seharusnya terbuka malah mereka sembunyikan. Contoh. Pemerintah tidak transparan tentang langkah konkret yang akan dilakukan, untuk memaksa konglomerat hitam membayar utang dana BLBI ratusan triliun rupiah. Bank Indonesia terkesan tidak terbuka soal aliran dana ke DPR sebanyak Rp 31,5 miliar. Juga kucuran Rp 68,5 miliar untuk membantu menyelesaikan masalah hukum mantan pejabat BI. Aslim Ta djuddin, Deputi Gubernur BI, mengaku tidak tahu-menahu soal aliran dana itu. "Saya tidak tahu itu," tuturnya.

KETERSEMBUNYIAN ADALAH BERKAH BESAR MEMORI KITA MENYIMPAN SEKALIGUS MENYEMBUNYIKAN
Para ulama mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda, "Apabila seseorang melakukan suatu dosa, maka dalam hatinya terpatri bintik hitam." Jika kita berumur 45 tahun, dihitung sejak akil balik, sudah berapa banyak jumlah noda hitam yang menempel? Sampai seberapa hitam pekat warna hati kita? Betapa sulit membersihkannya supaya hati kembali bersih, dan bersinar. Untunglah tubuh tidak transparan sehingga orang lain tidak tahu seberapa hitam warna hati kita.
Jika setiap maksiat memunculkan satu benjolan bernanah sebesar kelereng di permukaan kulit, alangkah mengerikan, dan menjijikkannya tubuh kita. Di mana-mana benjolan. Nyaris tak ada tersisa sedikit pun kulit yang mulus. Kita tidak tahu harus bagaimana lagi. Urat malu kita mungkin sudah putus. Benjolan itu tak bisa disembunyikan. Apa seluruh tubuh harus dibalut terpal tebal? Apa jadinya kalau 95% birokrat malu masuk kantor, 95°/o penegak hukum malu ke pengadilan, 95% polantas malu ke jalan, 95% dokter malu ke rumah sakit, 95% dosen malu ke kampus, 95% bankir malu ke bank, 95% petugas bea cukai malu periksa barang, 95% eksportir, dan importir malu ke pelabuhan, 95% pedagang malu ke pasar, 95% petugas pajak malu periksa faktur, 95% wartawan malu meliput? Ruwet, seperti benang kusut banget.

Ketersembunyian adalah berkah besar. Memori kita menyimpan sekaligus menyembunyikan. Pengalaman masa kecil, remaja, dan dewasa tersimpan rapat-rapat, yang baik maupun yang memuakkan. Kita hanya bisa memunculkannya di pikiran yang tak terlihat. Andaikata memori tersembunyi itu terlihat, bagaimana kita harus mencari-cari alasan? Bagaimana cara kita menerangkan hal-hal yang memalukan? Apa orang lain mau percaya? Apa anak buah masih mau menghormati kita? Apa pantas kita jadi teman yang baik?

Kita kalut. Kita pun diberi kemampuan untuk berbohong, berdusta, untuk menyembunyikan sesuatu. Bila diungkap, masalah itu mungkin membuat kita malu, ngeri bukan kepalang. Ketika ditanyai hakim di pengadilan, atau diinterogasi polisi, kita berusaha keras menyembunyikannya. Ketika fakta-fakta mulai diungkap, bukti-bukti diperlihatkan, kita juga masih ngotot mengingkarinya. Kita membantah dialog telepon yang direkam. "Itu bukan suara saya. Itu suara orang lain yang mirip," kita berkilah. "Itu bukan tandatangan saya." Yang lain lagi, "Saya tidak meracuni dia.", dan seterusnya. Yang benar adalah, "Itu suara saya. Itu tandatangan saya. Saya memang meracuni dia."

Kita tahu, semua ketersembunyian itu hanya sementara. Itu hanya di dunia yang fana ini. Para ulama mengatakan bahwa setelah Hari Kiamat tiba, maka seluruh umat manusia dari mulai zaman Nabi Adam hingga yang terakhir dikumpulkan bersama-sama. Mereka satu persatu akan ditanya tentang amal mereka selama di dunia. Tidak satu orang pun yang bisa berbohong, menyembunyikan apa pun, sekecil apa pun. Semua transparan. Apa saja, termasuk tubuh, dan pan- ca indra, bersaksi jujur. Mereka akan mengungkapkan apa adanya segala tingkah laku kita. Tidak ada suap menyuap. Kepada kita akan ditunjukkan daftar panjang amal-amal, yang baik maupun yang buruk, lengkap, dan terinci sekali. Kita tidak bisa menyangkal. Itulah potret utuh seutuh-utuh- nya seluruh tindakan kita.

Potret jepretan Direktur Utama BNI, Sigit Pramono, yang hobi-berat motret itu, memang bagus, artistik, dan mengundang decak. Beberapa kali dia berpameran tunggal. Tak jelas apa dia memotretnya pakai kamera saku, single lens reflect (SLR) yang lebih mahal seperti Canon, dan Nikon atau merk Mamiya, dan Hassellblad. Dia mahir mengatur komposisi, membidikkan kamera pada angle yang tepat, mencermati shutter speed, menyetel pencahayaan yang pas, lalu menjepret pada momen yang persis sehingga diperoleh foto yang luar biasa bagus. Mudah-mudahan foto kondisi hati kita sama indahnya seperti fotonya pak Dirut. Namun, untuk itu, kita harus memiliki 'kamera yang cocok', dan 'keterampilan teknis' sebagus dia sebagai prasyarat. Mampukah kita?

Dua kampiun fotografi, Troth Wells, dan Caspar Henderson, belum lama menerbitkan buku kumpulan foto mereka berjudul Our Fragile World: The beauty of a planet under pressure. Foto-foto mereka menyuguhkan lukisan gamblang tentang berbagai keindahan sekaligus kerusakan di muka bumi. Hasil pemotretan itu bagus sekali, tapi mengerikan. Yang terakhir ini agaknya cocok dengan potret kondisi jiwa, dan pikiran kita. Mengerikan. *