Wednesday, July 11, 2012

Ruh Amal adalah Ikhlas


Jenis amal itu bermacam-macam karena asupan hati juga beragam.

- Ibnu Atha'illah al-Iskandari -

YANG DIMAKSUD asupan hati di sini adalah makrifat Tuhan dan rahasia ruhani yang masuk ke dalam relung hati. Asupan hati ini akan mendorong munculnya sifat-sifat dan ahwal (keadaan) terpuji. Ada yang membuahkan karisma. Ada yang mendorong kelembutan. Ada pula yang memupuk kedermawanan.
Kerapkali kaudapati sebagian murid yang rajin shalat, ada pula yang rajin puasa, dan sebagainya. Sebabnya adalah perbedaan asupan Ilahi yang mengakibatkan perbedaan kecenderungan seseorang. Setiap orang harus beramal sesuai dengan kecenderungannya jika ia belum mendapat bimbingan dari gurunya. Sebaliknya, apabila ia telah mendapat bimbingan guru, ia tidak boleh beramal, kecuali dengan izin sang guru.
Kesimpulannya, beragamnya wirid dan zikir yang dilakukan para murid adalah akibat dari beragamnya asupan yang masuk ke hati mereka. Setiap murid harus beramal sesuai dengan asupan hatinya atau sesuai bimbingan guru. la tidak boleh beramal berdasarkan asupan hati orang lain. Orang lain pun tidak boleh menentangnya hanya karena tidak melakukan apa yang dilakukannya.
Amal itu seumpama jasad, sedangkan keikhlasan adalah        ruhnya.

- Ibnu Atha'illah al-Iskandari -

AMAL ITU ibarat jasad yang tak bernyawa, sedangkan keikhlasan laksana ruh yang menjadikan jasad itu hidup. Keikhlasan setiap orang berbeda-beda. Keikhlasan para 'abid (ahli ibadah) berbentuk bersihnya amal mereka dari sifat riya' yang nyata maupun yang tersamar dan dari niat yang didasari hawa nafsu. Mereka beramal karena Allah, mengharap pahala-Nya, serta ingin selamat dari azab dan siksa-Nya. Namun demikian, mereka menisbatkan amal itu pada diri mereka dan menjadikannya sebagai tempat bergantung untuk meraih apa yang mereka inginkan.
Sementara itu, bentuk keikhlasan para muhibbin (pencinta Allah) tergambar dalam niat amal mereka yang ditujukan sebagai wujud pengagungan dan penghormatan mereka terhadap Allah; yang memang layak mendapatkannya. Dalam beramal, mereka tidak bertujuan mendapat pahala atau takut dari siksa-Nya.
Oleh sebab itu, Rabi'ah Al-Adawiyah berkata, "Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka-Mu atau berharap surga-Mu."
Sementara itu, keikhlasan para 'arif berbentuk kesaksian dan pandangan mereka bahwa Allah semata yang menggerakkan dan mendiamkan mereka. Mereka tidak merasa memiliki daya dan upaya dalam hal itu. Oleh karena itu, mereka tidak beramal, kecuali dengan bantuan Allah, bukan dengan daya dan kekuatan mereka. Tingkat keikhlasan para 'arif ini merupakan tingkat keikhlasan tertinggi.
Kemudian, dalam hikmah berikut, Ibnu Athaillah memberi tips bagaimana cara meraih dan menumbuhkan keikhlasan.