Monday, June 18, 2012

Majelis 03 - Tidak Perlu Bercita – Cita Menjadi Kaya


PADA hari Jum'at pagi, 8 Syawwal 545 H., Syaikh Abdul-Qadir Al-Jailani rah.a. menyampaikan ceramahnya:
Wahai orang fakir, janganlah engkau bercita-cita menjadi kaya, boleh jadi kekayaan itu menjadi penyebab kehancuranmu. Dan engkau wahai orang sakit, janganlah bercita-cita untuk sehat, boleh jadi hal itu menjadi sebab kebinasaanmu. Jadilah orang yang berakal, jagalah buah hasilmu, maka engkau akan terpuji. Terimalah takdir yang menyertaimu, janganlah meminta lebih darinya. Apa saja yang diberikan Allah swt. kepadamu disebabkan oleh permintaanmu yang bercampur kotoran dan kebencian. Aku telah mencoba hal ini, kecuali orang yang diperintah hatinya agar meminta. Jika ia diperintahkan meminta, maka akan diberkati apa yang dia pinta dan hilanglah kotoran darinya. Dalam do'amu, hendaklah engkau memohon ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Mintalah ini saja. Janganlah engkau memilih-milih dan sombong terhadap Allah swt. karena itu dapat melemahkanmu. Janganlah engkau menyombongkan kemudahan, kekuatan, dan kemudaanmu, agar Dia tidak menghancurkanmu dan menyiksamu, sesungguhnya siksa-Nya amat pedih. Celaka kamu, lidahmu muslim tetapi hatimu tidak. Ucapanmu muslim sedangkan perbuatanmu tidak. Di tengah-tengah khalayak ramai kamu muslim tetapi dalam keadaan sepi tidak. Bukankah kamu tahu jika kamu shalat, puasa, dan melakukan segala amal shalih tetapi bukan untuk mencari ridha Allah swt., berarti kamu munafik, jauh dari Allah swt. Sekarang juga, bertaubatlah kepada Allah swt. dari seluruh ucapan, perbuatan, dan maksud-maksud yang hina. Para wali itu tidak pernah memamerkan amal mereka. Mereka adalah orang-orang yang berjaya, mereka menerima apa adanya, mereka meng-Esakan Allah swt., ikhlas, dan bersabar atas segala ujian serta bersyukur atas segala kenikmatan. Lidah hati mereka senantiasa berdzikir. Jika disakiti manusia, wajah mereka tersenyum. Di hadapan mereka, raja-raja adalah orang yang asing, semua manusia di muka bumi ini ibarat mayat, lemah, sakit, dan miskin. Surga merindukan mereka dan neraka bisa padam. Tidak ada bumi, langit, maupun tempat tinggal di antara keduanya. Tujuan mereka jelas, yakni menuju pada satu arah. Pada mulanya mereka berjalan bersama dunia dan penghuninya, lalu mereka berjalan bersama pemelihara dunia dan akhirat. Mereka telah bertemu dengan-Nya dengan hati mereka hingga sampailah mereka kepada-Nya dan berhasil berteman menelusuri jalan. Mereka berhasil membuka pintu antara diri mereka dengan Dia. Dia mengingati mereka selagi mereka mengingati-Nya, sampai mereka sepi dari selain-Nya dan mereka ada bersama-Nya. Mereka mendengar firman Allah swt.

"Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku." (Q.s. Al-Baqarah: 152).
Mereka selalu berdzikir kepada-Nya karena ingin diingat oleh-Nya. Mereka juga mendengar hadits qudsi., "Aku adalah teman orang yang mengingati-Ku." Mereka meninggalkan majelis yang sia-sia dan berpuasa dengan majelis dzikir sehingga mereka berhasil memujalasah {duduk-duduk} dengan-Nya.

Janganlah kamu gila. Ilmu itu tidak akan berguna bagimu jika tanpa amal. Engkau harus beramal hitam di atas putih. Ia adalah hukum Allah swt. yang harus engkau ikuti hari demi hari, tahun demi tahun, sampai engkau mendapatkan buahnya. Wahai ghulam, ilmu akan menuntut kamu jika engkau tidak mengamalkannya. Tetapi ilmu akan membelamu jika engkau mengamalkannya, sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi saw,  "Ilmu itu akan memuji bila diamalkan, bila tidak ia akan pergi. "Yakni pergi keberkahannya sehingga tinggal tuntutannya. Yakni pergi pertolonganya untukmu dari Maulanya dan pasti ia akan datang kepada-Nya untuk menuntutmu. Jika ilmu pergi, yang ada tinggal kulit. Adapun isi ilmu adalah amal. Kamu tidak mengikuti Rasul saw., jika kamu tidak mengamalkan sabdanya. Jika kamu mengamalkan perintahnya, maka hati dan nuranimu akan datang pada Tuhannya. Ilmu telah memanggilmu, tetapi kamu tidak mendengarnya, karena ia tidak meresap di hati. Dengarlah ia dengan telinga hati dan nuranimu. Terimalah seruannya agar kamu memperoleh manfaat darinya. Ilmu yang diamalkan akan mendekatkan dirimu kepada Allah, Dzat Yang menurunkan ilmu. Jika engkau mengamalkan hukum sebagai ilmu pertama, maka ia akan mengantarkanmu kepada ilmu berikutnya. Kedua matamu akan menangis, dan hatimu penuh dengan rasa takut. Hukum dan ilmu adalah dhahir dan batin. Ketika itu engkau harus menzakatinya. Adapun zakat ilmu adalah menyebarkannya dan mengajak manusia kepada Allah swt.
Wahai ghulam, barangsiapa bersabar maka ia akan berjaya.
Allah swt. telah berfirman,





"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Q.s.. Az-Zumar: 10)

Makanlah dari hasil bekerjamu. Jangan menjual agamamu. Bekerjalah, makanlah, dan bantulah orang lain. Pekerjaan orang beriman adalah tingkatan orang shiddiq. Perhatikanlah keadaan para fakir miskin. Para sufi suka memberi karena mengharap ridha Ilahi. Mereka mendengar sabda Nabi saw: 

"Manusia itu keluarga Allah swt. dan orang-orang yang paling dicintai Allah swt. adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada keluarganya."
Para wali Allah itu bisu, buta, dan tuli. Jika hati mereka telah dekat dengan Al-Haq Azza wa Jalla, maka mereka tidak mendengar dan melihat selain Dia. Mereka telah diperkenankan untuk dekat, mempunyai mahabah, dan haibah (wibawa). Mereka berada dalam keagungan dan kerendahan. Mereka tidak menoleh ke kanan atau ke kiri. Mereka selalu memandang ke depan, sedikit pun tidak menoleh ke belakang sehingga manusia, jin, malaikat, dan semua makhluk berkhidmat kepada mereka. Makanan mereka adalah karunia Allah swt., dan minumannya adalah ketenteraman. Mereka makan dari makanan karunia-Nya, dan mereka minum dari minuman keridhaan-Nya. Mereka memiliki keasyikan, mereka tidak mendengar bicara makhluk. Mereka berada di suatu lembah, sedangkan makhluk lainnya berada di lembah yang lain. Mereka memerintahkan manusia agar menjalankan perintah Allah swt. dan melarang mereka dari mendurhakai-Nya, pekerjaan mereka adalah menuntun manusia ke pintu Al-Haq Azza wa Jalla dengan hujah yang benar, menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan memberikan keutamaan orang yang memiliki keutamaan. Mereka tidak suka menuntut haknya, mereka tidak mementingkan dirinya. Mereka mencintai atau membenci sesuatu karena Allah swt.. Mereka hanyalah untuk Allah swt., bukan untuk selain-Nya. Mereka mempunyai bagian kemuliaan. Barangsiapa mempunyai sifat-sifat seperti itu, ia berhak untuk bershuhbah dan mendapatkan kejayaan. Manusia, jin, malaikat, bumi, dan langit, akan suka kepadanya.

Wahai orang munafik, wahai penyembah makhluk dan asbab, dan orang yang melupakan Allah swt., kamu menginginkan sesuatu yang tidak mendatangkan kemuliaan bagimu. Menyerahlah dan bertaubatlah. Belajarlah, beramallah, dan ikhlaslah dalam beramal. Jika tidak, kamu tidak akan mendapatkan petunjuk. Celaka kamu, di antara kamu dan aku tidak ada permusuhan. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mengurangi sedikit pun dalam menerangkan agama Allah swt. kepadamu. Aku telah terdidik dengan kerasnya ucapan para guru dan kerasnya tantangan pengembaraan serta kefakiran. Jika aku mengatakan sesuatu kepadamu, ambillah yang dari Allah swt.. Dialah yang memberiku kemampuan  berbicara. Jika kamu datang kepadaku, datanglah dengan telanjang, yakni telanjang dari keinginan dan hawa nafsumu. Yang membinasakanmu adalah pemahamanmu yang dangkal. Jika kamu mempunyai basyirah (pandangan mata Hati) tentu kamu akan melihatku telanjang pula. Wahai orang yang ingin bershuhbah denganku, hendaknya engkau berprasangka baik kepadaku dan menjalankan apa yang aku sarankan. Insya Allah engkau akan berhasil. Para Nabi a.s. telah dididik oleh Al-Haq Azza wa Jalla dengan kalam-Nya. Para wali dididik dengan hadits, dan hadits itu menjadi sumber ilham bagi hati mereka. Mereka adalah para penerus dan pengganti para nabi. Allah swt. Yang Maha Berbicara telah berbicara kepada Musa a.s..
Dia telah berbicara kepadanya. Dialah Dzat Yang Mengetahui segala sesuatu yang ghaib. Dia berbicara kepadanya dengan ucapan yang dapat dipahaminya dan sampai kepada akalnya tanpa perantara. Demikian pula Allah swt. berbicara kepada Nabi kita Muhammad saw., itulah Al-Qur'an yang menjadi tali Allah swt. yang kuat di antara engkau dan Tuhanmu. Jibril telah membawanya turun dari langit dari sisi Allah swt. kepada RasulNya saw., sebagaimana yang beliau ceritakan. Kita tidak boleh mengingkari dan menentangnya. Ya Allah, berilah petunjuk kepada semua manusia, terimalah taubat mereka semua, dan kasihanilah mereka.

Diceritakan dari Amirul-Mukminin Al-Muktashim Billah, ketika hendak wafat dia berkata, "Demi Allah, aku bertaubat kepada Allah swt. atas perbuatanku terhadap Ahmad Bin Hanbal rah.a.. Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui keadaannya sedangkan orang lain hanya ikut-ikutan saja." Wahai si miskin tinggalkanlah perkataan yang tidak berguna. Janganlah terlalu fanatik kepada madzhab, dan sibukkanlah dirimu dengan sesuatu yang berguna bagimu di dunia dan akhirat: Sebentar lagi engkau akan melihat kebaikanmu dan ingatlah ucapanku maka kamu akan melihat ketika ditikam, di kepalamu tidak ada perban. Bagaimana mungkin luka itu dapat disembuhkan. Kosongkanlah hatimu dari cita-cita dunia. Sebentar lagi engkau akan meninggalkannya. Janganlah engkau mencari kesenangan hidup yang tidak pernah engkau capai. Nabi saw. telah bersabda:
 "Kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat."
Jika engkau telah memendekkan angan-anganmu, berarti engkau telah zuhud terhadap dunia. Zuhud yang sebenarnya adalah pendeknya angan-angan keduniaan. Jauhilah teman-teman yang buruk. Putuskan keakraban dengan mereka. Bergaullah dengan orang-orang shalih. Jauhilah kawan buruk meskipun ia dekat darimu dan dekatilah orang baik meskipun ia jauh darimu. Setiap pergaulan akan menumbuhkan pengaruh, jadi perhatikanlah dengan siapa engkau bergaul. Jika ditanyakan tentang arti dekat, maka jawabannya adalah keakraban dan kasih sayang. Janganlah engkau meminta, baik itu bagianmu atau bukan. Sesungguhnya meminta bagianmu itu menjadikan dirimu tercela. Sedangkan meminta yang bukan bagianmu itu menjadikan dirimu hina dan dibenci. Dalam hal ini, Nabi saw. bersabda:


 "Termasuk dari siksa Allah kepada hamba-Nya ialah ia meminta sesuatu yang bukan menjadi bagiannya."

Wahai ghulam, jadikanlah ciptaan-ciptaan Allah swt. sebagai dalil, dan renungkanlah ia, maka engkau akan sampai pada penciptanya. Seorang mukmin yang yakin dan arif memiliki dua mata, yakni zhahir dan batin. Mata zhahir memandang ciptaan Allah di bumi, sedangkan mata batin memandang ciptaan Allah di langit. Hijab di hatinya akan hilang sehingga dia akan melihat tanpa kesamaran atau keraguan, lalu dia menjadi dekat dan dikasihi. Bagi orang yang dikasihi tidak ada sesuatu yang di sembunyikan darinya. Ketika hijab telah dibuka dari hatinya, maka ia akan jauh dari makhluk, nafsu, tabiat, keinginan, dan syaitan. Dia lemparkan kunci-kunci khazanah bumi dari tangannya sehingga bagiannya sama antara batu dan tanah. Jadilah orang yang berakal. Renungkanlah apa yang aku katakan. Pahamilah, aku berbicara dengan mendalam sebagai nasihat yang amat berharga.

Wahai ghulam, janganlah engkau meragukan Khaliq kepada makhluk. Dialah yang mentakdirkan, bukan selain Dia. Dari gudang kebaikan itulah tersimpan kebahagiaan, musibah, dan penyakit. Bersedekahlah dengan tangan kananmu sedangkan tangan kirimu tidak mengetahuinya. Waspadalah terhadap lautan dunia karena banyak manusia telah tenggelam dan tidak selamat darinya kecuali sedikit saja. Lautan itu amat dalam. Semua orang bisa tenggelam kecuali orang-orang yang  diselamatkan oleh Allah sebagaimana orang-orang mukmin diselamatkan pada Hari Kiamat . Dia menyelamatkan mereka dari neraka. Sesungguhnya semua manusia akan melewatinya, dan Allah swt. akan menyelamatkan hamba-Nya yang dikehendaki. "Dan tidak ada seorang pun daripadamu melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu merupakan suatu kepastian yang sudah ditetapkan." (Q.s. Maryam: 71)

Allah swt. akan berkata kepada api neraka, "Dinginlah kamu sehingga hamba-hamba-Ku yang beriman lewat, yakni mereka yang beriman, ikhlas, cinta kepada-Ku, dan zuhud dari selainku." Pada saat itu Allah swt. akan berkata kepada neraka sebagaimana Dia berkata kepada api Namrud yang dinyalakan untuk Nabi Ibrahim a.s.. Demikian pula Allah swt. berfirman, "Wahai lautan dunia, jangan kamu tenggelamkan hamba-Ku yang terkasih ini." Sehingga dia selamat sebagaimana Nabi Musa dan kaumnya menyeberangi lautan. Dia memberikan karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

"Dan Dia memberi rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (Q.s. Al- Baqarah: 212).

Semua kebaikan berada di tangan-Nya. Demikian pula semua pemberian dan penahanan juga berada di tangan-Nya. Kaya, miskin, mulia, hina, juga berada di tangan-Nya. Tak seorang pun yang dapat mencampuri urusan-Nya. Orang yang berakal adalah orang yang selalu berada di pintu-Nya dan berpaling dari selain pintu-Nya. Wahai orang yang berpaling, aku melihat kamu menyukai makhluk dan membenci Khaliq. Kamu menghancurkan akhiratmu dengan memakmurkan duniamu. Sebentar lagi kamu akan dijemput oleh maut dengan paksa, dengan sakit, hina, dan fakir. Allah swt. akan menyiksamu dengan berbagai macam penderitaan dan kesusahan, yang diperbuat oleh manusia terhadapmu. Semua makhluk-Nya akan menyiksamu. Bangunlah wahai orang yang tidur. "Ya Allah, bangunkan kami bersama-Mu dan untuk-Mu." Aamiin.

Wahai ghulam, dalam mengambil dunia, janganlah engkau seperti pencari kayu bakar pada malam hari, yang tidak mengetahui apa yang ada di tangannya. Kulihat engkau dalam perilakumu seperti pencari kayu pada malam gelap tanpa cahaya maupun rembulan, bagaikan orang yang berada di padang sahara yang hampir diterkam binatang buas. Hendaklah engkau mencari kayu bakar pada siang hari. Cahaya matahari akan menghalangimu mengambil sesuatu yang membahayakanmu. Hendaklah engkau dalam berperilaku disinari oleh cahaya tauhid, syari'at, dan takwa. Cahaya itu akan menghalangimu jatuh ke lembah kekejaman, keinginan, nafsu, syaitan, bahkan akan mengendalikanmu dalam perjalanan. Celaka kamu, janganlah kamu tergesa-gesa. Orang yang tergesa-gesa itu salah dan pasti akan salah. Orang yang sabar akan sampai dan selamat. Tergesa-gesa itu dari syaitan, dan sabar itu dari ar-Rahman. Kebanyakan engkau tergesa-gesa dalam mengumpulkan harta benda. Terimalah dengan kerelaan, sesungguhnya menerima dengan kerelaan itu merupakan gudang yang tak pernah habis.  Bagaimana mungkin kamu mencari apa yang tidak menjadi bagianmu dan tidak akan pernah jatuh ke tanganmu? Sabarlah dan terimalah dengan rela. Tetap teguhlah sehingga engkau mengenal Allah swt., sehingga pada saat itu engkau menjadi kaya dari segala sesuatu. Kuatkanlah hatimu dan bersihkanlah nuranimu. Tuhanmu akan mengajari kamu. Dunia akan hina dalam pandanganmu, dan akhirat berada di mata hatimu. AlHaq Azza wa Jalla berada di mata nuranimu. Bagimu tidak sesuatu yang besar selain Al-Haq Azza wa Jalla. Bahkan engkau menjadi besar di mata semua makhluk. Wahai ghulam, jika engkau tidak ingin ada pintu yang tertutup di depanmu, maka takutlah kepada Allah swt. Sesungguhnya takwa adalah kunci bagi setiap pintu. Allah swt. berfirman,
  
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari rah yang tidak di sangka-sangka. " (Q. S.At-Thalaq: 2-3).

Janganlah engkau menentang Allah swt. mengenai dirimu, keluargamu, hartamu, maupun orang-orang pada zamanmu. Tidakkah engkau malu meminta Dia agar mengubahnya, seakan-akan engkau lebih bijak, lebih mengetahui, dan lebih penyanyang daripada-Nya? Engkau dan seluruh makhluk adalah hamba-hamba-Nya. Dialah yang mengatur dirimu dan diri mereka. Jika engkau ingin bershuhbah dengan Dia di dunia dan akhirat, hendaklah engkau diam, tidak berbicara, dan membisu. Para wali Allah itu berpegang pada adab di depannya. Mereka tidak bergerak atau melangkah kecuali dengan izin-Nya yang jelas bagi hati mereka. Mereka tidak makan dari sesuatu yang mubah. Mereka tidak berpakaian, menikah, atau berperilaku dalam seluruh asbabnya melainkan dengan izin yang jelas bagi hati mereka. Mereka berdiri bersama Al-Haq Azza wa Jalla. Mereka berdiri bersama Dzat Yang membolak-balikkan hati dan mata. Tidak ada ketetapan bagi mereka bersama Tuhannya sehingga mereka menemui-Nya dengan hati mereka di dunia dan dengan jasad mereka di akhirat. Ya Allah, berilah kami rezeki dapat berjumpa dengan-Mu di dunia dan akhirat. Lezatkan kami dengan dekat kepada-Mu dan melihat-Mu. Jadikan kami termasuk orang yang ridha kepada-Mu dari selain-Mu. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka.