Thursday, June 14, 2012

Majelis 02 - Tentang Kefakiran

                  DALAM perjumpaan pada 5 Syawal 545 H. Di madrasah, beliau menyampaikan ceramahnya sebagai berikut :
Janganlah engkau memusuhi dan berghibah kepada Allah swt., karena hal itu akan menjauhkan dirimu dengan-Nya. Hentikanlah perbuatan itu sebelum engkau dipukul, dihina, dan dililit ular, dan bala bencana. Engkau belum mencicipi makanan bencana. Engkau tentu tertipu. Janganlah engkau gembira dengan apa yang engkau dapatkan. Itu semua bersifat sementara dan akan hilang. 

 "Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong konyong." {q.s. Al-An'am:44}.
Sesungguhnya kemenangan mendapatkan sesuatu disisi Allah swt. hanyalah diperoleh dengan sabar. Oleh karena itu, Allah swt. sangat menekankan perihal sabar. Sabar dan fakir tidaklah berkumpul melainkan pada diri orang mukmin. Orang-orang yang mencintai Allah swt. itu diuji, lalu mereka bersabar dan bertekad melakukan kebaikan bersama bencana yang menimpanya. Mereka bersabar atas sesuatu yang menimpa diri mereka dari Tuhan mereka. Jika bukan karena kesabaran, tentu engkau tidak melihatku di antara kamu. Sungguh aku telah membuat sangkar untuk menjebak burung-burung, dari malam ke malam mataku terjaga. Kalaupun pada siang hari mataku sedikit terpejam, kakiku tetap terikat dengan sangkar itu. Aku melakukannya untuk kemaslahatanmu juga. Namun engkau tidak pernah mengerti bahwa itu adalah taufiq dari Allah swt.. Jika tidak ada orang berakal yang duduk di negeri ini dan bergaul dengan penduduknya, niscaya di sana banyak riya, kemunafikan, kezhaliman, syubhat, dan haram. Bahkan di sana banyak pula yang mengkufuri nikmat Allah swt., bahkan menggunakannya untuk berbuat kefasikan dan kedurhakaan.
Betapa banyak orang yang lemah di rumahnya, takwa di tokonya, zindiq minumnya, dan shiddiq di atas kursinya. Kalau tidak terhalang hukum, aku akan membicarakan apa yang terjadi di rumahmu. Tetapi aku mempunyai fondasi yang di atasnya perlu didirikan bangunan. Aku mempunyai anak-anak yang harus mendapatkan pendidikan. Jika aku buka apa yang aku ketahui, niscaya akan menyebabkan perpisahan antara engkau dan aku. Dalam keadaan seperti ini, aku memerlukan kekuatan seperti kekuatan para nabi dan rasul a.s.. Aku memerlukan kesabaran, sejak Adam a.s. hingga zamanku ini. Aku memerlukan kekuatan dari Allah swt. Ya Allah, berilah aku kelembutan, pertolongan, dan ridha. Amin."

Wahai ghulam, engkau tidak diciptakan untuk kekal dan bersenang-senang di dunia. Ubahlah perilakumu yang tidak disukai Allah swt.. Engkau menganggap sebagai suatu ketaatan dengan mengucap Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Padahal ucapan itu tidak berguna bagimu sebelum engkau menyandarkan pada-Nya segala sesuatu yang lain. Iman itu meliputi ucapan dan perbuatan. la tidak akan diterima dan tidak akan berguna jika engkau melakukan dosa dan kemaksiatan, mendurhakai Allah swt., bergelimang dalam dosa, meninggalkan shalat, puasa, sedekah, dan perbuatan-perbuatan yang baik Apakah artinya engkau mengucapkan dua kalimah syahadah {kesaksian} jika engkau sama sekali tidak taat? Bukti dari pengakuan itu adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, sabar atas balak, dan ikhlas. Sungguh tidak akan diterima ucapan tanpa amal atau amal tanpa keikhlasan. Berikanlah sebagian hartamu kepada orang-orang fakir. Janganlah engkau menolak peminta-minta sedangkan engkau mampu untuk memberinya, sedikit atau banyak. Sepertilah Al-Haq Azza wa Jalla Yang suka memberi. Bersyukurlah kepada-Nya yang telah membuatmu mampu memberi: Celakalah engkau jika peminta-minta itu hadiah dari Allah swt., padahal engkau mampu memberinya. Bagaimanakah jadinya jika engkau menolak hadiah Allah swt. kemudian engkau mendengar dan menangis di sampingku? Jika datang seorang fakir lalu hatimu menjadi keras, maka itu menunjukkan bahwa tangisanmu dan ketekunanmu dalam mendengarkan tidaklah ikhlas karena Allah swt.. Dengarkanlah nasihatku, pertama dengan nurani, kemudian dengan hati, lalu dengan amal (anggota badan) untuk melakukan kebaikan. Jika engkau datang kepadaku, maka datanglah dengan mengosongkan lisan, ilmu, amal, nasab, kedudukan, dan melupakan harta maupun keluarga. Duduklah di depanku dengan hati telanjang dari selain Al-Haq Azza wa Jalla sehingga Dia sendiri yang akan memberikan pakaian, karunia, dan kedekatan dengan-Nya. Jika engkau berbuat demikian ketika datang kepadaku, maka engkau seperti burung yang pergi pada pagi hari dengan perut lapar namun pulang sore dengan perut kenyang. Cahaya hati itu berasal dari cahaya AlHaq Azza wa Jalla. Oleh karena itu, Nabi, saw. bersabda :

"Takutilah firasat seorang mukmin, sesungguhnya is memandang dengan cahaya'Allah Azza wa Jalla."

Wahai orang fasik, takutlah kepada orang beriman. Janganlah kamu datang kepadanya sedangkan kamu berlumuran dengan najis kemaksiatan. Sesungguhnya ia, dengan cahaya Allah, dapat melihat sesuatu yang ada pada dirimu. Dia dapat melihat kemusyrikan dan kemunafikanmu, melihat amalanmu yang tersembunyi di balik pakaianmu, dan melihat kecurangan serta kerusakanmu. Barangsiapa tidak pernah melihat orang yang beruntung, maka ia tidak akan beruntung. Kamu adalah orang yang kacau yang berkumpul dengan orang-orang yang kacau. Sampai kapankah kebutaanmu itu? Sampai kamu datang ke dokter yang akan merawatmu dan membersihkan kotoran hatimu, memperbaiki persangkaanmu, serta menghilangkan prasangka buruk kepada-Nya dari hatimu. Di samping itu, kamu harus mengambil anak-anakmu, lalu duduk di depan pintu-Nya dan bersabar atas kepahitan obat-Nya. Maka pada saat itulah kebutaan itu akan hilang dari dirimu. Rendahkanlah dirimu di hadapan Allah swt.. Sampaikanlah hajat-hajatmu kepada-Nya.
Janganlah engkau menghitung amalan yang ada pada dirimu, buanglah ia di bawah telapak kaki keikhlasan. Tutuplah pintu makhluk dan bukalah pintu khaliq. Akuilah segala dosamu. Mintalah ampunan atas segala kekuranganmu. Yakinlah bahwa tidak ada yang memberi manfaat atau madharat, tidak ada yang memberi atau menahan, kecuali Allah swt.. Pada saat itulah kebutaan akan hilang dari dirimu, bahkan basyirahmu akan menggerakkan matamu.

Wahai ghulam, yang penting bukan kesederhanaan pakaian dan makananmu, tetapi kezuhudan hatimu. Pakaian yang mula-mula dipakai oleh seseorang adalah pakaian bulu bagi batinnya, kemudian baru pakaian dhahirnya. Pendeknya, ia memberikan pakaian bagi nuraninya, kemudian hatinya, kemudian dirinya, dan terakhir pada anggota badannya. Jika semuanya telah sempurna, maka datanglah kasih sayang dan karunia yang mengubahnya dari pakaian hitam menjadi pakaian kebahagiaan,
mengganti bencana menjadi kebahagiaan, kebencian menjadi kegembiraan, ketakutan menjadi aman, jauh menjadi dekat, dan fakir menjadi kaya.

Wahai ghulam, ambillah bagian dengan tangan zuhud, bukan dengan tangan rakus. Tidak sama orang yang makan dan menangis dengan orang yang makan lalu tertawa. Makanlah bagian itu, sedang hatimu bersama Al-Haq Azza wa Jalla, maka engkau akan selamat dari kejahatannya. Jika engkau makan dari
tangan dokter, itu lebih baik daripada engkau makan di mana engkau tidak tahu asal mula dan akibatnya, yang terkadang akan mengeraskan hatimu. Sifat amanah telah hilang dari dirimu, kasih sayang pun hilang dari dirimu, bahkan hukum-hukum agama juga telah hilang dari dirimu. Engkau telah meremehkan dan meninggalkannya. Celakalah engkau jika tidak memegang teguh amanah. Sebentar lagi hujan lebat akan mengguyurmu, kedua tangan dan kakimu akan terikat, dan pintu kasih sayang Allah swt. tertutup bagimu. Dia akan menjadikan kebencian terhadapmu di hati-hati makhluknya sehingga mereka tidak mau memberimu.

Peliharalah dirimu bersama Tuhanmu Azza wa Jalla. Takutlah kepada-Nya. Sesungguhnya siksa-Nya itu amat pedih, yang akan mengambil keamanan dan keselamatanmu. Takutlah kepada-Nya. Dialah Tuhan langit dan bumi. Peliharalah kenikmatan-Nya dengan bersyukur kepada-Nya. Terimalah perintah dan larangan-Nya dengan taat dan setia. Hadapilah kesulitan dengan sabar, dan terimalah kenikmatan dengan syukur. Demikianlah sifat para nabi, rasul, dan orang-orang shalih terdahulu. Tinggalkanlah ajang bermaksiat kepada-Nya dan makanlah dari meja ketaatan kepada-Nya. Peliharalah batasan-batasan Allah swt.. Jika datang kemudahan, bersyukurlah. Jika datang kesulitan, bersabarlah. Lalu bertaubatlah engkau dari dosa-dosamu, dan periksalah dirimu. Sesungguhnya Allah swt. tidak akan menganiaya hamba-Nya. Ingatlah maut dan peristwa sesudahnya. Ingatlah Allah swt., kemudian hisablah mengenai pandangan-Nya terhadapmu. Ingatlah sampai kapan tidur ini. Sampai kapan kejahilan dan mondar-mandir dalam kebatilan ini akan terus terjadi. Sampai kapan engkau akan mengikuti keinginan, nafsu, dan kebiasaanmu. Mengapa engkau tidak belajar beribadah kepada Tuhanmu swt. dan mengikuti syari'at-Nya. Ibadah berarti meninggalkan kebiasaan. Mengapa engkau tidak berlatih dengan adab Al-Qur'an dan Kalam Nubuwah?

Wahai ghulam, janganlah engkau bergaul di tengah manusia dengan kebutaan dan kebodohan, bahkan dengan lalai dan tidur. Pergaulilah mereka dengan basyirah, ilmu, dan kesadaran. Jika engkau melihat kebaikan pada diri mereka, ikutilah. Jika engkau melihat sesuatu yang membahayakanmu, tinggalkanlah. Sungguh, engkau dalam kelalaian dari Al-Haq Azza wa Jalla. Engkau harus sadar. Engkau harus selalu pergi ke masjid dan banyak bershalawat ke atas Nabi saw.. Sesungguhnya, beliau saw. telah bersabda:




“Jika api turun dari langit, tidak ada yang selamat kecuali ahli masjid”

Jika engkau lalai dalam shalat, terputuslah hubungan dengan Al-Haq Azza wa Jalla. Oleh karena itu Nabi saw. bersabda, "Yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannya ialah bila ia sedang dalam kemurahan." Orang yang mentakwilkan itu menipu. Wahai sekiranya kita berjalan menggapai sebuah tekad, kita bergantung dengan ijma' dan ikhlas dalam beramal, tentu kita akan selamat dari murka Al-Haq Azza wa Jalla. Bagaimanakah jika kita selalu mentakwilkan dan meminta kemurahan. Memang, 'azimah kini telah tiada dan tiada pula orang yang mengamalkannya. Sekarang adalah zaman kemurahan (rukhsah) bukan zaman 'azimah. Sekarang adalah zaman riya' dan nifaq serta mengambil harta tanpa hak. Sungguh banyak orang yang shalat, puasa, haji, berzakat, dan melakukan banyak kebaikan, tetapi semua itu dikerjakan karena makhluk, bukan karena Khaliq. Sehingga, sebagian besar alam ini menjadi makhluk tanpa Khaliq. Hatimu telah mati, nafsu dan keinginan hidup hanyalah untuk memburu dunia. Hati akan hidup jika makhluk keluar dari dalam hati, lalu berdiri bersama Al-Haq Azza wa Jalla dengan sesungguhnya. Yang namanya gambar tidaklah ada artinya. Hati akan hidup dengan menjalankan perintah Allah swt., menjauhi larangan-Nya, dan bersabar dalam menerima ujian maupun takdir dari-Nya.

Wahai ghulam, berserahlah kepada Allah swt. terhadap apa saja yang telah ditentukan-Nya, kemudian berdirilah bersama-Nya sesudah itu. Segala sesuatu itu memerlukan fondasi, barulah kemudian bangunan. Selalulah dalam keadaan demikian siang dan malam. Celaka, engkau hanya memikirkan urusanmu. Tafakkur adalah perbuatan hati. Jika engkau melihat kebaikan pada dirimu, bersyukurlah kepada Allah swt.. Jika engkau melihat keburukan pada dirimu, bertaubatlah dari keburukan itu. Dengan tafakkur, agamamu akan hidup dan syaitanmu akan mati. Oleh karena itu dikatakan,
 "Tafakkur sesaat lebih baik daripada ibadah semalam."
Wahai umat Muhammad, bersyukurlah kepada Allah swt.. Sesungguhnya Dia telah menerima amalanmu yang sedikit dibanding dengan umat terdahulu. Engkau orang yang lebih akhir, tetapi di akhirat engkau orang yang pertama. Barangsiapa di antaramu sehat, maka tidak ada yang dapat menandinginya.

Engkau adalah pemimpin, sedang umat lain adalah yang dipimpin. Selagi engkau duduk di rumah nafsu, keinginan, dan kebiasaanmu, maka engkau tidak akan sehat. Selagi engkau suka merebut apa yang ada di tangan makhluk dengan kemunafikan dan riya'mu, maka engkau tidak akan sehat. Selagi engkau cinta dunia, engkau tidak akan sehat. Selagi hatimu bersama makhluk, engkau tidak akan sehat.Ya Allah, berilah kami rezeki
berupa kesehatan dan kelayakan bersama-Mu. Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."