Thursday, June 7, 2012

Sang Kyai 8

“Nafisah..”
“si nafisah suruh duduk menghadap kiblat, dan disini aku menghadap kiblat kau mengahadapku, bayangkan saja Nafisah di antara kita, kau arahkan tanganmu keperutnya dan aku ke punggungnya, salurkan tenagamu, selanjutnya serahkan padaku, bagaimana?”
Macan mengangguk, lalu tanpa banyak cakap ia pun menelpon ibunya, dan menyarankan seperti yang ku katakan.
Sementara itu Nafisah yang di rawat di rumah sakit Aisiyah Bojonegoro, di minta duduk oleh ibunya menghadap kiblat, aku dan Macan juga duduk berhadap-hadapan, kami berdua berkonsentrasi membangkitkan kekuatan sirri yang ada di tubuh kami,
Aku rasakan kekuatanku telah bangkit dan mengalir ketelapak tanganku, juga kurasakan ada angin dingin, menghembus lembut dari arah Macan kearahku, udara serasa bergumpal-gumpal, aku membayangkan tubuh nafisah ada di depanku.
Memang kekuatan anugrah Alloh yang tak terlihat ini begitu dasyad, aku pernah mencoba pada temanku Tarsan, saat itu pemuda yang jago manjat kelapa itu di depanku, kami sedang membicarakan tenaga yang ada di pusar, tapi pemuda itu tak percaya akan ada tenaga sehebat itu, lalu aku menyalurkan tenaga ke tangan dan mengaduk isi perutnya, padahal jaraknya denganku tiga meter, Tarsan muntahkan semua isi perutnya, lalu aku coba menulis namanya di udara dengan jariku, dan kupukul dengan tanganku, walau tanpa menyentuhnya dan Tarsan terpental.
Aku memejamkan mata dan membayangkan tanganku mengambil penyakit usus buntu yang ada di perut Nafisah, sementara gadis itu yang tengah duduk, merasakan hawa dingin merasuk dari depan dan hawa panas merasuk dari belakang, lalu dia merasakan seperti ada ribuan semut memasuki tubuhnya, dan seperti mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya.
Nafisah merasakan seluruh tubuhnya seperti kesemutan,
Aku dan Macan masih duduk, menyalurkan tenaga,
“turunkan pelan-pelan can, tenaganya jangan di sentak…” kataku memberi aba-aba.
Dan selesailah proses pengobatan kami.
aku mengusap peluh di kening dan jidatku, begitu juga Macan.
Ku sruput kopi yang penghabisan dan menyalakan rokok.
“selanjutnya bagaimana ian?” tanya Macan.
“ya nanti telpon lagi, minta di ronsen ulang, moga-moga aja pengobatan kita berhasil, sekarang aku tak pamit dulu…” kataku.
Macan mengantarku dengan motornya, sampai ke terminal kampung rambutan.
Aku berangkat, memilih Bus yang langsung menuju Labuhan. Aku mendapatkan tempat duduk, dan tidur setelah bus berangkat.
Kondektur membangunkanku, meminta uang tiket. Ah aku kaget, pias, setelah ingat uangku yang tiga ratus sudah ku berikan Macan semua.
Ah sial aku, sementara kondektur itu menungguku, aku bingung, dah merogoh-rogoh saku, dan serr..!,
Di sakuku ada uang tigaratus ribu, ah pastilah Macan yang memasukkan tanpa ku ketahui,
Ah sudahlah yang penting aku punya uang tuk membayar bus, ku berikan uang seratus ribu kepada kondektur, dan setelah di berikan kembalian, aku tidur lagi sampai bus nyampai di pertigaan Pandeglang, aku turun, ojek datang mengerubutiku, aku melihat mang Sofyan, yang rumahnya, di kampung dekat pesantren,
“ojek mang..?”
Kataku ke arah mang Sofyan.
“ke rumah kyai ya jang..?.” tanyanya.
“iya mang., berapa?” tanyaku.
“lima belas ribu jang…”
“byuuh gak salah mang? Ini kan ojek bukan taksi…”
“sekarang ini BBM dah naik jang, penumpang jarang.., jadi ya kenaikan berlipat, mau gak jang…”
Terpaksa aku menyetujui. Daripada ribet urusannya, padahal jarak antara pertigaan tugu dengan lereng gunung putri ini tak terlalu jauh, paling juga tiga kiloan, sebenarnya kalau jalan kaki lewat jalan kampung malah lebih cepat, tapi sudahlah.
Motor ojek mang Sofyan segera mengantarku, motor itu menggerung-nggerung, karena jalan aspal yang sudah rusak di sana -sini itu, lubang-lubangnya penuh dengan air bekas hujan semalam.
Jalan yang ku lewati ini sebenarnya telah di perbaiki berkali-kali, tapi uang untuk perbaikan jalan kebanyakan di sunat sini, maka imbasnya jalanan hanya di perbaiki seadanya, jadi ya begini, baru beberapa hari kelihatan halus, jalanpun akan rusak lagi.
Akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang Sofyan berlalu, hpku bunyi, segera ku angkat, suara Macan dengan nada bahagia.
“Ian syukur, adikku tak jadi di operasi, dah sembuh, dan sudah di ijinkan pulang, makasih ya ian…”
“Wah jangan berterimakasih padaku, kita kan cuma berusaha, kesembuhan ada di tangan Allah jua. Bersyukurlah pada-Nya.”
“iya…iya…wah ceramah terus..”
“eeh uangku, kamu masukkan sakuku, tanpa setahuku ya can?” tanyaku ketika ingat uangku ada di saku.
“ah enggak, ini masih ku pegang, iya…iya .,nanti aku kembalikan, sekarang ku pinjam dulu.. Jangan kuatir..” nadanya serius, setahuku Macan orangnya tak suka main-main, kalau bilang a ya a kalau bilang b ya b.
Lalu kenapa ada uang di sakuku..
Para santri segera menyambutku, dan bersalaman mesra, mereka-mereka seperti saudara-saudara kandungku.
“mas ian udah di tunggu kyai” kata Mujahidi,. Bibirnya masih seperti dulu, di kelotoki karena sariawan, sehingga kelihatan jontor sana-sini, wajahnya juga makin banyak lubangnya bekas jerawat batu di penceti, malah lebih kelihatan seperti kayu di makan rayap, yah biarlah itu kesenangannya sendiri.
Aku segera berlalu, kulihat kyai berdiri di bawah pohon melinjo, aku segera menghampiri, dan bersalaman mengecup tangannya dengan takzim.
“bagaimana, Macan tak mau?,” tanya kyai. Sambil mengajakku duduk di kayu pohon sengon yang telah mengering, dan telah tumbuh jamur di sana-sini, jamur kecil-kecil berwarna kuning kemerahan.
“dia tak mau kyai….”
“ya sudah kalau tak mau, nanti kamu menjalani sendiri, kamu sanggup, menjalani laku gila?”
“sanggup kyai..” jawabku mantap, “sekarang pun kalau kyai memintaku berangkat, aku akan berangkat kyai…”
“tak usah buru-buru, mungkin sebulan lagi…, nanti setelah sholat ashar, kamu aku baiat, dan nanti malam mulai melatih ilmu rogo sukmo…”
“bagaimana aku melatih ilmu itu kyai?, sedang aku tak punya…” tanyaku meragu.
“ilmu itu telah ada dalam dirimu, hanya kau tak tau, nanti kalau ingin melepas sukma baca ini…” kyai membisiki telingaku.
“wah cuma dua lafat itu kyai..” tanyaku heran.
“iya cuma itu, dan bayangkan tempat yang akan kau tuju…” kata kyai.
“apakah ada pantangannya kyai?”
“tidak, tidak ada pantangan, tapi hati-hatilah, karena bila merogo sukmo, kau akan melihat aneka macam mahluq Alloh, dan kalau bertemu jin fasik, pasti akan berantem, kalau kau merasa tak mampu lebih baik menghindar, dan jika kau butuh sesuatu di alam sukma, bayangkan saja dengan hayalmu…”
“terima kasih kyai, saya mau istirahat dulu…” setelah berpamitan aku pun menuju, ruang pembuangan jin, yang luas. Untuk tidur siang sebentar, dan aku agak masuk angin, maka aku akan meminta pijit pada jin.
Pintu gerbang besi bercat hijau kubuka, suara menderit khas besi yang tak pakai oli terdengar. Dan udara dingin menusuk kontan kurasakan, nyeess! Lebih dingin dari AC karena udara dalam rumah pembuangan jin ini tak berjalan.
Rumah ini walau tak pernah di masuki orang, tapi tampak bersih keramiknya. Cat temboknya banyak yang mengelupas, dulu cat ini aku juga yang mengecatkan, dengan motif whoss, yaitu kain di sobek-sobek seperti kain pita, setelah segenggaman tangan lalu di ikat, nah ujung kain itulah yang di buat menjadi motif, di celupkan ke cat dan di kecrok-kecrokkan ke tembok. Untuk hasil yang sempurna, cat tembok putih di campur cat pigmen sebagai pewarna. Dan binder sebagai pengikat, maka setelah kering warna akan menyatu, jadi orang melihat seperti kertas wallpaper yang di tempelkan.
Warna tembok ku motif warna bunga lavender, dan di tembok laen ku motif bunga tulip.
Aku segera mencari tempat untuk tiduran, aku dekati tiang besar, ku cium bau wangi menusuk, aku tak jadi, karena mengira pastilah jin wanita, nanti bisa-bisa tak tidur, malah main cinta.
Aku memilih di ruang sebelah, ruang ini luasnya delapan kali lima meter, cukup luas, aku menggeletak di pinggir tembok. Ku eratkan jaketku, untuk mengurangi hawa dingin. Jam tangan ku lihat pukul sebelas siang.
Ku rasakan ada jin yang mendekatiku, dari arah kananku, karena pipiku menebal, ku ucapkan salam dalam hati, dan kukatakan aku ingin di pijat, walau aku belum bisa melihat mereka karena rendahnya ilmuku, tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka.
Kurasakan tanganku ada yang memegang dan memijid-mijid, juga kepalaku, lalu kakiku juga ada yang memijid, rupanya dua jin yang memijidiku, aku mulai keenakan dan mengantuk, sebelum tidur aku minta di bangunkan jam dua, akupun tertidur.
Aku terbangun, ketika kurasakan ada yang menggelitik kakiku, kubuka mata dan kulihat jam menunjukkan jam dua lebih satu menit.
Aku pun bangun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu beranjak pergi.
Mengambil sabun yang biasa kuselipkan di bawah para-para, kemudian pergi ke sungai,
“gak makan dulu mas? Nasinya ada di dapur…” kata Jauhari dan Kholil, ketika berpapasan denganku.
“ah nanti aja.., ” aku segera berjalan di jalan berbatu yang menuju sungai, dan melompat ke pematang sawah, setelah melewati dua kotak sawah aku pun sudah sampai di tempat anak-anak pada mandi, masih ada tarsan dan majid masih sibuk mandi, aku pun bepgegas mandi, setelah mengganti sarung dengan celana pendek khusus mandi, aku pun mencebur,
“awas mas, banyak lintah…!” suara Tarzan memperingatkan, tapi terlambat, karena ada kurasakan sesuatu menempel di dekat mata kakiku, aku segera keluar dari air dan naik keatas batu bundar pipih, sebesar kerbau yang di tempati Tarzan mencuci.
“wah ketampel lintah nih…” kataku melihat binatang hitam ada garis coklat, yang tak lain lintah .
“biar mas tak ambilnya mas…” kata Tarzan
Kemudian tanpa jijik, membetot lintah dari kakiku.
“untuk apa zan?”
“biasa mas, untuk memperbesar…”
“jangan terlalu besar, nanti tak ada wanita yang mau menikah denganmu lo…”
Setelah mandi aku cepat-cepat kembali ke kamar, dan sholat dhuhur, melakukan dzikir setelah sholat, dan pergi kedapur, ternyata teman-teman masak urap, yaitu sambal kelapa, karena paling mudah, kelapa tinggal manjat, lalapan daun pepaya dan daun kopi muda, sedap juga.
Setelah makan terdengar adzan sayup-sayup sampai dari masjid yang teramat jauh. Aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat ashar, setelah dzikir aku pun menghadap kyai, untuk di baiat. Teman-temanku semuanya telah berkumpul.
Aku pun di minta duduk menghadap kyai, tangan di jabat dan menerima ijab, dan kobul, seperti dalam pernikahan. Cuma isinya bukan tentang nikah, tapi siap sedianya diri menjalankan syariat Islam secara kaffah, dan bersedia, menjauhkan diri dari segala macam perbuatan dosa.
Baiat pun selesai, dan kami mendengarkan petuah-petuah kyai, dari bagaimana baiat di lakukan oleh Rosululloh, dan di jelaskan untung ruginya.
Hari makin sore, para santri melakukan tugasnya masing-masing, aku memilih memasak.
Menggoreng jengkol dan membuat sambel tomat, wah sedap sekali.
Malam itu setelah isyak aku di suruh kyai latihan ilmu rogo sukmo dalam kamar.
Pintu kamar ku kunci, deg-degan juga aku, karena aku belum tau akan bagaimana nantinya. Ku duduk membaca Alfatehah tiga kali, Annas tiga kali, Alfalaq tiga kali, ayat kursi tiga kali, lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh.
Kemudian aku tiduran, memejamkan mata dan membaca doa yang tadi siang di ajarkan kyai, tak lupa membaca basmalah tiga kali tanpa napas.
Leess!! Aku seperti begitu saja tertidur, tau-tau aku telah di atas tubuhku sendiri. Melayang di udara, sementara jasad kasarku tergeletak dalam kamar.
Aku segera keluar kamar menembus dinding, bersalto di udara, terbang kesana kemari, hinggap di pucuk pohon kelapa, lalu terbang lagi, sungguh terasa bebas dan nyaman, aku menghampiri majlis dzikir, masih melayang-layang, kulihat semua santri selain diriku tengah konsentrasi dengan wirid masing-masing, sementara kulihat kyai juga tengah duduk memangku bantal tidur, dan tangan kanannya tak henti memutar tasbih, kyai menatapku dan tersenyum, lalu mengangguk,
Itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku, akupun melesat pergi, membumbung tinggi ke angkasa yang gelap, dan hanya di terangi oleh beberapa bintang yang nampak.
Sebenarnya tujuanku adalah desaku sendiri di kawasan kabupaten Tuban, karena aku selama ini teramat heran, dengan sebuah sekolah madrasah, yang angker sekali, aku ingin menyelidiki ada apa sebenarnya di sekolah itu.
Madrasah itu awalnya di sebelah rumahku, tapi karena di sebelah rumahku terkena rencana perluasan masjid, maka madrasah itu di pindah ke lahan kosong, untuk membangun madrasah itu tentulah di butuhkan tanah urukan untuk menyamaratakan tanah, dan tanah untuk batur itu di ambil dari tanah sekitar, maka terciptalah parit, hampir mengitari madrasah, kalau kemarau parit itu sama sekali tak ada airnya, sampai tanah dasar parit retak-retak, tapi kalau musim hujan datang, parit itu penuh air, dan anehnya, akan banyak ikan muncul di parit itu, dari ikan sepat, mujaer, lele, bandeng. Dan ikan-ikan yang lain, anehnya kalau ikan itu di ambil dan di makan, maka orang yang memakan akan keracunan.
Madrasah itu jauh dari rumah penduduk, rumah paling dekat adalah tujupuluh meteran, sehingga madrarah tak diberi penerangan listrik mengingat kalau malam madrasah tak di gunakan kegiatan apa-apa, tapi memang ada lampu bohlam dan dulu sudah terlanjur di pasang, tapi belum sempat di beri saluran kabel listrik, tapi sungguh aneh walau tanpa saluran kabel, kalau malam lampu di madrasah itu sering menyala sendiri.
Keluarga yang tinggal paling dekat dengan madrasah itu adalah keluarga pak Makrum, yaitu istrinya bu Rah, anak perempuannya usia sebelas tahun, dan kedua anak laki-laki, yang satu berusia sembilan tahun, yang satu berusia dua tahun, keluarga pak Makrum adalah pindahan dari desa lain.
Tapi tak sampai setahun tinggal di situ, semua keluarganya meninggal satu persatu, dari si balita meninggal, di susul kakaknya, kakaknya lagi, kemudian istri pak makrum, dan terakhir pak makrum sendiri meninggal, selang satu bulan, anehnya tanpa di dahului sakit sama sekali. Yang selamat adalah anak pak Makrum yang telah menikah dan di bawa hidup di daerah suaminya.
Sekitar limapuluh meter di depan madrasah ada sebuah sumur pompa, di buat oleh santri, dan saat kemarau panjang, di sumur pompa ini tak perduli siang maupun malam sumur ini selalu di datangi orang untuk mengambil air, mengingat sumur lain kering, tapi sumur di depan madrasah ini tak pernah kering.
Dan pasti di musim kemarau, akan ada cerita-cerita aneh, dari orang yang tunggang langgang saat mengambil air di malam hari, lalu melihat hantu, macem-macem ceritanya, ada yang melihat orang yang tinggi tiga meter, ada yang melihat pocong, ada yang melihat orang menggantung di pohon.
Sukmaku melesat cepat, angin menggemuruh di telingaku, dan kibasan angin sampai melepas ikatan rambutku, sampai rambutku berkibaran. Kulihat kebawah, kerlip lampu beraneka warna, dan gedung-gedung menjulang, pasti ini Jakarta, pikirku, karena kulihat dari angkasa, di sana-sini, lampu-lampu mobil berkelak-kelok, berderet-deret seperti sisik naga raksasa.
Baru beberapa menit terbang aku telah sampai di jakarta. Ku membumbung tinggi, kadang menukik ke bawah. Ah betapa enaknya terbang, aku jadi ketagihan kulihat dari atas kerata api berjalan, aku menukik turun, dan terbang di samping kereta api, kulihat penumpang di dalamnya, lalu aku terbang diatas kereta dan hinggap di atasnya. Tapi segera terbang lagi, mendahului kereta api, dan lebih cepat sehingga rumah, pohon, jalan, desa, berkelebat cepat, hanya nampak bayangan berkeledepan.
Sekejap saja aku telah sampai di sekolah madrasah yang ku tuju. Sebentar aku berdiri di udara depan madrasah.
Perlahan aku masuk, keadaan sangat sepi. Aku kitari ruangan demi ruangan.
Ini mungkin jam sepuluh atau jam sebelas, karena aku tak bawa jam, jadi kurang tau waktu.
Kulihat dua orang pemuda, kira-kira umur tigapuluhan, dua pemuda ini wajahnya kembar, kalau ku rasanya bukan dari golongan jin, tapi dari golongan arwah penasaran, wajahnya cukup ganteng cuma pucat seputih kapas, di kedua lingkar mata mereka ada lingkar hitam.
Aku turun ke tanah, dan berjalan menghampiri mereka berdua.
“siapa kalian??” tanyaku
“hei kau bisa melihat kami?.” jawab mereka hampir serempak.
“kenapa tak bisa?”
“berarti kau juga arwah penasaran seperti kami?..”tanya mereka balik.
Dan prasangkaku tak salah. Bahwa mereka arwah penasaran.
“oo jadi kalian yang selama ini membuat isu hantu, menakut-nakuti warga sini..?”
“kami hanya butuh tempat, dan tak mau di ganggu, jadi kami takut-takuti warga…”
“apakah kalian juga yang menewaskan seluruh keluarga pak Makrum?”. Tanyaku.
“ah, apalah artinya hidup buat mereka…malah susah aja, miskin, dan kalau mati setidaknya membantu kami, agar orang takut tinggal di daerah ini..” kata salah satu arwah itu.
“kalian keji sekali, melihat kalian jadi arwah penasaran, tentu kalian hidup selalu berbuat jahat, tapi setelah matipun masih melakukan kejahatan…”
Aku jadi ingat kejadian waktu aku kecil teman sekolahku meninggal dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar ketika pulang dari sekolah.
“apakah kalian juga yang membunuh Muflida, gadis kecil yang berumur sepuluh tahun.?” tanyaku penasaran.
“heh gadis itu, aku yang mencekiknya…, karena dia melihatku…” kata salah satu arwah, dengan senyum mengejek.
“apakah kalian juga yang membuat anak bernama Saeri, yang tulang kering kakinya patah, dan sekarang jadi anak pincang?”
“aku yang memukul kakinya dengan kayu…hahaha..” kata arwah satunya.
“sekarang juga kalian harus hengkang dari sini, minggat sejauh-jauhnya ….!”
“e,e,e kau ini siapa? Berani melarang kami tinggal di sini, kami di sini sebelum kau lahir,”
“baiklah aku akan memaksa kalian,” kataku melompat menerjang.
Aku ingat kata kyai kalau di alam gaib supaya membayangkan yang kita inginkan, maka aku membayangkan tanganku membara, mengelurkan panas yang berlipat-lipat, lalu dengan tangan itu aku memukul mereka, mereka berdua kaget dan meloncat mundur, tapi tubuhku yang enteng bisa melayang segera memburu, dan satu pukulan mengenai salah satu dada arwah itu… Dia menjerit di seret kawannya mundur, karena dadanya telah berlubang, segenggaman tangan, dan mengeluarkan bau sangit terbakar.
Asap tipis mengepul dari luka yang terbakar itu, dan arwah itu mengaduh-aduh, sementara temannya segera memanggulnya.
“tunggu besok disini kalau berani, guru kami akan menghajarmu…” katanya sambil melesat pergi , melompati jendela madrasah yang tinggi.
Aku tak mengejar, aku juga melesat pergi, pulang kerumahku dan mau melihat jam dinding, ah ternyata baru jam dua belas kurang seperempat.
Aku keluar lagi melayang keatas masjid, turun di ujung mustaka, berdiri melihat sekitar, depan masjid adalah jalan raya, dan tempat angker lagi adalah dekat jembatan, dimana waktu pembangunannya dulu, mengakibatkan banyak korban, entah korban jatuh dari menara bok, atau tertumbuk palu paku bumi.
Aku melesat ke arah jembatan yang berjarak dua ratus meter dari masjid, dan hanya tiga detik aku telah berdiri di atas jembatan, suasana sepi, tapi pandangan mataku menangkap sosok baju putih melayang malah di jauh sekali di pertigaan jurusan makam, tanpa pikir panjang aku melesat mengejar sampai di pertigaan aku turun dan clingak-clinguk, aku ingat di pertigaan ini sering terjadi kecelakaan, ada anak taman kanak-kanak yang di hantam mobil dan seketika meninggal di tempat.
Juga ada seorang petani yang mau pergi kesawah di tabrak mobil dan terseret lima meter, walau tak sampai mati.
Keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya, tiba-tiba ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sendalnya, lalu beranjak ke gerobak baksonya.
“iiih mrinding…ada apa ini..?” keluhnya.
Dan wakman mendorong gerobak baksonya berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso,
“hei siapa kau…!?” bentakku.
Perempuan itu kaget dan melayang pergi. Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma. Aku pun segera mengejar, ah pasti ini kuntilanak… Dia melesat kearah rumah salah seorang pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan mudah menyusul, dan menghadangnya.
“huu….huuu..jangan tangkap aku…huu” dia menangis.
“aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku hanya ingin tau kau ini siapa?” tanyaku dengan lembut.
Dia menghentikan tangisnya, memandangku, aku di pandangnya begidik juga, perempuan ini sungguh menyeramkan sekali, jika aku bukan sukma mungkin aku telah lari pontang-panting.
Rambut perempuan ini awut-awutan, dan di sana-sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara, wajahnya putih, tanpa darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada ulat-ulat yang keluar dari pipi…putih, kecil-kecil menggeliat..
“kau ini siapa nyai?” tanyaku lagi.
“aku ini istri kamituwo gerot.” katanya tanpa menggerakkan giginya, sehingga suaranya seperti suara yang teramat jauh, tapi jelas di telingaku.
Aku mengingat-ingat nama kamituwo gerot, ingatanku pun tertuju pada sumur gerot, yaitu sumur yang di bangun sesepuh desa dulu, ada enam sumur penjuru desa, yang dibuat oleh pendiri desaku. Enam sumur juga di sebut sumur gede. Karena memang sumbernya teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk yang kekeringan,
Dulu sumur-sumur itu selalu di adakan ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk mengucap terimakasih pada danyang penunggu desa, tapi setelah di sadarkan oleh kyai fatah dan kyai sidik maka acara-acara itu pun di hilangkan.
Kamituwo gerot, aku berpikir.
Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan,
“sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?…”
“aku dari kampung Degan…” suaranya masih tetap terdengar dalam.
“kok sampean klambrangan gak karu-karuan begini nyi? Boleh aku tau sebabnya?”
Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu…ah perempuan..jadi hantu masih, juga cengeng.
Aneh begitu saja kisah perempuan di depanku ini, terpampang runtut seperti melihat filem layar lebar, namanya juga alam gaib, jadi serba gaib, nyleneh dan tak masuk akal.
Perempuan ini bernama Sunti. Seorang ledek dari daerah Tambak boyo, untuk mendapatkan penglaris maka dia mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang yang menyarankannya ketempat kamituwo gerot, maka pergilah Sunti ketempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur delapan belas tahun dan kamituwo umur empatpuluh lima tahun.
Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya minta cerai, karena tak tahan dengan kesenangan suaminya yang suka main perempuan.
Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih perawan, yang sudah punya suamipun bisa di buat meninggalkan suaminya.
Melihat Sunti yang cantik, menik menik, tentu saja kigerot langsung jatuh hati, maka ketika tau gadis itu meminta susuk pengasihan, maka ki gerot pun memberikan susuk yang terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat.
(maaf, sebenarnya ini tak pantas di ceritakan, tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak mendatangi aneka macam dukun dan paranormal.)
Pelet yang di pakai ki gerot adalah kulit kemaluan wanita perawan yang meninggal di rebu wage,
Jika ada perempuan meninggal di saat itu maka kigerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti kemaluannya mayat, setelah itu, kemaluan tadi di keringkan, dan bila di butuhkan akan di cuil sedikit dan di campurkan dalam minuman, dengan mantra-mantra.
Malang nasib Sunti, dia meminum teh yang telah di campur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk kepayang pada kigerot, dia seperti telah minum bergalon arak cinta,
Maka ketika ki gerot menuntunnya kekamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa menolaknya.
Begitu juga ketika Sunti telah pulang kerumahnya dan kigerot melamarnya, maka Sunti pun ho-oh aja.
Setelah menjadi istri kigerot, Sunti masih menjadi penari ledek, karena di dukung oleh susuk ki gerot yang ampuh, Sunti pun menjadi ledek yang laris dengan bayaran tinggi, dan uangnya semua masik ke kantong ki gerot, membuatnya jadi orang terkaya di kampung Degan.
Tapi sesuatu yang di lakukan di luar sunatulloh atau aturan hidup yang di atur oleh Sang Pencipta, maka adalah kerusakan.
Alloh taala melarang sesuatu, bukan untuk kepentingannya, tapi untuk kehidupan tentram manusia, sebab sesuatu di larang itu karena bahayanya lebih besar dari manfaatnya.
Seperti memasang susuk, karena Alloh melarangnya, maka itu adalah perbuatan yang membahayakan diri, dunia dan akhirat.
Di samping tidak bersyukur atas anugrah Alloh, juga terlalu tak menerima kodrat yang telah Alloh berikan.
Satu ketika, seperti biasa, Sunti di tambah lagi susuk intan di dagunya oleh kigerot.
Awalnya tak apa-apa, tapi selang tiga hari dagu Sunti membiru, dan Sunti kejang-kejang.
Ki gerot pontang-panting, membawa Sunti kerumah sakit, tapi pihak rumah sakit tak tau penyakitnya..
Sementara Sunti sudah berulang kali tak sadar, dan akhirnya Sunti meninggal dengan wajah lebam membiru.
Hari itu juga Sunti di kuburkan, dengan sederhana.
Namun esoknya semua orang kampung Degan, geger karena melihat makam Sunti kosong. Dan mayatnya hilang tak tau kenapa.
Awalnya yang tau adalah penggembala kambing yang biasa menggembala di area pemakaman.
Ketika dia tau bahwa kubur Sunti di bongkar orang.
Sebenarnya apakah yang terjadi? Malam itu setelah siang tadi Sunti di kuburkan, kira-kira jam satu dinihari, nampak pekuburan Sunti bergerak-gerak, asap tipis bau daging terbakar menyeruak, tiba-tiba bleg..! Terdengar ledakan seperti petasan dalam tanah, dan terlemparlah tubuh Sunti, seperti gedebok pisang tapi langsung melayang pergi.
Sementara itu ketika jam menunjukkan jam tiga seperempat, seorang perempuan tua tergopoh-gopoh, berjalan melintasi jalan raya dekat pemakaman, orang biasa memanggilnya nyiyam, seorang dukun beranak yang mendapat panggilan di desa karanglor, dia harus melewati pekuburan Degan, ada rasa merinding di tengkuk nyiyam.
Perempuan umur enampuluh tahunan itu menguatkan hati, memang dia rasa malam ini terasa sunyi, suara jengkrik aja tak ada, atau suara katak setidaknya untuk menghiburnya.
Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di ataspun yang tinggal seujung kuku seperti di selimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya.
Soal di goda hantu, perempuan tua ini pengalamannya sudah tak terhitung lagi, dari di tiup obornya terus, di lempar kekali, bahkan pernah di temukan warga di tengah-tengah pohon bambu, sehingga warga harus mengeluarkanmya dengan menebangi pohon bambu.
Keadaan teramat sunyi, hanya sandal jepit tipis, yang sebagian sudah berlubang karena gesekan, terdengar srek-srek, seakan paling berisik sendiri, ah entah telah berapa tahun sandal ini menemani tugasnya. Melintasi malam, mengukur keihlasannya menolong perempuan yang akan melahirkan, yang kadang hanya di upah setandan pisang, atau cuma ucapan terimakasih saja.
Nyinyam mengetatkan selendangnya, ketika dia rasakan bulu kuduknya makin meremang, ah makam juga sudah terlewati, dan di depan adalah pos kampling, apa yang di takutkan, mungkin masih ada yang jaga…, tapi kenapa seluruh bulu di tubuhnya berdiri semua, nyiyam mempercepat langkahnya, apalagi di pos kamling jarak sepuluh meter dia melihat bayangan orang dari mata rabunnya. Bajunya putih dan sarungnya putih.
Nyiyam telah memutuskan, dia tak akan menyapa pada petugas ronda, dan kalau dia di sapa akan menjawab, dan kalau tak di sapa maka akan berlalu saja, tapi kenapa dia merasakan makin merinding saja.
Tepat di depan bayangan yang ada di pos,
“mau kemana nyi…?” suara perempuan, serrr…! semua bulu kuduknya berdiri tegak semua, kepalanya sampai terasa keribo, bukan suara perempuan yang membuatnya merinding, walau itu juga iya, tapi yang lebih membuatnya merinding adalah suara itu seperti suara dari alam lain, bukan alam ini, tapi alam kegelapan.
“ss….ssa…s..siapa.,k..kau..?” nyiyam merasakan lidahnya seperti selembar triplex yang di emutnya, kaku tak bisa di gerakkan untuk mengeluarkan ucapan.
Perempuan di depannya ini menunduk, rambutnya gimbal, dan masih ada tanah menempel. Sebagian rambut menutupi wajahnya hingga tak terlihat.
“hii…hik…hihihh….” terdengar suara tertawa yang teramat aneh, yang membuat kaki nyiyam gemetar. Bahkan kencing pun merembes dari jaritnya ketika bau bangkai menyengat terbawa angin, bau bangkai orang mati.
Walau bagaimana nenek tua ini masih berusaha tabah, untung ia ingat Alloh, setidaknya mengurangi, ketakutannya.
“kau ini siapa nduk?, kembalilah ke tempatmu nduk…?” kata nyiyam yang mulai kuat menahan batinnya.
“aku Sunti nyai…, aku tak di terima nyai…tolooong aku nyai…huhuu” suara perempuan itu mengguguk.
“aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ini orang bodo…” kata nyiyam kemudian dalam hati membaca ayat kursi berulang-ulang.
“aduh nyai panas…panas… Aduuuuuh kau apakan aku nyai..?” perempuan itu menjerit dan tubuhnya seketika melayang keatas, dan melayang pergi sambil ketawa hahahihi.
Sejak malam itu, rumah ki gerot pun di ganggu dan di teror Sunti yang krambyangan, sampai karena sudah tak kuat, dukun yang anti ngaji itupun mengundang orang-orang untuk mengaji di rumahnya, sampai gangguan dari Sunti tiada lagi.
“Maukah kau ku sempurnakan?” tanyaku pada sunti.
“hihi….bocah bau kencur …mau melawanku, hiiihii….!”
Aku tanpa kata lagi jariku kuputar, seakan melingkarinya lalu kutulis bak di tengah, seketika.
“hai apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya, karena tubuhnya terkurung.
Lalu kubaca basmalah tiga kali, tahan nafas, kullu saiin halikun illa wajhah. AllahuAllahu. Allahu akbar!!, tangan yang telah tersaluri tenaga dari pusarku ku hantamkan berbareng, dengan tapak tangan terbuka kearah Sunti, dan hlukgh!!, terdengar ledakan kecil, dan sebuah asap mengepul, bersatu tersedok ke satu titik lalu lenyap.
Mungkin sudah jam tiga pagi, aku segera melesat, diatas desaku, melesat kucepatkan, aku ingin mencoba paling cepat les.. Kurasakan aku telah ada dalam tubuhku sendiri. Dan kulihat jam tanganku, jam tiga seperempat.
Aku menata bantal dan tidur, ah pengalaman rogo sukmo pertamaku. Lumayan mengesankan.

Karya : Febrian