Thursday, June 7, 2012

Sang Kyai 7

Aku segera mencari arah tulisan yang menunjukkan Musholla. Dan melakukan sholat jamak dan koshor. Selesai sholat, setidaknya hati tentram. Aku mengagumi mushola dan rumah makan ini begitu besar sekali. Tiba-tiba seseorang lelaki setengah baya menghampiriku, dan mengucap salam kepadaku, dan ku jawab salamnya.
“Mas ian kan?” tanyanya kepadaku, aku jelas kaget karena tak pernah merasa kenal dengan orang ini. Apa ini penggemarku lagi? Betapa susahnya kalau jadi orang terkenal macam artis. Kemana-mana tentu tak bebas. Aku mengiyakan.
“ah sudah saya kira…” wajah lelaki itu sumringah, kemudian menyalamiku.
“Bapak siapa?” tanyaku masih tak mengenali.
“Aku pak Dadang, yang sering ketempat kyai, mungkin mas ian tak mengenaliku, tamunya kyai kan banyak.” kata pak Dadang memperkenalkan diri. Lalu pak Dadang memanggil pelayan dan membisinya. Dan pelayan itu segera cepat berlalu, sebelumnya membungkuk, rupanya pak Dadang di kenal dan di hormati.
“Mari kerumah mas.” kata pak Dadang yang membuatku heran.
“Tapi saya ikut bus malem pak, apa rumah bapak ini dekat sini?” tanyaku, takut di tinggal bus.
“Itu rumah bapak di belakang, kelihatan dari sini, mas Ian singgah aja di sini, barang tiga empat hari, lagian kyai juga tiga hari lagi mau kesini, jadi nanti ke Bantennya bisa bareng.”
“o. kyai mau kesini?” pak Dadang manggut.
“ya kalau begitu saya ngambil tas saya yang masih di bus, sekalian bilang kalau saya tak ikut melanjutkan perjalanan.”
“ya sebaiknya begitu.” maka aku pun menuju bus yang di parkir mengambil tas dan bicara pada supir kalau turun di sini saja.
Aku segera menemui pak Dadang yang masih berdiri di depan Mushola. Dan dia mengajakku kerumahnya, rumah besar mewah yang di domisili marmer dan kayu jati dipadukan sedemikian artistik.
“mas ian tidur di kamar ini aja.” suara pak Dadang mengagetkanku. Karena aku sibuk menikmati arsitektur rumah yang dibuat demikian sederhana namun elegan, dengan lemari bifet tinggi menyentuh plafon. Dan lantai dari marmer yang mengkilap.
Aku segera masuk kamar di dahului pak Dadang. Setelah menyuruhku mandi dulu, pak Dadang pun pergi. Aku segera mencopot baju untuk mandi, kamar ini luas, kurang lebih empat meter persegi, dua ranjang besar dalam kamar, dengan selimut yang tebal, salah satu dinding kamar tertutup lemari bifet yang besar, ada tivi dua puluh sembilan inc. Juga Dvd player Aiwa, A.C yang selalu menyala. Sehingga udara terasa dingin, aku segera memasuki kamar mandi yang ada dalam kamar, bak mandi untuk berendam telah penuh, dan di sampingnya terdapat minuman segar entah apa namanya, aku terlalu ndeso untuk menjelaskan semuanya. Tubuhku pun ku rendam air yang terasa hangat. Dan mencicipi minuman, kujilat-jilat dulu, takutnya memabukkan.
Setelah mandi dan tubuh terasa segar, aku segera ganti pakaian, pintu kamar di ketuk, lengkap memakai pakaian ku buka pintu, seorang pemuda berpakaian seragam biru muda dengan krah baju warna kuning.
“ini mas silahkan makan, sudah di siapkan..” katanya sambil membungkuk, aku hanya manggut dan keluar kamar, wah di depan kamarku di depan tivi di atas tikar yang terbentang, beraneka masakan telah terjajar rapi.
“silahkan mas di nikmati, saya tinggal dulu…” katanya sambil segera berlalu.
Aku yang di tinggal tingak-tinguk, melihat makanan sebanyak ini, bingung mau pilih yang mana.
Nasi di bakul, sebelahnya ada sotong goreng tepung, pepes ikan laut, pepes jamur, sambel tomat, lodeh ikan pari, soto sapi, ayam goreng kering, sotong masak hitam, pecel lele, burung dara goreng renyah, hati sapi goreng kering. Ah masih banyak lagi, aku tak tau namanya, ada juga jengkol goreng, lalapan petai, terong ungu dan segala macam daun yang aku tak tau namanya. Aku pun mulai makan, ku cicipi satu-satu, toel sana sini, sampai piringku penuh, ketika aku lagi makan, pak Dadang muncul,
“mas iyan, di kenyangkan lo makannya, jangan sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri saja…” cuma berkata itu dia pun berlalu.
Seumur-umur baru kali ini aku makan sampai seramai ini, dengan berbagai macam masakan dan aneka warna lauk, pertama aku begitu bersemangat, karena kecendrungan nafsu, semua pengen aku embat, tapi setelah kupikir-pikir, ah rasanya tetap itu-itu saja, kenikmatan semu, sebatas tenggorokan, renyah, gurih, asin, pahit, manis, kecut, kenyal, alot, pedas…ah membosankan, ku ambil teh poci dan menuang ke cangkir kecil, menyruputnya pelan-pelan. Kuambil, hati sapi goreng dan melangkah keluar, ku ambil rokok Djisamsoe filter, dan kunyalakan, aku duduk di undakan emperan depan rumah pak Dadang, malam makin larut, tapi mobil yang mengunjungi rumah makan ini makin rame saja. Khususnya bus malem dari Jakarta ke arah daerah, juga dari daerah ke arah Jakarta. Juga tak sedikit mobil-mobil pribadi.
Akhirnya ku tau rumah makan ini adalah miliknya pak Dadang, nama Nikki adalah nama pendiri pertama rumah makan di daerah subang, sekarang setelah H. Nikki meninggal, maka rumah makan diteruskan oleh anak dan saudara-saudaranya termasuk pak Dadang. Itu penjelasan dari pelayan yang melayaniku.
Setelah rokok habis dua batang, aku pun kembali ke kamar dan berangkat tidur. Menunggu kyai selama tiga hari, di rumah pak Dadang, membosankan juga, ketika kyai datang tiga hari kemudian, aku teramat bahagia, aku segera mencium tangannya, takzimku sebagai murid, seperti biasa, kyai tidur di pangkuanku, dan minta kupijit kepalanya, oh rasa cinta karena Alloh sungguh nikmatnya. Aku sangat tahu kyai sangat mencintaiku sebagaimana aku mencintainya karena Alloh. Bila kyai tiduran di pangkuanku maka sudah pasti, ia akan menanyakan tentang keadaan keluargaku, dan memperingatkan akan ada orang yang iri dengan keluargaku, akan terjadi begini begitu, dan tak lupa kyai menurunkan ilmu kepadaku.
Aku kadang terharu akan cinta kyai kepadaku yang teramat besar, sampai kyai hafal betul orang yang ada di ruang lingkup kehidupanku, walau aku tak pernah menyebutkan nama-namanya, tapi kyai hapal satu-satu. Sebegitu sayangnya kyai padaku, dimanapun aku bekerja, kyai pasti menjengukku, bahkan kadang menungguiku berhari-hari, karena tak ingin aku di dholimi oleh orang yang memakai jasaku. Pernah kyai mengatakan padaku, jika ada orang yang memusuhimu, maka akulah yang akan menjadi tameng hidupmu, maka jangan takut berdiri diatas kebenaran.
“mas ian…!” kata kyai yang tiduran di pangkuanku, sementara beberapa tamu lelaki perempuan, mengitari kami, ada sekitar sembilan orang.
“iya kyai…”
“Nanti mas iyan kembali kepondok dulu ya..! Sekalian mampir kerumah Macan…” kata kyai sambil memegang tanganku mengarahkan supaya memijit arah diatas kedua mata.
Macan adalah panggilan santri, yang seangkatanku, asalnya orang rusak, suka mabuk, teler, main perempuan, berantem, jadi raja gank, tapi kemudian ditobatkan, dan menjadi murid kyai, yang di tugaskan, untuk menyadarkan para pemabuk dan preman. Pengikutnya dari para orang-orang yang rusak di daerahnya sudah banyak, walau dalam keadaan tersembunyi.
“Ada apa kyai, kok saya harus ke tempat macan?”
“Nanti ajak dia nglakoni nggila, tapi dia tak akan mau, orang udah rusak seperti itu kok masih ada di sudut hatinya pengen di wah orang, ah macan…macan….!”
“Kalau kyai sudah tau dia tak mau ngedan, kenapa aku ke rumahnya macan kyai?…”
“Sudah nanti pokoknya kesana aja..! Masih punya uang gak?” tanya kyai, memang begitulah kyai, dimana-mana rasanya tak ada seorang kyai yang berdialog dengan murid santrinya sedetail itu, kyai tau uang di sakuku tinggal berapa, tapi dia masih bertanya,
“Masih kok kyai…”
“Ini untuk beli rokok, rokoknya gak punya kan?” kyai mengangsurkan uang duaratusan ribu, memang rokokku telah habis, aku ingat kalau di pondok, aku sama sekali tak punya uang dan rokok juga tak ada, tembakau dari uthis juga tak ada, maka kyai memanggilku, dan memberi rokok yang anehnya saat itu ku bayangkan, walau kadang aku membayangkan rokok yang aneh-aneh, misalkan roko Cigarilos. Maka kalau kyai memanggilku akan memberi rokok cerutu Cigarils. Pernah satu kali temanku menemukan bungkus rokok Djisamsoe yang dari plastik pak berwarna hitam, bukan dari kertas, dan kami membicarakan, bagaimana ya rasanya, tiba-tiba kyai memanggilku dan memberi rokok Djisamsoe dari plastik itu.
Aku segera menerima yang di berikan kyai, kenapa tak di tolak? Nah itulah unggah ungguhnya, tata kramanya, di perintah apa saja, atau di beri apa saja harus siap menerima, walau kadang tak masuk akal.
Karena beda dengan kyai biasa, sambil masih tiduran di pangkuanku, kyai pun menanyakan keperluan tamu satu persatu, dan memberikan solusi.
Setelah tamu semua telah pergi, kyai bangun dari pangkuanku.
“Apa yang di pesankan oleh Syaih Abdul qodir Al jilani….?” tanya kyai. Dan walau aku telah menyangka akan di tanya soal itu, aku kaget juga, tapi segera maklum kalau kyai tau.
“Anu kyai saya di suruh menyempurnakan ilmu, dan di minta segera baiat Toriqoh kodiriyah wanaksabandiyah.” jawabku.
“Ya kalau begitu nanti sampai di pondok aku baiat.” kata kyai menepuk pundakku. ”sekarang segera saja berangkat ke rumah macan…!”
Aku segera mencium tangan kyai, dan melangkah pergi, karena tamu-tamu yang lain telah datang kedepan kyai.
Kyai adalah pembaiat Toriqok kodiriyah wa naksabandiyah yang di serai baiat dari Abah Anom, sesepuh pesantren suryalaya, juga di serai baiat dari Abuya dari pesantren Syaih Nawawi tanahara, Serang. Walau kyai tak mondok di kedua pesantren itu.
Aku segera mengambil tasku yang masih dalam kamar, dan tak lupa pamitan kepada pak Dadang.
Aku pun menyetop bus di depan rumah makan, jam menunjukkan jam sepuluh siang, panas serasa menyengat kepalaku, untung aku memakai tutup kepala kain coklat susu, yang terbuat dari beludru, seperti kain sajadah tebal, jadi kepalaku walaupun panas agak nyaman, rambut kuikat kebelakang dan ku masukkan baju.
Setelah memilih bus akupun akhirnya mendapatkan bus yang jurusan terminal kampung rambutan.
Jam tiga siang memasuki terminal kampung rambutan. Aku segera mencari ojek di belakang terminal dan setelah tawar menawar harga aku pun di antar ke daerah Ciracas, tempat tinggal Macan.
Sebenarnya ada tiga orang murid kyai yang benar-benar seangkatanku yaitu aku sendiri, Macan, dan, Haqi.
Haqi sendiri telah menjadi guru toriqoh di jawa timur, selain membuka pengisian badan, memagar rumah, mengobati orang sakit, dia juga sering di panggil untuk mengisi orang-orang pagarnusa.
Ojek menurunkanku di depan rumahnya Macan, rumah yang sederhana, seorang perempuan cantik istrinya Macan sedang mengasuh anaknya di depan rumah.
Perempuan itu yang memang sangat mengenaliku langsung menyambutku dengan sapaan, karena dulu dia salah satu kekasihku, ah masa lalu. Dia bernama Ida raya.
“ee Iyan…sendirian?”sapanya.
“iya nih da…Macan ada?”
“ada, tapi msih tidur.., ayo masuk dulu…”
Aku segera masuk dan duduk di sofa. Sementara Ida masuk ke dalam.
Aku jadi ingat, saat itu di pesantren, aku dan Macan adalah teman yang teramat akrab, kami ini seperti tumbu dan tutup, kemana ada aku, pasti ada Macan, mandi, masak, dan tidur pun selalu bareng.
Kalau soal tidur Macan ini tak bisa pisah dariku, kami selalu tidur satu bantal, bukan apa-apa Macan sekalipun seorang jagoan tapi dia teramat penakut, takut pada hantu.
Karena dulu para santri belum punya kobong sendiri, jadi masih tidur di tempat pembuangan jin, yang luasnya duapuluh meter persegi, walau tempat itu luas dan bangunan rapi tapi karena sudah di putuskan untuk tempat membuang jin yang di tangkap, jadi angker banget.
Yah ruangan pembuangan jin ini di diami oleh beribu-ribu jin, bahkan mungkin berjuta, aku sudah biasa, bahkan kalau lagi tubuh pegel, tak jarang aku minta di pijiti, karena di huni oleh banyak sekali jin, maka siang dan malam ruangan luas ini teramat dingin, seperti dalam kulkas saja, kalau siang pun walau di luar terasa panas, tapi udara di dalam teramat dingin, bahkan kalau tidur tak pakai selimut, maka tubuh terasa tak kuat, karena dinginnya.
Malam itu Macan ndesel dengan selimut sarungnya dan masih memakai celana levis, karena memang teramat dinginnya, dia tidur denganku satu bantal, kalau kutinggal dia pasti akan ikut bangun, apalagi kemaren malam ada tamu yang pingsan karena melihat pocong, kuntilanak dan tengkorak, itu semakin membuat Macan jerih sekali.
“yan… Dah tidur belum…?” suara Macan terdengar dari balik sarungnya, karena wajahnya di tutupi sarung, takut kalau melihat hal-hal yang menyeramkan. Padahal Macan ini orangnya tinggi besar, wajahnya seram, pipi berlubang-lubang bekas jerawat batu, alisnya tebal, hidung mbengol, bibir tebal, mata mencorong merah, dan tubuh dempal berotot, kalau ngomong suaranya berat.
“Ada apa?” tanyaku yang memang belum tidur, aku terbiasa memutar tasbih sambil tiduran, melanjutkan wirid-wiridku.
“Aku ini sebenarnya mau menikah…” memang saat itu Ida belum menjadi istri Macan. Tapi sudah bekas pacarku.
“Kamu, mau nikah?..apa aku tak salah dengar can…?”
“Bener, aku tak bohong…”
“Wah kamu jelek gitu, kok laku ya…”
“Ini perjodohan orang tua, sama orang tua, jadi aku sendiri belum melihat ceweknya…”
“Wah kalau belum ngelihat ceweknya, jangan mau can..!”
“Ya kalau melihat ceweknya di foto sih udah ian, tapi menatap langsung yang belum…”
“oo gitu, kamu bawa photonya can?, kalau bawa, coba aku lihat cakep enggak.”
“Kalau ceweknya jelas cantik”
“Mana fotonya? Coba lihat?!” aku penasaran.
Masih menutup wajah dengan sarung, Macan kedesal-kedesel mengeluarkan dompet membukanya dan mengeluarkan foto, lalu menyerahkan padaku, dari balik sarungnya.
Aku menerima foto itu dan melihat, mengarahkan foto itu ke cahaya lampu listrik yang membias ke arahku.
“Bagaimana ian, cantik khan?”suara Macan dari bawah sarungnya.
“Entar dulu, aku seperti kenal dengan foto ini……, wah tak salah lagi, ini Ida rayya..!” kataku spontan.
“Lho kamu kok kenal ian?” Macan sudah membuka wajahnya dari tutup sarung.
“Benar khan …?”
“Iya emang bener itu namanya..,tapi kok kamu bisa tau namanya.?”
“Dia dulu pacarku can…”
“Pacarmu ian, wah celaka aku”
“Cilaka bagaimana?”
“Udah kamu apakan aja ian, jangan-jangan udah tak prawan…?”
“Ya tak aku apa-apakan, emangnya ku apakan?, tak prawan gimana? Emangnya aku sebejad itu?!”
“Ya siapa tau…!”
“Wah kamu tega amat can, berpikiran begitu padaku,”
“Tapi sudah kamu cium,?”
“Cuma sedikit…”
“Awas nanti kalau ternyata telah tak perawan, kita tuntaskan dengan golok…”
“Kita lihat aja nanti…”
Begitulah, akhirnya Macan menikah dengan Idaraya, dan sampai sekarang, hubungan dia dan aku melebihi dari seorang saudara sekandung.
Kulihat Macan keluar dari kamar, lalu menghampiriku, di wajahnya masih mengurat cap bantal tidur, lalu dia menyalamiku,
“Dah dari tadi ian?”
“Baru aja datang…aku dipesan kyai tuk nemuimu…”
“Kamu baru dari banten?”
“Enggak aku dari rumah, aku ketemu kyai di Subang,”
“Di pesan apa sama kyai?”
“Di suruh ngajak kamu ngedan…”
“Byuuh, giak sanggup aku, ngedan, kalau mau jadi orang gila, kamu aja sendiri, aku..kekkekekikik, apa kata anakku kalau aku menjadi orang gila, kalau kamu ngajak aku mukulin orang, ayo sekarang juga berangkat, tapi kalau ngajak aku jadi orang gila, aku angkat tangan, aku punya istri, punya anak, la kamu..?”
Aku tak kaget kalau Macan tak mau, karena kyai telah mengatakan sebelumnya.
“Yah kalau kamu tak mau ya udah….” kataku melemah.
“Terus terang ian, kalau amalan-amalan lain, aku sanggup menjalani, tapi kalau amalan ngedan, byuuh, aku tak sianggup ian, aku tak sanggup orang mengatakan wah si Macan yang hebat itu sekarang uedan, keberatan ilmu, apa tak malu aku nantinya, lagian menurutku apa gunanya ngedan itu?”
“ee kamu ini bagaimana sih can, waliyulloh syaih Abdul qodir aljailani, melakukan, kok kamu menyangsikan gimana kamu?”
“Bukan menyangsikan begitu, aku ini kan bekas orang bujad, tentu tak semengerti kamu.”
“Baiklah memang kyai sendiri tak pernah menjelaskan akan manfaatnya, tapi setelah aku membaca kitab manakibnya syaih Abdulqodir, aku dapat menarik kesimpulan, bahwa laku ngedan itu di lakukan untuk membersihkan hati.”
“Membersihkan hati yang bagaimana ian..aku ndak mudeng sama sekali.”
“Dalam hati manusia, cenderung mempunyai sifat sombong, iri, dengki, membanggakan diri, dianggap unggul, pengen di anggap gagah, di mulyakan manusia lain, dianggap kaya, dianggap berilmu dan dianggap-dianggap yang lain, ah apa untungnya di anggap tak ada kan? Juga dalam hati manusia itu selalu ada perasaan mencela orang lain, perlawanan dari sifat ingin di anggap, hati manusia juga tak ingin di cela, dan sifat-sifat itu semua mengotori hati, sehingga hati tertutup oleh cahaya ilmu Alloh Taala, maka jika manusia sadar, harus berusaha menghilangkan segala macam penutup hati itu, nah jalan yang mencakup pembersihan menyeluruh, adalah dengan cara menjadi gila..”
“Jelaskanlah lebih detail lagi ian, biar aku ngerti…” inilah yang ku suka dari Macan, biarpun dia tak mengerti ilmu agama, tapi, dia selalu bersemangat kalau di ajak ngomong masalah ilmu.
“Yah dalam diri orang gila apa sih yang perlu di sombongkan, di banggakan, diiri di dengki, dipuja, tak ada orang yang melihat orang gila, lalu bilang orang gila itu hebat, kebanyakan orang pasti di cemooh, nah saat di hina itulah, kita menempatkan hati, menguatkankannya, membuat hilang perasaan pengen di anggap Wah dan hebat, yang tiada guna sama sekali, dipuja sampai ujung tenggorokan saja, kamu lihat para pemimpin negara kita, di depan di hormati, tapi di belakang dihujad, apa enaknya hidup palsu seperti itu. Apalagi tidak di mulyakan tapi pengen di anggap mulya, bukankah itu palsu diatas palsu. Maka dalam nggila itu, kalau kita sudah mampu menghilangkan dari hati segala macam sifat, yang menurut manusia itu muliya, tapi teramat tercela itu, langkah selanjutnya, belajar memasrahkan diri pada takdir Alloh, atas tubuh kita, memasrahkan sepasrah pasrahnya.
“Kita berusaha sepasrah mungkin, pasrah atas rizqi, pasrah atas nasib, menerima apapun dari Alloh tiada menolak, kalau sudah dalam tanggungan Alloh hati akan senang, tak ada beban, tak ada susah, tak ada kekawatiran, sekalipun saat itu nyawa di cabut, karena semua adalah kehendaknya, kalau sudah begitu pikiran akan tenang, dan hati lapang, karena ilmu Alloh yang masuk ke dalam hati, tak ada penghalang lagi…ketentraman dan kedamaian haqiqi. Sesungguhnya para waliALLAH itu tiada rasa takut, dan tiada susah.”
Kataku mengakhiri pembicaraan sambil menyruput kopi dan menyalakan rokok djisamsoe filter.
“walaupun begitu aku belum berani menjalankan ian, kelihatannya berat sekali” kata Macan sambil ikut menyalakan rokok djisamsoe kretek.
Aku hanya menginap semalam di rumah Macan, malam itu aku dan dia duduk di samping rumah di bawah pohon nangka. Di mana ada meja memanjang dan dua kursi kayu panjang, suasana sangat sepi. Kami nikmati secangkir kopi dan ketela goreng.
Macan mengeluarkan hpnya,
“ian pernah gak kamu memotret hantu?” tanya Macan.
“motret hantu can, emang bisa…?”tanyaku balik heran.
“aku kemaren motret diri sendiri ian, tapi ada bayangan orang tua di belakangku, coba lihat ini..?” Macan mengangsurkan hpnya ke depanku setelah membuka galerinya.
Kulihat wajah Macan, dan memang ada bayangan orang tua, seperti asap tapi jelas.
“wah kok bisa begitu ya?” kataku ”berarti bener bisa di potret hantu itu.”
“coba ian kamu yang ilmunya lebih tinggi, kamu tarik hantu yang ada di sekitar sini, biar aku potret…” idenya.
“apa bisa…?” tanyaku ragu.
“ya namanya juga nyoba, ya belum tau…”katanya sambil tertawa.
Aku mulai mempersiapkan diri, sambil duduk di kursi tubuh ku tegakkan, kutarik nafas panjang, kusimpan di perut, wirid yang biasanya kubaca puluhan ribu, ku baca tiga kali-tiga kali tanpa napas, terasa tenaga yang di pusarku bangkit, terasa dingin, mengalir seperti ribuan semut berjalan, juga kurasakan aliran tenaga di bawah dadaku sebelah kanan terasa panas, mengalir kearah pertengahan dadaku, bertemu dengan tenaga dingin sehingga terasa ada pusaran, kusalurkan ke arah tanganku, kedua tenaga itu berpencar yang dingin kearah tangan kanan, dan yang panas kearah tangan kiri. Ku rasakan tangan kananku dingin seakan mengeluarkan uap dingin, lalu tangan kananku kuangkat, aku rasakan setiap mengarahkan kearah tertentu, ada getaran halus, seperti getaran kalau tubuh sedang merinding, atau terasa seperti jutaan semut, atau terasa tapak tangan menebal, setelah yakin, aku konsentrasikan, tapak tanganku seakan menyedot sesuatu, menahan dengan tapak kiriku.
Tiba-tiba angin keras menerpa kami dari segala penjuru, sampai baju yang ku kenakan dan yang di kenakan Macan berkibaran, dan beberapa daun nangka berguguran, hampir menimpa kami.
“ini can…kamu photo di depan, sudah berkumpul…”
Macan segera menjepretkan ngawur saja ke depanku, beberapa kali.
“sudah-sudah cukup…!” katanya karena takut dan memang aku sendiri teramat merinding,
Ku hempaskan tanganku ke depan. Kembali angin bertiup tapi kali ini seperti meninggalkan kami.
Aku mengusap keringat yang membasahi pelipisku, kemudian menyeruput kopi yang tinggal sedikit, karena tenggorokanku terasa kering.
Ku ambil sebatang djisamsu filter dan menyalakan.
“gimana can berhasil,?”tanyaku yang melihat dia memutar-mutar galeri.
“wah menakjubkan sekali, tak akan percaya kalau tidak mengalami sendiri.” dia menunjukkan gambar yang di perolehnya, memang kulihat gambar-gambar yang menyeramkan, kulihat ada enam gambar dalam satu pemotretan. Dan di ulang-ulang pemotretan gambar itu sama, tapi susunannya yang berubah-ubah.
Enam gambar menyeramkan, satu adalah kakek yang juga ada di belakang Macan, wajahnya teramat tua, karena kerutan-kerutannya, kumis dan jenggotnya memanjang sampai kedada dan berwarna putih, juga alisnya memanjang sampai ke pipi, matanya merah mencorong marah.
Kedua adalah lelaki dengan wajah separuh rusah, hingga sebagian wajahnya hanya tengkorak saja, matanya tinggal satu dan mulutnya terlihat sebagian.
Ketiga adalah perempuan dengan rambut panjang, di sekitar matanya menghitam dan wajahnya pucat, serta dari, sela-sela bibirnya ada taring mencuat.
Keempat wajah tengkorak yang telah remuk, dan wajahnya tak terbentuk lagi, mata telah tak ada, sehingga tempat mata hanya lubang hitam saja,
Kelima, lelaki berkerudung hitam dan wajahnya hitam semuanya hidung dan matanya hanya kelihatan seperti bayangan.
Keenam siluet merah membentuk wajah, tapi tak begitu jelas, karena bentuk siluet cahaya. Yang terus bergerak.
“wah ngeri juga ya can….!”
“makanya aku takut, dan tak mau bertemu yang seperti ini.”
Kami masih menikmati malam yang sepi, di atas bulan seujung kuku tergantung,
“ian, kamu sering dapat benda pusaka enggak?” tanya macan di antara pembicaraan kami.
“benda pusaka? maksudmu keris dan sejenisnya?”
“iya, pernah gak?”
Aku jadi ingat satu kali aku di minta seseorang tuk membersihkan rumah dari gangguan mahluk halus di daerah pekalongan, didesa pring langu, rumah itu besar dan tua, dan di beli dengan harga murah, karena angker.
Aku masuk kerumah itu, ku rasakan hawa wingit memang terasa kuat, rumah ini teramat tua terdiri dari tiga joglo, jadi teramat besar, lebar semua ada empatratus meter.
Pemilik rumah menyuruh dua orang menemaniku, bernama lutfi, pemudanya tinggi, bertubuh sedang, dan zamrosi pemuda kurus,
Aku pun membuat air isian tuk membersihkan rumah, air isian selesai ku buat, kedua orang itu pun kuminta menyiramkannya ke seantero rumah, setelah air selesai di siramkan ke seluruh rumah, maka aku menunggu reaksi, waktu itu aku duduk di depan rumah dengan kedua orang tersebut, ngobrol kesana kemari tak juntrung, membicarakan apa saja, namanya juga anak muda, apalagi di depan rumah adalah jalan raya besar, yang menghubungkan kota Pekalongan dan daerah Kedungwuni, maka jalan kalau sore teramat ramai, orang lalu lalang tiada henti.
Kalau anak muda nongkrong apa lagi yang di lihat. Kalau tak cewek-cewek yang lewat.
Kami slalu membanding-bandingkan kalau ada cewek lewat, ini cakep gak, berapa nilainya… Yah begitulah sehingga kami bertiga makin akrab.
Tiba-tiba lagi enak-enaknya ngobrol, ada gadis cakep di bonceng motor oleh temennya, siuut begitu saja gadis itu terlempar dari atas motor dan jatuh di depan kami, terang kami terlongo kaget, kami bertiga segera menghampiri, juga orang-orang datang mengerubuti, dan gadis itu di gotong ke pelataran rumah dalam keadaan pingsan.
Orang-orang pun sibuk menolong, ada yang mengipasi, ada yang menciprati air, ada juga yang mengolesi minyak angin, tapi gadis cantik itu tak sadar juga, orang-orang pada ribut, membicarakan asal muasal terjadinya jatuh dari motor itu, dan semua membuat penilaian sendiri-sendiri, jadi malah membuat keadaan makin ribut, sementara sudah setengah jam, tapi gadis itu masih belum sadar juga.
Lutfi menoel pundakku,
“mas ian mbok ya di tolong, kasihan kan…” katanya
Aku baru sadar, kenapa dari tadi berdiri. Ikut-ikutan menonton saja, aku segera menyeruak di antara orang-orang yang berkerumun. Lutfi berteriak-teriak menyuruh orang minggir, sehingga memudahkanku sampai ke dekat gadis itu, yang tidur di ubin, dengan wajah pucat lesi.
Aku segera berjongkok, tanganku segera ku tempel ke kepala gadis itu. Ku salurkan tenaga yang mengalir dari pusarku, semua orang yang asalnya ramai, diam sepi.
Tak sampai dua menit kutempelkan tapak tanganku di kepala gadis itu, tubuhnya pun bergerak-gerak sadar.
Maka suara ribut orang-orang terdengar lagi, aku segera menyuruh lutfi mengambilkan segelas air, setelah di ambilkan, air itupun ku tiup dan kusuruh meminum gadis itu, yang segera segar kembali, lalu di bonceng lagi oleh motor temannya.
Orang-orang pun bubar, dan aku masuk rumah di temani lutfi dan zamrosi.
Setelah sholat magrib, karena nganggur aku dan kedua temanku, duduk lagi di depan rumah, suasana di luar teramat ramai, memang jalan raya ponolawen kedungwuni ini ramai sekali, beraneka macam orang jualan di sepanjang jalan, dari tenda lamongan, martabak, bakso, kentaki, mie ayam, sampai penjual ikan hias, dan yang paling banyak adalah penjual tenda lesehan khas pekalongan, yaitu sego megono, karena setiap jarak lima meteran ada penjual sego megono, itu ada sampai sepanjang 10 kiloan, bisa di bayangkan betapa ramainya.
Dan semua ada pengunjungnya karena memang yang harganya murah, yaitu cuma Rp 1000,
Sungguh kota yang ramai, motor bersliweran, mobil juga tak ada habisnya, di depan rumah yang aku bersihkan dan ku pagar ini, jalan raya sangat lurus, dan aspal sangat halus.
Selagi aku duduk dengan lutfi, zamrosi datang membawa tahu aci, dan sambal petis, juga teh, kami pun makan sambil melihat orang yang lalu lalang. Apalagi ini adalah bulan Agustus, sudah menjadi tradisi di daerah Pekalongan tiap bulan Agustus, ada acara makan gratis satu bulan penuh. Setiap malam di adakan di setiap gang bergiliran. Juga ada lomba-lomba yang langsung mendapatkan hadiah di tempat. Seperti melempar paku pada lingkaran, dilingkaran itu ada tulisannya, kalau melempar tepat pada tulisan itu maka akan mendapatkan langsung apa yang di tulis, kalau tulisannya itu jam dinding, maka akan mendapat jam dinding, paku? Tinggal minta kepada panitia. Juga ada memasukkan gelang pada botol dengan di lempar, dan masih ada permainan yang lain.
Jadi jalanan sangat ramai, kalau ada makan gratis seperti ini, tukang bakso, mie pangsit, dan tukang jualan dorong, tak usah takut tak laku, karena para penjual itu malah semua dagangannya telah di borong oleh rumah yang memanggilnya untuk melayani orang yang mau makan. Gratis.
Orang-orang berdatangan, tapi karena kami menangani dengan sigap, jadi kemacetan yang di timbulkan tidak berlarut-larut, kami bertiga segera nyangkruk lagi, namun tak lama kami nyangkruk kembali terjadi kecelakaan lagi.
Saat kami sedang enak-enakan duduk ngobrol, tiba-tiba sroook..! Braak..praak.! Sebuah sepeda motor tanpa ada sebab yang jelas tergelincir, terbanting-banting di aspal, pengendaranya terseret sampai enam meter. Aku, lutfi dan zamrosi segera berlarian kearah kecelakaan itu, lutfi menuntun motor ketepi jalan dan aku memapah pengendara yang babak bundas itu, sementara zamrosi memberi isyarat pada kendaraan yang mau lewat.
Kebetulan ada becak lewat, aku pun menyetopnya, dan memintanya membawa pengendara motor yang kecelakaan ke rumah sakit, sementara motornya yang sudah tak karuan ku titipkan di bengkel sebelah.
Kali ini seorang pengendara sepeda yang sedang menyeberang di hantam motor roda belakangnya, sehingga lelaki pengendara sepeda itu terlempar, sementara pengendara motor juga jatuh menyluruk, keadaan teramat ribut dan memacetkan jalan, yang memang ramai.
Kali ini aku tak ikut menolong, karena tempat kecelakaan telah di kerubuti orang, dan yang mengalami kecelakaan telah di tolong orang.
Lutfi, yang sebelumnya ikut membantu lancarnya lalu lintas, telah duduk lagi di sampingku.
“wah apa biasanya di sini sering terjadi kecelakaan seperti ini, lut?” tanyaku.
“ah kyaknya tidak tuh, tapi yang lebih tau zamrosi, dia kan, asli orang sini, kalau aku dari pekalongan kota, jadi kurang tau persis.”
Zamrosi yang kuminta membelikan rokok baru saja kembali,
“benar Zam di sini sering terjadi kecelakaan? Seperti hari ini,?”
“setahuku tak pernah tuh mas, ya hanya hari ini, aku juga heran, kenapa hari ini banyak terjadi kecelakaan? Ada apa ya?” kata zamrosi.
“mana aku tau zam…” kataku yang memang tak menguasai ilmu teropong.
“tadi juga ada anak kecil umur tuju tahunan jatuh mas, waktu di gandeng ibunya, tiba-tiba saja tubuhnya terbanting jatuh menghantam bekas tebangan pohon itu, dan giginya tanggal.”kata Lutfi sembari menunjuk bekas pohon yang di tebang, cuma setinggi mata kaki.
“ada apa ya..?” tanyaku sendiri.
“apa mungkin karena rumah ini mas bersihkan, lalu setannya lari ke jalan terus ngamuk?” kata lutfi.
“tak taulah….”
“iya mas bisa jadi begitu..”tambah zamrosi
Malam makin larut, jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, aku masuk rumah untuk melakukan sholat isya, sekaligus melakukan pemagaran secara wirid.
Saat aku melakukan wirid, kedua temanku itu di belakangku sedang ngobrol besenak-besenik, karena tak mau mengganggu wiridku,
Mereka berdua ngobrol sambil ngerokok, tiba-tiba terdengar ledakan dalam tembok Duar..! Suaranya di tembok bagian kananku.
“hei apa itu yang meledak?” tanya zamrosi,
“ia ya kok ada ledakan dalam dinding, suaranya seperti bohlamp,” jawab Lutfi.
Aku tetap khusuk dalam wirid, dan tak memperdulikan kedua temanku yang mulai memeriksa. Dan mereka kembali duduk karena tak menemukan apa-apa.
“aneh wong ada ledakan tapi, tak tau apa yang meledak” kata lutfi dengan nada heran.
“apa mungkin kita yang salah dengar?” kata Zamrosi.
“ah tak mungkin, wong terdengar jelas” yakin lutfi.
Kembali mereka pun ngobrol, sampai yang ku dengar dengkur kedua temanku itu, karena jam telah menunjukkan jam satu lebih.
Aku masih meneruskan wiridku, sampai terdengar penjaga memukul tiang listrik dua kali, pertanda pukul dua malam, kurasakan desiran angin dingin mengitari tubuhku.
Aku tenang penuh konsentrasi, terdengar suara, kreeet..! Kontan aku membuka mata karena suara itu, memandang ternit asal dari suara, kulihat ternit melengkut, seperti terinjak kaki yang besar, aku kaget…tapi terus melanjutkan wirid,
Dan krek…nyut…krek nyut… Ternit memantul-mantul seperti di buat nyot-nyotan kaki yang besar, mengingat ternit yang kuat, nampaknya tak mungkin kucing atau tikus. Tapi aku tak bergeming dan terus melanjutkan wirid sampai selesai.
Ternit mental-mentul itu terjadi hanya sampai setengah jam, kemudian berhenti.
Jam tiga aku baru menyelesaikan wirid, kemudian ikut tidur di dekat kedua temanku.
Paginya setelah sholat subuh aku tidur lagi, karena mata yang masih mengantuk, jam sembilan aku baru bangun, setelah memakan sarapan yang di sediakan, aku menghampiri Zamrosi, yang tengah menyapu halaman,
“lutfi kemana Zam?”
“pulang dulu mas…ada apa mas..?.”
“aku mau naik keatas ternit..”
“wah mau ngapain mas, kok repot…”
“mau melihat ada apa di atas ternit,”
Tanpa menunggu jawaban zamrosi, aku segera mencari jalan naik ke ternit. Dan ku temukan di atas dapur, untung ada planggangan di sana-sini, sehingga memudahkanku naik ke atas.
Untung aku ingat membawa senter, sehingga kalau terlalu gelap bisa ku lihat, aku juga membuka genteng, sehingga penerangan masuk, dan dalam ternit tak terlalu gelap, aku menyusuri kayu sampai kearah di atas tempatku semalam melakukan wirid, dan itu melewati satu ruangan, kubuka genteng lagi, sehingga penerangan masuk, dan suasana terang, kulihat kayu penahan ternit kuat, ku injak dengan kakiku tepat di mana semalam kayu ini melengkung, sembari berpegangan pada usuk takut jatuh, tapi aku merasa aneh, memang tanpa pegangan sekalipun kayu ini kuat menopang tubuhku, bagaimana semalam bisa melengkung-lengkung tak karuan, tiba-tiba mataku melihat dua benda menggeletak, aku segera memungut.
Benda itu ternyata sebuah batu akik sebesar jempol tangan tanpa emban dan sebuah keris kecil, dan warangkanya, keris itu cuma sebesar jari kelingking anak kecil, tapi bentuknya amat antik sekali, walau bentuknya teramat kecil tapi sangat antik sekali, warangkanya terbalut kain rapi, tapi sudah sangat usang dan kuno, ketika ku tarik lolos keris itu dengan kedua jariku, ah betapa mungilnya tapi teramat indah, karena keris itu di hiasi ukiran teramat detail, aku tak sanggup membayangkan bagaimana mungkin, seseorang mengukir dalam keris kecil ini sedemikian detailnya.
Tapi aku bukan orang yang suka keris dan batu akik, walau banyak beredar cerita tentang batu dan keris yang mempunyai kesaktian.
Aku hanya orang yang tak punya pikiran neko-neko, bagiku mengamalkan agama sebaik mungkin, hidup tenang, istri sholehah, anak-anak yang sholeh-sholehah, serta keluarga selamat, sejahtera. Walau aku percaya keampuhan keris, karena jin yang menghuninya. Tapi aku lebih percaya Alloh penolongku.
Aku pun turun dari internit.
“kamu mau keris zam?“ tanyaku setelah turun.
“keris? Untuk apa mas?” tanyanya dengan pandangan heran.
“ini aku dapat keris dari atas, ya kalau kamu mau?”
“wah kalau saya ini kalau ada di kasih duwit aja, jangan keris, saya ini orang susah mas, butuhnya duwit…”
“ya udah kalau tak mau…”
“coba lihat kerisnya mana mas?”
Keris segera ku keluarkan, dan dilihatnya, setelah di jinggleng dan di teliti, keris di berikan lagi padaku.
“wah aku gak ngerti sama sekali tentang keris mas, tapi kok kecil sekali ya, kayak mainan anak-anak aja.”
“tapi kalau mas ian mau, aku punya teman yang sukanya mengoleksi keris, dia pasti mau di kasih keris,”
“nanti malem suruh aja datang kesini.”
“tapi dia preman stasiun mas, gimana?”
“ya nggak papa, suruh aja datang, siapa namanya?”
“namanya Gimo mas…baik nanti aku hubungi”
Siang itu aku mengisi batu untuk ku tanam ke empat penjuru rumah, sebagai pagar gaib.
Malamnya Gimo datang, setelah berkenalan denganku, aku mengajaknya duduk di teras, membicarakan keris yang aku temukan.
Gimo orangnya tinggi besar, dempal, dan berotot, sangat suka mempelajari ilmu kesaktian, dan suka mengumpulkan wesi aji dan batu akik.
“bener nih kang sampean mau ngasih saya keris?” tanyanya setelah duduk di sampingku. Dan lutfi juga Zamrosi ikut nimbrung ngobrol.
“ia mas gimo, mas ian ini, mendapatkan keris tadi siang,” sela Zamrosi.
“dapat dari mana to mas?” lutfi yang belum tau bertanya.
“dapat dari internit..” kata Zamrosi, mendahuluiku menjawab.
“kamu ini mbok ya diam dulu to zam, biar mas iyan cerita,” kata lutfi.
“iya zamrosi benar, aku mendapatkannya di ternit,”
“wah bagaimana itu bisa tau kang? Ah pasti sampean ini orang sakti.” kata Gimo sumringah.
“ya kebetulan saja…”
“ah tak mungkin kebetulan, wong tadi pagi tiba-tiba aja pengen naik ke ternit, kan aneh?”kata Zamrosi nyerocos.
“gimana to gak sakti mas Gimo?.. Mas ian ini kan kesini untuk memagar rumah ini, diminta bos yang punya rumah ini,” kata lutfi, menjelaskan.
“wah semuda ini, masih bocah..!,” kata Gimo.
“tapi nyatanya begitu…”
“sudah-sudah, nih mas Gimo keris dan batu akiknya, silahkan di terima…” kataku sembari mengeluarkan kedua benda, dan menyerahkan pada Gimo, dia menerima dengan gemetar.
“wah kecil amat kerisnya?” kata lutfi, yang memang baru melihat keris ini.
“wah ini keris dan batu tak bisa di pisahkan kang, dan keris ini ampuh sekali.” kata gimo setelah mengamat-amati sebentar.
Saat kami tengah asyiknya ngobrol, tiba-tiba “Duaar!!, bruakkk..!!” suara ledakan tabrakan motor dengan motor, kulihat sekilas, sebuah motor Gl pro, menyalip kekanan mendahului kendaraan lain, tak taunya ada mobil angkot di depan, maka motor itu membanting kekiri, untuk menghindari mobil angkot, dan ternyata di samping angkot ada motor lain yang juga mau mendahului angkot, maka tak terelakkan lagi kecelakaan pun terjadi, kedua pengendara sampai terpental dan terbanting di aspal. Pengendara Gl pro langsung tewas di tempat. Keadaan menjadi ribut sekali, jalanan macet total, karena kecelakaan tepat di tengah jalan, tubuh pengendara Gl pro, tergeletak, dan darah meleleh kemana-mana, mungkin kepalanya pecah.
Orang-orang membludak, karena memang masih berlangsung kegiatan agustusan, makan gratis.
Ku lihat Gimo tangkas juga, dia segera menggotong pengendara Glpro, di masukkan ke pikup dan di suruh membawa kerumah sakit, sementara pengendara karisma musuh Glpro tak apa-apa, walau luka lecet-lecet, tapi kedua motor hancur sana-sini pecahan onderdil, dan kaca lampu berserakan di sana sini.
Ah ini benar-benar tak beres, tak bisa di biarkan, aku segera masuk, mengambil air wudhu, kemudian duduk dalam kamar, menyatukan rasa dan cipta, membaca semua wirid dalam hitungan tiga-tiga, kemudian membaca doa hijab, yang di ajarkan kyai kepadaku. Mengalir kekuatan dari pusarku, kemudin tersalur ketanganku. Kubayangkan aku mengitari jalan depan rumah lalu menangkap semua lelembut, jin, siluman, mengikatnya jadi satu kemudian kubuang ke belakang rumah dalam keadaan terikat.
Aku bernapas lega, dan mengusap keringat yang keluar mbrendol-mbrendol sebesar jagung dari pori-pori tanganku, keringat bahkan menetes-netes dari ujung hidungku, juga mengalir dari pori-pori kepalaku, mengalir keleherku, dan punggungku sampai lengket, basah oleh keringat.
Aku segera beranjak keluar, tak lupa mengambil keempat batu yang tadi siang kuisi, dan di luar keadaan sudah sepi,
Lutfi dan Zamrosi masih duduk, ngobrol ditemani beberapa tetangga toko sekitar, aku mengambil mereka berdua, lalu kuajak menanam dua batu di pojok belakang rumah, dan dua batu di pojok depan rumah.
Malam itu aku tak tidur terlalu malam, mengingat wiridku telah selesai.
Esok paginya, setelah subuh aku mengajak kedua temanku itu jalan-jalan, sekalian mencari sarapan bubur kacang hijau, di tengah perjalanan kami bertemu Gimo, sedang menggenjot sepedanya,
“mau kemana kang gimo? ” sapaku. Dia langsung berhenti.
“ee…kang ian, kebetulan sekali kang, aku mau ketempat kang ian, mau mengembalikan keris dan akik pemberian kang ian semalem.” katanya, sembari menuntun sepedanya di sampingku.
“lho emangnya kenapa? Bukankah kang Gimo ini pengoleksi benda antik…?” tanyaku heran.
“wah cilaka kang..” katanya masgul.
“cilaka bagaimana to?” tanyaku.
“kang Gimo mbok sampean ceritakan yang jelas.” Zamrosi menyela.
Pemuda kekar yang penuh tato di tubuhnya itu menarik napas dalam lalu mulai bercerita.
Semalam setelah terjadi kecelakaan Gimo mencariku, dan menanyakan kepada kedua temanku tentang keberadaanku, tapi oleh kedua temanku aku di lihat dalam keadaan wirid, jadi Gimo pun pamit pulang, dia mengendarai sepeda pancalnya pulang, karena memang rumahnya di daerah pekalongan utara.
Saat sedang bersepeda itu dia melewati gerombolan pemuda yang nongkrong di gang sambil ketawa-ketawa, aneh Gimo marah dan menghampiri pemuda yang ada enam orang itu.
“hei, mengetawakanku!” bentaknya.
“tidak kang, kami ketawa sendiri.” jawab seorang pemuda yang duduk paling pinggir, menatap heran pada Gimo.
Gimo maju memegang kerah baju pemuda itu, melihat gelagat yang kurang baik, kelima teman pemuda yang di pegang kerah bajunya oleh Gimo segera menyerang dengan bogem mentah bertubi-tubi. Yang kesemuanya dapat di tangkis dan di elakkan oleh Gimo, kini Gimo yang mengamuk, keenam pemuda itu di hajar semua sampai nyungsep, tak ada yang bangun lagi, padahal biasanya untuk mengalahkan satu dua orang Gimo tak kan bisa mengalahkan dengan semudah itu. Tapi ini ada enam orang, dengan mudahnya dapat ia robohkan tak sampai sepuluh menit.
Dia juga heran kekuatannya juga dia rasakan berlipat-lipat. Pasti ini karena keris dan batu akik yang di bawanya.
Gimo pun melanjutkan perjalanan pulang, meninggalkan keenam pemuda yang terkapar.
Lalu dia sampai di rumah, mengedor-gedor pintu, Gimo cuma hidup di rumah bertiga, ibunya, adiknya lelaki, yang bernama Munsorif dan dia sendiri.
Gimo masih menggedor pintu, tapi pintu tak kunjung di bukakan, darahnya mulai naik keubun-ubun, maka dia menggedor sampai keras.
“ia sebentar…!” terdengar suara ibunya. Dia makin tak sabar.
Setelah pintu di buka, ia membentak ibunya.
“buka pintu lama banget, apa perlu pintu ini aku jebol.?”
“wah jangan begitu to, ibu kan harus jalan dulu…” kata ibunya lembut.
“buka kan gak perlu ibu, munsorif mana? Pasti sudah ngorok!!” kata Gimo membentak.
“dia lagi sholat ngger…, jadi ibu yang harus buka.”
“ah sholat aja di urusi, hidup tak berbakti, masak ibu di suruh membuka pintu.!!”
“sudah lah ngger, ibu senang kok membukakan pintu untukmu, ndak usah marah-marah, tapi kamu harus sabar, ibu ini sudah tua, jadi jalannya pelan.”
“ada apa to kang?, mbok ya sudah, jangan marah-marah, tak enak di dengar tetangga,” suara seorang pemuda yang tak lain adalah Munsorif, pemuda ini sungguh jauh sekali dengan Gimo yang srampangan ugal-ugalan, pemuda ini lembut, wajahnya bersih, dan bercahaya karena air wudhu, maklum Munshorif orangnya selalu daimul wudhu, yaitu melanggengkan wudhu, jadi kalau batal wudhunya dia wudhu lagi, sehingga wajahnya, mengeluarkan pancaran cahaya alami, penuh kelembutan, di tambah baju koko yang di pakainya, berwarna putih kebiruan, dan peci putih yang bertengger di kepalanya, melihat adiknya keluar, Gimo makin meluap marahnya,
“bangsat sok alim, mau menceramaiku…!?” katanya dengan mata berapi-api.
“ya enggak kan, cuma kang Gimo jangan ribut, kan di dengar tetangga, malu…” Munsorif suaranya di pelankan.
“berani kau melarangku…rasakan ini!!” tiba-tiba Gimo menyerang mengayun bogemnya kewajah adiknya.
Sebuah pukulan menderu kearah kepala Munsorif, pemuda ini pernah juga hidup di pesantren, dan belajar sedikit ilmu silat, melihat kakaknya menyerang kearah wajahnya dia melemaskan tubuh ke belakang dan mundur satu langkah, sehingga pukulan Gimo menerpa tempat kosong, dan itu membuat Gimo yang merajai stasiun marah, merasa di tantang dan di lecehkan, maka dia makin membabi buta menyerang adiknya, sementara ibu Duriah, ibunya kedua pemuda itu, menjerit-jerit, melihat kedua anaknya berantem,
“aduh lub…jangan berantem to lub, kalian ini saudara luuub…aduh piyo to iki yo kok kebangeten…” kata perempuan tua itu, menangis.
Tapi Gimo memang sudah mata gelap, dia terus memburu Munsorif dengan serangan-serangan mematikan, sementara adiknya itu hanya mengelak dan menangkis serangan.
Satu kali Gimo melakukan tendangan sapuan kearah perut, dan Munshorip menekuk perutnya kebelakang, sehingga serangan lewat tiga centi dari perutnya, tapi Gimo menyusul dengan pukulan tangan kiri menyamping kearah wajah munsorif, pemuda itu mengengoskan kepalanya, sehingga pipi nya selamat dari kemplangan. Tapi ternyata itu hanya serangan tipuan, ketika terdengar tangan kanan Gimo menghantam pipi kiri Munsorif, prok!! Pemuda itupun terjengkang.
Darah keluar dari hidung, telinga dan mulut Munsorif, sebentar dia berkejedan dan diam, ibu Duriah pun menghambur.
“Munsorif…! Nak jangan mati nak..nak munsorif anakku…hu..huu..Gimo, kenapa kau bunuh adikmu..!?, tak puas-puasnya kau menyusahkan aku…huuk..”
Ibu Duriah yang tak kuat menahan goncangan batinnya itupun pingsan.
Sementara gimo, tiba-tiba tersadar…ah apa yang ku lakukan, suara hatinya…benarkah aku membunuh adikku..oh..! Dia menghampiri Munsorif, dan meraba urat leher dan denyut nadinya…dan dia lega ternyata adiknya itu cuma pingsan saja.
Lalu Gimo yang merasa telah sadar dari pengaruh gaib keris dan batu akik dalam sakunya segera mengangkat ibunya ke amben. Juga mengangkat tubuh munsorif ke amben yang lain.
Tetangga Gimo tak ada yang datang, karena sudah jadi adat, Pemuda bengal ini bikin ribut, tetangganya tak berani ikut campur, bisa-bisa malah kena sasaran. Jadi kalau ada ribut-ribut di rumah Gimo, mereka lebih memilih menutup pintu rapat-rapat.
Ah mungkin nanti Gimo kalau mati, berangkat kekuburan sendiri.
Setelah membaringkan kedua orang itu Gimo keluar rumah, lalu mengayuh sepedanya ke arah pertigaan ponolawen, jam telah menunjukkan jam setengah dua, biasanya masih ada tukang becak yang narik malam hari, dan prasangkanya tak meleset, ada beberapa tukang becak yang masih berjejer.
Gimo langsung membawa salah seorang tukang becak ke rumahnya., sampai di rumah dia menaikkan adiknya ke atas becak, dan mengantarnya sampai kerumah sakit. Menyerahkan perawatan kepada dokter jaga, lalu pulang lagi, sampai di rumah, Ibu Duriah, ibunya Gimo telah sadar dan sedang menangis sesenggukan, melihat Gimo datang, ibunya langsung menghambur.
“ayo lub, mayat adikmu kamu buang kemana lub…kok kebangeten kuwe to lub.huhuuu..”
“sudahlah bu… Munsorif tak mati, sekarang dia di rumah sakit…, kalau ibu mau kesana ayo saya antar…” kata Gimo. “itu becaknya masih ku suruh nunggu di luar.”
Gimo pun membawa ibunya naik becak, dan mengantarkan kerumah sakit, menunggui Munsorip.
Gimo lelah dia tiduran di atas bangku panjang di depan kamar tempat merawat adiknya, dia berpikir, satu malam, berapa tangan yang jadi korban tangannya, ah ini pasti karena keris dan batu akik yang semalem di terimanya, ah dia harus mengembalikan kedua benda itu, maka ketika setelah subuh itulah dia bertemu denganku.
Memang aku sendiri merasakan perbawa yang jahad, pada kedua benda ini,
Ketika memegang keris dan batu akik itu, seakan-akan dada terasa tersumbat, suntuk, sumpeg, dan berbagai perasaan yang seakan ingin marah.
Setelah pulang, aku segera masuk kamar, dan kedua benda itu ku taruh di depanku lalu kututup bantal, aku mulai wirid, membaca fatehah kepada nabi, dan membaca fatihah kepada ketiga hadam surat ihlas, membaca wirid tiga kali, menyalami kepada hadam yang mendiami kedua benda tersebut, dan “demi kekuasaan Alloh yang mutlak, kembalilah kalian keasal kalian, dengan izin Alloh.. Allohu akbar,” lalu ketepuk bantal, dan kubuka, kedua benda itu telah tak ada, dan itulah pengalamanku pertama kali aku mendapatkan wesi aji, dan batu akik, setelah kejadian itu, telah tak terhitung aku di datangi, khadam-khadam, keris, batu akik, dan aneka macam pusaka, minta di rawat, tapi aku tak pernah mau menerima.
Akan aku ceritakan sedikit pengalamanku tentang aku di datangi khadam pusaka.
Waktu itu aku sedang mencari udara segar, dan sedikit hiburan, aku memutuskan pergi ke nglirip, yaitu tempat wisata air terjun, di daerah jojogan Singgahan, Tuban. Sampai di nglirip setelah membeli makanan kecil dan minuman ringan aku naik ke atas bukit kecil, yang ada pemakamannya.
Aku duduk di tepi jurang, sambil makan kacang dan menikmati pemandangan,
Sungguh pemandangan yang elok, jauh di bawah sana persawahan terhampar seperti permadani beludru., rumah-rumah kecil yang cuma terlihat gentengnya saja, betapa kecilnya kita di tangan kekuasaan ALLOH taala, pohon-pohon seperti gerumbul kecil saja, lalu kalau mata menghadap ketimur, nampak bukit kecil, dengan persawahan tumpanp sari, seperti anak tangga raksasa, suara lenguh sapi yang dibuat membajak oleh petani, seperti suara panggilan lugu alam desa. Jalan tikus para petani yang akan pergi kesawah, seperti ular kecil yang memanjang,
Tepat di bawah kakiku, sekitar sepuluh meter, nampak jalan raya, mengitari bukit, dibawahnya lagi sungai yang mengalir terus sampai ke kampung-kampung dan sawah-sawah, menjadi tumpuan hidup para petani, satu meter ke bawah ada taman, tempat muda mudi, berpacaran, sambil menikmati alam, saling bercengkrama, atau menghayalkan masa depan. Lalu di bawah lagi ada penjual makanan kecil. Dan warung minuman juga jalan kampung menurun, nampak anak kecil dan beberapa perempuan memanggul kayu bakar, di punggung, berjalan. Menuruni jalan kampung.
Di belakang warung, sebuah jurang menganga, dan tempat, air terjun tercurah, saat begini kemarau baru mulai, air di bawah kulihat berwarna hijau.
Air yang jatuh dan percikannya tertiup angin, menjadi uap tersedot mentari, ketika cahaya mentari menyentuhnya, terciptalah bias pelangi, melengkung. Sungguh lukisan alam yang sempurna,
Keindahan yang tumpang tindih, menjadikan mata orang menatap kagum, dan hati berperan, penilaian mengembalikan pada sang khalik bagi yang ada iman di dadanya, dan bagi orang yang kosong iman, menganggap ini kejadian biasa.
Aku memutuskan ziarah sebentar ke syaih Abdul jabar. Makam orang yang ada di situ, yang menurut orang tuaku masih ada hubungan nasab kepadaku, dan sampai kepada jaka tingkir, mas karebet.
Tapi aku mau berziarah saja, mengingat dia Ulama zaman dahulu, yang memperjuangkan Islam, karena hari telah sore aku memutuskan untuk bermalam di mushola, sebelah pemakaman, di mana banyak juga para musafir yang bermalam.
Usai sholat magrib dan isyak berjamaah, aku meneruskan membaca dzikir harianku, sampai malam kemudian tidur,
Dalam mimpi aku merasa di temui oleh orang tua berikat kepala putih, dan wajahnya menatap lembut kepadaku,
Kumis dan jenggotnya putih dan tak terlalu banyak, bajunya hitam legam dia berkata.
“ngger..! Besok tunggulah warisan yang menjadi hakmu, di pertigaan Anjlog..”
Cuma itu yang di ucapkan lalu dia menghilang.
Aku terbangun, dan kulihat semua orang tertidur di sana-sini, aku pun melanjutkan tidur lagi.
Paginya setelah sholat subuh, aku mandi di sungai, yang airnya teramat dingin, kabut yang turun, membuat pendek jarak pandang. Hanya sejauh dua meter.
Embun di rumput pun terlihat amat tebal seperti permadani putih tipis terbentang, setelah mandi, dingin tak begitu terasa lagi menggigit tulang. Karena kabut yang turun teramat tebalnya pohon-pohon besar seperti bayangan raksasa.
Tapi perempuan-perempuan desa kulihat keluar dari kabut, suara mereka bercanda seakan tak ada kesulitan hidup yang di hadapi, BBM yang harganya melambung, bahan-bahan pokok yang ikut melonjak naik, seakan bukan masalah bagi mereka, setiap wajah di hiasi keceriaan, padahal aku yakin para perempuan itu bukanlah orang-orang kaya.
Mereka hanya orang yang teramat sederhana, masak dengan kayu bakar yang di ambil di hutan, yang mereka masak adalah padi yang mereka tanam dan mereka panen, lalu di bawa ke penggilingan, lauk mereka juga mereka tanam sendiri, jadi apa yang perlu di kawatirkan lagi, mungkin pergi naik mobil, belum tentu dua atau tiga tahun mereka naik mobil, jadi walau bensin oleh pemerintah di naikkan seliter satu juta. Juga tak mempengaruhi mereka, sebab naik mobil bagi para orang gunung ini adalah siksaan tersendiri, yaitu siksaan mabuk perjalanan.
Mereka seperti punya negara sendiri, yang bernama Republik bersahaja. Hidup tak neko-neko, seadanya saja.
Perempuan-perempuan itu menyapaku ketika lewat di depanku.
“nderek punten gus…!”
“manggo…ngatos-atos…” jawabku.
Aku melangkah meninggalkan nglirip, dan segala keindahannya.
Aku penasaran dengan mimpiku semalam, hanya bunga tidurkah. Pertigaan Anjlog sekitar dua kilo, jalan menurun, kalau di tempuh dengan sepeda mungkin tak sampai sepuluh menit tanpa di kayuh, karena jalanan menurun, malah berbahaya kalau tak punya rem.
Aku tempuh jalan itu dengan jalan kaki, di samping hari masih pagi, dan kabut tebal sekali, jalan kaki tentu menyehatkan.
Sampai di pertigaan anjlog, matahari telah meninggi, dan kabut tinggal tipis, menyisakan butiran air di pucuk daun dan rumput, bercahaya berkilauan seperti Manik-manik mutiara.
Beberapa anak sekolah bergerombol menunggu bus, ada yang berseragam biru tua, berarti anak SMP, ada juga remaja berseragam abu-abu, berarti anak SMA, kalau ada SMA di sini ya sekolah Bukit tinggi, itu adalah nama sekolah lanjutan yang ada di bukit jadi di namakan Sekolah bukit tinggi, aku sebenarnya sekalian mau cari sarapan, tapi setiap warung pinggir jalan yang kutanya, selalu menjawab belum matang, kulihat juga ada gerobak bakso, ah bakso juga tak apa-apa kalau ada lontongnya, jadi kalau kepedesan ngrokok juga lebih enak, kulihat tukang bakso menata mangkok, aku dekati.
“baksonya sudah ada bang?” tanyaku.
“bentar lagi gus….,silahkan duduk dulu…!” katanya hormat.
“lontongnya ada bang…?”
“oh ada-ada, banyak…”
Aku masuk kedalam rumah-rumahan bambu, yang di buat serampangan dan seadanya, hanya untuk melindungi para pemesan bakso agar bisa menikmati bakso pesanannya dengan nyaman. Saos, kecap, sambal berjejer di depanku.
“Nak mas…, anak ini kan yang namanya febrian..?” kudengar suara lembut di belakangku, aku menoleh, nampak orang tua yang kurus sedang, duduk di belakangku, aneh kenapa aku tak merasakan kedatangannya.
Kakek ini ku taksir umurnya tujupuluh tahunan, badannya kurus namun tegap. Wajahnya penuh kerutan ketuaan tapi bersih, alis matanya sebagian memutih, ikat kepalanya bercorak lurik batik. Kumisnya dan jenggotnya sedikit, matanya teduh dan bersahabat.
“kakek ini siapa, kok tau nama saya?” tanyaku heran.
“itu tak penting nak mas, aku hanya mau menyerahkan warisan nak mas yang selama ini di titipkan pada saya…” kata kakek itu,
“warisan apa kek…?” aku teringat dengan mimpiku tadi malam, kakek di depanku ini mengarahkan kedua tangannya kebalik baju di punggung, lalu mengeluarkan dua buah keris dari balik baju, keris di tunjukkan di depanku.
Satu keris dan warangkanya panjang kurang lebih empat puluh cm, dan yang satu pendek kurang lebih tigapuluh cm.
Lalu kakek misterius di depanku ini melolos keris yang panjang dari warangkanya, aku tak tau keris, tapi melihat bentuknya keris ini indah, ada ukiran di pangkal keris, berwarna seperti emas, keris ini berluk banyak.
“ini namanya kyai sapto paningal,” katanya sambil mengulurkan keris kepadaku. Kurasakan ada getaran aneh menjalari tanganku ketika menerima keris itu.
Kemudian kakek itu mencabut keris yang kedua,
“ini namanya kyai condong pamelang.” katanya sambil mengulurkan keris kepadaku,
Aku mengamat-amati kedua keris di depanku, sekedar menyenangkan pada kakek ini, tapi aku benar-benar buta dan tak tertarik dengan aneka macam wesi aji.
Aku menyerahkan kedua keris itu kepadanya.
“karena nak mas sudah ada di sini, maka keris ini kuserahkan padamu…” kata kakek ini, mengulurkan kedua tangannya terbuka ke hadapanku, dan kedua keris ada di atas tangan itu.
“nanti dulu kek…” kataku, dengan isyarat tangan menahan.
“kenapa nak mas?”
“aku ini sama sekali tak tau, seluk beluk tentang keris, dan aku tak tau bagaimana merawatnya, ah alangkah baiknya kalau keris ini tetap di tangan kakek, mungkin akan lebih baik keris ini tetap di tangan kakek, aku takut kalau di tanganku akan rusak…” kataku berdalih dengan alasan setepat mungkin.
“tapi nak mas, keris ini nak maslah pewarisnya…”
“begini lo kek, aku ini punya keyakinan, bagiku Allohlah sebaik-baiknya dzat tempatku bergantung dan tempatku meminta menyelesaikan segala urusanku, aku tak mau menomer duakan Alloh karena mempunyai kedua keris ini..”
Kakek tua itu manggut-manggut,” baiklah aku mengerti, tapi aku tak mau di salahkan oleh orang yang telah mempercayakan amanahnya kepadaku, maka sudilah nakmas menerima keris ini dan nanti menyerahkan padaku lagi…?”
“oh aku mengerti kek, baiklah aku terima keris ini, dengan kelapangan hati…” kataku, sambil menerima kedua keris. Lalu ku lanjutkan berkata setelah keris ada di tanganku.
“dan keris ini ku serahkan padamu untuk menjaga dan merawatnya…”
Kataku sambil mengulurkan keris kepada kakek ini, sebagai tanda penyerahan. Kemudian kakek itu pun menerima lagi keris. Dan menempelkan ke jidatnya, “akan ku jaga dengan sebaik-baiknya.”
Setelah itupun kakek itu mohon diri.
Aku menarik napas lega, tukang bakso mengulurkan bakso kedepan mejaku, matanya menatapku heran.
“ada apa bang, kenapa menatapku begitu?”. Tanyaku pada tukang bakso.
“tak apa-apa gus.., saya hanya heran saja..”
“heran kenapa?”
“yah saya lihat dari tadi, agus ini ngomong sendiri, jadi saya mau memberikan bakso, saya urungkan, karena melihat agus ngomong sendiri”.
“maksud abang tadi saya ngomong sendiri, jadi abang tak lihat saya tadi ngomong sama kakek-kakek.”
“kakek-kakek yang mana to gus, wong dari tadi agus di sini sendirian…”
Aku segera turun dari kursi, dan melihat kearah mana tadi, kakek itu pergi, maunya menunjukkan pada tukang bakso tentang kakek yang ku ajak ngomong, tapi walau jalan raya itu lurus, aku tak melihat bayangan kakek yang ngomong denganku.
Ah pupus harapanku, aku dianggap gila dah.
Cepat-cepat aku kembali ketempat duduk, menghabiskan bakso, dan dua lontong, lalu cepat-cepat beranjak pergi, dengan tatapan aneh dari penjual bakso.
“aku sering can, mau di kasih segala macam wesi aji, batu akik, tapi selalu aku tolak, apa pula perlunya…?” kataku pada macan,
“ah kamu ini gimana sih ian, kalau ada yang ngasih mbok ya diterima, kalau kamu tak mau biar aku yang mengkoleksinya, aku aja udah mengkoleksi banyak sekali,”
“wah hebat can…”
“ayo aku tunjukkan..” katanya kemudian mendahuluiku berdiri dan masuk rumah, akupun mengikuti dari belakang.
Kulihat ia menurunkan tiga dus sarimi dari atas lemari bifet. Dah uh banyak sekali, satu dus berisi aneka macam keris panjang penuh, satu dus berisi berbagai batu akik, setengah, dan satu dus berisi aneka macam keris kecil, berbagai bentuk dan macam.
“dari mana semua barang begini can?”
“ya ada yang ngasih, kadang juga ketemukan sendiri, macam-macamlah kejadiannya.”
“wah kamu ini mungkin cocoknya ngumpulin barang seperti ini,”
“yah semoga saja ini bermanfaat can,.” kataku.
“ian…, aku ini sebenarnya punya masalah..!” kata macan menatapku serius.
“masalah apa ?”
“gini ian, aku punya anak buah, dari anak-anak nakal yang aku insyafkan, dan aku membuatkan mereka warung tenda masakan lamongan, tapi aku menemui kendala, warung yang ku buka itu sepi pengunjung, nah kalau begitu, aku takut anak-anak muda itu patah arang, melihat warung sepi begini, mereka akan kembali menjadi pemabuk lagi, bagaimana menurutmu ian?”.
Aku merenung sejenak.
“coba can, kamu bel mereka, sekarang ini warung sepi apa enggak?”
“maksudmu..?”
“iya kamu bel aja, tanyakan warungnya sepi apa enggak? Dan bilang nanti kalau warungnya rame, mereka suruh ngebel kemari, biar aku wirid sebentar.”
“aku segera duduk menghadap kiblat, berdoa pada Alloh supaya warung nya macan ramai pengunjung dan melakukan wirid, baru aku melakukan wirid setengah jam, hpnya macan berdering, dan terdengar olehku macan berbicara, aku tetap konsentrasi dengan wiridku.
“sudah ramai ian, warungnya, katanya sampai antri, dan terpaksa di gelarkan tikar, karena tempat sudah tak muat.”
“syukur Alhamdulillah…semoga bermanfaat, dan bisa menjadikan keimanan mereka menjadi kuat.” kataku mengakhiri wirid.
Malam itu aku tidur di sofa, karena memang rumah Macan sempit, dan cuma ada satu kamar dan ruang tamu, jadi aku tidur di sofa ruang tamu.
Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, aku mau pamit pada Macan. Dan ternyata Macan telah menungguku.
“Aku balik ke pesantren dulu ya can…” kataku sambil meletakkan tasku di dekat pintu.
“Nanti dulu ian…duduk dulu sini, Aku ada masalah serius nih.., nanti aja pulangnya setelah sarapan…” kata macan, dengan mimik muka serius.
“Ada masalah apa lagi can..?”
“Saudara perempuanku ada yang kena musibah…”
“Musibah apa? Apa kecelakaan…”
“Bukan, tapi sakit usus buntu, dan mau di operasi, wah bagaimana nih ibuku minta kiriman untuk biaya oprasi, tapi aku tak punya uang… Apa kamu punya uang ian..?”
“Wah aku juga tak punya, ini ada juga paling tiga ratus, dari kyai dua ratus, dan uangku sendiri seratus, nih pakailah…” kataku mengeluarkan dompet budukku, dan mengambil uang tiga ratusan ribu. Dan menyerahkan pada Macan.
Kami terdiam sebentar, aku menyeruput kopi yang di sediakan Ida istri macan, lalu ku nyalakan rokok djisamsoe filter, tiba-tiba ada ide kuat terlintas di benakku.
“ah kenapa kita tak coba obati sendiri can? Kita mintakan kesembuhan pada Allah, bagaimana?”
Kataku seketika mendapatkan ide, karena aku pernah mendengar kyai mengatakan padaku, jika ilmu yang ku miliki dan ilmunya Macan di gabung, kekuatannya akan teramat dasyat, karena macan di beri ilmu yang bersifat dingin, sebab, macan yang sifatnya gampang emosi, sementara aku di beri ilmu yang bersifat panas, karena sifatku yang lembek, macan aja sering mengolokku, kalau aku ini di tipu orang, maka yang nipu itu akan kesenengan sampai mati karena terlampau seneng.
“ah kalau mengobati dari dekat biasa, tapi dari jauh itu apa bisa? Masak obat di transfer?” katanya ragu.
“ee kamu lupa, selama ini kita mengobati, hanya dengan doa, doa kepada Alloh, dan Alloh itu kuasanya tak ada batas, kalau dia bisa menyembuhkan orang yang di dekat kita, tentu tak sulit bagi Alloh, menyembuhkan orang yang jauh dari kita, sebab, Alloh tak dibatasi jauh dan dekat kuasanya,”
“tapi caranya gimana ian, aku tak ngerti?”
“wah kalau itu aku juga tak mengerti, selama ini, kita kan memang tak di ajar apa-apa sama kyai, tapi jangan takut aku ini kan tukang ngayal, moga-moga Alloh melimpahkan rahmatnya, dan memberikan kesembuhan yang mutlak.”
“lalu bagaimana ian?”
“begini kamu telfon ortumu, saudarimu yang sakit siapa namanya?”
“nafisah..”

Karya : Febrian