Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 58


Soal tower makin ramai, sebenarnya permasalahannya orang ingin agar tower berdiri di rumah mereka, atau di tanah mereka, sehingga bisa mendapatkan uang dari pembangunan tower, jeleknya jika pembangunan tower itu tidak di bangun di tanah mereka atau di bangun di lahan orang lain dan mereka tidak kebagian uang, maka mereka lebih memilih tower itu tidak di bangun, jadi kalau mereka tidak mendapat uang, lebih baik siapa pun tak dapat uang juga, sungguh ironis, memang begitulah kalau hati di liputi iri dengki, jika diri kaya maa sah saja, tapi jika orang lain kaya maka tidak boleh, sebenarnya sifat iri dengki itu hanya merusakkan hati sendiri, jika aku mengungkap buruknya iri dengki menurut pendapatku, maka mungkin orang akan mengatakan bahwa aku ini melakukan pembelaan atas diriku sendiri, maka aku akan kutip beberapa tulisan, sebagai sandaran apa yang ku tulis nantinya tak di tuduh membela keberadaanku.

Apa yang disebut sifat dengki?
“Menginginkan hilangnya kenikamatan dari orang lain/pemiliknya, baik kenikmatan (yang berhubungan dengan) agama maupun dunia.”
Dari pengertian di atas kita dapat memahami bahwa iri dengki tidak hanya menyangkut capaian-capaian yang bersifat duniawi, seperti rumah dan kendaraan, melainkan juga menyangkut capaian-capaian di lingkup keagamaan, misalnya dakwah. Ini juga berarti bahwa penyakit dengki bukan hanya menjangkiti kalangan awam. Iri dengki itu ternyata dapat menjalar dan menjangkiti kalangan yang dikategorikan berilmu, pejuang, dan da’i. Seorang da’i atau mubalig, misalnya, tidak suka melihat banyaknya pengikut da’i atau mubalig lain. Seorang yang mengikuti kepada kelompok atau jama’ah tertentu sangat benci kepada kelompok atau jama’ah lain yang mendapatkan kemenangan-kemenangan. Dan masih banyak lagi bentuk lainnya dari sikap iri dengki di kalangan para “pejuang”.
Tapi bagaimana ini bisa terjadi?
Imam al-Ghazali r.a. menjelaskan, “Tidak akan terjadi saling dengki di kalangan para ulama. Sebab yang mereka tuju adalah ma’rifatullah (mengenal Allah). Tujuan seperti itu bagaikan samudera luas yang tidak bertepi. Dan yang mereka cari adalah kedudukan di sisi Allah. Itu juga merupakan tujuan yang tidak terbatas. Karena kenikmatan paling tinggi yang ada pada sisi Allah adalah perjumpaan dengan-Nya. Dan dalam hal itu tidak akan ada saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yang melihat Allah tidak akan merasa sempit dengan adanya orang lain yang juga melihat-Nya. Bahkan, semakin banyak yang melihat semakin nikmatlah mereka.”
Al-Ghazali melanjutkan, “Akan tetapi, bila para ulama, dengan ilmunya itu menginginkan harta dan wibawa mereka pasti saling dengki. Sebab harta merupakan materi. Jika ia ada pada tangan seseorang pasti hilang dari tangan orang lain. Dan wibawa adalah penguasaan hati. Jika hati seseorang mengagungkan seorang ulama pasti orang itu tidak mengagungkan ulama lainnya. Hal itu dapat menjadi sebab saling dengki.” (Ihya-u ‘Ulumid-Din, Imam Al-Ghazali, juz III hal. 191.)
Jadi, dalam konteks perjuangan, dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas/ketenaran, kalah pengaruh, kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut itu. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).
Penyakit dengki sangat berbahaya. Tapi bahayanya lebih besar mengancam si pendengki ketimbang orang yang didengki. Bahkan realitas membuktikan, sering kali pihak yang didengki justru diuntungkan dan mendapatkan banyak kebaikan. Sebaliknya, si pendengki menjadi pecundang.
Di antara kekalahan-kekalahan pendengki adalah sebagai berikut.
Pertama, kegagalan dalam perjuangan.
Perilaku pendengki sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendeskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibelitas, dan daya tarik orang yang didengkinya dan sebaliknya mengangkat citra, nama baik, dan kredibelitas pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian.
Rasulullah saw. bersabda:
Dari Jabir dan Abu Ayyub al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang Muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang Muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Ath-Thabrani)
Kedua, melumat habis kebaikan.
Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R. Abu Dawud).
Makna memakan kebaikan dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, ‘Ia merugi dunia dan akhirat’.” (‘Aunul-Ma’bud juz 13:168)
Ketiga, tidak produktif dengan kebajikan.
Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat(terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut melainkan mencukur agama.” (H.R. At-Tirmidzi)
Islam yang rahmatan lil-’alamin yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan nikmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar memberi senyum atau, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apa lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak membawa kebaikan alias gundul.
Keempat, menghancurkan harga diri.
Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas/kenyataan, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu watak” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, mencari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan,. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.
Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?
Kelima, menyerupai orang munafik.
Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan prilaku itu sebagai prilaku orang munafik. Abi Mas’ud al-Anshari r.a. mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang Muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang Muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Al-Bukhari dan Muslim)
Keenam, gelap mata dan tidak termotivasi untuk memperbaiki diri.
Pendengki biasanya sulit melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya pula jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mendung kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar 39: 18)
Di sisi lain, pendengki —manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan— cenderung mencari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.
Ketujuh, membebani diri sendiri.
Iri dengki adalah beban berat. Bayangkan, setiap melihat orang yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Nikmatkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Q.S. Al Baqarah 2: 10)
Kiranya cukup ku lanjutkan cerita, sebab ada sebagian pembaca yang mengatakan aku ini hanya membela diriku sendiri, dan menyudutkan kyai lain, padahal sampai-sampai kyai Askan menuduhku nantinya jama’ahku akan ku suruh memegang kemaluanku, sungguh kata-kata seorang yang jika aku tak sabar, niscaya aku marah, tapi aku tau jika Alloh di belakangku, membelaku, maka kata seperih apapun ku diamkan saja, jika aku layani maka aku sama saja gilanya, seperti orang waras yang di tuduh gila sama orang gila, lalu balik menuduh gila kepada orang gila itu, sehingga saling tuduh tak berhenti, dan saling otot-ototan dan sulit di bedakan sebenarnya siapa yang gila.
Askan menyebar undangan, agar semua orang di ajak unjuk rasa, dia sangat sunguh-sungguh berusaha agar tower itu tak sampai berdiri, karena dalam anggapannya aku ini mendapat uang dari tower itu, padahal sama sekali tidak, dan apa yang di anggap itu dinyalakan sendiri, wamro’atuhu khamalatal khatob, dan perempuannya membawa kayu bakar membakar kesana-kesini, dan berusaha membakar hati siapa saja yang di temui, bahkan dalam pemikirannya, aku membangun majlis adalah uang dari tower itu, la apa urusanku dengan tower, maka Askan mengumpulkan orang di masjid, di beri undangan untuk di ajak bersama-sama unjuk rasa, padahal tower tinggal berdiri, dan semua besi sudah ada di tempatnya, pengcoran tanah pembuatan pondasi sudah selesai tinggal nunggu keringnya, tapi ketika orang-orang pada berkumpul memenuhi undangan Askan, dan polisi, camat juga datang, malah Askan bersembunyi tak datang, malah dia sama sekali tak kelihatan batang hidungnya, aku cuma ketawa, jadi ingat seorang calo bis di Pulo Gadung, kalau bis belum berangkat, dia paling ribut, tapi pas bus berangkat, si calo malah tak ikut menumpang.
Aku sendiri sudah mengira akan hal itu, karena aku tau betul siapa itu Askan, walau Askan sendiri tiap hari menjelek-jelekkanku selama ini juga tak berani bicara apa-apa jika di depanku, itu kan namanya jago katai, beraninya lempar batu sembunyi tangan, karena sudah membuat resah dan dia sendiri tak muncul, lalu polisi datang kerumahnya, dan memberikan peringatan, kalau dia tetap memprofokasi warga, maka akan di tangkap, dan jika tower tak jadi maka uang yang telah di bagikan ke warga sekitar tower sebagai konpensasi, dan biaya pembangunan akan di mintakan ganti rugi Askan, di depan polisi, dia jawab iya, iya… tapi selanjutnya apa dia diam, sama sekali, tidak, Askan kembali melakukan gerilya, dari rumah kerumah, agar orang-orang berunjuk rasa, dan agar tower tak jadi di bangun, padahal kalau dia tau, dan mau bertanya dengan sebenarnya, kalau Aku sama sekali tak mendapat uang apa-apa. mungkin dia akan berhenti untuk menyuruh dan meminta orang untuk unjuk rasa, tapi Askan itu selalu mengukur sesuatu dengan pandangan dan pendapatnya sendiri, dan tak pernah mau menerima pendapat orang lain, aku ingat ketika menegur dia, karena memerintah orang-orang agar pasang susuk, jawabannya juga: la emas-emasku sendiri, yang di susuk juga aku sendiri, apa urusanmu melarang, sehingga ketika waktu harga minyak mau naik, dia menimbun berbaler-baler minyak tanah, aku diamkan saja, ya biarlah dosa di tanggung sendiri.
Malah ketika Askan tau, kalau aku akan membangun majlis, dan orang yang membicarakan, di bilang, mengeluarkan kotoran dari mulut, dalam bahasa jawa : ojo kebangeten nek ngetokne tai ko cangkem.., orang miskin mau bangun majlis dari mana?, begitu selalu kata-kata yang di ulang-ulangnya, itulah kenyataan dunia, betapa pentingnya merawat hati, dari penyakit hati, dan penyakit hati itu timbul dari makanan yang kita konsumsi, makanan itu masuk ke mulut dan di proses di perut di ambil saripatinya, dan sebagian menjadi zat-zat yang di perlukan tubuh, dan juga menjadi asupan bagi hati, maka hati yang di beri makan enak sekalipun tapi dari makanan haram, di jamin hati akan nifak, dan di penuhi kepalsuan dan penyakit, yang sebenarnya penyakitnya itu bukan hanya menyusahkan diri sendiri tapi juga akan menyusahkan orang lain.
Semoga Alloh memberi kekuatan bagiku, diriku yang masih muda, dan belum tahan banting, lemah tak berdaya, tiada sandaran siapapun, hanya Alloh tempatku bersandar, dan Alloh insaAlloh akan selalu menjadi penolong bagiku, selama aku selalu dalam ruang lingkup kebenaran, aku ini seperti panglima tanpa tentara, sendiri, dan robbi la tadarni fardan, wa-anta khirul warisiin, wahai Alloh Tuhanku, jangan biarkan aku ini sendiri, dan Engkaulah sebaik-baiknya pewaris. Itu yang selalu ku yakini, Alloh maha mengetahui dan maha melihat hati, segalanya tak lepas dari kuasa dan pengaturanNya, jika aku tak lulus dengan cobaan ini , maka aku juga akan di beri cobaan yang sama bentuknya, aku selalu meminta pada Alloh, agar aku di beri kekuatan untuk sabar, dan mengalah, di beri kekuatan untuk menerima, dan teguh pendirian.
Sampai di sini cerita ini ku tulis, saat cerita ini ku tulis, dan saat tanganku memencet huruf, jam menunjukkan jam 12 malam kurang 5 menit (5-6-2012), sore tadi unjuk rasa di balai desa atas prakarsa Askan ramai sekali, aku hanya melihat dari kaca jendelaku, karena aku sendiri tak ada urusan, karena juga aku sedang menjalani tak ketemu manusia, dan tak bicara, bahkan sama keluargaku, atau istri dan anakku, memang itulah keseharianku, kadang depan rumah sekalipun seharian tak kulihat sama sekali, aku hanya mengungkung sendiri di dalam kamarku, seperti orang lumpuh yang tak kemana-mana…. (karena tak menerima tamu, maka tak ada cerita yang ku tulis, jadi nanti insaAlloh, kyaiku memanggilku ke Banten, insaAlloh aku di minta menyaring cerita orang yang punya pengalaman sepertiku, nanti akan ku kumpulkan, dan ku tulis di cerita ini, sehingga bisa di jadikan sekedar bacaan, atau pelajaran, bagi yang mau menilai hidup dari sisi kenyataan, karena bagaimanapun hidup ini kenyataan….). sekali lagi ku katakan ini tak seluruhnya cerita nyata, dan jika di katakan hayalanku juga boleh… jadi boleh siapa saja menilai dengan penilaiannya masing-masing karena ini sekedar cerita.
 
 
Karya : Febrian