Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 57


“Lalu siapa nama kakak orang yang kamu hutang padanya itu?” tanyaku pada Suhandi yang masih kelihatan bingung dan takut karena akan di ciduk polisi.
“Namanya Ahmadi, kata orang daerahnya dia itu ilmu kejawennya tingkat tinggi.” jawab Suhandi.
“Ya itu nanti biar aku yang akan mengurus, kamu urus saja urusan dzikirmu itu, jangan sampai punya hutang, masak dzikir juga di hutang…”
“Iya mas, akan saya penuhi semua dzikirnya, tapi kadang saya ndak sadar tidur sendiri kalau lagi dzikir.”
“Seseorang itu kalau punya kemauan kuat ya tak akan tidur, sebab keinginan kuatnya mengalahkan kantuknya, kenapa keinginan kuatnya bisa mengalahkan kantuknya, karena keinginan kuatnya punya landasan alasan yang kuat, contoh seorang petani, yang pergi berpanas-panasan ke sawah, untuk nyangkul sawahnya, walau panas dia tetap saja menyangkul, bukannya lihat hari akan sawah lantas membatalkan pergi kesawah, jika kok dia tiap panas membatalkan pergi kesawah, dan tiap hari panas kan sawahnya jadi tak pernah di cangkuli, dan berarti sawahnya tak akan pernah ditanami, kenapa dia panas-panas memaksakan diri pergi kesawah, dan tak memperdulikan panas tetap saja menggarap sawahnya, karena dia mengharap sawah yang di tanamnya nantinya akan panen, panen itu kan tak terlihat ketika si petani itu menyangkul sawah, tapi kenapa dia tetap menyangkul dan menggarap sawahnya, walau panen belum kelihatan sama sekali, sebab dia punya keyakinan kalau akan panen nantinya, sama dengan orang yang menjalankan amaliyah, kenapa seseorang itu jadi semangat dan tak perduli kantuk dan kaki kesemutan untuk menjalankan amaliyahnya? Karena dalam diri ada keyakinan kalau nantinya akan memetik buah manis dari tanaman amaliyah yang dia panen, dan dirinya yakin kalau Alloh itu la yukhliful mi’aad, tidak mengingkari janji.”
“Iya mas saya paham, saya akan menjalankan apa yang mas perintahkan.”
“Ini tergantung dirimu sendiri, kalau kamu meninggalkan, ya aku sendiri percuma mendo’akan, ya nanti di jalani saja hidup di penjara.”
Hari itu, Suhandi pulang dengan keseriusan ingin menjalankan amalam, sementara jama’ah majlisku yang lain mendapat tawaran tanahnya di sewa mendirikan tower seluler, ada dua orang yang ikut majlisku yang mendapat tawaran tanahnya di sewa untuk pendirian tower seluler senilai 200 juta masa sewa sepuluh tahunan, cuma yang satu laporan padaku dan yang lain tak laporan, yang laporan padaku minta ku do’akan agar prosesnya lancar, tanpa gangguan apapun, dan jika berhasil, dia menjanjikan akan memberangkatkanku umroh sekalian dengan istriku. Aku hanya tertawa, karena hal seperti itu biasa, biasa kadang ada orang sakit datang lalu bilang, nanti kalau aku berdo’a dan penyakitnya ternyata sembuh, aku akan di kasih motor, atau di belikan mobil pokoknya janji-janji, tapi setelah sembuh uang seperakpun tak keluar, orang itu selalu mudah memberikan janji, kalau lagi butuh tapi akan mengingkarinya kalau kebutuhannya sudah terpenuhi.
“Ah ndak usah janji yang muluk-muluk, pasti saya do’akan, ya kalau mau bantu, bantu saja uang secukupnya dan seikhlasnya untuk pembangunan majlis, karena ini soal bisnis, jadi sekalian di perjelas, maunya bantu berapa, kalau towernya sukses?” tanyaku.
“Baik akan ku beri 5 juta.” jawab jamaahku itu.
“Ya ndak papa, kalau ikhlasnya segitu, insaAlloh akan ku do’akan agar prosesnya lancar.”
Dan tower ku do’akan dan sekarang sudah tarap pembangunan, tapi memang apa yang di janjikan padaku akan tak di beri, ya aku sendiri tak mempermasalahkan itu, dan jama’ahku yang satunya yang juga mendapat tawaran pendirian tower di tanahnya jadinya gagal, jika Alloh berfirman almu’minatu bil mu’minati, assholikhatu bissholikhati, alqonitatu bil qonitati, azzaniyatu bizzaniyati, kata gampangnya orang yang jahat itu akan kumpul dengan orang jahat, orang baik cocoknya akan kumpul dengan orang baik, orang ikhlas akan kumpul dengan orang ikhlas, dan kumpulan orang-orang itu akan sesuai dengan masing-masing kecocokannya sendiri, malah tanah dan rumah yang sebelumnya oleh orang mau di wakafkan untukku, sekarang ku tanya malah di mintai membayar artinya aku harus beli 350 juta, padahal sebelumnya sudah mau diwkafkan untuk kepentingan majlisku, ya mungkin ini cobaanku dan Alloh menunjukkan yang terbaik bagiku, daripada nantinya sudah ku dirikan majlis kemudian di suruh bayar atau tanah di minta kembali, memang lebih baik di beli, walau uang serupiahpun sebenarnya aku tak pegang, karena memang aku sendiri tak punya pekerjaan yang di andalkan, kerjaku hanya memimpin majlis dzikir dan jika ada yang minta tolong ku tolong do’akan, walau aku tak di beri apa-apa, juga tak papa, asal bisa berguna untuk orang lain, dan ternyata Alloh belum selesai mencobaku dengan masalah pendirian majlis, Askan sudah gembar-gembor ingin menggagalkan soal pendirian tower, dia menghasut semua orang yang di sekitar tower agar tak menyetujui, tentang pendirian tower, dia mengatakan kalau tower itu berbahaya, bisa mengakibatkan tumor otak, air dalam tanah akan berubah, bahkan bisa merobohi orang, dan siapa yang akan nanggung, anehnya aku yang di bawa-bawa, di bilang kalau aku ini orang miskin yang tak punya apa-apa tak sekolah mau merusak, karena di ikuti, terjadilah ribut, sampai di adakan sidang di balai desa menghadirkan polres dan camat setempat, dan masalah pun di selesaikan, tapi setelah itu, Askan kemudian menghasut dan memprofokasi orang-orang agar pendirian tower gagal, dan tower tak jadi berdiri, padahal rumah Askan dengan tower itu berjarak satu kilometer, dan dia bukan warga desa yang ku tempati tapi desa lain, tapi tetap saja Askan mengusahakan agar tower tak jadi di bangun, dengan meminta orang-orang unjuk rasa, padahal semua orang yang di sekitar tower sudah memperolaeh dana konpensasi, dan akhirnya Askan mengajak orang yang rumahnya jauh dari tower, mau di ajak unjuk rasa, dan saat tulisan ini ku tulis, oleh desa Askan akan di laporkan polisi, karena memprofokasi warga, malah semua pengurus masjid di adu, terjadilah perpecahan dalam kepengurusan masjid, sebagian memihak Askan dan sebagian memihak tower bisa di dirikan, karena tower ada di belakang masjid, tapi anehnya balik-balik Askan menjadikanku alasan dalam permasalahan tower, padahal aku sendiri tak ikut ngurus apa-apa, sementara aku lebih memilih menyibukkan diri dalam urusan majlis dzikirku.
Rupanya Alloh akan menunjukkan rahasia lain dalam urusan pembangunan majlisku, di antara cercaan Askan, dan tanah yang akan di bangun majlis di mintai pembayaran, Alloh mendatangkan orang-orang yang hatinya sebening embun datang berbondong-bondong mentrasfer uang ke rekeningku, dalam rangka pembangunan majlisku, teman-teman internetku, aku jadi terenyuh haru, begitu indahnya Alloh membuat bukti kebesarannya, walau masih jauh dari kebutuhan, setidaknya itu sudah membuatku terhibur, Alloh masih memperhatikanku dengan perhatian yang sangat indah, mendatangkanku orang-orang yang hatinya bening, ikhlas dan tanpa ragu-ragu mencurahkan sebagian dananya untuk membantu pembangunan majlisku, memang Alloh mengumpulkan orang ikhlas hanya dengan orang ikhlas, orang mukmin, dengan orang mukmin, dan bantuan anehnya terus mengalir, dan terus mengalir, semoga dalam waktu dekat semua tanah yang akan ku dirikan majlis cepat terbeli, dan majlis segera terbangun, aku yakin kalau Alloh itu memilihkan aku jalan terbaik dan teman-teman terbaik, dan memberikan jawaban bahwa perjuanganku nanti tak akan sia-sia.
Malam ini aku akan menyelesaikan urusan Suhandi, tengah malam aku berangkat ngeraga sukma ke rumah Ahmadi, aku melesat menuju Kajen, di suatu pemakaman yang di keramatkan aku berhenti, sebelumnya ada pondok putri, sebenarnya secara pribadi aku sendiri tak tau kenapa aku melesat ke arah sebuah pemakaman, yang di pagar bambu yang di sigar-sigar, aku berhenti di antara gundukan tanah, karena memang pemakaman itu jalannya naik turun, ku lihat seorang pemuda keluar dari pemakaman, dia membawa seekor ular kecil yang sudah di potong kepalanya, entah untuk apa, ku ikuti pemuda itu, mungkin ini pemuda yang bernama Ahmadi, ku ikuti terus pemuda itu berjalan melewati gerumbul semak perdu dan menuju ke arah sungai, sungai yang lumayan besar, dan banyak pohon rindang dan besar di sekitar sungai, aku kuti terus pemuda itu, aku ingin tau apa maksudnya pemuda itu di malam-malam yang sudah larut kok pergi ke sungai, sementara aku bebas melayang di antara ujung daun, tanpa kawatir pemuda itu mengetahui keberadaanku, karena aku dalam bentuk sukma yang tak terlihat, aku masih memperhatikan pemuda yang ku yakin bernama Ahmadi. Pemuda itu lalu menyalakan menyan, dan membakar ular yang di bawanya di bawah sebuah pohon besar, dan dia sendiri bersemedi, samar-samar dari dalam pohon keluar bayangan, awalnya hanya berupa asap putih, lalu membentuk perwujudan seorang perempuan, perempuan yang cantik, tapi aku merasa itu hanya bentuk buatan yang di cipta jin itu, lalu antara wanita jin dan pemuda itu saling menyalurkan hasratnya, aku masih melihat dari puncak pohon, lalu setelah kedua mahluk berlainan jenis dan alam itu selesai menumpahkan nafsunya, nampak jin perempuan itu memberikan sebuah buah mirip buah jambu kepada pemuda itu dan menyuruhnya memakan, lalu kedua mahluk berlainan jemis itu berpisah, sedang jin yang berbentuk perempuan itu melayang kembali ke atas pohon tua, aku segera melesat menghadangnya.
“Siapa kau…!?” kata jin perempuan itu kaget, karena aku tiba-tiba da di depannya.
“Seharusnya aku yang bertanya siapa kau….?” tanyaku.
“Kau panas…, menjauh dariku…,” katanya sambil mundur.
“Kau pasti jin fasik, apa yang kau lakukan dengan pemuda dari manusia itu?” tanyaku.
“Apa urusanmu….”
“Baik kalau kau tak mau menjawab…itu terserahmu.” kataku, sambil membatin lafad Alloh di dadaku, dan dari dada memancar cahaya yang menyambar jin itu, dia terlempar sampai daun pohon berhamburan karena di terjang tubunya yang terlempar oleh sambaran cahaya dari dadaku, dan nampak tubuhnya hangus dan mengeluarkan bau daging terbakar.
“Aduuuh…. ampun…ampuuuun…, panaaas.., panaaas, ampuuun…!,” dia mengaduh-aduh tiada henti, dan tubuhnya tergeletak tanpa daya di bawah pohon, tempat tadi dia berhubungan badan dengan pemuda.
“Bagaimana? Apa sekarang kau mau merasa sok-sokan di hadapanku? atau menjawab saja apa yang ku tanyakan, atau lebih memilih ku cairkan menjadi cairan minyak?” bentakku dengan suara tetap pelan.
“Aduh ampuun…, tuan ini manusia atau malaikat…?”
“Kalau malaikat hanya menuruti perintah Alloh, tapi aku punya amarah dan kehendak.., bisa saja aku menghancurkanmu, jika kau tak menjawab pertanyaanku,”
“Iya-iya, aku akan jawab…”
“Siapa pemuda yang kau ajak berbuat zina itu?”
“Dia meminta ilmu dan perjanjian denganku.”
“Paling kau hanya menyesatkannya, siapa namanya dia?”
“Dia bernama Ahmadi, dia sudah lama meminta ilmu dan kesaktian padaku, dan imbalannya dia mau bersetubuh denganku, dan selama ini dia mendapatkan ilmu dan kelebihan yang aneh-aneh dariku.”
“Kalau begitu sekarang ku perintahkan, kau cabut semua ilmumu dari pemuda yang bernama Ahmadi itu..”
“Mana bisa seperti itu.., ilmu itu sudah ku berikan, dan dia juga memberikan kepuasan padaku.”
Ku konsentrasikan lafad Alloh di dada lagi, segera sambaran cahaya, menyambar seperti sambaran kilat menghajar jin perempuan itu, dia menjerit melengking, mencoba kabur, tapi sambaran cahaya dari dadaku seperti begitu saja memenuhi perintahku, langsung mengurung jin perempuan itu dalam diameter yang makin sempit dan mengecil, jin perempuan itu menjerit-jerit melengking tapi tak berani sama sekali bergerak, karena cahaya itu jika tersentuh oleh kulitnya, maka kulitnya langsung mengeluarkan asap dan tercium bau hangus danging menyengat, aku tau banyak jin di sekitar yang memperhatikan, tapi tak berani berbuat apa-apa, malah berusaha menjauh.
“Bagaimana apa kau masih tak mau mencabut kembali ilmu hitam yang kau tanam di tubuh pemuda itu, maka akan ku biarkan kau terkungkung dalam cahaya itu,”
“Iya… iyaaa… aku mau, aku mau mencabutnya, tolong hilangkan cahaya ini, aduuuh panasss, paanaaas…!”
“Baik , besok kalau ku lihat dia masih punya ilmu hitam di tubuhnya, maka kau tak akan selamat…, ingat itu..!”
Aku berlalu, dan cahaya yang mengelilingi jin itu hilang, dan ternyata jin itu telah berubah menjadi rupa nenek-nenek yang teramat jelek, wajahnya di penuhi benjolan, dan kerutan tak karuan. Aku melesat lagi, mengikuti tarikan tenaga takdir yang membawaku, bagaimana saja Alloh menghendaki aku ikuti, seperti angin yang di bawa aliran hembusannya, dan sepert air yang mengalir selalu melewati alirannya, sampai di persawahan, tiba-tiba seorang perempuan setengah tua mennyapaku, dia berpakaian seperti orang jawa zaman dulu, dengan sanggul di kepalanya, dia melayang di atas padi dan sepertiku, aku merasa orang ini sudah berupa ruh, dia berhenti di depanku, dan mengucapkan salam, lalu ku jawab salamnya.
“Maaf siapa ibu..?” tanyaku.
“Saya ibunya Ahmadi.”
“Tapi ibu….”
“Ya saya sudah lama meninggal, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena anak ini sudah menolong anakku dari jeratan jin fasik itu, sekali lagi terima kasih, jika anak ini ingin ke rumah anakku, dan ingin tau rumah anakku, mari silahkan, biar saya antar.” kata perempuan itu yang mendahuluiku, melayang ke arah desa di depan, dan jalanan menurun.
Aku mengikuti dari belakang, perempuan itu menceritakan keluarganya sambil jalan, dan menceritakan pekerjaan anaknya yang menghabiskan kekayaan keluarga, sehingga kemudian terseret mengamalkan ilmu sesat, ibu itu merasa prihatin tentang nasib anaknya, tapi tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya sebentar sampai di rumah ibu itu dan kembali pulang, karena aku rasa tak banyak kepentingan bagiku mengurusi kehidupan rumah tangga orang.
Beberapa hari kemudian Suhandi menelponku katanya di panggil kepolisian, karena masalahnya, tapi sorenya sudah nelpon lagi katanya kakak orang yang dia punya hutang pada orang tersebut sudah tidak menagih hutang padanya, dan mencabut tuntutan, dia bilang merasa aneh, kok sebelumnya si Ahmadi ngotot-ngotot, ingin memenjarakannya, tapi kok sekarang sudah tidak lagi.
Sementara itu Askan sudah ribut membakar orang kampung untuk di ajak unjuk rasa agar pembangunan tower di gagalkan, padahal pembangunan tower sedang berlangsung, dan pembangunan pondasi tengah di jalankan, Askan membuat undangan untuk mengumpulkan orang di masjid, untuk di ajak menggagalkan pembangunan tower, dia mengatakan tower itu milik orang kristen, tak boleh berdiri di belakang masjid, hukumnya haram, padahal dalam urusan pekerjaan orang islam itu sah berdagang dengan agama manapun, yang tidak boleh itu dalam urusan beribadah, setiap agama mempunyai keyakinan, tempat ibadah, dan cara ibadah masing-masing, tapi kalau soal urusan pekerjaan maka tidak ada hukum yang melarang seorang muslim bekerja dengan selain muslim, sebab di dunia ini kehidupan manusia itu majmuk, Nabi sendiri pernah melakukan dagang dengan orang yang bukan islam, yang di larang adalah mencampur adukkan cara ibadah dan tempat ibadah, juga pengamalan ibadah, dan keyakinan, kalau soal pekerjaan, maka siapapun asal cara bekerjanya benar, maka boleh di ajak bekerja sama.
Orang-orang pada meributkan soal pembangunan tower, juga Askan sudah berhasil memecah belah pengurus masjid menjadi dua kelompok, satu kelompok, menantang, jika tower berdiri, maka kelompok itu tak akan menginjakkan masjid lagi, juga kelompok yang lain, mengancam jika tower tak berdiri, maka kelompoknya tak akan menginjakkan kaki di masjid lagi, aku hanya melihat saja, menurutku, memang Askan jika termasuk sukses jika menjadi syaitan yang bisa memecah belah umat, dan aku hanya ketawa, karena tau betul apa hasil akhirnya, walau Askan masih aktif menjelek-jelekkanku.



Karya : Febrian