Tuesday, June 12, 2012

Sang Kyai 47


“Pak Tohir ini menjalankan toreqoh sudah berapa tahun?” tanyaku.
“Ya sudah lama sekali, mungkin sudah duapuluh tahun, la umurku sudah hampir enampuluh kok mas kyai.” jawab pak Tohir.
“Lama juga ya…”
“Ya anehnya kok hidup saya susah terus, ya rizqi sih cukup, ya semua anak saya juga kuliahan, tapi cukup untuk itu saja.” jelas pak Tohir.
“Ya yang penting di syukuri.”
“Saya kesini juga ingin menjadi murid panjenengan, melihat panjenengan seperti itu, masih muda, ilmu apa saja ada, kelebihan juga menakjubkan, sampai tak masuk di akal, saya jauh-jauh juga mendengar pembicaraan orang akan kelebihan panjenengan, sedang guru mursid di Pekalongan itu juga kan banyak, tapi kenapa mereka tidak memiliki kelebihan yang panjenengan miliki?” kata pak Tohir.
“Saya itu manusia kosong, tak ada apa-apanya pak Tohir, apa yang saya miliki ini semata-mata anugerah Alloh, kapan saja bisa di minta kembali, jadi saya hanya ketitipan menjaga, titipan dari guru saya, karena saya di serahi menjadi pemimpin Jawa Tengah, maka saya juga di bekali kelebihan, jadi bukan masalah saya sakti atau hebat, ya kalau saya sendiri ya sama dengan panjenengan, jadi ini bukan karena saya mempelajari atau tekun, tapi karena saya kepasrahan amanat, jadi di dukung dengan pakaian kebesaran, ya kalau kedudukan saya di cabut oleh Alloh karena saya seenaknya sendiri menyelewengkan kepercayaan yang di amanatkan pada saya, ya bahayanya besar, sebab langsung urusannya sama Alloh.”
“oo begitu rupanya.”
“Ya sebenarnya siapa saja bisa menjadi seperti saya, wong dalam toreqoh itu di samping istiqomah menjalankan amaliyah, puasa siang hari, dzikir di malam hari, di lakukan dengan konsisten, sehingga menjadi suatu amal yang seperti membuang kotoran di kamar kecil, kebiasaan yang tidak di pikirkan, karena biasa, menjadi ikhlas dengan sendirinya, karena amal telah menjadi kebiasaan bukan suatu hal yang aneh, yang menjadikan hati bangga, lalu menjaga makan dari makanan haram dan subhat yang tak jelas halal haramnya, menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, lebih baik diam jika tidak bisa bicara yang tak ada manfaatnya, menjaga orang lain jangan sampai tersakiti, selalu berkasih sayang pada siapa saja, menghilangkan iri, dengki, hasad, sombong, loba, tamak, riak, ujub, membanggakan amal, buruk sangka, kikir, maka bisa mendapatkan anugerah dari Alloh, dan semua itu tak bisa di capai, jika tanpa ada yang mengarahkan dan membimbing, saya di arahkan oleh guruku, maka bapak ku arahkan, bukan saya lebih mulya atau lebih hebat, tapi hanya karena saya sudah pernah lewat jalannya, jadi saya bisa tau jalan daripada orang yang belum pernah melewati jalannya, jadi bukan karena saya lebih baik dari bapak, dan seorang murid itu harus takdzim, hormat kepada guru, bukan juga karena gurunya hebat, sekalipun guru itu anak kecil yang miskin dan yatim yang tak punya apa-apa, maka seorang murid tetap harus taat pada guru, takdzim, mengagungkan, bukan mengagungkan jasad guru, tapi mengagungkan ilmu yang di titipkan Alloh yang bersanad menyambung pada Nabi SAW, jadi bukan tentang siapa gurunya, kalau jasad lahir guru maka sama dengan jasad yang terdiri dari darah daging, tapi ilmu toreqoh itulah yang menjadikan guru itu utama, dan di hormati, sebab seorang guru itu di pilih oleh Alloh, tidak bisa ilmu toreqoh itu di titipkan kepada seseorang yang bukan di bidangnya, beda dengan ilmu IPA, biologi, sains, siapa saja mau mempelajari maka akan bisa mempelajari dan memperoleh predikat profesor, tapi kalau guru mursid toreqoh, tidak bisa semua orang menjadi seorang mursid, walau puluhan tahun belajar, sebab yang menjadi mursid dan kedudukan itu di pilih oleh Alloh, apa saya sendiri mengajukan diri untuk di pilih, la setitik debu saja saya tak ingin menjadi pemimpin dan punya kedudukan dalam toreqoh, sebab bagi saya berat, amanah yang sangat berat, tapi karena sudah di letakkan di pundakku, maka aliran darah saya, degup jantung saya, adalah toreqoh, setiap langkah saya adalah toreqoh, lihat saya sama sekali tak kerja apa-apa.
Karena jika toreqoh itu ibarat air sungai yang mengalir, dan saya itu orang yang mandi, lalu hanyut dan menjadi ikan, sehingga jika saya di pisahkan dari air, maka saya akan megap-megap, sebab saya membutuhkan air.” kataku panjang lebar.
Orang yang ada semua terdiam.
“Orang itu di dunia ini di ciptakan untuk mengabdi kepada Alloh, pengabdian itu bukan untuk Alloh, sebab Alloh tak butuh pengabdian siapapun, tapi untuk diri pengabdi itu yaitu kita, mengabdilah pada Alloh sampai engkau di datangi keyakinan di hatimu, dan keyakinan itu hadir karena adanya sebab yang terlihat sehingga menimbulkan keyakinan, dan adanya sebab itu benar-benar menimbulkan akibat, orang memegang pisau, melihat tepi yang tajam dari pisau dan dia pakai mengiris daging, menjadikan dia tak ragu mengiris karena melihat hasil irisan awal yang mudah memotong daging, sehingga irisan selanjutnya tak ada keraguan.
Sama soal ibadah, bisa menimbulkan yakin sebab melihat hasil dari apa yang diharap terjadinya, misal berdo’a, maka menjadi yakin setelah pernah melihat dengan mata kepala sendiri kalau do’anya di ijabah Alloh, makanya bapak dan semua yang hadir terijabahnya do’a itu bisa kita lihat hasil nyatanya, kalau kita sendiri tak terpisah dari do’a, sudah seperti tangan yang memegang pisau, dan tak bisa di bedakan mana tangan dan mana pisau, sebab gerakan maju mundurnya mengiris seirama, kita itulah pisau, pisau ya kita itu, sebab penyatuan kehendak, antara pisau dan kita sendiri, sebab penyatuan kehendak antara kita, do’a dan pemberi ijabah yaitu Alloh, sebab adanya Alloh di hati setiap waktu, setiap tarikan nafas, dan setiap bergerak dan berhenti.”
“Wah aku rada kurang paham…hehehe.. maaf pak kyai.”
“Ndak papa… , manusia itu sebenarnya kalau menyandarkan pada kecerdasan dan pemahaman sendiri, maka akan dangkal dan pendek pemikirannya, bos pabrik kain sutra, kok dia dari menanam bibit kepompong di jalankan sendiri, nyangkul tanah, menanam bunga tempat kupu bertelur sampai memanen kepompong itu di jalankan sendiri, lalu mengurai benang kepompong di lakukan sendiri, menjadikannya kain di lakukan sendiri, sampai menjahit kain di lakukan sendiri, setelah jadi pakaian lalu di jual sendiri, ku ragukan kalau tiga tahun orang itu akan bisa membuat pakaian satu, sama dengan amaliyah, jika kita fardan atau sendirian mengandalkan amal sendiri, maka lama sekali orang itu akan maju, la amalnya sendiri saja masih di ragukan bisa menembus langit tuju, apa tidak bisa menembus, karena ketidak adanya keikhlasan amal, atau sebab lain entah makanannya yang selalu haram, atau diri yang sombong, dan melakukan sesuatu yang menjadikan diri terhalang amal bisa menembus ke langit, dan mendapat ACC dari Alloh bahwa amal kita itu pantas di terima, maka dari itu kita butuh pendukung, kaya orang membuat pakaian sutra, jika ingin produksi sehari jutaan kodi, maka butuh petani kepompong, butuh pekerja pemintal benang sutra, penjahit, pemasaran, maka jadilah pabrik, sama dengan ibadah, butuh penyokong ibadah kita, ajak orang lain, maka kita akan mendapat apa yang di kerjakan orang itu malah langsung di terima di sisi Alloh sebab tidak berhubungan lagi dengan ikhlas tidaknya dengan orang yang kita ajak, seperti orang yang punya karyawan penjahit, maka akan menerima pakaian yang di jahit karyawan itu, tak perduli karyawan itu punya utang di luaran, tetapi itu bukan urusan kita.”
“Nah kalau ini aku paham,” sela pak Tohir.
“Juga kita butuh penyokong amal, jika kita tidak bisa mengajak orang lain untuk beramal, umpama kita tidak bisa mendirikan perusahaan, kenapa kita tidak tanam modal dalam perusahaan, jika tidak bisa mengajak orang lain melakukan amal ibadah, kenapa tak menyokong orang yang beribadah dengan harta yang kita miliki, setiap ibadah itu di lakukan kita akan mendapat bagian dari modal yang kita tanamkan, semakin besar modal yang kita tanam maka akan makin besar bagian yang kita dapat, teori tentang tanam modal orang bisnis semua juga tahu, seperti kita menanam modal di pabrik, kok di pabrik ada karyawan yang sakit maka tidak akan mempengaruhi penanam modal, penanam modal akan tetap memperoleh bagian selama pabrik itu tidak gulung tikar, begitu juga orang yang melakukan amaliyah menanam modal misal memberi dana kepada majlis dzikir, maka penanam akan mendapat hasil bersih dari apa yang di tanamkan, jika pabrik makmur, artinya semakin banyak jama’ah yang ikut akan makin banyak penanam modal menerima bagian itu tak mempengaruhi antara ikhlasnya pendzikir dan akibat atau hasil yang di capai penanam modal. Selama majlis itu berdiri maka selama itu juga penanam akan mendapat bagian sesuai modal yang di tanam, dan itu akan terjadi dan kita lihat hasilnya jika kita praktekkan, segala sesuatu seribu tahun hanya teori tanpa di praktekkan, maka jangan harap ada hasilnya, nah praktek kemudian melihat hasil yang di capai, dengan kepala sendiri ini di namakan ainul yaqin dan setelah mempraktekkan lalu melihat hasil lalu menambah-nambah perbuatan serupa ini di namakan haqul yaqin, seperti orang yang tak ragu mengiris daging karena mengiris yang pertama hasil potongannya sempurna. Maka kedua dan seterusnya tak lagi ragu memotong daging, sebab telah yakin potongannya bagus.”
“Maaf kyai, kalau saya ini kenapa di ikuti jin?”
“Oh ya tadi itu kenapa bapak sampai jatuh berguling?, Karena bapak biasanya di sokong khodam jin, dan waktu masuk rumahku jinnya tak berani masuk, lantas bapak yang biasanya di sokong kemudian jalan sendiri, jelas jadi lemah dan terasa pening yang teramat sangat.” jelasku.
“Lho kyai, bukankah saya itu mengamalkan toreqoh, kenapa di ikuti jin?” tanya Tohir.
“Begini setiap amaliyah zikir yang di jalankan, itu pasti akan ada jin yang mendekat, jika ada jin atau syaitan yang mengganggu, jin yang mendekat ada yang mau mengganggu, ada juga yang mau menjadi khodam, jika kita di datangi jin yang akan menjadi khodam kemudian kita terima, maka ya sudah kita mentok sampai di situ, dan tak lagi beranjak mendekat pada Alloh, tapi jika kita tolak, maka kita tak apa-apa, arti kata kita tolak itu dalam perbuatan bisa saja luas, misal tidak di perduli, dan terus istiqomah dzikir, setelah itu akan ada malaikat yang datang untuk menjadi khodam, dan kita juga kalau menerima, maka kita akan mandek sampai di situ, tak lagi beranjak mendekat pada Alloh, la malaikat itu kan memang sudah di ciptakan untuk melayani manusia, ya ndak usah kita minta, atau kita terima, mereka itu kan kodratnya melayani.”
“Apa buktinya kalau malaikat itu pelayan manusia?” tanya Khusain salah satu tamuku.
“Kan jelas, kita ini beramal baik atau buruk sudah ada malaikat pencatat amal baik di pundak kanan, dan malaikat pencatat amal buruk di pundak kiri, kita tak usah mencatat sendiri, yang akan menghabiskan beberapa juta kertas tiap bulan, juga kita mau hujan, ada malaikat yang manurunkan hujan, kita amal mau di kirim ke langit kita juga tak usah repot nunggu pak pos, sudah ada malaikat yang mengantar amal kita ke langit.”
Datang suami istri masuk ketika kami bicara, setelah bersalaman denganku yang lalu mereka nimbrung, aku lihat perempuannya, aku kaget, karena ku rasakan jin yang kuat, mengikutinya, ku katakan kuat karena sudah kuat masuk rumahku yang ku pagar gaib.
“Ibu ini ada keperluan apa?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan kepada perempuan yang baru datang.
“Ini pak kyai, saya kakinya sakit, dan entah kenapa kayak ada yang nggandoli.” jelasnya.
“Ibu kerjanya apa?” tanyaku.
“Saya kerjanya memandikan mayat.” jawabnya.
“hm pantes..! sebentar ya bu.” aku bangkit, dan mengambil air mineral, lalu ku tiup dengan do’a.
“Tolong ini di minum bu…” kataku sambil menyerahkan air mineral, dan segera di minum ibu tersebut.
Ku rasakan jin keluar dari tubuh ibu tersebut dan lari, ku biarkan saja.
“Coba bu, di rasakan kakinya, di pakai berdiri, dan jalan.” kataku. Lalu ibu itu berdiri dan jalan.
“Bagaimana bu, masih ada yang sakit dan berat tidak kakinya?” tanyaku.
“Sudah enteng dan ringan.” jawabnya.
“Maaf ya bu…, ibu ini pernah memandikan seorang yang mati, dan orang itu melakukan laku pesugihan, dan jin yang di ajak melakukan amal pesugihan itu nempel ke ibu, tadi saya lihat heran kok jin masuk ke rumahku dengan minta gendong ke ibu, makanya saya cepat ibu minum air agar dia lepas.” jelasku.
“Wah kok menakutkan to pak kyai…?, tapi memang ini saya alami sejak saya memandikan seorang perempuan yang meninggalkan rusak wajahnya, dan sakit yang di kaki saya itu kok sering jalan.” kata Ibu itu.
“Ya ndak papa, sekarang sudah pergi, jadi tak usah di takutkan lagi.”
“Anu pak kyai, saya punya cucu di Jakarta, ini baru menempati tempat kontrakan baru, tapi terus-terusan kok anaknya nangis terus tiap hari, apa bisa di bantu pak kyai.” cerita ibu itu.
“Cucunya itu umur berapa bu?” tanyaku.
“Umur 5 tahun pak.”
“Suruh saja menyediakan air, nanti ku transfer, tolong bilang anaknya di kasih minum air itu, dan airnya di pakai memandikan anaknya sebagian, dan sebagian lagi di pakai mengepel rumah ingat jangan sampai ada yang tertinggal, artinya semua tempat di pel,”
“Kalau tempatnya ada barang-barangnya bagaimana pak kyai?”
“Ya kan bisa di semprot memakai semprotan air yang kayak semprotan untuk setrikaan.”
“oo gitu ya pak.?”
“Iya soalnya kalau tidak nanti kayak kemaren ada yang kesini, anaknya rewel, lalu ku kasih air, dan ku suruh mengepel semua, artinya semua tempat harus kena cipratan air, nah pada saat itu ada yang terlewat yaitu di atas lemari, dan anaknya tetap menangis, katanya kalau melihat ke lemari menangis sambil takut dan menyembunyikan diri, ya karena atas lemari tak di pel, maka jin yang menyerupai kunti itu duduk di atas lemari, jadi anaknya melihat.” jelasku.
“Iya makasih penjelasannya kyai,”
“Kalau gitu saya telponnya dulu kyai…”
“Iya.. suruh saja sedia air,”
Sebentar ibu itu menelepom.
“Maaf kyai, airnya baru di carikan, apa ada syarat lain pak?”
“Ini air yang aku transfer sifatnya sementara, jadi hanya untuk kepeluan yang mendadak saja, jadi entah di bulan berikutnya, bisa saja jin itu akan kembali lagi.”
“La saya harus bagaimana pak?” tanya Ibu itu.
“Ya biar tidak kembali lagi, maka sebaiknya rumahnya di pagar dengan di tanami batu kerikil yang di tanam di pojokan rumah.”
“Begitu ya pak kyai?”
“Iya, agar jinnya tak kembali lagi, air dan batu itu bukan apa-apa, tak ada apa-apanya, saya hanya mentransfer do’a ke air itu, dan mengisikan do’a ke batu itu…”
“Iya pak kyai, saya paham.”
“Kebetulan, dua hari lagi saya sudah ada rencana ke jakarta, jadi apa besok batunya sudah bisa saya bawa?”
“Bisa, besok saja kesini lagi.” kataku.
“Baik kami berdua mohon diri.” kata Ibu itu.
“Hp ku bunyi.” ku lihat ternyata dari Ibuku di Tuban.
Ku jawab salam lalu ku tanya.
“Ada apa Bu?”
“Ini di minta menyampaikan pesannya pak Muhadi, kakinya sudah sembuh, dan terimakasih banyak, gitu bilangnya.”
“Iya bu.”
…………………………………………..
Dalam niat, kita selalu membekali gerak dan laku dengan niat itu, menjadi bernilai atau tak bernilai setiap perbuatan amaliyah, di sandarkan pada niat awal akan melakukan suatu perbuatan, jika kita menjalankan amaliyah dengan di sertai niat ikhlas karena semata-mata memenuhi semua perintah Alloh, maka semua gerak selangkah atau setengah langkah, setarikan nafas sekalipun akan bernilai pahala.
Betapa pentingnya menata niat di hati, jangan sampai sudah seribu perjalanan kita tempuh, tapi semua hanya perbuatan sia-sia, seorang yang berakal dan selalu menghitung dengan akalnya, akan menimbang, betapa pendek umur kita di dunia, seandainya banyak sudah perjalanan di tempuh, dan ternyata kebanyakan sia-sia, sedang umur itu mendekati ajal, kontrak kita di dunia itu setiap waktu berkurang masanya, kalau seseorang tak juga menyadari maka pasti akan merugi.
Jika bapak kita mati, ibu kita mati, nenek kita mati, kakek kita mati, apalagi kita yang menjadi anaknya.
Siapa yang bertaqwa pada Alloh, maka Alloh akan memberi jalan keluar terbaik dari permasalahan, dan akan di beri rizqi yang tidak bisa di sangka-sangka datangnya.
Jika seseorang tak memotifasi diri, motifasi orang lainpun tak akan membuat diri beranjak dari tidur panjangnya hati, kadang hati itu harus di tundukkan dengan apa yang di senangi, dan apa yang di senangi itu selalu apa yang di harap untuk terjadi di kehidupan kita, orang miskin ingin kaya, orang susah ingin bahagia, orang sakit ingin sembuh, orang tak punya jodoh ingin nikah, dan banyak lagi apa yang kita senangi, apa yang kita senangi sah-sah saja di jadikan motifasi untuk mendekatkan diri pada Alloh, jika miskin perbanyak dzikir yang jalurnya rizqi, apabila sakit perbanyak dzikir yang untuk menyembuhkan penyakit, apabila tak punya jodoh, perbanyak dzikir untuk menyatukan jodoh, jika ketika kita miskin kemudian dzikir yang unsurnya meminta rizqi, itu terijabah, maka akan menumbuhkan rasa cinta akan dzikir.
Memang seseorang itu tak langsung bisa mencapai ikhlas yang paling tinggi, maka tak masalah kita menapak ikhlas paling rendah, dengan membuat harapan balasan atas apa yang di amalkan, setelah apa yang di dzikirkan atas rizqi kemudian sering terwujud, maka akan menimbulkan rasa cinta akan dzikir, walau cintanya masih cinta yang di penuhi berbagai maksud dan keinginan, sebab seorang itu tak bisa menapak langsung ke tataran yang tertinggi, kecuali dari tangga terendah suatu proses cinta Alloh yang hakiki.
Diriku juga masih dalam proses, belum seorang yang ikhlas yang mutlak, tanpa tapi,
Dulu waktu masih masa latihan agar bisa setiap malam tak tidur selamanya, aku melatihnya dengan tiap malam selalu pergi, dari mulai setelah isya’, aku pergi menjelajah malam, sampai pagi datang, berganti teman-teman yang ku ajak menemani, tanpa dzikir, hanya kelayapan, agar aku terbiasa dengan tak tidur malam sama sekali, itu sekitar tiga tahun ku jalankan, setelah itu aku melatih untuk suka dan cinta pada dzikir, aku meminta dalam dzikir dan menyondongkan dengan apa yang di sukai nafsuku, entah perempuan atau uang, sampai waktu dalam latihan, aku selalu punya pacar ada dua puluhan dan mendapat rizqi yang tak di sangka-sangka, yang di luar nalar, agar kecendrungan nafsuku tertaklukkan, dan yakin dengan haqul yakin apa yang ku do’akan mendapat ijabah dengan nyata, setelah terbiasa dzikir, maka dzikir malah menjadi cinta, jika tidak dzikir akan terasa hati benar-benar rindu, dan ingin selalu dzikir setiap waktu.
Dan kecendrungan nafsu pun akan menapak pada penundukan kehendak yang lebih remeh dari sekedar apa yang bisa di dapat dengan gampang, ingin melihat Alloh menunjukkan hal- hal yang di luar nalar dan logika, tapi kemudian nafsu perlahan tertaklukkan, lalu mendapat hidayah seperti angin yang menghembus dan air yang mengalir, tujuan yang satu kemudian menjadi fokus, kecintaan pada dzikir karena kecintaan pada yang di dzikirkan, sedetik tak menyebut Alloh rasa hati seperti kosong berlubang, dan sepi lebih sepi dari kuburan yang tak pernah di ziarahi.
Sampai aku menemukan guru, Kyai ku, yang sekarang, perjalanan panjang itu seperti menemukan jawab, apa yang ku perjuangkan dalam proses yang panjang, ternyata telah di rangkum dalam paket-paket tertentu, dan dzikirnya telah tertulis dengan rapi, tak perlu susah melewati proses panjang sepertiku, makanya siapa yang mengamalkan amalan yang ku beri, dan sesuai petunjuk yang telah di ijazahkan Kyai ku padaku, akan mendapat anugerah Alloh seperti yang di anugerahkan padaku.
Memang menjadi suatu amalan yang simpel dan tak neko-neko, tapi tetap hidayah itu di tangan Alloh, walau kelihatan sederhana di mataku, juga belum tentu mudah di mata orang lain, sebab ada unsur hidayah di dalamnya.
Aku yang menjalankan pencarian panjang, dan menemukan hasil dari proses simpel yang di berikan guruku, tak perlu lagi susah melatih bertahun-tahun, malah sepertinya kadang membuat orang tak percaya, jika akan menjalankan, karena sebuah proses begitu mudahnya, itu juga yang kadang menjadi kendala seseorang tak yakin dengan hasil yang akan di peroleh. Sebab masak semudah itu untuk menjadi orang utama, jadinya timbul keraguan karena masih mengukur dengan kemungkinan dan itung-itungan matematika.
Kadang aku sengaja membuat pembuktian-pembuktian pada teman-teman, akan betapa do’a di ijabah itu bukan rekayasa, bukan isapan jempol saja, jika ada yang sakit ayo aku obati, gratis dengan do’a, dan itu bukan untuk di anggap sakti, sebab aku sendiri hanya berdo’a, Allohlah yang waidza marid’tu fahua yaswin, yang menyembuhkan segala penyakit jika kita sakit, Allohlah khoirorroziqin, Allohlah yang paling baik pemberi rizqi, itu kita buktikan, kita praktekkan kenyataannya bersama, agar iman kita menjadi iman yang haqul yaqin, kayakinan yang tak tergoyah.
Tiba-tiba aku amat kangen dengan Kyai, aku lalu menanyakan ke santri yang aku tau nomer hp nya, dimana keberadaan Kyai, dan setelah menunggu agak lama, karena bertemu Kyai sedang di batasi, Kyai sedang ujlah dan tak menemui siapa saja.
Aku di ijinkan bertemu tapi harus menunggu dua hari di Cipacung, dan di perintah tidur dulu di kuburan Cipacung, yang sangat angker, orang kampung saja biasanya siang hari tak berani ke kuburan angker itu sendirian, dan kuburannya juga setelah di hutan, tidur di kuburan di tengah hutan, ya biasa saja, karena ketakutan itu hanya milik orang yang tak ada iman kecuali senyala ujung lidi yang terbakar.
Aku pun berangkat ke Pandeglang, dan bermalam di makam.
Tapi baru semalaman kami nginep di kuburan, Kyai sudah menyuruh orang menjemput kami, untuk bertemu.
Dan kami meluncur ke tempat Kyai tinggal, ternyata di rumah orang China yang masuk Islam, dan aku dan teman-teman pun tinggal di rumah itu, yang ku rasakan betapa walau mereka orang China aku merasakan sinar keikhlasan di hati mereka memancar ke setiap gerak gerik mereka mengurus kami para santri Kyai, mereka begitu bersemangat menyediakan saur dan buka kami, dan memberi kejutan-kejutan bingkisan yang membuat hatiku merasa amat jauh dari keikhlasan mereka. Pantesan Kyai yang bisa membaca hati orang lain mengambil keputusan tinggal di rumah orang itu.
Dan kami di anggap seperti saudara sendiri, tentu saja Kyai tinggal di situ, berkah Kyai ku juga seperti matahari yang menyinari daun, dan manusia juga hewan tanpa membedakan.
Namun sayang, Kyai sedang sakit, sakit kali ini bukan asal sakit biasa, tapi sakit karena di santet, keberadaan Kyai sangat di rahasiakan, sehingga tak bisa setiap orang bisa dengan seenaknya menemui. Kyai memanggilku ke dalam ruangan pribadi yang di sediakan untuknya, aku duduk takdzim mendengar uraiannya.
“Kyai sedang sakit ian…, karena di keroyok oleh banyak tukang santet seantero Indonesia, yang ada sembilan ratusan tukang santet lebih, jika seandainya Kyai tolak, maka sungguh Kyai tak enak sama Alloh, baru di beri cobaan seperti ini, masak Kyai tak mau, jadi semua santet Kyai terima, Kyai biarkan masuk ke tubuh, agar bisa menjadikan Kyai makin dekat dengan Alloh, sekarang tugasmu, juga tugas santri yang lain, untuk melindungi dan mengobati Kyai, memakai ilmu yang pernah Kyai berikan, sekaranglah sa’atnya menunjukkan ketaatan murid pada guru.” kata Kyai sambil duduk, dan sekali waktu salah seorang santri mengusap dengan tisu darah yang bercampur keringat yang keluar dari pori-porinya.
“Iya Kyai… saya siap.” jawabku, “Dengan segenap kemampuanku.”
“Ian.., sekarang kamu obati Kyai, dengan segala daya yang kamu miliki, jika Kyai menyembuhkan diri sendiri amatlah mudah, tapi ini saatnya murid menunjukkan ketaatan dan keperdulian pada seorang guru, sekarang saatmu membuktikan darma baktimu.”
“Murid siap Kyai.., mohon Kyai selalu membimbing murid, agar murid bisa memberikan yang terbaik.” kataku.
“Kau tariklah panas di tubuhku, tubuhku rasanya seperti di rebus dan di bakar dengan api.” kata Kyai.
Aku pun mulai mengusahakan kesembuhan Kyai dengan caraku, yang di ajarkan Kyai, setiap kali tanganku ku buat menarik kekuatan jahat yang mengeram di badan Kyai, maka tanganku sampai sebatas pergelangan terasa panas kayak orang kena cabe. Juga lenganku agak memerah, karena panasnya. Sementara dari pori-pori Kyai merembes keluar keringat yang bercampur darah, sehingga jika di usap dengan tisu maka di tisu akan ada bekas darah bening, karena keringat yang bercampur darah, aku tak kuasa membayangkan, rasanya di santet di kroyok ratusan orang, aku sampai meneteskan air mata, jika membayangkan hal seperti itu.


Karya : Febrian