Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 45


Malamnya aku nyantai saja, seperti biasa dzikir setelah jam 12 malam, biasanya sampai subuh, tapi baru saja setengah jam aku duduk dzikir, serasa udara di kamarku tak enak, dan serasa hawa murniku menerobos keluar lewat punggung, aku coba menyetop, tapi serasa seperti punggung bagian atas berlubang, dan hawa murni terus saja merembes keluar, seperti udara dingin, wah ada apa ini, kalau kayak gini aku bisa lemas kehabisan hawa murni, ku coba menahan dengan dzikir dan konsentrasi, tapi tetap saja tubuhku lemas, dan makin lemas, dan rasanya terserang kantuk yang dasyat, seperti aku di sirep, berulang kali sampai tanpa sadar duduk tertidur, padahal aku bukan orang yang seperti itu, tapi rasa kantuk benar-benar tak bisa kutahan, kadang tasbih yang ku pegang telah jatuh, atau kepalaku sudah menekuk hampir menyentuh lantai, lalu sadar, dan ku kibas-kibaskan kepala, agar rasa kantuk terusir, tapi tetap saja aku mengantuk, ah ini tak beres, aku coba baca dzikir penolak serangan, karena aku merasa ada serangan yang di arahkan kepadaku.
Lalu ku tahan nafas, dan ku pukul lantai, sebentar serangan buyar, dan mataku seperti seketika terbuka, dan rasa kantuk hilang.
Tapi itu hanya sementara, serangan yang ku buyarkan seperti asap yang berputar lalu bertaut kembali, aku tertekan kembali. Dan tiba-tiba seperti ada gumpalan asap hitam melesat masuk ke tubuhku, aku terjengkang, dan muntah, memuntahkan isi perutku.
Aku berusaha menahan muntahan yang tersisa, dan lari ke kamar mandi, dan semua isi perut ku muntahkan, sampai perut rasanya ngilu dan nyeri, badanku rasanya seperti di lolosi, gemetar, dan rasa tak karuan, baru sekarang aku terkena santet dengan telak, sebenarnya aku yang terlalu menganggap ringan permasalahan, padahal aku sudah di tunjukkan dalam mimpi musuhku kali ini bukan orang sembarangan, yang melakukan lelaku memakan bayi yang di gugurkan, tapi aku menganggap angin lalu, sehingga aku terhantam, ini juga karena kecerobohanku.
Tiba-tiba ku rasakan di seluruh tubuh clekat-clekit, kayak ribuan jarum menyerang tubuhku, benar apa yang di katakan Sohib, aku tak mau minta tolong pada siapapun, aku harus bersandar pada Alloh, iman itu harus di uji, keteguhan harus di buktikan, tawakal itu bukan cuma bicara.
Ribuan jarum yang ku rasakan merajam tak ku perduli, aku melangkah berpegangan tembok, dan kembali ke kamar.
Aku kembali ke kamar pelan-pelan, takutnya membangunkan istriku, dan perlahan meletakkan diri di kasur, ku tata nafas, semua persendian rasanya seperti lepas, aku tak boleh menyerah, aku bersandar pada Alloh, kalau pada syaitan kalah, mau ku kemanakan imanku, keyakinanku? Aku turun di keramik, tidur, tangan ku tempelkan pada keramik, segala pikiran ku konsentrasikan, lalu ku sedot tenaga inti bumi….., dari keramik ku rasakan tenaga prana mengalir, memasuki tubuhku seperti menambal karet yang berlubang, mengalir menjejali dan menjejali, terus aku konsentrasi, serasa tubuhku mulai enak dan menebal, seperti ku rasakan mengeras setiap urat-urat dan kulitku kaku seperti bumi yang mengering.
Setelah ku rasa cukup aku bangkit, dan duduk bersila, menyatukan segenap daya kepasrahan, pada pemilik segala kekuatan. Ku konsentrasikan total seluruh dzikir, terus konsentrasi, sampai tak bergerak beberapa jam, lalu ku rasakan seluruh kekuatan telah melingkupi diriku, seperti kekuatan atom.
Ku lontarkan kekuatan yang mengeram, mengembalikan semua santet yang di kirimkan padaku kembali pada pengirimnya, dengan mengucap takbir yang mengendap seperti endapan kekuatan memecah berhamburan, ja’al haq, wazahaqol batil, datang kebenaran pasti kemungkaran akan musnah, sebab kebatilan itu pasti musnah.
Aku tak tau yang terjadi selanjutnya, yang penting aku tak merasakan lagi santet yang mencoba menyerangku.
Segala anasir jahat semua musnah, musnah tanpa bekas.
“Hallo…!” suara Sohib menghubungi.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kok tetanggaku banyak yang mati ya…?” tanya Sohib.
“Ya kalau sudah sampai kontraknya habis di dunia, ya pasti mati.” kataku bercanda.
“Ini yang mati, orang yang suka menyantetku kok..” kata Sohib.
“La emang kalau suka menyantetmu gak boleh mati? Ya kalau sudah pada waktunya ya tetep akan mati.” jawabku.
“Ya yang aneh kok yang mati yang pada menyantetku, apa tak aneh?”
“Ya tak aneh, la ndak nyantet kamu, rombongan seBus bisa mati kok kalau kecelakaan nyemplung jurang, itu tandanya kadang orang mati juga bisa rombongan. heheheh…” aku berteori ngawur sambil ngetawai Sohib.
“Eh pengen ketemu Kyai gak?” tanya Sohib.
“Aku ndak tau sekarang Kyai di mana, ya jelas pengen ketemu, aku kan juga muridnya, emang kamu saja, mentang-mentang kamu sudah punya majlis, dan sudah punya murid dan jama’ah banyak, dan aku belum punya.”
“Ayo kalau pengen ketemu, nanti bareng ke Jakarta.” kata Sohib.
“Emang Kyai di Jakarta?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Di bengkel Macan.” jawab Sohib.
“Ya aku entar malam berangkat.” kataku.
Aku segera menyiapkan tas, rasa rinduku pada Kyai tak tertahan, aku ijin pada istri malam itu berangkat.
Ini di tahun 2010 dan cerita masih berlanjut 2012 masih panjang.
Jam sembilan malam aku berangkat ke Ponolawen, perempatan biasa kalau mau ke Jakarta, tapi bus yang berkarcis sudah pada berangkat. Ah terpaksa harus menyetop bus dari arah Semarang, biasanya kadang apes dapat bus yang sudah sesak penumpang, atau dapat bus yang jelek, suka mogok di jalan dan tak layak jalan, ya Indonesia seperti itu memang kenyataannya.
Jakarta-Pekalongan harga tiket biasanya 45 ribu, ada bus berhenti, dan menawarkan arah Jakarta, sebenarnya enakan kalau aku turun terminal Kampung Rambutan, tapi karena adanya terminal Kalideres juga tak apa-apa, memang kalau ke tempat Macan di Bambu Apus enakan ke terminal Kampung Rambutan, tapi tak apa-apalah daridapa nanti makin malam malah tak mendapat bus.
Aku dapat tempat duduk di tengah, semua kursi banyak yang kosong, dan bus lumayan jelek banget, tak ber AC, suaranya berisik, karena kacanya sudah banyak yang lepas, jadi membayangkan kalau seandainya orang Indonesia itu punya jiwa bisnis seperti di luar negeri, pelayanan konsumen itu di utamakan, untuk mendapatkan pelanggan, tapi jiwa orang yang santun telak membalik, seperti nasi kuning yang di balik dari tumplek di tanah, semuanya kembali ke HATI, orang komunis saja bisa baik hati, kalau hatinya baik, dan orang Islam sekalipun akan jahat kalau hatinya nifak atau munafik.
Sebenarnya untuk berbudi pekerti yang baik itu manusia tak perduli Islam atau bukan Islam, asal dia mengukur dengan dirinya sendiri, maka pasti berahlak baik, jika suatu perbuatan tingkah laku, jika akan sakit dirinya di begitukan orang lain, maka pasti orang lain juga sama akan sakit jika di begitukan, maka tak mau melakukan itu pada orang lain, maka pasti orang akan menjadi baik budi pekertinya.
Karena semua manusia itu sama porsinya, dalam rasa sakit dan kecewanya.
Jika kita itu di gigit orang lain, merasa sakit, maka orang lain juga akan sakit jika kita gigit, maka jangan di lakukan pada orang lain, kalau kita di tipu orang lain, tak mau, maka jangan menipu orang lain.
Kalau menggigit mau, di gigit tak mau, ya tak beda kita dengan anjing.
Kalau memakan mau dan di makan tak mau, sama dengan Harimau.
Manusia itu juga mudah di tebak, selalu suka menutupi kekurangan, dengan menunjukkan apa yang dia dalam kekurangan itu, orang yang keringetnya bau, akan suka memakai pewangi berlebih, orang yang pendek akan suka memakai sepatu berhak tinggi, orang yang minim bahasa arabnya akan suka bicara memakai istilah banyak bahasa arab, orang yang ilmunya cetek, setiap bicara akan mengait-ngaitkan dengan ilmu sare’at, orang yang kepahamannya dangkal akan suka manggut-manggut dan suka tertawa bila teman bicaranya tertawa. Orang miskin akan bergaya sok kaya.
Sebab orang yang tinggi itu tak akan menunjukkan ketinggian tubuhnya, orang yang paham bahasa Arab itu tak perlu menunjukkan kepahamannya, orang yang pinter agama, tak usah bicara juga orang akan tau dari perbuatan wira’inya menjaga dari melanggar hukum agama.
Jadi gampang sebenarnya mengetahui karakter kekurangan seseorang itu di bidang apa.
Kondektur menghampiriku, ku berikan uang 45 ribu.
“Kurang mas…” kata kondektur itu.
“La berapa?” tanyaku.
“75 ribu.” jawabnya.
“Lho apa sesuai dengan nilai kerusakannya?”
“Kerusakan apa mas..?” tanya kondektur.
“ah tak apa-apa.” kataku lalu memberikan uang 30 ribu.
Kondektur berlalu, dan aku mengukur, jika terjadi tabrakan aku juga bertempat di tengah, tak apa-apa, pikirku.
Lalu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, dan memilih tidur. Sampai di tol Cikampek, aku terbangun seperti ada yang membangunkan, lalu aku duduk agak merendahkan kepala, dan “DAAARRR..!, DAARRR..!” suara tabrakan bus, dengan truk di depan, jadi bus menabrak belakang truk, benturan keras sampai 5 kali, kaca depan semua habis, berhamburan, ku dengar kaca beterbangan di atas kepalaku.
Kurasa uang 30 ribuku tak akan cukup menutupi kerusakan bus, dan kondektur yang menarik uang padaku yang terjepit, tak tau bagaimana kakinya.
Aku sih tak apa-apa jika di tipu atau di dzolimi, Alloh itu maha melihat, maha cepat azabnya. Sekian waktu menjalani proses perjalanan kok masih belum bisa membuatku legowo jika di pukul orang, maka aku harus kembali jadi orang gila yang harus mengelilingi tanah Jawa.
Jadi ingat, aku di rumah jualan bensin eceran, ada orang beli bensin, aku menuang, dan ada setetes dua tetes yang jatuh, pembeli bilang, “Ya aku rugi mas kalau bensinnya di teteskan gitu.” katanya.
“Ya ndak papa aku ganti.” jawabku, lalu mengambil bensin seliter dan ku tuang, sebagai ganti setetes dua tetes yang dia keluhkan.
Anehnya tiga hari orang itu sudah tak bawa mobil, katanya mobilnya hilang ketika di parkir. Ya kalau dia tau mobilnya akan di tukar dengan seliter bensin, pasti dia akan menolak mati-matian waktu ku beri seliter bensin.
Semua penumpang turun, dan sopir sama kondektur yang terjepit menjerit-jerit, aku tak bisa berbuat apa-apa, apalagi aku kalau melihat darah suka mau pingsan.
Mobil derek jalan tol datang, dan bagian depan bus di tarik baru kondektur bisa di keluarkan, dan keluar dari bus dalam keadaan di papah, kaki satunya tak tau patah apa tidak, aku hanya melihat dari jauh saja.
Lalu penumpang di suruh naik bus lagi, dan bus jalan dengan di derek mobil derek.
Kami di turunkan di pintu tol, enaknya pas ada bus jurusan Kampung Rambutan, aku segera naik.
Sampai di Kampung Rambutan langsung naik angkot ke arah Ciracas, dan sampai di Ciracas di jemput santri ke Bambu Apus, kata murid-murid internetku yang tinggal di dekat situ mau datang menemuiku, ada Budi, Joe, Asenk, dan entah siapa lagi, aku lupa namanya.
Sampai di Bengkel, Kyai memanggilku ke kamar pribadinya, dan aku di ajak makan, di beri nasehat dan di ajak makan, juga di talkin, sejak sepuluh tahun, aku sudah di bai’at lama, tapi sesudah sepuluh tahun baru di talkin.
Aku itu murid mau di apakan atau di gimanakan Kyaiku, maka aku tak pernah sekalipun mempermasalahkannya, dan tak pernah memikirkan, tak mengejar apa-apa, dan menjalani saja apa yang ada, tak pernah meminta ilmu ini atau itu, dan tak pernah meminta amalan ini atau itu, apapun yang di berikan Kyaiku, akan aku jalankan berulang kali, tak pernah bosan, bukan orang yang suka meminta amalan baru dan amalan lama di lupakan.
Sebab menurutku ilmu itu bernialai kalau kita benar-benar menguasai, mengistiqomahkan.
“Mas ian buka toreqoh ya..!” kata Kyai.
“Siap kyai, saya siapkan majlisnya dulu.” kataku.
Kyai banyak memberikan petuah yang bersifat isyarat, dan aku selalu tak mau menerjemahkan apa yang kyai katakan padaku dengan seketika, ku biarkan saja mengendap di pikiran dan hatiku, ku simpan dan biar jika saatnya aku akan mengerti sendiri, bukan menerjemahkan dengan akal dan akal-akalan.
Iman di pandang dari sudut ma’rifat itu bisa di peroleh dari dua jalan, yaitu jalan pikiran dan jalan hati.
Jalan pikiran kita, di pakai menerjemahkan apa yang terbaca indera, seperti orang melihat gumpalan kecil lalu pikiran membacanya dan mengatakan penerjemahan apa yang tertangkap oleh indera mata, dan mengatakan itu garam, lalu tangan meraba, dan lidah menjilat sebagai penguat apa yang di terjemahkan akal, ternyata asin.
Tapi siapa yang tau warna asin, tak ada yang bisa menjelaskan, asin warnanya bagaimana, dan ekpresi orang berbeda-beda jika merasakan warna asin. Orang berekpresi merem ketika merasakan rasa asin, tak bisa orang lain mengatakan ekpresi itu salah, sebab itu hak setiap manusia. Yang jelas yang di butuhkan oleh manusia itu bentuk putihnya garam, atau rasa asin untuk membuat asin makanan, yang di butuhkan adalah rasa asin, bukan bentuk butiran garam, buktinya bukan bentuk garam yang di makan manusia, tapi rasa asin yang sudah tak ada bentuknya garam, karena sudah menyatu dengan makanan.
Tapi keringat juga kan asin, apa ada mau orang makanannya kurang asin, lalu di tetesi keringat biar asin?
Pasti tak akan ada yang mau. Berarti sekalipun asin, maka yang di butuhkan manusia itu bukan asal asin saja, tapi penerjemahan indra di yakini kalau yang di campur makanan itu benar-benar asli garam, bentuk sare’atnya garam, yang di keringkan dari air laut, dan mengkristal, berbentuk garam. Tak ada hakikatnya semua alam ini, sebab hakikatnya alam ciptaan ini adalah menunjukkan hakikatnya Alloh.
Seperti pabrik mobil menunjukkan hakikatnya perusahaan mobil.
Garam itu asin, tapi asin belum tentu garam, jadi sifat asin bukan hakikatnya garam. Tapi menjadi sifat, seperti batu itu keras, ager-ager itu lembek.
Jadi akal itu bisa menguraikan apa yang di tangkap indra, dan penerjemahan akal orang yang berilmu itu akan menguraikan dan menterjemahkan apa yang asalnya cuma sifat menjadi zat, atau di setiap ada zat atau jisim, badan kasar ada badan halus, atau inti, dan di balik inti ada intisari, dan di balik intisari ada saripati.
Di umpamakan ada seekor semut yang melihat seseorang memilih-milih jeruk, si semut bertanya-tanya apa yang di lakukan orang tersebut, lalu si semut tau setelah orang itu memilih jeruk yang mateng, ooo ternyata mau membeli jeruk yang berwarna kuning. Jadi di pilih yang berkulit kuning, semut menyangka bahwa orang tersebut mau memanfaatkan kulit jeruk, buktinya kulit jeruk sangat menentukan jatuhnya pilihan orang tersebut. Lalu jeruk di kupas, si semut heran karena kulit yang susah-susah di pilih warnanya itu ternyata hanya di buang ke tempat sampah, dan isinya di ambil, semut mengira, kalau ternyata yang mau di manfaatkan itu daging buahnya.
Tapi lagi-lagi semut heran, dengan sebab daging buah itu ternyata di peras airnya, ampasnya di buang. Dan airnya di taruh di gelas, baru si semut paham kalau yang di ambil manfaat ternyata airnya, tapi semut lagi-lagi heran, sebab air jeruk itu di minum orang itu, dan semut mengikuti ke dalam tubuh, di mana vitamin C di ambil dari air jeruk itu dan di manfaatkan tubuh, sementara yang tak berguna di buang bersama keringat dan kotoran.
Jadi proses panjang, dari intisari yang terdapat pada sebuah jeruk, hanya di ambil tubuh bagian terkecilnya, dan mampunya akal itu hanya menguraikan yang terlihat, dan bisa di akal oleh ketajaman akal. Sehingga kejadian itu di ketahui telah di rancang sedemikian rupa.
Dalam setiap kejadian dan posisi suatu benda itu tak lepas dari kehendak yang mengatur, dan ketentuan yang tertanam.
Atau sering di sebut qudroh irodah. Dan qudroh irodah atau qodo’ qodar itu harus kita imani keberadaannya, seperti kita imani adanya Alloh dan malaikat.
Tapi itu semua tak terlihat, siapa orang yang tau taqdirnya? Maka tak ada yang tau, sebab tak terlihat atau di sebut gaib.
Untuk mengimani hal yang gaib manusia perlu membuka mata hatinya, yang kasar itu bisa di lihat dengan mata dan yang gaib itu bisa di lihat dengan mata hati.
Daging jeruk itu bukan gaib, karena jika di kelupas kulitnya maka itu bisa di lihat dengan mata telanjang.
Yang gaib itu, apa yang tak bisa di uraikan dengan jisim atau dalam bentuk zat padat, kecuali dengan pentakbiran, atau pemisalan, karena tak bisanya akal menerjemahkan kecuali membuat perumpamaan.
Seperti ketika Nabi di tunjukkan tentang bumi dalam keutuhan sifat, maka bumi itu seperti nenek tua yang jompo, sakit-sakitan dan memakai bedak yang tebal, juga perhiasan yang berlebihan.
Penggambaran itu akan mewakili suatu keadaan, karena tidak ada bentuk untuk menjelaskannya, kecuali membuat permisalan untuk menjelaskannya.
Jika gaib itu bisa di ceritakan dengan menunjukan zatnya, maka tidak gaib namanya. Makanya penceritaannya itu memakai perumpamaan, atau kata-kata penyerupaan.
Dan akal harus di bendung di tutup dari menerjemahkan dengan logika akal, jika di logikakan akal, akal pikiran akan terjebak dengan keraguan dan kemandekan pada batas logikanya akal, maka yang gaib itu hanya bisa di uraikan oleh yang gaib, yaitu ruh, alam hati dan mata hati.
Sebagaimana mata dzahir kita yang tak bisa melihat, karena kemasukan benda, maka mata hati juga akan tak bisa melihat jika di masuki berbagai kepentingan, dan keinginan, seperti semut yang melihat keinginan orang memilih jeruk dia berprasangka keinginan seseorang itu memilih warna jeruk itulah yang menjadi tujuan utama dari proses pencarian, karena keterperangkapannya akal, menilai mendahulukan logika.
Dan logika itu selalu mencari yang dekat dalam penilaian dan yang termudah di lakukan. Itu sifat akal, selalu mencari solusi termudah untuk menyelesaikan masalah.
Sedang yang gaib itu perlu kejernihan hati untuk membaca. Sehingga yang benar tak asal di baca dengan akal-akalan, tapi dengan pemahaman. Seperti seorang perempuan yang memoleskan lipstik di bibir, kenapa tidak di telinga, juga kenapa warnanya merah, tidak coklat atau hijau, tujuan perempuan itu tak akan terlihat di saat memoleskan lipstik di bibir, padahal tujuan atau kehendak itu terjadi sebelum kejadian.
Murid yang lain selalu menerjemahkan dengan pikiran masing-masing, apa yang di sampaikan Kyaiku, atau anak-anak sering menyebutnya siloka, aku sendiri tak berani menerjemahkan apa yang di sampaikan Kyai, dan menunggu Alloh memberi ilham kepahaman padaku, dan aku akan menerima kepahaman itu dengan kejernihan mata batin, sejernih aku mampu menjernihkan, karena aku sendiri yang masih bergelimang dosa dan keinginan.
Sepulang dari Jakarta, aku merancang pembangunan majlis dari dana yang ada, ku jualkan tiga sapi dan uang tabungan, maka terbangunlah majlis sederhana, sampai saat ini yang di tempati dzikir.
——————————————-
Setelah hari raya idhul fitri, seperti orang lain, aku juga mudik, tapi menunggu tamuku di Pekalongan sepi,
Setelah sepi baru aku, istri dan anakku ke Jawa Timur.
Biasa kalau di Jawa Timur, langsung biasanya akan banyak orang yang datang ke rumahku ada yang minta amalan, atau minta di obati penyakitnya.
Di Tuban sendiri, karena pernah ada kebakaran, sebelum kebakaran terjadi masa sebulan sebelumnya aku memperingatkan yang punya rumah, agar hati-hati akan terjadi kebakaran sebulan lagi, hati-hati dengan api.
Tapi takdir Alloh terjadi juga, dan terjadi kebakaran, walau hanya dua rumah yang terbakar dan api bisa di padamkan, setelah kejadian itu setiap aku ke Jawa Timur, akan banyak orang datang minta amalan atau di obati penyakitnya.
Juga hari itu, aku belum sampai rumah, orang-orang sudah menunggu, sehingga aku tak sempat istirahat.
Ada beberapa orang, yang datang, satu persatu ku layani setelah sholat magrib, kursi penuh dan yang lain duduk di lantai, yang menghadapku pertama orang yang dari luar kecamatan, biar segera bisa pulang.
Yang menarik perhatianku ada seorang lelaki bernama Muhadi,
“Apa pak keluhannya?” tanyaku pada Muhadi lelaki jangkung kurus berumur 50 tahunan.
“Ini ian aku sakit di kaki,” katanya menunjukkan kakinya yang dari pergelangan sampai lutut membusuk.
“Wah kok sampai begitu pak, apa ndak di bawa ke dokter?” tanyaku.
“Ya sudah ku bawa ke dokter ian, ini sama lukanya dengan luka yang di alami istriku.” katanya.
“La istrinya di mana, kok tak di bawa kesini sekalian?” tanyaku.
“Istriku sudah meninggal.” katanya sedih.
“oo maaf.”
“Ini wong lukanya tak wajar kok ian..” jelas Muhadi.
“Iya saya juga lihat tak wajar,” kataku.
“Awalnya bagaimana itu pak?”
“Ini sebenarnya awalnya adalah hal yang sepele, saya dan istri itu jual beli beras, nah ada salah seorang yang selalu ngutang beras kami, ya kami kasih, sampai banyak kami tagih hutangnya, kan wajar to nagih hutang, ee dia marah, dan mengatakan jangan di kira kami tak mampu bayar hutang, hutang akan kami bayar, tapi setahun kemudian tak di bayar, ya kami tagih lagi hutangnya, ee malah mereka marah-marah, dan mengatakan mau nyantet, dan kok malemnya rumah kami kayak di taburi pasir, lalu ada ledakan, dan besoknya istriku kakinya gatal sekali, lalu terjadi pembusukan, terus membusuk, pernah kami obatkan ke dokter juga percuma tak sembuh, juga ku obatkan ke dukun, malah dukun yang lumayan bisa datang ke rumah, dan di dalam tanah rumahku di suruh gali, ternyata di dalam tanah ada kayak bungkusan pocong kecil sepanjang 35 cm, tapi la kok aneh.”
“Anehnya bagaimana pak?”
“Anehnya bungkusan itu hidup, jadi lari masuk di dalam tanah, bentuknya kayak pocong-pocongan gitu, maka aku di suruh menggali tanah lain, untuk menghadang arah larinya.”
“Tapi, setiap ku hadang, maka pocong-pocongan itu membelok ke arah lain, dan itu tidak lewat lubang larinya, tapi masuk dalam tanah gitu, setelah seharian usaha, pocong-pocongan dapat di tangkap semuanya ada tuju.”
“Wah di dalamnya apa ada tikusnya? kok bisa lari dalam tanah?” tanyaku yang terus terang merasa heran.
“Ya aku sendiri tak tau ian, la setiap ada yang tertangkap maka langsung di masukkan kendil tanah liat, tapi menurut penjelasan dukun, dia cuma bisa mengeluarkan yang di tanah, sementara yang di udara masih ada,”
“Ada juga yang di udara? ” tanyaku.
“Iya ada.”
“Lah lalu bagaimana bisa? Kalau aku tak tau ilmu seperti itu, ilmu kok ya aneh-aneh.” kataku geleng-geleng kepala.
“Tapi dukun itu menyarankanku meminta dukun yang lain, yang bisa mengeluarkan yang di udara, aku di beri alamatnya, maka akupun segera mencari dukun itu, dan ku mintai tolong, dan dukun itu juga mau, lalu kerumahku, dia bersemadi di tengah rumahku, sambil bakar kemenyan, dan membuat sesaji kembang tuju rupa, dan kelapa hijau, serta kopi pahit. Lalu dukun itu selama satu jam bersemedi, kemudian berdiri dan menarik sesuatu dari tengah udara, dan yang di tarik itu kain mori orang mati, sampai pengerjaan selesai. Tapi ian, istriku ya tetap tak sembuh, dan akhirnya meninggal dunia, sekarang aku yang terkena penyakit yang pernah di alami istriku, tiap malam di rumahku selalu ada ledakan dan kayak ada pasir atau tanah kering di taburkan, suaranya seperti gerimis sebentar gitu, nah bagaimana ian, aku minta kau do’akan, supaya penyakit yang ku derita ini sembuh dan aku tak kambuh lagi.”
“Ini sekarang ku kasih air saja dulu ya pak, besok kesini sorean gitu, biar aku bikinkan pagar rumah, dari kerikil yang di tanam di pojok rumah, biar tidak kena santet lagi, kalau sekarang sudah malam.”
“Iya insaAlloh aku besok akan datang lagi.”
Lalu ku berikan air untuk penyembuh dengan media do’a dan pagar badannya.
Ganti seorang lagi.
Menemuiku lagi seorang tua, berjalan tertatih-tatih, dengan tongkat, yang ku tau bernama mbah Mulyono.
“Ada apa mbah…?” kataku pada kakek berusia 70 tahunan itu.
“Ini ian, kakiku sakit sekali, tak bisa di pakai sholat jama’ah di masjid, tolong kau obati.” kata mbah Mulyono sambil membuka sarungnya.
“Coba tak pegangnya ya mbah…!, coba di tekuk mbah, di luruskan, di tekuk.”, kataku berulang-ulang sambil ku salurkan tenaga prana ke sela lutut mbah Mulyono. Terdengar suara kletuk.
“Wadow enteng sekali.” kata Mbah Mul.
Lalu ku lakukan pada kaki satunya, sampai terdengar suara kluthuk, pertanda pergeseran tulang telah kembali ke semula.
“Bagaimana enakan mbah?”
“Iya enak.”
“Coba di pakai berdiri mbah.”
Mbah Mulyono pun berdiri, awalnya takut-takut, tapi setelah merasa tidak sakit dia mulai berjalan wira wiri.
“Aku pulang dulu ya ian, terimakasih.”
“Iya mbah silahkan, la ini tongkatnya tak di bawa mbah?”
“Udah tak usah, untukmu saja.” kata Mbah Mulyono.
“hehehe makasih mbah, jangan lupa rajin jama’ahnya.” kataku mengantar kepergian mbah Mulyono.
Seorang lagi masuk, dia ku tau bernama kang Darwis. Dia orang terkaya di kampungnya yang aku tahu, dulu waktu aku kecil sering di belikan layangan sama dia.
“Ada apa pak Darwis?” tanyaku.
“Ya seperti yang lain ian, mau minta tolong padamu.”
“Apa masalahnya pak?”
“Nanti dulu ian…”
“Kenapa pak?”
“Aku hanya ingin menatapmu lama-lama.”
“Memangnya kenapa pak?”
“Aku hanya ingat di waktu kecilmu, dulu aku sudah mengira kamu ini akan menjadi orang linuwih, malah aku bilang ke ibumu, tapi ibumu mana mau percaya.”
“Ah biasa saja to pak.”
“Ah tidak kau waktu kecil itu aneh.”
“Aneh bagaimana pak?” tanyaku heran.
“Lo apa ibumu tak cerita soal masa kecilmu.”
“Ndak itu pak, la masa kecilku bagaimana?”
“Kamu tau? Dulu masa kecilmu, kamu kan di asuh Sarminten yang gila itu.”
“Walah masak bisa begitu pak, kalau itu bukan suatu prestasi lah, namanya aib.”
“ee nanti dulu, Sarminten itu pasti jadi orang waras kalau sudah momong kamu, di ajak jalan kesana kemari, kalau sudah gendong kamu, pasti jadi waras edannya, apa ndak aneh, makanya ibumu tak keberatan kamu di urus Sarminten.”
“Memang ada cerita seperti itu?”
“Ya kamu kan bisa tanya ke orang tua-tua.”
“Trus semua orang gila desa kita ini, setiap hari bergantian ngisi kolah kamar mandimu, anehnya mereka semua gantian mengisi kamar mandimu, jadi harinya kayak terjadwal, padahal kan rumah mereka berjauhan, apa itu tak aneh?”
“Ya itu kan masa lalu to pak Darwis, masalahe panjenengan nopo?” tanyaku, karena masih ada beberapa orang yang menunggu ku selesaikan masalahnya, walau tubuh penat, dan sudah ngantuk, tetap saja hati harus legowo menerima siapa saja, menjadi orang yang di jadikan pengaduan masyarakat, dan kita di minta mengadukan kepada Alloh itu kudu lebih beberapa kali sabar, tapi aku juga sama sekali tak mempermasalahkan pak Darwis yang maunya mengenang masa lalu.
“Ian kamu tau tidak kalau aku sekarang ini sudah miskin, dan sudah tak punya apa-apa, semua harta kekayaanku ludes, tak tau ini karmaku atau bagaimana.”
“Masak kekayaan panjenengan yang sebegitu banyaknya bisa ludes, belum lagi burung walet yang menghasilkan jutaan tiap bulan itu semua ludes?”
“Iya, semua ludes.”
“La masalahnya apa? Apa panjenengan punya hutang sama bank?” tanyaku.
“Bukan, bukan masalah itu,”
“Lalu masalah apa?”
“Awalnya, kamu ingat dengan Laila anak perempuanku?” tanya pak Darwis.
“Ya ingat.”
“Laila itu pernah di minta oleh pak Rudin.”
“Maksudnya pak Rudin yang jadi dukun itu?” tanyaku.
“Iya yang sudah tua itu, awalnya Laila di kasih ini itu, tiap di jalan di beri ini itu, lalu sama pak Rudin yang sudah umur 50 an itu, ternyata mau di nikahi, ya aku sendiri saja lebih tua pak Rudin, ya ngiranya Laila, dia di beri apa-apa, pak Rudin tak punya maksud apa-apa, jadi di terima, ternyata malah mau menikahi Lalila, ya Laila gilo, jeleh ( bahasa Pekalongan ), ya aku sendiri jelas menolak, la karena ku tolak itu kok malah dia mengancam akan menghancurkanku. Ya perkirakanku maksudnya menghancurkan, menghancurkan apa, la kok ternyata semua bisnisku hancur, semua ayam mati, semua usahaku macet, dan aku bangkrut, bahkan waletku pada kabur. Hanya dalam dua bulan setelah aku di ancam, setelah itu semua nya ludes. Memang tetangga sering melihat pak Rudin mengitari rumahku di malam hari, menyebarkan beras kuning dan kembang, dan aku di lapori tetangga, tapi tak ku perduli, tapi sekarang pun aku sudah berusaha bangkit, tapi sampai setelah semua habis, sampai saat ini semua order kontraktor semua belum ada yang berhasil, sampai-sampai temanku mengajak memakai dukun untuk melancarkan bisnis kami, bahkan aku pernah di ajak temanku mencari dukun terkenal di daerah Batang, dekat Pekalongan itu, aku dan temanku di beri syarat untuk bertapa semalam di tepi air tempuran, kata dukunnya jangan sampai gagal, kalau ada gangguan apapun kok gagal, maka usahanya tak akan berhasil, la kebetulan temanku itu pemberani, dia bertapa di tepi sungai tempuran ( pertemuan empat jalur sungai ), mungkin di sengaja, sengaja tempat yang di pakai temanku di olesi trasi, agar datang para biawak, tapi temanku itu pemberani walau di kepung biawak, sampai pagi temanku itu kuat.”
“Lalu apa berhasil cara itu?” tanyaku.
“Sama sekali tidak.” jawad Darwis.
“Pak… sebenarnya bisnis apa saja, jika di sertai masuk toreqoh, insaAlloh akan lancar, karena antara lahir dan batin saling melengkapi.” jelasku.
“Ya nanti itu mudah masuk toreqoh, tapi mbok sekarang aku kamu do’akan agar bisnisku gol.” aku sekarang lagi tawar menawar harga soal menguruk sepanjang rel kereta api dari Babat sampai Bojonegoro, di uruk pakai batu koral, nah itu kamu do’akan berhasil, nanti kamu tak kasih komisi.”
“heheh.. komisinya untuk panjenengan, panjenengan kan yang lebih membutuhkan.” kataku. “insaAlloh saya do’akan.”
“Oh ya kalau kamu ngasih amalan biar temanku saja yang mengamalkan, temanku ini sudah pakarnya menjalankan puasa, mau puasa mutih, ngebleng, bahkan pernah seminggu tidur miring di makamnya sunan Bonang.”
“Walah tidur miring, apa maksudnya?” tanyaku heran.
“Ya tidur miring, menjalankan lelaku.” jawab Darwis.
“Walah kok sampai gitu, la aku saja belum pernah, ya tentu dia lebih sakti, aku jadi malu kalau ngasih amalan dia.”
“Ya bukan begitu, walau dia sudah menjalankan amalan macam-macam, juga pernah dalail selama tiga tahun setengah, tapi tak ada yang nempel ilmunya, jadi semua amalannya tak mangsah apa-apa.” jelas Darwis.
“Ya kalau ngasih amalan sih aku senang saja.” jelasku.
“Man…, Wagiman sini…!” panggil pak Darwis, kepada salah seorang pemuda kurus, diantara tamu yang sedang ngobrol di kursi tamu. Yang di panggil Wagiman pun mendekat.
“Ini Man mau di beri amalan.” kata pak Darwis.
Aku masuk sebentar untuk mengambil lembaran amalan, dan ku serahkan pada Wagiman.
“Itu amalannya cara mengamalkannya sudah tertulis. Tapi akan ku jelaskan.” kataku pada Wagiman yang sedang memegangi catatan amalan puasa dariku.
“Nggak usah di terangkan, saya sudah paham, puasanya juga hanya puasa biasa, pasti saya amalkan.” kata Wagiman seperti meremehkan amalan yang ku beri. Mungkin tak seberat amalan dia yang ngebleng (puasa sehari semalam).
“Ini juga puasanya ringan, saya akan jalankan.” kata Wagiman.
Lalu pak Darwis dan Wagiman minta diri.
Setelah hari itu aku tak bertemu lagi dengan pak Darwis, cuma dia pernah nelpon setelah beberapa bulan, mengatakan kalau ordernya menguruk rel sedang di jalani, dan aku bertanya soal Wagiman, apa amalanku sudah di jalankan.
“Wagiman waktu itu besoknya langsung puasa, tapi langsung pingsan, dan lumpuh sampai sekarang, ku suruh meminta obat pada mas ian, tapi dia malu, jadi sampai sekarang masih lumpuh.” cerita pak Darwis,
Aku hanya menarik nafas gegetun, amalan yang ikhlas karena Alloh, dengan amalan yang karena jin, tentu beda, dan yang ikhlas biarpun kelihatannya sepele, sebenarnya lebih berat, karena berkaitan dengan kebersihan hati.


Karya : Febrian