Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 44


Dua hari kemudian Sundasih datang lagi,
“Sudah di keluarkan susuknya?” tanyaku setelah berhadapan dengannya.
“Sudah, syaratnya cuma makan tiga buah pisang yang di bacakan fatekhah tiga kali.”
“Baik ku ambil penyakit yang di kepala.” kataku kemudian mendekatinya dan mengarahkan tapak tanganku ke kepalanya, lalu ke tarik penyakitnya dengan do’a.
“Sudah…” kataku.
“Tak di beri air lagi mas kyai?” tanya Sundasih.
“Itu sudah cukup, ingat syarat yang ku berikan, kalau syarat itu di langgar, artinya kembali berbuat yang tak benar maka aku sudah tak mau mendo’akan.” kataku. dan Sundasih pulang.
Dan besoknya sembuh total. Tapi memang manusia itu kadangkala di beri kesehatan tak mau sadar, dan ketika di beri sakit menjerit-jerit, dan benar Sundasih tak mau tobat, baru sembuh seminggu, sudah menggandeng cowok baru, dan besoknya sudah menjerit-jerit kesakitan, dan sampai saat ini ku tulis masih tetap saja sakit. Mungkin sakit lebih baik untuknya jadi tak ada waktu berbuat maksiat.
Setelah isya’ Munawar datang dengan temannya, ku persilahkan duduk.
“Ini teman saya yang juga sama nasibnya sama saya pak kyai.” jelas Munawar sambil memperkenalkan temannya bernama pak Ardi.
“Lalu apa masalahnya pak Ardi?, silahkan di ceritakan.” kataku.
“Begini mas kyai.., saya tak menyalahkan siapa-siapa, ini memang karena mulut saya sendiri yang kadang kalau bercanda kelewatan, sehingga saya mengalami ini.” kata Ardi mulai bercerita.
“Lima tahun yang lalu saya itu nongkrong di warung ya biasalah, orang warung selalu ngomong ngalor ngidul ndak karuan, saya juga begitu, juga kalau bercanda sering keterlepasan, nah pas kami lagi nongkrong, ada seorang istri kyai di daerah saya pas belanja, dia mau belanja obat asma untuk suaminya, ya saya tanpa sengaja ngomong, belikan saja baigon nanti asmanya akan sembuh selamanya, ya maksud saya juga bercanda, dan istri pak kyai itu juga ku lihat tidak marah, la kok besoknya saya di panggil ke balai desa, di laporkan katanya mau meracun orang, malah istri kyai itu bilang dia cerita kalau di warung sampai saya buat menangis, la saksinya kan banyak, dan dia tak nanggapi juga tak menangis, maka teman-teman saya membela saya, tapi setelah hari itu, pas di malam hari saya mimpi kalau saya di tombak kyai itu, sampai perut saya sakit sekali, dan besoknya saya tak bisa bangun, dan tiap malam tubuh saya terbanting-banting di atas ranjang, dan paginya saya sama sekali tak kuasa bangun, lalu ada teman saya main yang tau ilmu gaib, mengatakan saya di santet, dan teman saya itu berusaha mengobati tapi dia sendiri tak kuat, malah sakit dan meninggal, dan pada suatu hari ada bola api menghantam lemari dekat saya tidur, sampai lemari pun terbakar, untung ada anak lelaki saya, yang segera memadamkan dengan air, dan saya sudah berulang kali berobat, dan kebetulan saya bertemu seseorang yang mumpuni, dan saya di obati, saya di suruh minum air, kemudian saya ingin buang air besar, dan yang saya keluarkan dari perut isinya adalah lumpur, dan tanah, dan alhamdulillah saya bisa bekerja lagi, sebagai sopir mobil saya mencari omprengan, tapi lagi-lagi suatu hari di tempat mangkal mobil, tiba-tiba api menghantan mobil saya, dan mobil terbakar sampai ludes, dan orang yang mengobati saya itu meninggal sebulan setelah mengobati saya, jadi saya sakit lagi, dan tak ada yang mengobati, jadi saya minta pak kyai mendo’akan saya, agar saya di bebaskan dari santet ini.” Ardi menutup ceritanya.
“Memang kadang masalah sepele itu orang jawa suka melakukan yang melampoi batas, jangankan pak Ardi yang suka tak bisa menahan lisan, orang sini saja yang seorang kyai, orangnya tak banyak omong dan santun itu saja kesantet, dia di santet orang, wajahnya di masuki tanah kuburan.” kataku.
“Kok kyai tau yang nyantet memasukkan tanah kuburan?” tanya Ardi.
“La yang nyantet ngaku sendiri.” jelasku. “Ceritanya gini, kyai Sidik itu tiba-tiba sakit, di wajahnya, serasa gatal minta ampun, di obatkan kemana-mana tetep tak sembuh, dan obati dokter obat gatal juga tetep gatal, sampai wajahnya separo rusak kayak lumer, kayak kena cairan asam, dan sampai kemudian di obatkan ke daerah Demak, baru bisa sembuh, dan suatu hari tetangganya datang minta maaf, karena menyantetnya, dan tetangga itu mengaku menyantet menyuruh dukun dari Cirebon, dan dia oleh dukun di minta mengambil tanah kuburan untuk di masukkan ke wajah kyai Sidik, sampai sekarang wajah kyai Sidik itu rusak, dan bicaranya juga jadi cedal, tetangganya itu ngaku menyantet alasannya apa?”
“Alasannya apa pak kyai?” tanya Munawar.
“Alasannya cuma tetangga kyai Sidik itu jualan nasi, istri kyai sidik juga jualan nasi, dan jualan nasinya istri kyai Sidik laku, sedang jualan tetangganya itu tak laku, bayangkan hanya karena masalah yang sepele, lalu main santet, ya seperti cerita pak Ardi itu,” kataku.
“Iya memang mas kyai, kalau di pikir memang hal yang sangat sepele, tapi kok ya tega ya menyakiti orang lain?” kata Ardi.
“Makanya itu, alangkah baiknya jika kita sendiri itu tubuh terpagar, rumah terpagar, sehingga tak terjadi hal yang tak di inginkan.” kataku.
Tiba-tida “Daaarrr..!!” ledakan di tembok, dan Munawar pun kesakitan perutnya.
Aku segera bertindak, ku tarik sesuatu yang masuk di tubuh Munawar,
“Sudah tak apa-apa.” kataku.
“Wah seperti ada bayangan hitam masuk ke tubuh, rasanya nyeri sekali.” kata Munawar.
“Sekarang bagaimana?” tanyaku.
“Sekarang tak apa-apa, sudah enakan.”
“Wah kalau saya ada yang nyantet selalu kena, ini bagaimana pak kyai?” tanya Munawar.
“ya kalau tak ingin di santet selalu tak bisa kena ya selalu dzikir/ingat Alloh, maka tak akan kena, Nabi SAW bersabda: kilat / petir itu akan bisa mengenai siapa saja, termasuk orang islam, tapi tidak mengenai orang yang dzikir/orang yang selalu ingat Alloh, santet itu mengenai siapa saja termasuk orang islam tapi tidak mengenai orang yang dzikir, kecuali orangnya memang sengaja menerima, kayak kyaiku itu kalau di santet selalu di terima, karena di jadikan cobaan untuk kenaikan derajadnya di sisi Alloh, kalau yang seperti itu bukan bahasan kita, kalau kita ya kalau tak pengen kena hujan sedia payung, sedia mantel, ya kalau aku yang lemah suka lupa ndak selalu dzikir, maka pasti kalau di santet ya jebol, maka aku memilih sedia payung sebelum hujan, sedia pagar sebelum di santet, jadi sedia pagar kalau tak ingin kena santet, itu kan tanda kita masih lemah ingatan/dzikir kita terhadap Alloh, dan kita harus menyadarinya, makanya menyediakan pagar untuk diri sendiri, ya tak beda orang yang mudah masuk angin kalau naik motor, makanya pakai jaket kalau naik motor.” kataku.
“ya… ya saya paham pak kyai, pantesan kalau saya di obati sembuh, tapi di santet lagi kambuh lagi, ya itu karena saya tak di pagar oleh orang sebelumnya yang mengobati saya.” kata Munawar.
“Sekarang saya bagaimana pak Kyai?” tanya Ardi.
“Sini saya ambil penyakitnya.” kataku dan Ardi mendekat, lalu lu tarik penyakit di perutnya.
“Nanti ku buatkan pagar diri dan juga rumah, tunggu sebentar,” kataku beranjak berdiri, dan mencari batu kerikil untuk ku isi, dan ku isi lalu ku serahkan pada Ardi, sambil menjelaskan cara pakainya.
Setelah semua beres, mereka berdua pamit pulang.
——————————————-
Seperti ku kisahkan di awal, jika urusannya soal santet, maka anehnya urusannya soal santet melulu. Barusaja kedua tamuku berlalu, salah seorang temanku, Manaf menelpon,
“Mas bisa bantu gak, ini soal pamanku, di Rembang, dia terkena santet.” kata Manaf.
“Wadoh santet lagi.” jawabku.
“La memangnya ada apa?” tanya Manaf.
“Ini baru saja dua orang tamuku pulang, soal santet, ini kamu nelpon soal santet lagi.” jawabku.
“hahaha… , kali aja lagi musim, tapi ini aku serius, karena aku di hubungi keluarga di rembang, katanya kena santet.”
“La kok bisa di santet orang naf?” tanyaku.
“Anu itu soal warisan, jadi warisan jadi rebutan, dan pamanku yang seharusnya dapat bagian, tapi kalau pamanku mati ada yang dapat bagian orang yang lain, dan orang itu yang kemudian berharap pamanku mati, ini sudah seminggu gak bangun dari ranjang, tiap malam juga banyak ledakan di atap rumah, tolong ya mas.” jelas Manaf panjang.
“hm… ya bisa hubungi sebentar pamanmu itu, suruh duduk menghadap ke barat, biar santetnya ku tarik dari sini.” jawabku,
“ya sebentar.” jawab Manaf lalu mematikan Hp nya.
Sepuluh menit kemudian Manaf nelpon lagi,
“Sudah ku suruh menghadap ke Barat,”
“ya, sebentar ku tariknya, jangan lupa kabari aku bagaimana perkembangannya.” kataku, kemudian konsentrasi menarik kekuatan jahad yang ada di tubuh pamannya Manaf yang di Rembang.
——————————————-
“Makasih ya mas, sudah sehat, moga Alloh membalas amalmu.” besoknya Manaf nelpon.
“Halah ndak usah kamu do’akan, malah ndak makbul, malah sebaliknya hahha.” candaku.
Motor sudah tak enak di jalankan, aku kebagian nyerviskan, aku pilih salah satu tempat servis, di daerah Preng Langu, walau tak di pinggir jalan besar, agak masuk ke dalam kampung, dulu sering ku lihat yang menyerviskan motor sampai antri, karena servisannya lumayan bagus.
Sampai di tempat bengkel servis keadaan kok sepi, kayaknya cuma aku yang datang, aku jadi heran, tukang servisnya juga hanya nongkrong saja.
“Mau nyervis mas?” tanya seorang yang kelihatan malas dan lemes.
“Iya…!” kataku sambil menyerahkan motor, dan duduk di bangku.
Orang yang tadi menanyaiku malah ikut duduk di dekatku, dan motorku di serahkan anak buahnya.
“Kok lemes mas? Sakit ya?” tanyaku pada tukang servis itu.
“Iya mas…, badan tak ada tenaganya.” jawab dia.
“Kayaknya dulu sering aku lihat tempat servis ini ramai pengunjung, kok sekarang sepi mas?” tanyaku.
“Ndak tau mas,” jawabnya. “Sejak lima bulan yang lalu mas, ndak tau saya jadi sakit-sakitan, dan kok ya ndilalah tempat servis juga ikut sepi.” jelas tukang servis.
“Kayaknya ini ada yang tak beres mas, juga mas ini ku lihat sakitnya juga tak beres.” kataku.
“Lho mas bisa to tau hal seperti itu?”, tanyanya padaku.
“Ya tau sedikit aja.” jawabku.
“Ini saya sakitnya juga ndak wajar mas.” jelas tukang bengkel bernama Maskur.
“Ndak wajar bagaimana mas?” tanyaku.
“Selama lima bulan ini, saya sudah habis uang untuk ke dokter, tubuh rasanya lemes tak ada semangat kerja, bahkan bangun tidur rasanya malas.” kata Maskur.
“La kata dokter sakit apa mas?” tanyaku.
“Ya dokter sendiri tak tau, la semua organ tubuh saya wajar-wajar saja, makan juga doyan, tapi mau bangun kerja rasanya malaas banget, kadang di perut rasanya nyerii banget, tapi di periksa dokter juga di perut tak ada penyakit apa-apa.”
“Coba tapak kakinya saya lihat.” kataku.
Dia membalik tapak kakinya agar bisa ku lihat, dan tapak kakinya sudah mengembung walau tidak terlalu besar.
“Kalau menurutku mas ini kena santet hawa.” jelasku.
“Lalu solusinya bagaimana?”
“Ya harus di sembuhkan.” kataku.
“Mas bisa?”
“ya insaAlloh sekarang juga bisa saya keluarkan penyakitnya dengan izin Alloh tentunya.” kataku.
“La aku masih di obati orang mas, bagaimana?”
“Di obati pakai apa?”
“Pakai telur ayam, ini sudah seminggu saya di telateni di obati pakai telur di jalankan di atas tubuh.” jelasnya.
“Ya kalau begitu biar di selesaikan dulu pengobatannya.” kataku. “La nanti kalau sembuh ya tak usah ku obati, tapi kalau belum sembuh nanti mas datang saja ke rumahku.” kataku.
“Rumahnya di mana mas?”
“Di daerah Bligo.” jawabku.
“Ya baik kalau begitu.” jawabnya. Pas Servis motorku selesai.
——————————————-
Tiga hari kemudian Maskur datang ke rumahku, di antar istrinya.
“Bagaimana mas, sudah selesai di obati pakai telur?” tanyaku.
“Sudah mas, tapi saya tetap sakit.” jelas Maskur.
“Coba sini saya tarik penyakitnya, di mana saja yang di rasa sakit ?” tanyaku.
Lalu dia menunjuk dadanya, dan ku arahkan tapak tangan ke dada, lalu dia menunjukkan perut, maka ku arahkan tapak tangan ke perut dan ku tarik penyakitnya, lalu ku suruh merasakan apa masih sakit.
“Sudah mas, sudah tak sakit.” katanya.
“Yang benar?” tanyaku.
“Iya mas benar, masak aku bohong.” kata Maskur dengan wajah serius. “Masak sakit ku buat main-main to mas.”
Aku lalu mengambil air aqua, dan ku tiup,
“Ini nanti air aqua di minum dan di pakai mandi,” kataku dan mengambil kerikil di depan rumah lalu ku tiup, “Dan kerikil ini nanti di tanam di pojok rumah, moga sembuh dan tak sakit lagi.” kataku.
“Makasih mas, sekarang sih sudah enakan mas, tak tau nanti.”
“Ya moga-moga sembuh total.”
Selama aku di Saudi, secara praktek menggalang jama’ah toreqoh, secara garis besar, aku termasuk vakum, tak membuahkan hasil, jika di ukur teman-teman seperguruanku yang sudah punya majlis sendiri, dan sudah banyak murid dan santri sendiri, seperti Sohib temanku di Jawa Timur yang sudah punya jama’ah ratusan. Sementara aku masih luntang luntung tak karuan, pekerjaan tak punya, punya jama’ah juga tidak, ah nanggung amat ku rasakan hidup.
Padahal dulu tahun dua ribu, aku sudah di suruh Kyaiku untuk fokus mengurusi toreqoh, tapi aku sendiri masih angin-anginan, masih suka luntang-luntung tak karuan.
Tapi lama juga tak mendengar kabar Sohib, bagaimana kabarnya? Pas kebetulan kakakku Abdullah main ke rumah, aku jadi bisa tau nomer HP nya Sohib,
Setelah tau nomer telponnya, aku segera menghubunginya.
“Siapa ini,” suara Sohib, serak dan lemah.
“Aku.”
“Aku siapa?” tanya Sohib.
“Masak lupa sama teman satu nampan?” kataku.
“ooo kamu ian…, kebetulan ian kamu telpon.”
“Kebetulan bagaimana?” tanyaku.
“Aku sakit ian..”
“Wah sakit kenapa? Memangnya penyakit masih doyan kamu, bukannya penyakitnya akan muntah membaui keringatmu. hahaha…” candaku.
“Jangan bercanda ian, aku sakit beneran, juga semua ketua toreqoh Jawa Timur semua tak bisa bangun, cabang Tuban, cabang Bojonegoro juga pada sakit.”
“La kok bagi-bagi penyakit kayak bagi-bagi berkatan saja.”
“Bener kami sakit semua.”
“La sakit apa?”
“Kami kena santet semua.” jelas Sohib.
“La kok kena santet saja kok pakai rombongan.” kataku.
“Ya bukannya rombongan, tapi kami di keroyok orang yang nyantet.” jelas Sohib.
“Memang ada, nyantet pakai rombongan? Kayak tawuran saja?” tanyaku setengah bercanda.
“Ya memang ada, malah yang nyantet rumahnya di sebelah rumahku.”
“Walah, malah aneh lagi itu.”
“Iya mereka dari jama’ah toreqoh lain, tapi toreqoh sesat, semua teman-teman ketua cabang tak bisa bangun semua, tinggal aku yang masih bertahan, tapi ku rasakan banyak jarum yang menyerang semua tubuhku, mungkin ribuan jarum.”
“La malah enak to, bisa di jual kiloan, la kok punya jarum sebanyak itu, itu pasti langsung pesen ke pabrik jarum.” kataku tetap bercanda, memang aku suka sekali menyandai temanku Sodik.
“Kamu mau bantu ian..?”
“Aku bantu apa? Nyarikan yang mau pembeli untuk jarumnya?”
“Ya bantu nolak santetnya, jarumnya ini tak kelihatan, hanya kerasa pada nancep ke tubuh.”
“oo kirain jarumnya kelihatan pada beterbangan.”
“Ini sekarang banyak sekali ku rasakan santet mengenai tubuhku… tolong di bantu.” kata Sohib.
“Jadi sekarang aku bantunya?”
“ya sekaraaang…! ” kata Sohib kayak berusaha menahan sesuatu.
“ya aku bantu.” kataku, lalu berkonsentrasi, menyatukan segala daya, do’a, dan konsentrasi terfokus pada dzat pemberi kekuatan, dan ku hantamkan seluruh kekuatan yang ku himpun.
Tak tau bagaimana hasilnya.
HP ku bunyi dan ku lihat Sohib yang nelpon.
“Kamu apain? Kok sekarang di sebelah rumahku, tempat kumpul orang-orang itu jadi ramai, pada gedebukan, dan ada suara euk-uek… kayaknya pada muntah.” kata Sohib.
“Ya ndak ku apa-apain, kan aku di Pekalongan, memangnya aku apain, juga aku bisa apa dari sini.” kataku. “Aku malah lagi ngerokok.”
“Tapi ini masih ramai uak-uek… kayaknya muntah darah.” jelas Sohib.
“Ya aku juga ndak ngapa-apakan,” bohongku.
“ya makasih…”
“ya…” jawabku.
——————————————-
Pagi jam 10 aku masih tidur, HP sudah bunyi, ku angkat dengan malas, dari Sohib.
“Ada apa?” tanyaku malas, karena masih ngantuk.
“Tetanggaku semua rombongan ke Jombang, ke tempat guru besarnya.”
“Ya biarkan, kalau pakai uangnya sendiri.” kataku.
“Bukan itu maksudku,” suara Sohib.
“Lalu apa?”
“Ya bahaya, kita akan menghadapi yang lebih besar.”
“Gajah maksudnya? Apa tunggangan guru besarnya gajah, kayak filem Tailand saja.” kataku dengan males, tapi juga suka ngomong ngelantur.
“Bukan itu.” “Ya maksudku kalau gurunya kan lebih sakti.” kata Sohib.
“Saktian mana sama Alloh?”
“Ya saktian Alloh.”
“Ya kalau gitu ndak usah takut, mati melawan kemungkaran kan juga mati sahid.”
“Bukan masalah takut, tapi kita harus siap.”
“Ah aku masih ngantuk, males kalau di suruh siap, baris-berbaris.”
“Ya udah sana tidur, ntar malem ku kabari.”
——————————————-


Karya : Febrian