Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 41


“Aneh kang…!” kata Yatno.
“Aneh kenapa?” tanyaku heran.
“Kok dekat sampean badanku tak panas lagi…” katanya.
“Kamu yang tak kepanasan, aku yang megap-megap pening membaui keringatmu yang bau bawang bombai di remes.”
“Ah masak sih kang…” kata Yatno membaui ketiaknya.
“Ya iyalah, masak aku bohong.”
“Coba kamu keluar kamarku.” kataku pada Yatno.
“Untuk apa?” tanya Yatno heran.
“Ya coba aja.” kataku.
Yatno pun keluar kamar, dan kemudian dia menjerit.
“Aduuh kang panass..!” jeritnya.
Aku segera membuka pintu dan menyuruhnya masuk,
“Kenapa kok aku di luar kepanasan?” tanya Yatno.
“Rupanya kekuatan yang di kirimkan padamu hilang kekuatannya jika kamu dekat denganku, jadi ketika mendekatiku kekuatan itu luntur, aku juga tak tau kenapa, aku hanya mengira-ngira saja, tadi kamu di luar kok kepanasan lalu masuk kamarku kok tak kepanasan lagi, jadi aku ngira pasti ada yang tak beres, ternyata kekuatan yang di kirimkan seseorang kepadamu hilang dayanya ketika dekat denganku.” jelasku
“Wah lalu bagaimana kang? Aku tidur di kamarmu ya..!” kata Yatno.
“Ya ndak papa kalau mau tidur di bawah, ranjangku juga cuma satu, dan kecil tak muat untuk dua orang.”
“Tak apa-apa kang yang penting aku ndak kepanasan.”
“Ya udah kalau begitu.”
“Lalu bagaimana kelanjutannya kang?”
“Udah tidur dulu, ini sudah malam banget, besok aku harus kerja.”
Dan kami pun tidur, entah berapa kali, ledakan di kamar terjadi, dari santet yang di kirim padaku.
Tak ku perdulikan ledakan kadang di tembok, kadang di kamar di atasku berjarak satu meter, aku tidur saja, pikirku kalau nanti menyannya habis paling juga berhenti sendiri, aku belum ada maksud mengembalikannya.
Pagi-pagi subuh Yatno ku bangunkan.
“Ayo bangun sholat subuh..” kataku sambil ku tendang kakinya.
“Ah masih ngantuk kang…!” jawab Yatno malas.
“Masih ngantuk juga tetep harus sholat, kalau tidur di kamarku, kalau tak mau bangun ya besok jangan tidur di sini lagi.” kataku.
Akhirnya Yatno mau juga bangun menjalankan sholat subuh berjama’ah.
Masuk kerjaku jam 7 pagi, biasa kalau pagi buka-buka laptop, dan makan sarapan seadanya, aku suka masak teri, kalau di Indonesia mungkin teri tak ada enak-enaknya, tapi di Arab makanan yang remeh kelihatannya di Indonesia, di Arab jadi nikmat sekali, teri di goreng agak kering, lalu di irisi cabe, bawang merah, bawang putih dan tomat, sudah nikmat sekali.
“Kang… sebenarnya aku juga pernah belajar toreqoh.” kata Yatno yang juga ikut sarapan denganku.
“Toreqoh apa?” tanyaku.
“Ndak tau kang toreqohnya apa, aku sendiri lupa.” jawaB Yatno.
“Nama toreqoh kok lupa, jaman sekarang ini toreqoh itu banyak, dan banyak juga yang sesat.” kataku.
“Lho jadi ada juga yang sesat kang? La kan juga yang di ajarkan membaca qur’an dan juga latihan tenaga dalam.”
“Ya banyak yang sesat, di mana letak kesesatannya? Letaknya karena toreqoh itu tidak menyambung sanad kepada Nabi, namanya kan membuat acara sendiri, yang tukang bakso membuat toreqoh BAKSOniyah, yang tukang becak membuat toreqoh BECAKiyah, yang orang Tuban membuat toreqoh TUBANiyah, yang orang Mesir membuat toreqoh MISRIyah, jadi membuat toreqoh kayak membuat nama jajanan, dengan logo dan maksud tujuan orang yang membuat, agar mendapat pengikut, dengan membuat aturan di dalamnya yang menguntungkan bagi pembuatnya.”
“Iya tuh kang, guru toreqohku pernah bilang kalau ingin tau asal toreqoh yang ku ikuti itu tak akan di tunjukkan,”
“Nah kan makin aneh saja.” kataku. “Sebaiknya di jaman akhir itu seseorang hati-hati, jangan asal ikut ini, ikut itu, kalau bisa di teliti dulu, jangan sampai sudah terlanjur di bai’at ee ternyata malah toreqoh sesat, ya jadinya akan kesusahan sendiri, namanya juga sesat jadi tak akan ada manfaat yang di ambil, contoh saja kamu, la di santet saja sudah pontang panting gitu.”
“Tapi dulu saya di ajari jurus, dan ilmu membangkitkan tenaga dalam kang…”
“Ya walau di ajari membangkitkan ilmu tenaga dalam sekalipun, apa gunanya kalau tidak bisa menyelesaikan masalah sepelemu itu.” tekanku.
“Apa ilmu tenaga dalamku masih ada ya kang?” tanya Yatno.
“Ya aku tak tau, la aku sendiri tak pernah belajar ilmu begituan, tenaga dalam juga tak pernah.” kataku sambil memencet-mencet keyboard laptop.
“Kalau kita coba bagaimana kang?” tanya Yatno.
“Maksudnya nyoba bagaimana?” tanyaku tak mengerti.
“Ya kita adu jurus.”
“Wah aku sendiri tak mengerti jurus, gini saja kamu yang menyerangku, dengan segala jurusmu bagaimana?” tanyaku.
“Ya boleh kang, sampean ndak berdiri saja kang?” tanya Yatno, karena melihatku duduk di karpet sambil mainkan laptop.
“Udah serang saja diriku.” kataku.
Yatno mulai memainkan jurusnya, mengitariku, lalu menyerangku tubuhnya melompat menghantamkan pukulan tangan kosong, tapi sampai di jarak satu meter dari tubuhku, tubuhnya seperti menghantam benteng baja, aku masih mainkan laptop, menjawab pesen yang ada di facebook.
Yatno membuat ancang-ancang lagi menyerang dari belakangku, dan sama saja tubuhnya yang melenting menendang kepalaku, lagi-lagi seperti menabrak benteng baja, dan dia bergulingan, berguling-guling menabrak-nabrak tembok kamar.
“Ampuun kanng…, tolong kang aku tak kuaaat..!” kata Yatno merintih-rintih.
Aku bangkit dan mendekatinya, lalu ku usap dadanya.
“Bagaimana sudah enakan?” tanyaku.
“Wah khodammu besar sekali kang.., pelindungmu tak bisa ku tembus, aku sampai sakit semua.” kata Yatno.
“Ah.. aku tak punya kelebihan apa-apa..” kataku.
“Untung sampean tak membalas pukulanku, kalau membalas aku bisa rontok dadaku.” kata Yatno.
“Ah ada-ada saja.., ini aku mau mulai berangkat kerja, kamu di kamarmu aja ya…!” kataku.
“Iya kang, makasih atas bantuannya.” jawab Yatno.
Masih banyak waktu, aku jalan kaki menuju tempat time card, memasukkan kartu absen dan memasukkan pin dan cap jari, memang pabrik di buat ketat dalam soal absensi sebab dulu cuma di buat memasukkan absen kartu, jadi banyak orang yang titip temannya untuk team card kan, jadi team card di tambahi cap jari, jadi jari orang tak bisa di palsu orang lain, orangnya harus tetap datang untuk melakukan cap jari.
Habis team card aku biasa duduk-duduk di depan kantin untuk sekedar ngobrol dan merokok bersama teman-teman. Suasananya sangat ramai, karena semua orang harus team card kecuali yang sudah kepala bagian atau insinyur atau manager.
Yono menyapaku dengan senyum ramahnya, Yono kerja di Saudi sudah tuju tahun, dia orang Tangerang.
“Mas…, sebenarnya aku pengen main ke kamar mas.., tapi takutnya orangnya sibuk.” katanya.
“Ah gak sibuk, banyak kok yang main, datang aja ke kamar.” kataku.
“Iya ada perlu sedikit dengan istri dan anakku.” katanya.
“Main aja, ntar malem aja ku tunggu.” kataku.
“Hei maas…” kata Umam orang dari Tulung agung.
“Hai juga mas…” balas sapaku.
Begitulah pagi, kami saling sapa, karena pekerjaan masing-masing, jarang kami bisa ketemu, saat pagi itu saat kesempatan kami bisa saling sapa.
Masuk ke ruang kerjaku, tak ada yang di kerjakan, paling duduk dan mengeluarkan rokok, menyalakannya, lalu menyalakan internet dan menyapa sahabat internetku.
Seorang berwarga negara Mesir masuk ke ruanganku,
“Mas ini yang ahli lukis?” tanya lelaki Mesir itu dengan logat Arab yang cepat.
“Iya…” jawabku singkat. “Ada apa?” aku balik tanya.
“Mau tidak nanti ke rumahku, mau ku pinta melukis di rumahku.” katanya.
“hm… bagaimana ya, aku tak biasa melukis di rumah seseorang selama di Arab ini, manager saja yang memintaku melukis di rumahnya ku tolak.” jelasku.
Orang Mesir itu mendekat denganku.
“Maaf mas…, ini permintaan dari istriku yang mengandung tua, jadi dia minta mas untuk melukis di rumahku, jadi bukan kemauanku sendiri.” kata orang Mesir itu.
“Dari mana istrimu kenal dan tau diriku?” tanyaku heran.
“Dia tau dari mimpinya mas, pokoknya mas ini saya mohon dengan sangat supaya datang ke rumah, nanti habis kerja biar ku jemput.” kata orang Mesir itu.
“Ya tak papa kalau begitu.”
Jam 4 sore pulang kerja orang Mesir bernama Musadad itu telah menjemputku, setelah mandi aku berangkat ke rumahnya, naik mobilnya, ku bawa perlengkapan cat dan kuas, sampai di rumahnya aku di ajak makan dulu, sambil membicarakan mana yang harus ku lukis, aku hanya melukis pintu, setelah makan ku lukis dengan cepat pintunya. Sebentar baru melukis Musadad mengeluarkan minuman,
“Wah sebentar sudah jadi bagus.” katanya di sela aku melukis. “Oh ya mas ini di Indonesia seorang ustadz ya?”
“Kata siapa?” tanyaku.
“Banyak kok yang membicarakan, bahkan di sini juga banyak yang telah minta di do’akan.” kata Musadad.
“Ah tidak juga, aku hanya seorang murid toreqoh, cuma mungkin guruku orang yang banyak kelebihannya.” jelasku.
“Kekasih Alloh ya gurunya, waliyulloh gitu?” tanya Musadad.
“Tak tau juga, sebab guruku tak pernah sekalipun mengaku sebagai wali, jadi aku juga tak tau, apalagi la ya’riful wali ilal wali, tak akan tau wali kecuali wali.” jelasku.
“Mari mas di minum jus nyam.” kata Musadad mempersilahkanku minum.
“Aku banyak membaca di banyak kitab, para guru toreqoh itu orang-orang yang selalu di ijabah do’anya.” kata Musadad. “Misal seperti Syaikh Abdul Qodir Aljailani, Syaikh Junaid Albagdadi, Ibrohim Alkhowas, Syaikh Abu Khasan Assadzili, semua ulama’ besar adalah orang-orang toreqoh.”
“ya …” jawabku singkat. “Mungkin dalam umum orang meminta hujan dengan sholat istisqo’, tapi orang toreqoh tidak, jika meminta hujan, ya meminta saja, sebab jiwa, raga, ruh dan hatinya adalah do’a.” kataku.
Tiba-tiba hujan deras sekali turun.
“Wah mas bicara hujan, langsung hujan turun deras, boleh saya di jadikan murid.” kata Musadad.
“Menjadi murid toreqoh itu berat, dan harus tunduk pada guru, bukan soal gurunya itu siapa, tapi karena ilmu yang dari Nabi yang di titipkan kepada guru, jadi ketundukan pada guru itu seringkali bertentangan dengan ego diri.”
“Saya siap guru, saya siap tunduk pada guru, guru memerintahkan apapun saya siap, sebab guru adalah pembimbing saya…” kata Musadad serius.
“Sudah-sudah saya selesaikan lukisan, nanti jam enam sebelum magrib saya harus segera kembali ke kamar, soalnya ada janji sama orang Indonesia.” kataku.
“Siap guru…” kata Musadad.
Setelah jam enam, aku di antar pulang ke barrak,
“Jika guru mau kemana saja, saya siap mengantar, jadi guru telpon saja saya.” kata Musadad yang seorang insinyur komputer.
“Ya nanti kalau mau ke kota aku akan telpon.” kataku sambil keluar dari mobilnya Musadad.
Sampai di kamar pas magrib. Yatno sudah menunggu di depan kamar.
“Ada apa lagi?” tanyaku sambil membuka pintu kamar,
“Badan saya panas lagi kang.” kata Yatno.
“Mari sholat magrib dulu, nanti habis sholat ku buatkan air isian, untuk pagar badanmu.” kataku, yang langsung mengambil air wudhu.
Dan kami sholat berjama’ah, selesai sholat ku buatkan air isian untuk pagar Yatno.
“Ini di pakai mandi, jangan di handuki, biarkan kering, air itu pakai di guyuran terakhir, ingat biarkan kering sendiri.” kataku.
Dan Yatno pun mandi, aku nyalakan laptop, enaknya kalau internetan tak bayar, mau internetan sepuasnya juga tak masalah, dan Alhamdulillah kisah Sang Kyai ini semuanya ku tulis dengan internet gratis.
Anehnya setelah aku meninggalkan Saudi internet tak gratis lagi.
Yatno telah selesai mandi.
“Bagaimana No… sudah enakan?” tanyaku.
“Iya Alhamdulillah sudah enakan kang, badan tak panas lagi.”
“Ya moga-moga tak panas lagi.” kataku.
Pintu kamar di ketuk,
“Masuk tidak di kunci.” kataku.
Masuk Yono sama Muhsin. Dan seperti biasa Muhsin membawa makanan, kali ini soto babat.
“Wah aku masih kenyang, tadi habis makan di rumah Musadad orang Mesir.” kataku.
“Wah kok ke tempat Musadad segala?” tanya Yono.
“Iya tadi di suruh melukis.”
“Biasanya Musadad itu orangnya kikir, kok sampai mau ngasih makan?” tanya Muhsin.
“Gak juga, orangnya baik kok.” kataku.
“Syukur kalau sama mas orangnya baik, ” kata Muhsin.
Hape ku bunyi, dan ku angkat, suara Musadad. “Ini guru ada makanan dari istriku, guru keluar sebentar, saya tak bisa masuk,”
Aku keluar dari barak, dan Musadad menunggu di mobil, dan memberikan senampan makanan.
“Wah repot-repot banget.” kataku.
“Ini permintaan istriku guru, doakan anakku lahir dengan selamat, dan bisa menjadi manusia seperti guru…, soalnya ini mau ke rumah sakit membawa istriku, doakan ya guru, supaya kelahirannya lancar.”
“InsaAlloh lahirnya lancar.” kataku.
Aku pun masuk ke dalam.
“Makanan dari siapa mas?” tanya Muhsin.
“Dari Musadad, dia minta di do’akan supaya kelahiran anaknya lancar, dan selamat.” jawabku.
“hehehe orang pinter di mana-mana banyak yang bawain makanan.” gurau Yono.
“Udah ayo di makan bareng-bareng.” kataku.
“Wah ini yang mana dulu?” tanya Yono.
“Yang mana ajalah, aku cicipi soto babatnya dulu.” kataku mengawali, dan kami ramai-ramai makan.
Kebersamaan yang kadang sekejap itu kadang yang paling berkesan, dan menjadi kenangan sederhana yang sulit di lupakan. Dan menjadi pengikat persaudaraan tanpa ada syak wasangka. Keikhlasan itu tak harus di pikirkan tapi di jalani dengan apa adanya.
“Saya mau curhat mas…” kata Yono selesai makan.
“Wah di mana-mana aku kok tempat curhatan orang to…heheheh, curhat apa itu?” tanyaku.
“Soal rumah mas.”
“Kenapa dengan rumahnya?”
“Ya beberapa hari yang lalu, istri pernah mengalami hal yang aneh,”
“Hal aneh apa itu?”
“Ya seperti melihat orang masuk rumah, tapi setelah di cari tak ada.”
“Jam berapa?”
“Ya sekitar habis magrib gitu, la ini kok istri, anak saya yang kecil kalau malam nangis terus, lalu badannya sekarang panas, sudah di bawa ke rumah sakit, tapi panasnya tak juga turun-turun.”
“hm… maaf, ada tetangga yang suka pakai peci ada hiasannya, dan pernah punya masalah dengan orang itu ya?” tanyaku.
“Iya mas, kok mas tau?” tanya Yono.
“Ya pas kebetulan saja pas.” jawabku.
“Lalu apa hubungannya dengan orang itu?” tanya Yono.
“Orang itu pernah menanam tulang anjing di depan rumah, di kali kecil kering di bawah pohon bambu.” kataku.
“oo di situ, di depan rumahku memang ada pohon bambu.” jawab Yono.
“Lalu bagaimana solusinya mas?” tanya Yono.
“Sediakan saja air, istri suruh sedia air di rumah, biar saya transfer obat ke air itu, nanti di minumkan untuk anaknya setutup botol aqua saja, dan untuk minum istrimu suruh minum satu gelas.” kataku.
“Ya biar saya telpon istri saya mas.” kata Yono.
“Saya sebentar lagi mau cuti mas, apa mas ndak nitip apa-apa dari Indo?” tanya Muhsin.
“Ya nitip rokok aja,” kataku.
“Rokoknya apa mas?”
“Sampoerna mild aja, biar ndak berat.”
“Baik nanti saya bawakan.” kata Muhsin.
“oh ya saya sudah puasa mas, kok sering mengalami hal aneh.” kata Muhsin.
“Hal aneh apa?” tanyaku.
“Kalau di masjid, banyak orang yang tak ku kenal menyalamiku.” kata Muhsin.
“Ya udah jangan di pikirkan, anggap saja biasa, mengalami hal apapun yang paling aneh sekalipun anggap saja biasa, sebab tujuan diri bukan menemukan hal aneh atau ganjil, tapi tujuan diri adalah penghambaan pada Alloh dalam setiap tarikan nafas.” jelasku.
“Iya mas, mohon selalu di bimbing.”
Setiap kesempatan, setiap waktu berbuat baik jika bisa, itu yang selalu ku pegang, entah apa hasil akhirnya, yang penting kita berusaha berbuat baik, seikhlas kita mampu ikhlas, orang lain entah berpendapat apa, itu urusan orang lain, yang penting kita berusaha selalu di jalur yang di ridhoi Alloh, jika keluar jalur dan cepat-cepat kembali, selalu membiasakan diri bertaubat, membiasakan diri selalu merasa bersalah di hadapan Alloh, karena kenyataannya kita itu manusia yang selalu salah, tempat salah dan dosa, jadi selama kita manusia pastilah masih ketempatan salah, seperti kita kalau mandi selama kita manusia jika mandi wajarlah ada dakinya, asal kita tak bosan menggosok diri, selamanya menggosok diri, seperti besi pasti berkarat, asal kita tak malas mengasah, karat juga pasti akan hilang, dan timbul lagi, kecuali kita sudah jadi Tuhan, dan kita bukan Tuhan, kita itu manusia yang selalu berusaha menjadi manusia yang menghamba sampai akhir hayat kita.
“Sudah mas, sudah di sediakan airnya.” kata Yono.
“Lalu soal tulang anjing itu bagaimana mas, soalnya ini kata istri yang sakit malah sampai ke saudara-saudaraku.” cerita Yono.
“Ya kalau itu harus di hilangkan kekuatan hitamnya, ya nanti ku buatkan pagar batu untuk di tanam sebagai pelawan dari kekuatan hitam tulang anjing itu.” kataku.
“Iya makasih mas sebelumnya.”
——————————————-
Pulang dari Jum’atan, aku ketemu Yono.
“Gimana mas Yon…, anaknya sudah sehat?” tanyaku.
“Belum mas, la airnya sama mertua lelakiku ndak boleh di minumkan ke anakku, katanya terlalu kuat.” jawab Yono.
“Terlalu kuat bagaimana?”
“Ya mertua lelakiku kan juga biasa di mintai tolong orang, dia biasa mengamalkan nyepi-nyepi gitu mas, la kata dia air transferan mas itu katanya terlalu kuat, takutnya bahaya ke si anakku.”
“hm… aneh, itu kan sudah ku perkirakan untuk anak kecil, udah di minumkan saja, setutupnya, ya kalau mertuamu memang bisa, kenapa ndak dia yang nolong, aneh-aneh aja.”
“Maaf mas, jadi ndak enak.”
Habis magrib, Yono main ke kamar,
“Ini ada rokok Indonesia mas.” katanya menaruh rokok di meja.
“Kok dapat rokok Indo dari mana?” tanyaku.
“Tadi ada sopir truk dari Indonesaia, pengangkut semen, dia bawa rokok.” jelas Yono.
“Bagaimana kabar istri dan anaknya? Sudah sehat?” tanyaku.
“Alhamdulillah, setelah minum air yang dari mas, kata istri langsung enakan, juga si kecil langsung di bawa pulang dari rumah sakit.” jelas Yono lagi.
“Ya syukur kalau gitu.”
Kamar di ketuk lagi,
“Masuk..! ” kataku.
“Wah ada mas Yono.” kata Romadhon, pekerja dari NTT.
“Ada apa dhon, tak biasanya main ke kamarku?” tanyaku.
“Biasa mas, kayak yang lain, mau minta tolong.” jawab Romadhon.
“Soal apa?”
“Soal ibu saya mas.”
“Kenapa ibunya?”
“Sakit mas.”
“Apa sakitnya, wah aku jadi malah kayak dokter, hahahaa.”
“Wah kalau dokter manapun ndak ada yang bisa ngobati dari jarak jauh..” sela Yono.
“Sakitnya di kepala mas.”
“Pusing gitu?”
“Iya.”
“Ya minum aja panadol.” kataku.
“Sakitnya terus menerus mas, sudah di bawa ke dokter juga tetap tak sembuh.” jelas Romadhon.
“Wah bahaya itu.”
“Bahaya bagaimana mas?”
“Ya bahaya, apa kamu punya masalah soal tanah di rumah, maksudku tanah rebutan keluarga gitu?”
“Iya mas, tanah warisan jadi rebutan.”
“Bisa kamu sekarang telpon ibumu?” tanyaku.
“Sebentar biar ku hubungi.”
“Coba hubungi, lalu suruh duduk menghadap ke barat, biar penyakit di kepalanya ku tarik dari sini.”
“Apa bisa mas di tarik dari sini.”
“Ya bisa tidak bisanya kan belum tau, nanti saja di lihat perkembangannya.” kataku.
“Baik mas saya hubungi.” kata Romadhon.
Aku menunggu Romadhon menghubungi ibunya, sementara aku ngobrol sama Yono.
“Wah aneh sekali ya kelebihan mas ian?” tanya Yono.
“Ah tak aneh, sebenarnya semua orang juga bisa, asal mau menjalankan lelakunya, aku sendiri juga tak memiliki kelebihan apa-apa.” jawabku.
“Apa mungkin semua orang juga bisa mempunyai kelebihan seperti itu?”
“Semua orang bisa, syaratnya jelas Islam, mau menjalani lelaku, dan mau menuruti apa saja yang di tunjukkan oleh guru pembimbingnya, sebenarnya teorinya cuma mendekatkan diri pada Alloh, lalu Alloh mengijabah do’a kita, jadi kalau seperti aku sendiri, jelas tak punya kelebihan apa saja, do’a itu kan kekuatan kita, karena meminta pada Alloh, dan murni meminta pada Alloh, tidak lewat jin, atau khodam, atau malaikat sekalipun, makanya ijabah tak menunggu hari atau bulan atau tahun, tapi bisa seketika di ijabah, tergantung kedekatan diri pada Alloh, jadi kuncinya mendekatkan diri pada Alloh, jika sudah dekat, maka ijabah Alloh itu tidak terhalang, kalau berhalangan namanya bukan Alloh, Alloh itu ‘ala kulli syai’ing qodir, sanggup melakukan apapun, jadi tak terhalang mengijabah do’a kita, kok do’a kita tak terijabah, berarti bukan Alloh yang terhalang, tapi kitalah yang tak ikhlas, tak mau mendekatkan diri pada Alloh.”
“Mendekatkan dirinya itu yang sulit mas.” kata Yono.
“Ya kan sudah ada guru yang mengarahkan, jika diri mengikuti arahan guru, maka proses juga tak akan lama. Proses menjadi lama itu karena diri masih tertawan dengan nafsu, dengan ego, merasa diri sok mulya, merasa diri lebih dari orang lain, punya suara merdu saja sudah gaya, punya kegantengan sedikit sudah engkek, punya kekayaan sedikit sudah petentang-petenteng, dan berbagai macam kelebihan yang akhirnya menjadikan diri malah punya banyak kekurangan, tak ada manusia yang mulya, kecuali manusia yang terpilih memang mulya, seperti Nabi Muhammad, kalau diri merasa lebih dari orang lain, ya susahlah di ajak maju…”
“Sudah mas, ibu saya sudah duduk menghadap ke barat.” Kata Romadhon.
Aku segera konsentrasi, menyatukan daya, do’a, dzikir, menyatukan ingatan pada sang pemberi kesembuhan yaitu Alloh, lalu mengirim konsentrasi dalam satu titik, yaitu sakit di kepala Ibunya Romadhon, dan meminta pada Alloh agar penyakit di kepalanya di buang.
Setelah selesai penarikan, aku berkata pada Romadhon.
“Coba sekarang, kamu telpon ibumu, tanyakan sudah enakan belum.” kataku pada Romadhon.
Lalu romadhon menelpon pada Ibunya, dan kemudian selesai.
“Sudah enakan mas katanya, katanya kayak ada hawa diingin masuk ke kepalanya, dan ada sesuatu yang seperti tertarik keluar.”
“Bener sudah enakan?”
“Bener mas.”
“Ya syukur kalau gitu., moga saja sembuh.” kataku.
Malam sudah makin larut, ada beberapa ledakan di luar kamar, menghantam tembok, risih juga sering-sering mendengar ledakan, walau santet tak mengenaiku, tapi kadang pas tidur ada ledakan bikin kaget juga.
Suara ketukan pintu, pasti si Yatno, biasa pasti dia kesakitan.
Benar dugaanku, Yatno masih memakai pakaian kerja, dan masih penuh debu.
“Ada apa lagi no?” tanyaku setelah membukakan pintu dan membiarkannya masuk kamar.
“Aku rasanya tak kuat kang…!” kata Yatno memelas.
“Sakit lagi..?” tanyaku.
“Dadaku rasanya kayak di remas-remas kang, aku ingin bunuh diri saja, aku ingin mati saja, aku tak kuat kang…!” kata Yatno.
“hehehe, dulu, sudah ku katakan kalau kamu akan mengalami masalah seperti ini, kamu juga tak mau percaya, memangnya mati akan menjadikan masalahmu selesai? Kamu akan malah di siksa sampai hari kiamat no.” kataku.
“Tapi aku tak kuat kang, di dalam pikiranku selamanya kok ya bayangan cewek itu melulu,”
“Ah kamu ini cemen, cengeng,”
“Ya tapi ini juga gak wajar kang.”
“Makanya kamu jangan kalah, permasalahan sebenarnya bukan dari luar dirimu no, tapi dari dirimu sendiri.”
“Lho kok malah sampean nyalahkan aku to kang.”
“La kalau tak menyalahkanmu, memangnya aku nyalahkan kambing, ayam, bebek.” kataku.
“Ya maksudku kan aku yang di kerjani kang.”
“Ya kamu kan tak akan di kerjai, jika batinmu kuat, keteguhanmu mantap, la kamu cengeng, sok main cewek, tapi tak tahan banting, aku dulu cewekku banyak tapi ndak seribut kamu.” kataku agak jengkel.
“Ya sudah aku nurut sampean.” kata Yatno.
“Nah kalau nurut aku, ini ku kasih dzikir, ini amalkan, kalau tak kau amalkan, jangan salahkan kalau kamu benar-benar jebol di santet.” kataku.
“Baik akan ku amalkan kang.” kata Yatno.
“Jangan baik-baik, ini serius.”
“Iya kang, tapi di bantu ya.”
“Apa aku kelihatannya tak membantumu? Coba lihat siapa orang Indonesia yang perduli dengan nasibmu?”
“Coba lihat, aku ini bukan saudaramu, kenal juga di Saudi sini, bukan sanak, bukan kadang, bahkan hubungan kerabat sama sekali tak ada, mau membantumu, kira-kira apa yang aku harap darimu? Ndak ada kan? Juga aku membantu pada yang lain, apa aku agar tenar, terkenal? Coba di angan-angan, apa aku pernah meminta pada yang ku tolong? Sereal aja tak minta kan? Kemana-mana juga aku bayar sendiri, sebab aku yakin, yang aku lakukan akan mendapat balasan dari Alloh, jadi bukan karena harapan yang tak seberapa dari manusia.”
“Iya kang, aku ngerti, kalau ku mintai bantuan lagi mau gak kang?”
“Aku ada teman perempuan, yang sering di pukuli suaminya, karena suaminya sering main saham, awalnya sih kaya karena main saham, tapi belakangan malah bangkrut, dan karena itu malah sering mukuli dan membentak-bentak istrinya, di bilangnya istrinya membuat dia sial lah.” cerita Yatno.
“Sekali ini aku mau membantu, tapi lain kali tidak, bukan aku tak mau, tapi aku juga manusia biasa no, bukan seorang superman yang semua masalah bisa ku selesaikan, kalau mau membantu orang lain, bantulah semampumu, misal kamu melihat seorang nenek-nenek membawa sekarung beras, lalu kamu ingin membantu, lalu kamu menyuruhku mengangkut karung itu, la kalau jalan sama kamu, ketemu nenek-nenek seratus bawa karung beras semua, lalu semua karung beras kamu suruh mengangkat aku semua, bukankah aku akan mati ketiban karung?”
“Iya juga yo kang..”
“Semua orang punya problem no, aku sendiri juga punya keluarga, aku punya anak, dan tentu anakku tak mau ku kasih makan angin, jadi ya aku membantu selama aku bisa, aku sendiri kan juga ngurus keluargaku, semua orang punya problem dan punya masalah dalam keluarganya, dan Alloh tak membebankan masalah di atas kesanggupan seseorang, jadi sudah cukup kamu mampu menyelesaikan masalahmu, jangan lantas kamu mencari masalah orang lain kau timpakan masalahnya kepadaku, sekalipun aku kuat, aku kan butuh juga menghidupi keluarga, bekerja, sebab aku bukan Alloh, mintalah penyelesaian masalah pada Alloh, jangan padaku.” kataku panjang lebar.
“Lalu bagaimana temanku itu kang…?”
“Suruh saja sedia air, nanti ku transfer ke air, kalau lelakinya sedang marah siram saja dengan air itu, ingat jangan mencari masalah orang lain, lalu kau timpakan padaku.”
“Iya kang…!” jawab Yatno.
“Jangan iya-iya, jangan menjadi calo, kalau kamu memang tak bisa menolong orang lain, maka tak usah sok-sokan bisa menolong tapi menggunakan tangan orang lain, biar kamu dapat nama,”
“Aku ndak mencari nama kang.”
“Ya tak mencari nama juga, kamu menyusahkan aku, walaupun aku tak mengharap apa-apa juga, aku ini kan juga manusia wajar, butuh makan, butuh keperluan untuk hidup, jadi aku juga butuh menjalankan pekerjaanku sendiri, walau aku ikhlas, tapi bukan berarti kamu boleh kemana-mana mencari orang yang perlu kamu tolong, lalu menimpakan padaku, itu namanya calo, ya kalau kamu mau menolong orang lain, tolong dengan kedua tangan dan kemampuanmu, ayahmu saja kamu ajak kemana-mana, lalu kamu suruh kalau ada orang punya hutang, ayahmu kamu suruh bayarin, apa ayahmu mau, sekalipun ayahmu kaya tuju turunan, uangnya pasti habis, Raja Saudi yang kaya raya, kamu ajak ke Indonesia, lalu ngasih makan seumur hidup semua gelandangan di Indonesia, tak akan mau.”
“Wah kok sampai raja Saudi segala kang, aku kan gak ngajak raja Saudi.”
“Ya namanya juga perumpamaan, aku mau memperumpamakan siapa kan asal kataku saja,”
Memang kadang banyak dan sering ku temukan, seseorang yang mengambil kesempatan, biasanya akan menyodorkan tetangganya, mas ini ada tetanggaku yang sakit, ada temanku, ada orang desaku, ada teman satu kantorku, ada…ada… ya di mana tempat juga ada, jika satu orang yang kenal aku kemudian membawa 100 orang untuk aku do’akan, dan temanku ada seribu, bukankah aku bisa ndak kerja, seharian berdo’a juga belum cukup bisa menyelesaikan semua…. ck… ck… dan kenyataannya sampai sekarang teman-temanku seperti itu ada, entah untuk mencari nama untuk pribadinya, atau entahlah.
Memang di dunia ini banyak sekali orang berpikiran aneh, pantas Kyaiku sendiri selalu menghindar, menyembunyikan diri, karena banyak orang yang memanfaatkan kelebihan yang di miliki, aku malah pernah orang membawa kartu undian, minta di tiup, agar undiannya menang, atau orang minta di di do’akan agar ayam aduannya menang, edan, gak berotak, memang kebanyakan orang selalu menilai orang lain dengan porsi akalnya, dan nyatanya banyak orang yang berpikiran dangkal, masak ya minta pada Alloh hal-hal yang di haramkan, malah ada yang minta agar bisa menaklukan hati si cewek ini, untuk istri kedua.
Aku sendiri sering mengalami hal itu, di mintai seperti itu, ya kalau untuk kesenangan kenapa ndak usaha sendiri.
Ingin mendapatkan jabatan, menjadi DPR, ah memang manusia yang tamak, selalu menilai orang lain dengan dosis ketamakannya. Lalu berusaha orang lain di berusahakan membantu apa yang di tamakkannya akan tercapai.
——————————————-
“Mas aku kecelakaan.” suara Muhsin di HP, dia sedang cuti dan berada di Indonesia.
“Kecelakaan dimana, kecelakaan motor?”
“Bukan, tapi kesetrum listrik.”
“Bagaimana ceritanya kok sampai kesetrum listrik?” tanyaku.
“Aku kan bersih-bersih rumah baru, ya ku siram semua pakai air, rumah yang tak ku tempati kan semua kabelnya di curi orang, jadi minta ijin PLN listriknya ngambil langsung dari lonceng, untuk sementara, trus kabel semua yang masang pamanku, kok masang kabel sanyo pasangannya kebalik, yang ada setrumnya kok colokan yang lelakinya.”
“Maksudnya yang lelakinya?”
“Ya itu yang ada colokannya, yang kabel tak ada colokannya malah tak ada listriknya, pas aku cabut jeknya, langsung tanganku kesetrum, apalagi di bawahku penuh air menggenang karena di tengah dapur, aku kibas-kibaskan kabelnya nempel di tanganku, aku terbanting di lantai yang penuh air, montang manting ndak karuan, lalu aku ingat mas, aku ingat mas pernah bilang, jika mengalami apapun yang berbahaya, atau membahayakan diri, maka upayakan ingat Alloh, dan minta pertolongan padanya, lalu aku ingat saja pada Alloh, aku membaca takbir sekuatnya, dan aku pingsan, tapi kok aneh, aku sadar sudah menggeletak di tempat yang kering, tapi tubuhku penuh luka, dan di tanganku ada bekas menancap lubang bekas colokan, ini aku di rumah sakit.” cerita Muhsin.
“Syukur kalau masih selamat.” hiburku.
“Aku di do’akan ya mas, biar lekas sembuh, dan biar bisa selekasnya kembali ke Saudi.” kata Muhsin.
“Iya insaAlloh, semoga Alloh memberi kesembuhan.”


Karya : Febrian