Sunday, June 10, 2012

Sang Kyai 35


Jam sembilan pagi, ada istirahat sebentar dan para pekerja menyebutnya dengan SAE, atau ngeteh, orang Arab biasanya berangkat kerja membawa sarapan pagi, roti kubus, kubus terbuat dari tepung di uleni dengan air dan garam, lalu di pipihkan dan di tempel ke tembikar tanah, makannya di sobek dan di cocolkan ke kare, rasanya? ya kalau aku gak doyan.
Jam 9 aku menghadap manager administrasi, soalnya waktu berangkat dari Indo aku di janjikan mau di naikkan gajiku kalau sudah di Saudi. Sebenarnya sudah sering ku dengar kata-kata JANGAN PERCAYA DENGAN UCAPAN ORANG SAUDI, kata itu sering ku dengar dari teman-temanku yang pernah bekerja di Saudi, selalu bilang, JANGAN PERCAYA UCAPAN ORANG SAUDI, JANGAN MAU DI BERI JANJI TANPA ADA HITAM DI ATAS PUTIH, JANGAN MAU DI SURUH KERJA YANG BUKAN TERMASUK YANG TELAH DI SEPAKATI WALAU DI JANJIKAN UPAH LEBIH.
Tapi aku langgar semua kata itu, pertama aku percaya pada manager yang mengatakan : nanti setelah di Saudi gaji ku naikkan.
Dan jam 9 itu aku menghadap ke manager untuk mengkonfirmasi janjinya. Tapi dia bilang, sekarang masa training, nanti setelah 3 bulan, setelah masa training, gaji ku naikkan. Begitu katanya meyakinkan.
Setelah 3 bulan aku menghadap lagi, dan ternyata dia bilang: kenaikan gaji itu bukan hakku, itu hak kantor pusat di ABHA, jadi aku tak bisa memberi kenaikan.
Aku geleng-geleng kepala, ah dia telah salah memilih orang untuk di dzolimi.
Ku katakan pada Muhsin, “Managermu telah salah memilih orang untuk di dzolimi, ini ingat kata-kataku sebentar lagi pabrik akan mengalami kebangkrutan, perlahan akan hancur,”
Dan belum sampai setahun, pabrik benar-benar mengalami kebangkrutan, export di tutup pemerintah, biasanya yang beli semen sampai ngantri berkilo meter, jadi sepi, karyawan mulai di pecati, yang tua di pulangkan, lembur di wajibkan tapi tak di bayar, manager sudah kayak orang setres, tukang kayu di suruh jadi tukang kebun, tukang kebun di suruh jadi tukang kayu, apalagi di tambah perang yang terjadi di sekitar pabrik antara pemberontak kuti Yaman, dengan tentara Saudi, keadaan pabrik makin merosot.
Profesionalisme memang bukan sifat orang Saudi, maka jangan percaya dengan kata orang Saudi.
——————————————-
“Katanya sudah menghadap manager soal kenaikan gaji, bagaimana hasilnya?” tanya Muhsin.
“Ya dia janjikan nanti setelah masa training.” jawabku.
“Ya nanti di tunggu saja, lalu bagaimana syaratnya menjadi muridnya mas?”
“Tak ada syaratnya, harus ikhlas saja menjalankan amalan yang ku berikan, ini amalannya sudah ku tuliskan.” kataku sambil menyodorkan kertas bertuliskan amalan.
“Ini hitungannya 10 ribu ya mas?” tanya Muhsin.
“Iya.”
“Apa ndak salah nulis nolnya?”
“Salah di mananya?, nolnya empat kan?” tanyaku.
“Iya empat.”
“Kalau empat berarti benar, kan sepuluh ribu enolnya empat,” jelasku.
“Iya kali saja tiga aja nolnya…, “
“Lhoh itu wirid sepuluh ribu, wirid paling ringan.” tekanku.
“Kan sudah ku katakan menjadi muridku itu berat, kalau mau menjadi orang ampuh ya harus kuat duduk, itu kan melawan kehendak nafsu, menyelesaikan dzikir, seseorang itu di ijabah atau tidak di ijabah do’anya hanya melewati lapisan nafsunya, di buka hijab tutup makrifatnya sehingga di beri pengetahuan ilmu-ilmu Alloh, ya hanya melewati lapisan nafsunya, semakin seseorang itu sibuk meladeni nafsunya, maka makin jauh orang dengan Alloh, artinya orang itu menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya, ILAHAHU HAWAHU, segala macam amaliyah itu hanya dengan maksud kita bisa menundukkan nafsu dan menempatkannya pada kerangkeng yang bernama mutma’inah, nafsu menjadi tenang, tidak bergejolak ingin di penuhi, orang itu jika masih punya keinginan mulia di sisi manusia, jangan harap punya pangkat di sisi Alloh, orang itu kalau masih mengharap pada manusia dan kebendaan maka jangan harap do’anya di ijabah Alloh, karena sebenarnya dia tidak meminta kepada Alloh, tapi meminta kepada ketakutan dan harapannya sendiri, kadang seseorang merasa telah benar ibadahnya, dan tanpa di sadari ibadahnya telah melenceng jauh, sehingga bukan fadhilah atau anugerah buah ibadah yang di terima, tapi yang di rasakan adalah kesesakan hati, suntuk dan makin jauh dari Alloh, lalu berlari ke kubur-kuburan, mencari jawab atas kemandekan ibadah yang selama ini di lakukan tidak mendapat apa-apa.”
“Iya mas…”
“Sebenarnya ibadah yang menghasilkan buah ibadah itu tak sulit, amat simpel, dan tak bertele-tele, tapi manusia punya nafsu, dan manusia harus menaklukkan nafsunya, Nabi saja mengatakan perang uhud itu perang kecil, kita akan pergi dari perang kecil ke perang besar, dan perang besar itu adalah memerangi hawa nafsu, di katakan besar karena kita memerangi diri sendiri, dan umumnya tak ada orang yang mau menahan keinginan yang menggebu-gebu, yang ada manusia yang selalu ingin keinginannya di puaskan.
Padahal kepuasan, ketamakan itu tak ada ujung pangkalnya, puasnya ya MATI, orang punya istri satu, pengen dua, punya dua ingin tiga, orang punya rumah satu ingin punya dua, punya dua ingin punya tiga, dan terus berkelanjutan, punya sapi satu ingin dua, punya dua ingin tiga, punya mobil satu ingin punya yang paling mewah dua, dan seterusnya, kalaupun punya pulau satu, maka ingin dua pulau, punya dua pulau ingin punya tiga pulau, makanya sejak dulu kerajaan saling ingin menguasai yang lain,
Dan tak ada cara mencegah berkobarnya nafsu kecuali dengan memperkecil nyalanya, bukan memadamkan tapi menyalakan di tempat yang semestinya, kalau nafsu sahwat padam, kasihan istri kalau istrinya impoten, jadi keinginan atau nyalanya nafsu itu di tempatkan sesuai tempatnya, seperti api di tempatkan di lilin atau kompor, sehingga bisa di manfaatkan, nafsu sahwat di tumpahkan pada istri, dan nafsu itu hanya bisa di tenangkan dengan mengenali jalur-jalur keluarnya, jalur keluarnya nafsu itu di namakan latifah, kelembutan sumber keluarnya nafsu, dan sumber itu kita sumbat perlahan dengan dzikir, ala bi dzikrillahi tatma’inul qulub, ingatlah hanya dengan mengingat Allohlah hati itu bisa tenang. Bagaimana siap tidak menjalankan?”
“Ya mas saya siap..”
“Tidak ada manusia, wali, Nabi sekalipun, jin, juga malaikat atau setan itu hebat, kecuali Alloh mengijini dan menganugerahkan kehebatan, maka jangan sekali-kali menyandarkan pada selain Alloh, orang alim, kyai, nabi, jin, malaikat, semua itu ciptaan sama dengan kita, kalau kita menyandarkan pada sama-sama ciptaan yang punya kekurangan, maka jelas salah kita, bertawakal dan bersandarlah hanya pada Alloh, semua ciptaan selain kita, itu tidak bisa memberi manfaat dan bahaya, kecuali Alloh mengijinkan menjadikannya memberi manfaat, dan bahaya.”
“Hm… mumet mas…”
“Hehehe ya ndak papa, besok di lanjut lagi.” kataku,
Setiap gerak, setiap kejadian, dan setiap apapun yang bergerak dan berhenti itu tak lepas dari kehendak dan taqdir berlaku di dalamnya, mungkin aku akan terlihat lebih diam dari pohon mati dan lebih tak bergerak dari batu yang keras, karena aku sering tenggelam dalam penyelaman dunia hatiku, di saat orang bercanda dan tertawa-tawa, aku mungkin akan seperti manusia yang tak ada, tak terseret oleh candaan siapapun, dan lebih suka menyendiri menyelami tentang ilmu Alloh, rasanya setiap waktu ku gunakan kepahaman walau telah berhari-hari aku menyelam, namun dasar kepahaman tak juga ku capai, hanya keheningan tanpa aksara, dan aku mencoba menghindari menyalahkan siapapun manusia, sebab aku amat yakin semua telah di program menempati taqdir-taqdirnya, seperti layangan yang di tarik benang, dan di terbangkan dengan arah angin yang di kehendaki kemana hembusannya.
Bahkan aku mendapat teman sekamar, karena kunci hanya satu, dan di bawa temanku, sehingga hampir tiap hari aku harus masuk kamar lewat jendela atau aku harus sering ketinggalan kerja karena teman yang mandinya berjam-jam, semua adalah proses, semua manusia punya sisi buruk, dan pasti tak jarang orang tak suka denganku, karena sisi burukku yang mengemuka, dan cenderung aku tak menyadari keburukan diri sendiri.
Alloh selalu menciptakan orang lain bisa jadi untuk melatih kesabaran orang lainnya, seperti menciptakan syaitan, guna di jadikan penguji bagi manusia, agar keimanan tertempa, agar keteguhan teruji, dan siapa yang pantas dan tak pantas mendapat anugerah dan pahala akan terlihat jelas.
Kerja di pabrik semen mungkin sama dengan kerja di pabrik lain, soalnya aku tak pernah kerja di pabrik manapun. Di pabrik semen yang ku tempati, ada sistim kerja yang namanya drama, lhoh kok bisa? Aku sendiri pertama kaget ada kerja model kayak gitu, tau kan drama? Drama berarti ya gak bekerja beneran, pura-pura kerja tapi tak menghasilkan apa-apa tapi kelihatan paling sibuk.
Contoh, misal nancepkan paku, paku di tancepkan separo, lalu sibuk mukul, tapi yang di pukul kanan kiri paku, jadi tak di kenakan pakunya, sebentar istrirahat, nanti kalau ada mandor datang, pakunya di pukul beneran, tapi juga jangan sampai ambles, ya satu paku jatahnya satu hari lah, malah bisa juga di ambil lemburan dalam rangka menancapkan satu paku itu.
Aku sendiri kaget, aku penulis kaligrafi, dalam menyelesaikan kaligrafi ya menurutku sih santai saja, ee ternyata di Arab yang ku selesaikan dalam sehari itu bisa di selesaikan oleh penulis sebelumnya dalam masa sebulan, jadi karena pabrik membuat ukuran sebelumnya, jadi aku di beri tugas menyelesaikan tugas tulisan untuk satu bulan, ya aku selesaikan dalam sehari, karena tak tau, akhirnya dalam masa sebulan aku nganggur, berangkat kerja, cuma ngisi absen, dan duduk seharian waktu dzuhur pulang, jam satu balik kerja, lalu duduk sampai jam 4 sore, dan pulang, lama-lama jenuh juga, maka mulai itulah tulisan SANG KYAI ku tulis, apalagi aku bisa menjadikan internet Saudi gratis, walau dengan hp tulisan sang kyai mulai ku tulis sedikit demi sedikit, padahal di Saudi internet amat mahal, sekali masuk 4 real, satu real sama dengan dua ribu empat ratus rupiah, untung aku bisa menjadikan internet gratis, semua teman menganggap aku gila, ngayal, karena mengatakan internet bisa gratis, padahal aku katakan ke yang lain, aku sendiri telah menggunakan gratisan ada setengah tahunan, tapi setelah semua ku ajari caranya, maka semua mengikuti.
Drama, ya memang sudah jadi kebiasaan kerja drama, aku tidak ikutan drama maka di salahkan yang lain, padahal jelas itu amat tak sesuai dengan nuraniku, uang itu ku makan, di makan anak istriku, menjadi darah, mencuci hati, menjadi daging, aku membayangkan, jika anak istriku ku beri makan dari hasil kerja mendrama, yang tak halal, aku membayangkan anakku akan susah ku nasehati, istriku akan jadi orang keras kepala, ah tak sanggup aku membayangkannya, dan rasanya ingin pulang saja.
Tapi aku sudah di Saudi, belum hajian lagi, apalagi keberangkatan ke Saudi uangnya harus ku ganti, karena biaya keberangkatanku di tanggung PJTKI.
Hari kamis, libur, paling enak tidur, di hari biasa saja di tempatku sudah tak ada kerjaan, maka jangan harap aku mendapat lembur, sementara yang lain pada lembur.
Setelah sarapan pagi, siap-siap untuk tidur, hp bunyi.
“Lagi apa mas?” suara Muhsin.
“Ya biasa tidur.” jawabku malas karena sudah setengah tidur.
“Gak lembur?”
“ah mana ada lembur, apa yang mau di lemburkan?”
“Umroh yuuk..”
“Umroh?, ah ndak punya uang, mau umroh pakai apa?” jawabku.
Bagaimana mau umroh, gaji saja belum di terima, ah ada-ada aja si Muhsin. aku melanjutkan tidur lagi, tapi sebentar hp bunyi lagi, ku angkat.
“Mas aku sudah di depan kamar.” suara Muhsin.
“Iya sebentar ku bukain.” karena kamar ku kunci, aku telah pindah kamar dari sekamar dengan orang yang cuma punya satu kunci, pindah ke kamar yang punya dua kunci, barengan orang Madura. Kamar ku buka.
“Ayo mas umroh…, masih tidur?” tanya Muhsin.
“Iya…” jawabku dengan mata memicing, karena silau oleh cahaya masuk ke kamar, maklum di Saudi itu kalau pagi matahari sudah terik kayak di Indonesia di waktu siang tengah hari.
“Ayo siap-siap.” ajaknya.
“Aku ndak punya uang..” kataku.
“Tinggal berangkat aja kok mas.., itu taksinya sudah nunggu di depan.”
“Wah ini serius.?” tanyaku.
“ya iyalah..”
“Tapi aku ndak punya pakaian umroh.”
“Udah ku sedia’in semua, tinggal bawa pakaian ganti.”
“Ya kalau gitu aku ambil pakaian ganti.” kataku sembari berjalan ke lemari, ambil tas dan memasukan pakaian ganti, sabun dan pasta gigi.
“Trus besok sabtu kerja bagaimana itu?” tanyaku.
“Kan berangkat dari sini pagi, besok jam segini sampai di Makkah, lalu siang hari jum’at berangkat ke Mekkah, malam jam tigaan kan sudah sampai di sini, istirahat sebentar kan sabtunya sudah bisa kerja.” jelas Muhsin.
Ternyata taksi sudah ada di luar, dan di dalam taksi sudah ada Munif, orang Indo dan sopir Raju, sopir taksi juga pekerja pabrik, yang juga mau umroh.


Karya : Febrian