Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 28


Aku benar-benar merasa aneh dengan suara Mbak Asrifah, tapi aku benar-benar bukan mimpi,
“Siapa itu?” tanyaku dari tempat aku duduk dzikir.
Tiba-tiba terdengar suara cring-krincing… seperti suara besi yang di seret, dan berdiri di hadapanku Mbak Asrifah, yang wajah dan rambutnya di penuhi tanah, wajahnya menghitam, dan pakaian mori yang di pakainya compang-camping seperti bekas cambukan yang sampai membekas di mori, tangan dan kakinya di rantai dengan rantai hitam.
“Setan dari mana kau…!? ” bentakku.
“Aku kakakmu yan.. Asrifah, aku ndak di terima di sana, tolong aku yaaan… aduh panaaas…” katanya memelas dan kepanasan karena aku dalam keadaan dzikir.
“Benar kau mbak Asrifah? Jangan-jangan kau setan yang menyaru-nyaru belaka?” kataku dengan pertanyaan yang bernada tinggi.
“Benar yaan aku Asrifah, maafkan kesalahanku padamu, aku tak mengindahkan nasehatmu.., sekarang aku tak di terima, lihat aku di siksa seperti ini, di rantai, apa kau tak kasihan padaku..?”
Terus terang aku sendiri takut setengah mati, melihat perwujudan yang amat menyeramkan, rambutnya yang tinggal sedikit dan acak-acakan, pipinya yang seperti habis di tampar, dan bau tanah kuburan berbaur dengan bau bangkai sangat kuat tercium, tapi aku berusaha bertahan, sebagai orang yang yakin pada Alloh, la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fissama’ , tak ada yang berbahaya jika kita berpegang teguh pada Alloh, apapun yang di bumi dan di langit.
Seperti ada yang membisikiku, agar memutuskan rantai dengan akhir surrah Taubah.
“Kesinikan rantainya.” kataku.
Lalu dia menyeret rantai dan menyodorkan rantai kepadaku, lalu ku pegang rantai dengan membaca akhir surrah Taubah, Alhamdulillah rantai lepas, lalu rantai di kakinya, dan sama seperti ku lakukan pada rantai di tangannya, dan rantai pun lepas.
“Lalu bagaimana nasibku yaan…!, aku tak di terima, bagaimana ini?” katanya memelas.
“Sudah tak usah banyak ribut, besok akan ku coba menolong, sekarang pergilah.”
“Tak bolehkah aku tinggal di rumahmu… aku di sana di pukuli..”
“Tak boleh, nanti kau menakutkan keluargaku, sudah sana pergi, besok aku tolong.” kataku.
Lalu dia pergi tersaruk-saruk, tubuhnya membungkuk-bungkuk menahan sakit. Aku meneteskan air mata karena kasihan dengan nasibnya, manusia tetap hanya mampu berusaha, hidayah itu bulat-bulat milik Alloh.
Paginya Jum’at aku kirimi, mbak Asrifah, ku bacakan sholawat nabi 10 ribu kali, ku mintakan pada Alloh agar ruhnya di terima dan di bebaskan dari siksaan. Aku yakin dengan apa yang ku kirimkan pasti sampai.
Malam aku sengaja menunggu, aku dzikir duduk di kursi ruang tamu, kira-kira jam 1 dini hari, terdengar suara pintu rumah di ketuk dan suara salam.
“Waalaikum salam, masuk saja tidak di kunci.”, kataku.
Ternyata mbak Asrifah, di belakangnya ku lihat empat anak kecil mengiring, sekarang pakaiannya pakaian seorang penganten. Dan wajahnya yang kemaren menghitam seperti bekas tempelengan, sekarang warna hitam itu sudah tak ada, tapi ada bekas kayak kulit mengelupas bekas terbakar, rambutnya tersisir rapi, dan bau wewangian semerbak.
“Bagaimana mbak?” tanyaku.
“Alhamdulillah yan, terima kasih atas segala pertolongannya, sekarang aku akan berangkat ke alam sana, aku mau pamitan, aku benar-benar berterima kasih, jika tau kau orang seperti itu, sungguh dulu aku melayanimu pun mau…”
“Sudah mbak…, semoga engkau mendapat tempat yang enak di sana.”
“Terima kasih yan…, aku mohon diri, wassalamualaikum.” kata mbak Asrifah melangkah pergi di iringi ke empat anak kecil.
Setelah berbagai kejadian, aku merasa betapa masih banyak yang di luar pengetahuanku, dan rasa ingin menuntut ilmu makin menggebu. Ku putuskan untuk ke pesantren lagi dan menuntut ilmu lagi.
Di pesantren, santri-santri lama sudah tak ada lagi, memang selalu begitu di tempat kyai, tahun ini dan tahun besok santri sudah lain, apalagi ini aku sudah lama tak kembali ke pesantren, kembali kemaren juga sebentar hanya menanyakan soal cara mengobati orang yang terkena santet.
Cara yang ku lakukan dalam mencari ilmu tidak sama dengan cara orang lain mencari ilmu, dan cara yang ku lakukan itu secara lahirnya tidak seperti orang yang mencari ilmu, tapi hasil yang di capai, mencari ilmu sebulan maka akan sama saja dengan mencari ilmunya orang umum dalam masa sepuluh tahun. Makanya aku selalu di manapun tak pernah mencari ilmu atau mondok dalam jangka waktu lama, hanya butuh masa beberapa bulan, dan ilmu kyainya sudah ku serap semua.
Cara yang ku lakukan pertama adalah, aku berusaha memberi makan pada semua santri, dengan uangku, dan tenagaku sendiri, di samping aku ikut menyerap ilmu, maka tanpa di sadari santri yang lain, aku meminjam tenaga mereka untuk diriku mendapat pahala.
Semua santri yang puasa, aku beri makan, maka di samping puasaku sendiri, maka aku akan mendapat pahala semua santri, bahkan aku memasaknya dengan tanganku sendiri, dengan penuh kerelaan, sebab aku mau mengambil pahala mereka kenapa harus malu dan risih, aku sama sekali tak malu, bahkan jika masakanku matang aku bangunkan satu persatu, untuk makan sahur, dan di saat aku buka, ku tatakan dengan rapi makanan, tempat cuci tangan dan minumnya, kan mereka tak tau kalau sebenarnya aku mengambil bagian pahala mereka, siapa yang memberi makan orang puasa, dzikir, beribadah, maka akan mendapatkan pahala sama seperti pahala yang di dapat yang puasa, tanpa mengurangi pahala yang di beri makan.
Bahkan aku rela mencari pekerjaan di luar, kalau nanti mendapatkan uang maka santri lain ku masakkan lagi, begitu berulang-ulang. Sehingga aku seperti orang satu tapi memakai akal orang banyak dalam menyerap ilmu.
Yang ku lakukan kedua, aku selalu berusaha mempunyai apapun peninggalan di majlis dzikir, atau apapun yang dapat di pakai orang banyak, sehingga jika aku pergi sekalipun, maka aku tetap mendapat bagian jika apa yang ku tinggalkan di pakai dzikir. Sehingga sekalipun aku sudah tak di pesantren itu, maka aku tetap seperti orang yang selalu hadir.
Jadi waktuku tak aku sibukkan hanya melakukan dzikir, atau menjalankan amaliyah, tapi lebih banyak berusaha melakukan sesuatu yang mempunyai nilai ganda.
Yang ketiga aku akan berusaha menyenangkan Kyaiku, apapun yang membuat kyaiku senang dan ridho maka akan ku lakukan, karena ilmu itu dari guruku, jika guruku senang, dan ridho, maka berbagai macam ilmu akan dengan senang hati di turunkan guruku kepadaku, dan guruku tak merasa rugi atau enggan menurunkan ilmu itu, sekaligus jika ilmu itu di turunkan maka aku dengan semangat menjalankannya, agar guruku melihat aku ini orang yang seperti orang yang di beri pakaian lalu hanya di buang sebagai kain usang. Tapi aku akan menunjukkan penghargaanku pada ilmu itu, agar guruku merasa ridho pada ilmu yang di berikan.
Tak masalah bagiku waktuku habis ku pakai menyenangkan guru, sebab di pesantren itu waktunya menimba, bukan waktunya mandi, waktunya menimba ilmu bukan waktunya memakai ilmu. Di situlah penyerapan-penyerapan lebih yang ku peroleh. Karena cara aku mencari ilmu itu beda dengan orang lain.
Memang kadang diriku akan di rendahkan dan di remehkan oleh santri lain, santri lain merasa diriku ini pelayannya, melayani mereka, dan di pandang sekilas seperti orang yang tak punya derajad, jika seandainya semua tau apa yang ku peroleh, pasti berebutan ingin menempati posisiku, tapi kebanyakan orang kan tidak berpikiran sejauh itu, yah tak apa-apalah di rendahkan, bagiku yang penting nantinya, aku memetik ilmu paling banyak lebih banyak seratus kali lipat dari santri lain.
Apalagi tawadhu’ dan keta’atan pada guru, aku sangat mengutamakan itu, bahkan lebih utama dari santri manapun, sampai aku sendiri karena tawadhu’nya pada guru, maka tak pernah meminta apapun dari guru, dan bahkan tak pernah sms atau telpon, takut guruku pas lagi tak mau di ganggu maka aku malah mengganggu, jadi selamanya tak pernah menghubungi guruku, sampai tak pernah menyampaikan maksud hatiku pada guru, kecuali yang berhubungan dengan kepentingan guruku atau jama’ah, tak pernah sekalipun berhubungan dengan keperluanku, yang ada di kamusku adalah sami’na wa ato’na, mendengar dan menta’ati.
Sedang santri lain minta ini minta itu, maka aku malah tak pernah sekalipun minta apa-apa, aku tak mau membebani guru, bagiku guru telah memberikan ilmu, maka aku tak pantas meminta yang lain.
Dan tak sekalipun aku mengeluhkan amalan, jika aku di beri amalan 1 maka akan ku amalkan 5 x, sebagai bukti keseriusanku, dan tak sekalipun aku meminta amalan baru, sampai kyaiku memberi amalan padaku.
Maka aku tak pernah butuh waktu lama di manapun aku mesantren, sebab cara mesantren yang aku jalani tidak sama dengan cara yang di pakai orang lain.
Di Banten aku di minta kyai selama 9 bulan, dan selama sembilan bulan itu ku habiskan waktu untuk memperbagus majlis, dan melakukan amaliyah yang telah ku sebutkan, dan selama sembilan bulan berlalu dengan cepat.


Karya : Febrian