Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 27


Malam mendekati pagi, barusaja aku masuk lagi ke tubuhku, setelah ngeraga sukma, ada mobil travel berhenti di depan rumah, sedang menurunkan penumpang. Ternyata adalah kakak perempuan Husna, istriku. Dia baru sampai pulang dari Saudi Arabia, bekerja sebagai TKW, namanya Asrifah. Aku tak begitu perduli, rumah Asrifah tepat di samping rumah yang ku tinggali, sebelumnya jelas aku tak kenal ada kakak perempuan Husna, yang bekerja di Saudi.
Setelah ku tau ternyata Mbak Asrifah telah berkali-kali menikah dan cerai, entah sudah berapa kali, selalu tak cocok dengan suaminya, yang jelas saat itu sedang menjanda. Aku bukan orang yang perduli dengan urusan orang lain, sekalipun itu adalah saudara istriku. Dan juga urusan mbak Asrifah, aku juga tak perduli. Sampai suatu hari ku lihat kok sering ada lelaki yang keluar masuk rumahnya, padahal dia hidup sendiri, maka aku pun mulai risih, lalu aku datang ke rumahnya ketika ada lelaki di rumahnya.
Ku peringatkan agar jangan membuat aib keluarga, dan jika saling suka supaya cepat menikah, jangan sampai di grebek orang kampung. Aku tak perduli lelakinya marah, atau mbak Asrifah tersinggung, jangan sampai sesuatu sudah terlambat, sementara aku diam saja.
“Mbak, mbok sampean jangan sampai membuat hal yang memalukan keluarga, jika memang niat nikah, menikahlah dengan baik-baik, niatkan mengikuti sunnah Nabi, dan mencari ridho Alloh..” kataku setelah yang lelaki pulang.
“Ah itu urusanku…, kau ini kan adikku, tak sopan menasehati aku sebagai kakakmu.” katanya sinis.
“Yo ndak papa sampean tak mau ku peringatkan, aku kan cuma menyampaikan, ingat segala sesuatu yang menyalahi aturan itu pasti akan membuat diri susah.” kataku mencoba sabar dan sehalus mungkin.
“Sudah kamu urusi keluargamu, jangan mengurusi diriku, jangan sok pinter, aku ini lebih tua, lebih mengerti hidup, daripada kamu yang anak kemaren sore.” katanya masih sinis.
Ternyata walau sudah ku peringatkan tapi Mbak Asrifah tetap dengan lelaki itu tapi tidak bersama di rumah, seringnya janjian di luar rumah, dengan meminjam motorku, tapi dengan alasan lain.
Hari itu seperti biasa, meminjam motor, lalu pergi, tapi baru setengah jam pergi, dia sudah kembali, dalam keadaan motor dan orangnya di angkut becak, karena kecelakaan, kakinya kesleo dan luka-luka, tapi ada baiknya juga akhirnya dia tak pergi-pergi lagi.
Sampai pada suatu malam, tiba-tiba Mbak Asrifah menjerit-jerit kesakitan, jeritannya sampai keras sekali, kira-kira jam 3 dini hari, semua tetangga kaget, termasuk aku yang dekat dengan rumahnya.
“Haduuuh..! haduuh..! aku ini kenapa!? aku ini kenapa? aduuh..!” begitu berulang-ulang.
Aku yang sedang dzikir, tenang-tenang saja, Husna dan saudara yang lain menengok, sebentar kemudian Husna memanggilku.
“Mas.., itu mbak Asrifah di lihat kenapa..!” katanya kelihatan panik.
“La kenapa?, “
“Ndak tau…”
“Ya sudah, di suruh diam saja, jangan teriak- teriak, besok di bawa ke rumah sakit, wong besok rumah sakitnya juga belum pindah.” kataku, yang memang agak dongkol karena tingkah lakunya.
Aku tak menengok, sampai besoknya di bawa ke rumah sakit, aku juga males menjenguk, apalagi aku ini lelaki dan mbak Asrifah itu perempuan, cukup Husna yang menengok, dan menunggui di rumah sakit.
“Mas.. kok di rontgen tidak ada penyakitnya?” kata Husna waktu pulang dari rumah sakit.
“Ya mungkin rumah sakitnya kurang canggih..” jawabku sekenanya.
“Iya memang ini juga di suruh ke Semarang…” jelas Husna.
“Ya sudah di bawa saja…” kataku.
Akhirnya mbak Asrifah di rujuk ke Semarang, di Semarang katanya penyakitnya tumor kelenjar, dan harus di sinar x agar tumornya hilang. Dan saran dokter pun di jalankan, tapi ternyata setelah melewati tahapan itu tetap saja Mbak Asrifah tidak sembuh, dua minggu di rumah sakit, lalu pulang tetap saja kesakitan mengaduh-aduh, membuat tetangga pada mengeluh karena kerasnya suara mengaduhnya. Karena tidak bisa di obati di rumah sakit dan keadaannya makin mengaduh-aduh, maka keluarga pun mengusahakan lewat penyembuhan alternatif, sementara aku hanya melihat saja.
Di datangkan berbagai paranormal, dengan berbagai cara menyembuhkan, ada seorang wanita tua, yang menyembuhkannya dengan menggigit punggung dan bagian yang sakit, di saksikan banyak orang, perempuan tua itu membuka mulutnya, sebelum mengobati.
“Kalian lihat semua, lihat mulutku ini, tak ada apa-apanya,” kata perempuan tua itu, sambil membuka lebar-lebar mulutnya.
Setelah dia rasa semua orang melihat, dia lalu menggigit tubuh mbak Asrifah, dan dia membuka mulutnya, maka dari mulutnya perempuan tua itu keluar kerikil sebesar kelereng. Begitu berulang- ulang, gigit sana-gigit sini, dan ada sekitar 6 batu kerikil di keluarkan. Aku ndak mengerti pengobatan seaneh itu, ya aku diam saja, tapi Mbak Asrifah setelah di obati tetap saja masih menjerit-jerit kesakitan. Semua orang jadi bingung.
Tiap hari selalu datang orang yang mengobati Asrifah, tapi semua tak ada yang membuahkan hasil, tetap saja Asrifah menjerit-jerit kesakitan, memang ku lihat juga kenyataannya amat kesakitan, sampai rambutnya pada rontok, jika sakit sampai seperti itu tentu amat sakit sekali.
Di datangkan lagi seorang paranormal tua, dari Jogja, mengakunya dia masih anak angkat Nyai Roro Kidul. Orangnya tinggi, umurnya mungkin 80 an tahun, ketika mengobati aku di suruh menemani.
“Bagaimana penyakitnya mbah?” tanyaku.
“Ini memang di santet orang,” kata lelaki tua itu.
Aku yang saat itu sama sekali awam dengan ilmu santet, hanya berharap Asrifah bisa sembuh. Lalu lelaki itu mengeluarkan cambuk dari emas, sepanjang setengah meter, tubuh mbak Asrifah di cambuki, setelah itu tangannya di suruh mengulurkan, dan dari setiap jari mbak Asrifah di keluarkan paku, juga jari kaki di keluarkan paku. Aku tak kaget, juga tidak heran, cuma ku lihat saja paku di keluarkan, lalu paku di berikan padaku.
“Ini nanti di tanam di pekuburan.” katanya memerintahku.
“Baik nanti ku tanam.” jawabku.
Lalu pengobatan pun selesai, dia mengatakan besok akan mengambil jin-jin yang di kirim seseorang. Aku hanya mangiyakan, dan mengucapkan terima kasih.
Besoknya, kakek yang kemarin mengobati datang lagi, kali ini datangnya malam hari, dia membawa kendil, aku merasa aneh juga, anehnya waktu sebelum kakek itu datang, aura di rumah Asrifah pekat sekali, bahkan lampu rumah kelihatan di lapisi kabut hitam, sehingga cahayanya gelap seperti kalau waktu siang, mendung di langit amat pekat. Tapi aku tak memperdulikan itu, sepertinya ada serombongan jin yang mendatangi rumah Asrifah, yang aku tak tau ini jin dari mana?.
Kakek itu telah memulai pengobatan, dia membakar kemenyan, bau kemenyan membumbung memenuhi udara, lalu dia membaca mantra minta jin supaya masuk ke kendil dan seketika warna gelap seperti menyatu membentuk asap, lalu meluncur masuk ke dalam kendil, dan kendil pun di tutup, dan pengobatan selesai, kemudian kendil di bawa untuk di buang ke laut.
Berbagai macam keanehan dalam mengobati. Tapi Asrifah tak ada perubahan sama sekali, atau sebentar kelihatan tenang tak mengaduh-aduh, tapi sebentar kemudian sudah mengaduh-aduh lagi.
Aku memutuskan menghadap Kyaiku, di Banten, tapi aku bukan mau meminta obat, sebab aku sendiri tak ingin membebani Kyai, karena apapun yang terjadi dan ku alami, aku berusaha mencari solusi pada apapun yang ku hadapi. Aku menghadap Kyai.
“Kyai… bagaimana cara mengobati orang yang terkena santet?” tanyaku.
“Nanti kalau sudah saatnya bisa, kamu akan bisa sendiri.” jawab Kyai, dan aku mengiyakan.
Aku pulang lagi, dan beberapa hari kemudian aku berangkat ke Jawa Timur, di desaku ada orang yang biasa mengobati sakit kena santet, dengan metode di pindah penyakitnya ke kambing. Kebetulan yang mengobati itu ayahnya temanku waktu di pesantren Sarang Rembang.
Aku pun kesana, walau dulu mbak Asrifah tak baik denganku, menolong orang kalau bisa melepaskan diri dari ego pribadi yang pernah kecewa, aku yakin setiap amal perbuatan walau sebesar biji sawi, akan di beri balasan sebesar keikhlasan orang yang melakukan amaliyah, semakin seorang itu ikhlas, akan makin tak terbatas balasan pahala yang di terima.
Sampai di tempat yang ku tuju, yang menemui temanku yang di pesantren itu.
“Bagaimana kabarmu yan..?, ku dengar-dengar kamu sekarang di Pekalongan.” tanya temanku itu, setelah dia mempersilahkanku duduk.
“Alhamdulillah baik Lil…, iya aku mukim di Pekalongan.” kataku kepada temanku yang bernama Kholilulloh.
“Ada apa yan.. kok tak biasanya kamu main ke rumahku.” tanya Kholil.
“Maaf aku merepotkan.” kataku
“Ah kamu ini tak biasa-biasanya basa-basi, ada apa?”
“Anu Lil, aku mau minta obat kepada ayahmu untuk mbak istriku yang sakit.” jelasku.
“Sakitnya apa Yan?”
“Ndak tau juga Lil, kata dokter sih sakit tumor kelenjar, kata dukun sakit kena santet, jadi ndak tau mana yang benar.” jelasku.
“Tunggu aku panggilkan ayah..” kata Kholilulloh masuk ke dalam.
Ayahnya kemudian keluar, bernama pak Mahrus, perawakannya pendek kecil, pak Mahrus termasuk idolaku, waktu kecil jika aku menelusuri kisah pak Mahrus sangat memotifasiku dalam menjalankan suatu amaliyah.
Dulu pak Mahrus ini orang teramat miskin, bisa di katakan untuk makan sehari-haripun sangat kekurangan, padahal saudara-saudaranya adalah orang kaya, pernah karena sudah dua hari tak makan, istrinya pak Mahrus, yang bernama Ibu Zulaikhah pergi ke rumah saudaranya untuk meminjam beras, tapi oleh saudaranya tak di beri hutangan, malah di beri beras segenggam yang di taburkan ke lantai.
“Itu beras ambil di lantai, itu ku berikan cuma-cuma, jika ku hutangkan maka kau pasti tak akan sanggup membayar, jadi ku berikan cuma-cuma, maka usaha di kumpulkan, orang ingin enak makan itu harus usaha, jangan asal minta-minta.” kata saudaranya.
Ibu Zulaikhah pun pulang dengan beras segenggam yang dia terima, dan menangis di depan pak Mahrus, dan menceritakan yang di alami.
“Sabar…Sabar, dalam sabar itu ada pahalanya..” kata pak Mahrus menghibur istrinya.
Salah satu amalan pak Mahrus adalah membaca sholawat pada Nabi sebanyak sepuluh ribu, entah bagaimana awalnya, Alloh selalu memberi anugerah pada hamba yang di sayanginya. Dan pak Mahrus mempunyai kelebihan bisa mengobati orang dengan memindah penyakit ke kambing.
Perlahan tapi pasti Pak Mahrus makin terkenal, dan pasiennya dari segala penjuru, sampai jalan jarak satu kilo meter macet jika hari minggu, karena banyaknya orang yang datang berobat, dan cepat sekali pak Mahrus menjadi kaya raya, rumahnya yang kecil pun di bangun seperti hotel, tamu-tamu yang menginap pun bisa mendapatkan kamar yang nyaman. Dan dia tak pernah memakai tarif dalam mengobati pasiennya, berapa pun dia di beri maka akan di terima, jika seseorang berpenyakit parah, dan orangnya kaya, lalu sembuh, tak jarang yang di berikan adalah mobil mewah sebagai rasa terima kasih.
Aku segera menceritakan tentang keadaan Asrifah, pak Mahrus pun memberikan air dan kalung dari bundelan rajah.
“Dik… nanti kamu beli kambing di rumah, kalung ini kalungkan ke kambing, dan nanti setelah 3 hari di kalungi, kambingnya kamu potong, dan kamu kuliti dan kamu lihat apa saja di dalamnya itu ada luka atau hal aneh apa, nanti kamu datang kesini lagi, guna melaporkan” jelas Pak Mahrus.
“Lalu air ini untuk apa pak?” tanyaku menunjukkan air yang di jerigen lima liter.
“Itu untuk minum mandi si sakit.” jelas pak Mahrus.
“Oh ya pak, terima kasih.” kataku sambil memberikan amplop berisi uang.
Dan aku pamit pulang, sampai di Pekalongan akupun segera membeli kambing, dan mengalungkan rajah ke kambing itu. Sehari tak apa-apa, wajar wajar saja kambing itu keadaannya. Tapi saat malamnya, kambing menjerit-jerit, sampai suaranya serak, ku lihat tak ada apa-apa, tapi kambing terus mbak-mbek tak henti-henti dan tak jemu-jemu, hehehe jadi kayak lagu.
Esoknya ku lihat bulu-bulu kambing pada rontok, di saat tertentu juga begitu kambing menjerit-jerit, jika dia dapat bicara mungkin masalahnya akan lebih mudah, dan kambing bisa di tanya, apa masalahnya, sampai ia menjerit-jerit, tapi kambing ya tetap kambing, tetap tak bisa bicara.
Aku sebenarnya kasihan juga sama kambingnya, sampai bulunya semua rontok, itu menunjukkan kalau sakitnya tidak main-main, masak kambing pura-pura sakit juga ndak mungkin, tapi pesen pak Mahrus kambing harus di potong setelah tiga hari memakai kalung, jadi aku tetap menunggu sampai hari ketiga.
Sampai aku sering mendekati kambing dan ku elus kepalanya, ku bilang agar sabar, sebentar lagi kalau nyampai tiga hari akan ku potong dan dia bisa bernafas lega, karena pasti tak akan merasakan sakit lagi.
Anehnya Asrifah sudah tidak menjerit-jerit lagi, hanya kambing yang menjerit dengan suara itu-itu saja sampai suaranya serak.
Sampai hari ke tiga, pagi-pagi sekali cepat-cepat kambing ku potong, dan ku kuliti. Dan sungguh mencengangkan, perut kambing telah bocor, ada lubang sebesar jari di segala tempat, sehingga isi perut keluar dari penampungannya, dan di dalam perut kambing berisi gedebong pisang yang di cacah, aneh kayaknya kambing tak makan gedebong pisang, juga ada rambut manusia, ada taring sebesar jempol tangan orang dewasa, ada irisan ban mobil dan ada banyak kerikil sebesar telur puyuh, kayaknya barang-barang itu tak mungkin ada di dalam perutnya kambing, pantesan kalau kambingnya kesakitan.
Barang-barang itu ku masukkan plastik, rencananya ku bawa ke rumah pak Mahrus. Kalau organ, paru-paru dan hati kambing telah membusuk, bahkan telah berbau tak sedap.
Aku hanya geleng-geleng kepala, merasa amat aneh. Dan barang yang ada di dalam tubuh kambing itu ku bawa ke rumah pak Mahrus, dan aku kembali di beri air untuk di berikan pada Asrifah.
Aku bersukur Asrifah sudah tidak mengaduh-aduh lagi, tapi rasa senangku dan anggapanku akan kesembuhan Asrifah hanya tinggal harapan, hanya seminggu asrifah tenang, dan setelah itu menjerit-jerit kesakitan lagi. Ah aku sudah kehabisan akal, mau bagaimana lagi, terpaksa akhirnya ku diamkan.
Sebulan-setahun sudah, pas genap Mbak Asrifah sakit, dia pun meninggal dunia. Awalnya ketika akan meninggal susah sekali, maka aku mengambil Al-qur’an dan ku bacakan surah Yasin, belum sampai surah Yasin selesai Mbak Asrifah telah pulang ke rahmatulloh. Rasanya seperti melepas beban di pundak, mungkin meninggal lebih baik daripada berlarut-larut merasakan sakit yang tak berkesudahan.
Semoga kisahnya bisa menjadi orang yang membaca menjadi sadar, dan seseorang hati-hati dalam bertindak, sebab tak ada manusia itu tidak sakit, tak ada manusia itu tidak mati, sekalipun saat sehat bisa membanggakan diri dan merasa punya uang kemudian merasa bisa melakukan apa saja, jika di beri sakit sama sekali tak berdaya.
Tak ada manusia hebat, selama masih sebagai manusia, kecuali dia telah menjadi Tuhan, yang tak pernah sakit, tak lemah, tak menyandarkan pada sesuatu selain pada dirinya.
Jika manusia itu sudah tak butuh lagi makan, tak butuh lagi minum, tak butuh udara untuk bernafas, di mana mana tempat ruang dan waktu tak menghalangi gerak geriknya, di mana keterbatasan-keterbatasan itu tak membatasinya, selalu kekal dan abadi, maka manusia telah pantas untuk membanggakan diri, tapi nyatanya manusia tak ada yang seperti itu, maka jelas manusia tak ada yang pantas untuk membanggakan diri.
Seminggu telah berlalu, setelah pemakaman mbak Asrifah, aku sendiri telah beraktifitas seperti biasa. Dan malam ku isi dengan dzikir. Saat itu jam dua dini hari, aku masih duduk memutar tasbih malam terasa amat sepi, sekali waktu terdengar gerimis, dalam suasana yang sepi, lamat-lamat ku dengar suara memanggil.
“maaak…!, maak..!” begitu suara itu, tapi suaranya seperti suara mbak Asrifah.
Apa aku yang salah dengar, dan suara itu berulang-ulang. Tapi aku masih merasa seperti mendengar itu dari halusinasiku sendiri, tapi aku bukan berhalusinasi, memang mata rasanya ngantuk, jadi sampai berulang kali aku tidur sambil duduk.


Karya : Febrian