Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 25


Perjalanan manusia untuk mendekatkan diri pada Alloh sebagai Robbnya, sebenarnya tak jauh, menjadi jauh karena semakin beragamnya keinginan nafsu, semakin banyak lagi yang di inginkan oleh nafsu, kesenangan-kesenangan yang bersifat kepuasan, entah kepuasan dzahir atau kepuasan batin, maka makin jauh perjalanan yang harus di tempuh untuk menuju Alloh.
Sekian tahun, yang di lewati oleh manusia itu gelora samudra kepuasannya, yang di lewati manusia itu padang gersang ketamakannya akan kesenangan. Andai saja manusia itu mau melepaskan segala macam keinginan, ingin di puji, ingin di agungkan, ingin di hormati, ingin punya kedudukan dan pangkat, pangkat di hadapan manusia, maupun pangkat di hadapan Alloh, maka jika semua telah tak ada yang bersemayam segala macam keinginan, ketika Nur makrifat itu melintas di lapangan hati manusia yang bersih dari keinginan, maka cahaya itu akan menumbuhkan aneka macam tetumbuhan ilmu dan hikmah.
Tak perlu manusia itu menjadi sakti, atau belajar agar sakti, Alloh itu lebih sakti dari semua yang Dia ciptakan, dan wafadholallohu ba’dokum ala ba’din, Alloh itu akan memberikan berbagai anugerah keutamaan, kepada hamba yang satu dari hamba yang lain, sesuai kadar ketaqwaannya, dan ketaqwaan itu terukur sesuai kadar keikhlasannya, dan keikhlasan itu ada karena paham dan tau, jika dia tidak ikhlas itu maka tak ada nilainya suatu kadar bobotnya ibadah, dan untuk menjadi mukhlisin atau orang yang ikhlas itu tidak cukup sehari dua hari hati di gosok, karena kecendrungan nafsu menguasai hati, dan di tambah dengan khotir atau bisikan-bisikan syaitan yang menanamkan bibit virus, akan subur berkembang, jika apa yang di makan manusia kemudian adalah sesuatu yang di haramkan.
Tak ada seorangpun yang ma’sum dan terjaga dari tipu daya, kecuali Nabi Muhammad SAW. dan kita sebagai manusia biasa, seringkali mudah tertipu.
Tertipu oleh prasangka dan ketidakpastian.
Seperti Nabi Muhammad ketika di temui Jibril dalam berbagai bentuk, lalu Nabi tak tertipu dengan perubahan bentuk yang satu pada bentuk yang lain.
Sementara kadang kita jika di temui oleh bayangan di dalam mimpi, seorang yang memakai jubah, lalu kita menyangka itu seorang wali, padahal syaitan amat mudah menyerupai dalam bentuk apapun, untuk menipu daya manusia, agar kita kemudian menjalankan amaliyah bukan lagi karena mencari ridho Alloh, tapi karena menuruti orang yang berjubah itu.
Malam itu aku meraga sukma lagi, kali ini arah ke utara dari desaku.
Melayang-layang di atas kota, lalu aku lihat seperti sesuatu aura amat hitam menggantung di udara, melingkupi suatu daerah, aku coba mendekat, dan aku masuk ke rumah itu ternyata sebuah rumah sakit, sebab banyak sekali pasien, yang aku heran banyak sekali hantu bergentayangan di rumah sakit itu, dari gambar salib yang tergantung di dinding, aku menyangka ini pasti rumah sakit kristen.
Aku lewati lorong demi lorong rumah sakit, dan setiap hantu yang bertemu denganku menjerit lalu kabur, ada perempuan berbaju putih, ada hanya kepala, ada orang yang tubuhnya penuh darah, dan lain-lain, jika ku sebut satu persatu rasanya tak akan selesai seharian.
Tiba-tiba seorang hantu berpakaian pastur jaman dulu atau jaman sekarang aku tak tau, yang jelas dia berpakaian hitam, dengan selempang di pundak, dan ada kerah putih di lehernya.
Dia menghadangku.
“Berhenti, enyah dari sini, kau membuat penghuni sini semua kepanasan.” ujarnya, sambil mengacungkan batang salib kearahku.
“Aku hanya lewat disini, bagaimana kau anggap aku membuat penghuni sini kepanasan?” tanyaku.
“Nyatanya seperti itu.” bentaknya.
“Bagaimana mungkin aku menjadikan kalian menjadi kepanasan?” kataku masih heran.
“Kenyataannya seperti itu, aku juga tak tau, apakah kau ini arwah orang mati?” tanya pastur itu.
“Aku? Aku belum mati.” kataku.
“Lalu kenapa kau bisa masuk alam kami? ” tanyanya.
“Aku melepas sukma.” jelasku.
“Sudah sekarang kau pergi, kau membuat seluruh tempat ini seperti terbakar.” katanya seperti menahan sakit.
“Jika aku tak mau?”
“Maka aku akan mengusirmu.” katanya sambil jari telunjuknya terangkat.
Dan aneh dari jari telunjuknya keluar kilatan listrik seperti kilat kecil, menyerangku, untung aku ingat aku ini sukma, aku pun melompat melayang menghindari serangannya, yang menghantam dinding dan menimbulkan dentuman dahsyad.
Wah sakti juga pastur ini, aku jadi ingat, kata Kyaiku, kalau di alam gaib itu jika ingin mengeluarkan apa maka tinggal mendzikirkan salah satu dzikir dan membayangkan apa yang kita inginkan keluar dari tangan.
Maka aku pun melakukan itu dan membayangkan petir keluar dari tanganku, dan subhanalloh, benar-benar petir yang menyilaukan mata keluar dari tanganku, melesat seperti pijaran kilat di langit menerjang ke arah pastur itu, dia menghindar sampai bergulingan di lantai, dan ujung bajunya tersambar segera menjadi bubuk debu.
Aku terheran-heran, dan melihat tengah tapak tanganku yang mengeluarkan asap.
Tiba-tiba beberapa pastur datang, ada sekitar tuju orang, dan serempak menyerangku..
Aku terdesak sampai ke pintu besi dan tempat penjagaan satpam.
Aku masih melakukan adu kekuatan, dan saling serang dengan petir, sampai aku akhirnya terdesak keluar pagar.
Ah percuma juga ku lawan, tak ada manfaatnya, lebih baik aku pergi.
Aku pun pergi, melesat ke udara, dan melayang-layang pelan meninggalkan tempat itu, sambil melihat kota dari atas.
Sampailah aku di persawahan, di mana banyak pohon pisang, dan kembang krokot, aku berhenti sebab mendengar ada yang mengucap salam.
“Assalamu alaikum..” ku dengar suaranya serak seperti suara perempuan tua.
“Wa alaikum salam…, siapa ya..?” tanyaku sambil berhenti berdiri di atas daun pisang.
“Aku Ibu Dewi… aku minta kalau tuan mengirim fatekhah, aku dikirimi juga.” katanya…
Aku tak sempat menanyakan lebih lanjut, karena adzan subuh sudah berkumandang, dan aku harus segera pulang untuk mengimami sholat subuh di masjid.
Siangnya aku berpikir, siapa gerangan perempuan itu yang memintaku mengirimi fatekhah? Aku hanya melihat sebuah rumah, berundak-undak, dindingnya dari kayu, tanpa cat. Rumah siapa? Kok dia tau keberadaan sukmaku, bahkan dari dalam rumah, tentu dia jika seorang manusia, maka pasti manusia yang mempunyai ilmu tinggi, sebab jarang-jarang aku menemukan seseorang yang bisa melihatku ketika meraga sukma, jika dia bisa melihat sungguh berarti bukan orang sembarangan.
Baiknya nanti malam aku datangi dia, mungkin bisa ku perjelas siapa sesungguhnya dia.
Maka malamnya lagi aku meraga sukma lagi, dan langsung menuju rumah itu. Rumah yang di depannya ada bunga kerokot.
Aku langsung turun di pekarangan rumah yang di ratakan dengan kerikil, dan di tumbuhi rumput di sela-sela kerikil.
“Assalamualaikum…” ucapku dari luar rumah.
“Waalaikum salam,” terdengar jawaban dari dalam tapi kenapa suaranya seperti suara seorang perempuan muda, padahal kemaren seperti suara perempuan tua yang serak.
“Maaf, kemaren ada yang ingin di kirimi fatekhah, tapi aku kurang jelas siapa namanya?, Maaf jika saya ingin memperjelas biar tak salah alamat.” kataku dengan sopan.
Lalu dari dalam rumah, keluar seorang perempuan, memakai cadar penutup wajah, tubuhnya tinggi langsing, dan semua pakaiannya memakai warna biru.
“Iya saya yang minta di kirimi fatekhah, namaku Dewi, dan orang sering menyebutku Dewi Lanjar.” jelasnya.
“Dewi Lanjar?” aku heran, aku sendiri tak tau siapa itu Dewi Lanjar.
“Maaf Nyai saya bukan orang asli Pekalongan, jadi saya tak tau Dewi Lanjar.” kataku jujur.
“Aku penguasa Laut Utara.” jelasnya.
“ooo…”
“Mari ku ajak ke tempat kekuasaanku.” katanya, sambil menggandeng tanganku. Dan kami membumbung cepat ke arah utara, ke tengah laut, aku lihat aku melayang di tengah laut, sampai pada suatu pulau kecil, lalu melintasi jembatan, aku heran karena jembatan itu dari manusia yang di jejer seperti ikan asin, dan ku lihat banyak orang ramai bekerja, yang membuatku heran, ada orang yang berkepala ikan dan bertubuh manusia, juga ada manusia yang berkepala manusia tapi bertubuh ikan, ada juga orang yang memukul-mukul mereka dengan cambuk.


Karya : Febrian