Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 23

DITAKLUKI SEMUA JIN PENGUASA PEKALONGAN.

Taqdir itu adalah ketentuan Alloh, telah di gariskan dan tak siapa mampu mengelak, dan siapa saja tak tau taqdirnya, bahkan jika di taqdirkan buruk, tak ada yang tau, tapi perlu di ingat taqdir itu Alloh yang membuat, maka Alloh juga yang mampu merubah, kita manusia jika tidak menyandarkan diri pada Alloh, bagaimana jika kita ternyata di taqdirkan buruk, maka do’a kita, permintaan kita supaya Alloh menjadikan yang buruk menjadi baik.
Do’a itu pedangnya orang islam, Addu’a'u syaiful muslimin, coba kita bayangkan pedang yang belum jadi, pedang itu kalau ingin di jadikan pedang, maka di pilih besi yang unggul, kuwalitas terbaik, lalu besi di bakar agar mudah di bentuk, di pukuli sampai besi menjadi bentuk yang di inginkan. Jika besi itu tak di bakar tentu akan susah di bentuk, dan jika sudah di bentuk maka di asah berulang-ulang, agar besi menjadi pedang yang bila di pakai memotong apapun akan dengan mudah terpotong.
Antara kita yang pedang sendiri, dengan kita memegang pedang tentu beda, manusia yang telah menjadi pedang, maka pandangan matanya adalah pedang, hatinya pedang, tangannya pedang dan kehendaknya adalah pedang.
Kita ini pedang, kitalah yang akan di pakai berdo’a, bukan orang yang membaca do’a,
“Berdo’alah pada-KU”, kata perintah berdo’a dan do’a seperti satu kesatuan yang tak terpisah.
Jadi kita inilah yang seharusnya di bentuk menjadi do’a yang tajam.
Nafsu kita di bakar, nafsu keinginan yang menyala-nyala pada apa yang kita inginkan, itu di bakar, agar keinginan hati itu bisa di arahkan pada yang bukan keinginan nafsu, kita bakar dengan lelaku, kita tempa dengan ibadah tiada henti, agar kepribadian yang terarah pada kehendak Sang Khaliq itu terwujud pada segala gerak dan tingkah laku, sehingga orang telah tak bisa membedakan lagi, kita ibadah atau bukan sedang menjalankan ibadah, sebab setiap gerak telah semuanya ibadah, seperti orang sudah tak melihat bentuk besi, semua telah menjadi bentuk pedang.
Pembentukan diri menjadi sebuah pedang yang mumpuni, maka di serahkan pada empu yang mumpuni, jangan di serahkan pada tukang membuat roti, bisa jadi nanti menjadi pedang yang lembek.
Diri di bentuk menjadi do’a ruh dan jasadnya, maka diri di serahkan kepada guru yang matang di bidangnya.
Sehingga pembentukan diri di capai dengan maksimal, setelah diri menjadi do’a, kemudian di asah, melihat kan orang yang mengasah pedang, tangannya maju mundur, sama diri melakukan istiqomah, dzikir di lakukan berulang-ulang, jika cuma di gerenda maka pedang walau tajamnya cepat , juga akan menjadi besi muda, mudah patah, tapi jika di asah, maka akan terjadi penumpukan elemen, menjadi pedang yang kuat dan tajam.
Jika diri di asah dengan amaliah yang berulang-ulang ikhlas, maka diri akan setajam pedang dalam berdo’a.
Teori itulah yang ku praktekkan, dan tak henti, siang malam menjalankan laku. Suatu lelaku maka tidak berarti tidak berimbas pada sekeliling kita, amat besar imbasnya.
Pertama, mulai ada khodam dari benda bertuah yang mulai datang ada yang lewat mimpi, ada juga yang langsung datang dengan perwujudan seperti manusia.
Sampai aku hafal di mana saja letak berbagai wesi aji, atau batu bertuah, bahkan jika aku lewat, ada saja yang jatuh biar aku ambil, tapi sayangnya aku orangnya sama sekali tak tertarik dengan hal-hal seperti itu, sekalipun keris paling ampuh di berikan padaku, maka tak sedikitpun ada ketertarikan di hatiku, bagiku cukup Alloh menjadi penolongku.
Segala jin, malaikat itu semua sama mahluq-Nya, ciptaan-Nya, semua terbatas oleh keterbatasan, tapi kalau Alloh tak terbatas dan tak berhalangan.
Sehingga semua khodam yang mendatangi ku tolak, sampai pada suatu malam aku mencoba mengitari daerah Pekalongan.
Baru saja keluar dari daerahku, dalam meraga sukma, aku di hadang oleh seorang perempuan bercadar biru, dengan perut terbuka, mirip penari perut Mesir.
Aku tau betul dia bangsa jin,
“jangan lewat daerahku.” katanya menghadang.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kau tau, karena kedatanganmu, semua anak buahku kepanasan,” jelasnya sambil marah.
“Kepanasan itu kan bukan urusanku, jika tak ingin kepanasan, kenapa tak menyingkir?”
“Aku dan semua kaumku telah ratusan tahun tinggal di sini, dan tak terganggu, tapi setelah kau datang, kami amat tersiksa.” tandasnya.
“Hm… jadi maumu apa?”
“Kau harus meninggalkan daerah ini.”
“Mana boleh begitu..!”
“Kalau tak mau pergi maka kau akan ku hancurkan.”
“Kalau memang mampu silahkan” kataku.
Lalu dia menyerangku dengan kibasan selendangnya, tapi entah tak tau selalu saja selendangnya mental, dan selalu dia menjerit, padahal aku tak berbuat apa-apa.
“Kau rupanya punya ilmu, tunggu akan ku panggil ayahku.” katanya.
“Ya silahkan, aku akan tunggu di sini.” kataku tenang.
Dia pergi… dan sebentar kemudian datang lagi, bersama lelaki pendek, berkepala gundul, dan hanya bercawat, sementara dadanya telanjang.
“Ini ayah, lelaki yang membuat daerah kita menjadi panas.” jelas perempuan yang sebelumnya menyerangku.
“Ini orangnya?” kata lelaki tua itu, tiba-tiba, dunia seperti gelap gulita, seperti matahari padam.
Dan aku mengucap dzikir, maka dunia nyala kembali.
“hm memang dia lumayan berilmu.” kata lelaki itu, pada anaknya,
“Kau menyingkir, biar bopo yang menaklukannya.” kata lelaki tua itu, sementara aku diam menunggu.
“Anak muda, kau tau, keberadaanmu di daerah ini telah membuat panas daerahku, maka kau akan ku tawan dan ku bawa ke penjara duniaku.” kata pak tua itu yang belakangan ku ketahui bernama Kyai Cempli.


Karya : Febrian