Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 22


Sampai di Pekalongan sudah subuh, kami sholat subuh di masjid di luar kota Pekalongan, dan sarapan pagi di pasar Banyu urip, tak ada perasaan apa-apa mau sampai di tempat tujuanku, daerah Bligo, Sampai di Bligo kami berbicara sekedarnya, dan aku di temukan dengan gadis yang di jodohkan denganku.
Dia terdiam, wajahnya biasa, bukan perempuan berjilbab, juga tak ada yang istimewa.
“Sudah tau kalau kita ini di jodohkan?” tanyaku simpel.
“Dia manggut,” dan menatapku sesaat, padahal dia ini semalaman kabur dari rumah, karena menolak perjodohan ini, dan mati-matian tak mau di jodohkan, tapi setelah di bujuk dengan berbagai hal juga di beri pengertian kalau menolak kan boleh-boleh saja, jadi tidak harga mati, baru dia mau pulang.
Dan sekarang duduk di depanku. Tentunya aku tak tau kisah itu. Dan tau setelah kami menikah.
“Lalu bagaimana? kamu mau di jodohkan denganku.?” tanyaku langsung ke poin masalah.
Aku itu selalu ke poin masalah, kalau mau omong lain nanti itu bisa menyusul, kalau mau bercanda juga kan bisa di lakukan kapan saja, jadi pokok masalah harus selesai dulu, jadi orang yang berhadapan denganku kadang kabet, karena selalu seperti itu, yang ku tanyakan tanpa basa-basi, baru kalau mau bercanda belakangan kan bisa.
“Aku terserah saja, jika masnya menerimaku, ya aku nurut saja.” jawab Husna calon istriku itu.
Mendapat jawaban seperti itu sama sekali tidak membuatku bahagia, atau sedih, la di tolak sekalipun aku tidak kecewa, sebab tujuanku bukan soal di tolak atau di terima, tapi aku melihat bagaimana Alloh itu menggerakkan segala sesuatu sesuai kehendakNya. Dan aku bisa melihat segala gerak geriknya terhadap segala sesuatu.
Kejadian baik buruk adalah proses, seperti membuat roti, kadang adonannya di kocok, kadang juga di bakar di oven, jadi menuju kenikmatan itu kadang kita harus di bakar dengan di beri ujian yang meluluh lantakkan hati, lalu tercapai kesabaran yang lembut.
Setelah mendapat jawaban, maka aku di ajak Pak Abdullah ke Tuban untuk mengurus surat numpang nikah, ke tempat Lurah dan ketempat sekertaris KUA, semua di lakukan secara marathon, dan anehnya juga semua mendukung, jadi pengurusan surat amat cepat, lalu kembali ke Pekalongan, malah ketika Ibuku nanya, aku tak memberitahu, hanya ku bilang lagi usaha.
Seorang lelaki tak butuh wali, maka aku tak perlu memberitahu mereka, aku tak ingin mereka di sibukkan dengan pernikahanku.
Jum’at pagi di adakan acara ijab qobul, anehnya yang diriku tanpa ada persiapan sama sekali, bahkan masih tak memegang uang sama sekali, kecuali dua cincin yang akan ku jadikan mas kawin, itu saja pemberian dari orang, dari jas untuk pengantin, sampai peci hitam, soalnya aku biasa memakai peci putih, jadi peci hitam jelas tak punya, semua tersedia tinggal pakai, acara di lakukan dengan sederhana, dan semua berjalan lancar.
Dan setelahnya di lakukan walimatul ursyi, aku mau di dandani sebagai penganten pria.
Aku di minta buka sarung untuk di ganti dengan kain perlengkapan yang di bawa perias penganten, aku bilang tak memakai celana panjang, si perias penganten terkejut.
“La bagaimana ini..?” kata dia sambil mondar mandir kayak orang bingung.
Lalu dia keluar sebentar, dan menemui seseorang, sebab aku di rias jauh dari rumah tempat acara, karena rencananya akan di iring hadroh,
Perias penganten masuk membawa celana panjang selutut.
“untung di sini ada yang jual celana, ini di kasih sama yang jual celana.” katanya perias penganten menyerahkan celana kepadaku, dan ku pakai.
Acara walimah semua lancar tanpa halangan apapun.
—————————————————————–
Seminggu selesai pernikahan, ku ajak istriku ke Tuban ke rumah orang tuaku, semua merasa heran dengan perempuan asing yang ku bawa.
“ini siapa nang, kok bawa anak perempuan orang?, nanti kalau hamil kan jadi urusan, mempermalukan keluarga.” tekan ayahku.
“Ini istriku” jawabku santai.
“Jangan sembarangan, perempuan di akui istri, itu ndak boleh dalam agama, namanya kumpul kebo.” kata ayahku yang memang orangnya keras dalam memegang syare’at.
Ku keluarkan surat nikah,
“kalau memakai ini di bilang kumpul kebo tidak pak?” kataku sambil meletakkan surat nikah di meja.
Ayahku memeriksa dengan teliti.
“kapan nikahnya, kenapa tidak memberitahu orang tua?”
“ya aku ndak mau membuat orang tua repot.” kataku,
——————————————-
Beberapa hari di Tuban, aku kembali ke Pekalongan, baru beberapa hari, para kyai sepuh desaku semua datang ke rumahku,
“maaf…ini ada keperluan apa, kok pada ramai-ramai datang ke rumah?” tanyaku pada orang-orang tua.
“begini pak ustadz, kami sudah bermufakat, kalau pak ustadz menjadi imam masjid, dan kami minta memberi pengajian setiap selesai sholat subuh.” jelas Pak Sodiqin, yang biasa menjadi ta’mir masjid.
“Wah apa tidak salah, saya ini bukan orang ngerti soal agama.” jelasku.
“hehehehe…” semua tertawa.
“Lhoh kok pada tertawa to..?” tanyaku.
“Orang pinter pinter itu kan terlihat di pancaran wajahnya, kelembutan sikapnya, dan segala sesuatunya mengalir tidak di buat-buat.” jelas pak Sodiqin lagi.
“Bagaimana ya…?, ini berat bagiku, soalnya aku sendiri belum punya pekerjaan tetap, jadi masih mencari maisyah kehidupan untuk anak istri.” kilahku.
“Tapi mbok kami di beri ilmunya to pak kyai.” kata salah seorang lagi. Waduh malah di panggil kyai segala.
“Ya nanti saya coba, semoga Alloh mengijinkan dan meridhoi, tapi saya ndak janji, soalnya saya belum istiqomah, juga masih mencari rizqi.” kataku.
“Iya kami maklum.” kata mereka dan setelah semua beres, mereka meminta diri.
Dari acara penganten, dan sisa uang dari tamu, istriku cuma memegang uang 300 ribu, sungguh uang yang minim.
“Gimana mas, kita usaha apa?” tanya Husna.
“Bagaimana kalau membuka toko? ” tanyaku balik.
“Zaman sekarang uang segitu di belikan juga akan dapat apa?” kata Husna mengutarakan logisnya.
“Ya kita jangan membuat ukuran yang logika dulu, sebab itu tak mungkin, melihat keterbatasan kita, aku yang tanpa modal, kita menjalankan saja dulu dengan kesungguhan.” jelasku.
“Ya kalau tidak di akal lalu kita memakai apa?, Segala sesuatu kan harus di rancang dengan akal.” bantah Husna.
Memang tak mudah menjelaskan sesuatu yang tak bisa di logika manusia, yaitu gerak gerik Alloh dalam mengatur hambaNya, satu penggalan ayat sedikit saja sulit mengimaninya, kalau manusia masih membuat sandaran akalnya.
WAMA MIN DABBATIN ILLA ‘ALALLOHI RIZQOHA.
Semua apa yang melata dan hidup di bumi itu rizqinya di tangan Alloh, kalau menurut hemat pemikiran dangkalku, maka karena yang membagi rizqi itu Alloh di samping usaha, maka kita juga berupaya untuk meminta pada Alloh, dan kalau meminta itu agar cepat terijabah maka mendekatkan diri pada Alloh.
Dan pemikiran itu ku tanamkan pada istriku, teramat sulit. Sesulit menancapkan tonggak tumpul pada sepotong batu, sehingga malah yang sering terjadi percekcokan.
“Begini saja daripada kita berdebat tak ada ujung pangkalnya, bagaimana kalau kita buktikan, kita jualan, apa juga boleh, asal barang halal, lalu aku berdo’a bagaimana, kalau nanti tak laku, ya berarti tentang teoriku itu salah kaprah, bagaimana?” tanyaku yang lelah meyakinkan.
“Ya kita buktikan.” jawabnya, karena ingin membuktikan apa yang ku utarakan itu salah.
Maka kami membuka toko kecil bekas toko keluarganya, dan di isi dari uang yang cuma 300 ribu, ya isinya bisa di bayangkan, cuma apa.. Dengan kesungguhan hati, aku pun mulai menjalankan permintaanku pada Alloh, dan sungguh di luar dugaan, toko berkembang amat pesat, setiap hari penuh orang membeli, dan tak sampai sebulan isi toko penuh isinya.
Istriku mulai senang, tapi tetap dia merasa itu kebetulan.
“Bagaimana dik, apa yang ku katakan benar kan?” tanyaku.
“Ah itu hanya kebetulan saja.” katanya.
“Begini saja, biar ketahuan ini kebetulan atau tidak, besok aku tak minta rizqi pada Alloh, bagaimana keadaan toko kita, lalu besok besoknya lagi aku minta, bagaimana perbedaannya. bagaimana?”
“Ya ndak papa di buktikan.” otot istriku.
Dan aku malamnya tak minta lagi supaya Alloh memberi rizqi, dan esoknya toko sepi sekali, mungkin sehari cuma ada 2 orang yang beli. Dan malam setelahnya aku meminta rizqi, dan toko ramai lagi.
“Bagaimana dik?, kan sudah lihat sendiri.?”
“Wah itu masih belum membuktikan, sebab pas sehari itu mungkin sedang ada apa sehingga toko sepi.” bantahnya.
Hmm.. aku memang harus pelan-pelan menanamkan keyakinan yang sebelumnya tak di ketahui dan tidak di pahami Husna.
Gak papa. Seseorang itu pertama yang harus di bimbing adalah keluarganya, kalau membimbing keluarganya saja gagal, maka bagaimana mau membimbing orang lain???
“Biar aku meminta modal pada Kak Abdullah, sepuluh juta juga gak besar bagi mereka yang kaya raya.” kata Husna.
“Ingat…! Jangan sampai kita punya sandaran pada manusia, apalagi kakakmu, dia itu manusia, manusia itu lupa, sakit, mati, dan penuh keterbatasan, kalau Alloh itu tidak mati, tidak lupa, tidak sakit, tak terhalang oleh apapun, jadi jangan menyandarkan diri pada manusia, bahkan setengah rupiahpun, karena kalau diri menyandarkan pada manusia maka Alloh akan menyerahkan nasib kita pada manusia tersebut.” jelasku panjang lebar.
“Ya apa kita tak bisa seperti orang pada umumnya?, ya kalau ndak minta, minjam kan juga gak papa.” kilah Husna tak mau kalah.
“Cobalah menghilangkan pikiran dan harapan kepada manusia, dan berusaha sekali saja menggantungkan diri pada Alloh, fatawakkalu Alallohi, waman yatawakal ‘alallohi fahua khasbuhu. Bertawakallah pada Alloh, siapa yang bertawakal pada Alloh maka Dia yang akan mencukupi.” kataku menjelaskan.
“Tak taulah.”
“Ya jangan tak tau gitu, sekarang kita buktikan lagi bagaimana, biar selama seminggu toko tak ku do’akan, lalu seminggu ku do’akan, masak kebetulan kok seminggu.” kataku menekankan.
“Ya kita buktikan.” katanya lagi. Karena apa yang ku bicarakan itu dia ingin hanya omongan kosongku saja.
Maka selama seminggu, aku sama sekali tak minta supaya di beri rizqi, dan selama seminggu benar-benar toko sepi, sampai apa yang jadi isinya toko menyusut kembali, karena tak ada uang untuk membeli barang.
“Sudah-sudah di do’akan, semua barang sudah mau habis untuk makan.” katanya.
“Ya ndak bisa, perjanjiannya kan seminggu,”
“iya aku sudah percaya, sana di do’akan.”
“Ya tak bisa harus selesai seminggu, mau habis juga gak papa, makanya jadi orang mbok jangan ngeyel, coba mana logika yang kau banggakan itu?” kataku menuntut.
Setidaknya aku telah menyelesaikan mengarahkan Husna dalam satu langkah.
Sementara hariannya aku mulai menjadi imam masjid, dan mengisi pengajian waktu subuh.
Sementara hidupku amat santai, dan semua lancar-lancar saja.


Karya : Febrian