Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 20


Jam setengah satu siang, berarti ada setengah jam waktu aku berada di tempat Mbak Lina, dan aku sudah duduk di kursi rotan yang ada di ruangan belakang Butik, ruangan dengan luas 5 meter persegi, di tata dengan artistik, setidaknya menurut pandanganku, dinding satu tembok di lapis wallpaper bermotif kembang, di padu dengan warna cat bermotif warna bedak yang lembut, di batas garis warna putih, pencahayaan ruangan di buat terang tapi dalam arah tertentu menyorot, sehingga ruangan kelihatan setengah redup.
“mas ian duduk saja yang manis, biar aku yang melayani makannya, ya itung-itung belajar menjadi istri mas.” kata Lina dengan tanpa canggung, nadanya di penuhi kebahagiaan.
Di atas meja di depanku yang berbentuk bundar dari bahan kayu jati dan dilapis fiber ada berbagai makanan, tapi pandanganku hanya tertuju pada makanan yang ku suka, ada soto, dan paru goreng, juga begedel kentang.
Tercium bau harum minyak wangi yang lembut ketika Mbak Lina memasangkan sapu tangan kecil di pangkuanku, hm ribet amat, kalau menurutku makan ya makan, langsung santap, langsung selesai, kalau pedesen di rokoki, udah gitu aja, kenapa pakai repot.
“Lin…” panggilku, ketika dia menata sendok dan piring di depanku, karena melihat dia seperti itu, bisa-bisa acara makan belum selesai, waktuku istirahat kerja sudah habis.
“Ada apa mas?” tanyanya, sambil masih meletakkan garpu, dan kertas tissu.
“Udahlah… kamu duduk kita makan.., aku ndak usah di layani.” kataku sudah tidak sabar.
“mas ian ndak suka ya dengan pelayananku? ” tanyanya, sambil berhenti bergerak.
“Bukan begitu, tapi waktu kita pendek, coba lihat, ini sudah 10 menit aku duduk di sini, tapi makannya belum juga mulai, ntar nasi baru aku masukkan mulut waktu istirahatku sudah habis, nanti saja kalau kita sudah nikah, kamu menunjukkan pelayananmu yang paling top, sekarang kamu duduk kita segera makan bareng.” kataku menjelaskan.
“iya… iya aku duduk.” katanya sambil mulut di manyunkan. Dalam hitungan menit, apa-apa yang ingin ku makan segera pindah di perutku, aku bukan orang yang suka bertele-tele, selalu apa adanya, tak suka banyak unggah ungguh asal dalam kebenaran dan tidak menyalahi agama, maka lakukan dengan tanpa ragu. mengambil yang perlu dan meninggalkan yang tidak ada manfaatnya.
Dan tak sampai lima menit makan selesai.
“Bagaimana mas, enak makanan bikinanku?” tanya Mbak Lina.
Aku acungkan jempol dan tak komentar, dan dia tertawa, kadang bahasa isyarat itu lebih mewakili dan lebih mendalam, apalagi kalau jempolnya di goyang berulang-ulang, itu menunjukan penekanan yang amat sangat, bahasa seperti itu orang tuli juga tahu, kecuali orang buta, kalau orang buta mungkin harus jempol di tempel di hidungnya, pakai jempol kaki juga dia gak ngerti, paling bilang jempolmu kok bau trasi ya…
“Mas… apa mas ian gak menembakku?”
“apa?, menembak?” tanyaku heran.
“iya , menembak, kan kalau mau pacaran mau jadian di tembak gitu.”
“ooo maksudnya jadian ?”
“iya, kan kata kerennya pakai kata menembak.” jelasnya.
“kok kata menembak keren, aku jadi ingat dulu di desa suka menembaki bangau putih di pohon tertinggi desaku, perasaan kata menembak biasa saja.” kataku sambil menerawang.
“ya, apa mas ian gak mau kita jadian sekarang.” kata dia sambil menggenggam tangan kasarku.
“sebaiknya kamu pertimbangkan lagi Lin…, kamu kan belum tau betul siapa diriku.”
“apa aku yang harus menembak mas…” katanya. sambil menatapku dengan tatapan tak sabar.
“memangnya ada perempuan yang menembak lelaki?” tanyaku membiarkan tangannya yang lembut memainkan jemariku.
“ya adalah…”
“tapi menurut hematku jangan dulu, aku tak mau kau menyesal di kemudian hari.”
“gak aku tak akan menyesal, aku sudah yakin seyakin yakinnya, hanya mas yang pantas menjadi imamku, menjadi pembimbingku, menjadi pendamping sepanjang hidupku.” katanya bersemangat.
Jelas membuatku juga tergetar, karena aku juga lelaki normal, mungkin yang mengatakan kambing yang bisa bicara, aku tak akan perduli, sekarang yang mengatakan seorang gadis yang sempurna, sedang mimpi dia mengatakan seperti itu saja tak pernah terlintas di benakku.
Tapi aku jadi ingat, orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya, yang selalu terseret dan di turuti apa dan kemana nafsu itu menyeret.
Cepat-cepat aku tulis Asma Alloh di hatiku, ku pejamkan mata sesaat untuk menyempurnakan bentuknya, terasa aliran hangat mengaliri setiap nadi, menyadarkan dan membersihkan anasir jahat yang mulai mau menguasai, dan terasanya sangat nyata.
Siapa yang membaca boleh mempraktekkannya, dan akan merasakan apa yang aku rasakan, jika mengalami hal yang menimpa sepertiku.
Itu yang di namakan, ja’al haq wa zahaqol batil.
Syaitan itu mengalir di aliran darah, lalu jika kita menghadirkan Asma Alloh, saat syaitan itu hampir menguasai dan mengalir di setiap darah kita, maka Asma Alloh yang kita konsentrasikan itu akan menetralisir kekuata syaitan di tubuh, dan efeknya, alirannya bisa di rasakan benar-benar nyata.
Tanganku yang di genggam Lina sekarang tak bedanya, aku menggenggam kaki kursi atau meja yang patah, tak ada getaran apa-apa.
“ku rasa kamu terlalu muluk-muluk, begini saja, kita biarkan seminggu, nanti kalau sudah seminggu, jika kamu masih suka denganku, aku yang akan menembakmu, dan kita langsung saja nikah. bagaimana?” kataku.
“bener mas.?”
” bener lah, “


Karya : Febrian