Friday, June 8, 2012

Sang Kyai 15


Malam itu kembali aku menginap di setasiun, besoknya aku ikut kereta api KRD ke Surabaya, setelah dapat tempat duduk, aku pun tenggelam dalam wiridku, kereta belum juga berangkat, walau jam telah melewati waktu jadwal keberangkatan, di sebelahku kursi kosong, datang seorang pemuda kurus ceking dan duduk di sebelahku,
“Assalamualaikum mas…” sapa pemuda kurus di sebelahku.
“waalaikum salam….” jawabku acuh, karena masih tenggelam menulis lafad Alloh di kalbuku.
“maaf mas, mengganggu….” katanya.
“tak apa-apa, wong tempat duduk ini di sediakan untuk penumpang.” kataku tak acuh.
“bukan itu mas, maksudku mas kan yang gila di setasiun Bojonegoro? Sebab tadi saya tanya para pedagang asong, kalau yang selama ini jadi orang gila di setasiun itu mas.” kata lelaki ceking itu, dan membuatku terperanjat.
“ada apa sampean mencari saya?” tanyaku heran.
“anu mas, biar saya ceritakan saja diri saya, saya dari keluarga berbagai macam agama, di keluarga saya ada yang hindu, budha, kristen, dan saya bingung mau milih agama apa?
Saya pernah mencoba berbagai agama, selain Islam, tapi saya tak pernah merasa sreg dan cocok, nurani saya mengatakan semua tak benar, nah seminggu yang lalu saya ke salah satu kyai di Kediri minta petunjuk, lhoh kok dia malah menyuruhku minta petunjuk pada orang gila yang masih muda, berambut gondrong yang ada di setasiun Bojonegoro, kemaren saya sudah datang di setasiun tapi orang gila yang di cirikan oleh kyai Kediri itu tidak ada di setasiun Bojonegoro, lalu saya malamnya menginap di seorang kenalan, lalu tadi pagi saya datang lagi ke setasiun, saya cari-cari, juga tak ada, lalu saya tanya pada penjual asongan ciri-ciri orang gila yang ada di setasiun, pasti mereka pernah melihat, lalu mereka pada menunjukkan mas, yang saat itu tengah duduk di bangku, saya ragu, sebab mas tak seperti orang gila, maaf, pakaian, tubuh, juga tampang bersih, jadi saya ragu, lalu mas naik kereta jurusan Surabaya, ya daripada pencarian saya tak mendapatkan hasil, maka saya samperin aja mas, dan inilah yang terjadi.”
“siapa namamu?” tanyaku.
“saya, Arifin mas, dari Jombang. ” jawabnya.
“lalu apa yang kau inginkan dariku?”
“aku minta petunjuk dari mas, apa yang harusnya ku lakukan?” katanya, sementara kereta mulai jalan.
“kau sudah mendapat hidayah dari Alloh, memeluk agama Islam, adalah hidayah yang lebih mahal dari nyawa, karena apa gunanya amaliyah segunung, kalau tidak muslim, maka tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kebaikan di dunia, di akhirat hanya menerima rentetan siksa demi siksa tanpa ujung dan perhentian, maka jika kamu bisa menjadi Islam, sungguh suatu karunia yang tiada terkira, di suatu daerah aku pernah melihat anak kecil seorang anak keluarga kristen, tapi aneh walau anak itu baru berumur 10 tahun, dia telah masuk Islam, tanpa ada yang mengajak, waktu ulang tahun yang di minta ke orang tuanya apa? Peci, baju taqwa, dan sajadah, lalu dia ikut jamaah di masjid, orang tuanya tau itu kemudian marah, dia di pukul sampai babak belur, di siksa, tapi tetap saja dia ke masjid, nah itulah hidayah dari Alloh,”
“aku jadi merinding mas, lalu apa yang harus ku lakukan mas…?”
“pergilah ke kyai Maimun Zubair. Sarang Rembang, ceritakan keadaanmu, dan mintalah di islamkan.
“prak…bug…prak..!” tiba-tiba terjadi ribut dalam kereta, tepat di depanku dua preman berantem, dan terjadi pergumulan yang seru, karena entah merebutkan apa, nampak pemuda yang satu sudah benjol wajahnya karena di pukul, para penumpang menjerit, tiba-tiba pemuda yang benjol mencabut pisau dan di hujamkan ke pemuda musuhnya, sepersekian detik aku tak sadar begitu saja melompat, tanganku menangkis pisau, hingga pisau mental, dan otomatis aku di tengah jadi sasaran pukulan kedua preman yang telah gelap mata, kedua tanganku ku bentang menangkis kedua pergelangan dua pemuda itu, krak..! Kedua pemuda itu mengaduh dan mundur memegangi pergelangan masing-masing, keduanya menatapku, heran dan ada pandangan takut, padahal bodi keduanya besar jauh di atasku,
“kalau bikin ribut dalam kereta, ku lempar kalian keluar…!” bentakku.
“enggak mas…! Enggak.,” jawab mereka berdua mundur-mundur, dan sebentar datang kondektur menenangkan suasana, dan aku pun duduk di tempat dudukku semula.
“wah mas berani, aku sudah takut kalau sampai ada yang terluka,” kata Arifin
“ah tak apa-apa, cuma anak berandalan.” kataku tenang.
“lalu bagaimana mas, tentang saya?”
“iya kamu pergi aja ke pesantren Sarang Rembang.” kataku menerangkan agak keras, karena suara rem kereta yang berderit keras, dan kereta perlahan berhenti di setasiun babat.
“aku turun sini aja.” kataku pada Arifin.
“lho ndak ke Surabaya to mas?” tanya arifin.
“enggak” jawabku sambil lalu berdesakan dengan para penumpang yang mau naik kereta.
Setelah turun kereta, aku pun mencari warung untuk sarapan pagi, ku masuk sebuah warung dan memesan pecel khas lamongan, makan dan sambil memandang orang yang lalu lalang.
Seharian tak ada aktifitas yang ku lakukan, kecuali diam di mushola setasiun menjalankan wirid sampai tertidur, lalu sholat dzuhur dan wirid lagi, tenggelam di dasar suara hati.
Malam itu, sekitar pukul 3 dini hari, aku tidur sendiri di musholla setasiun, tiba-tiba serasa ada yang membangunkanku. Aku terperanjat dan bangun, tengak tengok tak ada siapa-siapa, aku heran, lalu siapa yang membangunkanku? Aku bangkit dan keluar dari mushola, di luar segera angin dingin berhembus, menebar bau minyak pelumas roda kereta yang tercecer, suasana teramat hening, tak ada seorangpun berkeliaran, ku berjalan ke salah satu kursi tunggu, duduk dan mengeluarkan rokok djarum dan menyalakan dengan korek,
Belum sampai lima menit aku duduk di kursi tunggu, kereta barang tiba dari Surabaya, suara rodanya beradu dengan rel menjerit memekakkan telinga, kereta berhenti perlahan, beberapa penumpang gelap melompat dari sambungan gerbong, turun, aku tetap santai menikmati hisapan demi hisapan rokok.
Tiga penumpang, yang turun dari sambungan gerbong ternyata pemuda-pemuda, dan ketiganya menghampiriku, dan aku kaget, ternyata salah satunya adalah pemuda yang kemarin siang ku tangkis pisaunya,
“benar ini orangnya.” kata pemuda yang kemarin ku tangkis pisaunya.
“wiiit…wiiiet..!” pemuda yang lain bersiul nyaring.
Dan dari setiap gerbong melompat pemuda, dan banyak sekali, dan membuatku tergetar juga, mungkin sebanyak 20 orang atau bahkan lebih, dan kilauan pedang di setiap genggaman mereka.
“apa mau kalian?” kataku berdiri dari kursi, dan menikmati sedotan terakhir dari puntung rokok yang ku pegang. Ah mati aku, tentu mereka akan mengeroyokku, aku membayangkan tubuhku di cacah pedang dan di biarkan tergeletak di rubung lalat, dan kemudian di bungkus tikar, lalu tercatat di surat kabar, seorang gelandangan di bunuh di setasiun, dan ayah ibuku menangisi kematianku, ah betapa pendeknya usia, berdesir darahku, suara jantungku bledag bledug tak karuan, aku manusia biasa, yang tak tau kapan akan mati, dan akan mati yang bagaimana?
Ah benar-benar membuat keberanianku kuncup, terbang atau entah kemana?
Aku jadi ingat waktu jadi ketua gank dan di keroyok 20 orang, dulu aku nekat, tapi sekarang, hidup dengan Iman begitu nikmat dan mengasikkan, andai di suruh memilih mati yang bagaimana? Aku lebih memilih mati dalam keadaan sholat, tidak mati di keroyok, tapi apa dayaku, aku coba tenang dan membangkitkan tenaga yang selama ini mengeram di pusarku, walau ku lihat sudah tidak keburu, karena kulihat semua orang telah merangsek maju, memburu menikam dan membacok tubuhku, aku hanya sempat mengucap takbir, melompat maju, membuat perlawanan sekenanya….
Berkelit kesana sini dan melepas bogem, sekenanya, tanpa memilih mana dan siapa yang kupukul, yang jelas perlawanan karena di timbulkan dalam kepanikan, tapi hatiku yang telah tiap hari ku gantungkan padaNya tak lupa berdoa, “wahai dzat, wahai kekasih…, apakah kau biarkan aku teraniaya mati di sini? Engkau yang lebih kuasa dari segala sesuatu….”
Mungkin baru 2 orang yang kupukul, dan dalam kengerian dan kepengecutanku aku memukul dengan mata terpejam teramat rapat.
Suasana sepi, aku belum membuka mata, apakah aku telah mati? Membuka mata ku rasa lebih menakutkan.
Tanganku masih mengepal gemetar, mata masih terpejam, suara kereta api barang telah tak ada, bau minyak rem, terbawa desir angin, apakah aku yang telah mati dan beginikah rasanya, tapi kenapa tak kurasakan sakit sama sekali, sakitnya nyawa di betot dari badan, nyawa yang di betot dan karena telah terikat dengan urat-urat maka akan menyisakan sakit di sekujur badan, karena urat-urat semua akan putus, dan rasa sakitnya akan sampai kiamat masih terasakan, setidaknya begitu yang kubaca tentang ruh dari kitab kitab kuning,
Tapi ini aku tak merasakan sakit sama sekali, perlahan ku buka mataku sebelah, memicing, sebab begitu takutnya aku andai menyaksikan kenyataan yang pahit, yaitu aku telah mati.
Ah aku masih berdiri, dan tak ada orang lain yang berdiri kecuali aku, lalu kemana semua penyerangku?
Aku heran ku lihat semua terkapar, bukan hanya 3 langkah di depanku aja, tapi ada juga yang kelihatannya baru mau berlari ke arahku juga nyungsep tak bergerak, perlahan ku teliti satu persatu, semua pingsan.
Heran? Jelas aku heran, dalam angan anganku yang terkapar harusnya aku, mengapa malah para pengeroyokku? Sambil ku seret tubuh pemuda-pemuda yang pada pingsan itu dan kukumpulkan menjauhi rel kereta, takut kalau ada kereta yang lewat, dan terlindas, aku memikirkan siapa orang yang telah membantuku, menundukkan semua pengeroyokku? Tapi andai manusia dan punya ilmu yang teramat tinggi, dan bisa bergerak demikian cepat, tentu aku masih merasa kehadirannya, tapi ini kehadirannya tidak kurasakan, ah entahlah mungkin pertolongan Alloh, membuat pingsan orang satu negara aja bisa, apalagi cuma beberapa gelintir orang, biarlah semua jadi misteri.
Ku kumpulkan beraneka macam senjata yang akan di buat menyerangku, ada pisau, golok, pedang, pentungan, semua ku buang ketempat sampah di pojok setasiun.
Lalu aku mengambil air wudhu dan melakukan sholat malam, terdengar sayup adzan pertama, dari masjid muhamadiyyah,
Aku wirid sambil menunggu saat memasuki waktu subuh. Dua hari aku masih di setasiun babat. Dan malam berikutnya, mungkin musim kemarau, udara terasa panas, sehingga aku duduk sendiri, mencari udara yang agak tak terasa gersang di perasaan, malam telah menunjukkan jam 2 dini hari, sambil memutar tasbih, aku duduk di kursi peron, kulihat seorang wanita tua tidur mendengkur di pojok dekat pintu, menunggu dagangan pecel, yang akan di jual besok hari, ah kejamnya dunia, bagaimana orang setua itu masih menanggung kepahitan hidup, kadang anak-anaknya, menunggu di rumah, untuk meminta uang dengan marah-marah, lalu di buat hura-hura, aku ingat tetanggaku si ZUHDI yang selalu mengejar-ngejar orang tuanya, dengan parang hanya untuk minta uang buat mabuk-mabukan, salah siapa sebenarnya, kegetiran hidup di rasakan hampir seluruh lapisan bawah, rakyat negeri ini?
Jerit rakyat, tindihan keluarga, keadilan yang di putar balikkan, seperti mengikuti tangan penguasa kemana mengarahkan, ah entahlah, terlalu rumit, kenyataan dan terlalu pahit untuk di rasakan, moga-moga aja mereka masuk surga, walau di dunia tak dapat kebahagiaan, setidaknya di akhirat masih ada harapan, ku teruskan wiridku, sambil kaki selonjoran di kursi, malam mulai membawa angin segar angin pagi… , udara sejuk, mengalir menghembus tubuhku.
Kulihat seorang pemuda berjalan kearahku dari depan setasiun, aku menengok, ketika langkah kakinya terdengar di telingaku, kemudian dia duduk di kursi, dari dua kursi yang ku duduki, mungkin umur pemuda itu dua tahun lebih tua dariku, wajahnya mengguratkan keresahan hati, duduknya serba tak tenang, setidaknya di penglihatanku, saat malam makin mendesirkan kesunyian yang rindu akan suara, geseran tubuh pemuda itu terdengar jelas, seperti mengganggu ketentraman, dan konsentrasi wiridku, tiba-tiba dia berjalan ke arahku, dan berdiri di depanku.
“sendiri mas?” tanyanya sekedar basa basi, atau ngomong sembarangan dari pada tidak ada yang di omong,
“iya, ” jawabku singkat, tanpa nada suara yang meledak.
“apa ndak kuwatir mas sendirian?” tanyanya lagi.
“kuwatir kenapa?” aku balik bertanya.
“ya kalau-kalau di rampok orang.”
“apa yang harus di rampok dariku?, la uang seripis aja ndak punya.” jawabku dengan tertawa, walau tidak tertawa getir.
“nginap aja di tempatku…!” katanya, dengan nada yang aku mencium, entah apa terasa di telingaku, kurang berkenan,
“ah ndak lah, aku biasa tidur di sini, kemaren juga tidur di sini….”
“nggak mas, di tempatku juga ndak ada orang, jadi kalau mau, nginap dan tidur sepuasnya juga gak ada yang akan menyalahkan…”
Setelah di bujuk-bujuk akhirnya akupun mau, kami berjalan menyelusuri lorong-lorong dekat pasar babat, dan dalam perjalanan pun kami saling ngobrol, dan ku kenal, pemuda itu bernama Hendra.
Rumah Hendra tak terlalu besar, walau tidak bisa di katakan kecil, cat rumah juga sudah banyak yang terkelupas, ada kesan rumah yang tak terurus, atau orangnya yang malas ngurus, segala macam pakaian tergantung, dan menumpuk di sana-sini, yah mungkin Hendra ini, terlalu malas, setidaknya seukuran orang yang tak punya istri, aku di suruh duduk di kursi, yang teramat apek, mungkin lebih nyaman di setasiun, aku pun mendudukkan pantat di kursi, yang busanya udah pada bolong, mungkin di makan tikus, yang nyari makan sudah tidak ada yang lain, jadi busa juga di makan, mungkin di bayangkan sebagai roti, ah apakah tikus juga berhayal seperti manusia?
Hendra keluar dari kamar, dan mengajakku masuk, “ayo mas masuk, maaf, kamarnya berantakan banget.” ah ndak usah dia bilang berantakan , aku juga sudah tau.
Ah kamarnya juga gelap sekali, lampu bohlamp, cuma 5 watt, dan sudah banyak di hinggapi sarang laba-laba, benar-benar tak ada nyamannya sama sekali, mestinya kalau tau begini aku tadi tidak mau untuk di ajak ke rumahnya, kulihat tape recorder dan amplier terletak begitu saja di tanah, dekil, dan kelihatan jarang di sentuh, atau yang bersih cuma pencetan playnya, entahlah aku seperti merasakan suntuk yang teramat sangat, kok kerasan Hendra tinggal di rumah, dan kamar yang seperti ini…., “ayo tidur, atau mau ngobrol aja?” katanya mengagetkanku.
Aku tak menjawab, tapi langsung merebahkan diri, ke atas kasur, yang tak berkapuk lagi, mungkin telah teramat tipis, setipis triplek…, rasanya makin penat aja, tapi ke relakan urat-uratku, yang sebetulnya tak pegal…, Hendra pun ikut naik ke atas ranjang, sehingga aku yang mepet ke tembok.
Tiba-tiba tangan Hendra memelukku, aku menepiskan,
“apa-apaan sih ndra…!” kataku agak jengkel dan risih.
“ah masak nggak ngerti..” kata Hendra sambil tangannya berusaha di dekapkan ke arahku. ah dah gila ini orang, kembali kutepiskan tangannya,
“ayolah mas, kita kan sama-sama dewasa, masak mas ndak ngerti….” katanya dengan nada merajuk..
“sialan kamu jangan macem-macem ..” kataku jijik.
“apakah aku harus main paksa…?” kata Hendra dengan tangannya cepat memelukku, tapi tangan itu segera ku tangkap pergelangan tangannya, dan untung dulu pernah tau ilmu gunting, yang melatihnya dengan menjepit besi sampai gepeng, begitu tangan Hendra dalam genggamanku, rapal pun ku ucap, hendra menjerit,
“aduuuh sakit masss…!”
“jika aku ingin mematahkan, tanganmu, sama mudahnya mematahkan roti kering…” kataku bukan sekedar mengancam, dan mempererat cengkeraman. sehingga Hendra menjerit kencang,
“apa mau ku patahkan?” tanyaku, sementara Hendra telah memelintir, melintirkan tubuh menahan sakit yang teramat sangat.
“ampuuun-ampuun mas…, tobat…!” katanya matanya mulai basah, entah karena rasa sakit yang di rasakan atau karena memang dia menyesali dengan apa yang telah di perbuat, dan Hendra pun benar-benar menangis…., akupun melepaskan cengkeraman tanganku, di pergelangan tangannya, ku lihat pergelangan tangan Hendra membiru,
“Maafkan aku… masss….” aku ndak tau kalau mas orang isi…”,
“Memang kalau aku tidak berisi, kamu akan berbuat sekehendak hatimu?”.
“aku ndak berani mas,.. maafkan..” suaranya di sela isak tangisnya.
“aku jadi begini juga karena ada sebabnya mas…, bukan karena kelainan, tapi lebih karena kekecewaan….”
“apa maksudmu?” tanyaku yang mulai mengendap kemarahanku.
“udah nangisnya…!” bentakku karena melihatnya sesenggukan menangis.
“kamu itu lelaki, masak menangis .” Hendra terdiam, dan menghapus air matanya…
“aku orang yang malang mas…” katanya.
“malang bagaimana…apa kamu kejatuhan bom yang mau di jatuhkan di irak sana…, kulihat tubuhmu juga masih utuh, ya kalau kamu kejatuhan bom, berarti kamu masih termasuk orang yang selamat, karena seluruh tubuhmu ndak terluka, ” jengekku
“mas jangan bercanda..” kata Hendra.
“bercanda gimana?, kan katamu kamu ini orang yang malang, la malang aja , tubuh kamu masih utuh, sehat wal afiat tak kurang suatu apa…gimana aku tak heran, yang malang sebelah mana.?”
“yang malang hatiku mas…”.
“wah kalau yang malang hatimu, itu pasti karena polah tingkahmu sendiri, dan tak siapnya kamu menghadapi kenyataan.”
“Ndra…! setiap orang itu mempunyai kadar rasa yang sama, rasa sakit, rasa senang, duka, kecewa, enak nikmat, pahit getir, semua mempunyai kadar yang sama, semua di beri keadilan untuk mengecap rasa itu, tergantung kita sendiri menyikapi, dan membuat ukuran kadar dalam peluapannya, ada orang mau di suntik dokter, semua pasti merasakan yang sama, jarum nusuk kulit, tapi ada yang cuma njengkit kaget, ada juga yang teriak, bahkan ada juga belum kena jarum udah teriak-teriak, jadi tergantung bagaimana, menyikapinya. semua kembali pada diri masing-masing”
Hendra cuma mantuk-mantuk, tak tau paham apa enggak dengan keteranganku, wong aku yang menerangkan sendiri aja bingung apa lagi yang mendengar, ya dari pada tidak memberi solusi, lebih baik ngasih solusi, setidaknya untuk pengalih perhatian.
“sebenarnya masalah apa yang kamu hadapi?” tanyaku menyelidik.
Hendra menarik napas panjang lalu berkata, “gini mas, aku pernah mencintai wanita, selama ini dia yang selalu aku idam-idamkan, selama ini dia yang selalu dalam angan dan pikiranku, selalu aku pikirkan, siang malam…”
“trus bagaimana?” kataku tak sabar, mendengar kata muluk berbumbu tumpahan perasaan.
“ya itu mas … aku mencintai dia, menyayangi dia, bahkan sering memberinya hadiah-hadiah, karena sayangku padanya.” kata Hendra makin muluk-muluk.
“iya apa kamu udah nyampaikan atau ngutarakan cintamu padnya?” kataku tak sabaran.
“itulah mas…”
“itulah gimana maksudmu?”
“dah beberapa tahun itu pengutaraan cinta ku tunggu-tunggu, sampai ada waktu yang cocok…”
“ah njlimet amat, masak ngutarakan cinta pakai waktu yang cocok,?, jangan-jangan pakai hitungan jawa, pakai hitungan weton, kenapa gak langsung di utarakan…?”
“ya itu mas susah nyari waktu yang pas…”
“la kenapa gak pakai surat? jadi waktu pengutaraannya gak usah banyak waktu plintat-plintut, tulis to the point I LOVE YOU, kan udah, kenapa repot.?”
“ya tak taulah mas, yang jelas saya nunggu setahun sampai bisa mengutarakannya, “
“lalu bagaimana?”
“ya saya utarakan… mas..”
“iya kelanjutannya bagaimana, maksudmu, kamu di trima atau di tolak?”
“Aku di tolak mas…” jawab Hendra lemes, aku cuma ketawa.
“kenapa ketawa mas?” tanya hendra.
“la gimana tak ketawa, la cuma di tolak sekali aja udah lemes, mutung, prustasi, hidup itu perjuangan ndra, la orang bikin anak sampai jadi cewek yang kamu demeni itu aja tak sehari-dua hari, la di tolak sekali, agak jual mahal, agak jinak-jinak merpati, la itu kan sudah sifatnya cewek, la kalau cewek nyeruduk aja, kayaknya kok tak ada seninya, kurang ada nilai lebih, gak ada gregetnya, ya gak?”
“tapi penolakannya itu langsung telak mas, aku di larang datang, aku di larang dekat-dekat dengannya.”
“woh itu mah wajar,”
“tapi dia bilang malu mas, kalau aku ada di dekatnya.”
“ah alasan kan boleh aja di buat, mau alasan malu-mau alasan kamu bau…ckikikik, la wong alasan kok di ributkan, dia mau bikin alasan apa aja, kalau kamu gigih, ku kira juga dia akan takluk.” kataku memberi semangat, sebenarnya maksudku, hanya menarik kembali Hendra dari jalan yang salah. jalan kepada penyimpangan sex.
“lalu apa yang harus ku lakukan mas?”
“wah itu urusanmu sendiri, tapi kalau kamu mau, aku akan memberimu amalan, supaya cewek itu kau dapatkan, kamu mau?”
“wah mau-mau mas…, “
“tapi syaratnya berat ndra…!” kataku, memancing kesungguhannya.
“syaratnya apa mas? apa ngambil tanah dalam kuburan?.”
“wah ndak seberat itu ndra, malah juga di bilang ini juga berat bagi orang tertentu…”
“trus apa syaratnya mas?”
“syaratnya kamu jangan meninggalkan sholat, jangan minum-minuman keras, dan jangan kau pakai perempuan itu barang permainan…, gimana kamu sanggup?”
“cuma itu aja mas syaratnya? ” kata Hendra,
“la kamu sanggup tidak?, kan selama ini sholatmu jarang-jarang…,”
“lakok mas tau?”
“wah itu mudah di tebak ndra..!”
“aku sanggup mas…”
“bener sanggup ?” tanyaku meyakinknnya,
“sanggup sekali mas…”
“baiklah, sini aku minta pena ama kertas, biar ku tuliskan amalannya..” kataku yang segera di carikan oleh Hendra dan tak sampai lima menit dia datang membawa pena dan kertas, dan amalan makhabah pun ku tulis, setelah menyerahkan amalan, dan memberikan pesan cara kerja dan bagaimana pakainya, aku pun minta diri karena hari telah menjelang subuh. Setelah sholat subuh, aku ikut kereta barang ke arah Surabaya.
Jam satu siang sampai di stasiun pasar turi, aku tak bingung, walau tak pernah ke Surabaya, yah bagaimana harus bingung, karena bingung adalah hak bagi orang yang punya tujuan, sedang aku tak punya tujuan sama sekali, jadi aku sama sekali tak mencari alasan untuk bingung, aku duduk aja di kursi peron, tak seperti orang linglung, walau tak ada uang serupiahpun di kantongku, aku tak takut, akan dapat makan dari mana, walau aku juga manusia biasa, kalau boleh bilang aku teramat lapar, walau itu tak jadi beban pikiranku, aku tekuni saja berdzikir, tanpa henti dan tanpa bosan, karena hanya Robku saja sandaranku, dan yang aku kenal sekarang ini, aku yakin, kasih sayang-Nya melebihi kasih sayang ibuku, perhatian-Nya melebihi siapa pun di muka bumi ini, aku kemudian berjalan keluar setasiun.., tapi baru keluar dari pintu seorang perempuan memanggilku,
“mas sini mas…!” panggilnya. aku segera mendekat, ku lihat dia membawa banyak jualan, yang di tenteng, yang di jinjing, juga yang di gendong di punggung, tapi mulai di turunkan. ibu itu mungkin seumur empat puluh tahun,
“ada apa bu?” tanyaku sambil mendekat, mungkin aku di minta membantu barang bawaanya, pikirku.
Dia membuka makanan dan meramu pecel, dan meletakkan satu paha ayam di bungkusan yang di pegangnya,
“ini makan…!” katanya menyodorkan sebungkus pecel yang di raciknya,
“ah ndak bu…” kataku mundur.
“ndak mau gimana?, udah ini di makan…!” katanya berdiri dan menyodorkan bungkusan padaku,
“saya ndak punya uang bu…maaf..” kataku terus terang,
“yang nyuruh anak ini bayar siapa?. ibu hanya minta anak makan ini…”.
“tapi bu…?” kataku masih belum menerima nasi bungkus pemberiannya.
“udah ini di makan dulu.” katanya, yang tak bisa ku tolak, lalu ibu itu mengeluarkan kursi dari dalam keranjang dagangannya dan menyuruhku duduk, dan setelah menyatakan terimakasih, aku pun makan dengan lahap,
“nambah?” tanyanya sambil menyodorkan segelas teh di dekatku.
“ah sudah bu…, sudah kenyang sekali, ” kataku.
“ibu bikinin lagi ya…” tawarnya dengan pandangan kasih nan lembut.
“udah bu.., bener nih, sudah kenyang sekali,” kataku, sambil meminum teh manis, tapi ku lihat ibu itu masih membuat racikan pecel juga, dan membungkusnya dalam kresek, lalu di sodorkan padaku,
“ini, untuk bekal dalam perjalanan…” katanya sambil mengansurkan kresek ke arahku, dan memaksaku menerimanya.
“kenapa ibu baik padaku?” tanyaku heran.
“nak… ibu hanya minta kamu mendoakan ibu..,” katanya menatapku dengan serius.
“mendoakan?” tanyaku heran.
“ah ibu ini, saya ini dosanya terlalu menumpuk bu, msak di suruh mendoakan? ya apa di perduli oleh Alloh, lihatlah pakaianku ini bu kotor banget, dekil, kumal, jarang mandi,” kataku sambil menunjukkan pakaian yang kupakai.
“kalau begitu, kamu tak mu ya mendoakan ibu..?”, katanya sambil air matanya mulai menetes…
“oh.., mau…mau, bu mau..” kataku gelagapaan melihat ibu itu mulai menngis,
“Iya.., iya bu.., kan ku dokan, ibu minta di doakan supaya apa?” tanyaku cepat-cepat supaya dia tak keburu menangis,
“ya ibu minta di doakan supaya mati khusnul kotimah.” katanya sambil mengusap air mtanya dengan selendang, untuk menggendong jualan.
“baik ibu yang mengamini ya…, biar aku yang berdoa,” kataku, kemudian mulai berdoa, aku tak perduli setiap orang yang lewat menatap aneh padaku, memang sejak pertama, aku tak pernah perduli dengan orang lain, selesai berdoa, ibu itu menggenggam tanganku, dan mengucapkan terimakasih, aku juga mengucapkan terimakasih, dan pamit untuk melanjutkan perjalanan, kemudian meneruskan mengayunkan kaki tanpa arah dan tujuan pasti, karena memang aku tak mau di sibukkan oleh arah, tak mau di risaukan oleh tujuan, aku hanya ingin mengenal gerak gerik Alloh dalam membimbingku, menuju pencarian tanpa berkesudahan, melatih cinta dan tak menduakannya, melatih tawakaal, dan meresapi sunyinya bercumbu dengan kesunyian dengannya sendiri, walau dalam keramaian, tenggelam dalam samudra kepasrahan, tanpa ingin di tolong oleh siapa saja, kecuali oleh rengkuhan kasihnya, tanpa embel-embel balas budi,
melangkah, melangkah, dan melangkah, Surabaya begitu luas, aku kadang menyeberang, kadang berhenti di tepi jalan, tak terasa sandal jepit yang selama ini menemaniku telah tembus, sehingga telapak kakiku berdarah, karena sering tergores aspal panas jalan, juga mungkin tersandung batu, sehingga tak ku pikir dan pehatikan, itu ku ketahui, ketik sandalku telah putus, sehingga ku buang, aku kaget, oh Alloh maafkan aku, kalau hatiku sekejap melupakanmu karena, tersita oleh rasa sakit di kakiku, setelah sandal ku buang aku pun berjalan lagi, tak ku perdulikan sudah lecet di kaki,
DI GEBUKI PENJAGA MASJID
Aku sampai di tunjungan plaza, di tahun 1994 plaza tunjungan mungkin yang terkenal di Surabaya, setidaknya itu menurut pandanganku, aku duduk aja di sekitar plaza, kalau malam kadang nongkrong dengan para pelukis jalanan, yang menggelar lukisan di sekitar plaza, kalau hari telah larut malam, aku pun tidur di emperan toko, menggeletak aja tanpa perduli apa-apa, untuk makan aku kadang mengorek tempat sampah, ada saja yang ku temukan, entah nasi bungkus, entah roti berjamur, sekedar untuk menjanggal perut, lalu kalau untuk sholat aku cari musholla atau masjid di sekitar, itu sampai beberapa hari, sampai suatu siang aku jalan, tanpa satu tujuan, dan sampai di jembatan merah, plazanya baru di bikin, lalu ada truk berhenti, aku pun naik, dalam pikirku, tak tau aku akan di bawa ke mana, yang penting truk ini berhenti, maka aku turun, lalu aku tiduran dalam truk, sampai terbangun dan truk pun sudah berhenti, aku turun, masih dengan kaki terlanjang, hari telah beranjak malam, aku berjalan, setelah melihat tulisan yang terpampang di depan toko, maka aku pun tau kalau aku ada di daerah Sidoharjo, aku pun berjalan, sampai kakiku menendang sesuatu, karena gelap aku teliti, ternyata sebuah sandal, sandal carvil, lumayan bagus untuk menjadi ganjalan kakiku yang telah lecet.
Aku cepat-cepat mencari pasangan sandal, karena yang ku temukan tinggal satu, ku cari kesana ke mari, karena gelap lumayan susah juga, walau akhirnya ku temukan, dan ternyata sudah putus jepitannya, lalu aku pun punya inisiatif untuk menusuk bawah jepitan dengan paku, setelah mencari paku dan menusuk belakang jepitan dengan palu dari batu, sandal pun bisa di pakai, kelihatannya lumayan masih baru, mungkin di buang orangnya karena putus talinya saja, lumayanlah, sehingga luka di kakiku yang lecet tak sakit lagi karena terkena kerikil, ku lanjutkan perjalanan, sampai juga aku di depan plaza, Sidoharjo, aku duduk, sebenarnya mau sholat tapi tak tau di mana ada masjid, aku nggelosor aja di depan plaza, yang sudah tutup karena sudah malam sekali, tanpa sadar, karena teramat lelahnya aku pun tertidur, sampai terdengar suara adzan subuh, dan aku teramat heran, karena adzan subuh terdengar dekat sekali, lalu aku menuju arah suara adzan, dan masjid ternyata cuma di belakang plaza saja, aku pun segera masuk masjid, dan mengkodho sholat yang ku tinggal, dan mengikuti jamaah subuh, selesai sholat aku pun keluar masjid dan nongkrong aja di pinggir jalan, sambil wirid dan melihat orang yang lalu lalang, kelaparan perutku aku isi dengan air yang tadi ku bawa dari masjid, dan itu setidaknya sudah menipu nafsu makan cacing yang ada dalam perutku, dan tidak berontak lagi.
Hari jum’at, ah sampai tidak berpikir kalau ini hari jum’at, orang berbondong-bondong ke masjid, aku pun melangkah dengan pelan ke masjid, pertama yang ku lakukan adalah mengisi perut dengan air sebanyak-banyaknya, lalu wudhu dan masuk masjid, melakukan sholat tahiyatul majid, lalu duduk di pojok, aku tak mau mengganggu orang lain, yah pakaian yang kumal, gelandangan sholat di masjid, tentu banyak orang yang memandang dengan pandangan mengucilkan, dan sedikit ada unsur hina, di setiap percikan mata mereka, bahkan di hati mereka, tapi aku mencoba tenggelam dalam dzikir, setelah sholat jum’at, dan melakukan dzikir sebentar, lalu aku keluar masjid, memakai sandal dan melangkah pergi, tapi tiba-tiba, sebuah tangan menarik baju belakangku, dan aku di seret begitu saja,
“pencuri sandal…!” bentak orang yang menyeretku, ke kantor pengurus masjid, ku lihat orang itu tinggi dan berkumis tebal garang, dia menyeretku, terus ke dalam kantor, dan di dalam ada beberapa orang, aku segera di banting ke lantai, terduduk,
“kau maling sandal hina…!” bentaknya lagi.
“ah…, sampean salah …” kataku, tenang.
“salah bagaimana, sudah jelas-jelas mencuri sandal.” bentaknya.
“ayo ngaku…!” aku diam saja. Dan tiba-tiba orang itu menarik sabuk yang di pakai, dan wuuut sabuk di hantamkan ke punggungku. aku hanya memejamkan mata, ketika sabuk itu mengenai punggungku, dan tanpa mengeluh, karena entah kenapa aku tak merasakan sakit, tapi itu malah membuat orang yang menyeretku itu makin beringas mencambukiku.


Karya : Febrian